All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.
Warning! LONG FLUFFY MATURE CHAPTER AHEAD!
Chapter 13 : Ferret dan Hermione, di kasur.
13.
Hermione terus menerus bergerak ke kiri ke kanan di kasurnya, ia tidak bisa tidur. Draco terus menerus melintas di kepalanya. Kata-kata Ginny tadi membuatnya sedikit sedih. Draco Malfoy pasti selama ini tidak pernah benar-benar merasakan kasih sayang yang sesungguhnya.
Well, Narcissa mungkin memperlakukannya sebagaimana seorang ibu memperlakukan anaknya, tapi Hermione tidak yakin dengan Lucius. Draco Malfoy membelikannya barang-barang bagus sebagai cara untuk menunjukkan rasa pedulinya, dan itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan. Itu pasti kebiasaan yang didapatkannya dari keluarganya.
Draco Malfoy bahkan tidak berpikir dua kali untuk membeli sesuatu yang mahal dan tidak terlalu berguna. Hermione menghela nafasnya, Ia akan menasihati Draco setelah ini.
"Oh…" kata Hermione menutup wajahnya dengan bantal. Tidak lama ia tertidur.
-Dramione-
Draco juga tidak bisa tidur di kamarnya, ia terus berguling ke kanan dan ke kiri, untung Narcissa sudah tidak mengungsi disini.
Hermione Granger, stupid-know-it-all-Gryffindor. Draco menghela nafasnya, mereka baru bertengkar beberapa jam dan Draco sudah merindukan gadis itu. Apa yang salah dengannya? Draco hanya ingin membelikannya barang yang bagus, apa salahnya? Kenapa Hermione membuat semuanya rumit.
Draco melihat IPhone yang sudah di aktifkannya dengan bantuan Seezy. Draco menghela nafasnya.
Ia memakai robe-nya, mengambil Iphonenya lalu ber-apparating ke appartement Hermione. Draco langsung ber-apparate ke dalam flat Hermione, tapi tidak ke kamarnya. Draco baru akan berjalan ke kamar Hermione saat suara kucing mengagetkannya.
"Oh… Kau." Kata Draco. Crookshanks mengeong galak.
"Hey Buddy, listen, aku tidak ingin mengajakmu berkelahi, aku hanya ingin bertemu dengan Granger." Kata Draco menjelaskan.
Crook mengeong lagi, ia berjalan mendekat ke arah Draco perlahan, seperti sedang memojokkan mangsanya. Draco menghela nafasnya, menghadapi kucing Hermione bahkan lebih buruk dari pada menghadapi Potter dan Weasley, jadi Draco berjalan cepat menuju ke kamar Hermione dan mengetuk pintunya.
"Granger…" kata Draco sambil mengetuk pintu kamar Hermione cepat dan keras, sebenarnya ia bisa langsung masuk saja, tapi Hermione pasti akan marah. "Granger, buka pintunya cepat… kucingmu akan menyerangku… Granger…" Draco makin keras mengetuk pintu itu.
Draco bisa mendengar suara langkah dari dalam dan tahu bahwa Hermione sudah berjalan mendekat. Hermione membuka pintunya.
"Granger…" kata Draco penuh harap.
"Draco?" tanya Hermione tidak yakin yang berdiri di depannya benar-benar Draco Malfoy.
"Granger…" kata Draco lagi.
Hermione melompat dan memeluk Draco. "Oh, Draco maafkan aku…" kata Hermione menyembunyikan wajahnya di dada Draco.
"Maaf? Kurasa aku yang seharusnya minta maaf." Kata Draco mengelus kepala Hermione. "Aku tidak bertanya dulu apa kau mau barang itu atau tidak dan langsung memaksamu menerimanya." Kata Draco pelan.
Hermione mendongakkan kepalanya. "Apa yang kau lakukan disini? Ini sudah jam…" Hermione melirik ke jam dindingnya. "Sudah jam 12 malam…" kata Hermione lagi.
"Entahlah…" kata Draco jujur, sekarang ia memegang kedua lengan Hermione. "Aku berusaha tidur tapi tidak bisa, kurasa aku mengkuatirkanmu." Kata Draco jujur.
Hermione tersenyum, ia menarik Draco menuju sofanya. Hermione melihat Draco yang menggunakan piama satin berwarna silver di balik robe-nya. Draco benar-benar tidak bisa tidur karenanya lalu memutuskan untuk pergi kesini dan menyelesaikan masalah mereka.
"Draco."
"Iya?"
"Berjanjilah satu hal padaku."
"Baiklah, selama itu tidak melibatkan Potter atau Weasley atau kucing gendutmu."
Hermione memutar matanya. "Jika kita bertengkar lagi dikemudian hari, berjanjilah kita akan menyelesaikan masalah kita sebelum tidur malam!" kata Hermione mengulurkan jari kelingkingnya.
Draco tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Hermione. "Aku berjanji."
Hermione tersenyum makin lebar. "Kau ingin minum sesuatu?" tanya Hermione.
"Sure…" kata Draco, ia berencana berlama-lama di flat Hermione, lagipula besok hari Sabtu dan ia ingin menghabiskan malam di flat kekasih barunya.
Hermione berjalan ke pantry-nya, ia menimbang, tea or wine? Hermione kemudian membuka penyimpanan Wine-nya dan mengambil dua gelas lalu kembali berjalan kembali ke sofanya. Ia nyaris tertawa terbahak-bahak saat melihat Crook duduk di atas meja, menghadap Draco, seperti siap menerkamnya kapan saja.
"Crookshanks." Kata Hermione menghardik kucingnya itu. Crook kemudian turun dari meja dan pergi. "Sorry, Crook memang seperti itu, hanya ayahku satu-satunya pria yang diterima Crook dengan ramah, jadi jangan menganggapnya kesal padamu atau semacamnya." Kata Hermione kemudian meletakkan Wine dan gelas di meja.
"Um, Granger." Kata Draco bingung mengatakannya. "Meskipun aku minta maaf atas perbuatanku tadi, aku tetap ingin kau mengambil semua barang yang kubeli. Dan aku tidak berjanji tidak akan melakukannya lagi di kemudian hari. Hell, kau harus menerima kebiasaanku, aku mungkin akan membuatmu kesal, tiba-tiba membelikanmu buku, atau perhiasan, aku mungkin saja jalan-jalan di dunia muggle dan tiba-tiba ingin membelikanmu mobil, tapi aku mau kau menerima semua pemberianku." Kata Draco menjelaskan jalan pikirannya.
Hermione menghela nafasnya. "Tapi aku tidak ingin kau bersikap boros." Kata Hermione memijat ujung hidungnya. "Draco, kau bisa membelikanku banyak hal yang tidak begitu mahal, satu atau dua buku tidak akan menjadi masalah, aku pasti akan menerimanya dengan senang hati, bunga atau makanan juga tidak akan menjadi masalah. Tapi aku tidak ingin kau membelikanku barang-barang mahal, at least tidak tanpa persetujuanku." Kata Hermione.
"Aku akan menerima beberapa barang yang kita beli hari ini, tapi berjanjilah kau harus bertanya terlebih dahulu padaku sebelum membeli barang-barang selain buku, bunga dan makanan! Okay?" tanya Hermione.
"Yah, baiklah, baik…" kata Draco berbohong. Ia tidak akan menahan dirinya, siapa peduli? Jika ia memang benar-benar ingin membelikan Granger perhiasan atau kendaraan tidak ada yang bisa melarangnya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kau tidak ingin pulang?" tanya Hermione menuangkan Wine-nya ke gelas dan memberikannya pada Draco.
Draco menggeleng, ia meminum wine itu. "Aku belum ingin pulang, bagaimana jika kita menonton tv?" tanya Draco. Hermione melirik jam, terlalu berisiko untuk menyalakan televisinya tengah malam, acara yang diputar malam hari biasanya acara dewasa dan ia tidak ingin mengambil risiko dengan keberadaan Draco disampingnya.
Draco melirik Hermione dari ujung matanya, ia menggunakan kaos baseball yang sangat besar, menutupi setengah pahanya dan lengan bajunya sampai kesikunya, Hermione menggunakan semacam celana ketat pendek yang tertutup oleh kaos yang ia gunakan.
Draco bisa melihat Hermione tidak menggunakan bra. "Um… Granger." Kata Draco.
"Iya?" tanya Hermione.
"Kau tidak menggunakan bra?" tanya Draco. Hermione sontak melingkarkan kedua tangannya menutupi dadanya.
"Draco Malfoy!" kata Hermione kemudian menjauh. Ia melompat ke sofa lain yang lebih kecil dan menggunakan bantal sofa untuk menutupi dadanya.
"Kenapa? Jangan bertingkah berlebihan." Kata Draco berusaha memberikan respon yang normal.
"Jangan berlebihan? Kau sudah gila." Kata Hermione melemparkan bantal yang dipegangnya ke arah Draco. Draco tertawa dan menangkap bantal yang dilempar Hermione.
"Kenapa kau tidak menggunakan bra? Kau tahu aku akan datang?" Draco menyeringai.
"Jangan bercanda!" kata Hermione. "Aku memang tidak terbiasa menggunakan bra di rumah, tidak nyaman, terlalu ketat dan lagipula menggunakan bra terlalu lama dan kencang bisa menyebabkan kanker payudara." Kata Hermione menjelaskan.
"Kalau begitu mulai sekarang kau tidak boleh menggunakan bra." Kata Draco, Hermione bisa melihat wajah concern di muka Draco. Draco tahu apa itu kanker, Penyakit muggle yang sekarang sedang marak. "Hmm, apa penyihir juga bisa terkena kanker?" gumam Draco pelan. "Apa aku harus memberitahu Mom?" tanya Draco pada dirinya sendiri.
Hermione tersenyum. Dasar anak mami.
Hermione menguap. "Kau mengantuk?" tanya Draco. Hermione mengangguk, ia memang memiliki jam tidur yang teratur, ayahnya yang mengajarinya untuk mendapatkan tidur yang cukup untuk menjaga kesehatannya.
"Tidurlah kalau begitu." Kata Draco.
"Lalu kau?"
"Aku akan menemanimu."
"Apa?"
"Jangan berprasangka buruk Granger, kau tidur dan aku tidur disebelahmu, itu saja, tidak lebih. Lagipula aku malas kembali ke Manor" Kata Draco menawarkan.
Hermione berpikir, apa Ia dan Draco bisa benar-benar hanya tidur? "Baiklah." Kata Hermione kemudian menghabiskan wine di gelasnya lalu berjalan menuju ke kamarnya diikuti Draco dari belakang.
Draco bisa merasakan Crookshanks berjalan di belakangnya dan ide briliant terlintas dipikirannya. Draco menghalangi Crookshanks masuk dengan kakinya kemudian langsung menutup pintu kamar Hermione dan menggumamkan spell untuk mengunci pintu.
Draco tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada Crookshanks sampai mereka bangun besok, atau lebih tepat nanti, karena ini sudah lewat jam 12 malam.
Hermione sudah merebahkan badannya di sisi sebelah kiri kasurnya. Draco kemudian melepas robe-nya dan meletakkannya asal, dan ia berbaring di sebelah Hermione.
Jantung mereka berdua berdebar kencang.
"Draco." Kata Hermione pelan.
"Umm?"
"Ada sesuatu yang ingin kuberitahu." Kata Hermione memulai. "Aku sering bermimpi buruk." Kata Hermione menjelaskan.
"Ah… war -dream?" tanya Draco mengerti, hampir semua orang yang terlibat dalam perang akan mengalaminya. War-dream. "Tidak apa Granger, kita semua mengalaminya." Kata Draco mendekat.
Hermione kemudian memutar tubuhnya dan menghadap Draco. "Well, mimpiku…. mereka sedikit berbeda." Kata Hermione. "Apa kau ingat malam saat aku, Harry dan Ron dibawa ke manor?" tanya Hermione. Draco mengangguk pelan, ia juga memosisikan dirinya agar menghadap Hermione.
"Mimpiku hampir selalu tentang Bellatrix." Kata Hermione memberitahu. "Well, memang aku tidak lagi begitu sering bermimpi tentang malam itu, aku hanya ingin memberitahumu untuk berjaga-jaga agar kau tidak tiba-tiba meninggalkanku." Kata Hermione pelan.
Draco tersenyum kemudian melingkarkan tangannya di tubuh Hermione dan menariknya mendekat. "Silly…woman… apa kau pikir aku akan meninggalkanmu hanya karena kau bermimpi buruk?" kata Draco membelai kepala Hermione. Ia sedih karena Hermione harus di torture oleh Bellatrix di depan matanya.
Draco Ingat bagaimana dulu ia ingin menolong Hermione tapi ia terlalu takut, pengecut, pikirnya dalam hati, ia merasa bersalah, Ia bisa saja membawa Hermione keluar dari Manor, tapi ia tidak punya cukup nyali.
"I'm sorry Hermione." Kata Draco mencium kening Hermione dan memeluk perempuan di depannya. "Harusnya aku mengumpulkan keberanian untuk menolongmu malam itu." Kata Draco pelan dan mempererat pelukkannya.
Hermione tidak menjawab, ia menyembunyikan wajahnya di dada Draco, menghirup aroma Draco. Freshly mown grass and new parchment, spearmint toothpaste, and Draco Malfoy hair…
"Can I kiss you?" tanya Hermione pelan, ia berbisik malu. Hermione tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ia pernah tidur (hanya tidur dan lebih dari tidur) dengan beberapa pria, dan tidak banyak yang bisa memberikannya rasa seperti ini, perasaan aman, tidak terancam, tidak perlu mengkuatirkan apa-apa, beberapa diantaranya adalah Ayahnya, Harry, dan Draco.
Saat Hermione kecil, setiap ia bermimpi buruk, bukan ibunya yang datang ke kamarnya yang menemaninya sampai matahari terbit, tapi ayahnya. Richard Granger akan memeluknya, menghapus air matanya, membelai kepalanya dan mengatakan bahwa ia hanya bermimpi.
Dan Harry, saat Ron meninggalkan mereka di hutan saat berburu horcux, Harry akan diam-diam menyelinap kesampingnya saat Ia tertidur dan memeluknya. Hermione sering sekali menangis dalam tidurnya saat itu, dan Hermione tahu, selain untuk menenangkanya, Harry juga tidur sambil memeluknya untuk menenangkan dirinya sendiri. Mereka terlalu bergantung satu sama lain, dan ada saat dimana meskipun Hermione tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau satu jam kedepan, ia merasa aman dalam pelukkan sahabatnya itu.
Sementara Ron atau Cedric tidak bisa memberikannya perasaan aman seperti Ayahnya atau Harry.
Tapi Draco, mereka baru menjalin hubungan beberapa hari, tapi pelukkan Draco bisa membuat Hermione nyaman dan aman. Dan entah kenapa Hermione tiba-tiba merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mencium pria itu, jadi ia bertanya. "Can I kiss you?"
Draco tersenyum, tidak menjawab, tapi kemudian ia menundukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya di bibir Hermione. Hermione mendesah begitu merasakan bibir Draco yang lembut di bibirnya. Draco mempererat tangannya yang memeluk Hermione, sementara Hermione meletakkan tangannya di dada Draco.
Hermione tersenyum dalam ciumannya. Draco merasakan senyuman Hermione kemudian menarik bibirnya pelan. "Kenapa kau tersenyum? Am I that good?" tanya Draco berbisik.
Hermione tertawa pelan. "Draco Malfoy…" kata Hermione berbisik. "Kurasa aku mencintaimu." Kata Hermione berbisik tepat di telinga Draco.
Mata Draco membelalak, apa ia tidak salah dengar? Hermione Granger baru saja mengatakan bahwa ia mencintainya. Draco melihat langsung ke mata cokelat yang ada di depannya.
Draco mencium Hermione lagi, kali ini lebih keras dan penuh passion. "I love you Granger, I always have." Kata Draco kemudian mengelus pipi Hermione yang memerah.
"Kau tahu? Aku butuh waktu sekitar satu tahun untuk menyadari bahwa aku menyukai Cedric dulu, tapi sekarang… aku bahkan tidak perlu satu minggu untuk tahu bahwa aku mencintaimu." Kata Hermione mencium pipi Draco.
Draco tersenyum. "Pesonaku memang terlalu hebat untuk bisa ditolak Granger." Kata Draco menyeringai.
Hermione tetap tersenyum, ia kemudian mencium kening Draco lagi.
"Sampai kapan kau akan menciumiku?" tanya Draco masih tersenyum lebar.
Hermione tidak menjawab, ia mencium kelopak mata kanan Draco lagi.
"Sudah selesai?" tanya Draco masih tersenyum.
Hermione kemudian mencium kelopak mata kiri Draco, senyuman tidak meninggalkan wajahnya sedetikpun.
"Lagi?" tanya Draco menawarkan.
Hermione kemudian mencium hidung mancung pria di depannya, lalu dagunya dan kemudian berhenti, ia menatap mata Draco lekat. "Sudah." Kata Hermione menyatakan bahwa ia sudah selesai mencium Draco.
"Bagian tubuh yang sudah kucium tidak boleh disentuh oleh orang lain." Kata Hermione. "Is that clear?" tanya Hermione dengan nada bossy-nya.
"Yes Ma'am." Kata Draco tersenyum, ia kemudian mencium bibir Hermione, lama sekali sampai mereka berdua kehabisan nafas. Kemudian memeluk Hermione erat dan mereka berdua tertidur.
Draco terbangun karena Hermione mengeluarkan suara yang aneh, ia membuka matanya dan melihat Hermione bergerak-gerak pelan, wajahnya ketakutan, ia berkeringat.
"It isn't the real sword! It's a copy, just a copy!" Hermione berteriak ketakutan…
"Granger! Granger !" Draco berusaha membangunkan Hermione. "Hermione, Hermione Granger!"
Hermione membuka matanya. Dan melihat Draco di depannya, nafasnya terengah-engah.
"Hermione.. kau tidak apa-apa?" tanya Draco pelan . Hermione mengangguk. Draco mengambil gelas yang ada di atas nightstand di samping kasur Hermione dan memberikannya pada Hermione.
"Tenanglah…" kata Draco memeluk Hermione yang masih diam dan belum mengatakan apa-apa.
Hermione masih menenangkan dirinya dan belum bisa berkata-kata. Tangannya mencengkram erat lengan Draco, berusaha meyakinkan dirinya kalau ia sudah terbangun.
Ketika sudah lebih tenang Hermione melihat ke Draco yang masih terlihat cemas. "I'm okay." Kata Hermione memberitahu, Ia merebahkan badannya, ingin kembali tidur. Draco juga merebahkan badannya dan memeluk Hermione dari belakang.
"Kau bermimpi tentang malam itu lagi?" tanya Draco pelan, ia mengelus lengan Hermione.
Hermione mengangguk. Ia bisa merasakan ereksi Draco di dekat bagian bawah tubuhnya. Hermione melirik jam di nightstand-nya, ia tersenyum sudah jam tiga pagi ternyata, morning erection, pikir Hermione.
Tiba-tiba jantung Hermione berdebar. Ia terakhir kali melakukan hubungan intim dengan pria adalah Cedric, setelah itu ia tidak pernah tidur dengan pria. Dan keberadaan Draco membangkitkan sesuatu dalam dirinya.
Hermione membalikkan badannya sehingga mereka berhadapan sekarang. Ia mencium leher Draco. "Terimakasih." Kata Hermione berbisik.
"Terimakasih untuk apa?"
"Thanks for holding me through my nightmare." Kata Hermione sekarang mencium rahang bawah Draco.
Draco mendesah pelan. "Granger…" kata Draco entah apa maksudnya. Hermione mengulurkan tangannya dan membelai lengan Draco, pelan. Kemudian tangannya turun dan menyentuh ereksi Draco.
"Granger…" kata Draco sekarang benar-benar bangun. Hermione terus menciumi lehernya dan tangannya meremas ereksi Draco pelan. Draco menggerakan tangannya ke bagian bawah kaos yang digunakan Hermione, tangannya perlahan-lahan meraba bagian kulit Hermione yang bisa ia temukan. Pinggangnya, perutnya, rusuknya, dan sisi luar payudaranya.
"Mmhh…" Hermione mendesah begitu jari Draco menyentuh nipple-nya.
"Hermione…" kata Draco berbisik. Hermione tidak tahu apa yang merasukinya, namanya di mulut Draco terdengar seperti mantra, Hermione bergerak ia duduk di kasur dan melepas kaosnya dengan gerakkan yang cepat melemparnya entah kemana.
Draco menarik nafasnya, tidak yakin apa ini kenyataan atau mimpi. Hermione bergerak dan duduk di pinggang Draco yang masih berbaring. Kemudian merendahkan badannya dan mencium bibir Draco sambil dengan cepat melepaskan kancing piama Draco.
Draco menarik Hermione lebih dekat, membiarkan Hermione mengontrol aktivitas mereka. Ia menggerakkan tangannya keseluruh kulit Hermione yang bisa ia temukan. Kulit Hermione begitu halus dan lembut, meskipun ada beberapa bekas luka ditubuhnya.
Draco tidak lagi sanggup berpikir saat Hermione menarik celana Draco pelan. Draco mengerang kemudian membalikkan posisi mereka, ia memposisikan agar Hermione berbaring. Draco kemudian melepaskan kemejanya dan celana piamanya juga boxernya lalu menindih Hermione.
"I love you so much Granger…" kata Draco mencium bibir Hermione. Draco kemudian menurunkan mulutnya ke leher Hermione, lalu ke pundaknya, kemudian dadanya.
"Dracooohhhh…" Hermione mendesah saat Draco menghisap nipple-nya. Hermione tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Draco benar-benar seperti pria di makan malam terakhirnya, ia biasanya tidak peduli dengan perempuan yang ada di tempat tidurnya, biasanya ia akan fokus pada kepuasannya sendiri lalu selesai.
Tapi Hermione berbeda. Tubuh Hermione terasa tepat, mereka seperti diciptakan satu sama lain, ukuran payudara Hermione yang pas di tangannya, pinggulnya, kakinya, pahanya, hell even telapak kaki Hermione membuatnya semakin tidak bisa menahan diri.
Ketika Draco sudah selesai di bagian payudara Hermione, ia bergerak ke bawah lagi, meninggalkan dada gadis itu yang sudah basah dan merah. Draco bisa melihat bahwa bagian tengah celana Hermione sudah basah.
Draco dengan cepat melepas celana Hermione dan menciumi bagian paha Hermione, membuat Hermione merasakan bahwa ia benar-benar menginginkan gadis itu. Draco menciumi paha kanan dan kiri Hermione, menjilatinya, membuat Hermione terus mendesah.
"Draco… please…" kata Hermione tidak tahan lagi.
"Please what love?" tanya Draco mulai menciumi bagian intim Hermione. Ia bisa melihat seberapa basahnya Hermione untuk dirinya.
"Draco…" kata Hermione setengah mendesah… "Please… pleasee Draco…"
Draco hampir gila, ia memosisikan badannya, wajah mereka sekarang satu level. Draco mencium bibir Hermione lagi dan memosisikan ereksi di depan bagian intim Hermione.
"Love… Hermione I Love you." Kata Draco.
"I love you as well." Kata Hermione melingkarkan tangannya di leher Draco.
Draco mendorong masuk cock-nya ke pussy Hermione. Mereka berdua mendesah. Hermione merasa penuh, Ia hanya pernah berhubungan intim dengan tiga pria, Ron, Cedric, dan Draco. Hermione yakin Draco paling besar di antara mereka, ia bisa merasakan ereksi Draco di seluruh dindingnya.
"Ah… Draco…" kata Hermione melingkarkan kakinya di pinggang Draco.
Draco tidak pernah merasa seperti ini, ia seperti masuk kedalam tempat yang hangat dan basah, seperti surga. Draco mengerti sekarang apa yang orang-orang maksud dengan surga dunia.
"Hermione, you're so tight, so wet.."
Draco mulai bergerak, maju-mundur memasang tempo dalam love-making mereka. Draco menarik ereksinya sehingga tinggal bagian ujungnya yang masih di dalam, lalu mendorongnya lagi dengan penuh tenaga.
"Draco… more.. more.. faster! Faster!" kata Hermione sudah berada di ujung. Draco juga tidak sanggup bertahan lebih lama.
"Hermione… are you close?" tanya Draco juga sudah berada di ujung. Hermione mengangguk pelan, matanya tertutup, mulutnya terbuka. "Hermione aku ingin kau melihat wajahku saat kau klimaks…" kata Draco.
Hermione membuka matanya dan melihat ke mata silver yang ada didepannya. Draco bergerak lebih cepat, mendorong ke dalam. Mereka berdua berkeringat, kamar Hermione hanya dipenuhi suara desahan Hermione, lenguhan Draco, skin againts skin.
"Draco… ahhhh… Dracooohhh…." Hermione berteriak kencang, her back aching dan tangannya mencengkram pundak Draco erat.
"Hermione… uh…" Draco mengerang keras dan mereka berdua klimaks. Draco kemudian memeluk Hermione dan bergerak agar tidak menindih Hermione, tapi tidak menarik cock-nya dari pussy Hermione.
Hermione tersenyum melihat Draco. Keduanya masih mengejar nafas mereka. "Aku mencintaimu." Kata Hermione mencium kening Draco. Draco tidak pernah tersenyum lebih lebar dari ini. Hermione dan Draco kemudian tertidur.
-Dramione-
Draco terbangun, ereksinya masih di dalam Hermione, ia tersenyum meningat apa yang baru mereka lakukan. Draco melirik jam, sudah jam 10. Ia mempererat pelukkannya pada Hermione yang masih tertidur.
Hermione bergerak pelan. "Kau sudah bangun?" Hermione bergumam pelan.
"Hmm.." kata Draco menghirup aroma shampo Hermione.
"Aku lapar." Kata Hermione.
"Aku akan memasak untukmu." Kata Draco berbisik. "Tapi setelah aku puas.." kata Draco kemudian memposisikan agar Hermione berada di bawahnya lagi.
Hermione tersenyum dan mengulurkan tangannya ke bagian dimana mereka berdua bersatu dan meremas kantung Draco.
"Git…" kata Hermione lalu melingkarkan kakinya di pinggang Draco.
.
.
Draco tidak pulang hari itu, mereka bahkan baru bangun dari kasur jam tiga sore karena Hermione benar-benar lapar dan mengeluh bahwa ia butuh asupan nutrisi.
Draco membuat pancake dan Hermione memesan pizza. Mereka berdua kelaparan. Keduanya makan sambil mengobrol tentang hal-hal kecil dan ringan.
"Apa kau tahu Blaise dan Pansy akan menikah?" tanya Draco.
"Benarkah?" tanya Hermione dengan mulut penuh Pizza. "Bukankah Blaise ada di Italia?" tanya Hermione lagi.
"Well, ia kembali ke Inggris beberapa hari yang lalu." Kata Draco juga dengan mulut penuh Pizza.
"Aku tidak tahu Dean Thoman membuka restoran pizza!" kata Draco begitu melihat kotak pizza yang ada di depan mereka. Dean Thomas Pizza Shack tertulis di kotak Pizza, dengan gambar pizza dan foto bergerak Dean Thomas yang tersenyum lebar.
"Well, Dean seorang Half-blood tapi ia besar di dunia Muggle, ia mengira dirinya Muggle-Born dan awalnya ia kesal karena tidak ada sistem delivery makanan di dunia sihir, padahal sebenarnya dengan apparate pengantaran makanan jadi lebih cepat, jadi ia menciptakannya." Kata Hermione memberitahu motivasi Dean, sekarang bahkan restoran pizza Dean sudah membuka tiga cabang, di Hogsmade, Diagon alley, dan Godric's Hollow.
Crook mengeong terus karena tidak suka Draco ada disana dan tidak kunjung pulang. "Crook, bersikap baiklah." Kata Hermione memberitahu,
Draco tertawa.
Draco dan Hermione kemudian menonton televisi, Draco tertawa terbahak-bahak melihat seorang pria dengan jas dan celana cokelat yang menurut Hermione namanya Bean. Mereka kemudian berhubungan lagi di sofa, kemudian si Shower, di meja pantry, di karpet depan perapian, Hermione bahkan hampir tertidur saat Draco tiba-tiba memasukkan tangannya ke pussy-nya, membuat matanya terbuka lebar lagi.
"Kau tidak lelah?" tanya Hermione saat Draco sedang men-spooning tubuhnya di kasur, Draco memilin rambut Hermione dengan jarinya.
"Tidak."
"Kurasa rumor bahwa Draco Malfoy seorang Sex God memang benar." Kata Hermione, mereka berdua lalu tertawa.
"Hermione, aku akan memberitahumu sesuatu."
"Apa?"
"Aku selalu wanking sambil membayangkanmu."
Hermione tertawa terbahak-bahak, "Kau sudah gila." Kata Hermione setelah tawanya reda.
"Aku selalu membayangkanmu, dikasurku, rambutmu terurai dan tersebar, aku tidak tahu rambutmu sehalus ini… Aku selalu membayangkan desahanmu, bagaimana jika kau berteriak memanggil namaku…"
"Hermione…" Draco memanggil Hermione yang tidak merespon. Draco bergerak dan melihat wajah Hermione. "Granger… Granger…" kata Draco tertawa saat melihat Hermione sudah tertidur.
Draco mencium pundak Hermione lalu menutup matanya.
Draco baru pulang dari rumah Hermione hari minggu sore, ia mencegah Hermione ke burrow minggu pagi, memaksanya mengirim surat kepada keluarga Weasley kalau ia ada urusan mendadak. Awalnya Hermione tidak mau, brunch di rumah keluarga Weasley sudah menjadi salah satu kebiasaannya, Ia memaksa Draco ikut dengannya jika memang belum mau pulang.
Tapi Draco belum siap bertemu dengan seluruh clan Weasley. Akhirnya Draco berhasil memaksa Hermione tinggal, setelah memasang wajah sedihnya yang paling hebat, mengatakan bahwa ia akan merindukan Hermione jika ia pergi dan jurus-jurus lainnya agar Hermione tidak pergi.
Hermione menghela nafasnya saat Draco bersiap untuk pulang.
"Kau sudah merindukanku? Aku bahkan belum keluar pintu." Kata Draco melihat Hermione sambil menyeringai.
"Well.." kata Hermione tidak ingin menunjukkan perasaannya. "Tidak, cepatlah pulang, aku tidak ingin kau tinggal lebih lama lagi, I'm sore." Kata Hermione memberi tahu dengan nada agak kesal.
"Of course you sore love…" kata Draco tertawa dan mencium kening Hermione. "Apa kau bisa berjalan lurus besok ke kementrian?" tanya Draco menggoda Hermione.
"Sudah, pulang saja sana." Kata Hermione mendorong Draco keluar dari kamarnya.
"Iya… iya… aku pulang.." Kata Draco, ia kemudian mencium kening Hermione lagi lama. "Aku pergi." Kata Draco lalu ber-disapparate.
Hermione tersenyum, Crook mengeong.
"Ada apa Crook? Kau lapar? Mau tuna?" tanya Hermione, mood-nya bagus.
-Dramione-
Draco baru sampai di rumahnya saat Narcissa menyambutnya di depan pintu dengan ekspresi yang membingungkan dan sepertinya ia kuatir.
"Ada apa Mom?" tanya Draco.
"Astoria." Kata Narcissa pelan.
Draco berjalan menuju ruang tamu diikuti Narcissa dari belakang. Astoria dan Lucius sedang duduk di ruang tamu mereka sambil mengobrol.
Narcissa dengan tongkatnya dengan cepat mengganti baju tidur Draco dengan kemeja dan celana panjang biasa, agar Lucius tidak tahu darimana ia baru saja pergi. Agar Lucius tidak tahu bahwa Draco sudah dua malam tidak tidur di rumah.
"Draco, ayahmu sudah tahu." Kata Narcissa sebelum Lucius menyadari keberadaan mereka.
"Tahu apa?" tanya Draco tidak mengerti. Narcissa kemudia mengambil koran yang tidak jauh dari mereka. Draco melihat fotonya dan Hermione di halaman paling depan. Draco mengepalkan tangannya.
"Draco, kau sudah pulang?" tanya Lucius berpura-pura ramah, seakan-akan ia dan Draco sedang dalam hubungan yang baik, seakan-akan mereka tidak baru saja bertengkar beberapa hari yang lalu.
Draco mengangguk lalu berjalan menuju ke kamarnya.
"Draco!" Lucius memanggil Draco yang langsung berjalan ke kamarnya, bukannya duduk di ruang tamu. Draco terus berjalan tidak peduli ayahnya memanggilnya.
"Draco Malfoy! Kembali kesini!" kata Lucius berteriak penuh amarah.
"Draco…" Narcissa memanggil Draco sambil berjalan mengejar anaknya itu. Draco segera berjalan cepat menuju kekamarnya, tidak mempedulikan kedua orangtuanya.
Draco mengunci kamarnya dari dalam, menggunakan semua locking spell yang ia tahu dan silencing spell yang ia tahu, ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan Lucius.
Keesokan harinya saat Draco berusaha keluar dari kamarnya untuk pergi kerja, ia tidak bisa membuka pintu kamarnya. Ia berusaha ber-apparating dari kamarnya tapi tidak bisa.
Sial.
Draco tahu pasti Lucius yang sudah memasang ward dikamarnya. Draco berpikir sebentar. Ia mengambil ponselnya yang baru dibelinya kemarin, ia menyalakannya dan mencari nomor Hermione yang sudah sempat disimpannya.
Kemudian Draco memanggil Seezy. "Seezy." Suara pop terdengar dan Seezy muncul disampingnya.
"Seezy, apa kau bisa membawaku keluar dari sini?" tanya Draco.
Seezy terlihat takut. "Seezy bisa membawa Master Draco keluar, tapi Master Lucius melarang Seezy."
Draco berpikir sebentar, jika ia keluar dari sini kemudian Lucius tahu bahwa Seezy yang membantunya maka Lucius pasti akan menghukum Seezy. Ia bisa saja menyuruh Seezy membawanya keluar lalu menyuruhnya kembali, tapi ia tidak mau Seezy dihukum oleh ayahnya, Draco bahkan tidak mau membayangkan apa yang akan dilakukan ayahnya pada peri rumah kesayangannya.
Ide bodoh terlintas dipikirannya. Dengan gerakkan tongkatnya ia mengeluarkan koper besarnya lalu mengisinya dengan pakaian dan beberapa perlengkapan dan buku.
"Seezy, ada berapa total peri rumah di Malfoy Manor?" tanya Draco.
"Jika Seezy tidak salah ada 30 master.." kata Seezy. Draco mengangguk, jika satu peri rumah hilang maka tidak akan ada masalah.
"Seezy, apa kau punya keluarga disini?" tanya Draco lagi.
Seezy menggeleng. Draco mengangguk lagi, ia juga tidak ingin memisahkan Seezy dari keluarganya.
"Seezy, kau harus membawaku keluar dari sini, dan bawa juga beberapa barangmu, untuk sementara kita akan tinggal di tempat Miss Granger." Kata Draco.
Sebenarnya Draco bisa pergi ke beberapa rumah yang mereka miliki, tapi posisi rumah-rumah lainnya terlalu jauh.
Mata Seezy membesar. "Kita akan pindah ke tempan Miss SPEW?" tanya Seezy tidak percaya.
Draco mengangguk. "Sekarang ambil barang-barangmu dan segera kembali kesini, jangan beritahu siapapun." Kata Draco memberi perintah dengan jelas.
Seezy menghilang dengan cepat, lalu tidak lama ia kembali dengan koper yang kecil sekali.
"Seezy, mulai sekarang, Jika Master Lucius dan Mistress Narcissa memanggilmu, kau tidak boleh muncul, apa kau mengerti?"
Seezy terlihat takut. Draco menghela nafasnya, ia tahu Seezy tidak bisa menentang keinginan kedua orangtuanya, tapi ini demi keberadaannya juga.
"Kalau kau tidak menuruti perintahku, aku akan memberikanmu pakaian." Kata Draco terpaksa mengancam Seezy.
"Baik, Master Draco, Seezy mengerti." Kata Seezy cepat, ia ketakutan.
"Seezy kau siap?" tanya Draco.
"Seezy siap kapanpun Master siap." Kata Seezy. Draco mengulurkan tangannya dan mereka berdua menghilang.
.
-To Be Continued-
.
.
I'm trying to finish this story before I'm back to college, jadi aku akan berusaha update setiap hari, jadi lebih baik kalian follow cerita ini untuk dapat notification. ^Wink Wink^
.
Kalian tahu? Bagian "freshly mown grass and new parchment and..."
itu dialog Hermione di HBP saat mereka mau bikin amortentia...
JK Rowling pernah bilang di wawancara kalo yang dicium sama Hermione dari amortentia adalah itu freshly mown grass and new parchment and...spearmint toothpaste and Ron Weasley's hair...
tapi..um... you know.. that's why people make fanfiction right?
Oh iya, cek cerita baru ku… Half-Blood Princess…
RnR guys…
-dramioneyoja
