Disclaimer: Harry Potter is Belong to J.K. Rowling.

A/N : Hai, saya kembali dengan fict aneh ini. saya berharap kalian masih menyukai fict aneh ini. Awas OOC, Typo(s), EYD berantakan, sedikit muggle world. ok, Let's Reading.


Chapter 3

Bruk. "Terima kasih Ms. Granger."Ucap Supir taksi kepada Hermione. "Sama-sama, Sir."Balas Hermione menatap kepergian taksi yang mengantarnya dan Draco ke tempat yang sekarang ia injak. "Aku akan mengambil tasnya, Granger."

"Aku akan menunggumu disini, Malfoy." ucap Hermione yang kemudian duduk di sebuah bangku kosong di bandara tersebut. Draco kemudian mengangguk, dan berjalan ke bagian penitipan barang barang yang berada di bandara tersebut.

Draco kemudian berjalan ke arah meja dan mengantri untuk mengambil tas yang tertukar tersebut. Tanpa harus menunggu lama akhirnya Draco mendapat giliran mengambil barang-barang yang tela dititipkan.

"Selamat pagi, Monsieur. Ada yang dapat saya bantu?" ucap pelayan tersebut dengan aksen inggrisnya yang lancar. "Aku mau mengambil tas atas nama Malfoy."Ucap Draco kepada pelayan tersebut. "Apakah anda membawa nomornya, Mr. Malfoy?"

Draco kemudian memeriksa jas hitam miliknya. Di dalam saku jas, ia mencari di setiap cela. Namun tidak ia temukan. Keringat dingin mulai keluar dari dahi miliknya. "Apakah anda kesulitan mencarinya?" tanya pelayan tersebut ramah.

"Tidak!" Draco berteriak. Orang yang mengantri di belakangnya melihat kearah Draco. "Maaf." ucap Draco tanpa sadar kata tersebut bisa keluar dari bibir miliknya. Draco kembali mencari nomor tersebut. Dan ia menemukan sebuah kartu bertuliskan nomor lima puluh delapan.

"Ah, ini dia." ucap draco sembari memberikan kartu tersebut kepada pelayan tersebut. Pelayan tersebut menerimanya dan mencari tas tersebut. Tak lama kemudian pelayan tersebut kembali dengan membawa sebuah tas hitam dengan sebuah kartu bernomorkan lima puluh delapan.

"Ini, tuan tas milik anda. Ada lagi yang dapat saya bantu?" tawar pelayan tersebut kepada draco. Draco menggeleng kepada pelayan tersebut. "Baiklah. Antrian selanjutnya." Draco kemudian berjalan keluar bandara dan pergi menemui Hermione.

Draco kemudian melihat Hermione sedang duduk sambil membaca sebuah buku. 'Apa tidak ada tempat lain?' pikir Draco dalam hati melihat Hermione yang selalu membaca buku di manapun tempatnya. "Granger,"

"Malfoy. Kenapa lama sekali? Kau tahu, aku menunggumu sampai lumutan." ucap Hermione sambil berdecak kesal. "Huh, kau tidak tahu saja masalah apa yang aku alami, Semak." ucap draco kemudian duduk di samping Hermione.

"Aku tidak peduli, Ferret. Dan berhenti memanggilku semak!" ucap Hermione dengan amarah yang terlihat dari wajahnya ynag merah. "Oke, Kita hentikan perdebatan paling konyol ini. Aku sudah mendapatkan tasnya. Lalu kita akan mencari tahu siapa pemilik tas ini."

Cklek. Tas itu terbuka dengan mudahnya. Hermione pikir tas tersebut memerlukan kode-kode rahasia, namun hanya dengan membuka kunci, tas tersebut terbuka. Di dalam tas tersebut menampilkan buku-buku dan beberapa baju-baju pria ukuran dewasa.

Draco kemudian mengobrak-abrik baju baju tersebut, hingga ia menemukan sebuah kartu berwarna putih. "Aku menemukannya." ekspresi Draco dan Hermione begitu senang, lebih tepatnya bahagia. Draco kemudian membaca tulisan yang terdapat di kertas tersebut keras keras.

"Alferd Clovis, Penulis buku, 16 Rue de l'Église, Colmar, Alsace, Perancis." Hermione mendengarkan dengan baik-baik kata yang keluar dari mulut sang malfoy muda. "Dimana itu?" tanya Draco kepada Hermione yang sekarang menatap Draco bingung.

"Tentu saja di Perancis, Malfoy." Hermione memutar bola mata hazel miliknya. "Baiklah. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Draco menatap mata hazel milik wanita yang ada di hadapannya. Hermione kemudian mencari sesuatu di dalam tas manik-manik miliknya.

Hermione terus mengobrak-abrik, dan akhirnya menemukan sebuah ponsel berlogo apple di belakang ponsel tersebut. "Apa itu?" tanya Draco polos. "Ini ponsel Malfoy. Elektronik muggle." ucap Hermione sambil memutar bola matanya.

Hermione kemudian mengaktifkan ponsel tersebut yang tidak pernah ia gunakan. Ponsel tersebut tidak dapat menyala, "Ogh" ucap Hermione sambil menghentak-hentakan kakinya. "Apa ada masalah, Granger?" tanya Draco berbaik hati kepada Hermione.

"Aku lupa mengisi baterainya, Malfoy." ujar Hermione yang masih mencoba menghidupkan ponsel miliknya tersebut. Akhirnya, Hermione menyerah. Ia tidak bisa menghidupkan ponsel yang sudah hampir enam bulan tidak ia gunakan tersebut.

"Lalu sebenarnya apa yang akan kau lakukan dengan benda muggle tersebut?" tanya Draco menatap Hermione yang kembali duduk di bangku tersebut. "entahlah, aku tak tahu." ucap Hermione yang bukan seperti seorang Hermione yang mudah menyerah.

"Aku mencari alamat tersebut dengan maps yang berada di ponselku."jawab Hermione yang melihat dahi Draco berkerut seperti orang kebingungan. "Oh. Untuk apa? Bukanya kita bisa ber-apparate?"tanya Draco kepada Hermione. Hermione memandang Draco bingung.

"Kita tidak bisa ber-apparate jika kita tidak tahu tempat itu, Malfoy. Kau tidak tahu ya. Kemana saja saat tahun ke-enam?"tanya Hermione sedikit menyindir Draco yang tahun keenamnya sedang mendapatkan tugas dari Voldemort.

Draco mendesis menatap Hermione. Hermione hanya menatap Draco meremehkan. "lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Draco kembali kepada gadis bermabut semak yang berada di hadapanya ini.

"Bisakah kau diam. Aku sedang mencari ide."ucap Hermione sedikit dengan amarah. "Bagaimana kalau kau meminjam ponsel milik seseorang, itu akan sedikit membantu bukan." ucap Draco memberi saran kepada Hermione.

"Bagus sekali malfoy. Sungguh itu ide yang sangat menakjubkan. Dan sedikit menyebalkan." ucap Hermione yang sedikit dibuat manis pada awalnya, kemudian dibuat pahit pada akhirnya, yang membuat Draco sedikit meringis.

"Aku akan meminjam Handphone milik seseorang disini. Kau kemasi barang-barang yang ada di tas tersebut." ucap Hermione yang kemudian pergi menjauh mencari pinjaman ponsel. "Hei, tunggu aku Granger!" ucap Draco yang tergesa-gesa memasukan baju asal-asalan ke dalam tas tersebut.

Draco berlari-larian mengejar Hermione seperti anak ayam yang mencari induknya, eh, anak musang mencari ibunya. Draco berlari-lari sambil membawa tas berwarna hitam tersebut tergesa-gesa mengejar Hermione yang berjalan santai di depannya.

"Granger! Tunggu aku!" semua orang menoleh ke arah draco yang seperti orang gila. Hermione menoleh ke arah belakang, dan melotot ke arah Draco. Tingkah Draco yang bukan sangat Malfoy membuat Hermione malu.

Apalagi orang-orang menatap Hermione dengan tatapan, live-Airport-Drama yang seperti menonton Drama Perancis. "Apa yang kau lakukan!" desis Hermione saat Draco sudah berada disampingnya dengan nafas terengah-engah. "Mengejarmu, Tentu saja."

Hermione memutar bola matanya. Ia kesal terhadap pria dihadapannya ini. "kau tahu, orang orang menatap kita seperti aku adalah kekasihmu. Dan itu sungguh menjijikan." oceh Hermione yang kembali berjalan dengan Draco yang berada di sampingnya.

"Menjijikan? Huh, banyak gadis yang ingin menganti posisimu itu, Granger. Kau seharusnya merasa beruntung." ucap Draco narsis. "beruntung? Bahkan kurasa aku malah rugi." ucap Hermione mendesis kepada pria pirang disampingnya.

Ingin sekali Hermione memukul Draco yang masih menggunakan kacamata hitam yang tadi ia beli setelah check-out dari hotel. "Itu, ada seorang gadis yang sedang membawa ponsel. Ayo kita pinjam ponselnya."

Hermione dan Draco berjalan kearah seorang gadis muda yang sedang bertelepon. Gadis tersebut terkejut saat Hermione menepuk pundaknya, "Maaf. Ada apa ya?" tanya gadis tersebut kepada Hermione dan Draco.

"Kami butuh bantuanmu. Tapi kau bisa selesaikan teleponmu dulu." ujar Hermione sembari memberikan senyuman kepada gadis tersebut. "Baiklah." ucap gadis tersebut kemudian melanjutkan teleponnya.

Hermione dan Draco kemudian menunggu gadis tersebut selesai bertelepon. Dua menit. Sudah dua menit gadis tersebut bertelepon namun juga belum juga menutup teleponnya. Draco sedikit bosan, membuka kacamata hitam yang bertengger diwajahnya, dan menyerahkan kepada Hermione.

Tiga menit. Sudah lima menit Draco dan Hermione menunggu gadis tersebut bertelepon, namun juga belum juga berhenti. Draco dan Hermione kemudian duudk di bangku tunggu yang berada di belakang mereka. Masih tetap menunggu.

Empat menit. Hermione mulai menyesal mengatakan kepada gadis itu untuk menyelesaikan teleponnya. Namun, gadis tersebut belum juga berhenti. "Membosankan." kata tersebut keluar dari bibir tipis milik Draco.

"Dia mungkin tidak diajarkan sopan-santun oleh orang tuanya." ucap Draco yang masih menatap bosan bocah yang sedari tadi bertelepon dengan siapa, sehingga enggan untuk menutup teleponnya. "Mungkin ini kesialan untuk hari ini."

"Baiklah, sampai jumpa." Akhirnya gadis tersebut menutup teleponnya, dan melangkah menuju Draco dan Hermione. "Maaf kalian sampai menunggu hingga lama. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kita makan dulu di restorant yang ada di sana." sial.

"Baiklah, aku juga sudah mulai lapar." ucap Draco sedikit mendesis marah. Hermione menyikut lengan Draco. "Apa?!" tanya Draco yang tangannya disikut oleh Hermione. "Maafkan dia. Dia sedikit sensitif akhir-akhir ini."

Hermione tersenyum ke arah gadis tersebut. Gadis tersebut kemudian tersenyum, dan melangkah ke arah restaurant yang tadi ia tunjuk. Draco dan Hermione berjalan di belakangnya seperti penguntit.

Kemudian mereka masuk kedalam restaurant tersebut dan mencari meja kosong. Saat telah menemukan, mereka duduk dan memesan makanan. "Tenang saja, aku yang bayar kok. Sebagai permintaan maaf." ucap gadis tersebut.

"Terima kasih." ucap Hermione memberikan senyuman kepada gadis tersebut. "Aku Michelle Coulis. Kalian bisa memanggil ku Micehelle." ucap gadis tersebut yang ternyata bernama Michelle. "Hermione. Hermione Granger."

"Hermione. Nama yang bagus. Dan siapa anda?" tanya Michelle kepada Draco. "Malfoy. Kau harus memanggilku dengan Malfoy." ucap Draco dingin. "Wah, nama yang sangat aneh. Lalu apa marga mu?" tanya Michelle kembali.

"Malfoy adalah margaku." ucap Draco sedikit mendesis. "Oh." pesanan mereka akhirnya datang. Mereka kemudian memakan makanan tersebut. Disela-sela makan Michelle kembali bertanya, "Dari mana kalian?"

"Inggris." jawab Hermione, karena Draco masih sibuk dengan makanan gratisnya. "Wah, ada acara apa kalian disini? Berbulan madu ya?" tanya Michelle dengan mata berbinar-binar. "Petualang." jawab Hermione asal.

Sudah empat orang yang menghancurkan mood Hermione hari ini. Pertama, Draco Malfoy. Kedua, Pelayan Hotel. Ketiga, Supir taksi. Keempat, Michelle Coulis. Mungkin Hermione akan men-crucio mereka sebentar lagi.

"Wah, kalian seorang petualang ya? Sudah berpetualang kemana saja?" tanya Michelle sembari makan. "Lebih baik kita menyelesaikan makanan kita dulu. Tidak baik mengobrol saat makan." ucap Hermione mencoba menghindari pertanyaan Michelle.

Dentingan piring yang beradu dengan sendok dan garpu menjadi sebuah musik yang begitu indah. Mereka telah menyesaikan makanan mereka. Draco yang pertama selesai, tentu saja, Draco hanya fokus terhadap perutnya yang belum diisi, padahal tadi pagi telah sarapan.

"Jadi apa yang bisa aku bantu, Hermione?" tanya Michelle kepada Hermione. "Bolehkah aku meminjam ponsel milikmu. Aku ingin mencari sebuah alamat." ucap Hermione kepada Michelle. Kemudian Michelle mencari ponselnya.

Setelah ia menemukan ponselnya, ia memberikan posel tersebut kepada Hermione. "Terima kasih, Michelle." ucap Hermione kemudian membuka aplikasi maps yang terdapat dalam ponsel tersebut. Suara ketikan ponsel terdengar.

"Malfoy, di mana alamat itu?" tanya Hermione kepada Draco yang sedang sibuk dengan minuman juice orange miliknya. "Em, dimana ya aku meletakannya?" ucap Draco yang kemudian mencari kartu yang berisikan alamat tersebut.

"Jangan sampai hilang, Malfoy. Aku akan membunuhmu jika hilang." desis Hermione sembari menatap tajam Draco yang masih sibuk mencari kartu tersebut. "Hah, ini dia." ucap Draco sembari menunjukan kartu tersebut kepada Hermione.

"Huh." Hermione menghela nafas kesal. "16 Rue de l'Église, Colmar, Alsace, Perancis." ucap Hemione sembari mengetikan alamat tersebut di ponsel tersebut. "Tunggu kalian mau ke Colmar?' tanya Michelle dengan wajah terkejut.

"Iya. Memang kenapa?" Tanya Draco kepada Michelle. "Omg." ucap Michelle dengan mata berbinar-binar. "Colmar kan kota seperti negeri Dongeng. Aku pernah kesana untuk menemui nenekku." oceh Michelle yang tidak dihiraukan oleh Draco dan Hermione.

"Yeah. Sudah ditemukan. 550km. Kau mau menaiki mobil, menggunakan kereta, atau berjalan kaki Malfoy?" tanya Hermione kepada Draco dengan senyuman yang menawan. Draco menjawab pertanyaan Hermione tersebut dengan mantap dan menawan pula, "Berjalan Kaki."

To Be Continued


A/N : Bagaimana Chapter 3 nya? Terima kasih buat yang udah baca, review; GrangerBrOwN, yellowers, swift, favs, follow Destiny. kalian menyemangatku. terima aksih yang udah pada mau chapter 3 ini, semoga kalian suka. oh ya, jangan lupa setelah baca review ya. kotak reviewnya ada dibawah :)

Love, Periewinkle