THE BOY BESIDE ME
(Chapter 2)

KYUMIN FANFICTION

Rated : T+ (because there's explicit words)

Main Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin (KyuMin)

Author : Cat13 (LeeJunRa1001/past)

Genre : Romance / Drama

Warn! : YAOI Fanfiction. OOC. AU. Typo(s). Bad EYD

A/N : Halo~ Cat13 kembali. Wah senangnya mendapat respon positif dari readers ^^ dan tebakan kalian benar! Kalian bisa mengetahui jawabannya ada di chapter ini, Enjoy dan Be Nice!

.

.

.

.

.

enJOY reading!


"Hyung~ Apa kau sudah mempunyai kekasih?"

"Eeehh? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Ryeowook-ah?" tanya Sungmin bingung.

Ryeowook tersenyum lebar sambil memainkan kursi kerjanya, "Lihat ini!" pemuda mungil itu menyodorkan smartphone miliknya ke arah Sungmin, "Dia kekasihku, Yesungie-hyung pemilik kedai dekat rumahku, dia sangat tampan bukan?" tanyanya malu-malu.

Sungmin tersenyum gemas, "Tentu Wookie-ah... dia tampan dan cocok sekali denganmu." pujian Sungmin telak membuat Ryeowook merona. Membuatnya tampak menggemaskan. "Eehh.. Tapi.. memangnya disini?"

"Ne, betul hyung. Disini hampir semuanya gay kecuali Shindong-hyung. Ssstt~ Ini rahasia ya!" bisik Ryeowook sambil terkikik geli.

Sungmin tampak terkejut "Be-berarti?"

Ryeowook mengangguk mantap, "Sajangnim juga lho~" bocornya "Tapi cuma dia yang betah menjomblo. Padahal di luar sana pria maupun wanita banyak yang menargetkannya."

Sungmin agak sedikit lesu di bagian itu, Ryeowook tidak menyadari bahwa wajah hyung barunya itu sedikit muram.

"Kalau Sungmin-hyung? Bagaimana?"

Sungmin tampak sedikit gugup, "Aah.. Yah, kalau akusih.. sudah menikah." jawabnya dengan tawa hambar.

"Mwo?! Jinjjayo?! Dengan seorang perempuankah?" Ryeowook segera menutup mulutnya yang hampir menjerit, Sungmin mengangguk sebagai balasan. "Maafkan aku... aku malah membicarakan tentang gay yang menjijikan."

Sungmin tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, Wookie-ah." Sungmin memberi tunjuk jari manisnya, "Lihat.. tidak ada cincin disinikan?"

Ryeowook pun mengangguk, Sungmin menghela napas berat. "Aku baru saja bercerai sebulan yang lalu.. sekarang anak tunggalku tinggal bersama mantan istri di Jepang."

Ryeowook merendahkan kepalanya, wajahnya terlihat sedih. "Begitu yah... Aku turut prihatin atas perceraianmu, Hyung."

"Terima kasih, Wookie-ah." Sungmin tersenyum lembut.

Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak mereka, Sungmin dan Ryeowook yang sedang asik mengobrol hampir di buat jantungan.

"Menggosip di waktu kerja sangat tidak baik, Tuan-tuan!" kejut seorang lelaki bersurai brunette pemilik tangan mengejutkan tersebut,

"Huuuaa~ Sajangnim, maafkan aku!" Ryeowook panik hingga memelas dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, Sungmin pun juga melanjutkannya namun dalam diam.

"Bagus," pemuda ikal itu melepas tangannya dari kedua pundak lelaki-lelaki manis tersebut, lalu berjalan menjauh memasuki ruangan khususnya yang tak jauh dari letak meja mereka berdua.

Sungmin menoleh, menatap kepergian pemuda jangkung berstelan jas itu, Ia bisa melihat jelas senyum kemenangan di bibir joker pemimpin timnya tersebut.

.

.

.

.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Sungmin masih dalam keadaan shock, mata hazelnya menatap lekat obsidian yang terlihat membara di hadapannya.

"Karena inilah tempatku," sahut lelaki tersebut. "Kau terlalu lama, tangkap ini!" tanpa aba-aba Ia pun langsung melempar sekaleng kopi kepada Sungmin dan segera saja di tangkap oleh lelaki manis itu.

"Te-terimakasih.." ucap Sungmin setengah berbisik, Ia melirik kearah lelaki tersebut yang kini duduk di samping sofa vending machine sambil mengangguk. Pemuda ikal itu tersenyum lalu menepuk ruang kosong sofa di sampingnya.

"Mau duduk di sini, Tuan?"

Sungmin segera menggeleng, "Aah.. Tidak usah." lalu membuka pengait kaleng kopinya, dan meminumnya perlahan.

Lelaki itupun tertawa melihat tingkah Sungmin sambil melonggarkan ikatan dasi birunya, "Kenapa kau bertingkah seperti perawan saja huh? Lama tidak bertemu denganku kau jadi begini. ya?" ejeknya.

"Ti-tidak! Aku hanya yaah ahahahaha kaget saja," sela Sungmin disertai tawa hambarnya. Sumpah demi apapun, jantungnya sangat sulit di kontrol untuk tidak berdetak secara berlebihan saat ini. Ia benar-benar ingin lari menjauh darinya.

"Sekarang kutanya.. sedang apa kau di sini?" wajah lelaki tersebut tampak serius sekarang, tidak ada senyum ejekan seperti tadi. Obisidiannya yang makin membara membuat Sungmin benar-benar ingin minggat dari tempat ini.

"Mencari atasanku, Cho sajangnim. Kuharap itu bukan.."

"Akulah Cho sajangnim yang kau cari. Senang bertemu denganmu lagi." ungkap lelaki berbalut jas hitam itu langsung, sambil menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.

"Kau pasti bercanda.. mana mungkin itu kau, aku yakin atasanku tidak semuda dirimu. Kalau begitu aku permisi.." Sungmin langsung mengambil ancang-ancang untuk pergi, namun tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangannya membawa tubuhnya ke balik vending machine yang tidak terlihat oleh siapapun. Tubuhnya terhimpit oleh mesin dan badan jangkung lelaki bermata obisidian tersebut, sangat dekat hingga Sungmin bisa merasakan napasnya yang memburu.

"Listen to me, Mr. Lee. Aku memang Cho sajangnim yang kau cari. Penguasa Sapphire room, bagian literatur." bisiknya dekat di telinga Sungmin, suara detak jantung bisa dirasakan oleh mereka berdua. "Senang bertemu denganmu.. mantan kekasih. Di waktu kita yang dewasa." ucapnya final, lalu melepaskan rangkulannya di pinggang Sungmin.

Lelaki tersebut sudah meninggalkannya. Sungmin masih terdiam, berdiri seperti patung. Ia masih merasakan bisikan berat dan ringan yang di tinggalkan lelaki tersebut, bibir shape-M itu bergumam mengucapkan suatu nama dengan berbisik.

"Cho Kyuhyun.."

.

.

.

.

"Bagaimana hari pertamamu bekerja di Sapphire literatur, Min-ah?" tanya Leeteuk ramah sambil menyetir mobil sedan putihnya.

"Hhhmm.. sangat menyenangkan. Kalian semua sangat baik dan senang membantu, tapi.." Sungmin menghentikan perkataannya. "Tapi Cho Kyuhyun itu mengganggu pikiranku.." ungkapnya dalam hati.

"Tapi kenapa? Aahh.. sajangnim ya?" Leeteuk seakan mengerti, pemuda paling tertua itu mengangguk paham. "Kyuhyun memang sulit menerima orang baru. Dia orang yang keras dan menyukai kesempurnaan, pantang menyerah. Dia mempunyai jiwa yang paling berkobar diantara kami, mungkin karena umurnya yang masih muda." Leeteuk menoleh kearah Sungmin sebentar, "Namun tenang saja, lama kelamaan dia akan menerimamu."

"Bukan begitu maksudku.." "Aah.. begitu hyung, arraseo.." Sungmin mengiyakan ungkapan Leeteuk, namja penyuka merah jambu itu menolehkan kepalanya menghadap jendela, mengamati pemandangan Kota Seoul di malam hari. "Dia sama seperti dulu.. hanya saja posturnya yang semakin dewasa.. dan suaranya.."

Entah mengapa wajah Sungmin memerah seperti tomat matang, Ia membayangkan kejadian di Kantin siang tadi.

"Oh ya, Sungmin. Kudengar kau baru saja pindah dari Jepang? Apa benar?" suara Leeteuk membuyarkan lamunan Sungmin, dengan cepat Sungmin mengangguk.

Leeteuk tersenyum, lalu melanjutkan percakapannya. "Bagaimana suasana di sana? Kau bekerja menjadi apa? Menurut isu kau bekerja menjadi kepala literatur suatu perusahaan?"

Sungmin terdiam sebentar lalu membuka suara, "Tak jauh beda dengan Korea. Ya, itu memang benar."

"Lalu? Dimana tempatmu bekerja?"

"Purezento-group editorial."

"Mwo?!" Hampir saja Leeteuk melompat dari kursi kemudinya, "Purezento-group? Kau hebat sekali Sungmin-ah! Itukan perusahaan yang paling bergengsi di Asia." Leeteuk terkagum-kagum.

Sungmin sedikit tersipu, lalu merunduk sopan. "Kamshamnida Hyung.."

"Lalu, kenapa kau malah pindah kesini? Bukannya menjadi kepala literatur Purezento sudah sangat menguntungkan?" Leeteuk semakin penasaran.

"Ano.. Aku ditugaskan oleh Ayah bekerja disini, membantu Masi-group. Lagipula ada masalah keluarga di sana.."

"Kudengar kau habis bercerai, yah?" Sungmin sedikit terkejut, membuat Leeteuk merasa bersalah. "Maafkan aku lancang, tapi apakah itu benar?"

Sungmin tersenyum memaklumi, "Tak apa, Hyung. Soal itu memang benar, sekarang mantan istri dan anak tunggalku tinggal disana."

"Aahh.." mimik wajah Leeteuk berubah muram, "Aku turut prihatin. Perceraian itu hal yang paling dihindari oleh pasangan suami-istri, bukan?" Sungmin pun mengangguk.

"Ah.. sampai disini, hyung."

Leeteuk langsung menekan rem mobilnya, "Jadi disini rumahmu.." Leeteuk pun memandang apartemen mewah dan megah di hadapannya, seketika matanya melotot. "Lhoo? Inikan?"

Wajah Sungmin mengkerut bingung, "Memangnya kenapa, hyung?"

Leeteuk menggeleng, "Bukan apa-apa. Hanya saja, apartemen ini kan mewah di kelasnya, enaknya jadi dirimu."

Sungmin tertawa pelan, "Hyung bisa saja." lalu membuka pintu mobil sambil membawa kopernya, "Terimakasih atas tumpangannya."

"Sama-sama, Sungmin-ah. Senang bisa lebih dekat denganmu," ucap Leeteuk ramah. Sungmin membungkukkan badannya hormat sebelum pemuda senyum malaikat itu melajukan kembali mobilnya.

.

.

.

.

"Kamar 1301.."

Sungmin tersenyum lega setelah mendapat kamar yang Ia cari. Pemuda Januari itu langsung menekan tombol-tombol kode di dekat pintu.

Pintu apartemennya pun terbuka, seketika lampu di dalamnya menyala terang menyambut kedatangannya. Apartemen mewah itu sudah lengkap dengan furniturnya. Sungmin segera saja masuk ke dalam.

"Padahal aku tidak meminta yang semewah ini.. Ayah selalu saja," Sungmin menghela napasnya, Ia pun langsung membuka isi kopernya, mengeluarkannya lalu memasukan isinya ke dalam lemari yang sudah tersedia.

Beberapa jam kemudian. Sungmin sudah rampung dengan aktivitas merapihkan apartemen barunya. Merebahkan tubuh letihnya di kasur queen size miliknya, sambil memejamkan mata.

Namun tak beberapa lama..

BRUUKK!

BRRAAAKK!

AAARRGGHH!

Seketika Sungmin langsung membuka matanya, Ia terbangun dengan ogah-ogahan. Hampir saja Ia tertidur namun segera terusik oleh suara mengganggu di kamar sebelahnya.

"Aiisshh.. mengganggu sekali!" dengan langkah gontai Sungmin menuju pintu keluar, mencari sumber di mana suara gaduh itu berasal.

"Kamar 1302.." segera saja Sungmin memencet tombol interkom di dekat pintu pemilik kamar. "Permisi Tuan ataupun Nyonya di dalam, bisakah kalian tidak membuat kegaduhan? Aku ingin beristirahat." ucap Sungmin sambil menguap.

Tak beberapa lama terdengar suara kunci terbuka dari pintu tersebut, Sungmin mengambil langkah mundur.

"Maafkan saya lancang.. tapi bisakah anda.."

Perkataan Sungmin terhenti. Matanya yang menyipit karena rasa kantuk, tiba-tiba terbuka lebar.

.

.

.

.

"Sepertinya kau serius sekali melihat brosur itu, Kyunnie.."

Kyuhyun menolehkan kepalanya lalu tersenyum, remaja lelaki itu memperlihatkan Sungmin berupa brosur yang baru di dapatnya.

"Lihat apartemen dengan fasilitas yang mewah, terlihat sangat nyaman ya?" puji Kyuhyun sambil merangkul pinggang Sungmin erat.

Sungmin mengerjap sesekali, lalu mengangguk. "Memang nyaman. Lalu kenapa, hm? Sampai memikirkan apartemen mewah?" tanyanya heran.

"Bagaimana kalau kita membeli apartemen?" celoteh Kyuhyun tiba-tiba.

"Hee?!" Sungmin mengerjap bingung, "Harganya sangat mahal lho. Lagipula kau masih sekolah, lebih baik tinggal dulu bersama orangtuamu."

"Issh.. kau ini," Kyuhyun menyentil pelan ujung hidung Sungmin. "Kita akan membelinya di masa depan. Bagaimana kalau kita tinggal bersama? Ah, atau agar orang-orang tidak curiga. Apartemen kita bersebelahan?" usul pemuda yang baru menginjak umur 18 tahun itu, "Bukankah itu mengasyikan?"

Sungmin mengangguk mantap. "Ide bagus. Kekasihku ini memang sangat cerdas!" Sungmin tersenyum senang sambil mengacak-acak surai hitam milik Kyuhyun.

"Ish, hentikan!" Kyuhyun menepis tangan Sungmin dari kepalanya. "Aku sudah susah-susah merapihkan tatanan rambut ini, Cho Sungmin." sungutnya sebal.

Wajah Sungmin sontak memerah mendengar sebutan 'Cho' di depan namanya. "Hhmm.. kalau begitu kita harus rajin belajar dan menabung untuk menggapai impian-impian itu, oke?"

Kyuhyun mengangguk pasti. "Tentu saja! Setelah itu kita akan membeli apartemen yang bagus, dan.." remaja itu mendekatkan bibirnya menempel di telinga Sungmin, "Bercinta di kamar masing-masing.."

"Yaaak! Nappeun!" Sungmin memukul pelan lengan Kyuhyun, wajahnya semakin memerah seperti kulit kepiting. Yang dipukuli hanya tertawa karena tingkah manis sang kekasih.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

DON'T FORGET LEAVE A REVIEW FOR THIS FANFICTION.
WE NEED YOUR PARTICIPATE :)

KEEP CALM AND SUPPORT KYUMIN

.

(A/N): Ada yang nanya ya disini umur KyuMin berapa? Umur Kyuhyun itu 28 tahun dan Umur Sungmin 30 tahun. Untuk umur Kyuhyun muda 18 tahun dan umur Sungmin muda 20 tahun ^^

oh ya, jangan lupa! Visit our Blog! kalau mau langsung klik ke profil kita aja ya ^^