Kyungsoo merasa terganggu saat ia merasakan usapan lemput di rambutnya. Ia mencoba mengerjapkan kedua matanya dan saat ini ia dapat melihat jelas siapa orang yang mengusap rambutnya.

"Maaf telah membangunkanmu. Aku hanya ingin memastikan suhu tubuhmu tadi."

"Kim Jongin." Kyungsoo bahkan tidak mengerti kenapa ia malah menyebut nama Jongin saat ini.

Jongin tersenyum kepada Kyungsoo. "Iya, aku. Kim Jongin."

Usapan tangan Jongin yang tadinya sempat berhenti kini mulai bergerak mengusap rambut Kyungsoo lagi. Kyungsoo merasa terbuai dengan usapan tangan Jongin. Kedua matanya perlahan kembali menutup, rasa kantuk menyerangnya lagi. Terasa damai sekali sehingga kini Kyungsoo benar-benar terlelap kembali.

Jongin masih terus mengusap rambut Kyungsoo meskipun saat ini sudah bisa ia pastikan bahwa Kyungsoo sudah terlelap kembali. Suasana sangat tenang dikamar Kyungsoo, kini suara dentingan jarum jam dinding mengiringi setiap detik yang dilalui Jongin hanya berdua bersama Kyungsoo didalam kamar Kyungsoo .

Jongin tidak tahu kenapa ia begitu berani menyelinap kekamar Kyungsoo disaat semua orang sedang tertidur. Sejak ia pertama kali bertemu dengan Kyungsoo dibandara, Jongin seakan memiliki rasa ketertarikan yang besar saat melihat Kyungsoo. Jantungnya juga berdegup kencang saat kedua matanya saling bertatapan dengan Kyungsoo dan juga saat kedua tangannya dijabat oleh Kyungsoo tadi pagi. Ah, Jongin juga merasakan debaran pada jantungnya saat memeriksa Kyungsoo tadi.

Kini memandangi Kyungsoo yang sedang terlelap membuat Jongin ingin terus berada di sisi Kyungsoo. "Apa yang sedang kau pikirkan Kim Jongin?" gumamnya.

Tangan Jongin membenahi selimut Kyungsoo lalu entah mendapat keberanian dari mana Jongin mendekatkan dirinya agar ia bisa mengecup kening Kyungsoo. "Tidur yang nyenak." Gumamnya sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan kamar Kyungsoo.

*KAISOO*

Pagi ini Kyungsoo terbangun dengan perasaan yang lebih baik. Ia teringat dengan kedatangn Jongin ke kamarnya semalam, Kyungsoo tidak tahu kenapa setiap memikirkan kedatangan Jongin ke kamarnya semalam den mimpinya kemarin membuat pipi wajahnya memerah. Perasaan hangat juga menjalari sekujur tubuhnya saat ia mengingat betapa nyamannya usapan tangan Jongin di rambutnya dan satu lagi, kecupan Jongin di dahinya.

Awalnya Kyungsoo pikir kecupan Jongin didahinya adalah bagian lain dari mimpi, tapi Kyungsoo menyadarinya bahwa itu semua kenyataan. Bahkan sampai pagi menjelang pun Kyungsoo masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana dalamnya kecupan Jongin di dahinya.

Kini Kyungsoo sudah lebih segar ketika habis mandi dan ia memutuskan untuk turun kebawah membantu ibunya yang biasnya sedang repot memasak sarapan.

Kyungsoo tidak tahu kenapa ia ingin sekali bertemu dengan Jongin pagi ini. Ketika sudah berada dibawah dan Kyungsoo melihat ibunya sendirian didapur sedang memasak, Kyungsoo pun segera turun kebawah.

"Selamat pagi ibu."

"Wah sepertinya kau sudah sembuh."

Kyungsoo menganggukkan kepalanya. "Ya, pagi ini aku sudah benar-benar baik."

Ibunya berbalik lalu membawa Kyungsoo kedalam pelukkannya. "Maafkan ibu ya, kau kemarin pasti sangat terkejut dengan kedatangan paman Joonmyeon dan Jongin."

"Iya, aku sangat-sangat terkejut ibu." Kyungsoo mengelus pundak ibunya, ia hanya ingin memberikan perasaan nyaman untuk sang ibu. "Lalu dimana paman Joonmyeon dan Jongin?"

Ibunya melepaskan pelukannya dan berganti mengelus rambur Kyungsoo. "Paman Joonmyeon tentu ada di rumahnya dan Jongin, dia sudah berangkat kerumah sakit tadi pagi-pagi sekali. Katanya ada operasi mendadak."

Kyungsoo menganggukan kepalanya. "Hari ini bisakah ibu tidak pergi ke kantor? Ibu harus menemaniku seharian dan ibu juga perlu menjelaskan semuanya. Tentang paman Joonmyeon dan Jongin."

"Baiklah, ibu akan menemanimu seharian. Lagi pula libur satu hari tidak akan membuat perusahaan bangkrut bukan?"

Kyungsoo dan ibunya sama-sama tertawa mendengar lelucon yang ibunya ucapkan.

*KAISOO*

Kini pasangan ibu dan anak itu sedang duduk berdua dihalaman belakang. Halaman belakang ini mempunyai banyak cerita dikehidupan Kyungsoo bersama kedua orang tuanya. Di halaman belakang ini juga tempat terfavorit mereka berkumpul. Dengan masing-masing membawa secangkir teh hangat dan ditemani biskuit kesukaan Kyungsoo.

"Awalnya ibu kenal dengan Jongin lebih dulu. Kau masih ingat bukan dengan cerita bibi Risa yang waktu itu pernah sempat menjadi korban tabrak lari?"

Kyungsoo menganggukkan kepalanya, ia masih ingat karena hari itu ibunya tidak mengangkat panggilan telepon darinya maupun dari ayahnya. Kyungsoo bahkan sudah mulai panik karena tidak ada kabar sama sekali dari ibunya. Tapi saat sore menjelang ibunya menghubungi Kyungsoo dan menceritakan kejadian yang menimpa bibi Risa. Ibunya menjelaskan bahwa ponselnya tertinggal dirumah karena terlalu panik mendengar kabar yang menimpa bibi Risa.

"Jongin lah yang menangani bibi Risa di UGD dan kebetulan Jongin adalah keponakan bibi Risa." Ibunya menjeda sejenak. "Setelah beberapa kali tidak sengaja bertemu dengan Jongin, akhirnya ibu bertemu juga dengan paman Joonmyeon. Dunia ini terlalu sempit Kyungsoo, ternyata paman Joonmyeon adalah salah satu penanam saham diperusahaan dan sejak itu ibu menjadi dekat dengan pasangan ayah dan anak dari keluarga Kim ini." Ibunya tersenyum saat mengakhiri ceritanya.

Kyungsoo senang melihat betapa bahagianya ibunya kini. Kedua mata ibunya tidak bisa membohongi. Ayahnya harus segera mengetahui ini. "Kyungsoo sangat senang karena kini ibu terlihat bahagia sekali."

Ibunya tersenyum saat menatap Kyungsoo.

"Apa dulu ibu juga sebahagia ini saat jatuh cinta kepada ayah?" Kyungsoo tidak menyangka ia mengatakan isi pikirannya saat ini.

"Bertemu dan jatuh cinta kepada ayahmu juga membuat ibu bahagia, tapi ibu lebih bahagia lagi saat melahirkanmu."

Kyungsoo tersenyum puas saat mendengar jawaban ibunya.

"Apa kau ingin membantu ibu mengantarkan makan siang untuk Jongin dan paman Joonmyeon?"

"Haruskah?"

Ibunya menganggukkan kepalanya. "Ibu ingin kau bisa dekat dengan mereka. Percayalah, paman Joonmyeon orang yang baik dan Jongin begitu menggemaskan ketika sedang manja."

"Baiklah."

*KAISOO*

Kyungsoo telah sampai didepan rumah sakit tempat Jongin bekerja. Tadi ia berangkat bersama ibunya menuju kantor tempat paman Joonmyeon bekerja namun saat hendak pergi untuk mengantarkan makan siang untuk Jongin, tanpa sengaja ibunya bertemu dengan salah satu kliennya dan disinilah Kyungsoo berada. Sendirian dirumah sakit tempat Jongin bekerja.

Kyungsoo mengecek ponselnya yang bergetar disaku celananya. Oh, pesan dari Jongin yang memintanya untuk masuk langsung kedalam, karena masih ada satu pasien lagi yang harus Jongin periksa. Setelah membacanya kini Kyungsoo menghela napasnya dan berjalan memasuki rumah sakit. Sebenarnya Kyungsoo keberatan saat ibunya menyuruhnya untuk mengantarkan makn siang untuk Jongin sendirian, mengantar kerumah sakit pula. Karena sedari kecil Kyungsoo memang takut dengan rumah sakit dan bau rumah sakit juga bisa membuat Kyungsoo sedikit mual.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu perawat dimeja resepsionis ini.

"Ah, bisakah anda memberitahu saya dimana letak ruangan dokter Kim Jongin?"

"Apa anda sudah membuat janji dengan dokter Kim?"

"Sebenarnya saya hanya mengantarkan makan siang untuk dokter Kim." Ucap Kyungsoo sambil mengangkat tas yang berisi bekal makan siang untuk Jongin. "Apa saya bisa titipkan ini kepada anda?"

Perawat itu menganggukkan kepalanya.

"Ternyata kau ada disini."

Kyungsoo memutar tubuhnya dan kini ia bisa melihat dengan jelas Jongin yang saat ini tengah berdiri tepat didepannya dengan sebuah senyuman yang mengembang lebar dikedua sudut bibirnya.

Kyungsoo menjulurkan tangan kanannya yang membawa tas bekal untuk Kyungsoo. "Makanan sudah sampai tuan Kim." Canda Kyungsoo.

Dengan spontan tangan kiri Jongin kini mengusak rambut Kyungsoo. "Terima kasih. Apa kau sudah makan?"

"Aku bisa makan dirumah."

Tangan kiri Jongin turun dari rambut Kyungsoo dan mengambil alih bekal makan siangnya dari tangan Kyungsoo. "Apa kau keberatan jika menungguku makan? Sekitar satu jam lagi jam kerjaku telah berakhir."

"Apa aku tidak mengganggu?"

"Tidak sama sekali." Tangan kanan Jongin yang bebas kini menggenggam pergelangan tangan kiri Kyungsoo dan sebelum pergi Jongin memberikan salam kepada perawat tadi.

Kini mereka berjalan bersampingan, Jongin bahkan belum melepaskan pegangannya dipergelangan tangan Kyungsoo. Selama berjalan menyusuri lorong rumah sakit saat hendak menuju keruangan Jongin. Kyungsoo seakan merasa menjadi pusat perhatian para perawat. Ada juga seorang dokter cantik yang menyapa Jongin sambil berkata. "Oh, jadi ini."

Sebenarnya Kyungsoo sangat rishi dengan tatapan orang-orang, ya meskipun belum tentu tatapan itu tertuju untuknya.

Saat pintu ruangan milik Jongin ini terbuka, kesan pertama yang melintas dikepala Kyungsoo adalah ruangan ini sangat berantakan. Lihatlah beberapa kertas yang jatuh dilantai. Tanpa menunggu Jongin, Kyungsoo segera memasuki ruangan milik Jongin dan segera mengambil kertas-kertas yang berjatuhan dilantai.

"Maaf, ruanganku sangat berantakan."

Kyungsoo menolehkan kepalanya. "Apa kertas-kertas ini penting?"

"Iya, tolong letakkan diatas meja."

Kyungsoo segera berjalan menuju meja kerja Jongin sedangkan Jongin sudah duduk di sofa yang berada didekat pintu. Saat meletakkan kertas milik Jongin, Kyungsoo tanpa sengaja melihat sebuah bingkai foto. Didalamnya terdapat foto Jongin bersama ibu dan paman Joonmyeon.

"Kalian berfoto dimana ini?" Kyungsoo menangkat bingkai foto itu dan menunjukkannya kepada Jongin.

"Ah, itu diambil saat liburan musim panas kemarin. Kami berfoto disalah satu pantai didaerah Busan."

Kyungsoo menganggukkan kepalanya sambil menaruh kembali bingkai foto tersebut ke tempatnya semula. Kyungsoo bisa melihat dengan jelas kini Jongin yang sedang memakan bekal makan siangnya. "Apa enak?"

"Masakan ibu tidak pernah mengecewakan."

Kyungsoo menganggukkan kepalanya lagi. Memang benar jika rasa masakan ibunya tidak pernah mengecewakan. Sambil mengmati Jongin yang kini dengan lahapnya memakan bekal makan siangnya Kyungsoo berpikir, kenapa ia tidak merasakan perasaan canggung saat bertemu dnegan Jongin. Padahal Kyungsoo adalah tipe orang yang sangat susah untuk dekat dengan orang yang baru ia kenal. Bukankah Jongin juga termasuk dalam kategori orang yang baru saja Kyungsoo kenal. Tapi anehnya Kyungsoo sama sekali tidak merasakan perasaan canggung itu.

"Apa kau ingin pergi kepantai itu?" Tanya Jongin memecah keheningan.

"Pantai?"

"Iya, pantai itu. Ayah juga memiliki rumah didaerah dekat pantai itu. Kami dulu juga menginap dirumah itu."

"Boleh juga."

Jongin kembali melanjutkan memakan bekal makan siangnya. Kyungsoo mengedarkan kedua matanya menlihat ruang kerja milik Jongin ini. Lalu Kyungsoo menemukan apa yang sedari tadi ia cari. Kulkas. Di dalamnya pasti Jongin menyimpan air putih. Kyungsoo lihat tadi, Jongin belum sama sekali meminum air. Kyungsoo berjalan memutari meja kerja Jongin dan berjalan menuju sudut ruangan, dimana kulkas itu berada.

Setelah mengambil dua botol air minum dingin, Kyungsoo segera berjalan menghampiri Jongin.

"Maaf, tidak sempat menawarimu air minum."

"Tidak apa-apa. Minumlah."

Jongin menerima botol air mineral itu dan segera meminumnya. "Ngomong-ngomong, apa kau tidak keberatan aku memanggil ibumu dengan sebutan ibu?"

"Untuk apa aku marah? Kau tahu, ibuku dulu sangat senang dipanggi ibu oleh semua teman-temanku."

Sebuah senyuman mengembang kembali dikedua sudut bibir Jongin.

*KAISOO*

Kyungsoo duduk didepan televisi yang berada diruang keluarga, tepatnya dilantai dua rumahnya. Dulu di ruang keluarga ini ayahnya, ibunya dan Kyungsoo menghabiskan waktu bersama. Tapi kini hanya ada Kyungsoo dan Jongin.

Setelah Kyungsoo diantar pulang oleh Jongin, ibunya tiba-tiba menelepon Kyungsoo, memberi kabar bahwa ia akan pulang melebihi batas jam malam yang sejak dulu ditentukan oleh ayahnya. Ibunya bilang bahwa ia harus menemani paman Joonmyeon hadir ke pesta salah satu kliennya.

Namun hingga pukul sepuluh lewat lima belas menit ibunya belum juga datang. Kyungsoo melirik Jongin yang berada disampingnya, Jongin terlihat sedang memejamkan matanya. Kyungsoo tahu, jika Jongin sudah mengantuk sekarang.

Sekali lagi, Kyungsoo mencoba menelepon ibunya namun tetap saja tidak diangkat. Kyungsoo mengehembuskan napasnya lalu Jongin menolehkan kepalanya, menatap tepat kearahnya dengan senyum yang ia kulum.

"Sudahlah, biarkan ayah dan ibu menikmati waktunya. Aku akan disini menjagamu. Jangan khawatir."

"Aku hanya khawatir saja kepada ibu. Diluar juga sedang hujan deras."

"Apa kau akan menjerit dan akan memelukku jika kau mendengar suara petir?" Goda Jongin.

"Tidak. Aku tidak takut dengan suara petir."

Jongin tertawa, suara tawanya begitu keras namun Kyungsoo tidak senang mendengar suara tawa Jongin.

"Kau mengejekku?" Kini Kyungsoo semakin mendekatkan jaraknya kepada Jongin.

Jongin mengangkat kedua kakinya keatas sofa lalu memutar tubuhnya agar menatap Kyungsoo. "Bukan mengejekmu. Aku mengejek diriku sendiri."

Kyungsoo juga ikut mengangkat kedua kakinya keatas sofa dan juga menghadapkan tubuhnya agar saling berhadapan dengan Jongin. "Kau bohong."

"Tidak. Aku mengejek diriku sendiri."

"Kenapa kau mengejek dirimu sendiri?"

Jongin menggelengkan kepalanya. "Dulu ada sebuah kejadian. Disaat hujan dan disaat petir menggelegar, disebuah ruangan yang gelap. Aku tidak seberapa ingat sekarang, karena psikiater mencoba menghapus ingatanku itu." Jongin menjeda. "Aku tidak pernah takut dengan hantu atau pun jarum suntik, ah, mayat pun aku tidak takut. Tapi aku akan gelisah jika sendirian saat hujan turun dan disertai petir. Sampai sebesar ini aku tidak pernah tidur dengan lampu yang dipadamkan."

Jongin kembali tertawa. "Sangat menggelikan bukan."

Mendengar cerita dari Jongin membuat jantung Kyungsoo terasa nyeri. Ia tidak tahu kenapa perasaan ini datang. Jongin didepannya ini seperti menyimpan lukanya sendiri saat bercerita dengan Kyungsoo.

Dengan spontan Kyungsoo berdiri dengan tumpuan kedua lututnya. Lalu kedua tangannya merengkuh tubuh Jongin kedalam pelukkannya. Tangan kanan Kyungsoo mengusak rambut belakang milik Jongin sedangkan tangan kirinya menepuk-nepuk punggung bidang milik Jongin.

"Aku tidak tahu harus mengatakan kata-kata penyemangat seperti apa. Tapi kau bisa percaya kepadaku, kau bisa bersandar kepadaku dan kau bisa datang kepadaku."

Jongin menautkan kedua tangannya melingkari tubuh Kyungsoo. Kini wajah Jongin semakin ia masukkan keceruk leher Kyungsoo. Menghirup bau khas milik Kyungsoo, membuat Jongin menjadi tenang.

Kyungsoo tidak pernah merasa seintim ini dengan seorang laik-laki. Ajaibnya Kyungsoo malah semakin nyaman memeluk Jongin seperti ini. Perasaan hangat kini benar-benar menjalari seluruh tubuhnya. Namun Kyungsoo takut jika tiba-tiba saja ibunya dan paman Joonmyeon datang dan mendapati mereka saling berpelukkan seperti ini akan menimbulakan masalah. Lalu Kyungsoo mencoba melepaskan pelukkannya, tapi Jongin semakin mengeratkan pelukkannya.

"Bisakah kau tetap memelukku untuk beberapa saat kedepan?" Pinta Jongin.

Kyungsoo hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia tidak berpikir apakah Jongin melihatnya menganggukkan kepalanya atau tidak. Kyungsoo tidak tahu harus menjawab apa, akal sehatnya menyuruhnya untuk segera melepaskan pelukkannya kepada Jongin namun hatinya berkata lain.

Dalam keheningan yang hanya diiringi suara dari televisi dan suara rintikan hujan, Kyungsoo teringat percakapannya dengan Jongin di perjalanan pulang sedari rumah sakit tadi siang.

Kini mereka berdua tengah berada didalam mobil Jongin. Kyungsoo sibuk mencari saluran radio kesukaannya, namun sedari tadi Kyungsoo belum juga menemukan. Lalu Kyungsoo menyerah dan membuka kaca jendelanya.

Angin berhembus dari luar, membuat beberapa anak rambut Kyungsoo berterbangan.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu Kyungsoo?" Suara Jongin memecah keheningan.

Kyungsoo menganggukkan kepalanya. "Silahkan."

"Bagaimana kesanmu kepadaku? Kau tahu, sebenarnya aku sedikit memikiki ke khawatiran tentang penilaianmu terhadapku."

Kyungsoo menutup kembali jendela mobil. "Kau ingin jawaban yang jujur atau jawaban yang biasa saja?"

"Jujur."

"Kau menyenangkan. Maksudku, aku tidak pernah bisa langsung sedekat ini dengan seseorang yang baru saja aku kenal." Kyungsoo tersenyum sambil menatap Jongin yang sesekali mencuri pandangan lewat ekor matanya. "Sangat nyaman berada didekatmu."

Jantung Kyungsoo terasa berdegup lebih kencang saat mengatakan kalimat yang terakhir. Kyungsoo benar-benar tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia merasakan senang dan nyaman saat bersama Jongin. Kyungsoo tidak tahu apa yang membuat perasaannya seperti ini. Hanya kepada Jongin.

AN: haloo semua, ada yang nunggu chapter kedua ini gak? terima kasih buat semua review yang masuk, terima kasih yang udah ngefavoritkan dan memfollow cerita ini. aku juga ingetin sih, ff ini juga aku update di wattpad aku B_Kyung (ok maafkan aku promosi mulu) sekali lagi terima kasih ya buat yang udah nyempetin buat baca cerita aku.

salam, B_Kyung^^