All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

Chapter 21 : Seezy sangat menyayangi Master Ferret.

21.

Seezy POV.

"Master…" Seezy memanggil Master Draco pelan, Seezy berusaha membangunkan master yang belum beranjak dari kasurnya sejak tadi pagi. Master Draco pulang tadi malam sambil mabuk, padahal sudah mabuk tapi master masih tetap mencari Firewhiskey lagi dan masih minum sampai tertidur di ruang tamu.

Seezy mengangkat master ke kasur dengan sihir. Seezy melepaskan sepatu master dan membiarkan master tidur.

"Master… makanan sudah siap." Seezy memberitahu lagi. Master membuka sebelah matanya, master kemudian mengerang.

"Ugh, Seezy, bisakah kau ambilkan aku Hangover Potion?" Master bertanya.

Seezy mengangguk. Seezy sedih melihat master Draco.

Seezy awalnya senang tinggal di rumah Miss SPEW, Miss SPEW baik, ramah, cantik, dan Seezy juga bisa melihat kalau Master Draco sangat mencintai Miss SPEW.

Seezy senang membersihkan rumah Miss SPEW, tidak ada lukisan galak yang memarahi Seezy, warna rumah Miss SPEW juga cerah dan hangat tidak gelap seperti di Malfoy Manor, Seezy juga senang memberi makan Crookshanks dan bermain dengan Crookshanks saat rumah Miss SPEW sudah bersih.

Tapi kemudian Miss SPEW menyuruh Master Draco dan Seezy pergi.

Seezy tahu kalau Master pasti sedih sekali, tapi Seezy juga tahu kalau ada yang tidak beres, Master juga bilang kalau ada yang tidak beres, karena itu Master Draco meminta bantuan Master Zabini dan Master Nott untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Kemarin malam Master Draco pergi dan bilang akan menemui Miss SPEW lagi, tapi kemudian Master pulang dalam keadaan mabuk. Sepertinya pertemuan Master dengan Miss SPEW tidak berjalan baik.

Seezy ingin melakukan sesuatu untuk membantu Master, Seezy ingin melihat Master dan Miss SPEW bahagia, apa Seezy boleh ikut campur dalam hubungan Master dan Miss SPEW?

-Dramione-

Draco menghabiskan sarapan yang dibuat oleh Seezy sambil membaca Prophet, Hermione dan Cedric lagi. Ia harus benar-benar membuat rencana yang matang untuk membuat Hermione kembali padanya.

Mendatanginya lagi dan mengatakan padanya bahwa Draco masih mencintainya jelas tidak akan membawa banyak perubahan, Hermione pasti akan tetap bersikeras pada pendiriannya, Hermione pasti akan berkata bahwa ia tidak mencintai Draco lagi padahal nyatanya perempuan itu masih mencintainya.

Draco meminum kopinya lalu baru akan menggunakan saluran Floo saat ia sadar ini sabtu pagi dan kemungkinan besar Theo dan Blaise sedang bersama pasangan mereka menikmati sabtu pagi yang indah di kasur. Ugh, betapa ia merindukan Hermione.

Semoga saja Hermione tidak menghabiskan malam dengan Cedric atau semacamnya, Draco yakin tidak, untuk apa? Hermione hanya menggunakan Cedric untuk meyakinkan Draco bahwa Ia tidak mencintai Draco lagi, iya. Draco yakin itu.

Draco merubah rencananya, ia tidak akan mengganggu Theo dan Blaise dulu, ia akan mendatangi Astoria. Yup, Astoria Greengrass.

.

Draco ber-apparating ke kediaman Greengrass dan disambut oleh House-Elfnya, ia dipersilahkan masuk dan disuruh menunggu di ruang tunggu. Tidak lama Astoria muncul dan tersenyum.

"Draco?" Astoria bertanya sambil tersenyum lebar dan berjalan menghampiri Draco.

Draco bergidik mendengar suara melengking Astoria, tapi ia memasang senyumannya. "Astoria, aku tidak mengganggumu kan?"

"Tidak, tentu saja tidak." Astoria kemudian duduk di depan Draco.

"Apa kau sibuk hari ini?" Draco bertanya, ia berencana mengajak Astoria pergi keluar.

"Tidak. Aku tidak berencana melakukan apapun hari ini." Astoria masih tersenyum seperti orang bodoh.

"Apa kau mau berjalan-jalan sebentar? Di Diagon Alley? Minum teh atau semacamnya?"

"Tentu saja, tentu, aku akan bersiap-siap sebentar." Kata Astoria lalu langsung pergi kembali ke kamarnya.

Draco memijit ujung hidungnya, mengerikan sekali, Astoria bahkan sudah mengeriting rambutnya. Draco tahu ia harus berhati-hati dalam menjalankan rencananya ini, kalau tidak ini bisa jadi sangat berbahaya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian Astoria keluar lagi dari kamarnya dengan pakaian Muggle. Draco memasang senyuman palsunya, tingkat obsesi perempuan di depannya ini benar-benar mengerikan.

"Apa pakaianku bagus?" Astoria bertanya, ia menggunakan jeans ketat berwarna biru muda dan kemeja juga cardigan, tidak ada robe atau dress panjang atau semacamnya yang berhubungan dengan kata pureblood.

Draco mengangguk, tidak tahu harus menjawab apa.

Draco mengajak Astoria keluar hari ini dengan dua tujuan. Pertama, ia ingin meyakinkan Lucius dan Astoria sendiri bahwa Ia sudah tidak berhubungan dengan Hermione dan ingin membuat seakan-akan Draco mulai menerima perjodohannya.

Draco, Theo, dan Blaise, dibantu Fletcher telah membuat rencana yang akan membuat Lucius dan Astoria tidak akan bisa berbuat apa-apa setelah ini.

Kedua, Draco ingin membuat Hermione cemburu. Draco tidak bisa lagi datang pada perempuan itu dan memelas-melas cintanya lagi. Tapi Draco bisa berpura-pura sudah melupakannya dan akhirnya membuat Hermione cemburu dan akhirnya dengan kakinya sendiri kembali padanya.

Draco menyeringai membayangkan make-up-sex macam apa yang akan mereka lakukan nanti.

"Draco, kenapa kau tersenyum seperti itu?" Astoria menyadarkan Draco dari lamunannya.

"Ah, tidak, tidak ada apa-apa aku hanya sedang memikirkan tentang bagaimana reaksi ibuku jika kau datang kerumah." Draco berbohong.

"Oh, Draco aku senang sekali akhirnya kau melupakan Granger. Dan aku tidak sabar ingin mengumumkan hubungan kita. Aku yakin Narcissa akan senang sekali jika tahu kalau kau sudah mulai menerima hubungan kita, kapan kau akan kembali ke manor?"

"Tidak, aku tidak punya rencana untuk kembali ke Manor. Astoria, sebenarnya aku ingin membangun keluargaku dari nol, aku ingin tinggal dirumah yang sederhana, tanpa peri rumah dengan istri dan anak-anakku." Draco sengaja memancing Astoria, Draco tahu Astoria akan lari terbirit-birit jika ia tahu akan hidup susah.

Astoria terbata-bata dengan jawabannya. "Draco, jangan bercanda, lalu siapa yang akan mengurus Manor? Bagaimana dengan harta yang akan ditinggalkan ayahmu? Perusahaan ayahmu? Kau tidak mungkin membiarkannya begitu saja kan?" Astoria kemudian tertawa gugup

"Oh, Astoria aku yakin kau bisa menerima keputusanku kan? Aku tidak ingin mewarisi harta kekayaan orangtuaku." Kata Draco berbohong. "Kita akan tinggal dirumah kecil, di desa, mengurus anak bersama, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, memasak, membersihkan rumah…" Draco mulai berfantasi.

Awalnya ia hanya ingin menakut-nakuti Astoria dengan gambaran hidup sederhana, ia tahu tipe-tipe perempuan macam Astoria bahkan tidak tahu bagaimana cara mencuci piring atau menyapu lantai.

Tapi kemudian ia mulai membayangkan kehidupannya dengan Hermione.

Ia, Hermione, dan Scorpius kecil dan Cassiopea kecil, di rumah yang besar tapi tidak sebesar manor, satu atau dua peri rumah akan membantu mereka, Hermione akan mengurus Cassie kecil, dan Draco bermain dengan Scorpius.

Scorpius dan Cassie akan memiliki rambut pirang khas keluarga Malfoy dan mata silver Malfoy, tapi mereka mungkin akan memiliki hidung Hermione, atau bibirnya, atau mungkin rambut mereka akan keriting? Draco tidak bisa menahan senyumnya.

Mereka pasti akan sangat bahagia, Scorpius dan Cassiopea pasti akan tumbuh jadi anak yang pintar, tampan, cantik, berani, cerdik… oh mereka akan jadi anak paling sempurna di dunia, kenapa? Karena mereka akan dibesarkan penuh kasih sayang.

Draco bisa membayangkan dirinya pulang kantor, mendapatkan Hermione dan anak mereka menunggunya untuk makan malam, lalu mereka bercerita tentang hari mereka masing-masing, lalu saat akhir pekan mereka jalan-jalan, ke kebun binatang Muggle atau taman hiburan Muggle.

Shit. Draco Malfoy, kau benar-benar menyedihkan.

Draco menyadari ia sudah berkhayal terlalu jauh.

Love-sick Puppy

"Draco, aku pikir pergi dari Manor dan tidak menerima warisan ayahmu bukan sesuatu yang baik. Bagaimana kau akan hidup tanpa uang?" Astoria memakan umpan Draco bulat-bulat.

Draco tersenyum, ia tidak membalas perkataan Astoria lagi. Tidak lama mereka kemudian keluar dari restoran tempat mereka makan dan melihat dengan seseorang yang paling ingin dan sekaligus tidak ingin Draco temui.

Hermione Granger.

Hermione dan Cedric berjalan didepannya, mereka berdua bergandengan tangan sambi tertawa di trotoar di sebrang jalan tempat Draco berdiri. Hermione dan Cedric seperti membicarakan sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan.

Cedric menjelaskan sesuatu dengan kedua tangannya, kemudian Hermione tertawa dan memukul lengan Cedric pelan, mereka kemudian memasuki toko buku dan menghilang.

"Hermione Granger dan Cedric Diggory terlihat cocok ya..." Astoria menggandeng tangan Draco. Draco tidak menjawab, ia mengangguk pelan dan membiarkan Astoria membawanya entah kemana.

.

"Miss Granger… Miss Granger… Mr. Diggory, Mr Diggory…" beberapa wartawan berusaha menarik perhatian Hermione dan Cedric yang berjalan di sepanjang jalan Diagon Alley, mereka baru keluar dari toko buku dan baru akan memasuki sebuah toko roti saat beberapa wartawan langsung menghampiri mereka.

"Miss Granger, apa komentar anda? Kenapa anda seperti sengaja berganti-ganti pasangan?"

"Siapa yang lebih baik Miss Granger? Mr. Malfoy atau Mr. Diggory?"

"Apa motif anda sebenarnya?"

"Mr. Diggory apa anda mengejar Miss Granger lagi karena ingin bersaing dengan Mr. Malfoy?"

"Belakangan ini perusahaan anda mulai mengejar perusahaan Malfoy bukan?"

"Mr. Diggory, Miss Granger apa komentar anda?"

"Apa kalian akan segera menikah?"

Cedric merangkul Hermione, melindunginya dari wartawan dan lampu kilat dari kamera mereka, ia membawa Hermione masuk lebih cepat agar terhindar dari buruan wartawan-wartawan itu.

"Ugh, aku benci wartawan." Cedric berseru saat mereka sudah masuk ke toko roti itu dan duduk di salah satu meja yang disediakan disana. Hermione mengangguk setuju.

Mereka lalu duduk dan memesan beberapa roti, Cedric kemudian memesan kopi dan Hermione memesan susu.

Hermione tersenyum saat ia memesan segelas susu, ia teringat Draco yang tidak suka minum susu, mungkin Draco tidak menyukai susu karena takut rambut dan kulitnya menjadi lebih putih lagi dari sekarang.

"Hermione, aku ingin bertanya." Kata Cedric yang tahu kenapa Hermione tiba-tiba tersenyum sendiri.

"Tanyakan saja." Kata Hermione mengangguk.

"Apa kau benar-benar mencintai Draco?"

Hermione tidak langsung menjawab. Ia tahu betul apa jawabannya, hanya saja ia tidak merasa nyaman mengatakan hal ini di depan Cedric.

"Jawab saja, tidak perlu memikirkan perasaanku." Kata Cedric tahu arti diam Hermione.

Hermione tersenyum tidak enak, terkadang ia ingin tertawa karena keadaannya yang absurd, pria di depannya benar-benar mengerti dirinya sendiri, bahkan lebih dari Hermione mengenal dirinya.

Cedric tahu apa yang ada dipikirannya hanya dengan melihat ekspresi wajahnya atau gestur tubuhnya, seperti barusan.

"Well…" Hermione memulai. "Jika aku bilang aku tidak mencintainya maka aku berbohong." Hermione memegangi tissu di depannya, melipat-lipat ujungnya dengan tangannya.

"Awalnya aku juga tidak menyangka bahwa aku bisa jatuh cinta pada seseorang secepat ini, kami sudah menjadi rekan kerja selama beberapa waktu, dan tiba-tiba saja aku menyadari aku mencintainya." Hermione menjelaskan.

Cedric mengangguk.

"Tapi aku mengerti posisiku dan posisinya." Hermione berkata lagi. "Kami terlalu berbeda."

Cedric melihat Hermione yang kemudian memakan roti yang ada di depan mereka. Ia bisa melihat bagaimana cara Hermione melihat Draco, perasaan cinta yang ada dimatanya bahkan lebih banyak dari bagaimana Hermione memandang dirinya dulu.

Ia tahu Hermione dulu mencintainya, tapi ia juga tahu kalau Hermione jauh-jauh-jauh lebih mencintai Draco Malfoy. Lucky Bastard.

"Hermione, apa kau benar-benar yakin akan keputusanmu ini? Well, aku mengerti kau pasti sudah mempertimbangkan hal ini matang-matang, logikamu dan semuanya, tapi apa kau yakin tidak akan menyesal? Satu tahun kedepan? Lima tahun? Sepuluh tahun? Apa kau yakin tidak akan merindukan Malfoy?" Cedric bertanya.

Cedric meminum kopinya. Ia bukan tipe pria yang suci dan bersih seperti banyak orang bayangkan, ia juga bisa berbuat jahat, tapi memang ia jarang melakukannya.

Cedric ingin Hermione bahagia. Entah pikiran itu muncul darimana, sepertinya ia benar-benar menyayangi Hermione lebih dari seorang pria menyayangi seorang wanita, benar-benar lebih dari itu. Ia mencintai Hermione, jelas. Tapi ia juga ingin menjadi temannya, sahabatnya, kakak laki-lakinya. Dan kalau tidak bisa menjadi kekasihnya, kalau tidak bisa menjadi satu-satunya pria di sisa hidup perempuan di hadapannya, maka prospek menjadi teman, sahabat, dan sekaligus kakak laki-laki juga tidak buruk.

Hermione menggeleng. "Tidak, aku mungkin akan merindukannya, tapi aku tidak akan menyesali keputusanku." Hermione tersenyum kecil.

"Mione, penyesalan selalu datang belakangan." Cedric menasihatinya lagi.

"Cedric Diggory? Sejak kapan kau berubah jadi pria yang ahli dalam masalah percintaan?" Hermione kemudian tertawa. Cedric juga tertawa.

Mereka kemudian menghabiskan waktu di toko roti itu sambil bercerita tentang banyak hal, Hermione meneror Cedric untuk bercerita tentang perjalanannya. Dan Cedric dengan senang hati menceritakan detail-detail perjalanannya.

Saat langit sudah gelap, Cedric mengantar Hermione kembali ke apartement-nya, dengan janji akan menjemputnya sepulang kerja hari senin. Hermione berkata bahwa Cedric tidak perlu melakukannya jika sibuk Cedric berkata bahwa ia tidak sibuk dan akan dengan senang hati menjemput Hermione.

Hermione berterimakasih banyak karena Cedric sudah mau repot membantunya dengan berpura-pura menjadi kekasihnya lagi. Ia kemudian mencium pipi Cedric dan masuk keapartementnya.

.

Seezy tidak tahu apa yang akan dilakukannya ini menyalahi kode etik peri rumah atau tidak.

Tapi Seezy tidak peduli.

Setelah merapikan rumah, dan setelah Master Draco memberi tahu Seezy bahwa ia akan pulang malam dan tidak makan malam dirumah, Seezy ber-apparating ke apartement Miss SPEW.

Seezy bermain sebentar dengan Crookshanks sambil menunggu Miss SPEW pulang.

"Seezy?" Hermione bertanya saat masuk ke apartementnya dan menemukan Seezy sedang bermain dengan kucingnya.

"Miss Hermione…"

"Apa yang kau lakukan disini? Apa Draco menyuruhmu datang?" Hermione bertanya curiga.

"TIdak, Seezy datang karena keinginan Seezy sendiri." Kata Seezy cepat penuh ketakutan. "Seezy tahu ini salah, harusnya Seezy tidak melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan Master Draco, tapi Seezy benar-benar harus bicara pada Miss Hermione." Seezy menjelaskan sambil ketakutan.

Hermione duduk disofanya. "Seezy, duduklah, dan katakan apa yang mau kau katakan." Hermione mempersilahkan Seezy duduk di depannya.

Seezy pelan-pelan naik ke sofa di depan Hermione dan duduk.

"Kau mau minum sesuatu?" Hermione bertanya.

"Tidak perlu Miss Hermione, Seezy tidak haus." Kata Seezy menunduk terus, melihat kearah kakinya.

"Jadi apa yang mau kau katakan?" Hermione bertanya.

Seezy menghela nafasnya. "Seezy sedih melihat Master Draco sedih." Seezy melihat Hermione dengan kedua mata besarnya yang berkaca-kaca. "Seezy ingin Miss Hermione kembali menerima Master Draco." Seezy sepertinya akan mulai menangis sebentar lagi.

"Apa Seezy bisa melakukan sesuatu agar Miss Hermione memaafkan Master Draco?" Seezy benar-benar menangis.

Hermione menghela nafasnya. "Seezy, Draco tidak salah apa-apa, kau juga tidak salah apa-apa, aku dan Draco memang tidak cocok bersama." Hermione berusaha menjelaskan.

"Apa karena Master Draco suka meletakkan kaus kakinya sembarangan?" Seezy bertanya. "Master Draco sudah tidak meletakkan kaus kakinya sembarangan lagi, Master Draco juga tidak membiarkan lantai kamar mandi basah setelah mandi, Master Draco bahkan meminta Seezy menyiapkannya segelas susu saat sarapan."

"Master Draco sudah berubah, Master Draco ingin menjadi lebih baik, agar Miss Hermione mau menerimanya kembali." Seezy menjelaskan dengan air mata yang mengalir dari kedua kelopak matanya yang besar.

Hermione mengepalkan tangannya, hatinya sakit mendengar penjelasan Seezy barusan. Hermione menyukai semua hal-hal kecil yang dilakukan Draco, semua kebiasaan joroknya yang sudah mulai Hermione terima dengan hati terbuka dan lapang dada, kebiasaan joroknya yang malah justru membuat mereka melengkapi satu sama lain.

Hermione sedih mendengar cerita Seezy, bagaimana Draco berusaha merubah dirinya, bahkan sampai memaksa dirinya minum susu yang tidak disukainya.

"Seezy, bukan karena itu, aku tidak memutuskan hubunganku dengan Draco karena hal-hal itu, aku memutuskan hubungan kami karena kami memang benar-benar tidak cocok. Bukan hanya karena kebiasaan kami yang berbeda, tapi karena kami berbeda. Sangat berbeda, kau harus mengerti ini Seezy." Hermione bingung bagaimana menjelaskannya.

"Apa karena Miss Granger adalah seorang muggle-born dan Master Draco seorang pureblood?" Seezy bertanya lagi.

Hermione mengangguk. "Kurang lebih seperti itu, ada terlalu banyak alasan yang tidak bisa dijelaskan Seezy." Hermione menjelaskan.

Seezy menghapus air matanya dengan tangannya, kemudian berdiri. "Seezy harus pulang, kalau tidak Master Draco akan tahu kalau Seezy datang kesini. Miss Hermione, Seezy mohon jangan beritahu Master Draco kalau Seezy datang kesini."

Hermione mengangguk. Sepertinya Seezy benar-benar datang karena keinginannya sendiri.

"Hati-Hatilah Seezy." Hermione berkata sebelum Seezy menghilang.

Hermione menghela nafasnya, ia melihat Crookshanks yang melihatnya aneh.

"Kenapa? Kau ingin bermain dengan Seezy?" Hermione bertanya kesal kemudian beranjak ke kamarnya. Crookshanks memutar matanya dan mengikuti Hermione ke kemarnya.

.

Draco sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Dia tidak ingin mendatangi Harry Potter dan meminta bantuan, tapi ia tidak punya pilihan lain.

Draco ditemani Blaise dan Theo mendatangi rumah kediaman Harry. Mereka mendorong satu sama lain untuk menekan bel rumah Harry.

"Blaise, kau tekan belnya." Draco mendorong Blaise ke dekat pintu.

"Theo, kau saja." Blaise mendorong Theo ke arah bel.

"Draco saja, kan dia yang perlu." Theo kemudian berjalan ke belakang kedua temannya.

"Kurasa Theo benar, kau yang harusnya menekan belnya." Kata Blaise setuju lalu mendorong Draco ke pintu.

Draco menghela nafasnya dan menekan bel pintu rumah Harry.

"Siapa?" Mereka bisa mendengar suara Ginny Potter dari dalam.

"Draco Malfoy." Blaise berteriak ramah memberitahu.

Draco memukul kepala Blaise. "Bodoh, kenapa kau berteriak seperti itu? Bagaimana jika ia mengira aku berniat buruk?" Draco bertanya.

Tidak lama pintu terbuka dan Ginny Potter dengan perut buncitnya keluar.

"Er… Halo…" Draco bingung harus menyapa bagaimana.

Theo menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan temannya yang bahkan tidak tahu cara menyapa seseorang.

Theo berjalan menarik Draco mundur dan berhadapan dengan Ginny.

"Halo, Mrs. Potter, apa kabar? Maaf mengganggu, apa kami bisa bertemu dengan Mr. Potter" Theo bertanya dengan ramah.

"Kalian ingin bertemu Harry?" Ginny bertanya ramah. "Masuklah, ia ada didalam." Ginny mempersilahkan trio Slytherin di depannya untuk masuk dan duduk di ruang tamu depan lalu memanggil Harry.

Tidak lama Harry muncul dan melihat ketiga tamunya dengan aneh, ia duduk di depan mereka, dan tidak lama Ginny datang dengan membawa baki berisi teh.

"Kalian ada perlu denganku?" Tanya Harry tidak mengerti apa yang dilakukan tiga pria di depannya, kenapa mereka bertiga tiba-tiba datang menemuinya.

Blaise menyenggol Draco yang duduk disampingnya. Theo yang duduk di sofa-single di sisi yang lain lagi-lagi hanya menggeleng.

"Aku ingin membicarakan tentang Lucius." Draco memulai.

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Insting Auror Harry langsung menyala.

"Apa hukumannya bisa dirubah menjadi hukuman kurungan? Di Azkaban?" Blaise langsung menyambar.

"Apa dia melakukan sesuatu?" Harry bertanya lagi.

Harry tahu tiga pria di depannya bukan orang bodoh, mereka pasti tahu jika Lucius melakukan sesuatu yang dianggap perbuatan kriminal maka mereka bisa langsung datang ke kantor Auror, bukan kerumahnya.

Tapi mereka mendatanginya kerumah, pasti ada sesuatu yang tidak wajar.

Draco menghela nafasnya. "Tidak, Lucius tidak melakukan perbuatan kriminal, tidak saat ini." Draco berusaha menjelaskan apa maksudnya, tapi kata-katanya sulit sekali keluar.

"Ginny bisa kalian tinggalkan kami sebentar?" Harry bertanya pada Ginny. "Ajak Zabini dan Nott ketaman belakang sebentar." Kata Harry mengerti Draco butuh privasi.

Blaise dan Theo menggeleng-gelengkan kepalanya, Blaise menggumamkan sesuatu seperti 'untuk apa mengajak kami kesini' 'membuat orang susah saja' tapi lalu mengikuti Ginny ke halaman belakang.

"Thanks." Draco bergumam.

"Jadi ada apa sebenarnya?" Harry bertanya.

"Lucius belum melakukan sesuatu, belum." Draco menekankan kata belum. "Lucius tidak menyetujui hubunganku dengan Hermione." Kata Draco lagi. "Dan ia akan melakukan segala macam hal untuk membuat kami berpisah."

"Bukankah kalian sudah berpisah?" Harry bertanya.

Draco memutar matanya. "Tapi aku tidak ingin berpisah dengan Hermione." Draco menjelaskan.

"Lucius atau Astoria mengirimkan surat palsu pada Hermione." Kata Draco memberitahu. "Aku tidak tahu berapa banyak surat yang sudah dikirim mereka pada Hermione."

Harry mengangguk. "Hermione sudah tahu. Ia datang membawa dua surat atas nama Narcissa dan isinya benar-benar berbeda, dan kami sudah mengeceknya, dan satu surat itu palsu." Kata Harry lagi.

Draco mengangguk "Dan mereka sedang merencakan hal lain yang lebih buruk dari itu. Karena itu aku butuh bantuanmu Potter." Kata Draco menjelaskan.

Draco kemudian menjelaskan rincian rencananya pada Potter.

"Aku tidak yakin aku bisa membantumu." Harry menjelaskan. "Well, aku dan Ron bisa membantumu, tapi masalah ini butuh lebih dari sekedar dua orang auror, jika kau ingin mengubah kepemilikan seluruh aset keluarga Malfoy, kita harus menghubungi pengacara keluargamu, Gringotts, dan Percy Weasley."

Draco mengangguk. "Aku mengerti, aku juga sudah membereskan masalah pengacara dan Gringotts, karena itu aku butuh bantuanmu untuk menghubungi Weasley." Kata Draco lagi.

"Malfoy, kau sadar kan? Jika kau melakukan ini, meskipun seluruh aset keluargamu akan beralih kepadamu, tidak akan banyak yang tersisa." Harry menjelaskan.

Draco mengangguk. Ia mendapat Informasi dari Fletcher kalau banyak harta dan aset keluarga Malfoy yang didapatkan secara ilegal selama kepemimpinan Lucius. Tidak heran semenjak Lucius memimpin perusahaan dan menjadi kepala keluarga Malfoy, kekayaan keluarga mereka meninggkat hampir tiga kali lipat.

Draco tahu, jika ia membongkar semuanya, maka ia akan rugi banyak, tapi ia tidak akan miskin, lagipula di brangkasnya masih ada warisan dari kakeknya dari pihak Black dan Malfoy. Ia tidak akan jatuh miskin dan bisa membuat Lucius dituntut untuk masalah lain dan semoga pria tua sialan itu dikurung di Azkaban.

"Well, aku akan mencoba menghubungi Percy dan menjelaskan masalah ini." kata Harry. "Dan masalah Astoria…" Harry menggantung kalimatnya.

Draco menunggu lanjutan kalimat Harry.

"Aku tidak bisa menjamin izin Obliviate dari kementrian akan turun, apalagi sepertinya dari ceritamu ia sudah di Obliviate lebih dari sekali, Obliviate punya risiko yang besar, dan lagipula, jika memang Astoria sudah terobsesi padamu, jika kita meng-Obliviate-nya ia akan terobesi lagi padamu, cepat atau lambat." Harry menjelaskan.

Draco mengangguk. Logika Harry benar, hanya saja selama ini kebetulan cara ini satu-satunya cara yang berhasil.

"Apa kau punya saran?" Draco bertanya.

"Saat ini belum." Harry menjelaskan. Apa yang diharapkan Malfoy darinya, jika ia mencari solusi dari suatu masalah harusnya ia menghubungi Hermione. Harry menghela nafasnya.

Ia masih tidak begitu menyukai Malfoy, tapi siapapun bisa melihat kalau Malfoy peduli pada Hermione, begitu juga sebaliknya, ia tahu kalau drama yang dimainkan Hermione dengan Cedric juga hanya sebuah kepura-puraan, ia tahu kalau pada akhirnya dua orang bodoh ini harusnya bersama.

"Dan kau tidak bisa meng-obliviate-nya sembarangan!" Harry memperingatkan Draco, tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh Malfoy dan kedua temannya. Risikonya besar, Astoria bisa kehilangan sebagian besar atau seluruh hilangannya atau lebih buruk ia bisa menjadi gila.

"Aku akan menghubungi Percy besok." Harry menjelaskan. "Dan jika ia menyanggupi ini maka aku dan Ron akan segera menggeledah kantor Malfoy Enterprise." Harry menjelaskan.

"Terimakasih banyak Potter." Draco mengangguk berterima kasih. Tiba-tiba perapian di dekat mereka menyala dan seseorang muncul.

"Harry, apa Ginny a...da?" Hermione terpaku melihat Draco yang duduk di depan Harry.

"Hermione, ada apa? Ginny dibelakang." Kata Harry memberitahu.

Ia sebenarnya ingin tertawa, situasi yang dihadapinya terlalu absurd. Bagaimana kedua orang dihadapannya begitu berjodoh, bagaimana bisa Hermione datang tepat saat Draco sedang bertamu?

Hermione tidak berkata apa-apa dan langsung berjalan ke belakang, ia bahkan tidak melihat Draco lagi dan langsung pergi.

"Sepertinya kau harus memperbaiki hubunganmu dengannya, atau semua rencanamu ini sia-sia." Harry menjelaskan.

"Bagaimana aku bisa memperbaiki hubungan kami jika ia bahkan tidak ingin melihat wajahku." Draco frustasi. "Potter, sebaiknya aku pulang." Kata Draco pamit.

Harry mengangguk. "Panggilah dua antek-antekmu." Harry kemudian berdiri dan berjalan ketaman belakang diikuti Draco.

Ginny dan Blaise juga Theo duduk dikursi taman sementara Hermione berdiri, mereka sedang membicarakan sesuatu.

"Theo, Blaise ayo kita pergi." Draco berseru dari pintu belakang. Theo dan Blaise melihat ke arah Draco, mereka berdua kemudian pamit pada Ginny dan Hermione kemudian pergi.

Draco bisa melihat Ginny mengatakan sesuatu pada Hermione, Hermione menggeleng, kemudian melihat kearahnya sebentar lalu berpaling lagi.

Draco menghela nafasnya.

Draco dan kedua temannya baru akan pergi saat Hermione memanggilnya.

"Malfoy!" Hermione berseru.

Ginny berjalan kearah mereka. "Biarkan Hermione dan Draco bicara." Ia kemudian menggiring Harry, Blaise, dan Theo ke dalam.

Draco berjalan mendekat, Hermione berdiri di dekat kursi, ia melihat Draco dengan tatapan aneh.

"Ada yang mau kau bicarakan denganku?" Draco bertanya saat posisi mereka sudah cukup dekat.

"Apa yang kau lakukan disini?" Hermione bertanya.

"Ada urusan dengan Potter." Draco menjawab.

Hermione melihatnya curiga.

Draco tertawa. "Kau berpikir kedatanganku kesini berhubungan denganmu?" Draco berbohong.

"Tidak…" Hermione menyangkal. "Aku hanya curiga, kenapa kau tiba-tiba ada urusan dengan Harry."

"Kurasa tidak ada yang aneh dengan kedatanganku." Draco menjawab, ia duduk di kursi yang ada di taman itu lalu menyilangkan kakinya. "Aku seseorang yang dihukum oleh kementrian, dan Potter seorang Auror. Kau tidak perlu mempertanyakan apa maksudku." Draco menjelaskan dengan nadanya yang penuh keangkuhan.

Jika Hermione ingin bermain dengannya, maka ia akan meladeninya. Game On Hermione Granger.

Hermione menyipitkan kedua matanya, tahu ada yang tidak beres, tapi perkataan Draco barusan memang masuk akal.

"Kau akan masuk kerja lagi hari Senin?" Draco bertanya.

"Iya."

"Kenapa kau mengambil cuti tiba-tiba?"

"Aku butuh istirahat, dan lagipula aku sedang mempersiapkan berkas untuk pendaftaran." Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, Hermione menyesal, harusnya ia diam saja, tidak perlu memberitahu hal-hal seperti itu pada Draco.

"Apa hubunganmu dengan Cedric berjalan lancar?" Draco bertanya lagi.

Hermione berpikir, ia punya dua jawaban untuk pertanyaan Draco, yang pertama ia akan berkata itu bukan urusannya dan menyuruhnya pulang saja.

"Hubungan kami baik." Hermione memililih kemungkinan kedua. "Apa kau tahu belakangan ini perusahaan Cedric bergerak yang sama dengan perusahaan keluargamu? Cedric bahkan akan segera melakukan investasi pada perusahaan lain termasuk perusahaan Muggle." Hermione sengaja membuat Draco kesal.

"Mereka juga akan segera membuka cabang di Prancis, jadi jika aku kuliah kami akan lebih sering bertemu." Hermione berkata lagi.

Ekspresi wajah Draco tidak bisa dibaca.

"Bagaimana denganmu? Kurasa Astoria merupakan perempuan yang cocok untukmu , pureblood dan lainnya." Hermione mulai melantur.

"Astoria baik, ia tidak seburuk kelihatannya, kami bahkan melihatmu dan Cedric tadi pagi di Diagon Alley. Astoria bilang kau dan Cedric cocok sekali." kata Draco juga kesal dan memakan umpan Hermione.

"Benarkah? Kenapa kalian tidak menyapa kami jika kalian melihatku?"

"Hahaha…. Aku tidak ingin dengan sengaja membuat diriku terlihat oleh wartawan." Kata Draco menyindir Hermione.

"Apa maksudmu?"

"Jangan berpura-pura bodoh Granger!" kata Draco nadanya mulai tinggi.

"Aku tidak mengerti maksudmu." Hermione pura-pura tidak mengerti.

Draco hanya menggelengkan kepalanya. "Seluruh dunia sihir juga tahu kalau kau dan Cedric sedang mencari perhatian lewat wartawan? Apa maumu sebenarnya? Mengumumkan kepada seluruh dunia sihir kalau kau bisa mendapatkan pria manapun yang kau mau? Kau ingin memberitahu kalau aku tidak cukup baik bagimu? Sehingga kau memberitahu semua orang kalau kau lebih menyukai mantan pacarmu?" Draco menumpahkan uneg-unegnya.

Meskipun itu bukan isi hati dan pikirannya, ia sudah terlanjur emosi.

"Granger, aku tidak menyangka kau akan melakukan hal seperti ini? Ku kira kau lebih pintar dari ini." Draco kemudian berdiri.

Wajah Hermione memerah. Ia mengatakan pada dirinya sendiri untuk mengontrol dirinya. Mengatakan bahwa ini memang tujuannya, membuat Draco membencinya. Apa yang dilakukannya sudah benar.

Hermione tidak mengatakan apa-apa.

"Aku pergi." Draco berjalan pergi.

.

"Aku tidak mengerti ada apa dengan mereka berdua sebenarnya." Ginny berseru pada tiga pria yang ada di hadapannya.

"Kurasa mereka berdua sama-sama bodoh." Kata Blaise meminum tehnya.

"Well, paling tidak mereka mencintai satu sama lain." Theo memberitahu.

"Apa kita harus melakukan sesuatu?" Harry berseru, Hero-complex-nya kambuh, ingin menyelesaikan semua masalah yang ada.

Ginny mengelus-elus perutnya yang sudah mulai besar. "Kurasa mereka dua orang bodoh yang saling mencintai, jadi biarkan saja kebodohan mereka membuat mereka jera, lagipula jika mereka ditakdirkan untuk bersama pasti akhirnya mereka akan bersama." Ginny melirik ke arah pintu belakang, tidak ada tanda-tanda bahwa keduanya akan muncul.

"Kita tidak perlu banyak ikut campur." Ginny menarik kesimpulan.

Tidak lama Draco muncul dan mengajak kedua temannya pulang.

.

"Hermione." Harry datang dan duduk di ayunan kayu besar di taman rumahnya.

Hermione duduk di ayunan itu dan menggerakkan ayunan itu pelan. Langit sudah gelap, lampu taman juga sudah menyala, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

"Harry." Hermione memanggil nama temannya dengan nada yang tidak jelas, entah maksudnya mengeluh atau hanya sekedar memanggil.

"Apa kau tidak menyukai Malfoy?" Harry bertanya dan menggerakkan ayunan yang dinaikkinya dengan kakinya.

"Aku menyukainya." Hermione memberitahu.

"Lalu kenapa kau melakukan ini?"

Hermione menghela nafasnya.

"Alasan yang sama dengan yang kau jelaskan pada Ginny?" Harry bertanya, tahu Hermione malas menjelaskan.

Hermione meengangguk.

"Apa kau tahu kalau Ginny juga mengalami masalah sepertimu saat kami memulai hubungan kami?" Harry menggerakkan ayunan lebih kencang.

"Kasus kami berbeda." Hermione menjelaskan.

"Apa bedanya?" Harry bertanya.

"Setelah perang, aku ingin punya hidup yang normal, kau tahu banyak yang meledekku karena cepat-cepat ingin punya keluarga, orang-orang tidak tahu bagaimana rasanya tumbuh besar seorang diri. Jadi aku memutuskan untuk melamar Ginny dan memulai keluarga kecilku." Harry bercerita.

"Awalnya tidak ada masalah, tapi lalu semua orang mulai mencibirnya. Mengatakan Ginny hanya menginginkan status, ketenaran, harta, dan banyak orang yang mulai mengatakan banyak hal buruk tentangnya. Ginny mulai tertekan, ia bahkan menolak bertemu denganku, mulai mengatakan hal-hal tidak penting seperti kami tidak seharusnya bersama dan ia tidak ingin bertemu denganku lagi."

Hermione meletakkan kepalanya ke bahu Harry.

"Kau sudah tahu kelanjutannya kan?" Harry bertanya.

Hermione mengangguk pelan.

Harry dan Ginny tidak bertemu selama seminggu dan keduanya benar-benar menyedihkan, Ginny hanya menangis dikamarnya, sementara Harry seperti zombie, akhirnya Fred dan George yang memperbaiki keadaan.

Ginny dan Harry akhirnya kembali bersama.

"Apa kau tidak sebaiknya berbaikan dengan Malfoy?" Harry bertanya lagi.

Hermione menggeleng.

"Setelah kupikir-pikir Malfoy sebenarnya tidak buruk." Harry memberi pendapat.

Hermione tertawa pelan.

"Apa kau pernah melihatnya seperti ini sebelumnya? Kudengar ia bahkan bekerja dengan baik di departement kalian kan? Ia juga terlihat lebih ramah dan baik, sepertinya ia benar-benar menyukaimu." Harry menggoda Hermione, menggerak-gerakkan bahunya.

"Benar-benar menyukaiku?" Hermione tertawa. "Ia tergila-gila padaku." Hermione memberitahu.

Mereka berdua tertawa.

"Kalian menertawakan apa?" Ginny datang dan duduk disamping Harry.

"Gin, aku kesini ingin memberikanmu ini." Hermione mengeluarkan buku dari tasnya. Ingat apa tujuan awalnya datang ke rumah Harry.

"Hermione, ini sudah buku keenam tentang kehamilan yang kau berikan padaku." Ginny mengeluh. "Aku bahkan belum membuka segel buku ke lima."

Harry tertawa, Hermione hanya tersenyum lebar.

-To be continued-

HALOOOOOOO…. Maaf ya updatenya ngaret parah, kayaknya aku udah hampir dua minggu gak update ya… aku sudah mulai kuliah lagi besok, dan belakangan ini aku persiapan untuk semester baru, ditambah aku sakit gigi.

Aku janji akan update lagi akhir minggu ini…. or faster...

Grr... kemaren tiba-tiba ada flame diceritaku yang lain, marah-marah dan ngata-ngatain aku karena ngeship Dramione yang nggak nyata, ugh... dia bego apa tolol sih? Udah jelas-jelas ini fanfiction, pake ngomel begituan... tolong ya, kalau kalian nggak punya hal baik untuk dikatakan (atau dalam hal ini di posting) ya mending nggak usah ngomong sekalian, hargain orang lain!

-Cek Half-Blood Princess

HAPPY MONDAY! SEMANGAT SENINNYA GUYS!

-As Always, Read and Review...

-dramioneyoja.