All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.
Chapter 19 : Ferret Tahu Ada yang Tidak Beres.
19.
Draco berusaha bertindak normal sepanjang hari. Ia terus melihat ke arah meja Hermione yang kosong sepanjang hari. Apa mau Granger sebenarnya? Kenapa ia tidak masuk sekarang? Apa ia sengaja menghindari Draco?Apa salah Draco sebenarnya? Draco bahkan tidak merasa ia melakukan kesalahan.
Tadi pagi Draco memutuskan untuk pergi saat Hermione belum bangun. Ia meminta Seezy membawa semua barangnya ke apartement barunya, lalu pergi tanpa membangunkan Hermione.
Draco mengakui kalau ia pergi begitu saja karena ia sedikit emosi, tapi emosinya bukan tanpa alasan. Kenapa Granger tiba-tiba berperilaku seperti itu? Kenapa kemarin pagi ia masih tersenyum padanya dan kemudian saat siang Granger berubah?
-Flashback-
Draco sudah berada di kasur Hermione malam ini. Draco melihat Hermione yang sudah menutup matanya. Ada apa dengan Hermione hari ini? Bukankah mereka sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun satu sama lain, lalu kenapa Granger bertindak seperti ini? Kenapa Granger menyembunyikan sesuatu.
Draco mengulurkan tangannya, ia membelai kepala Hermione yang sudah tertidur. Draco menyingkirkan beberapa helai rambut yang ada di wajahnya.
Draco tersenyum.
Dari dulu Draco selalu ingin tahu bagaimana rasanya menyelipkan jari-jarinya di rambut Granger, Draco selalu memikirkan apa rambutnya akan kasar atau halus? Dan sekarang Draco tahu rasanya, meskipun rambut Hermione keriting dan terlihat kasar dari luar, tapi rambutnya begitu halus dan terasa seperti satin di tangannya.
Draco ingat tahun ke-empat mereka. Draco sudah mencintai Hermione saat itu, Draco berkali-kali berpikir untuk mendekati Hermione dan mengajaknya pergi ke pesta dansa bersamanya, tapi tentu saja ia tidak melakukannya. Apa yang akan terjadi jika ia mengajak Hermione pergi bersama?
Kemungkinan pertama yang paling mungkin adalah Hermione akan memukulnya lagi seperti ditahun ketiga, menganggapnya berencana melakukan sesuatu yang buruk padanya.
Atau kemungkinan kedua, kemungkinan yang tidak mungkin terjadi tapi Draco menginginkannya terjadi adalah Hermione menerima ajakannya. Tentu saja setelah itu seisi Hogwarts akan heboh bahkan mungkin terjadi keributan besar antara Gryffindor dan Slytherin
Tapi tentu saja Draco tidak pernah mengajak Hermione pergi. Potter dan Weasley selalu berada di dekatnya. Lagipula akhirnya Hermione datang ke pesta dansa dengan Viktor Krum, apa lagi yang bisa diharapkannya? Setidaknya Hermione tidak datang ke pesta dengan Weasley.
Draco menghela nafasnya.
Draco bisa merasakan ada yang aneh, ia merasa seperti mereka akan berpisah. Tidak, tentu saja tidak, apa yang dipikirkannya, Hermione hanya butuh tempat yang lebih luas, ruang untuk bernafas dan beraktivitas, mungkin ia bosan melihat Draco setiap hari, lagipula Hermione terus mengeluh karena Draco selalu berantakan dan meletakkan barangnya sembarangan.
Draco akan tinggal sendiri sementara, berusaha memperbaiki kebiasaannya dan menjadi orang yang lebih rapih dan teratur kemudian mereka bisa tinggal bersama lagi. Mereka hanya akan berpisah tempat tinggal, bukan putus atau semacamnya. Draco yakin hubungan mereka akan baik-baik saja dalam satu atau dua hari.
Hell, Draco bahkan sudah berencana untuk ikut pergi ke Burrow minggu ini. Ia tahu kalau keluarga Weasley sangat penting untuk Hermione, dan kalau datang ke Burrow akan membuat Hermione senang maka ia akan pergi ke Burrow.
Love-sick-puppy.
Draco tidak tahu kenapa ia bisa berubah menjadi pria seperti ini, pria menyedihkan yang akan melakukan apapun untuk perempuan yang dicintainya. Draco yakin detik itu juga ia akan melakukan apapun untuk Hermione, mengorbankan apapun untuk gadis didepannya.
Draco mencium kening Hermione, ia ingin membangunkan perempuan itu dan memberitahunya kalau Draco mencintainya dan berharap hubungan mereka akan baik-baik saja.
Tapi Draco kemudian mencium kelopak mata Hermione lalu memutuskan untuk tidur.
-End of flashback-
Hermione izin untuk tidak masuk hari itu, ia menghubungi Mr. Cole dan mengatakan ia izin tidak masuk kantor sampai akhir minggu ini. Alasannya ia tidak enak badan, padahal sebenarnya ia butuh waktu untuk berpikir dan menjalankan rencananya untuk melepaskan Draco. Atau lebih tepatnya untuk membuat Draco pergi darinya.
Hermione mengirim surat dan bertanya pada Cedric apa mereka bisa bertemu hari ini? Balasan surat Cedric dengan cepat datang dan berkata mereka bisa bertemu saat makan siang. Hermione mengajaknya bertemu direstoran Muggle agar tidak ada wartawan yang melihat mereka.
Dan sekarang disinilah ia, duduk sambil melihat-lihat menu, menunggu Cedric Diggory datang. Hermione bisa melihat Cedric muncul di pintu, Cedric tersenyum padanya dan berjalan mendekat.
Hampir semua pereampuan di restoran itu melihat Cedric begitu ia masuk,Cedrci benar-benar tampan hari ini, well, ia memang selalu tampan setiap hari. Mata hijaunya bersinar, dan pakaiannya akan membuat semua orang mengira ia adalah model atau semacamnya
"Mione…" kata Cedric penuh harap.
"Cedric." Hermione tersenyum dan mengangguk. Cedric mencium pipinya pelan lalu duduk di depannya.
"Kau sudah pesan? Aku lapar sekali." kata Cedric langsung melihat ke menu dan memanggil pelayan lalu mereka berdua memesan makanan.
"Jadi apa yang membuatmu menghubungiku?" tanya Cedric tersenyum.
Hermione langsung merasa tidak enak pada Cedric. Pria di depannya sudah terlalu baik dan selalu bersedia membantunya.
"Well, sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu." Kata Hermione menjelaskan.
"Katakan saja."
"Apa pamanmu masih mengajar di Wizarding University?" tanya Hermione.
Cedric mengangguk. "Masih, pamanku masih menjadi Dosen disana, ada apa memangnya?" tanya Cedric.
"Well, aku ingin mendaftar untuk tahun ajaran baru, dan aku ingin tahu apa pamanmu kira-kira bisa memberikanku surat rekomendasi?" tanya Hermione.
"Oh, aku tidak yakin, tapi aku akan menghubungi pamanku dan menanyakan hal itu padanya." Kata Cedric dengan senang hati akan membantu Hermione.
Hermione berpikir lagi. Apa ia seharusnya melakukan hal ini? Ini tidak akan adil untuk Cedric, tapi sepertinya ini satu-satunya jalan.
"Cedric, aku membutuhkan bantuanmu." Kata Hermione pelan.
Hermione kemudian menceritakan masalahnya pada Cedric, bagaimana Lucius dan Astoria berusaha menyadarkannya kalau ia dan Draco tidak seharusnya bersama, dan bagaimana Akhirnya Hermione sadar kalau memang hubungan mereka tidak seharusnya dilanjutkan,
Hermione kemudian memberitahu Cedric bahwa ia harus membuat Draco percaya bahwa ia tidak lagi mencintai Draco. Dan Cedric lah yang bisa membantunya. Ia kemudian menjelaskan rencananya pada Cedric.
Setelah Hermione selesai memaparkan rencananya Cedric hanya bisa menggeleng.
"Hermione, aku akan membantumu, tapi apa kau yakin kau mau melakukan hal ini?" tanya Cedric tidak yakin.
Hermione mengangguk.
Cedric menghela nafasnya. Ia tidak tahu bahwa ia akan terlibat dalam percintaan wanita yang dicintainya sampai pada tahap yang serumit ini.
Sekali lihat, Cedric dan semua orang yang punya mata dan perasaan juga tahu kalau Hermione mencintai Draco begitu juga sebaliknya. Cedric tahu Hermione tidak menceritakan detail masalahnya, masih ada yang ditutupi gadis di depannya.
Tapi apa yang membuat Hermione yakin sekali untuk meninggalkan Draco Malfoy?
"Baiklah, aku akan membantumu." Kata Cedric memberi keputusan.
-Dramione-
Hermione tahu yang dilakukannya benar. Ia berjalan berggandengan tangan dengan Cedric di Diagon Alley, mereka baru selesai makan siang dan memutuskan pergi ke Flourish and Blotts adalah keputusan yang tepat untuk membuat mereka dilihat oleh wartawan.
Hermione yakin sudah cukup banyak gambar mereka yang diambil oleh wartawan, ia yakin mereka akan muncul di halaman paling depan koran besok pagi.
Cedric kemudian mengantarnya kembali ke apartementnya lalu kembali ke kantornya. Ia merasa sedih untuk Hermione dan bahkan sedikit kasihan pada Malfoy. Tapi apa yang bisa dilakukannya jika Hermione memang tidak ingin melanjutkan hubungannya dengan Malfoy.
Hermione masuk ke apartementnya dan menemukan Crookshanks sudah menunggunya dengan tatapan kesal.
"Ada apa lagi Crook? Kau kan sudah makan siang." Kata Hermione meletakkan tasnya di kursi, ia baru akan berteriak 'Draco, kaos kakimu' saat ia sadar bahwa Draco tidak ada di flatnya lagi dan tidak ada kaos kaki lagi di sofanya.
Hermione duduk dikursinya dan mulai menangis. Ia sudah merindukan Draco, padahal mereka baru tidak bertemu setengah hari, ia tidak yakin apa ia bisa melepaskan Draco.
Hermione menghapus air matanya, ia melihat ke arah Crookshanks yang duduk disampingnya, kucingnya tidak setuju Hermione melakukan ini. Hermione tahu, meskipun Crookshanks selama ini selalu menunjukkan kalau ia tidak menyukai Draco, tapi di dalam lubuk hati kucingnya itu ia tahu kalau Crookshanks menyukai Draco.
Crookshanks dan Draco memiliki kepribadian yang terlalu sama. Ada pepatah yang mengatakan bahwa tidak bisa ada dua singa jantan di dalam satu kawanan, dan Crookshanks tahu kalau Draco akan mengambil tempatnya sebagai kepala kawanan jika Draco terus berada disekitarnya.
Hermione tertawa pelan.
Tidak lama saluran Floo-nya berbunyi, api hijau berkobar dan Ginny muncul.
"Hermione Granger!" Ginny terdengar marah. Ginny berjalan mendekatinya dengan perutnya yang semakin membesar. "Ada apa denganmu?" tanya Ginny dengan kedua tangannya di pinggang.
"Ada apa?" tanya Hermione tidak mengerti. "Gin, duduklah." Kata Hermione menyuruh Ginny duduk dulu. Takut temannya itu kena stroke atau semacamnya, karena Ginny terlihat seperti siap mengeluarkan bola api dari mulutnya dan sinar laser dari matanya.
Ginny segera duduk. "Oh, Hermione aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu? Kau ini kenapa sebenarnya?" tanya Ginny tidak habis pikir.
"Ada apa? Kenapa kau datang dan langsung marah-marah padaku?" tanya Hermione tidak mengerti.
"Hermione, aku baru saja diberitahu pemilik Flourish and Blotts, katanya kau dan Cedric baru saja datang bersama seperti sepasang kekasih! Hermione jelaskan padaku apa yang terjadi?" tanya Ginny tahu ada yang tidak beres dengan temannya.
"Tidak ada yang terjadi." Kata Hermione menghindar.
"Jangan berbohong padaku Hermione, kau tahu betul aku bisa mendeteksi kebohonganmu. Begitu aku tahu kau jalan dengan Cedric aku langsung meminta Harry bertanya padamu apa yang terjadi, tapi kemudian Harry bilang kalau kau tidak masuk kerja, jadi aku langsung kesini." Kata Ginny menjelaskan.
"Jadi kenapa kau tiba-tiba terlihat bersama Cedric? Kau sedang bertengkar dengan Draco?" tanya Ginny.
Hermione menghela nafasnya. Ia sudah memutuskan untuk melakukan hal ini, dan tekadnya sudah bulat, jadi ia yakin ia bisa berpura-pura di depan Ginny.
"Gin, aku sudah menyadari bahwa kami tidak cocok, aku tidak cocok dengan Draco, kami terlalu berbeda, tidak akan ada yang bahagia jika kami melanjutkan hubungan ini, dan aku sudah memutuskan untuk berpisah dengan Draco sebelum semuanya terlambat." Kata Hermione menjelaskan.
"Benarkah?" tanya Ginny melihat Hermione ragu-ragu.
Hermione mengangguk.
"Lalu kenapa kau menangis?" tanya Ginny bisa melihat sisa-sisa air mata di wajah temannya.
"Sudahlah Gin, aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi." Kata Hermione benar-benar ingin menghindar dari masalah ini.
"Hermione, aku tidak akan mempertanyakan keputusanmu, aku tahu kau selalu memikirkan semua hal yang kau lakukan matang-matang, tapi apa kau benar-benar yakin kau dan Draco tidak cocok?" tanya Ginny berusaha menyadarkan temannya.
Hermione mengangguk. "Apa kau tidak lihat kalau kami terlalu berbeda? Dalam semua aspek Gin, kami terlalu berbeda." Kata Hermione.
Ginny memandang temannya itu dengan tatapan aneh, dari cerita Harry dan Ron, Hermione dan Draco memang berbeda, sangat amat berbeda, tapi berbeda yang melengkapi satu sama lain. Bukan seperti air dan api yang akan saling meniadakan, tapi seperti tanah dan air, yang jika disatukan akan menjadi lengket.
"Pikirkan baik-baik Hermione!" kata Ginny lagi menyerah.
-Dramione-
Fletcher baru kembali dari manor, ia sedang beristirahat di kedai kopi kecil di Diagon Alley. Ia baru saja melaporkan bahwa Draco baru saja menyewa sebuah flat di Godric's Hollow.
Fletcher belum yakin apa rencana Lucius dan Astoria sebenarnya, tapi ia sudah bisa mengira kemana mereka akan berjalan. Fletcher berharap ia tidak akan dilibatkan lebih jauh dari ini, ia tidak ingin terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia hanya ingin pensiun dan menikmati masa tuanya dengan keluarganya.
Saat Fletcher sedang meminum kopinya, ia melihat Draco Malfoy sedang berdiri di counter memesan kopi di antara banyak orang lainnya. Fletcher melihat jam tangannya, ah, ini sudah jam karyawan kementrian untuk pulang.
Fletcher merundukkan kepalanya, ia harus segera menghabiskan kopinya sebelum Draco Malfoy menyadari keberadaannya. Tapi ia terlambat. Draco Malfoy sudah berjalan mendekati mejanya.
"Fletcher? Anda Mr. Fletcher kan?" tanya Draco ragu.
Fletcher menghela nafasnya. Ia tersenyum. "Mr. Malfoy." kata Fletcher ramah.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Draco pada pria di depannya.
"Tentu saja." Kata Fletcher mempersilahkannya duduk.
"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Draco penasaran. Ia mengenal Fletcher, Carter Fletcher adalah asisten pribadi ayahnya, tapi mereka tidak pernah benar-benar berinteraksi sebelum ini, mereka hanya tahu satu sama lain.
"Hanya minum kopi sebentar sebelum pulang." Kata Fletcher menjawab. "Anda sendiri? Apa yang anda lakukan disini?" tanya Fletcher.
Draco mengangkat bahunya. "Sama." Kata Draco menjawab. Kemudian telintas sesuatu dipikirannya. "Aku ingin tahu, apa belakangan ini Lucius melakukan sesuatu yang mencurigakan?" tanya Draco.
"Tidak." Kata Fletcher tanpa beban, bertahun-tahun bekerja untuk Lucius membuatnya dengan mudahnya berbohong pada orang lain. "Tidak, tidak ada yang aneh belakangan ini." kata Fletcher memberitahu.
Draco tahu tidak mungkin tidak ada yang mencurigakan pada Lucius. "Mr. Fletcher kau tahu kan, kalau kau tahu Lucius merencanakan sesuatu yang buruk dan kau terlibat di dalamnya maka kau bisa dipidanakan." Kata Draco berusaha mengintimidasi.
Fletcher tersenyum. "Tentu saja Mr. Malfoy, kau pikir bagaimana aku bertahan bekerja untuk perusahaan ini selama ini? Aku tahu batasan-batasan yang tidak bisa kulewati." Kata Fletcher tidak mudah terintimidasi.
"Mr. Fletcher, kau tentu tahu cepat atau lambat aku akan mengambil alih perusahaan." Kata Draco berusaha membaca ekspresi wajah pria tua di depannya. "Dan aku harap kau bisa bertindak bijak." Kata Draco, atau dengan kata lain ia meminta Mr. Fletcher untuk berpihak padanya.
Fletcher menghabiskan kopinya. Like Father Like Son, pikir Fletcher.
"Mr. Draco aku duluan." Kata Fletcher lalu bangkit berdiri kemudian pergi.
Draco tahu ada yang tidak beres, dan jika ia bisa membuat Fletcher mengalihkan kesetiaannya pada dirinya, maka ia bisa mencegah semua niat jahat Lucius.
Sekarang ia hanya tinggal mencari tahu caranya.
Tidak lama orang yang sudah ditunggunya datang. Theo dan Blaise memasuki kedai kopi itu lalu duduk di depan Draco.
-Dramione-
Draco tidak tenang dikasurnya bergerak ke kanan ke kiri, ia sudah terlalu nyaman tidur dengan Hermione disebelahnya dan sekarang ia tidak bisa tidur tanpa gadis itu disampingnya. Ia merindukan Hermione.
Draco mengambil tongkatnya lalu ber-apparating langsung menuju ke flat Hermione tapi wardnya menolaknya. Draco akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu flat Hermione.
Draco mengetuk sekitar lima menit tapi tidak ada jawaban. "Granger! Aku tahu kau didalam!" kata Draco masih terus mengetuk pintu.
"Granger bukalah!" kata Draco lagi. "Hermione Granger! Aku tahu kau di dalam! Buka pintunya atau akan kuhancurkan pintu sialan ini!" kata Draco mengancam.
Tidak lama Hermione membuka pintunya tapi hanya sedikit. "Pulanglah Malfoy!" kata Hermione mengintip dari sisi pintu yang terbuka
"Granger! Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?" kata Draco terdengar putus asa
"Pulanglah saja!" kata Hermione pelan.
"Aku tidak akan beranjak dari sini jika kau tidak menjelaskan apa masalahmu sebenarnya!"
Hermione menghela nafasnya, tidak akan ada gunanya bertengkar dengan Malfoy di depan pintu. "Masuklah." Kata Hermione melebarkan pintunya dan membiarkan Draco masuk.
"Hermione, sebenarnya apa masalahmu?" tanya Draco emosi
"Masalahku? Masalahmu! Kau yang pergi begitu saja tadi pagi! " kata Hermione menyalahkan Draco.
"Jadi sekarang aku yang salah? Oh Granger, katakan saja apa salahku, jangan bertindak kekanak-kanakkan."
"Tidak, aku tidak mau bicara padamu, sudahlah Malfoy, pulanglah! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" kata Hermione berdiri sementara Draco duduk di sofa.
"Granger." Nada suara Draco berubah.
"Kau dengar aku kan? Aku tidak ingin melihatmu lagi, sebaiknya juga kita tidak berhubungan lagi." Kata Hermione pelan.
"Apa?" tanya Draco tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Pergilah Malfoy." kata Hermione dingin. "Aku tidak ingin berhubungan lagi denganmu." Kata Hermione tanpa emosi.
Draco tidak tahu apa yang baru saja di dengarnya, apa ia sedang bermimpi? Kenapa Hermione tiba-tiba mengatakan bahwa ia tidak mau berhubungan dengannya lagi, apa Hermione tidak mencintai dirinya lagi. "Hermione?" tanya Draco ragu. "Ada apa denganmu?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya sadar kalau kita tidak cocok, kita tidak seharusnya bersama, aku hanya seorang Mudblood." Kata Hermione menjelaskan.
"Berapa kali harus ku katakan bahwa aku tidak peduli lagi dengan hal semacam itu." Kata Draco tidak terima alasan Hermione.
"Malfoy, biar ku jelaskan ini padamu." Hermione berusaha meyakinkan Draco. "Apa yang kau harapkan dari hubungan ini? Kita tidak akan bahagia bersama. Kita terlalu berbeda, hanya tinggal tunggu waktu sampai kau dan aku bertengkar karena kita sama-sama tidak bahagia dan melukai satu sama lain." Hermione menjelaskan.
"Tidak akan Granger, kita akan bahagia, kau hanya perlu percaya padaku. Kau menyuruhku pindah karena kau perlu ruang untuk dirimu sendiri kan? Aku sudah pindah, lalu kenapa hubungan kita harus berakhir?" tanya Draco tidak terima.
"Aku, aku hanya, aku hanya menyadari bahwa aku tidak mencintaimu Malfoy!" kata Hermione pelan.
Draco yakin ia tidak salah dengar. Draco tertawa. "Kau pasti bercanda kan?" tanya Draco. "Apa ini Hermione? Bercandamu sudah tidak lucu lagi." Kata Draco.
"Aku tidak bercanda Draco." Kata Hermione. "Aku tidak mencintaimu."
"Hermione, kau pasti sudah gila!" kata Draco, Ia berdiri mendekat dan mencengkram lengan gadis di depannya."Apa lagi kali ini? Lucius mengatakan sesuatu padamu? Astoria? Siapa? Siapa yang membuatmu meragukan aku lagi?" tanya Draco.
"Tidak ada, tidak ada yang membuatku melakukan ini, aku hanya tidak mencintaimu Malfoy." kata Hermione
"Bagaimana bisa kau tidak mencintaiku lagi? Hermione, tatap mataku dan katakan kalau kau tidak mencintaiku lagi." Kata Draco masih menolak percaya.
Hermione melihat ke mata silver di depannya. "I don't love you anymore." Kata Hermione tanpa keraguan di suaranya.
Draco melepaskan tanganya dari pergelangan tangan Hermione.
"I'm sorry…" Kata Hermione sambil berkaca-kaca.
"Tidak, kau pasti dipengaruhi seseorang kan?" tanya Draco masih tidak mau menyerah.
Hermione teringat rencana cadangannya jika Draco tidak percaya alasannya bahwa ia tidak mencintainya lagi. Haruskah Ia melakukan ini? Hermione yakin bahwa jika ia mengatakan hal ini Draco akan langsung meninggalkannya, Draco akan sangat membencinya sampai-sampai tidak akan mau melihat mukanya lagi.
"Draco, dari awal aku hanya berhubungan denganmu karena aku menginginkan uangmu." Kata Hermione memulai. "Aku hanya menginginkan uangmu, tapi kemudian aku sadar, jika kau meninggalkan keluargamu itu berarti Lucius akan mencabut semua fasilitas-fasilitasmu, dan artinya aku tidak akan mendapatkan apa-apa." Kata Hermione tanpa ekspresi.
"Jadi sebaiknya kau pergi sekarang, karena aku sama sekali tidak pernah mencintaimu Draco." Kata Hermione perlahan agar Draco mendengarnya dengan jelas.
Draco benar-benar berharap ia akan terbangun dari mimpi, Hermione Granger tidak baru saja mengatakan hal itu padanya. Draco merasa seperti semua panca indranya tidak berfungsi. Apa yang baru saja dikatakan Hermione padanya? Ini pasti semacam lelucon bodoh kan? Atau ini hanya mimpi?
Draco melihat Hermione yang berdiri di depannya tanpa emosi.
"I'm leaving." Kata Draco lalu pergi ke arah pintu.
Hermione mengangguk, membiarkan Draco pergi keluar, pergi dari hidupnya. Ini yang terbaik untuk mereka. Hermione menutup pintu apartementnya, menguncinya lalu membiarkan dirinya terduduk dan menangis disitu semalaman.
-Dramione-
Draco sedang duduk di flatnya, ia sedang menunggu Blaise dan Theo datang. Sepertinya rencana mereka harus dipercepat.
Bloody Hell.
Draco hampir splinching saat kembali ke apartementnya, ia tidak bisa berkonsentrasi, terlalu banyak hal yang terlintas di pikirannya. Draco sampai di flatnya lalu mengambil segelas air putih. Ia harus bisa berpikiran jernih. Draco duduk dan mencerna apa yang baru saja terjadi.
Dan sesuatu terlintas dipikirannya. Hermione Granger adalah pembohong yang payah. Draco menyeringai, mengingat pertengkarannya barusan dengan Hermione.
Draco tahu persis ada sesuatu yang disembunyikan Granger darinya. Apa Granger kira Ia akan percaya begitu saja kalau gadis itu tidak mencintainya lagi? Hanya menginginkan hartanya? Ugh, apa Hermione pikir dirinya sebodoh Weasley?
Draco tahu betul Hermione masih mencintainya, Ia tahu dari bagaimana beberapa hari yang lalu Hermione menatap matanya, memeluknya, menciumnya, tidak ada orang yang bisa berbohong atau berpura-pura mencintai seseorang seperti itu.
Kemudian bullshit yang diutarakan perempuan itu tentang hanya menginginkan hartanya, dasar bodoh, apa perempuan yang hanya menginginkan hartanya akan marah-marah karena dibelikan ponsel mahal? Draco masih ingat bagaimana Hermione marah padanya karena ia boros sekali saat mereka membeli produk Apple waktu itu.
Lagipula beberapa hari yang lalu Hermione baru saja menolak Draco yang ingin memberikannya uang untuk biaya kuliahnya. Draco tertawa, Hermione Granger harus berlatih lebih sering jika ingin membohongin Pangeran Slytherin.
Akhirnya Draco sampai pada kesimpulan bahwa apa yang baru saja dikatakan Hermione adalah bohong. Hermione masih mencintainya, hanya saja ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.
Karena itu ia memanggil Blaise dan Theo ke flatnya.
Setelah Fletcher pergi tadi sore, Draco bertemu dengan Blaise dan Theo untuk membicarakan rencana mereka. Rencana Draco tepatnya, ada beberapa hal yang harus dilakukannya.
Pertama, mengubah status kepala keluarga Malfoy yang masih dipegang oleh Lucius kepadanya, secepat mungkin. Draco harus dengan cepat mengambil alih kekuasaan. Sebelum terlambat, karena jika Lucius sudah selesai menjalani masa tahanan rumahnya, maka kemungkinan Draco untuk menguasai semuanya akan bertambah kecil.
Kedua, mencari tahu apa yang sebenarnya direncanakan Lucius dan Astoria, sebenarnya akan lebih mudah jika mereka bisa mendapatkan informasi dari Fletcher, karena itu Fletcher juga akan menjadi fokus utama mereka, bagaimana cara mendapatkan kesetiaan pria tua itu.
Ketiga, membuat Hermione kembali padanya. Bagaimanapun caranya.
Tidak lama suara Seezy menyapa seseorang terdengar, Blaise dan Theo sudah datang.
"Ada apa mate?" tanya Theo pada Draco.
Draco menceritakan pertengkarannya dengan Hermione barusan.
"Blimey, kau memanggil kami hanya untuk menceritakan masalah percintaanmu?" tanya Blaise bercanda.
Draco memutar matanya, ia sedang serius. "Jadi apa kalian sudah mendapatkan informasi?" tanya Draco.
"Blimey Malfoy, kau bahkan baru memberitahu kami rencanamu tadi sore dan sudah mengharapkan hasil saat malam?" tanya Blaise tidak percaya.
"Well, sebenarnya." Theo memulai pembicaraan. "Aku sudah mendapatkan beberapa informasi dari Daphne." Kata Theo.
"See!" kata Draco pada Blaise, "Jika kau bergerak pasti kau sudah mendapatkan sesuatu Zabini, tapi kau pasti tidak melakukan apa-apa kan?" kata Draco pada temannya itu. Blaise hanya memutar matanya, lalu mereka berdua mendengarkan pemaparan Theo.
"Daphne mengatakan bahwa seorang pria tua sudah beberapa kali datang dan bertemu dengan Astoria, dan dari penjelasannya, sepertinya pria tua itu Fletcher." Kata Theo.
"Sepertinya Fletcher memang terlibat dalam rencana ayahmu dan Astoria." Blaise menarik kesimpulan.
"Menurut Daphne, mereka berdua tidak terlalu banyak berinteraksi, kemungkinan Fletcher hanya berperan sebagai pengganti Owl." Kata Theo lagi.
Draco mengangguk, surat yang dibuat oleh Lucius memang harus di cek oleh auror terlebih dahulu. Jadi ia kemungkinan besar menyuruh Fletcher mengirimkan sesuatu yang tidak bisa di cek oleh auror terlebih dahulu.
"Aku sudah meminta Daphne untuk memperhatikan gerak-gerik Astoria lebih detail lagi." Kata Theo memberitahu.
"Thanks mate, apa ada lagi yang kau tahu?" tanya Draco.
"As the matter of fact…" Theo memulai lagi.
"Blimey Theo, kau pasti langsung bergerak begitu Draco memberi kita instruksi kan?" kata Blaise tidak percaya bahwa Theo masih punya informasi lain lagi.
Kali ini Draco dan Theo yang memutar mata mereka pada Blaise.
"Carter Fletcher, tidak seperti yang kita bayangkan." Kata Theo memulai. "Ia tidak pernah terlibat sedikitpun dalam semua perbuatan ilegal ayahmu, ia bersih dari dark magic, dan tidak pernah menjadi pengikut Voldemort." Kata Theo lagi.
"Kau yakin?" tanya Draco tidak begitu percaya.
Theo mengangguk. "Aku punya kenalan di perusahaan ayahmu, dan ia mengatakannya padaku, kalau Fletcher tidak lebih dari seorang pria normal yang rajin bekerja. Ia tahu dimana batasannya, dan tahu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukannya." Kata Theo lagi.
"Tapi ada sesuatu yang menarik, Fletcher seharusnya sudah pensiun sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Dan sepertinya Lucius memaksanya untuk tinggal lebih lama. Ia pasti orang kepercayaan Lucius, aku tidak yakin kita bisa merekrutnya ke pihak kita." Kata Theo lagi.
Draco menghela nafasnya.
"Theo, aku ingin kau mencari tahu lagi tentang Fletcher, kalau ia memang orang kepercayaan Lucius maka kemungkinan ia benar-benar bersih sangat kecil, jika kita bisa menemukan sesuatu, kita bisa menjadikan hal itu untuk jadi alat blackmailing." Kata Draco memberi perintah.
Draco kemudian melirik Blaise.
"Iya… iya… aku tahu, aku akan mulai bergerak besok." Kata Blaise menggerutu.
"Sudahlah, Draco apa kau punya Firewhiskey disini?" tanya Theo mencairkan suasana.
-Dramione-
Keesokan harinya, saat Draco berjalan menuju ruangannya, hampir semua orang melihatnya dengan tatapan aneh. Draco memutuskan untuk tidak menanggapi orang-orang dan tetap berjalan ke ruangannya dengan tenang.
"Oh, Draco… I'm sorry.." kata seorang perempuan padanya sebelum ia masuk keruangannya. Draco berusaha mengenali siapa perempuan itu, Ia kemudian mengenali perempuan itu sebagai karyawan di departement Hubungan Muggle.
Draco melihatnya dengan tatapan aneh lalu mengangguk dan masuk keruangannya. Draco tidak tahu apa yang terjadi dan duduk dimejanya, ia melihat ke meja Hermione dan sepertinya perempuan itu tidak masuk lagi hari ini.
Draco menggeleng dan melihat tumpukkan surat yang ada di meja Hermione. Saat itu sesuatu yang dikenalnya menarik perhatiannya. Kenapa amplop keluarga Malfoy ada di meja Hermione?
Draco berjalan dan baru akan mengambil amplop itu saat sesuatu yang lebih mengerikan lagi terlihat olehnya. Daily Porphet edisi hari itu tegeletak di meja Hermione. Dan yang membuat matanya nyaris keluar adalah foto dan judul artikel yang berada di halaman paling depan.
Hermione dan Diggory bergandengan tangan memasuki Flourish and Blotts. Granger pasti sudah gila.
Draco mengambil koran itu lalu membacanya.
Hermione Granger?
War Heroine
or
Neighborhood Slut?
Hermione Granger baru saja terlihat kemarin siang dengan mantan kekasihnya Cedric Diggory, mereka terlihat berjalan sambil bergandengan tangan di Diagon Alley kemudian masuk ke Flourish and Blotts. Setelah dari toko buku Mr. Diggory lalu mengantarnya kembali ke apartementnya.
Ada apa sebenarnya dengan Miss Granger, satu hari ia terlihat dengan Mr. Diggory, hari berikutnya dengan Mr. Malfoy, lalu hari berikutnya dengan Mr. Diggory lagi. Apa satu pria tampan tidak cukup baginya?
Sampai saat ini kami belum bisa mendapatkan konfirmasi dari pihak bersangkutan apakah Miss Granger kembali menjalin hubungan dengan Mr. Diggory dan sudah mengakhiri hubungannya dengan Mr. Malfoy. Atau bahkan Mr. Malfoy tidak mengetahui kejadian ini?
Kejadian ini membuat seluruh dunia sihir bertanya-tanya ada apa dengan Miss. Granger, kenapa ia tiba-tiba berubah? Atau memang ini jati dirinya yang sebenarnya?
Pembahasan lebih lengkap… halaman 11
Draco melempar koran yang dipegangnya ke tong sampah terdekat, ia kembali ke mejanya dan memutuskan untuk membaca surat yang tadi sudah diambilnya.
Beberapa orang di ruangan mereka melihatnya dengan tatapan aneh, jika orang-oran diluar melihatnya dengan tatapan kasihan, orang-orang diruangannya melihatnya dengan tatapan bingung.
Draco menghela nafasnya, sekarang pasti hampir seisi dunia sihir merasa kasihan padanya karena menurut mereka Hermione Granger berselingkuh dengan Cedric Diggory, tapi orang-orang di ruangan mereka tahu lebih baik, mereka mengenal Hermione sudah lama dan pasti tidak akan dengan mudahnya percaya bahwa Hermione bisa selingkuh begitu saja tanpa alasan, dan sepertinya menurut mereka satu-satunya alasan Hermione selingkuh adalah karena Draco melakukan sesuatu yang buruk.
Draco baru akan membuka surat yang dipegangnya saat Mr. Cole muncul di ruangan mereka.
"Mr. Malfoy, aku ingin bicara denganmu." Kata Mr. Cole lalu keluar lagi. Draco mengerang pelan, ia menyimpan surat yang belum dibacanya lalu menuju ke ruangan Mr. Cole
"Silahkan duduk." Kata Mr. Cole pada Draco. Draco kemudian duduk di depan meja Mr. Cole.
"Sebenarnya ada apa antara kau dan Hermione?" tanya Mr. Cole tanpa basa-basi. Draco tidak langsung menjawab, ia sedang merancang jawaban paling moderat yang ia bisa saat Mr. Cole bicara lagi.
"Aku kira hubungan kalian baik-baik saja, kenapa tiba-tiba Hermione meminta cuti beberapa hari lalu masuk koran dengan berita seperti ini? Apa kau ada hubungannya dengan ini?" tanya Mr. Cole curiga.
"Tidak, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan berita Granger di koran." Kata Draco membela dirinya.
Ia ingin tertawa sebenarnya, saat orang-orang diluar sana mengasihani dirinya karena Hermione Granger berselingkuh dengan pria lain, Mr. Cole justru menuduhnya melakukan sesuatu yang buruk pada Hermione.
"Lalu apa kau bisa menjelaskan masalah ini?" tanya Mr. Cole masih melihatnya penuh curiga.
"Sir, aku bahkan baru melihat koran beberapa menit yang lalu, jadi percayalah aku sama tidak tahunya dengan anda." Kata Draco. "Aku bahkan tidak tahu kenapa Granger mengajukan cuti." Kata Draco lagi.
"Kau tidak menghancurkan hatinya atau semacamnya kan?" tanya Mr. Cole lagi.
Menghancurkan hatinya my arse. Pikir Draco dalam hati, yang ada perempuan itu yang menghancurkan hatinya.
Draco menggeleng. "Sir, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada Granger belakangan ini, tapi aku sedang berusaha mencari tahu ada apa dengan perempuan itu, dan berharap semoga ia akan segera kembali normal." Kata Draco lagi.
Mr. Cole masih tetap memandang Draco penuh curiga, bagaimanapun juga di matanya Hermione adalah perempuan baik-baik dan Draco pria brengsek, jadi keadaan mereka sekarang yang dilihatnya benar-benar anomali.
"Baiklah, kau boleh keluar." Kata Mr. Cole menyuruh Draco pergi. Draco mengangguk lalu keluar dari ruangan bossnya.
Ia kembali keruangannya dan duduk di mejanya, Ia baru akan membuka lacinya saat ponselnya berbunyi.
Draco melihat siapa yang meneleponnya. "Ada apa Blaise?" tanya Draco tidak bersemangat.
"Blimey, Mate… kau sudah lihat Prophet pagi ini?" tanya Blaise setengah berteriak.
"Ugh… aku tidak ingin membicarakannya, kurasa seluruh London sudah melihat Prophet hari ini." kata Draco pelan.
"Blimey, apa yang dilakukan Granger dengan Diggory?"
"Kau pikir aku tahu? Tanyakan saja pada si Diggory sialan itu! Sudahlah aku banyak pekerjaan." Kaya Draco kesal lalu menutup sambungan teleponnya.
Draco kesal, setelah dipikir-pikir apa yang dilakukan mereka berdua? Apa yang dilakukan Granger dengan Diggory? Apa Granger benar-benar memang sudah tidak mencintainya lagi? Atau ini lagi-lagi hanya cara menyedihkan perempuan bodoh itu untuk membuatnya semakin yakin bahwa Granger tidak mencintainya lagi?
Apa yang ada dipikiran Hermione Granger sebenarnya?
Draco menghela nafasnya, ia membuka surat yang ada di tangannya.
Hermione,
Aku tidak tahu bagaimana lagi harus mengatakannya, aku sudah mendengar dari Lucius kalau Draco sudah pergi dari rumahmu, aku sungguh berterima kasih, aku harap kau segera mengakhiri hubunganmu dengan Draco.
Terimakasih banyak.
Narcissa.
-To Be Continued-
-dramioneyoja
