THE BOY BESIDE ME
(Chapter 16)
KYUMIN FANFICTION
Rated : T
Main Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin (KyuMin)
Author : Cat13 (LeeJunRa1001/past)
Genre : Romance / Drama
Warn! : YAOI Fanfiction. OOC. AU. Typo(s). Bad EYD
.
.
.
.
.
.
enJOY reading!
Peperangan di ruang Sapphire berakhir sudah.
Menjelang libur musim panas yang akan tiba, seperti biasa setiap tahunnya seluruh karyawan harus berkerja keras hingga lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya, maupun siang maupun malam keadaan kantor selalu ramai. Apalagi divisi editor lah yang sangat berat dan sibuk, divisi yang selalu mendekam di dalam ruangannya, seperti binatang di dalam kandang.
Menjelang liburan selalu saja divisi editorlah yang mengeluarkan aura mistis, yang tadinya ada keributan tiba-tiba menjadi sunyi, melewati lantai dan ruangannya serasa seperti melewati kuburan massal.
Termasuk tim Sapphire yang di musim panas ini akan menerbitkan tiga buku dari penulis yang ditanggungnya, bisa dibayangkan betapa sibuk tim satu ini. Untuk makan diluar saja mereka tidak bisa, hanya bisa memesan makanan minuman cepat saji yang diantarkan dan terus bekerja lagi, mereka bahkan rela menginap di kantor demi terselesaikan pekerjaan.
Tapi mimpi buruk itu akhirnya berakhir sudah pada hari ini. Semua hasil pekerjaannya sudah dikirim kebagian percetakan, kini semuanya bisa bersantai.
"Zhoumi, bagian sini.." pinta Kangin sambil menunjuk pundak kiri bagian atasnya, kini pemuda racoon itu akhirnya bisa mengeluh dan meminta Zhoumi memijit tubuhnya yang benar-benar terasa remuk.
Sedangkan Ryeowook dan Sungmin sedang membersihkan ruangan dari tumpukan bekas makanan dan minuman yang dibuang sembarangan semasa lembur, mereka memasukkannya kedalam tas plastik hitam besar. Shindong refreshing dengan game komputer sambil memakan biskuit kesukaannya. Leeteuk yang tak bisa menahan kantuknya kini tertidur di sofa panjang di dalam ruangan.
Lalu kemana perginya Kyuhyun?
Ketua tim Sapphire itu sedang pergi bersama dengan sekumpulan pemimpin dari berbagai tim literatur, seperti biasa, seusai perang para ketua tim berkumpul dan pergi bersama untuk membelikan makanan atau barang hiburan kepada setiap anggotanya sebagai hadiah atas hasil kerja kerasnya.
Sungmin dan Ryeowook sudah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, Sungmin hendak mengangkut tas plastik besar itu namun ditahan oleh Ryeowook, "Biar aku saja hyung yang buang, hyung istirahat saja." ujar pemuda mungil itu lalu mengambil alih tas plastik tersebut, membawanya keluar ruangan.
Sungmin akhirnya bisa bersantai, pemuda manis itu mendudukkan dirinya di kursi kerjanya sambil bersandar, merongoh tas kerjanya dan mendapati smartphonenya yang mati total, napasnya menghela pelan, sudah lama sekali dirinya tidak memainkan smartphonenya selama kerja lembur.
Untung saja ia membawa cash smartphone miliknya dan segera menyalakan gadget itu, mata Sungmin langsung melebar mendapati banyak notifikasi masuk. Rata-rata berisi pesan dari pihak keluarganya.
"Ya ampun!" Sungmin memukul keningnya, bagaimana bisa dia lupa memberi kabar kepada keluarganya itu. Ia pun membuka salah satu pesan terbaru, dahinya mengkerut bingung mendapati pesan dari adik lelakinya, "Tumben sekali."
From: Sungjin
Hyung, aku akan ke kantormu hari ini sepulang kuliah.
Anakmu benar-benar ingin bertemu dengan dirimu, Hyung!
ASAP
Seketika Sungmin meloncat dari tempat duduknya, menarik perhatian Kangin dan Zhoumi yang saling memijit. "Ada apa?" tanya Kangin heran.
Sungmin menggeleng, "Bukan apa-apa. Kangin-hyung, bawa powerbank?" tanyanya kepada lelaki bermarga Kim itu.
Kangin menyipitkan matanya sesaat lalu mengecek isi meja kerjanya, "Oh, ada." gumam lelaki itu lalu menyodorkannya kepada Sungmin, "Untuk apa?" tanyanya lagi.
Sungmin menerima powerbank yang di sodorkan Kangin, "Ponselku mati total dan aku harus menemui orang dilantai bawah, terimakasih hyung." jawab Sungmin lalu mencabut kabel cashnya dari stopkontak dan menyambungkannya ke powerbank. Selanjutnya, ia bergegas keluar dari ruangan.
Sambil berjalan cepat, Sungmin mengotak-atik smartphonenya menghubungi salah satu kontak disana. Tak beberapa lama telepon tersambung dengan seseorang di sebrang sana, "Sungjin-ah! Dimana kau sekarang?" langsung tanpa berbasa-basi.
.."Sedang dalam perjalanan menuju kantormu, kenapa kau baru menghubungi sekarang?".. balas Sungjin terdengar sinis, Sungmin hanya menghela napasnya berat karena kesalahannya sendiri tidak memberi kabar.
"Maafkan hyung.. aku baru saja selesai bekerja lembur dan baru mengaktifkan ponsel lagi," jawab Sungmin sambil meringis, pemuda manis itu melangkah memasuki lift yang akhirnya terbuka, menekan tombol menuju lantai dasar.
.."Baiklah, sekarang tunggu aku di depan kantormu. Langsung kututup saja ya biar tidak menarik perhatian Mii-chan.".. ujar Sungjin setelahnya dan langsung memutuskan sambungan telepon.
Sungmin menurunkan posisi ponselnya dari sisi wajah, menggenggamnya bersamaan dengan powerbank. Lift perlahan turun dan tibalah di lantai dasar. Ia pun segera keluar dan menghampiri loby kantor, menunggu mobil adik lelakinya itu tiba.
Tak beberapa lama mobil yang dikenal Sungmin berhenti di hadapannya, kaca mobil itu menurun, menampilkan sosok adik lelakinya di dalam sana, Sungmin dengan cepat mendekati mobil berwarna silver itu, "Dimana Mii-chan?" tanya Sungmin setelahnya.
"Ottosan, Aku disini!" terdengar seruan anak perempuan di bagian jok belakang mobil. Senyum Sungmin langsung terkembang begitu saja, segera ia membuka pintu belakang mobil Sungjin.
Seorang anak perempuan melompat keluar dari dalam dan memeluk Sungmin erat, Sungmin yang mendapat kejutan manis itu semakin tersenyum senang. Dielusnya surai panjang hitam milik sang anak perempuan, elusan kasih sayang seorang Ayah.
Sungjin yang diam di dalam ikut turun, pemuda yang wajahnya mirip Sungmin ini hanya saja lebih manly membuka isi bagasi mobilnya, menurunkan sebuah koper anak-anak berwarna perak-pink.
"Akhirnya Mii-chan bisa bertemu Ottosan." gumam si anak perempuan, mendongak dan tersenyum manis, gigi kelincinya persis seperti yang dimiliki Sungmin.
Sungmin menggenggam erat tangan anak perempuannya itu, "Ottosan juga merindukan Mii-chan." ungkapnya, "Kenapa Mii-chan tidak memberitahu kalau mau datang hm?"
"Habisnya Ottosan tidak bisa dihubungi, Mii-chan tidak bisa mengabari." jawab Mii-chan sambil mengembungkan pipinya kesal.
Sungmin menghela napas, menyesal karena perbuatannya. "Maafkan Ottosan, ya?" dan dibalas anggukan kecil dari Mii-chan.
Sungjin meletakkan koper tersebut di samping Sungmin, "Baiklah hyung, aku harus segera pergi, ada pertemuan dengan proffesorku hari ini di kampus. Mii-chan jaga dirimu baik-baik, ya?" pamitnya kepada kakak dan keponakannya itu.
"Hati-hati di jalan, Paman Sungjin!" seru Mii-chan dengan nada cerianya.
"Yak, panggil aku kakak saja, paman itu terdengar tua tahu!" sungut Sungjin sebal sebelum masuk kedalam mobilnya. Setelahnya, adik lelaki Sungmin itu melajukan mobilnya dan meninggalkan loby kantor Masi-group.
Seusai kepergian Sungjin. Sungmin menuntun anaknya itu masuk kedalam kantor tak lupa membawa koper miliknya. Mereka berdua menarik perhatian karyawan di kantor, siapa yang tidak tahan melihat pancaran keimutan dan kemanisan kedua pasangan Ayah-Anak itu? Semuanya dibuat gemas diam-diam, tapi Sungmin mencoba cuek dan masuk kedalam lift.
"Kita akan kemana, Ottosan?" tanya Mii-chan kepada sang Ayah di dalam lift.
"Ketempat dimana Ottosan bekerja." jawab Sungmin.
.
.
.
.
"Huuwwaaa~~ siapa nama gadis kecil ini?" Ryeowook tidak bisa menahan rasa gemasnya, mendapati seorang anak perempuan yang dibawa Sungmin dan kini bersembunyi dibalik badan partner kerjanya itu.
Sungmin mencoba menuntun Mii-chan keluar dari persembunyiannya, tersenyum maklum karena gadis kecilnya itu mempunyai sifat pemalu, akhirnya Sungminlah yang memperkenalkannya kepada rekan-rekan kerjanya. "Namanya Misaki Ono, bisa dipanggil Misaki atau Mii-chan. Maaf ya, dia anak yang pemalu." ungkap Sungmin kemudian.
Leeteuk yang sudah terbangun dari tidurnya menghampiri Sungmin dan anak perempuannya, "Jadi ini yah anakmu Sungmin-ah? Mirip sepertimu, anak yang cantik dan manis."
Pipi Sungmin merona mendengar pujian Leeteuk, "Ah.. terimakasih, Hyung."
Zhoumi juga berjalan mendekat dan berjongkok di samping Sungmin, tepatnya kepada Misaki. Pemuda jangkung itu menyodorkan sebungkus permen dari saku celananya, "Mau permen? Ini permen rasa jeruk mandarin, lho." tawarnya lembut.
Perlahan Misaki mengambil permen pemberian dari Zhoumi, dan membungkuk pelan. "Terimakasih banyak, Paman baik hati.." ungkapnya malu-malu dengan aksen Korea yang terdengar manis, sontak membuat orang-orang di dalam ruangan menahan kegemasannya.
"Sungmin~ selain cantik dan manis wajahnya dia juga mempunyai sikap yang serupa!" kagum Kangin yang tak kalah menahan gemas.
"A-ah.." Sungmin mengelus kepalanya menahan malu, "Terimakasih, hyung."
Shindong yang daritadi hanya memperhatikan kini menyentuh perutnya yang mulai keroncongan, "Aduh.. Kyuhyun kok lama sekali? Perutku sudah lapar parah."
Tapi kebetulan sekali, pintu ruangan tiba-tiba terbuka, orang yang dinanti-natikan akhirnya datang juga. Semua pasang mata kini memperhatikannya, Kyuhyun tiba membawa banyak kantung belanjaan di kedua tangannya.
"Akhirnya~" semuanya bernapas lega saat itu juga.
"Hei kalian jangan diam saja, sini bantu aku!" perintah Kyuhyun lalu menunjukkan kantung belanjaan yang banyak kepada anggotanya, dengan cekatan mereka menghampiri Kyuhyun dan membawa kantung tersebut satu persatu kedalam ruangan.
Kyuhyun membawa empat lusin kotak donat, tiga botol besar jus jeruk jeju, se-pak bir dingin, dan tujuh porsi ayam berbumbu. Semuanya takjub bukan main, dan langsung menyerbu pemberian dari ketua timnya itu.
Sungmin berbalik dan menepuk pundak Misaki lembut, "Sepertinya teman Ottosan membawa donat tuh, Mii-chan mau?" tawarnya kepada sang putri.
Misaki mengangguk pelan, "Yang rasa stroberi ya." Sungmin mengangguk mengerti dan menghampiri kerumunan, mengambil jatahnya dan permintaan Misaki.
Sedangkan, Kyuhyun hanya berdiri diam di dekat pintu memperhatikan Misaki dari kejauhan, obisidian itu terlihat datar namun ada sedikit pancaran yang sulit diartikan didalamnya. Tapi anak perempuan yang diperhatikannya itu sepertinya sadar dan juga membalas tatapannya, senyum anak perempuan itu terkembang malu-malu. Jantung Kyuhyun berdegup saat mendapat balasan polos dari anak itu, tiba-tiba kepalanya menjadi pusing, Kyuhyun mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat masuk kedalam ruang pribadinya.
Tak lama Kyuhyun masuk, Sungmin datang menghampiri Misaki membawa satu porsi ayam berbumbu, segelas jus jeruk dan donat permintaan Misaki. "Ini punyamu," lalu menyodorkan donat yang dilapisi krim merah muda itu kepada anaknya, Sungmin meletakkan gelas jus dan ayam bumbu di meja kerjanya. "Nanti kalau kamu lapar makan saja ayamnya, singkirkan kulitnya soalnya pedas." jelas Sungmin.
Misaki mengangguk dan mulai memakan donat miliknya, "Ah, enak." matanya berbinar cerah membuat Sungmin tersenyum. Misaki menoleh kearah ruangan dimana Kyuhyun memasukinya, mata hazel mungil itu mengerjap pelan. "Ottosan siapa paman sinterklas itu?" tanyanya lalu menunjuk ruangan yang dibatasi kaca tersebut.
Sungmin menoleh kearah dimana Misaki menunjuk, rupanya Kyuhyun yang sedang diam diruangannya. Sungmin menghela napasnya pelan, "Dia ketua tim disini, mau kenalan?" tawarnya.
Misaki mengangguk setuju lalu meletakkan donatnya di meja Sungmin, tapi sebelum Sungmin menuntunnya masuk ke ruangan Kyuhyun, gadis kecil itu meminta waktu sebentar untuk mengambil donat yang akan diberikannya kepada Kyuhyun. Senyum Sungmin mengembang melihat ketulusan dari sang Anak.
.
.
.
.
Kyuhyun mendapati Sungmin dengan anak kecil itu berdiri di depan pintunya, lelaki tampan itu berdeham pelan, "Masuk!" serunya kemudian dan Sungmin pun masuk kedalam ruangannya.
Kyuhyun mencoba menghilangkan rasa gugup dengan cara mengecek hasil laporan di hadapannya, tetapi hasilnya nihil dia tidak bisa berkonsentrasi, akhirnya ia menyerah, "Ada apa?" tanyanya kemudian.
"Ini.." Sungmin mendorong lembut anak perempuan yang dibawanya, mendekati meja kerja Kyuhyun membuat sang empunya meja menatapnya bingung. "Aku ingin memperkenalkan anakku kepadamu."
"Oh.." gumam Kyuhyun pelan, entah kenapa tenggorokannya jadi kering.
Anak perempuan itu menunduk hormat kepadanya, ditangannya terlihat satu buah donat entah untuk apa. "Misaki Ono, imnida." sapanya. Setelah itu Misaki meletakkan donat yang di bawanya di atas meja Kyuhyun, gadis itu tersenyum lagi yang membuat kepala Kyuhyun pusing, "Ini donat untuk Paman."
Kyuhyun memperhatikan donat yang dibalur krim hijau dan hiasan sirup stroberi, wangi mint menguar dari donat itu. "Terimakasih." ucapnya berusaha untuk tersenyum.
Misaki mundur perlahan mendekati Sungmin, menempel dengan pemuda manis itu. "Misaki, nama paman ini Kyuhyun." Sungmin memperkenalkannya kepada sang anak.
"Senang bertemu dengan Paman Kyuhyun." sapa Misaki setelahnya dan Kyuhyun hanya sanggup tersenyum.
"Baiklah hanya itu saja," ujar Sungmin kemudian dan hendak untuk berpamitan, namun baru saja Sungmin ingin membuka pintu tiba-tiba Kyuhyun memanggilnya.
"Sungmin, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Sungmin memandang sesaat Kyuhyun yang terlihat meminta, ia pun kini melihat gadis kecilnya lagi, "Ottosan punya keperluan sebentar saja, kau bisa bermain dengan teman-teman Ottosan yang lain atau lanjutkan makanmu." pintanya kepada Misaki.
Misaki mengangguk mengerti permintaan Ayahnya, segera saja gadis bersurai panjang itu keluar dari ruangan dan duduk manis di kursi Sungmin dan meraih donatnya.
Sungmin menghela napas pelan dan menutup pintu kembali, kakinya melangkah mendekati Kyuhyun yang menatapnya lekat. Sungmin mendudukan dirinya di kursi di sebrang meja Kyuhyun, "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Berapa lama Misaki tinggal bersamamu?" tanya Kyuhyun sambil memainkan penanya.
Sungmin menggeleng pelan, "Tidak tahu, mungkin berlangsung lama. Aku saja baru mengetahuinya hari ini, selama kerja lembur aku tidak mendapat kabar dari keluarga."
Kyuhyun mendesah keras, tangan besarnya mengusap wajahnya yang terlihat kecewa, "Lalu.. Bagaimana dengan liburan kita?"
Sungmin menggigit bibir bawahnya keras, ia sudah membuat kekasihnya itu kecewa berat. "Sepertinya Misaki terpaksa untuk ikut. Dia tidak bisa tinggal sendirian di apartemen, Kyu."
"Dia bisa tidur sendiri?" tanya Kyuhyun selanjutnya.
Sungmin menggangguk, "Bisa, memangnya kenapa?"
Badan tegap itu menyenderkan tubuhnya rileks di bantalan kursi, "Kalau begitu, anakmu akan tidur di kamar kakak perempuanku, tenang saja letaknya tak jauh dari kamar utama." jelas Kyuhyun kemudian.
Mata Sungmin mengerjap beberapa kali, "Kau mengajaknya untuk berlibur? Apa kau tidak keberatan?"
"Kenapa tidak? Dia hanya seorang anak kecil." Kyuhyun tersenyum tipis, "Nanti aku akan meminta tambahan satu tiket untuk anakmu, ku kabari jika sudah mendapatkannya."
Sungmin kaget bukan main, kenapa Kyuhyun bisa menanggapinya dengan santai?
"Tidak perlu cemas," melihat raut bersalah dari wajah Sungmin, Kyuhyun berusaha untuk menenangkannya. "Persiapkan saja untuk liburan tiga hari lagi, kita akan bersenang-senang."
Sungmin mengangguk mengerti dan tersenyum tulus, "Maaf sudah membuatmu kecewa, Kyu. Terimakasih juga sudah menerimanya dengan baik, Misaki pasti sangat menyukainya."
"Tidak apa-apa. Anakmu menunggu tuh," senyum Kyuhyun terkembang lebar dan membuat Sungmin merasa lega, akhirnya Sungmin beranjak dari duduknya, "Ah, Kyu. Jangan lupa makan, masih banyak makanan yang kau bawa tadi sebelum dihabiskan oleh yang lain." kata Sungmin sebelum keluar ruangan.
"Aku sudah kenyang, sudah makan siang tadi bersama sekumpulan ketua tim yang lain."
Sungmin mengedipkan matanya beberapa saat, "Lalu kenapa kau membeli tujuh porsi ayam?"
"Biasanya kubelikan untuk Shindong yang belum puas ataupun untuk yang lain," kata Kyuhyun kemudian.
Mulut Sungmin hanya terbuka sedikit, lalu berjalan keluar dari ruangan.
Obsidian itu terlihat kelam dan menatap keluar ruangannya, melihat raut kepuasan dari para anggota berkat hidangan yang dibawanya, tetapi tatapannya teralihkan kearah Sungmin yang sedang bersama anak gadisnya.
Kyuhyun memijat keningnya yang terasa pusing, rencana liburannya bersama Sungmin ke Pulau Jeju akan ditambah satu orang, orang itu adalah Misaki anak perempuan dari Sungmin. Menghadapi anak itu saja ia sudah tidak kuat, apalagi ia akan menjalaninya selama seminggu berlibur disana. Kyuhyun memang tak biasa menghadapi anak kecil, tapi untuk hal ini membuatnya semakin bingung untuk mencoba biasa, sudah anak kecil ditambah anak itu adalah anak kandung dari kekasihmu.
Tangan Kyuhyun meraih donat mint yang diberikan Misaki tadi, ditatapnya sebentar lalu menggigit donat itu sebagian, rasa manis menjalar di dalam mulutnya, kunyahan Kyuhyun terhenti seketika ia pun juga meletakkan donat tersebut ditempatnya kembali, teringat senyum polos Misaki yang membuatnya semakin pusing.
"Apa yang harus kulakukan?"
.
.
.
.
"Ottosan~ Disini menyenangkan!" Misaki berseru senang, melambaikan tangan kearah Sungmin untuk menghampirinya, gadis kecil itu berlarian di sekitar pantai berpasir putih ini, matahari memantulkan sinarnya ke permukaan air berwarna biru muda membuatnya semakin indah.
"Iya, sebentar yah. Ottosan mau beres-beres dulu." ucap Sungmin yang sedang menggeret koper bawaannya, hazel itu kemudian menatap lurus sebuah rumah dihadapannya, rumah bertingkat yang sederhana namun nyaman dan enak dipandang, rumah bercat putih yang dihiasi banyak tanaman hias disekitarnya sehingga membuat suasana sejuk dan rindang walaupun letaknya bersebelahan dengan pantai yang lumayan terik.
"Bagaimana menurutmu?" tiba-tiba Kyuhyun menyeletuk sembari membawa koper miliknya, lelaki jangkung itu tersenyum lembut melihat pancaran kebahagiaan dari mata Sungmin.
"Ini indah.. nyaman untuk ditinggal." takjub Sungmin bukan main, pemuda manis itu mengikuti langkah Kyuhyun memasuki teras rumah tersebut.
Kyuhyun mengetuk pintu cokelat dihadapannya, tak beberapa lama munculah seorang wanita paruh baya membuka pintunya, wajah wanita itu berbinar dan tersenyum puas, "Tuan Muda Cho, akhirnya anda kemari."
Kyuhyun tersenyum lalu menundukkan badannya, "Sudah lama kita tidak bertemu, Ahjumma Kim."
Ahjumma Kim tersenyum ramah, "Kau sudah dewasa sekarang," tangan halusnya menepuk pundak Kyuhyun lembut, lalu perhatian wanita itu teralihkan ke arah Sungmin, "Oh jadi ini.."
Sungmin tersenyum ramah lalu membungkukkan badannya, "Annyeonghaseyo, Sungmin imnida."
Ahjumma Kim membalas Sungmin, "Manis sekali rupanya, pantas saja Tuan Muda menyukai anda."
Pujian Ahjumma Kim sukses membuat Sungmin merona malu.
"Eh, bukannya ada tiga tamu, ya?" tanya Ahjumma Kim heran.
Kyuhyun membuka mulutnya, "Ooh.. dia sedang bermain di pantai, dia anaknya.."
"Otto-san!" seruan ceria gadis kecil memotong pembicaraan Kyuhyun. Misaki berlari kearah mereka, dan langsung memeluk Sungmin seerat mungkin dari belakang. Sungmin yang mendapat pelukan kejutan itu tertawa pelan dan mengacak gemas rambut putri sematawayangnya.
"Ah, siapa ini?" tanya Ahjumma Kim gemas, memperhatikan Misaki yang bersembunyi di balik Sungmin. "Gadis yang cantik."
"Namanya, Misaki." jawab Sungmin sambil mengelus Misaki yang masih bersembunyi. "Maklum dia selalu bersembunyi seperti ini, dia anak yang pemalu."
"Ah.. manisnya," Ahjumma Kim tak bisa menahan kegemasannya, "Ayo masuk." setelah itu ia mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumah tersebut.
Rumah ini didominasi oleh furnitur dari kayu, bahkan lantainya saja terbuat dari kayu, menambahkan kesan tinggal di dekat pantai. Ditelusuri ruang tamu yang menyambut mereka, ruang pertama yang terlihat sederhana namun cukup bersih, terdapat empat sofa berwarna kuning gading, meja kaca dan lampu gantung kristal.
Misaki keluar dari persembunyiannya, hazel mungil itu ikut menelusuri dan akhirnya berbinar. "Seperti rumah boneka~ Ottosan, ayo berkeliling!" ajaknya antusias, menarik-narik ujung kaos Sungmin.
"Ottosan tidak tahu keseluruhannya. Bagaimana kalau berkeliling bersama Ahjumma Kim? Sekaligus ke kamar tidurnya Mii-chan." tawar Sungmin lembut. Misaki melirik Ahjumma Kim yang mengangguk setuju.
Misaki berpikir beberapa saat lalu mengangguk setuju dan mengikuti ajakan Ahjumma Kim untuk berkeliling rumah. Sekarang diruang tamu tinggalah Kyuhyun dan Sungmin.
"Ahjumma Kim pelayan rumah ini?" tanya Sungmin memulai pembicaraan dengan Kyuhyun.
"Begitulah.." tangan Kyuhyun tergerak menggenggam lembut tangan Sungmin, menuntunnya lebih dalam memasuki rumah. "Ahjumma Kim sudah lama menjadi pelayan dirumah ini, beliau sudah dianggap keluarga oleh keluargaku."
Sungmin mengangguk paham, "Beliau akan tinggal bersama selama kita menginap disini?"
Kepala Kyuhyun menggeleng pelan, "Dia hanya tinggal disini saat rumah tidak ditempati oleh keluargaku, jika tidak ia akan pulang malamnya dan datang di pagi hari untuk memasak dan melakukan pekerjaan rumah."
Langkah kaki mereka berhenti di depan pintu yang sepertinya menuju suatu kamar, Kyuhyun menekan gagang pintu dan membukanya, rupanya benar, kamar sederhana yang tidak terlalu luas, terdapat satu ranjang king size berseprai putih, lemari kayu besar, dan kursi kayu yang mengarah ke jendela yang terbuka.
Mereka memasuki kamar tersebut, Sungmin mendudukkan dirinya dipinggir ranjang, terasa empuk dan nyaman. "Ini kamarmu?" tanyanya kepada Kyuhyun yang sedang menempatkan koper.
Kyuhyun menoleh lalu tertawa pelan, "Kau lupa? Ini kamar utama, tepatnya kamar orangtuaku. Soal kamarku kau tidak perlu tahu."
Alis Sungmin menyatu, menatap heran punggung pemuda Cho dihadapannya, "Kenapa? Kau merahasiakan sesuatu dariku ya?" pipinya mengembung lucu.
"Kau penasaran sekali," cibir Kyuhyun lalu berjalan mendekat, mencondongkan tubuhnya kearah Sungmin, kedua tangannya diletakkan di atas ranjang di kedua sisi si pemuda manis, mengunci pergerakkan Sungmin dan memandangnya intens. "Mana ciumanku? Kau belum memberinya bahkan dari Seoul sekalipun."
Sungmin terekekeh gemas lalu melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun, wajah mereka mendekat dan segera menangkap bibir pasangannya, memagut dan menghisap lembut. Kyuhyun menekan dan perlahan ditidurkannya tubuh Sungmin keatas ranjang lalu menindihnya, ciuman mereka semakin dalam semakin intens. Sungmin menyelipkan jari-jarinya meremas surai kecokelatan milik Kyuhyun.
"Ottosan!"
Seruan Misaki menghentikan aksi mereka, Sungmin segera mendorong Kyuhyun melepas ciuman, buru-buru pemuda manis itu beranjak dari posisinya.
"Haish.." gerutu Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi, "Padahal aku baru saja menyentuhmu."
Sungmin tertawa pelan sembari membetulkan kaosnya yang sedikit terbuka, "Kita membawa anak kecil, maklumi saja."
Bibir Kyuhyun mengerucut tidak terima, melihat kekasihnya yang menampilkan wajah masam itu Sungmin menepuk-nepuk pundaknya mencoba menghibur, "Kau cobalah untuk berkomunikasi dengan Misaki, sejak dari Seoul kau bahkan tidak mengajaknya bicara, aku tahu ini memang sulit, tapi kau harus melakukannya Kyuhyun-ah." ucap Sungmin lembut setelah itu berjalan keluar dari kamar, menghampiri Misaki diluar sana.
Sedangkan Kyuhyun hanya terdiam duduk di pinggir ranjang seperti orang dungu, beberapa saat kemudian ia menghela napas berat, sepanjang liburan ini mungkin akan menjadi liburan terberat baginya.
.
.
.
.
"Ottosan!" Misaki segera memeluk Sungmin saat pemuda manis itu tiba.
"Ada apa, Mii-chan?" tanya Sungmin lembut dan mengelus lagi rambut kehitaman Misaki, diliriknya Ahjumma Kim dan melempar senyum kepadanya.
"Ayo kita ke taman belakang, disana banyak bunga matahari!" pinta Misaki menarik pergelangan tangan Sungmin menuju pintu yang mengarah ke taman belakang.
Tiba-tiba saku celana milik Sungmin bergetar hebat, ia pun segera merongoh dan mengambil suatu benda panjang disana, ya ponsel milik Sungmin yang menandakan ada telepon masuk. Mata hazel itu melebar kaget melihat nama kontak yang menelepon.
Incoming Call..
Ayah.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
DON'T FORGET LEAVE A REVIEW FOR THIS FANFICTION.
WE NEED YOUR PARTICIPATE :)
KEEP CALM AND SUPPORT KYUMIN
.
(A/N) : Halo kembali lagi~
Nahloh anaknya Sungmin dateng tuh, ngomong-ngomong apa yang terjadi ya?
Thanks untuk readers yang sudah memberi dukungan di chapter sebelumnya, buat siders jangan malu-malu menampakan diri kkk
Jangan lupa kunjungi blog kami, tinggal klik di kolom profil.
