THE BOY BESIDE ME
(Chapter 10)

KYUMIN FANFICTION

Rated : T+ (because there's adult content)

Main Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin (KyuMin)

Author : Cat13 (LeeJunRa1001/past)

Genre : Romance / Drama

Warn! : YAOI Fanfiction. OOC. AU. Typo(s). Bad EYD

.

.

.

.

.

.

enJOY reading!


Perpustakaan adalah tempat hiburan, itulah menurut Sungmin.

Banyak sekali buku-buku sastra indah tentu saja membuat Ia betah. Setiap ada waktu luang Sungmin akan mengunjungi Perpustakaan kota, membaca tiap-tiap buku sastra asing atau dalam negeri.

Saat ini Sungmin sedang tertarik mengulas kembali buku misteri-detektif buatan Agatha Christie. Penulis wanita nyentrik yang dijuluki 'Queen of Mystery' itu selalu membawa para pembacanya menikmati karya-karyanya yang menakjubkan.

Hari ini adalah hari libur, dan pastinya Perpustakaan ramai pengunjung. Sungmin sengaja mengambil tempat duduk yang jauh dari keramaian, menurutnya suasana sepi itu membuatnya nyaman dan dapat berkonsentrasi menikmati aktifitas membacanya.

Tapi tiba-tiba terdengar suara derit kursi yang sedikit menganggunya, Ia pun mengalihkan pandangannya dari buku. Melihat kedepan dimana ada seseorang yang mengambil tempat duduk di sebrangnya.

Sungmin hampir saja terlonjak dari tempat duduknya.

"Hai." Sapa seorang pemuda tampan di sebrang sana, mengulum senyum di bibir tebalnya. "Apakah aku mengganggumu?"

Sungmin menggeleng cepat, "Ti-tidak." Ia pun menutup bukunya. "Apa yang sedang kau lakukan disini... Kyuhyun?"

Pemuda tampan itu ternyata Kyuhyun. Penampilannya hari sedikit berbeda, Ia mengenakan kacamata tetapi lensanya tidak menutupi pancaran obsidian indanya. Jantung Sungmin langsung berdegup saat itu juga.

"Sama sepertimu." jawab Kyuhyun lalu mengambil salah satu buku diantara tumpukan buku yang dibawanya.

Sungmin tersenyum, lalu melihat cover buku yang sedang di baca Kyuhyun. "Nicholas Sparks? Kau menyukai romantisme?"

"Hhmm... Sebenarnya ini suruhan Siwon. Aku perlu banyak belajar tentang romantisme. Tapi ternyata bukunya seru juga."

Senyum Sungmin seketika pudar, Ia pun tertunduk lalu kembali membaca bukunya. Ia teringat kejadian di cafe seminggu yang lalu.

Kyuhyun yang menyadari Sungmin bersikap berbeda mulai cemas. "Kau tidak apa-apa?"

"Tenang saja." Ucap Sungmin lesu, Ia pun berusaha tersenyum.

Suasana menjadi canggung sekarang. Mereka saling terdiam dan hanya menatap kosong halaman buku dihadapannya. Menghela napas secara bersamaan.

"Sungmin." panggil Kyuhyun lalu menatap lekat pemuda manis dihadapannya. "Mau sampai kapan kau menghindariku?"

"H-huh?" Sungmin menatap Kyuhyun kikuk.

"Maafkan aku karena selama ini bersikap buruk kepadamu. Kau tahu aku ini orang yang bergantung pada mood. Tapi aku sungguh menyesalinya." Kyuhyun berucap jujur, terlihat dari tatapannya.

"Apa aku terlihat seperti itu?" Sungmin berbasa-basi, walaupun nyatanya Ia tahu.

"Tentu saja. Sungguh, Sungmin. Aku ingin hubungan kita membaik seperti saat aku belum merusaknya. Aku sungguh gila memikirkan ini semua."

Sungmin terdiam, Ia memainkan jarinya cemas.

"Sebenarnya aku ingin meminta maaf tapi wanita itu menganggu, aku frustasi akan hal itu Sungmin. Tapi akhirnya aku mengerti, kau itu normal kau butuh wanita."

Tunggu.. Kyuhyun menyerah?

"Tapi aku mohon. Aku hanya ingin hubungan kita tak canggung seperti ini, kita ini rekan kerja bukan?"

Tiba-tiba Sungmin beranjak dari duduknya, Ia pun segera berkemas dan bergegas untuk pergi.

"Tu-tunggu!" Kyuhyun pun ikut beranjak dari duduknya mengejar Sungmin. Pemuda itu berhasil menggenggam tangannya. "Mau kemana? Kita belum selesai. Kau belum memaafkanku."

Sungmin berbalik namun tak berani menatap wajah Kyuhyun. "Sekarang aku mengerti.." ia pun mendongak, tangannya bergerak cepat mencengkram kerah kemeja Kyuhyun menarik pemuda jangkung itu ke sudut yang lumayan tertutup.

Sungmin dengan lancang mencium Kyuhyun, bibir shape-mnya mengulum lembut bibir tebal itu, menyesapnya dalam.

Kyuhyun yang terkejut karena serangan agresif Sungmin mulai mengikuti permainan pemuda manis itu, bibirnya tersenyum miring. Kekuatannya lebih kuat dari Sungmin, ia pun menerobos bibir Sungmin dengan lidahnya, menggoda seisi rongga mulut pemuda Lee itu.

"Engghh~" Sungmin melenguh pelan saat Kyuhyun mulai mendominasi. Tangannya terkunci di atas kepalanya, menikmati setiap permainan bibir Kyuhyun yang panas dan basah.

Tersadar karena masih di tempat umum, Sungmin menyudahi permainan mereka. Saliva terputus, hazel dan obsidian itu memandang satu sama lain. Napas mereka saling beradu.

"Sialan, Sungmin. Kau membuatku gila."

Kyuhyun melepas cengkramannya dari tubuh Sungmin. Pemuda februari itu melepas kacamatanya yang berembun, matanya menatap Sungmin seperti mengeksekusi.

Sungmin mengatur napasnya beberapa kali, Ia pun tersenyum lebar lalu menghampiri Kyuhyun.

"Mungkin ini adalah ciuman terakhirku. Berbahagialah bersamanya, Kyu. Kita sudah menyerah."

Obsidian itu melebar kaget. Sungmin sudah jauh melangkah pergi, meninggalkan perkataan yang tak Kyuhyun sangka.

"Apa yang kau mau... Lee Sungmin?"

.

.

.

.

"Entahlah... Heechul. Apa yang aku pikirkan pada saat itu."

Sungmin mendengar gelak tawa Heechul di sebrang sana. Pemuda januari itu sedikit tersenyum, sehabis menangis Ia memutuskan untuk menelepon Heechul. Perasaannya lebih baik sekarang, Ia menceritakan kejadian di perpustakaan waktu lalu kepada pemuda flamboyan itu. Heechul walaupun terlihat dingin nyatanya Ia seorang yang peduli.

.."Sepertinya kau tertular agresifnya Edith."..

Sungmin tertawa mendengar candaan Heechul. "Mungkin." Sungmin pun semakin erat memeluk bantal kelincinya. "Novelmu itu sungguh meracuniku."

.."Tentu saja, Almighty Kim Heechul akan membuat siapapun jatuh. Jadi, Kyuhyun benar-benar menyerah, begitu?"..

Sungmin menghela napasnya pasrah, "Sepertinya. Dia bilang kepadaku seperti itu, tapi semoga saja tidak... kami berdua memang salah sehingga saling menghindar."

.."Kalian ini pasangan paling bodoh yang pernah kukenal. Kau masih mencintainya, Kyuhyun sepertinya juga begitu. Kenapa tidak berkata yang sebenarnya, huh?"..

"Kau tahu, dia sudah punya seseorang. Sedangkan aku sedang mencoba dengan seorang wanita, ayahku menginginkan itu." Sungmin tersenyum kecut.

.."Kau ini sudah besar, Manis. Bilang saja kau tidak normal dan tak usah memaksakan berhubungan dengan wanita. Cobalah berani. Dan.. aku bingung dengan otak si Bangsat itu, sosok seperti Choi Siwon lebih cocok denganku!"...

Sungmin tertawa, "Sayangnya aku bukan anak pemberontak sepertimu. Apalagi hal ini sangat berpengaruh dengan nama baik keluarga dan perusahaan." perkataan Sungmin terhenti saat air matanya mulai mengalir, "Aku.. tidak bisa."

.."Ya ampun, Sungmin. Jangan sedih lagi, Sayang. Baiklah, untuk masalah keluarga itu aku tidak bisa ikut campur jika kau ingin menolak keputusan Ayahmu yang bisa melakukannya hanya dirimu sendiri dan mungkin Kyuhyun bisa membuktikannya juga. Aku yakin kalian berdua itu kuat. Tapi, sebelumnya kau harus bersama lagi dengannya. Tinggalkan wanita itu dan berikanlah Choi Siwon kepadaku!"..

Walaupun kondisi yang serius seperti ini, Heechul masih bisa memberikan candaan. Sungmin berhenti menangis, ia pun mengangguk mantap walau Heechul tidak dapat melihatnya. "Tapi bagaimana? Aku sungguh bingung, memperbaiki hubungan kembali dengannya itu sulit."

.."Tidak sulit jika kalian saling meyakinkan dan baam! Kalian bersama lagi."...

"Aku tahu. Aku tahu." Sungmin memindahkan posisi handphonenya, "Tapi berkomunikasi lagi dengannya saja canggung."

.."Aish! Apa aku harus turun tangan untuk memperbaiki hubungan kalian? Aku seperti mencomblangi hubungan bocah SMA yang labil saja!"..

"Tidak perlu. Fokus saja dengan novelmu, kau tak perlu repot-repot."

.."Aaah.. bantuanku di tolak. Padahal aku senang sekali dengan kalian."..

"Tapi kenapa kau memukul Kyuhyun saat Ia mencoba mendekatiku?" Sungmin ingat saat Heechul yang selalu bersikap kasar dengan Kyuhyun waktu itu.

.."Habisnya dia itu sosok yang mesum. Dia pernah menyentuh milikku, walaupun memang tak disengaja. Sungguh membuatku jengkel! Setiap dia menatapmu sungguh ada pancaran mesum dari matanya, tak bisa kubayangkan jika dia menodai Cotton Candy-ku!"..

Sungmin terkekeh geli mendengar ungkapan si Lady Zzinpang. "Jadi.. kau tidak merestui hubungan kami?"

.."Siapa bilang? Aku justru merestuinya, kok. Walaupun memang Kyuhyun itu mesum tetapi dia juga gentle dan sayang kepadamu, trust me!"..

Pipi Sungmin seketika merona saat Heechul menyatakannya dengan lancang. "K-kau ini bisa saja.."

.."Aigoo~ Manisnya Cotton Candy!"..

Sungmin menghela napas saat Heechul sudah mulai kesetanan memanggilnya manis, ia pun melirik jam dinding kamarnya yang menunjukkan waktu dini hari. "Sudah ya, ini sudah tengah malam. Terimakasih sudah mendengar curhatanku."

Setelah diakhiri dengan salam perpisahan, Sungmin segera memutuskan sambungan telepon. Pemuda penyuka warna pink itu menatap kosong langit-langit kamarnya.

Seketika lamunan Sungmin buyar ketika mendengar sekilas nada dering dari handphonenya, ia pun segera mengeceknya.

Sebuah pesan masuk dari Sooyoung.

Sungmin mengernyit pelan, Ia pun membuka pesan dari Perempuan itu.

From : Sooyoung

Oppa apa kau sudah tidur? Aku hanya ingin memberitahukan sesuatu kepadamu.
Bisakah besok saat istirahat makan siang kita bertemu di Cafe sebrang kantor?
Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.

Sungmin hanya membaca tanpa membalasnya, Ia meletakkan kembali handphonenya di meja nakas. Ia bertanya-tanya, apa yang ingin Sooyoung sampaikan kepadanya.

.

.

.

.

Sooyoung meletakkan milkshakenya di meja, Ia mencoba posisi yang pas sambil membetulkan letak roknya.

"Apa yang ingin kau bicarakan, Sooyoung-ah?" akhirnya Sungmin membuka suara setelah beberapa saat mereka terdiam.

Sooyoung mengulum senyumnya, gadis cantik itu terlihat bimbang. "Begini.."

Sungmin menggenggam tangan Sooyoung, memastikan gadis itu tidak apa-apa. Namun nyatanya, hal kecil itu membuat Sooyoung semakin gugup.

"Kau memikirkan sesuatu yang berat, ya?"

Sooyoung menggeleng cepat, wajahnya semakin merona tatapan Sungmin begitu lekat kepadanya. "Tidak seberapa kok, Oppa. Aku hanya ingin bilang, dua minggu kedepan aku akan berhenti bekerja, aku ingin melanjutkan belajarku di jenjang perguruan tinggi."

Sungmin mengerjapkan matanya beberapa kali, "Lalu?"

"Lalu?" Sooyoung tampak terkejut, wajahnya berubah murung namun Ia mencoba untuk tersenyum. "Apakah Oppa lebih memilih aku bekerja disini atau melanjutkan studiku?"

"Jika studi itu lebih penting bagimu lanjutkan saja, Sooyoung-ah."

"Ta-tapi, apakah Oppa tidak merindukanku?"

Sungmin mengelus lembut rambut panjang Sooyoung. "Soal merindukanmu, itu pasti. Tapi menurutku, di usiamu yang muda ini lebih baik kau melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi."

Sooyoung menggigit bibir bawahnya, gadis itu mengangguk lemah. "Dan.. ada satu hal yang ingin aku sampaikan."

"Apa itu?"

Sooyoung mendongakkan kepalanya, menatap Sungmin dengan sungguh-sungguh. "Aku menyukaimu, Oppa. Maukah Oppa menerimaku? Menjadi kekasihmu?"

Sungmin tak menyangka apa yang barusan terjadi, pemuda manis itu bungkam. Sooyoung meyukainya dan menyatakan perasaannya saat ini.

"Oppa seorang pria yang berbeda, sangat memperhatikanku bahkan hampir semua orang. Kelembutan Oppa membuatku jatuh cinta, sejak insiden itu aku mulai sadar bahwa Oppalah orang yang tepat." Sooyoung mengungkapkan semua isi hatinya, Ia menatap Sungmin penuh harap.

Tetapi, Sungmin masih terdiam.

Sooyoung akhirnya menghela napas dan melepas genggaman Sungmin dari tangannya, "Baiklah, aku mengerti. Ini mungkin sungguh mengejutkanmu, maafkan aku karena terlalu cepat menyatakannya." Gadis itu tersenyum lebar, lalu menepuk lembut pundak Sungmin dan tertawa pelan. "Aku akan memberikan Oppa waktu untuk memikirkannya. Jangan seperti orang kebingungan gitu dong."

"Aahh.." Sungmin tertawa pelan, walaupun Sooyoung memberinya waktu tetapi Ia tidak bisa.

Sungmin tidak tega dengan gadis cantik itu. Tetapi, Sungmin mencintai orang lain.

.

.

.

.

"Waaahhh! Chocolate Truffle!"

Seluruh anggota Sapphire begitu senang saat membuka bingkisan yang di berikan Ryeowook untuk mereka. Apalagi, Shindong yang begitu antusias dengan makanan. Semua anggota mengucapkan begitu banyak terimakasih kepada lelaki mungil itu.

"Ahh~ Maaf ya, kalau aku hanya membuatnya sedikit, tapi terimakasih banyak sudah membantuku untuk menyelesaikan pekerjaanku." ucap Ryeowook kepada rekan-rekan kerjanya.

Ya, hari ini mereka merayakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kesuksesan Ryeowook yang sudah menerbitkan buku yang ditanggungnya dan membuahkan hasil yang cukup memuaskan, sebagai ucapan terimakasih Ryeowook membuatkan Chocolate Truffle dengan kemampuan memasaknya untuk rekan-rekannya.

"Masakan buatan Wookie selalu lezat." puji Leeteuk yang membuat Ryeowook merona malu.

Sungmin memperhatikan cokelat miliknya, terdapat sepuluh buah truffle cokelat bergambar kelinci. Ryeowook bilang kelinci mengingatkannya dengan Sungmin.

"Huuuh! Curang sekali, Kyuhyun dapat dua kali lipat dari kami semua!" protes Kangin dan Shindong memperhatikan bingkisan berukuran cukup besar yang diterima Kyuhyun.

"Hehehehe~ Habisnya Kyuhyun kan ketua, dia juga paling banyak membantuku.." Ryeowook berucap polos mengakibatkan Kangin dan Shindong mencak-mencak kepadanya.

"Huuhh~ tidak sudi! Sepuluh cokelat itu masih kurang tau." omel Shindong sambil menunjuk-nunjuk bingkisannya

"Ryeowook-ah. Kami itu Hyungmu, yang tertua harus mendapatkan lebih banyak. Kyuhyun kan lebih muda darimu, kasihnya sedikit dong." kini Kangin yang mengomel.

Aksi mereka berdua membuat Ryeowook terpojok, suasana pesta kecil ini jadi kacau sehingga Leeteuk turun tangan dan menarik mereka menjauhi Ryeowook yang mulai menangis.

Sedangkan Kyuhyun yang dilibatkan hanya cuek dan memperhatikan bingkisannya yang berisi dua puluh truffle cokelat bergambar iblis. "Kenapa aku digambarkan seperti ini?" bisiknya tak percaya.

Pandangan Kyuhyun teralihkan kearah Sungmin. Memperhatikan pemuda manis itu yang mengambil gambar cokelat miliknya.

"Cokelat buatan Ryeowook menarik ya." ungkap Sungmin seusai mengambil gambar cokelat bergambar iblis milik Kyuhyun.

"Buat apa kau mengambil gambar cokelat?" tanya Kyuhyun bingung.

"Anakku sangat menyukai makanan manis yang lucu, Ia pasti menyukai masakan buatan Ryeowook." Sungmin tersenyum lebar membuat jantung Kyuhyun seketika berdegup.

"Oh.." Kyuhyun hanya mengangguk lalu memperhatikan cokelat miliknya.

"Aku akan mengirimkan cokelat ini kepada anakku, jadinya tidak bisa merasakan cokelat buatan Wookie." ungkap Sungmin yang ikut memperhatikan cokelat kelincinya.

"Sangat disayangkan sekali... padahal cokelat buatannya itu enak." Kyuhyun mengambil salah satu cokelat miliknya, meletakkan cokelat bulat itu di bibir Sungmin.

"Ng?" Sungmin mengerjap bingung.

"Makanlah, cokelat milikku masih banyak kok." pinta Kyuhyun lalu menekan cokelat itu masuk kedalam mulut Sungmin. "Bagaimana rasanya?"

Sungmin mengunyah perlahan lalu mengangguk mantap, "Ahh.. ini enak." mata Sungmin berbinar senang.

Kyuhyun tersenyum puas, "Kalau kau menyukainya aku akan memberikan semua cokelatku untukmu."

"E-eh?" Sungmin menggeleng gugup, "Tidak perlu, itukan milikmu. Mencobanya saja sudah cukup kok." tolaknya halus.

"Tidak apa-apa, lagipula aku tidak suka makanan manis." Kyuhyun menyodorkan bingkisan cokelatnya kepada Sungmin.

"Bohong." Sungmin mengembalikan kembali bingkisan cokelat milik Kyuhyun, "Cho Kyuhyun itukan pecinta cokelat."

"Kau masih mengingatnya?" Kyuhyun tertawa pelan, ia menolak pengembalian dari Sungmin.

"Aku ingat dulu kau selalu memesan kudapan serba cokelat." Sungmin masih bersikeras untuk mengembalikan cokelat kepada pemiliknya, "Pastinya kau sangat senang mendapat cokelat yang banyak seperti ini."

"Walaupun begitu, kau harus mencoba cokelat buatan Wookie terlebih dahulu. Sekaligus, ini menjadi permintaan maafku yang belum kau terima."

"Lalu kau bagaimana?"

"Tidak perlu memikirkanku."

Sungmin akhirnya mempunyai ide untuk membalas Kyuhyun, "Ah. Bagaimana kalau malam minggu kita membuat cokelat bersama?"

Kyuhyun mengernyitkan dahinya, "Maksudmu?"

"Aku mengundangmu datang ke apartemenku untuk membuat cokelat bersama." jelas Sungmin.

Kyuhyun mencoba menyembunyikan rasa bahagianya, "Hanya kita berdua?"

"Jika kau mau, kenapa tidak?"

"Inikah caramu untuk berbaikan? Sangat manis." ungkap Kyuhyun sambil tertawa pelan.

Sungmin juga ikut tertawa, "Begitulah, kau bersedia?"

"Dengan senang hati."

.

.

.

.

Sungmin menunggu-nunggu hari ini tetapi Ia juga khawatir.

Pemuda manis itu menatap kosong bahan dan perlengkapan masak untuk membuat cokelat, sesekali Ia menghela napasnya.

Jantungnya terus berdetak cepat mengkhawatirkan momen ini. Sebelumnya pemuda manis itu mengundang Kyuhyun datang kerumahnya, membuat cokelat bersama untuk membalas kebaikan Kyuhyun waktu itu dan berbaikan, menjalin hubungan kembali layaknya rekan kerja. Ia harap hanya seperti itu, tidak lebih.

Dan, sialan pesan dari Heechul yang membuatnya takut. Lelaki nyentrik bermarga Kim itu berandai akan terjadi hal yang 'tak diduga-duga' diantara Sungmin dan Kyuhyun.

Ting Tong! Ting Tong!

Nyaring suara bel membuyarkan lamunan Sungmin. Dengan tergesa Sungmin menghampiri pintu, hampir saja Ia tersandung saking gugupnya.

Sungmin hanya berhenti di depan pintu, memandang kenop pintu sambil mengatur detak jantungnya yang tak karuan. Bel terus berbunyi, memaksanya segera untuk membuka pintu. Ia mengatur nafas lalu membukanya.

"Hei." Sungmin tersenyum lalu menyapa tamunya malam ini. Kyuhyun sudah ada di depan dan membalas senyumnya, hari ini lelaki itu terlihat santai tetapi ketampanannya tidak berkurang. Sungmin mempersilahkan Kyuhyun masuk kedalam rumahnya.

Sungmin menutup pintu seusainya dan terus mencoba santai, entah kenapa Ia sangat gugup. Memperhatikan Kyuhyun yang ternyata membawa satu botol seperti minuman yang disukainya.

"Wine?" tanya Kyuhyun dengan tawa kecilnya, menyadari Sungmin yang berbinar.

"A-ah... Ya." Sungmin tertunduk menutup wajahnya yang tiba-tiba memerah.

Kyuhyun menaruh botol itu di meja terdekat, "Ini salah satu wine koleksiku, kuberikan sebagai hadiah untukmu. Semoga kau menyukainya."

"Kau juga menyukai wine yah?" Sungmin terlihat antusias.

"Seperti itu. Setelah aku merasa cukup umur, aku mencoba untuk meminumnya. Rasanya sangat menakjubkan dan membuatku jatuh hati."

Sungmin tersenyum senang. Selama Kyuhyun berkembang dan menjadi dewasa, Ia mempunyai ketertarikan yang sama dengannya.

Sungmin perlahan mendekati Kyuhyun lalu menarik pergelangan tangannya membawa lelaki itu menuju dapur. Disana sudah dipersiapkan berbagai bahan dan alat masak untuk membuat cokelat, Kyuhyun terlihat takjub.

"Kau mempersiapkan ini semua? Sebanyak ini?"

Sungmin mengangguk mantap, "Ya. Bagaimana menurutmu?"

"Aku harap dengan persiapan semaksimal ini kita akan membuat cokelat yang paling enak, kalau bisa kita kalahkan buatan Wookie!" seru Kyuhyun bersemangat, dapat membuat bibir Sungmin melengkung lebar.

"Sebelum itu, gunakan ini." Sungmin mengambil salah satu apron lalu memakaikannya kepada Kyuhyun, apron berwarna biru itu dipakaikannya dengan jarak yang sangat dekat. Dapat dirasakan detak jantung yang saling beradu diantara mereka berdua.

Sungmin menelan ludahnya gugup, Kyuhyun memperhatikannya intens saat ini. Seusainya Sungmin memakai apronnya sendiri.

"Nah, baiklah. Sekarang kita lelehkan cokelatnya dulu." mencoba mencairkan suasana, Sungmin segera bergerak dan mengambil alat serta bahannya. Kyuhyun menghampiri Sungmin yang sedang memotong cokelat masak.

"A-ah!" Sungmin terlonjak kaget, dapat dirasakan lengan yang melingkar di pinggulnya. Ia mengetahui siapa yang melakukan hal seintim ini. Wajahnya sontak memerah.

"Perlu bantuan?" bisik Kyuhyun tepat di telinga Sungmin. Tangannya tergerak menyentuh tangan pemuda manis yang sedang dipeluknya, menuntun tangan itu memotong cokelat masak.

Sungmin mencoba kuat dan tidak teguncang, napas Kyuhyun begitu menggelitik di tenguknya. Jantungnya berdegup tak karuan. Kyuhyun menuntunnya dengan gentle.

Setelah dirasa cokelat sudah terpotong dengan pas, Sungmin perlahan melepas rangkulan Kyuhyun di pinggangnya. Pemuda januari itu mempersiapkan panci untuk memanaskan cokelat, lalu meminta Kyuhyun untuk mempersiapkan cetakan.

"Oh, bagaimana kalau kita membuat Praline wine?" tiba-tiba terlintas ide di otak Sungmin.

"Ide bagus." Kyuhyun menyetujui ide Sungmin. "Biar kuambilkan winenya." lalu berjalan keluar dari dapur.

Sungmin membuang napasnya keras saat Kyuhyun meninggalkan dapur. Ia sudah menahan rasa gugupnya sedari tadi, Ia harus mencoba rileks dan menganggap sentuhan Kyuhyun tadi sebagai hal biasa. "Ini semua karena Heechul dengan perkiraan anehnya." gumamnya sebal.

"Ini dia." Kyuhyun tiba-tiba datang dan hampir mengagetkan Sungmin. Sungmin menoleh kebelakang, Kyuhyun rupanya membawa botol wine yang tadi.

"Ah.. sekarang tunggu cokelatnya leleh." ucap Sungmin sambil mengaduk cokelat di dalam panci panas, Kyuhyun melirik kearah panci lalu mengangguk mengerti.

Cokelat sudah mencair, Sungmin mengangkatnya dan mematikan kompor. Menghampiri Kyuhyun yang sudah mempersiapkan cetakan. "Sekarang gunakan kuas untuk membuat bagian atas cokelat," ucap Sungmin lalu mengambil dua buah kuas, diberikannya satu kepada Kyuhyun.

"Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Kyuhyun yang tidak mengerti.

Sungmin tertawa pelan, lelaki manis itu langsung mempraktekannya. Kuas dicelupkan kedalam cokelat cair, lalu dioleskan di permukaan cetakan dengan rapih. Kyuhyun yang memperhatikan ikut melakukannya.

"Oleskan dengan rapih agar terlihat bagus nantinya, setelah itu kita dinginkan dulu sebelum dituangkan wine." jelas Sungmin, "Oh ya, ingin buat berapa buah?"

"Hmm.." pikir Kyuhyun sambil mengoles. "Mungkin kita akan membuat banyak. Untuk para anggota?" usulnya.

"Boleh juga, pasti mereka senang." tiba-tiba gerakan Sungmin terhenti, "Kau tidak memikirkan.."

"Siwon?"

"Ah, ya." Sungmin mengulum senyumnya.

"Boleh saja." angguk Kyuhyun.

Sungmin melanjutkan pekerjaannya kembali, entah mengapa semangatnya langsung pudar. Tapi tiba-tiba saja Kyuhyun terkekeh geli, "Ada apa?" tanyanya.

"Kau tidak memikirkan memberi cokelat untuk kekasihmu?" celetuk Kyuhyun.

"Siapa?" alis Sungmin bertaut.

"Gadis resepsionis itu. Kau tidak mau memberinya?" pertanyaan Kyuhyun terkesan dingin.

"Dia bukan kekasihku." bantah Sungmin.

"Benarkah? Kau terlihat dekat dan perhatian sekali dengannya." ucap Kyuhyun sambil bersiul, "Kau jangan berbohong."

"Dia hanya kuanggap adikku saja, tidak lebih." Sungmin menoleh dan memandang Kyuhyun lekat, "Apakah aku salah untuk memberi perhatian ke orang lain?"

Tiba-tiba Kyuhyun terhenti, lalu membalas tatapan Sungmin. "Tidak. Kau tidak salah. Kau normal. Dan aku juga sudah menyerah."

Sungmin menggigit bibir bawahnya keras, perkataan Kyuhyun terkesan menantang. Pemuda Lee itu meneruskan pekerjaannya, "Kita lupakan saja hal itu."

"Itu membuat hatiku sakit."

"Maafkan aku." gumam Kyuhyun lalu mengambil cetakan lainnya. Suasana menjadi canggung sekarang.

"Kurasa cokelat kita masih banyak. Bagaimana kalau kita membuat untuk Heechul juga?" tiba-tiba Sungmin teringat Heechul.

"Benar juga." Kyuhyun tertawa pelan, "Hampir saja aku melupakannya, bagaimana kondisinya? Sudah lama tidak bertemu si sinting itu."

"Baik-baik saja dan seperti biasa, heboh dan eksentrik. Dia terus menanyakannmu kenapa tidak pernah lagi mengunjunginya." jawab Sungmin.

"Tumben sekali si sinting merindukanku. Bilang kepadanya aku akan menyempatkan diri mengunjunginya jika ada waktu yang pas." Kyuhyun tersenyum, lalu memandang Sungmin. "Kau sudah tahan dengan sifatnya?"

Sungmin mengangguk, "Heechul ternyata orang yang hangat, memang sih awalnya terlihat aneh dan seram."

"Aku iri dengan si sinting." Kyuhyun sudah usai dengan kegiatan mengolesnya, Ia pun membawa cetakan yang sudah diolesi ke dalam kulkas. "Bisa menghabiskan waktu banyak denganmu."

Sungmin yang sedang membersihkan kuas pun tersenyum. "Kau cemburu dengan Heechul?"

"Tepatnya, tapi aku lebih banyak cemburu dengan si gadis resepsionis, beraninya dia merebut Sungmin dariku."

Sungmin menjatuhkan kuasnya di washtafel, Ia pun menoleh kearah Kyuhyun. "Kau ini aneh-aneh saja, aku kan bukan siapa-siapamu."

Kyuhyun perlahan mendekat, dapat dirasakan aura aneh dari dalam dirinya. "Siapa bilang?" suaranya terkesan berat. Dengan gerakan cepat, lelaki tampan itu menarik Sungmin kedalam dekapannya.

"Kyuh-lepaskan.." Sungmin memberontak di dalam dekapan Kyuhyun. "Kita harus menyelesaikan cokelatnya dulu."

"Persetan dengan cokelat." Kyuhyun mengangkat tenguk Sungmin, memandang mata hazel milik Pemuda manis itu tajam. "Aku sungguh membutuhkanmu, Lee Sungmin."

"A-apa maksudmu?" Sungmin terlihat panik, tatapan obsidian itu begitu menusuknya. Jantungnya berdegup tak karuan lagi. "Kyuhyun.. Lepaskan ak-"

Perkataan Sungmin terhenti, Ia dapat merasakan sapuan hangat bibir Kyuhyun di bibirnya. Kyuhyun mengecup bibirnya lancang.

Sungmin semakin kaget lagi ketika Kyuhyun menyeretnya menuju kamar tidurnya, tubuhnya terhempas begitu saja di ranjang. Kini posisi Sungmin berada dibawah Kyuhyun, Ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Aku masih dan sangat mencintaimu, Sungmin." gumam Kyuhyun tepat di telinga Sungmin, si empunya telinga memekik nikmat saat Kyuhyun menggigit daun telinganya.

"Kau milikku. I'm inside you, tonight."

Malam ini akan menjadi malam yang tak diduga-duga, malam yang begitu panas dan menyatukan mereka berdua.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

DON'T FORGET LEAVE A REVIEW FOR THIS FANFICTION.
WE NEED YOUR PARTICIPATE :)

KEEP CALM AND SUPPORT KYUMIN

.

(A/N) : Hayooo~ besok apa yang terjadi? Ngapain tuh Kyuhyun nindih Sungmin? Awas puasanya ntar batal, keimanan diuji wkwkwkwk.

Yang masih nanya ini remake Sekaiichi Hatsukoi, sebenarnya dibilang remake juga nggak soalnya jalan ceritanya juga beda. Mungkin karena pekerjaan KyuMin di bidang sastra, tapi jalan cerita pasti beda kok.

Jadwal update di bulan puasa tetap di jam berbuka. Setelah membaca jangan lupa kasih review yah, apalagi ini bulan puasa pasti dapat berkah memberi penghargaan sedikit saja (ngeles banget lo, Cat! wkwkwk) tapi thanks yah sudah stay di FF gaje ini T_T