Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

*Not own anything of Naruto.

*This story is originally made by me.


Future Depends On You

Written by Shady (DeShadyLady)

Chapter 13: Encounter (Pertemuan)


POV: Sasuke

Aku masih berusaha bersikap biasa saja di depan semuanya, meski aku menyimpan kecurigaan pada Shikamaru. Dan bahkan aku sudah menyusun rencana jika ia memang benar ingin menipuku. Kalau aku mengatakan hal ini langsung, yang lain pasti akan menjadi heboh, terutama si dobe itu. Heh, jangan kira segampang itu membohongiku. Lagipula sikapnya yang berubah 180 derajat dan itu agak aneh, aku tahu dia malas dan selalu berkata merepotkan. Aku cukup lama mengenalnya. Membaca dan mencatat, heh? Orang semalas itu mau melakukannya? Tentu saja ada yang tidak beres. Untung aku berhasil memancingnya mengatakan siapa saja yang dikenalnya, dan sisanya akan aku urus nanti sore.

Hari ini aku prakter dokter seperti biasa, ditemani Sakura juga. Semua berjalan lancar, hingga aniki brengsek ini datang.

"Hai, Sakura, masih ingat aku?" tanya Itachi saat berjalan memasuki ruangan.

Sakura yang sedang mengambil air minum tampak bingung, aku segera menarik lengannya dan menyuruhnya kembali duduk di kursiku. Tanpa basa basi aku mengaktifkan Sharingan ku.

"Wow, mata yang hebat eh, otoutou?" Itachi juga menunjukkan mata yang sama dengan mataku.

"Mau apa kau kesini? Ini tempat orang berobat untuk sembuh, bukan untuk orang sepertimu." Ujarku tegas.

Itachi terlihat mundur beberapa langkah dan "Ugh," ia menahan matanya. Padahal tadi dia baik-baik saja. Aku tersentak diam di tempat. Tapi Sakura malah menghampiri Itachi, sial.

"I-itachi, ada apa?" ujar Sakura sambil memegang pundak Itachi.

Shit, aku paling benci melihat Sakura memegang laki-laki lain. Apa yang ada di pikiranmu Sakura? Kau bukannya tidak tahu kalau dia orang jahat. Aku segera menarik Sakura ke belakangku.

"Cukup pura-puramu, Itachi." Ujarku.

"Heh, kau ini memang bodoh. Kau dokter apa bukan? Tak bisa membedakan orang yang berpura-pura dan tidak?" ujar Itachi dengan menahan salah satu matanya dan mengangkat kepalanya dengan perlahan. Aku dapat melihat darah muncul dari matanya. Aku mengedipkan mataku berulang kali. Wow, mata itu bisa berdarah juga ya ternyata.

"Apa yang kau lakukan? Mengintip wanita di onsen?" Aku hanya menggeleng melihatnya. Mau matanya hilang juga, memangnya aku peduli? Dia saja tak pernah mempedulikanku dan membiarkanku hidup sendiri, aniki sialan.

"Sasuke-kun, sudahlah, cepat bantu aku!" Sakura datang dengan sejumlah obat-obatan dan kapas. Apa? DIa berniat mengobatinya? Dan dia memerintahku? Sekarang yang dokter itu aku atau dia?

Aku masih diam melihat Itachi kesakitan dengan matanya, sebelah matanya itu memang terus mengeluarkan darah.

"Sasuke! Apa kau lupa dengan sumpah doktermu?! Astaga!" Sakura yang sedang sibuk menghisap darah itu dengan kapas malah meneriakiku. Ok, ini hebat. Kakakku sedang kesakitan, aku seorang dokter dan aku tidak mau mengobatinya karena ia sudah berbuat jahat padaku. Hm, alasan yang kekanakan. Jangan lupakan niatnya untuk merebut Sakura dariku. Tapi jika aku tak mengobatinya, maka kemungkinan besar Sakura akan membenciku dan berkata aku tak punya hati dan blablabla, aku tak mau itu terjadi.

Aku segera menaikkan lengan jas putihku, membantu Itachi berbaring di atas tempat tidur pasien yang dinaikkan 45 derajat oleh Sakura, sehingga Itachi tak sepenuhnya terbaring. Sakura terlihat sangat cemas, dan aku sangat tidak senang melihat dia mencemasi laki-laki lain selain diriku. Dan aku dengan sengaja mengambil beberapa kapas kemudian menahan darah Itachi dengan keras.

"Aww!" teriak Itachi. "Bisakah kau lakukan dengan pelan?"

"Sakura, pergilah makan dan minum kau belum makan apapun dari pagi." Ujarku pada Sakura dan mengacuhkan Itachi. Tapi Sakura masih membatu dan berdiri disampingku.

"Hei, hei kau lebih mementingkan wanita itu dibanding aniki-mu?" mulut Itachi masih komat kamit.

"Kau diam saja kalau mau sembuh." Setelah darah itu tidak muncul lagi, aku segera mengambil obat mata dan meneteskannya dengan perlahan. Aku bukan spesialis mata dan aku juga tahu tubuh Itachi tak selemah itu. Dia pasti akan pulih dengan cepat.

"Tunggu, Sasuke. Aku ingin mencoba sesuatu." ujar Sakura.

"Hn?" tentu saja ini aneh, apa yang mau dicoba Sakura?

"Sudah kau minggir dulu." Sakura mendorongku ke belakang dan ia mulai mengeluarkan cahaya hijau dari kedua tangannya. Dan saat ini yang dapat kulihat adalah mata Itachi yang bagian putihnya berwarna merah tadi kembali menjadi putih lagi. Hm? Tangannya eh salah, cahaya itu dapat menyembuhkan?

"Nah, sudah." Sakura berhenti. "Sasuke tolong ambilkan kapas dan plaster."

Heehh? Dia memerintahku lagi? Aku tak ada pilihan selain menurutinya. Sakura menerima dan menempel kapas dan plaster itu.

"Sakura, tadi itu-"

"Ya tadi itu aku baru saja mencobanya pada manusia. Sejauh ini aku hanya mencoba untuk menyembukan ikan yang hampir mati, dan itu hanya sekali saja." Jelas Sakura.

"Jadi aku hanya kelinci percobaan?" Itachi tampak tak senang "Lalu untuk apa kapas ini dimataku?" Itachi menunjuk sebelah matanya yang ditutupi kapas dan direkat plester.

"Agar kau tak melihat terlebih dahulu." Balas Sakura. "Kau pasti terlalu banyak menggunakan mata merahmu itu." Sakura membereskan kapas-kapas yang penuh dengan darah, membuangnya ke tong sampah dan mencuci tangannya.

"Oi, Sasuke. Beruntung sekali kau mendapat wanita seperti itu." Ujar Itachi padaku.

"Hn, dan jangan kau harap bisa merebutnya dariku." Tegasku. Itachi diam dan menutup matanya, sepertinya dia sangat lelah. Aku mengecek nadinya, berdenyut lemah, sangat lemah.

"Itachi, kapan kau terakhir tidur?"

"Hm? Tidur? Aku tak ingat, mungkin 2 minggu yang lalu."

"Kau gila. Sakura, Tolong ambilkan infus dan beberapa vitamin untuk memulihkan badan." Ujarku pada Sakura.

"Siap, pak dokter!" balas Sakura. "Lalu, bagaimana dengannya?"

"Hn, kita rawat di rumah saja. Aku tak mau polisi datang dan berita tersebar bahwa Uchiha Itachi tak mati dan selama ini Uchiha Sasuke menyembunyikannya." Ujarku. Sakura tampak senang dan langsung pamit keluar untuk mengambil barang.

"Ah, kau memang yang terbaik, Sasuke." ujar Itachi dengan senyum miring di bibirnya. Heh, menjijikkan.

"Diam kau, malam itu kau mau membunuhku, kenapa saat ini kau malah datang memohon pertolonganku?" balasku tak senang.

"Kita bahas itu nanti, terkadang dinding pun punya telinga, Sasuke." ujar Itachi sambil memegang dahinya.

Aku sedikit bingung, tapi- ah sudahlah, "Hn." gumamku tak jelas.

:::

"Rumah ini, masih seperti dulu ya." ujar Itachi sesaat setelah melangkahkan kakinya ke dalam rumah keluarga Uchiha itu. Malam itu ia hanya sempat menakut-nakuti Sasuke dengan menyelinap ke balkon lantai 2. Dan sebenarnya ia juga terkejut melihat Sakura di rumah Sasuke.

"Hn." Aku membantu Itachi duduk di sofa. "Bisa kau katakan alasanmu sekarang?"

"Hei kemana panggilan nii-san mu untukku?" balas Itachi.

"Kau mau menceritakannya atau tidak?!" ujarku sedikit berteriak.

"Sasuke-kun, tenanglah." Sakura memegang pundakku. Aku menghela nafas panjang. Kemudian menatap Itachi dengan tatapan malas. Itachi malah menatapku dan Sakura bergantian kemudian mengangguk-angguk.

"Sakura, kau benar-benar harus menjadi istri adikku yang keras kepala ini. Aku tak sekeras dia, jadi aku rasa dia untukmu saja." Ujar Itachi.

"Hei, jaga bicaramu! Memangnya aku ini barang? Lalu kakak yang meninggalkan adiknya sendiri itu apa? Kurasa adik keras kepala lebih baik daripada kakak tak punya hati nurani!" itachi memang sengaja memancing emosiku, dan sialnya aku terpancing. Oh sudah berapa kata sial yang aku gumamkan sejak tadi. Sial.

"Huh? Dasar adik tak tahu di untung, kau belum tahu kenapa aku meninggalkanmu kan? Baru tahu sedikit saja sudah marah-marah. Dasar adik keras kepala." Balas Itachi.

"Apa?!" Aku sudah mengepalkan tanganku.

"Kalian, hentikan!" teriak Sakura.

Sabar, Sasuke, sabar… gumamku dalam hati.

"Baiklah, Itachi-nii, bisa kau ceritakan saja langsung tanpa memancing emosi Sasuke?" Sakura sedikit memaksakan senyumnya.

"Ah, memang adik iparku lebih baik dari adik kandungku." Itachi memicingkan matanya padaku. Dan aku membalas dengan tatapan tajam padanya. "Hem, begini sebenarnya."

Flashback – POV: Normal

Itachi selamat dari kecelakaan itu, tepatnya ia diselamatkan seseorang. Dan saat ia sadar, ia sudah berada di suatu ruangan yang tak ia kenal. Memang diruangan ini ada pintu kayu. Hm, sekelilingnya tampak seperti.. gua?

Itachi berusaha menggerakkan badannya, tapi tak berhasil. Yang ia dapati hanya suara rantai yang berbunyi karena pergerakannya. "Sial."

"Wah, wah, lihat siapa yang sudah bangun, hahaha." Seorang berkulit putih aneh dan bermata seperti ular muncul dari pintu masuk ruangan itu.

Itachi menyerngitkan alisnya, "Siapa kau?"

"Namaku Orochimaru. Dan aku tahu siapa dirimu, Uchiha Itachi. Kau lebih dari seorang manusia." Ujar Orochimaru sambil tersenyum.

"Heh, tahu apa kau? Aku ini manusia biasa." ujar Itachi dengan santai.

"Hahaha, jangan membuatku tertawa, aktingmu itu buruk sekali, Itachi." Orochimaru hanya menggeleng. Orochimaru membalikkan badannya. Dan seketika Itachi berusaha untuk kabur, ia melihat jendela kecil, saat ia sudah mengubah dirinya menjadi gagak untuk keluar dari jendela kecil itu ia tak bisa. Ada semacam perisai yang menahannya. Itachi berubah menjadi manusia kembali dan ia sudah terlepas dari ikatan rantai tadi.

Plok plok plok

"Memang kau hebat sekali, Itachi." Ujar Orochimaru sehabis menepuk tangannya. "Mulai saat ini jangan harap kau bisa kabur, aku punya alat dan aku sudah menanamkan ular kecil pada salah satu bagian ttubuhmu. Begitu kau bergerak, aku akan tahu kau pergi ke mana, Itachi."

Itachi hanya menggeram, "Dimana adikku?!"

"Hm? Adikmu? Kurasa dia tidak mati dan dibawa ke rumah sakit." ujar Orochimaru sambil mengangkat sebelah tangannya.

"Katakan, dimana Sasuke!" teriak Itachi.

"Baiklah, aku akan memberikanmu kebebasan bergerak, tapi dengan satu syarat." Ujar Orochimaru sambil membuat angka satu dengan jarinya.

"Apa?" Itachi tertantang.

"Kau harus menjadi budakku. Kau harus membunuh siapapun untukku, Itachi. Apa kau bersedia?"

Itachi menunduk sesaat, "Aku bersedia."

"Hm, bagus. Kalau begitu istirahatlah dulu, latihanmu akan dimulai besok."

Blam – Orochimaru pun menutup pintu dan pergi.

Flashback End

POV: Normal

"Begitulah." ujar Itachi. "Kemudian aku mulai membunuh dan membunuh, sambil sesekali menyelinap ke lantai 2 rumah ini. Aku tak pernah ke lantai 1 maupun 3, karena aku tak mau ambil resiko ketahuan Sasuke. Setelah itu aku juga bertemu denganmu, Sakura. Di pelabuhan itu. Disana tempatku menenangkan pikiran, aku sering berada disana."

"Terima kasih, untuk malam itu." Sakura tersenyum pada Itachi.

"Bukan apa-apa." Itachi mengangguk dan membalas senyuman itu.

Sasuke menatap malas, mengapa mereka berdua terlihat seperti dua orang yang dengan kasmaran, tidak, ini tak boleh dibiarkan! "Lanjutkan ceritamu!" perintah Sasuke pada Itachi.

"Ya, ya adik keras kepala. Kemudian malam itu Sakura melihatku bukan? Ya tentu saja saat bertemu langsung denganmu, aku pasti mengancammu karena aku takut kau menyianyiakan seseorang seperti Sakura. Dan, oh ya, aku juga tahu kau berada di bawah seseorang 'kan Sasuke? Kau jarang pulang saat malam hari. Kau pulang dini hari."

Ucapan Itachi membuat Sasuke membeku sesaat, "Hn." Sasuke mengangguk.

"Hmm, biar ku tebak, apakah orang itu.. Hatake Kakashi?"

"Darimana kau tahu?"

"Yang berselisih paham dengan Orochimaru hanya Kakashi, dan jika ada yang bekerja malam sebagai agen pembunuh, maka pasti berada di bawah Kakashi. Apa orangnya baik?" tanya Itachi.

"Hn, sudah seperti ayahku sendiri. Dan, ngomong-ngomong kau tak bercerita bagaimana kau kabur. Apa kau disini untuk menjebakku?" Sasuke menyerngitkan dahinya.

"Tidak." Itachi menggeleng. "Aku setengah mati mengeluarkan ular yang Orochimaru tanam di dalam tubuhku itu, dan ternyata di kakiku." Itachi membuka kaki kirinya yang ternyata terdapat luka sayatan sepanjang kurang lebih 10cm.

"Astaga!" teriak Sakura. Sakura segera mendekati luka lebar itu dan mengobatinya dengan cahaya yang muncul dari tangannya. Itachi masih bisa menahan luka itu sehingga ia tak berbicara apapun tentangnya.

"Lalu? Matamu?" Sasuke penasaran.

"Aku melawan Orochimaru sialan itu. Dan saat dia lengah aku berhasil mengeluarkan ular tersebut dan aku yakin dia tak akan menemukanku sekarang. Aku meletakkan beberapa ekor gagakku untuk berjaga disana." Itachi lanjut berbicara dan membiarkan Sakura mengobati lukanya.

"Baiklah, nii-san." balas Sasuke sambil memerhatikan Sakura.

"Wah, otoutou-ku sudah kembali! Ah, senangnya." Itachi merebahkan kepalanya di sandaran sofa dan menutup matanya.

Tak lama kemudian, luka Itachi sudah sedikit menutup namun belum sembuh total. Penyembuhan dari Sakura berjalan dengan baik karena tubuh Itachi memang berbeda dengan tubuh manusia biasa. "Sasuke-kun, tolong ambilkan kotak P3K ya." Ujar Sakura.

Sasuke menunjukkan wajah tak senangnya dan menggeleng, "Nii-san kau memang sangat hebat. Kau lihat calon istriku memerintahku demi dirimu."

"Sasuke-kun! Ini bukan tentang-" Sakura tak jadi menyelesaikan kalimatnya karena Sasuke sudah pergi terlebih dulu. Sakura menghela nafas.

"Sudahlah, Sakura. Dia memang manja seperti itu. Kurasa sedikit banyak kau sudah tahu 'kan?" ujar Itachi, dia masih menutup mata tapi setidaknya tahu apa yang terjadi.

"Ya, Itachi-nii. Tapi dia itu sedikit keterlaluan, 'kan dia sudah bersumpah untuk menjadi dokter."

"Lalu, Sakura, kau tentu tahu dia juga seorang pembunuh 'kan? Kau kira berapa besar gejolak yang ia hadapi selama ini? Bahkan dia masih harus menjadi dokter Uchiha pagi harinya."

Sakura terdiam, ia terkadang melupakan kenyataan bahwa Sasuke merupakan seorang penyelemat dan pencabut nyawa sekaligus. Mungkin setelah ini ia akan memohon pada ayahnya, Kakashi, untuk tidak menyertakan Sasuke dalam bunuh-bunuhan seperti itu lagi. Setidaknya tidak sesering dulu lagi.

"Nah." Sasuke kembali dengan kotak P3K. Sakura segera menerimanya dan mengobati kaki Itachi.

"Sakura, bisa minta tolong bersihkan kamar nii-san?"

"Ah, tentu saja. Aku baru saja akan bertanya padamu setelah menyelesaikan ini." Sakura baru saja selesai menempel plester untuk merekatkan kain kasa dan kapas yang membalut kaki Itachi.

"Hn."

Drrrt Drrrt

Sasuke mengeluarkan ponsel dari kantung celananya.

"Ya, tou-san? Kau ingin datang? Oh bersama kaa-san juga. Baiklah." Jeda sejenak, "Hn, ya, aku mengerti. Terima kasih." Sasuke menutup teleponnya.

"Kau bicara dengan siapa, Sasuke?" Kedua alis Itachi tampak mendekat.

"Itu, tou-san eh, maksudku Kakashi dan pacarnya. Em, mereka akan menikah sih seminggu lagi." Ujar Sasuke.

"Oh, kau dekat sekali ya dengan Kakashi? Sampai memanggilnya tou-san?" Itachi tampak senang.

"Ya, begitulah. Lagipula mereka calon mertuaku."

"Apa? Mereka ayah dan ibu dari Sakura? Kau tidak bercanda?"

"Ya, itu benar. lalu mengapa.. Sakura itu punya kekuatan juga 'kan? Mengapa seorang Kakashi membiarkan anaknya menjadi objek percobaan?"

"Tidak. Dulu, Ayame, ibu Sakura itu, memberikan Sakura pada orang lain karena melihat ada sepasang suami istri yang kehilangan anak mereka. Kakashi saat itu juga tidak tahu menahu dengan Ayame yang sedang hamil karena mereka sempat berpisah setelah menjalin hubungan cukup lama." jelas Sasuke. "Kemudian orang tua Sakura itu membawanya ke laboratorium Danzo, entah karena apa."

"Oh, begitu ya." balas Itachi.

Ting tong

Sasuke membukakan pintu, dan Kakashi tentu saja terkejut dengan Itachi yang duduk di atas sofa dengan mata yang tertutup kapas dan kaki yang terbungkus perban.

"Sasuke, dimana Sakura?" tentu saja Kakashi langsung menanyakan anaknya karena ia tak melihat batang hidung Sakura.

"Eh, tou-san? kaa-san?" Sakura turun dari tangga sambil mengangkat pel dan ember.

"Pria tampan! Aku menikahkan anakku padamu agar dia hidup bahagia! Mengapa kau malah memperkerjakannya sebagai pembantu?" teriak Ayame.

"Tou-san, kaa-san, tenang dulu." Sakura menghampiri ayah dan ibunya. "Aku hanya membersihkan dan merapikan tempat tidur Itachi-nii, karena dia akan di rawat disini."

"Itachi apa maksudmu datang ke mari? Dan Sasuke? Apa kau sudah gila?" Kakashi tak habis pikir.

"Hei, hei. Jangan salahkan mereka." Itachi angkat bicara "Aku tidak berniat jahat, kurasa kau tahu aku di bawah Orochimaru itu terpaksa dan sekarang aku baru saja lepas darinya dengan mengeluarkan ular yang ia tanamkan di kakiku sebagai pelacak."

"Hm, benarkah?" Kakashi dan Ayame melihat wajah Itachi dari dekat.

"Te-tentu saja, pa-paman, bibi." Ujar Itachi dengan hormat.

"Hm, baiklah. Untuk saat ini, kami percaya padamu." Kakashi dan Ayame masih menatap tajam Itachi. Itachi hanya terdiam dan menahan ludahnya.

Malam itu berakhir dengan hadirnya orang tua Sakura, Itachi yang diinfus, dan Sasuke yang tidak jadi mencari Shikamaru.

:::

"Shikamaru, apa semuanya sudah siap?"

"Ya, ketua. Semua sudah selesai."

"Hm, tapi mengapa Uchiha Sasuke tak datang? Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Shikamaru."

"E-er, itu, mungkin dia bergerak subuh, ketua."

"Sudahlah, percuma saja kau mencari alasan lagi. Kau ku anggap tidak berkemampuan untuk menyelesaikan tugas sederhana ini. Kuberi kau satu kesempatan lagi." Pria berambut hitam dan berkulit pucat itu membalikkan badan dan pergi. Membiarkan Ino dan Shikamaru.

Shikamaru terpaku sesaat, tak lama kemudian dia menggandeng paksa tangan Ino yang ada disampingnya, "Ikut aku, Ino!"

"Ta-tapi," Ino sedikit ragu, Shikamaru tak pernah terlihat semarah ini sebelumnya.

Pria itu melihat dengan ujung matanya, namun membiarkan Ino pergi dengan Shikamaru. Dasar wanita jalang, pikirnya.

"Hentikan, Shikamaru! Tanganku sakit!" teriak Ino dan menghempaskan tangan Shikamaru dari lengan kanannya. Saat ini mereka sampai di luar, hutan yang cukup gelap.

"Sudah puas kau bermain dengan pria itu, Ino?! Kau tidak lihat sikapnya tadi padaku? Bagaimana kalau Chouji dibunuh malam ini?" teriak Shikamaru.

"Jadi apa maumu, Shikamaru?! Mengapa kau menyalahkanku?! Teman macam apa kau?! Kau sudah tahu dia itu mengancam nyawa kita! Dan aku yakin dia tak akan membunuh Chouji karena dia memberimu satu kesempatan lagi!" teriak Ino kembali.

Shikamaru menghela nafas panjang, "Maaf, Ino. Tapi kau sudah terlihat sangat terpikat padanya. Apa dia menyihirmu atau semacamnya? Aku tak yakin dia hanya mengancammu. Lihatlah, kau membelanya."

"Lalu? Salahku terpikat padanya? Memangnya aku salah kalau aku memang menyukainya?"

"Ino, kau tidak tahu-"

"Hei, hei, ada apa ini." Seorang wanita bermata hijau dan berambut pirang datang menghampiri mereka.

"Te-temari." Shikamaru tampak mundur beberapa langkah.

"Hm, aku sudah dengar semuanya. Ino, seharusnya kau tahu bahwa Shikamaru mencemaskanmu sebagai teman. Orang itu sungguh berbahaya, kau tahu? Bahkan dia sudah mengancam nyawa kalian." ujar Temari sambil memegang pundak Ino.

Ino terlihat sedikit lebih tenang, "A-aku memang menyukai Sai. Maaf. Mungkin dia memang berbahaya dan merencanakan hal yang buruk. Tapi.. tapi aku tetap ingin berada disisinya. Apa kau mengerti perasaanku, Temari?"

Shikamaru menatap Temari yang terlihat diam sesaat, ia memalingkan wajahnya saat Temari memandangnya kembali dengan pandangan tajam.

"I-ino, maafkan aku. Jujur aku hanya mencemaskanmu. Jika kau memang ingin bersamanya, pergilah. Tapi jangan lupakan kami, teman-teman senasibmu. Jangan lupakan apa yang diperbuat mereka pada kita di laboratorium itu." Ujar Shikamaru dengan serius.

"Baik, Shikamaru. Maafkan aku. Dan kau juga harus tahu Sai punya sisi kelemahannya. Terkadang dia juga sangat baik padaku. Aku akan berusaha membujuknya untuk tidak melaksanakan ide gila lainnya lagi. Aku juga tak tega Chouji atau salah satu diantara kita ada yang terbunuh." Ino mengatakan isi hatinya.

Ino dan Shikamaru saling tersenyum dan mengangguk.

"Nah, begitu sudah 'kan?" Temari tampak senang berhasil menenangkan kedua teman lama tersebut.

"Ino, pergilah." Ujar Shikamaru dengan tulus. Ino hanya tersenyum dan segera berlari masuk ke rumah yang lebih menyerupai gudang besar di dalam hutan terpencil.

"Um, Temari. Maukah kau menemaniku makan?" tanya Shikamaru.

"Apa ini semacam kencan?" Temari balik bertanya.

"A-aa, yaa, kau tahu, makan bersama, hehe." Shikamaru menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Temari hanya terdiam dan pipinya merona. Wajahnya sedikit menunduk malu.

"Baiklah, aku anggap itu sebagai iya." Shikamaru menarik tangan Temari dan menuntunnya untuk berjalan bersama. Jangan lupakan tangan mereka yang masih tertaut satu sama lain.

Mengingat ini jam 12 malam, tempat makan yang paling nyaman dan paling enak adalah kedai ramen Ichiraku. Kedai ramen kesukaan Naruto, Shikamaru tahu itu. Setelah memarkirkan kendaraannnya, Shikamaru dan Temari berjalan bersama masuk ke dalam kedai tersebut. Meski namanya kedai, dapat dilihat tempat ini lebih tampak seperti restoran sederhana dengan beberapa meja makan. Terdapat beberapa kursi bar dan meja yang langsung dapat diduduki oleh para pengunjung dan juga beberapa meja makan dengan kursi untuk empat orang dibagian kiri hingga belakang restoran tersebut. Memang kedai sudah sepi saat tengah malam, kebanyakan orang memilih untuk takeaway.

"Oi, Shikamaru!" teriak Naruto dari tempat duduknya yang ada di bagian dalam. Ah, siapa yang tak kenal pria berambut kuning jabrik ini memang berisik jika bertemu dengan seseorang yang dia kenal. Tapi ya, Naruto tak seburuk itu, dia selalu jujur dan setia kawan. Shikamaru menjadi malu terhadap dirinya sendiri hingga ia menghentikan langkahnya.

"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Temari.

"E-eh, ya. Bagaimana kalau kita bergabung dengan mereka? Apa kau keberatan?" tanya Shikamaru.

"Tentu tidak." Temari tersenyum senang.

"Oh, Naruto. Boleh kami bergabung?" tanya Shikamaru.

"Tentu, aku dan Hinata tak akan keberatan." Balas Naruto dengan senyum khasnya.

Shikamaru dan Temari mengambil tempat duduk tepat di depan Naruto dan Hinata.

"Tumben kau keluar subuh, Shikamaru?" Naruto tahu ada yang tak beres.

"Heh?" Shikamaru menyerngitkan alisnya, "A-haha, tak apa-apa. Hanya sedikit refreshing." Shikamaru tertawa hambar.

Naruto merasa ada yang aneh pada Shikamaru, "Hm, aku sudah 2 tahun mengenalmu. Dan selama bekerja sebagai detektif, kau tak pernah menganggap 'makan' sebagai refreshing. Kau refreshing dengan tidur."

Shikamaru hanya terdiam dan menelan ludahnya saat Naruto sudah seserius ini.

"Kenapa? Kau tak bisa berkata-kata lagi?" Naruto mengintimidasi.

Shikamaru menghela nafas. "Baiklah, baiklah, sejak kapan kau sepintar itu, Naruto?"

"Sialan kau! Cepat katakan apa yang terjadi." Naruto memukul meja pelan. "Tak ada orang disini."

"Baik, baik. Aku akan mulai dari awal." Shikamaru memelankan suaranya agar penjaga kedai itu tidak mendengar.

Flashback

"Sa-Sai aahh.. ahh.."

"Hm, terus sebut namaku, cantik."

"Sa-Saiiii... aaahh.. aahh ter-terus.. ahh"

"Ouuh, kau sempit sekali, Ino."

Seorang pria dengan rambut nanasnya membulatkan matanya ketika melihat adegan tersebut di kantor kecil yang terletak di belakang kasir. Adegan tersebut terlihat jelas dari jendela bening yang tertutup gorden pada kantor kecil tersebut. Meski hanya tampak siluet dua orang, Shikamaru cukup yakin apa yang dilakukan kedua orang itu. Diatas meja, Ino? Astaga.

"Terkutuk kau, Ino." Gumam Shikamaru. Kelakukan temannya sudah keterlaluan. Bagaimana kalau orang lain yang datang untuk membeli bunga? Bisa-bisa bangkrut toko bunga ini karena Ino kedapatan sedang bersetubuh saat menjaga toko.

Sore itu ia berkunjung ke toko bunga Ino yang sudah diturunkan turun temurun oleh keluarga Yamanaka untuk membeli bunga. Shikamaru menggelengkan kepala, tangannya dengan cekatan mengambil setangkai bunga. Tak lupa ia balikkan tulisan "Open" menjadi "Close" pada papan yang tergantung di depan pintu toko sebelum ia berjalan keluar.

Pada malam hari

"Shikamaru, bisa ke tokoku sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan." Suara ino dari dalam telepon.

"Hm, ya. Tunggu 10 menit." Shikamaru memutuskan teleponnya.

Setibanya di rumah Ino, Shikamaru cukup terkejut mendapati pria itu berada di samping Ino. Pria yang tadi sore sedang berhubungan badan dengan Ino.

"Shikamaru. Kenalkan, ini Sai." Ujar Ino.

Shikamaru terdiam, 'Dia mengenalkannya padaku? Ada apa ini?' batinnya.

"Aa, Nara Shikamaru. Senang bertemu denganmu." Shikamaru menundukkan kepalanya.

"Shimura Sai, senang bertemu denganmu juga." Sai membalas tundukan kepalanya juga.

Shikamaru dapat menangkap senyum palsu yang diberikan Sai. Demi apapun, pekerjaan Shikamaru sebagai detektif itu benar-benar ia geluti dengan tekun. Seketika ruangan hening hanya terdengar suara jangkrik dari luar rumah.

"Shikamaru, kurasa.. kau ingat Chouji 'kan?" tanya Sai memecah keheningan.

"Tentu saja. Tunggu, kenapa kau mengenal temanku?" Shikamaru terkejut.

Sai hanya memberi senyum palsunya.

"Ino, apa yang kau perbuat?" tuding Shikamaru pada Ino.

"Hei, hei tenanglah. Tak perlu membawa wanitaku ke dalam masalah ini." Entah sejak kapan Sai sudah berada di depan Ino.

"Wa-wanitamu?" Shikamaru cukup terkejut. "Apa maksud semua ini, Ino?" teriak Shikamaru.

Ino hanya diam dan menunduk, seolah ia tak bisa berkata atau berbuat apapun dan pasrah saja.

"Apa yang kau perbuat pada Chouji, brengsek?!" Shikamaru menatap Sai dengan tajam.

"Heh, dia sudah aku sekap dan sebentar lagi akan aku jadikan makanan anjing-anjingku. Kurasa tubuhnya yang penuh lemak itu akan lezat." ujar Sai santai.

"Apa maumu, HAH?" Shikamaru mencengkram baju Sai. Ia tak mungkin tega melihat teman sepermainannya disakiti.

"Heh, kau cukup pintar." Sai mengeluarkan aura hitamnya, untuk mengintimidasi.

Sesaat Shikamaru tidak bergerak, matanya seolah terhipnotis dengan aura tersebut. Namun Shikamaru tersadar akan dirinya yang terjebak dan segera mengaktifkan kemampuan bayangannya untuk mengikat Sai. Shikamaru kemudian melompat mundur dari hadapan Sai. Bayangannya sudah terikat dengan bayangan Sai. Perlahan bayangan itu melilit tubuh Sai. Namun Sai dengan mudah menepisnya dengan kebasan tangan, sehingga Shikamaru yang terpental ke belakang lagi seperti terkena serangan pukulan bayangan itu sendiri.

"Cih, sial." Shikamaru bangkit dan menyeka darah yang muncul dari luka di bibirnya.

"Kau sudah lihat 'kan, kau tidak mampu melawanku, huh?" ujar Sai dengan nada sombong.

"Ino, apa kau sudah bisu?!" Aku berteriak pada Ino yang dimana aku tahu dia pasti bisa mendengarku.

"Hei, diam kau! Jangan berani kau menerikaki wanitaku!" Sai berbalik meneriaki Shikamaru. "Cih, kau kira kau siapa? Kau tak lebih dari salah satu tikus percobaan lab ayahku." Sai menambahkan.

"Ka-kau anak Shimura Danzo?" hal ini baru disadari Shikamaru. Sungguh bodoh ia tak menyangka marganya bahkan sama. Bodoh kau, Shikamaru.

"Ya, ada masalah dengan itu, tikus percobaan?" Sai tersenyum remeh.

Shikamaru sungguh tidak terima dengan ucapan Sai. Sungguh sangat kurang ajar.

"Shikamaru, aku memberimu satu tugas. Kau laksanakan atau temanmu, Chouji, MATI." Ujar Sai final.

Meski Shikamaru tidak senang dengan Sai, tapi Chouji jauh lebih penting, "Katakan apa itu."

"Kau tipu Uchiha Sasuke. Kalau bisa sekalian dengan temannya, Naruto, rubah kuning bodoh itu. Agar ia mengumpulkan seluruh anak percobaan seumuran kalian saat ini. Kemudian bawa mereka semua kemari. Kalau dia tanya untuk apa, katakan aja Shimura Sai akan melakukan pertunjukan. Kau mengerti?"

"Apa setelah itu kau akan membebaskan aku, Ino dan Chouji?" tanya Shikamaru kembali.

"Tentu." Balas Sai dengan seringaian pada bibirnya.

"Baiklah akan aku lakukan."

Keesokan harinya, Shikamaru seolah mendapat jackpot. Uchiha Sasuke menghubunginya dan menyuruhnya mencari data anak-anak hilang itu. Tentu saja Shikamaru langsung menyetujuinya. Saat ini Shikamaru jauh lebih peduli dengan Ino dan Chouji. Ia akan menjebak Uchiha Sasuke dengan segala cara agar dia, Ino dan Chouji terbebas dari pria berkulit pucat brengsek itu.

Flashback End

"Jadi, selama ini kau menipu kami?" Naruto mulai emosi.

"Te-tenang dulu, Naruto. Kau tahu, aku menyesal. Aku merasa bersalah pada kalian. Terutama padamu yang merupakan temanku juga. Harusnya aku meminta bantuan kalian, bukan malah menjebak kalian. Maafkan aku." jelas Shikamaru sambil menunduk. "Dan Sai berkata ia masih memberiku satu kesempatan untuk tugas itu."

Naruto dapat menangkap penyesalan pada mata Shikamaru, "Baiklah, kali ini aku maafkan. Dan, Sai memberimu satu kesempatan, bukan?"

"Ya, begitulah." Shikamaru mengiyakan.

"Kalau begitu habis makan kita ke rumah Sasuke."

"A-apa?"

"Kenapa? Kau mau menipu kami lagi?"

"Di-dia tak akan membunuhku 'kan kalau tahu semua ini? Dan ini juga sudah pukul satu dini hari." Keraguan muncul dalam diri Shikamaru.

"Sejak kapan kau seperti itu? Tenang saja, ada aku." Naruto memberi senyum khasnya.

Hinata merasa beruntung memiliki Naruto yang meski terlihat ceplas ceplos dan tingkahnya yang kadang kekanakan, tapi dia juga mempunyai sisi kepemimpinan yang baik. Temari tersenyum tipis pada Shikamaru dan merasa sangat bangga pada Shikamaru yang berani mengakui kesalahannya. Lagipula ia juga penasaran dengan Uchiha Sasuke itu.

:::

POV: Sasuke

Blam blam blam

"SA-SU-KE!"

Aku membuka mataku dengan berat, melihat jam dinding, pukul setengah dua subuh.

Sial, siapa yang datang subuh begini? Ah suara itu, Naruto! Apa ada yang penting? Tunggu.. kurasa aku melupakan sesuatu! Oh ya, karena Itachi dan kapten, aku jadi lupa kalau ada pertemuan dengan Shikamaru. Dan aku juga lupa mencari anak-anak lainnya. Sungguh hari yang sial.

Aku segera berjalan, menuruni tangga dan membuka pintu depan

"Kau tahu ini jam berapa, Naruto?!" teriakku.

Dan aku sedikit tersentak ia membawa serta Shikamaru serta satu lagi wanita yang tak ku kenal. Kalau Hinata memang sudah bersama dengannya seperti surat dan perangko.

"Teme, pakai pakaianmu! Apa-apaan kau!" protes Naruto.

Aku menyerngitkan dahiku, "Huh? Aku masih pakai celana." Mataku beralih pada Hinata, "Tolong katakan dia masih normal, Hinata."

"Tentu saja aku normal, sialan kau teme. Jadi kami boleh masuk atau tidak?"

Hinata hanya terkikik kecil.

"Masuklah, dan jangan buat keributan. Yang lain sedang tidur. Berdoalah aga-"

"Sasuke, ada apa ribut-ribut?" terlihat Kakashi dengan mata sayunya berjalan turun dari tangga.

"Eh, Kakashi-sensei?" wajah Naruto berseri-seri.

Aku terkejut tapi tetap mempertahankan wajah datarku, "Sensei?" gumamku.

"eh? Naruto? Kau sudah besar ya! Sewaktu sekolah dasar kau itu bandel sekali, hahaha." Kakashi malah berlari turun dan menghampiri Naruto.

"Teme, kenapa kau tak bilang kau kenal Kakashi-sensei?" Naruto menyenggolku

"Kau yang tak bilang kau kenal tou-san." Ujarku acuh.

"A-apa? Di-dia ayahmu?" Naruto seolah tak percaya. Bodoh, memangnya dia terlihat mirip denganku? Tentu saja aku lebih tampan, gumamku dalam hati. Ah, maafkan tingkat kepercayaan diriku.

"Bukan, ayah kandung Sakura." balasku.

"Astaga, ternyata dunia ini sempit ya! Aku sangat rindu padamu, sensei!" Naruto memeluk Kakashi.

"He-hei, kau sudah besar lho, Naruto." Kakashi masih tersenyum dan mengusap kepala Naruto. Naruto melepas pelukannya dan tetap tersenyum pada Kakashi.

"Ya sudah, kalian duduk terlebih dulu ya. Aku akan mengambil sedikit cemilan." Ucap Kakashi mempersilahkan para tamu.

Kakashi melirik ke arahku, "Sasuke, jangan nodai penglihatan wanita disini dengan tubuhmu, pakai bajumu. Pemandangan indah itu hanya untuk Sakura."

Hah? Apa yang barusan tou-san katakan? Dasar pria tua yang baru saja belajar menyayangi anaknya, aku hanya dapat membalas "Hn." Kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka.

"Sasuke-kun, ada apa ribut-ribut di bawah?" Sakura bertanya padaku saat aku baru saja memasuki kamar.

"Tuh, Naruto datang bersama Hinata dan Shikamaru, juga satu lagi wanita tak ku kenal, tapi kelihatannya pacar Shikamaru." Balasku sambil menutup pintu.

"Apa? Shikamaru sudah punya pacar?" Sakura seolah tidak senang.

"Kenapa kau terkejut seperti itu?" aku mengambil baju dan memakainya.

"Dan kau tidak pakai baju tadi?" tanya Sakura lagi.

"Aa, um- apa ada yang salah? Aku masih pakai celana, Sakura." balasku.

"Kau tidak takut pacarnya jatuh cinta padamu? Kalau Hinata aku percaya karena dia sudah milik Naruto."

"Ha-hah? Hahahaha, kau bicara apa Sakura? Hahaha." aku tak dapat menahan tawaku.

Sakura memicingkan matanya padaku, menatapku tak senang.

Aku duduk diatas ranjang dan memeluknya, "Kau tahu, Sakura. Aku hanya mencintaimu, jadi percayalah padaku." Ujarku sambil mencium tengkuknya.

"Ya ya, sudah cepat turun. Apa Itachi-nii terbangun juga?"

"Kenapa kau malah menanyakan Itachi dibanding tou-san dan kaa-san mu?" protesku.

"Ah, hehe. Itachi-nii 'kan sedang sakit. Jadi aku sedikit khawatir saja, tak lebih."

"Benarkah?" tanyaku lagi.

"Ya, tenang saja. Lagipula kalau kau seperti ini terus setiap hari kurasa aku akan cepat hamil anakmu, Sasuke-kun." jelas Sakura sambil mengganti gaun malamnya dengan kaos dan celana panjang.

"Hahaha, maaf. Tapi baguslah. Tou-san dan kaa-san akan senang menjadi kakek dan nenek muda." Tawaku.

Saat menuruni tangga, kami sudah melihat tou-san dan kaa-san, oh ada juga nii-san berbincang dengan keempat orang itu. Dia terlihat jauh lebih baik dan infusnya juga sudah ia lepas. Shikamaru terlihat menunduk seolah meminta maaf dan.. sepertinya wanita disampingnya itu tidak berbahaya. Ia terlihat mengeluarkan pendapat juga.

"Sasuke, aku akan memberitahumu sesuatu. Tapi, kau janji untuk tidak marah?" Kakashi bersuara.

"Hn, ada apa? Kaa-san hamil lagi?"

"Dasar anak sialan. Shikamaru menipumu, bodoh." Kakashi memicingkan matanya.

"Oh, aku sudah tahu." Sebenarnya aku sangat ingin menambah 'bodoh' tapi tak sopan kan berbicara seperti itu?

"Dan kau tidak terjekut sama sekali?"

"Tidak."

"Kan, sensei. Sudah ku bilang, teme itu tak asik sama sekali!" Naruto melipat kedua tangannya.

"Kau yang tak asik, dobe." ujarku malas.

"Ternyata kalian sangat akrab sampai ada panggilan sayang ya.. hm.." Kakasih mengangguk-angguk.

"Aku masih normal!" teriakku dan Naruto bersamaan.

"Ah, kalian juga sangat kompak." Itachi menambahkan.

Sungguh aku tak ingin melanjutkan ini, aku diam saja.

"Aa, hehehe. Maaf semua, tapi.. bolehkah aku tahu apa yang kami lewatkan?" sela Sakura.

"Oh, tentu sayang." ujar wanita rambut merah, Ayame. "Tadi mereka membicarakan menantu tampanku."

Baiklah, cukup, aku akan pergi saja. Aku membalikkan badanku perlahan dan melangkah pergi.

"Hei, Sasuke!" teriak Itachi "tolong ambilkan minum lagi ya, sudah habis!"

Aniki sialan.

POV: Sakura

Banyak orang berkumpul di rumah Sasuke, ehm, atau tepatnya rumah kami. Seketika rumah ini terasa hangat dan nyaman dengan adanya canda dan tawa. Aku dapat melihat Naruto yang sedang bercanda dengan tou-san ku, Hinata yang ikut tertawa di sampingnya. Dan aku melihat Shikamaru yang cukup fokus dengan Temari, ia bahkan memperkenalkan Temari dengan bangga. Dan lihat, wajah Temari memerah seperti tomat. Lucu sekali. Kaa-san mendengarkan ocehan Itachi-nii mengenai pengalamannya dan sekarang menggodanya dengan pertanyaannya dengan wanita.

"Sakura," sebuah suara membuyarkan lamunanku.

"Eh, iya. Sini aku bantu." Aku mengambil nampan berisi beberapa gelas dengan jug berisi penuh jus jeruk. Kurasa cukup untuk kami semua, karena mereka terlihat lebih senang berbicara daripada minum.

"Ahhh, ternyata sensei hebat sekali! Aku tak menyangka!" ujar Naruto dengan semangat. Ia baru saja mengetahui kalau senseinya di bangku sekolah dasar itu ternyata kapten dari seorang Uchiha Sasuke.

"Hahaha, aku hanya mengelola saja. Kalau agen terhebatku, ya dia." Kakashi menunjuk ke arah Sasuke yang berdiri tepat di belakangku.

"Ah, sensei belum lihat aku. Makanya sensei mengatakan bahwa dia adalah yang terbaik." Ujar Naruto.

"Diamlah, usuratonkachi. Kita tahu siapa yang akan menang." Balas Sasuke.

"Apa katamu? Emangnya siapa? Tentu saja aku kan! hahaha" Naruto tertawa dengan bangganya.

"Tunggu, kalian semua.. punya kekuatan.. juga?" tanya Itachi. Oh sungguh Itachi-nii memang sangat cerdas mencerna sesuatu.

"Ya, brgitulah nii-san." Jawabku pada

"Sanking kuatnya, lihatlah rubah ini yang selalu mengecoh tak jelas."

"Haha, aku kan memang kuat, eh-" Naruto tersadar akan sindiran Sasuke, "Sialan kau, teme!"

"Hahahaha, hahaha." aku hanya dapat tertawa lepas melihat semua tingkah mereka. Dan saat aku sadar semua orang melirikku, "ops, maaf." Wajahku memerah dan aku menunduk.

POV: Normal

"Sasuke, sebelumnya, aku minta maaf." Ujar Shikamaru.

"Tak apa, lagi pula aku sebenarnya juga ingin menjebakmu tadinya. Jadi jangan dipikirkan lagi." Balas Sasuke.

"Hm, baiklah. Dan ini Temari, pacarku. Dia punya adik yang bisa mengendalikan pasir. Dulu saat ia kecil, ayah Temari sebagai pemimpin di tempat tinggal mereka diancam. Hingga adiknya yang paling kecil diculik dan masuk ke laboratorium itu. Temari sudah meneleponnya dan dia ingin bergabung." Jelas Shikamaru.

"Jadi, dengan ini kita ada 14 orang." Ucap Sasuke.

"Masukkan aku, Sasuke." Kakashi mengangkat tangannya. "Jangan terkejut, aku sudah dengar semua ceritanya dari Naruto dan Shikamaru, juga sedikit dari Hinata."

"Apa? Kau akan bertarung juga? Tidak tidak, aku tak mau kehilanganmu lagi, Kakashi!" teriak Ayame tiba-tiba. Kakashi hanya diam dan menghela nafas panjang.

"Baiklah, 14 saja." Kakashi mengangkat bahunya. "Tapi- dengarkan ini."

Semua terdiam dan menghadap Kakashi.

"Saat ini semua dari kalian adalah agenku, semua orang diruangan ini, tanpa terkecuali. Aku harap kalian dapat bekerja sama. Dan untuk tim ini, Sasuke adalah ketua kalian. Jelas?"

"Kenapa harus teme?" Naruto tidak terima.

"Kau tidak tahu betapa beratnya kehidupan dia selama ini, Naruto. Jadi ikuti saja orang berpengalaman, yah. Apa ada yang ditanyakan lagi?" tanya Kakashi.

"Bisakah kapten membantuku mencari anak-anak lainnya?"

"Ya. Tenang saja, kalau soal itu. Pekerjaan kalian akan aku susunkan nanti. Selamat datang, kalian resmi menjadi agen dalam organisasiku, hahaha." Tawa Kakashi mengejek.

"Hahaha, selamat-!" Naruto baru saja tertawa namun otak warasnya tiba-tiba bekerja, "Sial, aku seorang yang memecahkan kasus pembunuhan, mengejar pembunuh dan sekarang aku menjadi pembunuh? Apa-apaan ini!" Naruto menjambak rambutnya frustasi.

"Lalu apa bedanya denganku?" ujar Shikamaru dingin.

"Naruto-kun, tenanglah." Hinata mendekati Naruto dan memegang lengannya.

"Kalian ini, hadeh. Aku 'kan belum memberi kalian tugas. Tidak mungkin semua orang membunuh 'kan?" Kakashi berkomentar sambil menggeleng. Dia harus segera menentukan pekerjaan mereka secepat mungkin.

"Itachi, aku rasa kau sudah terbiasa untuk ini, bukan begitu?" tanya Kakashi.

"Ya, tenang saja. Serahkan padaku." Jawab Itachi.

"Dan Sasuke, aku harus mengandalkanmu untuk menjaga Sakura. Dan ya, tugasmu sama dengan Itachi, kurasa kau tahu apa bukan?" tanya Kakashi lagi.

"Hn." gumam Sasuke.

"Tou-san, aku sudah bisa sendiri! Tou-san sudah tahu kan apa kekuatanku?" Sakura ingin mandiri.

"Ya tapi tetap saja, ayah dan ibumu ini khawatir dan juga tak ingin kehilangan kamu lagi, Sakura. Jadi kau ikut saja dengan Sasuke."

"Baiklah, tou-san." balas Sakura.

"Naruto dan Shikamaru. Kalian bertugas memberi informasi padaku. Hanya kalian yang dapat aku andalkan untuk berhubungan dengan polisi."

"Mendokusei, baiklah. Kapten." Balas Shikamaru tersenyum tipis. Kakashi menangguk

"Haaa, hancur sudah reputasi jujurku. Baiklah, baiklah, sensei." Naruto memasang muka malasnya.

"Hihi, kau berlebihan, Naruto-kun." ujar Hinata berusaha menenangkan pacarnya yang sejak tadi tidak karuan.

"Hinata, tadi kau bilang margamu Hyuuga 'kan? Klan kelas atas. Baiklah, aku minta tolong carikan dua anak, satu yang bermain anjing dan satu lagi yang dapat mengeluarkan serangga. Kerahkan saja anak buahmu." jelas Kakashi.

"Baik, akan segera aku laksanakan."

"Temari. Mendengar ceritamu, sepertinya kau juga anak dari klan atas. Hm, aku minta tolong untuk mencari anak yang bermain dengan barbel dan benda tajam itu. Seret saja mereka kalau tak mau ikut, haha." Kakashi menjelaskan.

"Baik, kapten. Tenang saja." Temari mengangguk.

"Baiklah, dengan ini. Semua sudah jelas akan tugas masing-masing 'kan? Itachi dan Sasuke tinggal tunggu penyerangan. Sedangkan yang lain kerjakan mulai siang ini."

"Baik, kapten." Ujar mereka serentak.

Ayame tersenyum hangat memandang Kakashi dan semua orang dalam ruangan. Ia merasakan kehangatan keluarga saat ini. Merasa bahwa kehadiran Sakura, Sasuke dan semua anak-anak ini memang sangat menyenangkan. Meski ia sendiri sudah berumur 28 tahun. Ah rasanya jadi ingin menambah anggota keluarga lagi, batin Ayame.


TBC


Hai hai minna-san, aduh maaf telat update.
Belakangan ini agak sulit untuk mengetik karena mata capek juga mengerjakan hobi lain, yaitu main game, hahaha

Dan juga author masih galau dengan beberapa masalah di real life.

Maafkan author yak, sebagai gantinya author buat chapter ini cukup panjang. Atau masih kurang? hehe

Balasan review:

Hoshi Riri: wkwk, iya jahat ya. tapi ternyata dia itu terpaksa lho. Terima kasih sudah read dan review :D

wowwohgeegeee: yap, ini sudah lanjut. Terima kasih sudah read dan review :D

hanazono yuri: ini sudah lanjut lhoo hehe. Terima kasih sudah read dan review :D

sarahachi: eh tebakannya bener, Sasuke udah tau wkwk. iya Shady juga baca fic author-author lain dan semuanya sangat menginspirasi. Terimakasih Sara-chan (boleh panggil begitu?) sudah mengikuti fic-fic saya sampai sejauh ini. Terima kasih juga sudah read dan review :D

Thanks dukungannya semua. Author tidak dapat berjanji menyelesaikan chapter depan dengan cepat, tapi akan author usahakan ya.

Author akan sangat menghargai seluruh tanggapan pembawa dengan mengisi kolom review, terima kasih :D

Sincerely,

Shady.