All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

Chapter 23 :Jangan terlalu merindukan Ferret.

23.

Hermione duduk di mejanya, ini minggu terakhir kementrian bekerja. Ia masih berduka akan kematian Crookshanks, setiap hari ke kemetrian ia masih menggunakan pakaian berwarna hitam.

Harry dan Ron berkali-kali mengecek keadaannya, dan ia masih sama, hanya duduk muram di meja kerjanya, berusaha fokus pada sisa-sisa pekerjaan akhir tahunnya.

Akhirnya Harry sudah tidak tahan lagi. Ia menunggui Hermione sebelum pulang dan mengajak perempuan itu ke rumahnya, saat seperti ini hanya Ginny yang bisa mengembalikan semangat hidupnya.

"Sudahlah Harry, aku tidak ingin mengganggumu dan Ginny." Hermione menolak.

"Tidak Hermione, kau harus ikut aku." Harry berkata tegas.

Hermione menghela nafasnya.

Tidak lama mereka tiba di rumah Harry dan Ginny sudah menunggu di depan perapian dengan cokelat panas, dan kue.

"Kau bisa tinggalkan kami Harry." Ginny berkata.

Hermione menghela nafasnya, ia duduk di sofa di samping Ginny yang duduk santai sambil mengelus-elus perutnya.

"Baiklah, aku mandi dulu." Harry berseru dan menuju ke lantai dua.

"Sudahlah Gin, aku sedang tidak ingin mendengar ceramahmu." Hermione memeluk bantal sofa.

"Aku tidak ingin menceramahimu." Ginny berkata. "Minumlah, aku sudah membuatkannya untukmu." Ginny menunjuk susu cokelat yang berasap di meja kecil di depan mereka.

Hermione mulai menangis.

"Apa kau tahu kalau Crook suka susu cokelat?" Hermione menangis tersedu-sedu.

Giliran Ginny yang menghela nafasnya, ia menarik Hermione pelan dan memberi isyarat agar Hermione merebahkan kepalanya di pangkuannya.

"Sudahlah Mione, aku yakin Crook sudah berada di kolam susu cokelat dimanapun ia berada." Ginny berkata sambil mengumpulkan rambut Hermione di satu tempat.

"Apa kau akan terus-menerus bersedih? Sudah berapa hari kau menggunakan baju hitam ke kantor?" Ginny bertanya lagi.

"Semua orang pasti akan mati, begitu juga dengan hewan peliharaan, apa kau tidak ingat bagaimana keadaan Harry saat Hedwig mati?" Ginny bertanya lagi. "Harry sedih sekali, mungkin selain kau dan Ron, saat itu temannya hanya Hedwig, tapi kemudian burung hantu malang itu pergi."

Hermione masih sesenggukkan.

"Sudahlah Hermione, aku tahu ini berat untukmu, tapi kau harus hidup dengan baik. Aku yakin sekarang Crook sedang memutar matanya melihat keadaanmu seperti ini." Ginny berkata lagi.

Hermione tersenyum, kemungkinan besar Crook memang pasti sedang memutar matanya sekarang, dasar kucing sialan.

"Aku akan sangat kesepian Gin." Hermione sudah berhenti menangis.

"Kau kan punya banyak teman, kau bisa tidur disini untuk beberapa malam jika kau masih merasa terlalu biru." Ginny mengelus-elus tangan Hermione.

Hermione duduk, ia kemudian meminum cokelat hangat yang sudah dibuatkan Ginny untuknya.

"Kalau kau memang tidak ingin merasa kesepian, kau bisa meminta Cedric menemanimu kan? Atau Draco?" Ginny memancing.

Hermione menghela nafasnya.

"Dimana kau akan menghabiskan malam natal?" Ginny bertanya.

"Kurasa aku akan menginap di rumah orangtuaku, kemudian saat natal makan siang di Burrow seperti biasa." Hermione memberitahu.

"Ah…" Ginny teringat sesuatu. "Kau akan pergi ke pesta tahun baru kementrian kan? Dengan siapa? Apa kau sudah membeli baju? Oh, Hermione apa menurutmu aku bisa menemukan gaun yang cocok dengan perut besarku ini?" Ginny bertanya.

Hermione tersenyum.

Mungkin Ginny benar. Ia harus menjalani hidupnya dengan baik, dengan adanya Crookshanks ataupun tidak.

.

Draco diikuti Blaise dan Theo, juga Narcissa di belakang mereka, berjalan menuju ke ruangan pribadi Lucius.

Semuanya akan berakhir hari ini.

Draco membuka pintu. Blaise nyaris melompat kegirangan karena mereka seperti sedang berada di film laga, masuk ke ruangan dimana penjahat utama berada dengan penuh gaya.

"Apa yang kalian lakukan?" Lucius bertanya begitu melihat Draco, Narcissa, Theo dan juga Blaise masuk keruangannya, seperti sekelompok mafia.

"Draco? ada apa?" Astoria yang duduk di depan Lucius juga bertanya.

Draco mengabaikan pertanyaan perempuan menjijikkan yang duduk di depan ayahnya.

Draco meletakkan map yang dibawanya di meja ayahnya.

"Tanda tangani ini." Draco berkata dengan suara dingin.

"Apa ini?" Lucius tidak mengerti. Ia melihat kertas-kertas yang berada di di dalam map itu.

"Tanda tangani saja, dan kau akan menghadapi sidang atas semua perbuatanmu secepat mungkin." Draco berkata lagi.

-Flashback-

"Jadi kau akan melaporkan ayahmu sendiri?" Percy bertanya memastikan.

Draco mengangguk.

"Baiklah." Percy mengurus berkas-berkas yang mereka perlukan, di bantu Harry dan Ron.

"Baiklah Draco, Lucius akan dikenai tuntutan special. Pasal 451 kitab hukum sihir. Lucius saat ini sedang menjalani hukuman lima tahun tahanan rumah atas kesalahannya sebagai Death Eater, betul?" Percy bertanya sebagai formalitas.

Draco mengangguk.

"Dan pada 31 Desember hukumannya akan genap berlangsung dua tahun, betul?" Percy bertanya lagi.

Draco mengangguk lagi.

"Baiklah, Pelapor atas nama Draco Malfoy melaporkan Lucius Malfoy bersalah atas ; Pengalihan asset secara illegal, manipulasi laporan keuangan, kecurangan pajak, penyuapan pejabat kementrian, persekongkolan dengan akuntan publik, pengacara publik, dan notaris, betul?" Percy bertanya lagi.

Draco mengangguk lagi.

"Baiklah…" Percy menghela nafasnya.

.

"Apa aku sudah bisa pulang?" Fletcher bertanya pada Draco. Draco mengangguk.

"Terimakasih banyak." Draco menjabat tangan Fletcher. "Aku akan segera mengirim uang pensiun anda." Draco berkata lagi.

.
Draco berdiri di depan ruangan direktur utama di kantor ayahnya. Membiarkan beberapa auror dan karyawan kementrian mennggeledah semua ruangan dan menyita berkas-berkas yang mereka perlukan untuk pemeriksaan.

"It's okay Mate." Theo menepuk pundah Draco.

Meskipun ia yang melaporkan semua kecurangan perusahaan keluarga mereka selama berada di bawah kekuasaan Lucius, tetap saja, melihat semua kebesaran dan kemegahan kantor dimana ia besar dilucuti membuatnya sedikit sedih.

"Malfoy, terimakasih atas kerja samamu." Harry menjabat tangannya saat mereka selesai menyita berkas-berkas yang mereka perlukan.

.

"Baiklah, Mr. Malfoy kami sudah meneliti beberapa berkas dan semuanya akan selesai dalam beberapa hari lagi, tapi dapat dipastikan kalau ayahmu memang bersalah." Percy menjelaskan.

"Aku tahu kau butuh stempel kementrian untuk mengesahkan pemindahan seluruh asset keluarga Malfoy atas namamu." Percy berkata lagi.

"Karena itu, dengan pertimbangan dan persetujuan dari mentri sihir…" Percy menyodorkan map berisi berkas pada Draco.

Draco membuka map itu, membacanya sekilas. Surat itu berisi tentang pernyataan pemindahan seluruh asset keluarga Malfoy dari Lucius Malfoy kepada Draco Malfoy.

Biasanya surat seperti ini harus ditandatangani oleh kedua belah pihak terlebih dahulu kemudian di stempel oleh kementrian dan di tanda tangani mentri sihir, tapi surat yang ada di depannya sudah memiliki stempel kementrian dan tanda tangan mentri sihir.

Draco mengangguk, ia ingin tersenyum tapi sulit sekali.

"Terimakasih banyak." Draco berkata.

Dengan begini ia hanya tinggal memaksa Lucius menandatangani berkas itu lalu semuanya akan selesai.

-End of Flashback-

"Kau sudah merencanakan ini semua?" Lucius membatu begitu melihat stempel kementrian.

"Tanda tangani saja, jangan banyak bicara, aku sudah tidak ingin berurusan denganmu." Draco mengulurkan tongkatnya dan mengarahkannya ke leher Lucius.

"Aku tidak akan menandatanganinya." Lucius berkata tegas.

Astoria kemudian mengeluarkan tongkatnya, ia baru akan mengarahkan tongkatnya saat ia merasakan ada tongkat di acungkan tepat dilehernya.

"Jangan kau pikir kau akan lolos." Narcissa berkata dingin. Ia meletakkan tongkatnya tepat menempel di leher Astoria. "Aku sudah muak melihatmu, jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau berkali-kali berusaha meracuni Draco dengan Love Potion, kau juga mengintimidasi peri rumah kami, dan mencuri beberapa perhiasanku kan?!" Narcissa bertanya.

"Dua hari yang lalu kau juga yang mencoba menjatuhkanku dari tangga kan?" Narcissa bertanya lagi.

Mendengar ini Lucius melotot pada Astoria. Astoria membatu, tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Draco menggelengkan kepalanya, ia menunjukkan wajah prihatin pada Astoria.

"Astoria, apa yang kau inginkan sebenarnya? Kenapa kau menyerang ibuku?" Draco tidak mengerti lagi dengan obsesi perempuan di depannya.

Astoria kemudian tertawa. Tawanya melengking dan terdengar mengerikan.

"Kenapa? Kau bertanya kenapa?" Astoria tertawa lagi. "Tentu saja karena aku akan segera menjadi istrimu Draco, aku akan segera menjadi Lady Malfoy yang baru, aku tidak ingin wanita tua ini menggangguku." Astoria memberitahu Draco tanpa beban, seakan-akan tidak baru saja mengatakan hal yang mengerikan.

"Kau lihat kan Lucius?" Narcissa bertanya pada suaminya. "Kau dibutakan oleh kemurnian darah yang bodoh! Kau lebih ,memilih menjadikan wanita mengerikan ini sebagai menantumu daripada Hermione." Narcissa berkata pelan. "Mungkin kau seharusnya menghabiskan beberapa waktu di Azkaban, agar kau sadar bahwa darah bukan segalanya."

Lucius shock. Matanya membelalak

"Astoria." Theo memanggil adik kekasihnya itu.

Astoria hanya mendengus menghina. "Kau akan dibawa ke St. Mungo untuk menjalani tes kejiwaan." Theo memberitahu.

"Apa? Kalian pikir aku sudah gila?" Astoria berteriak, ia berdiri kesal meskipun Narcissa masih mengacungkan tongkatnya di leher perempuan itu.

"Kau memang sudah gila." Blaise berkata.

"Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan apapun padaku. Aku akan memberitahu ayahku tentang ini, tidak ada yang bisa menghalangiku untuk menjadi the next Lady Malfoy." Astoria tiba-tiba ber-apparating dan menghilang.

"Shit." Blaise mengumpat.

Narcissa menyipitkan matanya pada Lucius. "Kau mengubah ward kita?" tanya Narcissa tidak percaya, bagaimana mungkin orang asing bisa ber-apparating keluar masuk Malfoy Manor begitu saja.

.

Draco, Blaise dan Theo berusaha keras melacak kemana Astoria pergi. Perempuan mengerikan itu tidak ada di rumahnya atau dirumah manapun yang dimiliki keluarga mereka, Draco sudah memberi tahu Auror dan mereka juga sudah mencari dimana Astoria berada.

"Tenanglah mate." Theo berkata pada Draco.

"Bagaimana aku bisa tenang? Perempuan gila itu sedang berkeliaran, bagaimana jika ia berusaha melukai Ibuku lagi? Bagaimana jika ia berusaha melukai Hermione?"

"Astaga…" Draco menyadari sesuatu. "Apa sudah ada Auror yang berjaga di tempat Hermione?"

.

Hermione memasuki apartementnya, ia melepas sepatunya dan menyalakan lampu.

"Hermione Granger." Astoria menyebut nama Hermione pelan, ia duduk di sofa Hermione sambil menyilangkan kakinya.

"Kenapa lama sekali? Aku sudah lama menunggumu." Astoria tersenyum.

"Apa yang kau inginkan?" Hermione menggerakkan tangannya pelan ke arah saku tersembunyi di roknya, tempat ia menyimpan tongkatnya.

"Aku ingin kau mati." Astoria berkata lagi, kemudian tertawa seperti baru saja mengatakan lelucon paling lucu.

Astoria tiba-tiba berdiri dan mengacungkan tongkatnya.

Hermione juga sudah mengacungkan tongkatnya.

"Jangan bertindak gegabah Astoria, kau tidak akan menang melawanku." Hermione berusaha tetap tenang.

"Apa kau pikir darah-lumpur macam dirimu akan menang melawan aku yang berdarah murni?"

"Petrificus Totalus." Hermione megacungkan tongkatnya ke arah Astoria dan semuanya selesai.

Saat itu juga pintu rumahnya di dobrak dan Draco diikuti beberapa auror datang dan mengacungkan tongkatnya

.

Draco memperhatikan semua gerak-gerik Hermione, bagaimana tenangnya perempuan itu menjawab semua pertanyaan auror.

Astoria sudah dibawa pergi, entah kemana. Draco sebenarnya ingin tertawa, bagaimana mungkin ia malah merasa kuatir bahwa Hermione akan terluka padahal begitu ia mendobrak pintu, mereka malah menemukan Astoria sudah terkapar.

"Kau tidak apa-apa?" Harry bertanya pada Hermione sebelum ia pergi dengan semua auror yang lain.

Hermione mengangguk.

"Bagaimana Astoria bisa menembus ward-mu?" Harry bertanya, harusnya bahkan Voldemort sendiri tidak bisa menembus ward Hermione.

"Aku menurunkan ward-ku." Hermione memberitahu.

"Kenapa?" Harry bertanya.

"Masa sewa apartement-ku habis akhir tahun ini, aku akan tinggal di tempat orangtuaku sampai aku berangkat ke Prancis." Hermione berkata lagi. "Jadi aku menurunkan ward-ku agar beberapa orang bisa membantuku melakukan pindahan." Hermione berkata lagi.

Harry mengangguk, mereka membicarakan beberapa hal lagi lalu Harry pamit pergi, menyusul auror lainnya.

"Kau masih disini?" Hermione bertanya pada Draco.

Draco mengangguk.

"Well, aku tidak apa-apa, kau bisa pergi sekarang." Hermione berkata lagi.

"Maaf." Draco berkata tiba-tiba. "Astoria jadi datang menggangumu karena aku." Draco berkata lagi.

"Tidak apa-apa." Hermione berkata lagi.

"Kalau begitu aku pergi." Draco berkata pelan.

Hermione mengangguk.

Draco berjalan ke arah pintu dan keluar, ia melihat ke arah Hermione untuk yang terakhir kalinya, lalu menutup pintunya.

.

"Kau sudah putus dengan Draco?" Helena bertanya tidak percaya akan apa yang baru saja dikatakan anaknya.

Hermione megangguk.

"Kenapa? Apa ia melakukan sesuatu?" Richard marah dan kesal.

Helena dan Richard sama-sama mengira Draco dan Hermione cocok satu sama lain, dari tatapan mata mereka satu sama lain, mata mereka bicara.

"Tidak, Draco tidak melakukan apa-apa, aku hanya menyadari bahwa kami tidak cocok." Hermione berkata lagi. Ia datang kerumah orangtuanya untuk menghabiskan malam natal bersama. "Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan hal ini." Hermione lalu berjalan menuju ke kamarnya.

Helena dan Richard hanya melirik satu sama lain.

"Aku tidak pernah melihat Hermione seperti itu." Helena berkata pada suaminya.

Richard mengangguk setuju.

Saat Hermione patah hati karena Cedric, anak perempuan mereka itu benar-benar mengeluarkan kesedihannya dan kekesalannya, menangis meraung-raung sampai matanya bengkak dan suaranya habis.

Richard dan Helena tahu kalau patah hati Hermione berbeda kali ini.

Anak mereka itu seperti orang yang berbeda, ia tidak benar-benar telihat sedih di luar, tapi semua orang bisa melihat kalau ia berbeda.

Sakitnya di dalam, bukan di luar.

.

Hermione duduk di alas lebar yang di gelar di halaman luas Burrow, ia sedang memperhatikan beberapa klan Weasley bermain Quidditch. Ginny sedang tidur siang di dalam, ia berkata tiga bulan awal kehamilan membuatnya lelah dan ia semakin mudah mengantuk.

Natal di Burrow selalu ramai, Bill, Fleur dan Victorie datang. Charlie juga datang dari Romania dan kali ini membawa perempuan yang dikenalkan pada keluarganya sebagai kekasihnya. George dan Angelina, Fred, Ron dan Lavender, Harry dan Ginny, dan tentu saja Hermione.

Hermione selalu datang dengan hadiah untuk semua anggota keluarga Weasley, begitu juga sebaliknya, mereka juga menyiapkan hadiah untuk Hermione. Lalu para pria akan bermain Quidditch sampai Molly berteriak bahwa makanan sudah siap, dan mereka akan makan siang bersama.

"Ku kira tahun ini kau akan mengajak Malfoy kesini." Fred berseru, entah tiba-tiba datang darimana, Fred duduk disampingnya sekarang.

"Padahal aku dan George sudah merencanakan prank terhebat abad ini untuk menyambutnya." Fred kemudian tertawa.

"Apa aku sudah memberitahumu hari ini kalau kau menyebalkan?" Hermione bertanya.

Fred tertawa lagi.

"Apa kau akan pergi dengan Cedric ke pesta tahun baru?" Fred bertanya lagi.

"Kau mulai terdengar seperti Ginny." Hermione berkata, ia kemudian merebahkan badannya dan meletakkan lengannya menutupi matanya dari sinar matahari.

Fred ikut merebahkan badannya di samping Hermione.

"Kenapa kau tidak ikut bermain?" Hermione bertanya.

"Kakiku sakit." Kata Fred memberitahu, "Kenapa kau tidak melanjutkan hubunganmu dengan Malfoy?"

"Kenapa kau tidak diam saja?"

"Kenapa kau malah berpura-pura kembali berhubungan dengan Cedric?"

"Kenapa kau tidak datang dengan perempuan?"

"Kenapa kau ingin tahu?"

"Kenapa kau tidak mati saja?"

Fred tertawa.

"Kids… masuk, makanan sudah siap." Molly berteriak dari dalam.

"Aku ingin tahu kapan Mom akan berhenti memanggil kami Kid?"

Hermione tertawa.

Ia bersenang-senang hari itu, Fred menjadi teman kencannya seharian, mereka duduk bersampingan dan makan bersama, membicarakan banyak hal dan sesekali menghina satu sama lain.

"Apa kau tahu? Semua perempuan Weasley akan menjadi 10 kali lebih galak saat mereka hamil." Fred memberitahu, berbisik saat melihat Ginny yang mengomel karena George mengambil cokelat pemberian Hermione dan menghabiskannya begitu saja.

Hermione mengangguk.

"George Weasley, kau harus membelikanku cokelat yang sama atau aku akan memotong rambutmu sampai habis." Ginny berteriak.

Fred dan Hermione tertawa pelan.

"Dan kau! Fred! Hermione! Berhentilah tertawa dan berbisik satu sama lain, kalian membuatku ingin muntah!" Ginny berteriak kesal, memarahi semua orang yang ada disekitarnya.

Hermione dan Fred tertawa lagi.

Hermione bertahan di Burrow sampai sore, ia kemudian pamit dan kembali ke rumah orangtuanya.

"Mione." Fred memanggilnya sebelum ia pergi.

"Ada apa?"

"Jangan terlalu merindukan Malfoy." Fred berkata ringan sambil tersenyum.

Hermione tidak mengerti apa maksudnya.

.

"Kurasa kita harus melakukan sesuatu." Pansy berseru pada teman-temannya.

Daphne dan Theo menggeleng seirama, tidak setuju dengan perkataan Pansy.

"Percuma." Blaise menjawab begitu mendengar perkataan calon istrinya itu.

"Lalu apa kita akan membiarkan Draco terus seperti ini?" Pansy bertanya lagi.

Lima Slytherin ini sedang menghabiskan waktu bersama, mereka berada di sebuah pub. Blaise, Pansy, Theo, dan Daphne duduk di salah satu meja, sementara Draco menyendiri di bar.

"Memangnya kau bisa melakukan apa Pans?" Blaise bertanya.

Pansy diam saja.

"See…" Blaise berujar. "Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, kita tidak bisa begitu saja mendatangi Granger lalu memintanya berbaikkan dengan Draco."

"Atau kita bisa mencarikan Draco perempuan lain?" Pansy berkata lagi.

Daphne dan Theo menggeleng seirama, lagi-lagi tidak setuju dengan perkataan Pansy.

"Apa kita perlu mencarikannya teman kencan untuk pesta besok?" Pansy bertanya lagi.

Daphne dan Theo menggeleng seirama. Lagi.

"Draco sudah dewasa, ia pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." Blaise berkata lagi.

Daphne dan Theo kali ini mengangguk seirama.

"Kalian berdua, berhentilah mengangguk dan menggeleng seperti itu, membuatku ingin muntah." Pansy berkata pada Theo dan Dapne.

Daphne dan Theo tertawa.

.

"Gin, apa kau yakin ini tidak berlebihan?" Hermione bertanya pada temannya itu.

"Hermione, kau terlihat cantik, benar-benar cantik." Ginny berseru melihat Hermione yang berdiri di depan kaca.

Hermione melihat dirinya di depan kaca dengan gaun merah panjang yang terlalu ketat untuk seleranya, tadinya ia sudah tidak mau datang ke acara kementrian, meskipun ia termasuk salah satu panitia dekorasi. Tapi Ginny datang kerumah orangtuanya tadi siang dan berkata telah meminta Cedric untuk menemaninya malam ini.

Ginny datang dan berkata akan membantunya bersiap-siap, dan Hermione tidak bisa menolak wanita hamil di depannya itu.

Jadi disinilah ia sekarang.

"Gin, kurasa ini terlalu berlebihan, aku tidak nyaman, kenapa begitu banyak bagian belakangku yang terlihat?" Hermione benar-benar tidak nyaman dengan pakaiannya.

"Hermione, percayalah kau terlihat cantik sekali, jangan kuatir, sesekali terlihat seksi tidak masalah." Ginny berkata lagi.

.

"Apa kau gugup?" Cedric bertanya saat mereka sudah sampai di depan pintu.

"Tidak." Hermione berkata cepat. "Untuk apa gugup?"

"Mungkin karena kau akan bertemu Draco?" Cedric bertanya sambil lalu.

Hermione tidak menjawab. Untuk apa merasa gugup, ia bertemu dengan Draco hampir setiap hari di kementrian, untuk apa merasa gugup.

Hermione dan Cedric berjalan masuk ke Ballroom dimana pesta tahun baru kementrian berlangsung.

Hermione melihat Draco yang hanya duduk diam di bar sepanjang pesta, tidak makan, tidak berdansa, tidak bicara dengan orang lain, tidak melakukan apapun selain minum.

Hermione duduk di salah satu meja dengan Cedric dan beberapa teman mereka, makan dan mengobrol satu sama lain. Hermione beberapa kali berdansa dengan Cedric, Harry, Ron, dan juga beberapa rekan kerjanya, tapi ia tidak pernah benar-benar bisa mengalihkan perhatiannya dari Draco.

Hermione bisa melihatnya benar-benar tidak berinteraksi dengan siapapun, beberapa perempuan mendekatinya, sepertinya mengajaknya bicara atau mengajaknya berdansa, tapi Draco tidak merespon mereka atau langsung menolak mereka mentah-mentah.

Hermione beberapa kali hampir menghampirinya, tapi Cedric yang berada di dekatnya membuatnya tahu kalau ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa begitu saja mendatangi Draco.

Tapi akhirnya ia tidak tahan lagi. Sekitar pukul sebelas, Hermione akhirnya berjalan pelan mendekati Draco. Ia duduk di kursi di samping Draco.

Draco baru akan mengeluarkan sesuatu yang kasar dari mulutnya saat kemudian ia sadar siapa yang duduk disampingnya.

"Apa maumu Granger?" Draco bertanya, sepertinya ia sudah setengah mabuk.

"Apa kau tidak bisa melakukan hal lain selain duduk disini dan minum seperti pria paling menyedihkan diseluruh dunia?" Hermione bertanya, memesan satu minuman tidak beralkohol.

"Kembalilah pada Diggory." Draco berkata, tidak ingin bertengkar dengan Hermione.

"Kenapa kau tidak datang dengan seseorang?" Hermione bertanya.

"Untuk apa? Masih bagus aku datang kesini." Draco bergumam lagi.

"Apa kau benar-benar akan bersikap seperti ini?" Hermione bertanya.

"Bersikap seperti apa?" Draco berpura-pura tidak mengerti.

"Kau membuatku muak, kau bersikap seakan-akan aku yang membuatmu seperti ini, seakan-akan aku wanita jahat yang mencampakkanmu, apa kau tidak lihat bagaimana semua perempuan di kementrian melotot melihatku? Draco, kukira kau sudah dewasa, kau tidak seharusnya bersikap seperti ini."

Draco tertawa sarkas. "Kau yang seharusnya berhenti berpura-pura dewasa! Kau ingin aku bersikap seperti apa? Menerima hubunganmu dengan Diggory dengan tangan terbukan? Membuat pernyataan di Prophet kalau aku ikut bahagia dengan hubunganmu dengan Diggory? Kau memang wanita jahat yang mencampakkanku kan? Apa yang kau harapkan dariku?" Draco bertanya kesal.

Hermione menghela nafasnya.

"Pulanglah! Kau sudah mabuk." Hermione pergi kembali ke mejanya, memutuskan tidak ada gunanya berdebat dengan Draco.

.

Tahun baru tinggal 10 menit lagi, MC acara sudah meminta semua orang berkumpul di tengah ruangan di depan panggung, mereka akan menghitung mundur detik-detik pergantian tahun bersama.

Mentri sihir naik ke panggung dan mengucapkan sepatah dua patah kata, berterimakasih atas kerja keras seluruh karyawan selama tahun ini, dan berharap mereka bisa bekerja lebih baik lagi tahun berikutnya.

Kemudian seluruh hadirin mulai menghitung detik-detik pergantian tahun.

"10….. 9…..8…..7…..6….." Draco membalikkan badannya dari bar, melihat ke arah kerumunan, mencari sosok Hermione.

"5….4…." Draco melihat sosok Hermione disamping Cedric yang bersama-sama seluruh kerumunan berhitung mundur.

"3…..2…..1…."

"HAPPY NEW YEAR!" Semua orang berteriak, kembang api dinyalakan dan confetti di buka.

Draco melihat Cedric dan Hermione berciuman.

Sama seperti semua orang di sekitar mereka, hampir semua pasangan yang ada disana berciuman, New Year-Kiss.

That's it, that's the end. Draco berkata pada dirinya sendiri dan kemudian turun dari kursi bar dan berjalan menuju saluran floo terdekat.

.

"Selamat tahun baru Hermione." Cedric berkata pelan.

"Selamat tahun baru Cedric." Hermione berkata pelan.

Cedric melihat Hermione, dan berkata pada dirinya sendiri bahwa itu akan menjadi ciuman terakhir mereka.

"Kembalilah pada Draco." Cedric berbisik. "Aku tahu kau mencintainya, berhentilah membohongi dirimu sendiri." Cedric berkata lagi.

Hermione melihat pria di depannya.

"Now!" Cedric berkata lagi.

Hermione tidak tahu apa yang merasukinya, ia berjalan cepat menuju bar dimana tadi Draco duduk meninggalkan Cedric ditengah-tengah kerumunan, ia mengangkat bagian bawah gaunnya agar bisa lebih cepat bergerak. Tapi Draco tidak ada disana, Hermione terlambat, Draco sudah terlanjur pergi.

"Ia baru saja pergi." Seorang pelayan di bar berkata pada Hermione, tahu siapa yang dicarinya. "Belum lama, mungkin anda masih bisa menyusulnya."

Hermione kemudian berlari ke saluran Floo terdekat.

"Draco!" Hermione berteriak, memanggil Draco yang sedang membersihkan bagian bawah celananya.

"Granger?" Draco bertanya, tidak mengerti apa yang dilakukan Hermione disana.

"Kau mau pulang?" Hermione bertanya sambil terengah-engah.

Draco mengangguk. "Sepertinya saluran Floo-nya tidak bekerja." Draco berkata sambil terus membersihkan debu yang mengenai celananya karena saluran Floo tidak bekerja.

Hermione hanya menatap Draco, tidak tahu harus mengatakan apa.

"Apa yang kau lakukan disini?" Draco bertanya.

Hermione tidak menjawab.

"Aku mencintaimu Draco." Hermione berbisik pelan.

Draco terdiam.

Hermione mulai menitikkan air matanya. "Katakan sesuatu." Hermione tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Draco hanya berdiri diam di depannya, tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa.

Mereka hanya bertatapan satu sama lain.

"Draco…" Hermione menghapus air matanya dengan lengannya. Ia takut sekali, bagaimana jika Draco sudah terlanjur membencinya?

Draco berjalan pelan ke arah Hermione. Ia mengulurkan tangannya, Hermione menggapai tangan pria di depannya.

Draco kemudian menarik Hermione ke pelukkannya.

-To Be Continued-

Sebenarnya aku udah mau post ini dari kemarin sore, tapi tiba-tiba aku demam... bzzz, derita anak kost.

Hope you like it.

Read and Review.

-dramioneyoja