All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

Chapter 17 : Ferret tahu Hermione menyembunyikan sesuatu.

17.

Hermione menolak bicara pada Draco. Ia kesal setengah mati. Hermione sudah melakukan semua yang ia bisa untuk mengajak Draco pergi ke Burrow hari minggu pagi. Tapi Draco juga melakukan semua yang ia bisa untuk menolak pergi ke Burrow.

Hermione sudah membujuk Draco dengan lembut, dengan kasar, dengan mengiming-imingi Draco hadiah, dengan mengancamnya bahkan, tapi Draco tetap menolak.

Akhirnya Hermione memutuskan untuk pergi sendiri.

Minggu pagi sebelum berangkat Hermione bahkan akhirnya mencoba usaha terakhirnya. Hermione menggoda Draco. Ia sengaja keluar dari kamar mandi hanya dengan handuknya, kemudian memakai pakaiannya di depan lemari di hadapan Draco.

Ia berharap Draco akan tergoda dan akhirnya memutuskan untuk ikut. Tapi Draco bahkan tidak meliriknya. Hermione menghentak-hentakkan kakinya karena kesal, ia sudah selesai memakai bajunya dan tinggal berangkat.

"Draco, kau benar-benar tidak ingin pergi?" tanya Hermione putus asa.

Draco tidak menjawab, hanya menggeleng dan fokus pada buku yang sedang dibacanya.

"Aku akan melakukan apapun yang kau minta sepulang dari Burrow." Kata Hermione benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.

"Pergilah Hermione, bahkan mega-super-ultra-hot-sex tidak akan membuatku pergi ke Burrow." Kata Draco memberitahu. "Lain kali." Kata Draco kembali fokus pada bukunya.

Hermione mengambil tasnya lalu keluar kamar, menggumamkan sesuatu seperti seperti menyebalkan, egois, kekanak-kanakkan.

Dan sekembalinya dari Burrow sampai senin pagi, Hermione menolak bicara pada Draco. Ia bahkan berangkat ke kementrian duluan dan meninggalkan Draco yang masih sarapan.

-Dramione-

Draco Malfoy punya alasan penting kenapa ia menolak pergi ke Burrow. Ia harus menemui Lucius. Setelah ia yakin Hermione sudah pergi ke Burrow, ia bersiap-siap dan kemudian pergi ke Manor.

Draco hampir menyerah dan hampir memutuskan untuk tidak jadi pergi ke Manor saat Hermione hanya keluar dari kamar mandi dengan handuk di tubuhnya. Rambutnya masih basah, dan tangan juga kakinya juga masih basah. Draco berusaha setengah mati menahan dirinya agar tidak melompat dan menyerang Hermione detik itu.

Tapi akhirnya Draco bertahan, ia bisa menahan dirinya meskipun sangat sulit.

Narcissa langsung menyambutnya di depan pintu, bertanya apa ia baik-baik saja dan dimana ia tinggal sementara? Draco memberitahu bahwa ia baik-baik saja, hanya saja ia tidak bisa memberitahu ibunya dimana ia tinggal, terlalu berisiko.

Draco langsung menuju ke ruang kerja Lucius, tidak mengetuk dan langsung masuk.

"Akhirnya kau datang juga." Kata Lucius begitu melihat Draco memasukki ruangannya.

"Tidak bisakah kau berhenti merusak kehidupanku?" tanya Draco kesal.

"Apa maksudmu?" tanya Lucius pura-pura tidak mengerti.

"Jangan berpura-pura tidak tahu, kau tidak cocok berpura-pura bodoh."

Lucius tertawa pelan. "Apa yang kau inginkan Son?" tanya Lucius.

Draco ingin muntah mendengar ayahnya memanggilnya Son. "Bukankah sudah jelas? Aku ingin kau tidak mencampuri urusan pribadiku." Kata Draco. "Aku tidak ingin kau mengganggu urusanku, jangan ikut campur dan jangan berani-berani mengganggu Hermione." Kata Draco tegas tanpa keraguan di suaranya.

Lucius tertawa lagi. "Kurasa kau tidak mengenalku sama sekali Son." Kata Lucius dingin.

Draco menggelengkan kepalanya. "Kau tidak berubah sama sekali. Apa kau tidak ingat bahwa Hermione telah bersaksi untuk keluarga ini? Harusnya kau dikurung di Azkaban."

"Draco, aku tidak akan melakukan hal yang bodoh, aku tidak akan melukai Miss Granger, kau bisa pengang kata-kataku, aku masih punya sedikit hati untuk menghargai apa telah dilakukan Miss Granger untuk keluarga ini –seperti katamu- tapi Hermione Granger tidak cukup baik untuk keluarga Malfoy!" kata Lucius tegas.

"Kau dan pemikiranmu tentang darah murni harusnya dikurung di Azkaban." Kata Draco benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran ayahnya. Ia berjalan untuk pergi.

"Draco." Lucius memanggilnya lagi. "Sebaiknya kau dan Miss Granger berpisah sekarang secara baik-baik." Kata Lucius memberi saran.

Draco tidak menjawab dan tetap berjalan pergi. Ia lalu kembali ke flat Hermione dan bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Draco tidak mengatakan apa-apa pada Hermione, ia tahu Hermione kesal padanya, tapi Draco hanya membiarkan Hermione marah padanya, ia yakin sebelum makan siang hari senin pasti Hermione sudah bicara lagi padanya.

Draco hanya menghela nafasnya saat Hermione bahkan berangkat duluan ke kementrian. Draco tahu ia dan Hermione sudah berjanji untuk selalu jujur satu sama lain, tapi Draco merasa Hermione tidak perlu tahu soal ini. Hermione tidak perlu tahu bahwa Draco pergi ke Manor.

-Dramione-

Hermione baru sampai di ruangannya saat ada surat di mejanya. Hermione menggumamkan mantra untuk mengecek bahwa surat itu tidak mengandung sesuatu yang berbahaya, kemudian membukanya.

Miss. Granger

Apa kita bisa bertemu siang ini? Leaky Cauldorn, makan siang. Datanglah jika kau setuju untuk bertemu.

AG

Hermione nyaris terkena serangan jantung. AG? Astoria Greengrass? Kenapa Astoria ingin bertemu dengannya? Seketika otaknya berputar, apa ia harus pergi dan menemui Astoria? Apa ia harus memberitahu Draco? Atau tidak?

Hermione menyimpan surat itu ke dalam tasnya. Ia sudah mendapatkan keputusannya.

Tidak lama orang-orang mulai datang dan tidak lama Draco juga muncul. Hermione menghindari kontak mata dengan Draco meskipun Draco melihatnya. Draco tidak boleh curiga bahwa Hermione akan bertemu dengan Astoria saat makan siang.

Lima menit sebelum jam makan siang, Hermione sudah merapikan berkasnya kemudian mengambil tasnya dan pergi tanpa melirik Draco. Biar saja pria itu mengira bahwa ia masih marah. Well, Hermione memang masih marah, tapi ia tidak ingin Draco tahu bahwa ia akan bertemu Astoria.

Hermione berjalan cepat tidak ingin Draco mengikutinya atau semacamnya. Begitu keluar dari gedung kementrian ia segera menghilang dan menuju ke Leaky Cauldorn.

Hermione memasuki Leaky Cauldorn dan melihat ke sekelilingnya, Leaky Caudlorn cukup penuh, tentu saja sekarang kan jam makan siang.

Leaky Cauldorn sekarang dikelola oleh keluarga Hannah, Tom Abbot ayah Hannah tersenyum padanya dari counter sambil melambai, Hermione balik tersenyum dan melambai.

Hermione tidak begitu ingat wajah Astoria Greengrass. Hermione ingat wajah Daphne, wajahnya seperti kebanyakan wanita berdarah murni lainnya, putih, terlalu putih, rambutnya pirang, pirang kekuningan, bukan seperti pirang platina Malfoy.

Hermione mencari-cari seseorang yang perawakannya mirip dengan Daphne, dan saat itu tiba-tiba perempuan berambut cokelat bermata biru melambai dari meja paling pojok.

Hermione berjalan mendekat, berhati-hati. Kemudian Hermione ingat wajahnya, Astoria Greengrass berada dua tahun dibawahnya di Hogwarts. Hermione memperhatikan penampilannya, ia menggunakan gaun panjang ciri khas wanita-wanita berdarah murni.

Ada yang aneh, rambutnya berwarna cokelat, tidak pirang seperti Daphne, tapi mata mereka sama-sama berwarna biru.

Aneh, bukannya biasanya orang yang bermata biru memiliki warna rambut yang lebih terang? Tapi seingat Hermione rambut Astoria juga berwarna pirang seperti Daphne, atau tidak? Hermione tidak yakin.

"Hermione Granger." Kata Astoria dengan keramahan palsu yang terlihat jelas.

Hermione mengangguk. "Astoria?" tanya Hermione memastikan. "Kau yang mengirimiku surat?" tanya Hermione.

Astoria mengangguk dan mempersilahkan Hermione duduk.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hermione tidak ingin berbasa-basi.

Astoria tertawa melengking sambil menutupi mulutnya. "Miss Granger, apa sebaiknya kita tidak memesan sesuatu dulu?" tanya Astoria dan langsung memanggil pelayan.

Ia memesan teh sementara Hermione hanya meminta air putih.

"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu." Kata Hermione tidak ingin berlama-lama disini, ia benar-benar merasa tidak nyaman di depan perempuan di hadapannya.

"Kurasa kau benar-benar perempuan yang sibuk." Kata Astoria mengamati Hermione dari bawah ke atas, memperhatikan semua aspek-aspek kecil dalam dirinya, memperhatikan warna lipstick yang digunakannya, jam tangan yang digunakannya, cara berpakaiannya, seperti berusaha mengingatnya lekat-lekat.

Hermione tidak menjawab. Ia merinding melihat bagaimana Astoria baru saja memperhatikannya.

"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." Kata Astoria memulai.

"Draco?"

Astoria tertawa lagi, dan entah kenapa suara tawanya membuat Hermione bergidik.

"Tentu saja, kau memang benar-benar Brightest Witch of our age" Astoria tertawa lagi. "Aku tahu kau dan Draco sedang menjalani hubungan, kurasa seluruh dunia sihir tahu." Astoria tersenyum. "Tapi aku ingin memberitahumu bahwa bagaimanapun hubungan kalian mulai dan berjalan, Draco pasti akan meninggalkanmu pada suatu titik."

Ekspresi wajah Hermione berubah, ia menggenggam ujung taplak meja yang berada di bawah meja.

"Draco Malfoy tidak akan meninggalkan keluarganya demi seorang perempuan. Meskipun ia terlihat tidak peduli dari luar, Draco sangat peduli akan nama besar keluarga Malfoy dan tidak akan membiarkan kemurnian namanya tercoreng, dengan menikahi Half-Blood atau Muggleborn." Kata Astoria kemudian menyenderkan tubuhnya di kursi, ia bersender sambil tersenyum kecil pada Hermione.

Astoria melipat kedua tangannya "Aku tahu ini terdengar kasar, apalagi aku sedang bicara dengan War Heroine, Gryffindor Princess, Hermione Granger, tapi aku hanya ingin memberitahumu fakta."

Pesanan mereka berdua datang. Astoria mengaduk tehnya pelan, tapi tidak meminumnya. Hermione langsung menghabiskan air minumnya.

"Aku tidak ingin, kau kecewa Miss. Granger." Kata Astoria lagi. "Apapun yang dikatakan Draco padamu, janji-janji yang sudah diucapkannya untukmu, apa kau pikir ia akan menepatinya? Takdir Draco sudah tertulis bahkan sebelum ia lahir."

Astoria tersenyum lagi, mengamati Hermione yang tidak nyaman duduk disampingnya. Sepertinya cukup hari ini.

Astoria berdiri. "Miss. Granger, aku duluan." Kata Astoria akan beranjak saat tiba-tiba ia mengatakan sesuatu lagi. "Berpisahlah dengan Draco sekarang, sebelum kau sakit hati." Kata Astoria kemudian pergi.

Hermione meremas roknya dengan tangannya, keringat mulai muncul di tubuhnya dan ia bergetar. Ia tidak tahu apa yang dipikirkannya, apa maksud Astoria barusan? Apa maunya? Kenapa ia berkata seperti itu, kenapa perempuan itu begitu menakutkan.

"Hermione?" tanya seseorang menepuk pundaknya. "Hermione apa kau baik-baik saja?" tanya orang itu.

Hermione mendongak dan melihat Hannah dengan perut besarnya berdiri disampingnya. Hermione menghela nafasnya. "Oh, Hannah, kau mengagetkanku."

"Hermione, kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan dengan Greengrass disini?" tanya Hannah kuatir.

"Tidak, aku tidak apa-apa." Kata Hermione memberitahu. "Bagaimana kabarmu? Apa kau sehat bagaimana dengan kehamilanmu?" tanya Hermione berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Jangan mengalihkan pembicaraan Hermione, ayahku langsung memberitahuku bahwa kau datang dan duduk dengan perempuan asing yang mencurigakan." Kata Hannah kemudian duduk disampingnya.

"Hannah, aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu kau kuatirkan." Kata Hermione meyakinkan teman kerjanya itu.

-Dramione-

Carter Fletcher sedang duduk di ruang tunggu rumah keluarga Greengrass untuk bertemu dengan Astoria Greengrass. Selama beberapa hari ini ia sudah mencari tahu banyak hal tentang Hermione Granger dan orang-orang terdekatnya, setelah ia melaporkan hasil temuannya pada Lucius, dan sekarang ia berperan sebagai mediator antara Lucius dan Astoria. Menyampaikan pesan Lucius dan menjelaskan rencana mereka selanjutnya.

"Fletcher." Kata Astoria muncul. Fletcher mengangguk, ia tidak suka cara Astoria memanggilnya, seakan-akan memanggil seorang peri rumah. Fletcher menyembunyikan rasa tidak sukanya, Ia berharap semuanya segera selesai dan ia bisa segera pensiun.

"Ms. Greengrass." Kata Fletcher menyapa, Astoria duduk di depannya. "Mr. Malfoy menyuruhku kesini untuk menanyakan apa rencanamu hari ini berjalan dengan baik?" tanya Fletcher kemudian mengeluarkan amplop besar dan meletakkan di meja di depan mereka.

Astoria mengangguk. "Tentu saja."

"Baiklah, aku hanya mengantarkan amplop ini saja." Kata Fletcher kemudian membungkuk dan pergi. Fletcher berjalan keluar dari rumah keluarga Greengrass. Ia menghela nafasnya.

Astoria membuka amplop yang ada di depannya, isinya beberapa berkas dan beberapa foto Hermione dan Draco, keluar dan masuk dari gedung apartement, beberapa foto saat mereka makan siang bersama atau minum kopi bersama.

"Bombarda." Gumam Astoria tenang, semua foto dan juga meja yang berada di depannya meledak dan terbakar.

Astoria berjalan menuju ke kamarnya, rencananya dan Lucius berjalan lancar hari ini, ia tahu ia sudah berhasil menanamkan keraguan pada kepala Hermione Granger, siapa sangka Hermione Granger yang hebat mempunyai tingkat percaya diri yang rendah.

Astoria tersenyum, mengingat bagaimana wajah Granger berubah saat ia mulai mengatakan bahwa Draco akan meninggalkannya. Ia tinggal melakukan seperti yang diperintahkan Lucius, dan Granger akan meninggalkan Draco dalam waktu dekat.

Astoria membuka satu kertas yang berisi tulisan tangan Narcissa Malfoy, ia kemudian menulis surat untuk Granger, mengubah tulisan tangannya dengan mantra yang diberikan Lucius agar menjadi sama persis dengan tulisan Narcissa.

Astoria diberitahu Lucius bahwa hubungan Granger dan Narcissa sangat baik, bagaimana perempuan itu bisa merebut hati calon ibu mertuanya. Astoria melemparkan pena yang ditulisnya ke arah kaca. Kaca itu pecah.

Astoria kemudian berteriak memanggil peri rumahnya dan memerintahkannya untuk membersihkan pecahan kaca. Astoria lalu pergi menuju ke lemari bajunya, membuka lemari itu kemudian bersenandung ria sambil memilih gaun mana yang akan dipakainya untuk menemui Cedric Diggory.

-Dramione-

"Granger." Draco berdiri di depan mejanya. Hampir semua orang sudah pulang dan tinggal beberapa orang yang masih bertahan diruangan itu.

Hermione melihat Draco, ekspresinya tidak lagi marah atau kesal, tapi ia terlihat lelah dan seperti mencemaskan sesuatu.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Draco langsung kuatir.

Hermione mengangguk.

"Apa kita baik-baik saja?" tanya Draco lagi.

Hermione mengangguk.

Draco tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Ayo kita pulang." Kata Draco. Draco bisa melihat keraguan di mata Hermione, tapi kemudian perempuan di depannya tersenyum dan meraih tangannya.

"Ayo kita makan malam dulu." Kata Hermione. "Aku yang bayar." Kata Hermione kemudian mengambil tasnya dan pergi menggandeng tangan Draco.

"Kau sudah tidak marah lagi?" tanya Draco.

"Tidak, tapi kau harus pergi ke Burrow, mereka juga keluargaku, dan kau harus bertemu dengan mereka." Kata Hermione.

"Lain kali Granger, lain kali." Kata Draco sambil lalu.

Hermione melonggarkan genggamannya pada tangan Draco dan membuang mukanya. Apa mungkin Astoria benar? Draco tidak serius, ia bahkan tidak berpikir dua kali saat menolak untuk bertemu dengan keluarga Weasley.

Hermione dan Draco berjalan ke restoran di dekat kementrian.

Draco melihat Hermione bingung, seharian ini ia bisa merasakan bahwa Hermione seperti mencemaskan sesuatu, tidak fokus, matanya hanya sesekali melihat ke arah Draco.

"Kau ingin makan apa?" tanya Draco sambil melihat menu. Ia kemudian memanggil pelayan dan memesan, Hermione juga memesan makanan, ia bahkan memesan dua porsi.

"Kenapa kau memesan dua porsi? Lapar sekali? Memangnya kau tidak makan siang tadi?" tanya Draco. "Ah, Granger, kau kemana tadi?" tanya Draco.

"Mom menelepon, ada urusan." Kata Hermione berbohong.

"Draco…" Seseorang memanggilnya. Sontak Draco dan Hermione melihat ke arah suara itu.

Theo dan Daphne berjalan menghampiri mereka.

"Hey mate.." Draco tersenyum menyapa Theo. "Daphne." Kata Draco menyapa Daphne Greengrass yang berdiri di samping Theo.

"Miss Granger." Theo menyapa Hermione, "Senang akhirnya bertemu denganmu." Kata Theo mengulurkan tangannya. Hermione tersenyum dan menjabat tangan Theo yang langsung mencium tangan Hermione.

"Jauhkan mulutmu dari tangannya." Kata Draco langsung tidak suka.

Theo dan Daphne tertawa pelan. "Miss Granger, senang bertemu denganmu." Kata Daphne terdengar ramah. Hermione tersenyum dan memperhatikan Daphne. Rambutnya pirang dan matanya biru.

Hermione benar, ada yang salah dengan rambut Astoria, seingat Hermione rambutnya pirang, sama seperti Daphne, tapi kenapa tadi rambutnya cokelat? Apa ia mengecat rambutnya? Merubah warna rambut bukan sesuatu yang lazim dilakukan di dunia sihir, karena warna rambut adalah salah satu penanda keluarga-keluarga berdarah murni.

Malfoy misalnya, rambut keluarga mereka selalu berwarna pirang platina, kemudian keluarga Weasley, rambut mereka merah terang. Black dan Potter memiliki rambut berwarna hitam. Sementara Diggory berwarna cokelat muda. Kenapa Astoria mengecat rambutnya?

"Apa kami bisa bergabung dengan kalian?" tanya Theo ramah. Draco dan Hermione mengiyakan langsung.

Draco karena ia sudah lama tidak mengobrok dengan kedua temannya, dan Hermione karena ia ingin tahu bagaimana Draco akan memperlakukannya di depan teman-temannya.

.

Draco keluar dari kamar mandi dan melihat ke arah Hermione yang sudah menutup matanya dikasur, ia tidak tahu apa perempuanitu sudah tidur atau belum.

Draco tidak tahu apa yang terjadi, tapi pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Granger, seharian ia bersikap aneh, apa yang terjadi? Bahkan saat Draco akan memeluknya ketika mereka keluar dari restoran, Hermione menghindar dan mengatakan bahwa ia lelah dan ingin pulang.

Sampai di Flat, Hermione juga langsung mandi dan tidur. Draco menghela nafasnya. Ia memakai bajunya lalu naik ke kasur.

"Granger." Kata Draco menghadap Hermione yang sudah menutup matanya.

"Granger, aku tahu kau belum tidur." Kata Draco, ia membelai wajah Hermione yang masih bersikeras menutup matanya dan berpura-pura tidur.

"Apa kau ada masalah? Kau bisa menceritakannya padaku." kata Draco mencium kening Hermione. Hermione bergerak pelan.

"Granger." Kata Draco lagi. "Apa kau yang bicarakan dengan ibumu? Apa ada masalah?" tanya Draco mencium mata kanan Hermione. Hermione membuka mata kanannya.

Draco tersenyum. "Kalau ada masalah, harusnya kau menceritakannya padaku, kenapa kau malah sedih sendiri sepanjang hari?" kata Draco mencium mata kirinya.

Hermione kemudian membuka mata kirinya.

"Draco." Hermione memanggilnya.

"Hmm?" tanya Draco kemudian membaui leher Hermione, ia menghirup aroma kulit gadis itu, menyembunyikan wajahnya di leher Hermione.

Hermione ingin bertanya apa Draco mencintainya? Apa Draco serius dengannya? Apa Draco tidak apa-apa meninggalkan keluarganya sekarang seperti ini? Apa mereka akan menikah suatu hari nanti? Apa ia mau menikah dengan seorang Muggleborn? Kemudian punya anak Half-Blood? Apa Draco tidak akan meninggalkannya? Apa mereka akan baik-baik saja?

"Tidurlah." Kata Hermione berbisik.

Draco menghela nafasnya, ia memosisikan tubuhnya agar berbaring disamping Hermione dan menarik tubuhnya lalu memeluknya dari belakang.

"Baiklah." Kata Draco berbisik. "Tidurlah Hermione. Aku mencintaimu." Kata Draco.

Hermione menarik nafasnya, air mata menetes dari matanya.

-Dramione-

Hermione tahu ia sedang bermimpi, ini aneh, kenapa ia tahu kalau ia bermimpi. Hermione berdiri di Hall Kementrian Sihir, di depan air mancur, ia melihat kesekelilingnya dan tidak ada orang sama sekali.

Ia tidak tahu apa yang ia lakukan disini, tapi seperti ada yang memberitahunya bahwa ia harus menunggu seseorang.

Maka Hermione berdiri disana lebih lama, berjalan mondar-mandir menunggu seseorang yang seharusnya ditunggunya.

Tapi Hermione tidak tahu siapa yang ditunggunya.

Draco?

Tiba-tiba terlintas dipikirannya bahwa ia sedang mengunggu Draco. Iya betul, Hermione sedang menunggu Draco. Kenapa ia menunggu Draco disini? Bukannya seharusnya ia menunggu Draco di flatnya?

Ah, Hermione harus kembali ke flat, mungkin Draco sudah disana. Tiba-tiba salah satu saluran floo menyala, api berwarna hijau muncul, dan Hermione melihat siapa yang muncul.

Draco dan Astoria muncul. Mereka tertawa dan tersenyum satu sama lain dan Astoria mengaitkan tangannya di lengan Draco. Mereka berdua berjalan ke arah Hermione, masih tertawa satu sama lain, masih tersenyum, sampai mereka berhenti di depan Hermione.

"Granger…" kata Draco sopan matanya tidak menunjukkan apa-apa, itu bukan mata silver yang dikenalnya.

"Miss. Granger." Kata Daphne juga menyapanya dengan sopan.

"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Hermione cemas. "Draco? Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau lama sekali? aku sudah menunggumu dari tadi."

Draco yang berada didepannya sepertinya tidak mengerti apa yang dikatakan Hermione.

"Untuk apa kau menunggu Draco, Miss Granger?" tanya Astoria mempererat tangannya di lengan Draco.

"Draco, apa yang kau lakukan dengan Astoria?" tanya Hermione mulai cemas.

"GRANGER!" Suara Draco terdengar berteriak memanggil namanya.

"Miss Granger, untuk apa kau menunggu Draco? Kalian tidak punya hubungan apapun, aku dan Draco sudah menikah…" kata Astoria lagi.

"Granger, bangunlah, itu bukan aku!" teriak suara Draco lagi.

"Draco, bukankah kau bilang tidak akan meninggalkanku?" tanya Hermione mulai menangis. "Draco…"

"Oh, Miss Granger, jangan menangis, aku kan sudah mengatakannya padamu." Kata Astoria tertawa.

"GRANGER! DEMI MERLIN! BANGUNLAH!"

Hermione terbangun.

.

Draco sedang tidur saat ia terbangun karena Hermione terus menerus bergerak dalam tidurnya. Draco melihat ke arah Hermione apa ia harus membangunkannya.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Bellatrix memang orang yang mengajarinya Occulumency, tapi Snape-lah yang mengajarinya melakukan Legilimency, Snape pernah mengajarinya bahwa Legilimency bisa dilakukan pada seseorang saat mereka tertidur, jika orang yang menjadi subjek Legilimency sedang bermimpi maka Draco bisa melihat mimpinya.

Draco mengambil tongkatnya dari samping kasurnya.

"Legilimens."

Draco kemudian melihat mimpi Hermione.

"Untuk apa kau menunggu Draco, Miss Granger?" Draco asli bingung, kenapa ada Astoria di mimpi Hermione, dan kenapa rambutnya tiba-tiba jadi berwarna cokelat di mimpi Hermione.

"Draco, apa yang kau lakukan dengan Astoria?" tanya Hermione-mimpi mulai cemas.

Draco langsung terhalang oleh Occlumency otomatis Hermione. Sial, tentu saja, apa yang diharapkan Draco, Hermione pasti menguasai Occulumency dan pikirannya otomatis terhalang saat seseorang berusaha memasuki pikirannya.

Draco tahu ini tidak benar, ia harus membangunkan Hermione, ini bukan mimpi biasa, ini pasti mimpi yang dikirim oleh seseorang, bukan mimpi alaminya.

"GRANGER!" Draco berteriak sambil mengguncang-guncangkan badan Hermione. Hermione tidak terbangun.

"Legilimens." Kata Draco lagi.

"Miss Granger, untuk apa kau menunggu Draco? Kalian tidak punya hubungan apapun, aku dan Draco sudah menikah…" Astoria berkata lagi .

"Granger, bangunlah, itu bukan aku!" Draco berteriak dan lagi-lagi terhalang oleh perisai pikiran Hermione.

"Legilimens." Kata Draco lagi tidak kenal lelah.

"Draco, bukankah kau bilang tidak akan meninggalkanku?" tanya Hermione mulai menangis. "Draco…"

"Oh, Miss Granger, jangan menangis, aku kan sudah mengatakannya padamu." Kata Astoria tertawa.

"GRANGER! DEMI MERLIN! BANGUNLAH!" kata Draco berteriak saat lagi-lagi Legilimency terhalang.

Hermione membuka matanya. "Hermione… Hermione… kau baik-baik saja?" tanya Draco memeluk Hermione yang sekarang menangis tersedu-sedu, sekujur tubuhnya bergetar.

"Seezy." Draco memanggil Seezy yang langsung muncul di samping kasur mereka. "Seezy, tolong buatkan teh. Cepat!" kata Draco masih memeluk Hermione.

"Hermione, tenanglah, tenang, itu hanya mimpi." Kata Draco memeluk Hermione sambil menepuk-nepuk punggungnya.

Saat tangis Hermione mulai reda Draco menyuruhnya minum teh yang baru saja dibuat Seezy.

"Hermione, kau menyembunyikan sesuatu dariku kan?" kata Draco bertanya. "Kenapa kau bisa bermimpi seperti itu?" tanya Draco.

Hermione menarik nafasnya kemudian mengeluarkannya lagi, ia belum bisa menceritakannya pada Draco.

"Hermione, apa tadi kau merasa ada yang aneh pada mimpimu?" tanya Draco.

Hermione mengangguk. "Aku tahu aku sedang bermimpi." Kata Hermione memberitahu.

"Mimpimu dikirim oleh seseorang." Kata Draco memberitahu.

"Maksudmu?" tanya Hermione bingung. "Mimpimu barusan, terlalu nyata, dan kau juga tahu kalau kau sedang bermimpi, jadi mimpimu dikirim oleh seseorang." Kata Draco memberitahu.

"Siapa?" tanya Hermione bingung.

"Kemungkinan besar Lucius, tapi karena ada Astoria disana, sepertinya Astoria juga mungkin saja yang mengirim mimpi itu." Kata Draco lagi.

"Bagaimana kau tahu ada Astoria di dalam mimpiku?" tanya Hermione tidak mengerti.

"Aku menggunakan Legilimens barusan, tapi Occlumens-mu terlalu kuat." Kata Draco memberitahu.

"Jadi kau menggunakan Legilimens untuk melihat apa mimpiku?" tanya Hermione memastikan.

Draco mengangguk.

"Wow, Legilimens bisa dilakukan untuk melihat mimpi?" tanya Hermione takjub.

"Ah, Hermione, kenapa Astoria di dalam mimpimu rambutnya berwarna cokelat?" tanya Draco.

Hermione menghela nafasnya. Ia melihat Draco, Draco yang berada didepannya amat berbeda dengan Draco yang berada di mimpinya. Mata Draco di depannya terlihat hidup, mata itu mengatakan bahwa ia mencintai Hermione.

Hermione menghela nafasnya lagi lalu menceritakan semuanya. Ia memberitahu bahwa Astoria mengiriminya surat dan meminta bertemu saat makan siang.

Hermione juga memberi tahu apa yang dikatakan Astoria padanya tadi.

"Jadi karena itu kau tidak tenang sepanjang hari?" tanya Draco kemudian memeluk Hermione lagi. Draco merebahkan badannya dan menarik Hermione bersamanya.

Hermione mengangguk dan memeluk Draco erat.

"Kau takut aku akan meninggalkanmu?" tanya Draco lagi.

Hermione mengangguk lagi.

"Silly Woman, apa kau pikir aku akan meninggalkanmu?" tanya Draco. "Hermione, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku tidak peduli tentang darh murni, atau apapun yang berhubungan dengan nama besar Malfoy atau semacamnya." Kata Draco mempererat pelukkannya.

"Tidurlah, kita bicarakan ini besok." Kata Draco mencium kening Hermione.

"Maaf aku tidak memberitahumu." Kata Hermione pelan.

"Hmmm…" kata Draco mengiyakan. Ia jadi merasa tidak enak, Hermione meminta maaf karena telah menyembunyikan sesuatu darinya, sementara Draco masih menyembunyikan sesuatu dari Hermione.

"Tidurlah… Aku mencintaimu." Kata Draco pelan.

-To Be Continued-

Ugghh… kemarin kepalaku sakit seharian, pengumuman aku naik tingkat atau nggak masih ditunda sampai minggu depan… ughh… kepalaku makin sakit.

Tadinya aku mau membiarkan Hermione dan Draco rada renggang di chapter ini, tapi terus aku nggak tega sendiri… uh,,

RnR guys… jangan lupa Vote untuk Poll keputusan akhir apakah Hermione akan pergi ke Prancis atau tidak ya…

-dramioneyoja