All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.
Chapter 16 : Ferret dan orangtua Hermione.
16.
Beberapa hari tinggal bersama. Draco dan Hermione mulai terbiasa satu sama lain. Mereka mulai mengerti apa saja yang biasa dilakukan oleh pasangan mereka.
Draco mulai tahu dan bahkan hafal kebiasaan-kebiasaan kecil Hermione. Hermione banyak bergerak dalam tidurnya dan sering bermimpi, terkadang mimpi buruk yang membuat Draco harus membangunkannya, atau terkadang mimpi yang membuat Hermione mengigau dan menyebabkan Draco tertawa.
Seperti semalam, Draco terbangun karena tangan Hermione tiba-tiba menindih lehernya, membuat Draco tersedak dan terbangun, Draco baru akan menyingkirkan tangan Hermione dari lehernya saat Hermione mulai mengigau.
"Ron, sudah kubilang bukan begitu caranya."
Draco tertawa tanpa suara, bahkan dalam mimpinya Hermione masih memberitahu orang lain bagaimana cara melakukan sesuatu. Know-It-All.
Draco juga tahu kalau Hermione orang yang sangat teratur dan rapih, juga bersih, setiap pagi Hermione akan memarahinya karena meletakkan handuknya dikasur, bukannya menggantung di rak handuk, Hermione juga akan menegurnya karena meletakkan kaos kakinya sembarangan, di sofa, di meja, di dapur, di dekat pintu kamar mandi.
"Draco, kaos kakimu!" kata Hermione pertama kali.
"Draco, berapa kali harus kubilang, kaos kakimu!" kata Hermione kemarin sore.
Hermione juga punya banyak pakaian dalam yang seksi di lemarinya, Draco tidak menyangka sama sekali, begitu ia membuka lemari Hermione untuk meletakkan pakaiannya, ia menemukan berpasang-pasang Lingerie yang seketika membuat Draco menyeringai.
"Hermione, kenapa kau tidak menggunakan ini ke kantor?" tanya Draco menunjukkan bra berenda berwarna hitam, yang jika dipakai hanya akan menutupi sedikit bagian dari payudara pemakainya.
"Draco!" kata Hermione panik dan segera mengambil lingerie yang dipegang Draco dan mengembalikannya ketempat asalnya.
"My… my… Granger, aku tidak menyangka kau punya lingerie semacam itu." Kata Draco kemudian melihat-lihat lemari Hermione lagi.
Draco juga tahu kalau Hermione punya fetish terhadap shower-sex. Malam ketiga Draco menginap, Hermione tiba-tiba menjadi canggung saat mereka sampai di apartement sepulang kerja. Draco sedang duduk di kasur saat Hermione bersiap-siap mandi.
Setiap akan mandi, Hermione selalu membawa pakaian yang akan dipakainya dan handuk ke kamar mandi, tapi sore itu Draco menyadari bahwa Hermione tidak membawa handuk, sekitar lima belas menit kemudian Hermione memanggilnya dari kamar mandi dan meminta Draco untuk mengambilkan handuk.
Draco mengambil handuk di lemari Hermione dan mengetuk pintu kamar mandi, bertanya dimana ia harus meletakkan handuk itu, menggantungnya di pintu atau bagaimana, tapi Hermione menyuruhnya masuk.
Draco kemudian melihat Hermione berdiri dibawah shower, air mengalir keseluruh tubuhnya, Draco melihat Hermione, terkesima.
"Care to join me?" tanya Hermione pelan. Setelah mereka berdua kelelahan, dan setelah Draco menggendongnya ke kasur, Hermione memberitahunya bahwa ia punya fetish terhadap shower-sex. Draco tertawa, apalagi setelah tahu kalau kekasih-kekasih terdahulu Hermione hanya pernah melakukannya dengan Hermione sekali dengan alasan apa yang mereka lakukan berbahaya. Draco tertawa dan berkata bahwa mereka hanya tidak punya cukup tenaga.
Hermione juga begitu. Ia mulai memahami beberapa kebiasaan-kebiasaan Draco.
Draco tidur seperti mayat, tidak bergerak, setiap pagi Hermione mengecek apa pria yang tidur disampingnya masih bernafas atau tidak. Draco selalu tidur satu jam lebih lama dari Hermione, pola tidurnya tidak teratur, ia sering masih membaca atau masih melakukan sesuatu sampai larut malam kemudian terlambat bangun.
Draco benar-benar terbiasa dilayani, Ia bahkan tidak tahu cara melipat baju yang benar dan memanggil Seezy untuk merapikan bajunya lalu meletakkannya di lemari. Draco juga tidak rapih dan sedikit jorok. Ia meletakkan kaos kaki dan dasinya sembarangan, Draco selalu meninggalkan lantai kamar mandi dalam keadaan basah. Dan Hermione tidak bisa tidak menegurnya.
Draco tidak suka minum susu, pagi hari, saat Seezy sedang membuat sarapan, Hermione menyiapkan piring di meja, ia kemudian menuangkan susu ke gelas di depan Draco yang sedang membaca koran.
"Ewh, Granger, aku tidak suka susu…" kata Draco mendorong gelas di depannya menjauh.
Meskipun Hermione kesal karena Draco terus menerus meletakkan kaos kakinya sembarangan, tapi Hermione tidak bisa menyembunyikan kalau ia senang tinggal bersama Draco.
Dan meskipun Draco lelah, tiap hari dimarahi karena meletakkan kaos kakinya sembarangan, ia akan tetap meletakkan kaos kakinya sembarangan.
"Granger, jam berapa kita akan kerumah orangtuamu besok?" tanya Draco terdengar cemas.
"Hmm, kurasa jam 10 tidak buruk." Kata Hermione.
Mereka berbaring dikasur, Draco baru saja lagi-lagi melakukan sex terbaik dalam hidupnya, ia tidak menyangka kalau setiap kali melakukan hubungan sex dengan Hermione bisa seperti ini, rasanya semakin hebat, semakin menyenangkan, dan semakin memuaskan.
"Apa mereka akan menatarku atau semacamnya?" tanya Draco, tangannya bergerak mencari-cari bagian dada Hermione lagi.
"Mmmhh…" Hermione mendesah. "Kurasa tidak, Mom sepertinya benar-benar menyukaimu, dan Dad, well ia tidak akan bersikap mudah, tapi kurasa ia cukup menghargaimu, terutama karena hadiah ulangtahun yang kau berikan."
"Aww…" Hermione berteriak saat Dracio mencubit putingnya kencang.
"Is that hurt?" tanya Draco kemudian mengelus pelan bagian yang baru dicubitnya. Hermione memukul tangan Draco pelan, lalu mengubah posisinya sehingga mereka berhadapan.
"Oh iya…" kata Hermione teringat sesuatu. "Bagaimana bisa kau memberikan hadiah yang tepat untuk ayahku?" tanya Hermione penasaran.
Draco tertawa. "Aku akan memberitahumu jika kau bisa melakukan sesuatu." Kata Draco kemudian menyeringai licik.
Hermione menghela nafasnya, kekasihnya benar-benar melelahkan. "I'm not having sex with you again." Kata Hermione sedikit menjauh, ia benar-benar lelah dan kalau mereka melakukannya lagi, besok pasti cara jalannya akan aneh, dan kedua orangtuanya akan tahu apa yang diperbuat anak perempuannya semalaman.
"Kalau begitu aku tidak akan memberitahumu." Kata Draco mengangkat bahunya.
Hermione berpikir, tiba-tiba sesuatu terlintas dipikirannya. "Well, Draco… aku bisa melakukan sesuatu." Kata Hermione pelan.
"And what is that my Granger?" tanya Draco.
Hermione kemudian menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Ia duduk dan mengulurkan tangannya ke ereksi Draco.
"Oh shit…" kata Draco begitu tahu apa yang akan dilakukan Hermione. Hermione-nya, Hermione Granger sepertinya akan memberikan Draco Handjob or Blowjob?
Hermione memosisikan badannya, ia duduk di tengah-tengah kaki Draco, ia menggenggam ereksi Draco dengan satu tangannya, menggosoknya naik turun, naik turun, membuat Draco menutup matanya dan mendorong kepalanya kebelakang.
"Oh Hermione…" Draco mendesah. Hermione tersenyum, satu lagi yang ia sukai, Draco selalu memanggilnya Hermione saat mereka sedang dalam keadaan intim.
Hermione kemudian membungkuk dan memasukkan ereksi Draco kemulutnya. "Ahh…." Draco mengerang dan membuka matanya saat ia menyadari bahwa mulut Hermione berada di sekeliling ereksinya.
Hermione membasahi semua bagian yang bisa ditutupi mulutnya dengan salivanya, ia mulai mengisap, menjilat, dan mengulum ereksi Draco, sesekali membuat kontak mata dengan pria pirang dihadapannya yang mengerang dalam ekstasi.
Hermione tidak bisa menahan dirinya, ia tidak tahu kalau memberi Blowjob juga bisa membuatnya terangsang. Hermione bisa merasakan bahwa bagian intimnya juga mulai basah.
"Hermione… oh… oh…" kata Draco sudah berada di ujung, Hermione kemudian menarik mulutnya, Draco dengan cepat menarik Hermione dan membuat gadis itu duduk dipangkuannya.
Hermione tahu apa yang dirasakan Draco, begitu juga sebaliknya, Draco tahu apa yang diinginkan Hermione, keduanya ingin bersatu. Hermione perlahan memosisikan vaginanya di atas penis Draco dan perlahan membiarkan Draco masuk.
"Ahhhhh…." Hermione mendesah panjang begitu merasakan ereksi Draco diseluruh dindingnya. Draco mengerang, kemudian meletakkan kedua tangannya dipinggul Hermione, membantunya bergerak naik turun, sementara Hermione melingkarkan kedua tangannya di leher Draco.
Tempo keduanya makin cepat, Hermione naik-turun di pangkuan Draco, mereka berdua mendesah, mengerang, dan terengah-engah…
"Oh, Hermione… Hermione… aku mencintaimu." Teriak Draco saat ia keluar.
Hermione menggigit pundak Draco untuk menahan jeritannya saat ia klimaks. Setelah nafasnya kembali, Hermione melihat ke wajah Draco yang berkeringat.
Hermione meletakkan kedua tangannya di pipi Draco, kemudian mencium bibirnya penuh. "Aku juga mencintaimu." Kata Hermione kemudian turun dari pangkuan kekasihnya.
"Jadi, bagaimana kau bisa memberikan ayahku hadiah yang tepat sekali?" tanya Hermione merebahkan badannya kekasur.
Draco berdiri, ia menuju kopernya yang diletakkan disamping lemari, ia kemudian mengambil dua buku kemudian kembali ke kasur dan memberikan dua buku itu pada Hermione.
How To Series : How to Getting Close to your Witch's Parents. (Muggleborn edition)
10 Easy Step to Impress Your Girlfriend Parents.
Hermione tertawa terbahak-bahak. "Oh Draco…" kata Hermione masih tertawa.
"Granger, kau melukai perasaanku, aku sudah bersusah payah membeli dua buku bodoh ini, dan kau malah menertawaiku." Kata Draco meletakkan tangannya di dadanya, pura-pura sakit hati.
"Draco, buku yang ini, ini buku Muggle kan?" tanya Hermione menunjuk buku berjudul 10 Easy Step to Impress Your Girlfriend Parents.
Draco mengangguk. Hermione tertawa lagi.
"Granger, sebaiknya kau berhenti tertawa atau aku akan…"
"Akan apa? Akan mengambek lagi?" tanya Hermione tahu kalau sudah seperti ini Draco paling akan mengambek, menarik selimut menutupi wajahnya.
"Oh Draco, ini lucu sekali, tapi aku senang karena kau benar-benar ingin memberi kesan baik pada orangtuaku." Kata Hermione kemudian menarik tangan Draco agar pria pirang itu berbaring disampingnya.
Draco mengambil buku yang masih dipegang Hermione, kemudian melemparkannya entah kemana. "Sudahlah, ayo tidur saja." Kata Draco mematikan lampu disamping kasur dan menarik Hermione kedalam pelukkannya.
-Dramione-
Draco berdiri di depan pintu rumah orangtua Hermione dengan tegang. Ia benar-benar tegang sekali, sebenarnya malam saat mereka menonton konser juga Draco sudah tegang, tapi kali ini tingkat nerveous-nya berlipat-lipat, karena statusnya sekarang sebagai kekasih Hermione.
Hermione bisa melihat kalau Draco sangat gugup. Hermione tersenyum kemudian menggangdeng tangan Draco dan mereka menaikki tangga kecil lalu Hermione memencet bel.
Hermione sengaja memencet bel, biasanya ia mengetuk pintu, bukan memencet bel, ia sengaja ingin membuat ibunya bertanya-tanya siapa yang datang, kemudian shock karena Draco Malfoy berdiri di depan pintunya.
Hermione mengerti kalau ibunya benar-benar menyukai Draco, kemarin siang ia menelepon ibunya dan berkata bahwa ia akan datang besok dengan seseorang.
"Mom dan Dad tidak akan kemana-mana besok kan?"
"Tidak, kau mau datang?" Helena bertanya
"Iya, tapi aku akan mengajak seseorang, jadi masaklah makanan lebih banyak ya Mom." Kata Hermione memberitahu.
"Oh, Hermione, kenapa kau jahat sekali?" tanya Helena tiba-tiba.
"Jahat kenapa?" tanya Hermione tidak mengerti omongan ibunya itu.
"Mom dan Dad mengira kau dan Draco akan segera menjadi sepasang kekasih, tapi sepertinya kau malah menemukan pria lain." Kata Helena menebak sendiri.
Hermione menahan tawanya. "Tapi Mom.." Hermione baru akan menjelaskan saat ibunya memotong perkataannya lagi.
"Sudahlah Hermione, terserah kau saja, semoga pacar barumu lebih tampan dari Draco." Kata Helena ketus lalu menutup teleponnya.
Hermione kemudian tertawa, ia tidak sabar mengajak Draco datang kerumahnya besok dan membuat ibunya terkaget-kaget.
"Sebentar." Kata Helena dari dalam, ia membuka pintunya dan mulutnya langsung terbuka lebar begitu melihat pria tampan berambut pirang di depan pintunya.
"Hai Mom…" kata Hermione tersenyum lebar.
"Selamat pagi Mrs. Granger." Kata Draco ramah.
"Hermione, tapi… ah, tapi… bukannya… kemarin.. kau bilang?" kata Helena kehilangan kata-katanya. Draco Malfoy di siang hari bahkan lebih tampan daripada di malam hari.
"Makanya Mom, aku kan belum selesai bicara, aku bahkan belum bilang siapa yang akan ku ajak kesini, tapi Mom langsung bilang bahwa aku jahat lalu menutup telepon." Kata Hermione dengan nada boss-nya yang khas.
Draco hanya tersenyum melihat interaksi Hermione dan Helena.
"Ugghh…" kata Helena mencari kata-katanya. "Uh Draco, masuklah, aku tidak menyangka akan melihatmu disini." Kata Helena tersenyum ramah pada Draco, ia kemudian menyuruh Hermione dan Draco masuk.
"Dad…" Hermione setengah berteriak memanggil ayahnya.
"Di depan perapian, Hermione.." kata Richard berteriak dari depan perapian.
Hermione menarik tangan Draco menuju ke depan perapian.
"Kau sudah datang…" kata Richard bangkit berdiri untuk mencium anaknya. "Loh, Draco?… tapi Helen bilang.." Richard bingung.
Hermione tertawa lalu mencium ayahnya. "Jadi, Mom belum mendengar siapa yang akan ku ajak dan langsung mengasumsikan bahwa aku akan datang dengan pria asing."
"Apa kabar Mr. Granger?" kata Draco mengulurkan tangannya.
"Well, aku baik nak." Kata Richard menjabat tangan Draco erat.
"Baiklah-baiklah, Mom yang salah, harusnya mom mendengarkan Hermione dulu sampai selesai kemarin." Kata Helena berjalan mendekati mereka.
Semua orang tertawa kecuali Helena. "Oh, Draco apa yang kau bawa?" tanya Helena melihat sesuatu yang dipengang Draco.
"Oh, ini kue yang kami beli sebelum kesini, dan House-elf wine." Kata Draco memberitahu.
Mata Richard membesar mendengar kata House-elf wine. Harry pernah datang dan membawakan mereka House-elf wine, Hermione sedikit kesal karena ternyata harga satu botolnya sangat mahal, sekitar 50.000 Galleon, tapi rasanya benar-benar luar biasa.
Richard bukan orang yang mengoleksi wine atau semacamnya, tapi ia tahu wine mana yang berkualitas buruk, sedang, baik, dan luar biasa. House-elf wine masih menjadi wine terbaik yang pernah dicobanya.
"Well… ini belum waktunya makan siang, bagaimana jika kalian duduk disini, dan aku dan Hermione akan memotong kue ini dan menyiapkan wine-nya." Kata Helena. Kemudian Hermione mengambil bungkusan yang dipegang Draco dan berjalan ke dapur dengan ibunya.
"Draco, duduklah." Kata Richard mempersilahkan Draco duduk. Draco memperhatikan seluruh rumah keluarga Hermione.
Rumah mereka terbilang besar untuk ukurang Muggle, Draco bisa merasakan atmosphere yang sama dengan flat Hermione. Warna krem, cokelat, khaki dan putih mendominasi rumah ini, sama seperti flat Hermione. Ah, Draco mengerti, Hermione mendekorasi flatnya agar sama dengan rumahnya.
Draco memperhatikan foto-foto dan lukisan yang ada di dinding, Ada foto besar Hermione dan kedua orangtuanya, ada juga foto keluarga besar mereka, sepertinya dengan paman, bibi, dan sepupu-sepupunya. Ada foto Hermione di berbagai usia. Draco tersenyum melihat satu foto yang sama dengan yang ada di kamar Hermione, foto Hermione di ayunan juga ada di atas perapian.
"Jadi Draco, apa kau dan Hermione sudah berpacaran?" tanya Richard langsung tanpa basa-basi.
"Ah…" Draco bingung harus menjawab apa. "Iya." Akhirnya setelah menelan ludahnya.
Richard tertawa pelan. "Jangan gugup nak, aku dan Helen memang sudah menduga kalau kau dan Hermione akan menjadi sepasang kekasih." Kata Richard sambil menepu-nepuk pundak Draco.
"Lagipula sepertinya Helena sudah sangat menyukaimu, apa kau tahu apa yang dikatakannya kemarin? Aku baru pulang kerja saat ia tiba-tiba meracau bahwa Hermione akan datang hari ini dengan seseorang, Hermione jahat sekali tidak memberi kesempatan pada Draco yang sudah baik sekali padanya, bloody hell, Helena bahkan mengumpat, berkata awas saja kalau pria yang dibawa Hermione hari ini tidak lebih tampan dan tidak lebih baik dan charming dari Draco Malfoy." kata Richard tertawa mengingat kelakuan istrinya kemarin sore. Draco juga tertawa, untunglah Helena menyukainya.
"Well… nak.." kata Richard dengan nada yang lebih serius. "Aku sudah membaca tentang latar belakangmu di majalah gosip dunia sihir yang suka ditunjukkan Hermione pada Helena."
Draco menahan nafasnya. Berarti Richard tahu ia berada disisi yang salah saat perang, berarti Richard tahu kalau ia seorang Death-Eater.
"Terlepas dari latar belakangmu sebagai pelahap maut, aku tidak terlalu peduli dengan hal itu, Helena juga tidak, jika Hermione bisa mempercayaimu maka kami juga bisa." Kata Richard. Draco menghela nafasnya lega begitu mendengar perkataan Richard.
"Tapi nak… aku hanya akan memperingatkanmu sekali." Kata Richard tegas. "Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Hermione, apapun alasannya, aku tidak akan membiarkan Hermione terluka lagi seperti bagaimana Cedric Diggory dulu menyakitinya." Kata Richard tegas. Ia tidak akan membiarkan siapapun melukai Hermione. Siapapun.
"Dan aku tidak peduli jika kau penyihir atau bukan, aku akan membalasmu jika kau berani melukai Hermione, bagaimanapun caranya." Kata Richard lagi.
"Yes Sir." Kata Draco mantap, ia tidak ingin terdengar lemah dihadapan ayah Hermione, ia ingin pria di depannya tahu kalau Draco benar-benar mencintai Hermione, tidak akan melukai gadis itu, dan Draco ingin menunjukkan bahwa ia bisa diandalkan untuk melindungi Hermione.
Richard tersenyum mendengar kepastian di suara Draco.
"Panggil aku Richard nak." Kata Richard.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Hermione datang membawa baki.
"Pembicaraan laki-laki." Kata Richard memberitahu Hermione.
"Dad tidak baru saja mengancam Draco atau semacamnya kan?" tanya Hermione curiga.
"Tidak, tentu saja tidak." Kata Richard membela dirinya. Hermione menatap ayahnya curiga.
"Draco, apa kau mau berkeliling?" tanya Hermione. "Well, rumahku bukan manor jadi jangan berharap tour satu jam penuh, tapi kita bisa melihat sesuatu." Kata Hermione excited.
"Sure…" kata Draco berdiri, Hermione langsung menariknya pergi menuju tangga.
"Anak itu." Kata Helena datang membawa beberapa gelas dan pembuka botol.
"Kurasa Draco Malfoy tidak buruk." Kata Richard membuka botol Wine di depannya.
"Sama sekali tidak buruk." Kata Helena setuju.
Hermione mengajak Draco ke lantai dua, ke balkon kecil rumahnya.
"Draco, kurasa ini tempat paling tepat untuk mengecek ward dan memasang beberapa mantra perlindungan tambahan." Kata Hermione memberitahu.
"Ku kira kau akan menunjukkan dimana kamarmu."
"Itu bisa menunggu. Ayo cepatlah."
"Baiklah baik." Kata Draco. Ia tahu beberapa mantra perlindungan yang dibacanya di salah satu buku di perpustakaan di rumahnya. Mantra ini hanya diketahui oleh keluarga Malfoy dan hanya dipasang di properti milik keluarga mereka.
Draco meng-cast spell-nya. Hermione bisa melihat cahaya berwarna silver muncul dari ujung tongkat Draco, seluruh bagian rumah dan halaman tertutup oleh pelindung transparan. Kemudian Draco menggumamkan mantra yang lain lagi.
Draco kurang lebih menggumamkan sekitar lima mantra, dan tiap mantra memunculkan warna berbeda dan kemudian melindungi seluruh rumah orangtua Hermione.
"Apa-apa saja kegunaan mantra itu?" tanya Hermione.
"Yang pertama dan kedua hanya perlindungan, hanya saja, kekuatannya lima kali lebih kuat dari mantra perlindungan biasa. Yang ketiga adalah semacam mantra yang bisa langsung memperingatkan orang di dalam bahwa ada bahaya, meskipun bukan orang itu yang memasang perlindungannya." Hermione mengangguk, jika orangtuanya merasakan ada bahaya, mereka bisa menghubungi Hermione dengan cepat.
"Kemudian yang keempat membuat tidak ada jejak sihir yang tercium dari semua mantra yang dipasang, terkadang, terlalu banyak mantra perlindungan bisa menyebabkan aura sihir yang muncul terlalu kuat, sehingga penyihir yang melewati rumah ini akan tahu bahwa ada sihir yang bekerja di rumah ini. yang terakhir…" kata Draco sedikit menggantung kalimatnya.
"Well, Granger, jangan marah, tapi sepertinya mantra terakhir bisa dikatakan Dark Magic, aku juga tidak yakin, tapi ini mantra yang sangat bermanfaat, mantra ini bisa menahan jika ada yang meng-cast unforgivable curse… dan langsung memperingatkan keluarga Malfoy yang memasang ward-nya, dalam hal ini aku." kata Draco pelan.
Hermione mengangguk. Ia tidak peduli, Dark Magic atau bukan, ia hanya ingin orangtuanya aman.
"Jadi, kapan aku akan melihat kamarmu?" tanya Draco berusaha mencairkan ketegangan yang mulai muncul ditengah-tengah mereka.
"Pervert."
-Dramione-
Sore hari, Hermione dan Draco pamit untuk pulang, mereka tidak memberitahu kalau keduanya sekarang tinggal bersama, tidak ingin terjadi keributan yang tidak perlu.
Draco menikmati kunjungannya, Richard dan Helena menerimanya dengan baik, ia berkeliling melihat rumah Hermione, melihat garasi ayahnya, dan menemukan tumpukkan majalah otomotif di garasinya. Setelah melihat-lihat sebentar, Draco menarik kesimpulan bahwa Richard adalah penggemar mobil sport, mungkin Draco bisa memberikannya mobil Sport lain kali.
Draco kemudian makan siang bersama keluarga Granger sambil mengobrol tentang banyak hal, tentang cuaca, tentang politik muggle, tentang hal-hal baru yang sedang berkembang di dunia Muggle dan dunia sihir dan banyak hal lainnya.
Setelah makan siang, Richard mengajaknya bermain catur. Draco tidak terlalu hebat bermain catur, tapi ia berusaha melakukan perlawanan yang sengit terhadap Richard. Setelah satu jam, tidak terlalu banyak pion yang tersisa di papan mereka.
Draco berada dalam keadaan tertekan, ia melihat ratu-nya nyaris terpojok. Ia punya tiga pilihan sekarang. Pertama jika ia menyerang kuda lawannya dengan ratu-nya, maka ia akan membalikkan keadaan. Kedua jika ia menggeser bentengnya maka Richard bisa mengalahkannya dalam dua langkah, dan yang ketiga, Draco bisa menyerang ratu lawannya dengan raja miliknya, hal ini akan membuat seakan-akan Draco membalikkan keadaan, padahal jika Richard tahu maka dengan mudah Richard bisa membuatnya skak.
Maka Draco mengambil pilihan ketiga. Hermione yang daritadi memperhatikan mereka menyadari plihan Draco.
"Oh… Draco… kau salah langkah." Kata Richard penuh kemenangan.
"Benarkah?" tanya Draco pura-pura tidak yakin. Richard langsung memposisikan bentengnya sehingga Draco kalah.
"Astaga… aku tidak memperhatikan benteng itu." Kata Draco berbohong. Richard tidak menyadari kepura-puraan Draco, tapi Hermione tahu.
Hermione tahu kalau Draco sengaja mengalah untuk ayahnya. Hermione tersenyum, lalu mencium pipi Draco cepat sambil berbisik "Thanks."
"Oh,Draco kau kalah?" tanya Helena. Draco mengangguk, pura-pura sedih atas kekalahannya. Setelah itu mereka berempat melihat-lihat album foto Hermione dan membeberkan cerita masing-masing foto.
Sekitar pukul lima sore, Hermione dan Draco pulang, saat sudah cukup jauh dari rumah, Hermione dan Draco mencoba melakukan serangan yang ekstreme pada ward yang sudah mereka pasang dan perkuat.
Hermione mencoba mantra paling ekstrem yang ia tahu, ward standar yang sudah ada sejak lama tertembus, tapi ward baru yang dipasang Draco tidak bergeming. Hermione mencoba lagi beberapa kali sampai ia yakin.
"See?" tanya Draco saat Hermione sudah selesai melakukan percobaannya.
"Terimakasih Draco." Kata Hermione tulus. "Terimakasih karena sudah baik pada orangtuaku, terimakasih karena sudah membantu melindungi keluargaku, dan terimakasih karena sudah mengalah untuk ayahku." Kata Hermione lagi.
Draco tidak menjawab. Ia tersenyum kemudian mencium kening Hermione.
-Dramione-
Lucius menunggu suratnya di cek oleh auror yang biasa mengecek surat masuk dan keluar untuknya. Auror itu memeriksa dan tidak ada yang salah pada surat itu, maka ia mengikatkan surat itu pada burung hantu yang sudah siap disitu lalu burung hantu itu pergi.
Lucius tersenyum penuh kemenangan, dasar auror bodoh.
Dari luar surat yang ditujukan pada Astoria Greengrass itu hanya bertuliskan permintaan maaf karena sikap Draco yang tidak sopan, dan harapannya agar Astoria mau datang lagi, dan tidak menutup hatinya untuk Draco.
Tapi dengan mantra yang tepat maka surat itu akan menunjukkan tulisan aslinya.
Astoria,
Hari Senin kau bisa menjalankan rencana kita.
LM
-To Be Continued-
Well, aku sudah baca banyak fic, banyak….. banget… dan setiap author yang mengarang spell sendiri menurutku terdengar aneh… (maaf ini jahat, tapi ini pendapatku) jadi aku nggak akan mencoba bikin spell, karena pasti akan aneh, dan tidak akan mendekati spell spell yang dibuat oleh J.K Rowling.
RnR
-dramioneyoja
