All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

Chapter 24 : Ferret dan Hermione kembali bersama.

24.

Draco melihat Hermione yang tertidur di pelukkannya. Ia tidak tahu bagaimana nasibnya bisa berubah menjadi begitu baik? Apa ini tanda dari awal tahun yang baik untuknya?

Draco membelai kepala Hermione pelan, memperhatikan tempo nafasnya. Ia tidak bisa berhenti tersenyum dari tadi.

Draco membawa Hermione ke apartementnya, mereka tidak melakukan apa-apa. Draco memberikan kaos dan boxernya yang bersih pada Hermione kemudian mengganti bajunya juga, lalu mereka berdua berbaring di kasur, hanya menatap dan sesekali membelai satu sama lain.

"Apa yang membuatmu kembali padaku?" Draco bertanya, menggenggam tangan Hermione erat.

"Cedric berkata padaku agar berhenti membohongi diriku sendiri." Hermione berbisik pelan.

"Selama ini kau membohongi dirimu sendiri?" Draco bertanya.

Hermione mengangguk.

"Aku ingin kau berjanji untuk tidak membohongi dirimu sendiri lagi mulai sekarang." Draco mengulurkan jari kelingkingnya.

Hermione berkaca-kaca, kemudian mengaitkan jari kelingking mereka.

"Jangan menangis!" Draco memberitahu Hermione, menghapus titik air mata yang mulai muncul di ujung matanya.

"Are we okay?" Hermione bertanya, masih ragu apa Draco sudah benar-benar menerimanya kembali atau belum.

Draco mengangguk.

"Apa kau akan dengan mudahnya memaafkanku?" Hermione bertanya pelan, mengingat wajah Draco yang sedih saat Hermione mengatakan hubungan mereka sudah berakhir, bagaimana Draco yang berkaca-kaca dan menitikkan air matanya.

Hermione ingat bagaimana perasaan sakit hatinya saat melihat wajah Draco yang sedih. Hermione menangis.

"Kenapa kau menangis Hermione?" Draco bertanya lagi.

Hermione melingkarkan kedua tangannya di leher Draco, menyembunyikan wajahnya di dada Draco dan menangis.

"Draco maaf, aku minta maaf, aku sudah melukai perasaanmu, aku membuatmu sedih dan terluka, aku minta maaf Draco, aku seharusnya tidak melakukan ini." Hermione menangis sambil berseru.

"Sudahlah, sudah, tidak ada yang perlu dimaafkan Hermione." Draco mengelus-elus punggung Hermione, menenangkan tangisnya.

Hermione terus menangis.

Draco menarik wajah Hermione dan membuat mereka saling bertatapan. Draco menghapus air mata Hermione dengan kedua ibu jarinya.

"Hermione Granger, berhentilah menangis, jika kau ingin maaf dariku, aku akan memberikannya padamu, apapun yang kau minta aku akan memberikannya padamu. Hermione aku mencintaimu, jangan pernah berpikiran lain, jangan pernah meragukan itu." Draco berkata sungguh-sungguh.

"Mulai sekarang kita akan melakukan semuanya bersama, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan membiarkanmu pergi lagi dariku."

Hermione mengangguk, menghapus sisa air matanya dengan lengannya dan memeluk Draco erat.

"I love you." Hermione berbisik.

"I love you as well." Draco mempererat pelukkannya dan membiarkan Hermione tertidur.

Sekarang sudah pukul empat pagi dan Draco masih belum tidur. Ia merasa begitu tenang, setelah sekian lama akhirnya ia tidur di samping Hermione lagi, setelah sekian lama Ia akhirnya ia bisa menghirup aroma shamponya lagi, menghirup aroma kulitnya, merasakan pelukannya lagi.

Hermione bergerak perlahan, kemudian membuka matanya. "Kau tidak tidur?" Hermione bergumam pelan. Menyembunyikan wajahnya di dada Draco, menghirup aromanya.

Draco menggeleng.

"Kenapa kau tidak tidur?" Hermione bertanya.

"Aku takut terbangun dan kemudian kau menghilang." Draco bergumam pelan.

Hermione mengulurkan tangannya ke arah kepala Draco, menyingkirkan beberapa helai rambut yang terjatuh di keningnya. "Tidurlah." Hermione berbisik. "Aku tidak akan pergi kemanapun."

Draco mempererat pelukkannya pada Hermione lalu menutup matanya.

.

Draco terbangun lagi saat matahari sudah tinggi dan sinarnya masuk lewat sela-sela jendelanya.

"Jam berapa sekarang?" Draco bertanya, tahu Hermione sudah bangun.

"Jam sembilan."

"Kau lapar?" Draco bertanya pelan.

"Tidak."

"Aku kelaparan."

Hermione tertawa. "Kau mau ku buatkan sesuatu?" Hermione bertanya.

"Sepertinya tidak ada apa-apa di kulkasku, aku memberikan Seezy cuti sampai dua hari kedepan." Draco memberitahu.

"Let's see." Hermione bangun dari kasurnya dan berjalan keluar dari kamar Draco. Draco mengikutinya, mereka berjalan menuju ke bagian dapur.

Hermione membuka kulkas, melihat apa yang ada di sana, menggeleng kemudian membuka lemari yang menggantung di atas, kemudian menggeleng lagi.

"Kau benar." Hermione berkata. "Tidak ada apa-apa."

"Apa kita harus delivery?" Draco bertanya.

"Tidak ada delivery yang buka, ini tahun baru." Hermione berkata lagi.

"Apa McDonald buka?" Draco bertanya.

Hermione tersenyum lebar, mengangguk.

.

Akhirnya setelah berusaha menemukan sesuatu yang bisa dikenakannya dari lemari Draco mereka pergi ke Mc Donald terdekat.

"Aku tidak menyangka bisa makan disini lagi denganmu." Hermione tersenyum sambil mengunyah burgernya.

Draco tersenyum, sejak tadi pagi bangun sampai sekarang ia tidak berhenti tersenyum.

Mereka kemudian membicarakan banyak hal, Draco memberitahu semuanya yang terjadi pada Lucius dan Astoria sebelum Hermione bertanya apa yang terjadi.

Wajah Hermione berubah begitu mendengar cerita Draco tentang Lucius.

"I'm sorry." Hermione berkata pelan.

Draco mengangkat bahunya, tidak peduli. "Tidak apa Granger, aku kira ia sudah berubah tapi ternyata tidak, kita tidak perlu mempedulikannya lagi."

Hermione mengangguk, tidak ingin merusak mood pagi mereka.

.

Draco dan Hermione berjalan bergandengan tangan ditemani udara London yang dingin.

Mereka hanya berjalan dan tersenyum satu sama lain, tanpa bicara satu sama lain, hanya ada satu atau dua orang di sekitar Diagon Alley, orang-orang pasti masih berada di rumah mereka, menikmati hari pertama tahun baru bersama keluarga mereka.

"Ada tempat tertentu yang mau kau datangi?" Draco bertanya pada Hermione.

Hermione menggeleng. "No, not really."

"Lalu kita mau kemana? Kembali ke rumahku saja?" Draco bertanya.

"Pervert."

"Wow Granger, aku kan hanya menyarankan untuk kembali kerumahku saja, tidak menyarankan sex atau semacamnya, kenapa kau memanggilku pervert?"

.

Hermione dan Draco berada di kasur Draco. Keduanya hanya ditutupi selimut yang mereka bagi satu sama lain.

"Masa hukumanmu sudah selesai?" Hermione bertanya memastikan.

Draco mengangguk.

"Berarti aku tidak akan melihatmu lagi di kementrian?" Hermione mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Draco, menyusuri tulang rahangnya pelan.

Draco menutup matanya, menikmati sentuhan Hermione.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Hermione bertanya lagi.

"Aku akan mengurus perusahaan, melihat apa yang kira-kira bisa kulakukan." Draco berkata.

"Bagaimana persiapan kuliahmu?" Draco bertanya.

"Sudah hampir selesai." Hermione kemudian mendekatkan dirinya ke Draco. Draco memeluknya.

"Kau sudah menentukan jurusan yang kau pilih?" Draco bertanya sambil mengelus-elus punggung Hermione.

"Diplomacy and Wizarding Relation." Hermione memberitahu. "Bagaimana menurutmu?"

"Not bad." Draco bergumam. "Apa kau akan meninggalkanku begitu saja?" Draco bertanya.

Hermione menghela nafasnya, satu masalah selesai dan masalah lainnya muncul. "Seandainya ada universitas sihir di Inggris." Hermione bergumam.

"Draco, apa yang harus aku lakukan? Apa kau mengakhiri hubungan ini? Aku tidak ingin memaksamu untuk menungguku atau semacamnya." Hermione bertanya pelan. Ia tidak akan memaksa Draco menunggunya.

"Aku akan menunggumu." Draco berbisik.

"Dua tahun? Kau mau menungguku dua tahun?" Hermione bertanya memastikan.

Draco mengangguk. "Granger, Prancis tidak jauh, aku akan sering mendatangimu." Draco berbisik.

Hermione menghela nafasnya.

.

"Ku kira kalian sudah putus." Richard Granger duduk dengan wajah datar di depan Hermione dan Draco, berusaha mengintimidasi mereka berdua.

Dan Draco memang merasa sedikit terintimidasi. "Dad, kan sudah kubilang, ini kan bukan salah Draco, aku yang meninggalkannya karena masalahku."

Richard menyipitkan matanya. "Dan Mr. Malfoy diam begitu saja? Tidak melakukan apa-apa saat kau meninggalkannya?"

Draco terbatuk, ugh, tentu saja ia tidak diam saja, ia memohon-mohon pada Granger agar kembali padanya seperti pengemis, apa ia harus mengatakannya pada Mr. Granger? Mau di letakkan dimana harga dirinya?

"Sudahlah Richard." Helena akhirnya angkat bicara. "Jadi kalian sudah kembali berhubungan, setelah ini apa?" Helena mengalihkan pertanyaan, berharap Draco atau Hermione sudah memikirkan tentang pernikahan atau semacamnya.

"Well, karena Hermione berencana kuliah di Prancis maka kami tidak akan melakukan apa-apa dalam jangka dekat." Draco berkata, menjawab pikiran Helena.

Helena menghela nafasnya, Ia tidak menolak rencana Hermione untuk melanjutkan pendidikannya, tapi apa mereka berdua bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh?

"Apa kalian yakin bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh?" Richard bertanya, sesuai dengan isi pikiran istrinya.

"Mum, Dad, bisakah kita berhenti membicarakan ini?" Hermione bertanya kesal.

.

Hampir semua orang, tidak, semua orang meragukan apa mereka berdua bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh atau tidak, semuanya.

Mr dan Mrs Granger, Narcissa, Harry, Ginny, Blaise, Theo, semuanya. Mereka semua menanyakan hal yang sama. Dua tahun saja, apa yang bisa terjadi dalam dua tahun? Apa Draco akan melupakannya? Menemukan wanita lain yang lebih baik? Apa Draco akan berhenti mencintainya karena mereka jarang bertemu?

Hermione tidak bisa tidur dengan tenang. Ia terus membolak-balikkan badannya ke kiri dan ke kanan, membiarkan Draco yang sudah tidur nyenyak disampingnya.

Hermione dan Draco sudah tinggal bersama lagi di tempat Draco, ia dengan senang hati memindahkan beberapa barangnya ke rumah Draco sampai nanti ia berangkat ke Prancis.

Meskipun Richard Granger mengomel saat Hermione dan Draco datang untuk mengambil beberapa barang. Ia berkata tidak benar untuk sepasang pria dan wanita tinggal bersama tapi belum menikah, tapi Helena membela Hermione dan berkata kalau Richard terlalu kolot.

Sebelum berangkat ke Prancis, Hermione benar-benar ingin menghabiskan waktunya dengan Draco.

Ia sudah mengajukan pengunduran dirinya di kementrian dan akan berhenti bekerja setelah bulan Januari berakhir, ia sudah menyerahkan berkas-berkasnya ke Wizarding University, meskipun paling lambat berkas diserahkan akhir Februari, Hermione sudah menyiapkan semua berkas yang diperlukannya jauh-jauh hari, seperti biasa.

Setelah dipikir-pikir Hermione tidak memerlukan rekomendasi pengajar, semua nilai ujian akhir Hogwartsnya merupakan nilai tertinggi, ia tidak perlu takut tidak lulus verifikasi berkas, jadi ia tidak jadi meminta bantuan pamannya Cedric.

"Kenapa kau tidak juga tidur?" Draco bergumam.

"Banyak pikiran."

Draco tertawa. "Kapan kau pernah tidak banyak pikiran? Tidurlah Granger." Draco menarik Hermione kepelukkannya, menyembunyikan wajahnya di rambutnya.

Draco merindukan ini, merindukan Hermione di pelukkannya.

Hermione menghela nafasnya dan menutup matanya.

.

"Granger! Apa kau lihat kaus kakiku?" Draco berteriak dari ruang tamu.

"Sudah ku buang." Hermione balas berteriak dari dapur. Hari ini mereka berdua akan menghadiri sidang Lucius, dan Draco sepertinya sedang bersiap-siap.

"Semuanya?" Draco bertanya lagi.

"Semuanya." Hermione menjawab kesal, Draco tidak berubah ia selalu meletakkan kaos kakinya sembarangan, dan Hermione sudah menyembunyikan semua kaos kakinya karena kesal.

"Seezy, apa kau lihat kaos kakiku?" Draco bertanya pelan pada Seezy yang sedang membersihkan jendela.

Seezy menunduk. "Miss Hermione menyimpan semuanya." Seezy menjawab takut.

"Ugh, Granger." Draco bergumam lalu menuju ke ruang makan, Hermione sedang menuang susu di gelas dan Draco duduk di kursi, mulai memakan sarapannya. Tidak lama Hermione datang dan duduk di depan Draco dan juga memakan sarapannya.

"Granger, dimana kaos kakiku?" Draco bertanya.

"Sudah ku buang, kan kau tidak memerlukannya." Hermione menjawab sambil mengangkat bahunya.

"Aku memerlukannya Granger." Draco berkata.

"Kalau kau memerlukannya kenapa kau selalu membuangnya begitu saja? Meletakkannya sembarangan setiap habis menggunakannya?" Hermione bertanya dengan nada bossy-nya.

Draco menghela nafasnya. "Kebiasaan." Draco membela dirinya. "Oh ayolah Granger, setidaknya sekarang aku menghabiskan susu-ku, satu persatu, aku tidak bisa berubah dalam satu malam." Draco mengeluh.

Draco sudah mulai mengkonsumsi susu, meskipun ia masih menjulurkan lidahnya setiap selesai menghabiskan satu gelas yang disiapkan Hermione di pagi hari.

Ia juga sudah meletakkan dasinya ke tempat seharusnya setelah habis digunakan, tapi kaus kaki masih menjadi masalah utamanya, pulang dari manapun ia selalu meletakkan kaus kakinya sembarangan.

.

Hermione dan Draco duduk di ruang sidang, ditemani Blaise dan Theo. Mereka menunggu Narcissa datang di kawal Harry dan Ron.

Narcissa datang dan memeluk Draco dan Hermione erat, Draco sempat datang dan mengatakan bahwa ia dan Hermione sudah kembali bersama, Narcissa tidak bisa lebih senang lagi, masalah mereka sudah hampir selesai dan Hermione sudah kembali pada Draco.

Mereka kemudian duduk dan menunggu sidang dimulai. Lucius dibawa ke ruang sidang.

.

Hermione memeluk Narcissa yang menangis tersedu-sedu. Lucius di hukum satu tahun di Azkaban dan masih harus tetap melanjutkan hukuman tahanan rumahnya setelah keluar dari Azkaban.

Draco tidak mengatakan apa-apa, dan Hermione juga hanya membiarkan Narcissa menangis dipelukkannya, bagaimanapun ia tetap mencintai Lucius.

"Maafkan aku Lucius, tapi kau harus benar-benar berubah. Aku mencintaimu." Narcissa berkata sebelum Lucius dibawa pergi.

"Hermione, aku harus mengantar Mrs Malfoy pulang." Ron berkata pelan. Hemione mengangguk. Narcissa menghapus air matanya lalu berdiri dan siap kembali ke Manor.

"Aku akan secepatnya mengunjungimu." Hermione berkata sebelum terakhir kalinya memeluk Narcissa.

Narcissa mengangguk. "Terimakasih banyak Hermione." Narcissa lalu pergi dikawal Ron.

Tidak lama Draco muncul bersama Harry, mereka membicarakan sesuatu sambil berjalan mendekat ke arah Hermione.

"Apa kita sudah bisa pulang?" Hermione bertanya.

Draco mengangguk lalu mengulurkan tangannya ke arah Hermione, Hermione menggapainya.

"Terimakasih banyak Potter, kami pergi dulu." Draco pamit.

"Aku pulang dulu Harry." Hermione mencium pipi Harry.

"Berhati-hatilah." Harry berkata, tersenyum melihat Hermione dan Draco bergandengan tangan dan pergi menjauh. Mereka akhirnya kembali bersama tapi Hermione akan pergi ke Prancis dan mereka akan berpisah lagi.

Harry berharap semoga Draco bisa membuat Hermione tidak jadi pergi. Egois memang, tapi Harry yakin bukan hanya ia yang ingin Hermione tidak jadi pergi, seluruh anggota keluarga Weasley, kedua orangtuanya, termasuk Draco sendiri, Harry yakin Draco juga tidak ingin Hermione pergi

.

"Apa yang kau bicarakan tadi dengan Harry?" Hermione bertanya, ia dan Draco duduk di depan televisi. Draco duduk dan melebarkan kakinya sementara Hermione duduk di sela kakinya dan bersandar padanya, Hermione memakan sekotak ice cream sambil sesekali menyuapi Draco.

"Astoria." Draco menjawab pelan.

"Apa yang akan terjadi padanya?"

"Dia sekarang berada di St. Mungo, setelah menjalani pemeriksaan sepertinya memang ia memiliki gangguan jiwa." Draco memberitahu.

"Lalu apa yang akan terjadi?" Hermione bertanya.

"Potter bertanya apa kita mau mengajukan tuntutan padanya atau semacamnya. Kita bisa mengajukan tuntutan dan Astoria akan ditindak secara hukum, tapi kita bisa membiarkannya saja dan ia akan ditahan di bangsal pasien mental di St. Mungo."

"Kurasa kita sebaiknya membiarkan ia disana." Hermione berkata.

Draco mengangguk. "Aku juga berpikiran seperti itu, tapi entahlah, sebaiknya kita memikirkannya dulu."

Hermione mengangguk.

.

"Hermione tidak bisa datang?" Narcissa bertanya saat Draco mengunjunginya.

Draco menggeleng. "Dia harus mengurus sesuatu." Draco memberitahu.

"Hermione jadi pergi ke Prancis?" Narcissa bertanya pelan, Draco sudah memberitahunya tentang rencana Hermione untuk kuliah lagi dan sekarang ia melihat Draco seperti sedang menghadapi dilema.

Draco mengangguk. "Mom, apa yang harus kulakukan?" Draco bertanya putus asa.

"Apa kau tidak bisa menunggunya?"

"Bisa, tentu saja bisa, berharap saja aku tidak mati bunuh diri karena terlalu merindukannya." Kata Draco sarkas.

Narcissa berpikir. "Apa kau memikirkan untuk ikut pindah ke Prancis?" Narcissa bertanya.

Draco menggeleng. "Aku sempat memikirkannya tapi aku tidak mungkin meninggalkan Mom disini sendiri." Draco berkata lagi.

Narcissa tersenyum. "It's okay Son, lagipula masa hukumanku tidak sampai satu tahun lagi, tidak apa jika kau memang mau pindah ke Prancis." Narcissa tidak menyangka Draco menjadikan dirinya sebagai alasan, ia senang, tentu saja senang, anaknya sekarang benar-benar sudah dewasa, meskipun ia sudah menemukan wanita yang dicintainya tapi tetap memikirkan orangtuanya.

Draco menggeleng. "Tidak mom, lagipula aku perlu mengurus perusahaan."

.

"Draco!" Hermione berusaha membangunkan Draco. "Ayolah, bangun, kau janji akan ikut ke Burrow." Hermione merajuk dan membuat kasur mereka berdecit karena ia melompat-lompat pelan.

"Ugh… baiklah baik… aku akan ikut ke Burrow, tidak bisakah kau biarkan aku tidur 15 menit lagi?" Draco bertanya sambil menari selimutnya lebih tinggi lagi.

"Tidak! Bangunlah sekarang dan mandi, kau tidak ingin datang terlambat dan membuat citramu buruk dimata mereka kan?" Hermione bertanya, menarik selimut Draco.

"Arrghhh…. Granger biarkan aku tidur sebentar lagi, lagipula citraku sudah buruk dimata semua orang, jadi biarkan aku tidur sebentar lagi."

Akhirnya sepuluh menit kemudian Hermione berhasil membuat Draco bangun dan bergerak ke kamar mandi.

Setelah satu ronde di kamar mandi Draco akhirnya benar-benar mandi, Hermione pindah ke kamar mandi di kamar tamu karena tahu ia dan Draco tidak akan pernah selesai mandi jika begini terus caranya.

Akhirnya sekarang Draco sedang duduk di ruang tamunya, menunggu Hermione selesai bersiap-siap.

Terus terang Draco gugup. Sama gugupnya saat akan bertemu dengan kedua orangtua Hermione. Keluarga Weasley sudah seperti keluarga kandung Hermione dan bertemu keluarga kekasihmu tentu akan membuatmu gugup.

"Granger! Jangan lupa kaus kakiku." Draco berseru, tidak lama Hermione keluar dari kamar dengan tas kecilnya dan gumpalan kaos kaki milik Draco lalu melemparkannya ke arah Draco.

"Kau sudah siap?" Hermione bertanya. Draco mengangguk. Hermione bisa melihat wajah Draco yang terlihat tegang.

"Kau kenapa?" Hermione berjalan mendekat ke arah Draco.

"Tidak apa-apa." Draco berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Hermione tersenyum, ia duduk di pangkuan Draco dan melingkarkan kedua tangannya di leher pria di depannya.

"Kau tidak apa-apa?" Hermione bertanya, memperhatikan wajah Draco lekat-lekat. Draco mengangguk, menghindari tatapan matanya.

Hermione tersenyum. "Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa, mereka akan menerimamu. Paling-paling Fred dan George akan sedikit mengerjaimu."

Draco menghela nafasnya, ia melingkarkan tangannya di pinggang Hermione. "Kau yakin? Kau yakin mereka akan menerimaku?" Draco bertanya lagi.

"Kau benar-benar kuatir mereka tidak akan menerimamu? Sejak kapan pendapat orang lain penting bagimu?" Hermione tertawa pelan.

"Well, pendapat orang lain tidak penting bagiku, tapi aku tahu pendapat mereka penting bagimu, aku tahu keluarga Weasley penting bagimu." Draco berkata pelan.

Hermione tersenyum.

.

Hermione dan Draco ber-apparating langsung ke dekat halaman depan Burrow, mereka berjalan bergandengan tangan.

"Hermione…" Ginny berteriak kencang begitu melihat Hermione datang.

"Gin, pelankan sedikit suaramu." Molly berkata dari dapur.

"Akhirnya Ferret memunculkan batang hidungnya." Fred berkata dari ruang tamu.

"Kukira Ferret memunculkan ekornya." George menambahi.

Harry dan Ginny tertawa pelan. Molly membersihkan tangannya dan berjalan menuju Hermione dan Draco, memeluk Hermione erat kemudian memeluk Draco.

Draco tidak tahu harus melakukan apa, ia tidak tahu harus memeluk balik atau diam saja.

Fred dan George tertawa.

"Mum, kau membuatnya tidak bisa bernafas." Fred tertawa.

Molly kemudian melepaskan Draco dari pelukkannya. "Akhirnya kau datang juga, duduklah kalian, sebentar lagi makan siang siap."

Draco duduk di bagian sofa paling jauh dari Fred dan George.

"Tenanglah Malfoy, kami tidak akan mengerjaimu sebelum makan siang." George berseru.

Draco melirik Hermione yang hanya tertawa disamping Ginny yang perutnya sudah terlihat cukup besar.

"Kapan hari perkiraan lahirnya?" Hermione bertanya pada Ginny.

"Bulan Juli." Ginny berkata.

"Benarkah? Apa ada kemungkinan tanggal lahirnya dan Harry bisa sama?" Hermionebertanya lagi.

"Entahlah." Kata Ginny mengelus-elus perutnya.

"Semoga ia tidak mirip Potter." Draco bergumam.

"Indeed." Fred dan George berkata bersamaan.

"Bukankah akan aneh kalau anakku tidak mirip denganku?" Harry bertanya retoris.

Seisi ruangan tertawa.

.

Saat makan siang suasana menjadi lebih cair, Draco berada dalam satu tim dengan Fred dan George meledek Ron terus menerus sepanjang makan siang. Molly beberapa kali menyuruh mereka berhenti tapi mereka tetap menggoda Ron dan terkadang Harry dan Ginny juga Hermione.

Draco kemudian bermain Quidditch bersama sisa anggota keluarga Weasley, menggantikan posisi Ginny.

Hermione, Ginny dan Molly duduk di pinggir tempat mereka bermain.

"Bagaimana akhirnya kau bisa membujuk Malfoy datang kesini?" Ginny bertanya.

Hermione tertawa, tapi akhirnya tidak menjawab pertanyaan Ginny.

"Mione, apa kau siap meninggalkan Draco?" Molly bertanya pelan.

Hermione menghela nafasnya. "Well, aku sudahyakin akan keputusanku, aku akan tetap berangkat ke Prancis, lagipula aku sudah membicarakan hal ini dengan Draco, ia berkata akan menungguku." Kata Hermione lagi.

"Baiklah, aku akan memperhatikannya selama kau pergi, memastikan tidak ada perempuan yang mendekatinya." Ginny berkata lagi.

Mereka kemudian tertawa melihat George yang terbalik, hanya satu kakinya yang menggantung di sapunya. Draco sengaja menyerempetnya dengan sapunya saat mengejar Snitch.

.

"See, mereka tidak buruk kan?" Hermione bertanya sambil menggerakkan bagian bawah tubuhnya yang berada di pangkuan Draco.

"Hmmm…" Draco mendesah, berusaha menahan erangannya.

Mereka sudah kembali dari Burrow dan sekarang berada di kamar Draco.

"Apa kau akan datang lagi kesana setelah ini?" Hermione bertanya.

"Hmmm…."

"Bahkan setelah aku pergi ke Prancis?" Hermione menggigit pundak Draco.

"Shit…. Granger." Draco tidak tahan lagi, ia membalikkan posisi mereka dan meletakkan Hermione di bawahnya.

Hermione meletakkan kedua tangannya di dada Draco, menahannya agar tidak langsung mendorong masuk.

"Tunggu." Kata Hermione.

"Ada apa?" Draco bertanya tidak sabaran.

"Kau harus tetap pergi ke Burrow meskipun aku tidak di Inggris lagi! Is that clear?" Hermione bertanya. Ia tidak ingin Draco kesepian, dan meskipun ia menunjukkan di luar kalau ia tidak menyukai keluarga Weasley, Hermione tahu kalau Draco paling tidak, tidak akan merasa terlalu kesepian.

"Ugh, Granger, jika kau memaksaku berjanji dalam keadaan dan situasi seperti ini apa menurutmu aku akan bisa menolak?" Draco mengerang, ia berusaha menahan dirinya.

"Jadi bagaimana? Kau mau berjanji atau tidak?" Hermione memberikan senyumannya yang paling menggoda.

"Baiklah, baiklah, apapaun! Aku akan pergi ke Burrow meskipun kau tidak ada disini untuk memaksaku ke sana." Kata Draco.

"Good." Hermione berbisik, dan Draco langsung menyerangnya.

.

Draco dan Hermione benar-benar menikmati hari-hari mereka, Draco akan cukup sering pergi untuk mengurus perusahaannya yang sedang melakukan pembaharuan besar-besaran, semua karyawan yang korup dipecat dan berusaha melakukan efisiensi dengan karyawan yang masih ada. Draco kehilangan lebih dari setengah karyawannya, dan setelah banyak berdiskusi dengan Narcissa, Hermione, Theo dan Blaise, ia memutuskan untuk tidak melakukan perekrutan terlebih dahulu.

Mereka akan mempersiapkan bagian internal perusahaan yang lebih bersih terlebih dahulu.

Disamping pergi ke perusahaan, Draco menghabiskan waktunya dengan Hermione, terkadang mereka berdua di rumah saja, terkadang mengunjungi teman-teman keduanya, terkadang pergi ketempat-tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya.

Hermione menghitung hari dalam hatinya, menghitung berapa lama waktu yang ia miliki dengan Draco.

.

Mei.

"Kau sadar kan Hermione akan berangkat minggu depan?" Ginny bertanya pada Draco.

Draco mengangguk dan meminum tehnya. Ginny Potter dengan perut yang sangat besar sekali datang ke kantornya, meminta bertemu dengannya hanya untuk membicarakan ini.

"Kenapa kau bisa tenang sekali? Kau sudah siap ditinggalkan olehnya?" Ginny bertanya lagi, memasuki bulan ke tujuh kehamilannya ia semakin dipengaruhi hormonnya dan ia menjadi sangat mudah marah pada semua orang.

"Mrs. Potter, Prancis tidak sejauh yang kau bayangkan, dan meskipun aku tidak sekaya dulu, aku masih punya banyak uang untuk menyuruh kementrian merancang Portkey kapanpun agar aku bisa menemui Granger." Draco menjelaskan.

"Draco, kami semua menaruh harapan padamu, kami kira kau bisa membuat Hermione membatalkan rencananya untuk kuliah." Ginny berkata frustasi.

Draco menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku kekasihnya, bukan majikannya, jika Hermione ingin kuliah maka aku harusnya mendukungnya, kalian juga sebagai teman-teman dan keluarganya juga seharusnya mendukungnya, bukan diam-diam ingin ia membatalkan kepergiannya." Draco menjelaskan.

"Jadi kau akan membiarkannya pergi begitu saja?" Ginny bertanya lagi.

Draco menggeleng tidak habis pikir. "Kenapa kau membuatnya terdengar buruk?"

Ginny bukan satu-satunya orang yang datang dan mengatakan hal serupa padanya, Harry, Ron, Helena Granger, bahkan Narcissa. Tapi Draco tahu apapun yang ia lakukan tidak akan bisa mengubah keputusan Hermione, jadi Draco tidak mengatakan apapun, ia akan tetap mendukung keputusan Hermione untuk melanjutkan kuliahnya.

-To Be Continued-

Read and Review

-dramioneyoja