Disclaimer : Harry Potter is belong to J. K. Rowling

A/N : Hai! Apa kabar? maaf baru bisa next hari ini. Awas Typo(s), OOC, EYD berantakan, Dll. Semoga kalian masih suka membaca cerita ini. Happy Reading Guys!


Chapter 5

Sinar matahari yang begitu menyengat membuat kepala seperti terpanggang. Dua orang, seorang pria dan yang satunya adalah seorang wanita. Sang pria yang berambut pirang keperakan, dan yang perempuan berambut coklat bergelombang.

Mereka berjalan melewati jalan yang di kanan kirinya hanya ada persawahan. Berjalan. Kata yang begitu bermakna bagi seorang yang bernama Draco Lucius Malfoy. Sedangkan kata tersebut begitu menyebalkan bagi seseorang yang bernama Hermione Jean Granger.

Mereka sudah berjalan lebih dari satu jam sejak mereka berhenti di sebuah taman tadi. Draco masih saja ingin segera menemukan pasar tersebut, seperti orang yang tidak kenal lelah. Sedangkan Hermione, sudah sedari tadi merasakan lelah.

"Malfoy, bisakah kita bisa berhenti sebentar?" tanya Hermione dengan suara serak. Pria yang berambut pirang yang berjalan di depan Hermione berhenti, dan menoleh kebelakang. Hermione kemudian terduduk dengan terengah-engah.

Draco datang mendekati Hermione yang sedang terduduk itu. "Kau tahu, Granger." suara serak pria pirang tersebut membuat hati Hermione bergetar. Draco berjalan mendekati Hermione. "Cuaca disini sangat panas Granger!" suara Draco sangat mengerikan jika sedang marah.

"kita harus berusaha secepatnya menemukan pasar tersebut. Atau kita bisa menemukan pemukiman penduduk. yang aku lihat di kanan dan kiri kita hanya ada persawahan, kau tahu Granger! Persawahan!"

Ucapan Draco tidak Hermione dengarkan. Ia bersih keras beristirahat sambil menikmati angin yang berhembus lembut. Hermione kemudian mengambil tongkatnya dan membuka tas miliknya, "Accio Botol"

Sebuah botol kosong melompat keluar dari tas Hermione. Hermione kemudian menangkap botol tersebut. Hermione kemudian berdiri sembari membawa botol tersebut. Hermione kemudian menatap Draco.

"Kalau kau ingin pergi mencari pasar tersebut, Cari sendiri! Aku lelah, aku ingin beristirahat. Aku tidak akan ikut meski kau bersih keras akan mencari pasar tersebut." Ucap Hermione dengan satu tarikan nafas.

Draco Malfoy tidak pernah menyangka dirinya akan dimarahi oleh seorang kelahiran muggle. Mata draco melotot menatap Hermione yang telah marah-marah kepadanya. Setelah Hermione berhenti marah-marah kepada Draco, kemudian dia berjalan ke arah tengah sawah yang terdapat bukit kecil yang nyaman karena sebuah pohon rindang tumbuh disana.

Draco tak habis pikir, Hermione akan benar-benar marah kepadanya. "Granger!" ucap Draco sedikit berteriak sambil menghentak-hentakan kaki miliknya. Hermione tidak peduli Malfoy muda itu berteriak memanggil namanya.

Hermione tetap berjalan dengan santainya tanpa mengetahui kalau sang penerus bisnis Malfoy itu telah mengikutinya sambil mengoceh tidak jelas. Hermione yang lebih dulu sampai di bukit kecil tersebut langsung duduk di tanah yang ditutupi rerumputan segar.

Hermione yang sedari tadi membawa sebuah botol kosong kemudian membuka tutup botol tersebut. Setelah botol tersebut terbuka, Hermione mengacungkan tongkatnya kedalam botol tersebut yang mengucapkan sebuah kata, "Aguamenti."

Tiba-tiba air begitu saja keluar dari ujung tongkat Hermione. Botol yang tadinya kosong sekarang telah berubah menjadi penuh berisi air. Hermione kemudian memasukan kembali tongkat miliknya ke dalam tas kecil yang selalu ia bawa.

Kemudian Hermione meminum air yang terdapat di dalam botol tersebut. Lega. Itulah yang dirasakan saat air tersebut mengalir di tenggorokannya. Draco yang melihat Hermione minum air dari botol tersebut langsung melotot.

"Granger!" Hermione langsung menolehkan kepalanya ke asal suara yang menyebut namanya. Dilihatnya sang Malfoy muda mukanya merah padam. Hermione menyeritkan dahinya melihat Draco yang rambut pirangnya seperti dibakar sinar matahari.

Hermione tahu jika Draco kepanasan dan sangat haus. Tapi, hermione membiarkan saja. Hermione tidak peduli jika Draco akan berteriak memarahinya. Hermione memejamkan matanya menikmati semilir angin siang yang begitu menyejukan, apalagi disiang panas seperti ini.

Muka Draco memerah melihat Hermione yang tidak menghiraukan panggilannya. Hermione saat ini sangat menyebalkan bagi Draco. Jika Draco membawa tongkat miliknya, mungkin sekarang ia bisa mengutuk seorang Hermione Granger menjadi seekor berang-berang.

Draco berjalan kearah Hermione yang sedang bersandar di pohon yang rindang tersebut. Draco kemudian berteriak, "Granger!" otomatis Hermione membuka matanya, menampilkan hazel miliknya. "Ada apa malfoy?"

"Kau sangat menyebalkan Granger!" sang malfoy muda sangat marah. Hermione kemudian berdiri, "Kau itu yang menyebalkan, Malfoy! Kau hanya mementingkan dirimu sendiri! Kau tidak pernah memikirkan bagaimana kesalnya diriku! Kau hanya berusaha mendapatkan yang kau inginkan!"

Hermione marang sejadi-jadinya. Draco terkejut, seharusnya ia yang marah-marah kepada Hermione. Namun, malah Hermione yang marah-marah kepadanya. Draco hanya terdiam sembari menikmati ocehan Hermione yang memarahinya.

"Maafkan aku, Granger." Hermione terkejut. Draco kemudian berjalan menuju Hermione. "Maafkan aku Granger! Aku memang salah!" Draco meminta maaf kepada Hermione, namun dari nada Draco berbicara seperti orang yang mendesak. "Malfoy,"

Hermione tidak bisa berkata-kata terhadap malfoy muda di hadapannya ini. Draco malfoy yang sekarang penuh dengan kejutan dan misteri. Aneh. Satu kata yang cocok untuk tingkah Malfoy yang satu ini. Hermione kemudian membuka mulutnya.

"Aku maafkan Malfoy." kenapa kata yang keluar dari mulut Hermione seperti ini. Seharusnya ia kembali memarah-marahi Malfoy muda ini. Entahlah mungkin otak Hermione sedang konslet. "Terimakasih Granger." Draco tersenyum ke arah hermione.

Senyum yang tidak pernah seorang Draco Malfoy bagi kepada orang-orang secara gratis. Namun, sekarang ia bisa membaginya secara gratis. Hermione yang melihat senyum itu seakan-akan mati. Senyum yang menawan.

Draco kemudian duduk di tempat yang Hermione duduki tadi. Draco kemudian menepuk-nepuk tanah disampingnya sebagai tanda Hermione ia suruh duduk di sampingnya. Hermione yang geli melihat tingkah Draco kemudian menghela nafas.

Hermione kemudian duduk di samping Draco. Draco kemudian membuka pembicaraan kembali, "Granger, Aku haus." Oke. Hermione terdengar seperti seorang ibu dari anak yang paling manja yang pernah Hermione temukan.

"Malfoy, kau berbicara seperti aku ini ibumu." Hermione berbicara dengan suara sedikit serak. "Huh. Terserahlah Granger. Aku tidak peduli. Yang paling penting, aku butuh air minum saat ini." ucapan Draco seperti mendesak.

Sepertinya darah mudblood milik Hermione sedang direbus, mungkin sebentar lagi mendidih, dan akan meluap-luap. "Aku juga tidak peduli denganmu, Malfoy. Jika kau ingin minum kau tinggal bilang tanpa menggunakan nada mendesak,"

"Aku tidak mendesak!"

"Kau Mendesak, Malfoy!"

"Aku bilang aku tidak mendesak. Lagi pula yang berbicara memaksa itu sebenarnya dirimu, Granger!"

Skakmat.

Hermione yang awalnya membuat Draco terdesak, malah dirinya sendiri yang terdesak. Hermione menutup mulutnya dengan tenang, kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Lalu Hermione mengambil tongkat dari tas manik-manik miliknya dan mengarahkan mengarah kan tongkat tersebut di botol yang dari tadi ia bawa.

"Aguamenti." Botol itu akhirnya terisi air kembali. Draco kemudian langsung merebut botol tersebut dan meneguk habis air yang ada di dalamnya. Draco meminum air tersebut seperti orang yang tidak pernah minum selama satu hari.

Air tersebut banyak yang keluar lewat sudut-sudut bibir milik Draco. Hermione yang melihat tersebut merasa jijik. Setelah habis Draco menyerahkan botol tersebut kepada Hermione dan mengelap bibirnya menggunakan punggung tangan pucat miliknya.

Hermione mendegus menatap botol yang telah kosong tersebut. Hermione kemudian memasukan botol tersebut ke tas manik-manik miliknya. "Disini sangat nyaman," Hermione mencoba membuka pembicaraan dengan Draco.

"Tentu. Suasana yang sejuk juga pemandangannya bagus. Apalagi ditemani dengan pangeran tampan slytherin seperti diriku." Hermione langsung menoleh melihat Draco yang baru saja berbicara kelewat percaya dirinya. "Kau itu sangat percaya diri, Malfoy."

"Aku berbicara fakta, Granger." Hermione terbatuk-batuk mendengar ucapan Draco. Fakta? Dari mana fakta itu?. "Kau hanya beropini bahwa kau itu tampan." Draco mendengus ucapan Hermione, "Oh kau tidak tahu ya, Granger. Banyak orang yang bilang kalau aku ini sangat tampan."

"Siapa? Parkinson?" tanya Hermione mencoba menggoda Draco. "Tentu. Tapi bukan hanya dia saja. Ibuku juga bilang seperti itu." Draco kemudian tersenyum berbangga diri, "Para gadis-gadis slytherin pun juga mengidolakan aku. Mereka bilang aku ini adalah pangeran yang paling tampan."

"Apakah Greengrass juga mengidolakan dirimu?" perkataan Hermione membuat Draco terdiam, "Huh. Greengrass saja tidak mengidolakan dirimu. Bagaimana mungkin dia mau menikah denganmu, Malfoy? Lebih baik kau menikah dengan Parkinson atau bulstrode."

Hermione tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Draco yang setelah ia ejek. "Astoria pasti menyukaiku. Pasti. Dia akan menjadi nyonya Malfoy dimasa depan. Pasti." Hermione tertawa semakin terbahak-bahak, "Kau itu orang yang paling percaya diri yang pernah ku temui, Malfoy."

"kau itu bodoh sekali." Draco acuh terhadap ocehan Hermione yang menyinggung dirinya. "Lagipula, Bagaimana dengan dirimu? Apakah ada pria yang mau dengan gadis berambut semak seperti dirimu?"

Hermione terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir sang Malfoy yang duduk disampingnya. Hermione mengeram, "Tentu. Aku yakin ada orang yang akan menikahiku suatu saat. Dan dia pasti lebih hebat dari dirimu."

"Ah. Dan siapa pria itu? Weasley?" Hermione mengeram saat Draco menyebut marga keluarga tersebut. Muka Hermione berubah menjadi merah seperti orang yang sedang menahan amarah. Draco yang sekarang tertawa terbahak-bahak.

Hermione menahan amarahnya sebisa mungkin untuk saat ini. Hermione kemudian menarik nafas dan mengeluarkannya. "Berhenti melakukan itu, Malfoy." Hermione berbicara dengan suara yang menandakan bahwa dirinya sedang marah.

"Melakukan apa?" Draco tertawa menatap Hermione yang kembali menahan amarahnya. Draco akhirnya berhenti menggoda singa gryffindor ini. "maafkan aku Granger," Hermione langsung menoleh ke arah Draco.

Draco yang kali ini sangat berbeda. Entah apa yang membuat malfoy berubah menjadi seperti ini. Mungkin saja Astoria Greengrass. Atau seorang wanita yang saat ini ada disampingnya. "Malfoy, kau itu sangat aneh."

"Aneh? Sepertinya dirimu yang aneh Granger," Hermione terdiam sambil mendesis tertahan. Hermione kemudian menatap pemandangan persawahan yang tersebar di depannya. Hermione merasakan semilir angin yang membelai kulit putih miliknya.

Mereka hanya diam sambil memandangi pemandangan alam yang alami di depan mereka. Semilir angin membuat Hermione sedikit mengantuk. Perlahan Hermione memejamkan matanya, yang akan membawanya kedalam bunga mimpi yang sangat dalam.

Draco juga merasakan semilir angin yang dapat membuatnya tertidur tersebut. Draco kemudian menolehkan kepalanya dan melihat Hermione yang sedang tertidur. Draco tersenyum melihat Hermione tertidur dengan anak rambut coklat miliknya menutupi wajah Hermione.

Draco mengambil anak rambut yang menutupi wajah Hermione dan menyelipkannya di belakang telinga Hermione. Draco kemudian memegang pinggang dan tengkuk Hermione, Draco kemudian memeluk Hermione. Hermione sedikit menggeliat dalam tidurnya.

Draco tersenyum memandang wajah polos Hermione dalam tidurnya, 'Cantik' Draco membatin dalam hati. Draco tidak tahu jika gadis yang selama ini menjadi musuh bebuyutanya adalah seorang gadis yang sangat cantik dan menawan.

Draco melihat bulu mata Hermione yang begitu lentik yang melindungi mata Hermione dari debu. Mata Draco turun melihat hidung mungil nan mancung milik Hermione yang berbintik-bintik yang menambah kesan manis untuk gadis yang dipeluknya.

Hembusan nafas tenang Hermione menyatakan bahwa Hermione sedang kelelahan. Mata Draco melihat kearah bibir mungil merah muda milik Hermione yang sangat menggoda. Ingin sekali Draco mengecup bibir merah tersebut, namun itu tidak akan terjadi.

Draco kemudian menghela nafas dan mencoba menutup matanya untuk tertidur.


Waktu terasa berjalan begitu cepatnya, Semilir angin sudah lagi tidak membelai mesra kedua insan yang sedang tertidur di bawah pohon yang rindang tersebut. Sang pria yang berambut pirang masih saja memeluk gadis yang berambut coklat tersebut. Seakan tidak ada tempat lain yang lebih romantis untuk mereka.

Seorang wanita paruh baya mendatangi kedua insan yang masih terlelap tersebut. Dia terheran heran dengan adanya dua manusia yang pria sedikit berpakaian aneh, dan seorang wanita yang tertidur di bawah pohon seperti saat ini.

Wanita paruh baya tersebut kemudian berjalan mendekati mereka. Matanya melihat bahwa mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang sangat bahagia. Wanita tersebut tersenyum kemudian mencoba membangunkan dua insan tersebut.

"réveiller," Wanita paruh baya tersebut memanggil kedua manusia tersebut. Hermione sedikit menggeliat, namun bukannya terbangun, Hermione kembali tertidur dan tanpa sadar Hermione memeluk Draco yang masih memeluknya.

Wanita paruh baya tersebut menyerit heran, 'kenapa mereka tidak terbangun?' pikir wanita paruh baya tersebut dalam hati. Wanita tersebut melihat wajah Hermione yang berada di dada Draco, 'Ah, Rupanya mereka orang inggris'.

"Wake Up!" wanita tersebut sedikit berteriak untuk membangunkan Draco dan Hermione. Draco terkejut kemudian terbangun dengan wajah yang masih dengan ekspresi terkejut. Draco kemudian merasa membawa beban berat, kemudian melihat apa yang ada di pelukannya.

Saat wajah Hermione yang pertama kali Draco lihat, Draco secara reflek melepaskan pelukannya kepada Hermione sambil melotot. Hermione yang dilepasakan secara tidak sengaja oleh Draco, Kepalanya terbentur di pohon yang untuk beristirahat.

"Ouch" Hermione terbangun sambil mengelus kepalanya yang sakit karena terkena pohon. Mata Hermione yang masih tertutup langsung membuka matanya mendapati Draco yang matanya melotot dan seorang wanita paruh baya yang melihat Hermione Heran.

Wanita paruh baya tersebut kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa kalian berada disini?" tanya wanita paruh baya tersebut mencoba berbaik hati. Draco kemudian membuka mulutnya, namun sebelum ia mengeluarkan suara Hermione menajawab pertanyaan wanita paruh baya tersebut lebih dulu.

"Kami kelelahan, jadi kami beristirahat disini." Hermione menjawab sesopan mungkin, karena dari ekspresi wanita paruh baya tersebut seperti tidak suka dengan Draco dan Hermione yang tertidur di bawah pohon ini.

Mungkin dia pemilik persawahan ini, Sehingga ia khawatir kalau Hermione dan Draco adalah seorang Buronan, atau yang lainnya. "Baiklah, Seharusnya kalian tidak tertidur disini, karena jika pimpinan saya melihat kalian kalian bisa tertembak mati."

Hermione sulit menelan ludah. Hermione kemudian berdiri yang diikuti oleh Draco, "Maafkan kami, Kami tidak tahu jika itu bisa terjadi." Hermione kemudian meminta maaf kepada wanita paruh baya tersebut. "Kami akan pergi sekarang juga." Hermione kemudian menarik tangan Draco menjauh dari tempat ia berdiri menuju jalan yang ada di tengan persawahan tersebut.

Wanita tersebut menggeleng-gelengkan kepala miliknya, sambil memandangi kepergiaan Draco dan Hermione. Setelah cukup jauh dari Tempat wanita paruh baya tersebut berdiri, Hermione melepaskan pegangan tangannya dari Draco.

Draco dan Hermione kemudian tetap berjalan mencari pasar yang khusus sayuran yang menjadi tujuan mereka. Draco yang berada di belakang Hermione membuka pembicaraan, "Granger," Hermione yang merasa namanya dipanggil hanya berdeham.

"Hmmm." Hermione masih saja tetap berjalan di depan Draco sambil melihat adakan kendaraan yang melewati jalan tersebut. "Aku sangat lapar." Ucap Draco kepada Hermione seperti seorang anak yang meminta pasukan makan kepada ibunya.

"Jika kita berjalan lebih cepat kita bisa segera menemukan sebuah pedesaan, kita bisa membeli makanan, Malfoy. Jadi diamlah dan percepat langkahmu, aku juga sudah kelaparan." Hermione berbicara tersebut sambil mendesis.

Draco kemudian mempercepat langkahnya menyaingi Hermione yang berjalan di depannya, langkahnya yang begitu besar dengan suara sepatu miliknya membuat suara seperti kaki kuda yang membawa kereta mendekat.

"Malfoy, Bisakah kau melepas sepatu milikmu itu. Suaranya begitu mengganggu telingaku," ucap Hermione merasa terganggu dengan suara sepatu hitam milik Draco yang bersuara seperti kaki kuda. "Ah, bilang saja kau menginginkan sepatu mahal milikku, Granger."

Hermione tertawa dibelakang Draco, "Aku? Menginginkan sepatu baumu itu? Tidak mungkin!" ucap Hermione dengan nada sarkastik. Draco mendengus kesal, "Heh! Sepatuku ini lebih mahal dari pada uang makanmu selama sepuluh tahun."

Draco mengejek Hermione sambil tertawa, seperti ia mendapat hiburan baru. Hermione terdiam, mengacuhkan ucapan Malfoy muda yang berjalan di hadapannya. Hermione menyipitkan matanya seperti melihat sesuatu yang begitu jauh.

Senyum Hermione kemudian mengembang begitu lebar. "Wah, ada apa Granger?" tanya Draco dengan nada masih seperti menyindir Hermione. "Asap." ucap Hermione dengan mata berbinar-binar, Draco menyerit bingung. "Kita akan segera menemukan pasar tersebut, Malfoy."

Draco yang masih mencoba mencerna ucapan tersebut, menoleh melihat apa yang dilihat Hermione. Draco kemudian tersenyum semakin lebar. Draco kemudian berteriak semakin kencang, "Yeah. Kita akan segera menemukan pasar." Draco Kemudian meloncat-loncat senang.

"Yeah, Kita akan segera menemukan pasar" Hermione juga berteriak senang. Draco kemudian menarik tangan Hermione mengajak berlari kencang. Hermione sepertinya tidak memperdulikan pegangan tangan Draco yang menggenggam erat tangan mungil miliknya.

Draco kembali berteriak kencang, "Aku akan segera makan." Hermione tertawa kencang, "Cacing-cacing bersabarlah." Hermione dan Draco tertawa bersama-sama sambil berlari sambil bergenggaman tangan.


A/N : Hai, bagaimana Chapter limanya? semakin membosankan? terima kasih untuk semua reviewnya kemarin; GrangerBrOwN, yellowers, swift, Arisu Nine, ChintyaRosita, itu sangat berharga untukku. terima kasih untuk para readers yang udah mau membaca cerita ini. maaf juga udah telah update, saya banyak kesibukan akhir-akhir ini. mungkin juga seterusnya cukup lama updatenya. Ungkapkan pendapat kalian untuk chapter kali ini di kotak review di bawah ya! Terima Kasih.

Love,

Periewinkle