All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.
Chapter 18 : Ferret akhirnya pergi.
18.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa." Kata Hermione saat ia dan Draco duduk di meja makan. Hari ini Hermione membiarkan Seezy membuat sarapan dan hanya duduk di meja makan.
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa Hermione, kita tidak perlu meladeni Lucius ataupun Astoria." Kata Draco tidak ingin ambil pusing.
"Tapi mereka tidak akan tinggal diam."
"Kalau kau bertindak gegabah kita hanya akan membuat mereka senang, jadi mulai sekarang abaikan semua usaha Lucius atau Astoria untuk mengganggumu, jangan pernah pergi jika mereka mengajakmu bertemu." Kata Draco memberitahu. "Kita tidak pernah tahu apa yang mereka bisa lakukan. Lucius berbahaya, dan Astoria…" kata Draco menggantung kalimatnya.
"Astoria kenapa?" tanya Hermione.
Draco menarik nafasnya. "Hermione, aku akan memberitahumu sedikit hal yang kutahu tentang Astoria, dan mungkin ini tidak terdengar baik." Kata Draco memulai.
"Apa?"
"Aku tidak begitu mengenal Astoria sampai tahun ke enam. Hubunganku dengan Daphne cukup baik, seperti yang kau lihat tadi malam, untuk ukuran Slytherin, Daphne cukup…"
"Baik?"
"Yah, kurasa kau benar, Daphne cukup baik, tapi bukan itu masalahnya, Astoria sangat berbeda dengan Daphne. Ia bisa disebut maniak, beberapa bahkan menganggapnya mengalami gangguan mental."
Hermione menutup mulutnya shock.
"Astoria harus mendapatkan apa yang ia mau, waktu kita masih di tahun ke-enam, dan Astoria di tahun ke-empat ia menyukai Blaise, tapi Blaise selama ini tidak pernah menyukai siapa-siapa selain Pansy tentu saja.. dan Astoria melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan."
"Apa?" tanya Hermione berbisik.
"Ia memberikan Blaise Love-potion."
"Oh…" kata Hermione. "Well, kurasa ia bukan satu-satunya perempuan yang melakukan itu pada pria yang mereka sukai." Kata Hermione mengerti.
"Well, setelah efek ramuan itu menghilang dan Blaise tahu kalau ia diberikan Love-Potion tentu saja ia marah, tapi Astoria menangis dan berkata bahwa ia mencintai Blaise dan membuat heboh seluruh Slytherin, ia bahkan mengancam akan lompat dari Astronomi Tower jika Blaise tidak membalas cintanya."
"Ia sudah berdiri di Astornomi Tower dan akan melompat, tapi kemudian Snape membuatnya tidak sadar dan membawanya ke madam Pomfrey, dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah memorinya."
"Mereka bisa melakukan itu?" tanya Hermione tidak percaya.
Draco mengangguk. "Dengan persetujuan kedua orangtuanya dan sepengetahuan kementrian."
"Well, Draco sebenarnya apa yang kau jelaskan tidak lebih dari cerita seorang perempuan yang mencintai seseorang secara berlebihan." Kata Hermione memberi penilaian.
"Masalahnya adalah, setelah ia tidak lagi terobsesi pada Blaise, ia mulai terobsesi padaTheo." Kata Draco.
"Apa?"
"Theo dan Daphe sudah menjadi pasangan sejak tahun ke-empat. Dan pada libur natal tahun ke-enam, Theo datang kerumah keluarga Greengrass, dan semenjak itu Astoria mulai terobsesi pada kekasih kakaknya itu."
"Terobsesi bagaimana?" tanya Hermione tidak mengerti.
"Ia berusaha berubah, membuatnya dirinya semakin mirip dengan Daphne."
Hermione menutup mulutnya lagi.
"Well, kalau dari fisik mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan karena mereka sudah cukup mirip, tapi rambut Daphne selalu pendek dan rambut Astoria panjang. Setelah selesai liburan natal ia datang ke Hogwarts dengan potongan rambut yang sama dengan Daphne, lalu ia mulai bicara dan bertingkah seperti Daphne, ia mulai tertawa seperti Daphne, ia berjalan seperti Daphne dan mulai mengikuti kemanapun Daphne dan Theo pergi."
"Theo bertanya apa maksudnya sebenarnya, dan Astoria dengan mudahnya mengatakan bahwa ia mencintai Theo, bisa kau bayangkan? Ia dengan mudahnya berkata bahwa ia mencintai Theo yang merupakan kekasih kakaknya."
"Theo bereaksi keras, ia mengatakan bahwa ia tidak menyukai Astoria dan tidak mau perempuan itu terus-menerus mengikutinya dan Daphne, tapi Daphne tidak mengatakan apa-apa. Pansy bertanya pada Daphne apa yang terjadi? Kenapa Daphne sepertinya takut pada Astoria?"
"Akhirnya Daphne memberitahu kami bahwa Daphne memang sejak kecil sudah seperti itu, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Daphne harus mengalah kalau tidak Astoria akan melukainya. Tentu saja setelah itu Theo dan Pansy kesal setengah mati, mereka melakukan banyak hal untuk menjauhkan Astoria dan mencegah agar Astoria tidak melukai Daphne."
"Hampir semua cara yang mereka lakukan gagal, Astoria tetap melakukan semua cara yang ia bisa untuk mendapatkan Theo, sampai akhirnya Theo, Daphne, dan Pansy menghadap Snape, akhirnya mereka lagi-lagi mengubah ingatan Astoria lagi." Kata Draco selesai bercerita
"Jadi maksudmu satu-satunya cara untuk menghentikan Astoria adalah dengan mengubah ingatannya atau menghilangkan sesuatu yang ia inginkan dari ingatannya?" tanya Hermione.
Draco mengangguk.
Hermione berpikir. "Apa sekarang ia menginginkanmu?" tanya Hermione cemas.
"Sepertinya." Kata Draco pelan.
"Jadi karena itu Astoria mengubah warna rambutnya?" tanya Hermione.
Draco mengangguk. "Jangan kaget kalau kemudian kau bertemu lagi dengannya dan rambutnya sudah keriting." Kata Draco memberitahu Hermione pelan.
Hermione tidak tahu harus menjawab apa, ia tidak menyangka tingkat obsesi seseorang bisa sampai semengerikan itu. Ia kemudian ingat bagaimana Lavender dulu hampir membuat Ron keracunan karena over-dosis Love-Potion, tapi kemudian ia menyadari bahwa ia salah dan meminta maaf pada Ron juga Hermione. Setelah Hermione dan Ron putus ia bahkan mendekati Ron dengan cara yang baik dan normal. Tapi cerita Draco tentang Astoria barusan benar-benar… Creepy
"Karena itu Hermione…"
"Karena itu apa?" tanya Hermione tersadar dari lamunannya.
"Aku tidak ingin kau terpengaruh oleh Astoria, ia memang bodoh dan melakukan cara-cara konyol untuk mendapatkan apa yang ia mau, tapi Lucius tidak. Dan jika mereka berdua yang berencana untuk memisahkan kita, kita harus berhati-hati." Kata Draco lagi.
Hermione mengangguk. Ia mengerti sekarang, ia tidak boleh terpengaruh oleh apapun usaha Astoria untuk mempengaruhinya agar meragukan cinta dan perasaan Draco padanya.
"Habiskanlah sarapanmu, setelah ini kita berangkat. Miss Granger tidak ingin terlambat kerja bukan?" kata Draco tersenyum.
Hermione mengangguk dan menghabiskan sarapan yang sudah disiapkan Seezy.
Mereka kemudian berangkat ke kantor bersama. Beberapa orang di kementrian masih tidak begitu terbiasa melihat keduanya bersama dan memperhatikan mereka berdua dengan tatapan aneh.
Draco dan Hermione berjalan menuju ke ruangan mereka sambil membicarakan beberapa hal dan tersenyum satu sama lain. Draco sesekali berbisik mengatakan bahwa jangan pedulikan orang-orang disekitar mereka dan terus berjalan, ia juga selalu mempererat genggamannya pada tangan Hermione setiap Hermione melonggarkannya.
Hermione langsung menuju ke mejanya dan melihat beberapa surat yang sudah menunggu untuk dibaca. Hermione kemudian menyadari ada surat yang tidak lazim. Surat dengan amplop yang sama dengan surat yang sebelum ini dikirim oleh Draco dari Malfoy Manor.
Hermione duduk dikursinya dan berpura-pura membaca surat itu seperti sedang membacaca surat lain pada umumnya.
Hermione,
Aku tahu aku tidak seharusnya mencampuri urusanmu dengan Draco. Hermione aku tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan ini padamu. Aku menyayangimu, sungguh, tapi aku tidak ingin Draco pergi dari rumah, tidak ingin Draco melepaskan keluarganya, ia satu-satunya anak yang kumiliki. Dan sebagai seorang ibu aku tidak ingin anakku pergi.
Hermione aku tahu kalian berdua saling mencintai, tapi aku tidak bisa membiarkan Draco meninggalkan keluarga Malfoy begitu saja. Kali ini ia memang hanya pergi sementara, tapi cepat atau lambat ia akan meninggalkan kami, keluarganya.
Hermione, kumohon, lepaskan Draco.
Narcissa.
Hermione menahan nafasnya, apa yang baru saja dibacanya. Narcissa Malfoy baru saja mengiriminya surat dan berkata bahwa ia meminta Hermione melepaskan Draco.
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
-Dramione-
Draco mulai tidak tenang dikursinya. Hermione sudah lebih dari setengah jam pergi ke toilet dan tidak kunjung kembali. Draco melirik jam tangannya lalu memutuskan jika Hermione tidak kembali dalam waktu lima belas menit, ia akan menyusulnya ke toilet.
Sementara itu, Hermione sedang duduk di salah-satu toilet yang tertutup lid-nya. Hermione tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Hermione mulai memikirkan semuanya yang berhubungan dengan hubungannya dengan Draco. Ia tidak ragu sama sekali bahwa Draco mencintainya dan Ia juga mencintai Draco, hanya saja ia mulai ragu apa ini yang terbaik untuk mereka berdua?
Kemana hubungan mereka akan berlanjut? Apa Draco akan menikahinya suatu hari nanti? Apa mereka akan menikah dan punya hidup yang bahagia? Jika Draco menikah dengan Hermione apa mereka akan baik-baik saja? Draco tidak akan dianggap sebagai keluarga Malfoy lagi.
Lucius akan mencabut semua fasilitas yang dimiliki Draco. Ia tidak peduli dengan harta kekayaan Draco atau semacamnya, tapi apa Draco bisa bertahan hidup dengan gaya hidup sederhana?
Mereka berdua mungkin akan menjadi karyawan kementrian sampai tua, kemudian tinggal di rumah atau apartement kecil, lalu punya anak, bertengkar setiap hari, dan… ugh… Hermione tidak ingin melanjutkan fantasinya.
Oh, Hermione jangan bercanda, apa yang kau harapkan dari Draco Malfoy? Ia bahkan tidak bisa melipat bajunya sendiri, apa ia akan tahan hidup tanpa semua uangnya? Hermione tahu jawabannya, tentu saja tidak.
Jika mereka melanjutkan hubungan ini tidak akan ada yang berakhir baik.
Jika mereka sempat punya anak, maka Draco kemungkinan besar akan menyadari bahwa mempunyai anak half-blood tidak menyenangkan, ia kemudian akan meninggalkan Hermione dan anak mereka lalu menikah dengan Astoria dan memiliki anak berdarah murni yang akan dinamainya Scorpius atau semacamnya.
Draco mungkin membenci Lucius, tapi Hermione tahu betul kalau Draco sangat menyayangi Narcissa dan begitu juga sebaliknya, jika Draco memutuskan untuk benar-benar meninggalkan keluarganya maka Draco akan sangat merindukan ibunya, dan ia akan kemungkinan akan menyalahkan Hermione karena menjadi alasan ia pergi meninggalkan keluarganya.
Bloody Hell.
Terlalu banyak hal buruk yang akan terjadi jika melanjutkan hubungan ini. Well, Hermione tahu apa yang baru saja melintas dipikirannya tidak nyata, hanya imajinasi, tapi bagaimana jika semuanya menjadi kenyataan.
Hidup mereka berdua akan hancur. Ia dan Draco tidak akan bahagia bersama. Apa yang dikatakan Astoria waktu itu benar. Takdir Draco sudah tertulis bahkan sebelum ia lahir, Draco Malfoy sudah seharusnya menikah dengan wanita berdarah murni, kemudian melanjutkan keturunan keluarga Malfoy.
Bukannya menjalin hubungan dengan seorang Muggleborn.
Hermione menghela nafasnya.
Mereka terlalu berbeda.
Hermione sadar akan hal itu.
Haruskah ia melepas Draco?
Hermione kemudian keluar, mencuci tangannya dan membasuh mukanya lalu berjalan kembali menuju keruangannya saat ia melihat Draco berjalan menuju ke arahnya.
Hermione ingin berlari kembali ke kamar mandi, kemudian menangis, bukannya berjalan dan menghadapi pria yang paling ingin dihindarinya saat ini.
"Kau kemana saja? Kenapa lama sekali?" tanya Draco tersenyum, ia menghentikan langkahnya dan mengulurkan tangannya, menunggu Hermione menghampirinya.
Hermione menghela nafasnya. "Aku sakit perut." Kata Hermione pelan tidak menyambut tangan Draco tapi malah berjalan terus.
"Sakit perut? Apa kau baik-baik saja? Perlu kuantar ke St. Mungo? Kau makan apa? Sesuatu yang dimasak Seezy yang membuatmu sakit perut?" tanya Draco terdengar kuatir.
"Aku baik-baik saja." Kata Hermione memberitahu dengan nada sambil lalu dan terus berjalan ke ruangan mereka.
Draco melihat Hermione aneh.
Hermione berusaha menghindari Draco sepanjang hari, ia makan siang dengan Harry dan Ron, begitu Draco melihatnya sudah duduk dengan Harry dan Ron ia langsung mencari meja lain yang masih kosong dan duduk sendiri.
Hermione benar-benar ingin berlari ke arah Draco, memeluknya kemudian menciumnya lalu makan siang bersama, tapi akhirnya ia hanya duduk diam, memakan makan siangnya dan duduk di depan Harry dan Ron.
Harry melihat ke arah Ron.
Ron mengangkat bahunya.
"Hermione?" tanya Harry pelan. "Apa kau dan Malfoy sedang bertengkar?"
"Tidak." Kata Hermione masih menunduk dan berusaha untuk fokus makan.
"Lalu kenapa kau tidak makan siang dengan Malfoy?" tanya Ron.
"Aku hanya ingin makan siang dengan sahabatku, apa itu salah?" tanya Hermione membalas.
"Kalau begitu ajak saja Malfoy duduk disini." Kata Harry menawarkan sekaligus menguji Hermione, jika ia tidak sedang bertengkar dengan Malfoy kenapa mereka tidak makan siang bersama?
"Jangan!" kata Hermione terdengar sedikit panik.
"Kenapa?" tanya Harry.
"Sudahlah Harry, jika Hermione memang tidak ingin mengajak Draco duduk makan bersama kita maka biarkan saja." Kata Ron.
Hermione mengangguk setuju.
"Honestly Hermione, bagaimana sebenarnya hubungan kalian berjalan? Pagi hari kalian datang ke kantor bergandengan tangan, lalu bertindak seperti tidak kenal satu sama lain saat makan siang? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu." Kata Harry lalu kembali makan.
"Aku hanya ingin menghindari Draco sebentar." Kata Hermione pelan.
"Kenapa? Kau akhirnya sadar kalau hubungan kalian berdua salah?" tanya Ron.
"Ron!" kata Harry menegur Ron, sementara Hermione tidak menjawab.
"Hermione!?" seru Harry, ia melihat Hermione yang diam saja atas perkataan Ron barusan. "Apa Ron benar?" tanya Harry tidak percaya.
"Kurasa Ron benar." Kata Hermione pelan.
"Apa?" kata Ron dan Harry bersamaan.
Harry tidak mengerti apa yang ada dipikiran Hermione, ia bahkan yakin kalau sahabatnya dan Malfoy memang benar-benar saling menyukai dan peduli satu sama lain, lalu kenapa ia mengatakan Ron benar?
Ron tidak percaya apa yang baru didengarnya? Ia benar?
"Hermione, apa yang terjadi? Pasti terjadi sesuatu diantara kau dan Malfoy kan?" tanya Harry.
Hermione menggeleng. "Tidak terjadi apa-apa, hanya saja aku berpikir…"
"Tentu saja." Kata Ron begitu mendengar kata berpikir
Hermione memutar matanya pada Ron kemudian melanjutkan kalimatnya. "Aku berpikir, apa hubungan kami akan terus berlanjut? Aku baru benar-benar menyadari bahwa kami terlalu berbeda." Kata Hermione menghela nafasnya.
"Baguslah kau akhirnya sadar Mione." Kata Ron mengutarakan pikirannya. "Lagipula jika ia serius denganmu ia tidak akan menolak ajakanmu untuk pergi ke Burrow kan?" kata Ron terdengar tidak suka karena Draco tidak datang ke Burrow hari minggu kemarin.
Hermione sudah seperti anggota keluarga bagi seluruh anggota keluarga Weasley, dan semua kekasih baru anggota keluarga harus diperkenalkan pada anggota keluarga yang lain.
Hermione menghela nafasnya lagi. Perkataan Ron ada benarnya, Draco menolak pergi ke Burrow juga menambah point pada sisi kontra dalam hubungan mereka, Draco tidak akan pernah akur dengan Harry dan Ron, Draco tidak bisa menerima mereka berdua sebagai bagian penting dalam hidupnya. Draco tidak akan bisa menerima kedua sahabatnya, terlebih lagi seluruh anggota keluarga Weasley yang sudah seperti keluarganya sendiri.
"Hermione, kenapa kau tiba-tiba memikirkan hal seperti itu?" tanya Harry tidak mengerti.
Hermione Granger adalah perempuan paling pintar yang ia pernah temui. Perempuan didepannya ini biasanya selalu yakin dalam keputusan yang diambilnya, dan jika ia memang sudah memutuskan untuk berpacaran dengan Draco Malfoy, Harry yakin pasti tidak banyak hal yang bisa menyebabkannya meragu.
Hermione menghela nafasnya lagi. "Aku sudah kenyang." Kata Hermione berdiri. "Aku duluan." Kata Hermione pergi.
"Ada apa dengannya?" tanya Harry pada Ron.
"Sudahlah Harry, jika memang Hermione memutuskan bahwa Malfoy tidak cukup baik untuknya maka biarkan saja." Kata Ron.
"Ugh… Ron, terkadang kau memang sangat tidak peka." Kata Harry pada Ron.
Hermione berjalan kembali keruangannya. Sepertinya ia memang harus melepaskan Draco.
"Granger!" Draco mengagetkannya dari belakang. "Kau kenapa? Ada apa?" tanya Draco sekarang benar-benar cemas.
"Tidak ada apa-apa." Kata Hermione menjawab. Tiba-tiba terlintas sesuatu dipikirannya. "Draco, apa kau sudah mencari-cari apartement?" tanya Hermione sambil terus berjalan ke ruangan mereka.
Draco kaget. Kenapa Hermione tiba-tiba menanyakan hal itu?
"Belum." Kata Draco menjawab.
"Kalau tidak salah ada apartement yang baru dibangun disekitar Godric's Hollow. Kenapa kau tidak melihatnya?" tanya Hermione tanpa ekspresi.
Ah, jadi ini masalahnya? Tanya Draco dalam hati. Sepertinya Granger mulai muak tinggal dengannya. Draco salah mengira, ia kira Hermione mulai menikmati tinggal bersamanya, ia berasumsi bahwa ia dan Hermione akan tetap tinggal bersama.
Draco memang mempertimbangkan untuk mencari apartement atau rumah yang lebih besar, tapi dengan tujuan untuk ditinggali berdua dengan Hermione. Tapi sepertinya ia salah.
"Kau ingin aku pindah?" tanya Draco.
Hermione bisa mendengar dari suaranya kalau Draco pasti sakit hati. Demi Merlin, Hermione tidak ingin Draco pindah, ia benar-benar senang Draco tinggal bersamanya, makan didepannya, tidur disampingnya, tapi…
"Iya." Jawab Hermione.
"Well, aku akan meminta Blaise atau Theo mencarikanku Flat, aku akan berusaha secepat mungkin pindah dari tempatmu." Kata Draco datar.
Mereka sudah sampai di depan elevator. Hermione masuk, tapi Draco bertahan di luar. Hermione tidak bertanya apa yang dilakukan Draco? Kenapa ia tidak masuk ke lift? Hermione hanya melihat mata silver yang menatapnya. Kemudian pintu lift itu tertutup.
Draco menghela nafasnya. Kenapa hubungan mereka jadi seperti ini?
Draco kemudian menghubungi Theo, menyuruhnya mencarikan apartement atau rumah atau apapun, yang sesuai dengan selera Draco dan bisa ditinggali besok.
Dua jam kemudian, saat Draco sedang rapat dengan tim dekorasi untuk pesta tahun baru Theo memberinya kabar bahwa ia sudah mendapatkan tempat yang diinginkan Draco. Draco berterimakasih kepadanya lalu menginstruksikan Seezy untuk membersihkan tempat itu.
Hermione bahkan tidak ikut rapat untuk pesta tahun baru itu, mengatakan ia sedang banyak laporan. Bullshit. Draco tahu kalau Hermione hanya ingin menghindarinya. Hell, baiklah kalau itu maunya. Baiklah kalau itu mau Hermione Granger.
Draco akan pindah besok dan tidak menggangunya di apartementnya lagi.
Draco dan Hermione saling menghindari sepanjang hari. Saat jam pulang Hermione juga langsung pulang, tidak menunggu Draco atau semacamnya.
Tidak lama Draco juga pulang, tapi ia mengecek tempat yang dicarikan Theo untuknya terlebih dahulu. Tidak buruk, lebih luas dan lebih bagus dari apartement menyedihkan milik Granger. Ia sudah tidak sabar segera pindah.
Draco sampai di apartement Hermione dan menemukan Hermione sedang makan malam sendirian. Draco kesal, Granger sudah keterlaluan, ia bahkan tidak menunggu Draco pulang dan makan malam bersama. Draco menghampiri Hermione di meja makan.
"Aku sudah menemukan tempat." Kata Draco tanpa emosi.
Hermione kaget, hatinya tiba-tiba sakit. "Baguslah." Kata Hermione juga sama datarnya.
"Aku dan Seezy akan pindah besok."
"Hmm."
Draco kemudian pergi dan mandi. Ia tidak peduli lagi.
Hermione dan Draco saling menghindari satu sama lain selama sisa malam. Draco mandi dan Hermione menghabiskan makan malamnya, saat Hermione selesai makan malam, ia mandi dan Draco makan malam.
Saat Draco selesai makan malam dan menuju ke kamar, Hermione sudah mematikan lampu dan tidur di kasur. Maka Draco juga memutuskan untuk mengakhiri hari itu. Ia juga naik ke kasur dan tidur.
-Dramione-
Hermione terbangun karena Crookshanks mengeong tanpa henti sambil melompat-lompat dikasurnya. Hermione membuka matanya dan Draco tidak ada disampingnya.
Hermione melompat dari kasurnya dan melihat ke sekeliling kamarnya. Koper Draco sudah tidak ada, buku-bukunya yang berserakan di lantai di dekat nightstand juga sudah tidak ada, Hermione berjalan dan membuka lemari, baju pria itu juga sudah tidak ada.
Hermione kemudian melihat sebuah kertas kecil di bantal disamping bantalnya.
Granger.
I'm leaving. Thanks.
DM
Hermione kemudian merebahkan badannya dikasur, di sisi kasur dimana Draco biasanya tidur.
Kau tidak boleh menangis Hermione! Katanya pada dirinya sendiri.
Hermione mengulangi perkataan itu terus menerus dalam kepalanya, ia tidak boleh menangis, ini sudah benar, ini yang terbaik, ini sudah sesuai dengan tahap awal rencananya untuk melepaskan Draco.
Draco sudah pergi dari rumahnya, dan sekarang tinggal mencari cara untuk memberitahu Draco bahwa mereka sebaiknya tidak berhubungan lagi.
Hermione memeluk bantal yang biasa digunakan Draco, ia berpikir, apa yang harus dilakukannya sekarang.
Hermione menghirup aroma bantal yang dipelukanya, ia bisa mencium aroma tubuh Draco, air matanya mengalir. Ia sudah merindukan pria pirang itu.
Hermione tahu yang dilakukannya sudah benar, ia terus menerus mengatakan pada dirinya sendiri agar jangan menangis, ini yang terbaik untuk mereka berdua.
Dan saat itu sesuatu terlintas dalam pikirannya.
Cedric Diggory.
-To Be Contiuned-
Happy Monday All…
-dramioneyoja
