THE BOY BESIDE ME
(Chapter 17)

KYUMIN FANFICTION

Rated : T
Main Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin (KyuMin)

Author : Cat13 (LeeJunRa1001/past)

Genre : Romance / Drama

Warn! : YAOI Fanfiction. OOC. AU. Typo(s). Bad EYD

.

.

.

.

.

.

enJOY reading!


"Ayah, kenapa tidak memberikanku kabar jika Misaki akan datang ke Korea?"

.."Ayah sudah menghubungimu beberapa kali tapi hasilnya nihil. Misaki ingin sekali bertemu denganmu, jadi dia datang kesini demi dirimu, Sungmin-ah. Maka dari itu jangan sampai mengecewakan anakmu."..

Sungmin mengerut keningnya yang terasa pening, matanya mengawasi Misaki yang sedang berlarian di sekitar kebun belakang rumah, "Maaf, menjelang liburan divisi editor pasti kejar tayang."

.."Ayah tahu, Nak. Oh ya, kudengar kau sedang berlibur di Jeju? Apa itu benar?"..

Kaki Sungmin melangkah menuruni tangga, menapak diatas tanah kebun belakang. "Iya, bersama Misaki tenang saja."

.."Hanya kalian berdua?"..

Sungmin meneguk ludahnya gugup, "Tidak, ada teman kantor yang ikut, kami menginap di vilanya." bernapas lega ketika Tuan Lee tidak mempertanyakan hal lainnya.

.."Ada satu hal lagi yang ingin Ayah bicarakan."...

Alis Sungmin menyatu rapat.

.."Ayah akan berangkat ke Jepang minggu depan, sepertinya Ayah harus kembali mengurusi kantor pusat. Tetapi Ayah khawatir perkembangan kantor cabang di Korea."..

Sungmin mengganti posisi ponselnya ke sisi lain, "Benarkah? Ayah 'kan bisa mempercayakan Tuan Song, dia sudah berpengalaman membantu perusahaan disini."

Tuan Lee tetawa kemudian, .."Walaupun Tuan Song dapat dipercaya, Ayah mengharapkan dirimu untuk memimpin perusahaan bahkan sebaiknya menggantikan posisi Ayah menjadi pemerkasa seluruh perusahaan kita, Sungmin."..

Sungmin terdiam tidak cepat membalas.

.."Sepertinya perusahaan milik keluarga Choi membuatmu betah, memang ini baik bahwa kau memperoleh banyak pengalaman dan berkembang. Bahkan Ketua Tim-mu bilang kau cepat beradaptasi, benar-benar perkembangan yang pesat dan terlihat seperti bukan dirimu."..

Mata hazel itu melebar kaget, "Ke-ketua Tim?"

.."Iya, dia datang ke kantor beberapa waktu yang lalu dan memberi banyak informasi tentangmu. Ketua Tim-mu itu patut dipuji, dia bisa mengubahmu se-drastis ini."..

"Kapan Kyuhyun menemui Ayah? Apa saja yang mereka bicarakan?" keringat dingin mulai membasahi pelipis Sungmin.

.."Sungmin?"..

"Ya, Ayah?" Sungmin langsung tersadar begitu mendengar panggilan Tuan Lee, merutuki dirinya yang begitu bodoh masih saja sempat melamun saat seperti ini.

Tawa Tuan Lee terdengar lagi, .."Sepertinya kau sedang sibuk, baiklah ini yang terakhir.. kontrak kerjamu di perusahaan itu memang masih panjang tapi perusahaan kita sungguh menantikanmu, Nak. Ayah tidak bisa mencabut kontrakmu begitu saja, hanya kau yang bisa dan keputusan itu ada pada dirimu, lebih cepat lebih baik."..

"Ya, aku mengerti." kata Sungmin seadanya dan sambungan telepon langsung terputus, pemuda manis itu menghela napas panjang.

"Ottosan!" Misaki berlari kearah Sungmin dan langsung memeluknya, gigi kelinci gadis itu terlihat jelas di balik senyum kekanakannya. "Bolehkah Mii-chan mencabut satu bunga mataharinya?"

Sungmin memasukkan lagi ponselnya kedalam saku celana, tangan halusnya mengelus lembut pipi Misaki yang tembam, "Ottosan tanya dulu ke Ahjumma Kim ya."

.

.

Tuan Lee memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana, tangan pria itu meraih gunting rumput di samping, diperhatikannya tanaman mawar hitam dihadapannya, "Lihat saja nanti, Sungmin akan memihak siapa." lanjut Tuan Lee, menggerakkan gunting rumput tersebut ke salah satu mawar hitam yang sedikit layu, memotong tangkainya secara bengis.

.

.

.

.

"Gunung Hallasan?" Misaki memandang Sungmin penuh tanda tanya, "Apa itu, Ottosan?"

Sungmin tersenyum lembut seraya membetulkan letak selimut yang dipakai Misaki untuk tidur, "Itu salah satu gunung terindah yang ada di pulau Jeju. Besok kita akan pergi kesana bersama Paman Kyuhyun, kita bersenang-senang."

"Benarkah? Waaah~" Misaki terlihat begitu antusias, "Mii-chan tidak sabar pergi kesana!"

"Kalau gitu Mii-chan harus segera tidur, biar besok tidak kecapekan." Sungmin mengelus kening Misaki perlahan menatapnya dengan penuh kasih sayang.

"Ottosan.." panggil Misaki menahan pergerakkan Sungmin untuk menyalakan lampu tidur, "Ada apa, hm?" sahut Sungmin kemudian.

"Mii-chan rindu Okkaasan.." jawab Misaki dengan wajah sendu, "Mii-chan mau lihat Ottosan berbicara lagi dengan Okkaqsan... telepon dia yaah?" pintanya penuh harap.

Sungmin terdiam sebentar, lelaki manis itu bahkan menggigit bibir bawahnya bimbang. Sedangkan Misaki bergerak turun dari ranjang, menghampiri ransel pinknya yang diletakkan di samping lemari, mengambil sebuah tablet di dalamnya. "Mii-chan sudah bisa pakai ini lho!" serunya ceria dan berlari kecil menuju tempat tidur dimana Sungmin masih terduduk disana.

Misaki segera mengambil posisi di samping Sungmin, tangan mungil itu mulai bergerak menyentuh touchscreen tablet tersebut, menghubungi salah satu kontak lewat via video call.

Sungmin memperhatikan layar tablet, tak beberapa lama sambungan video call tersambung, seorang wanita cantik berperawakan lembut muncul disana, sama-sama terkejut melihat satu sama lain.

.."Oppa?"..

.

.

Kyuhyun membuka pintu kamar sembari menguap lebar, tak sadar waktu sudah menunjuk angka sembilan malam, ia tertidur sejak sore dan baru terbangun, perjalanan ke Jeju cukup membuatnya kelelahan.

Langkah kakinya bergerak menuju jalan yang mengarah ke kamar mandi, tetapi perhatiannya teralihkan ke pintu kamar kakak perempuannya yang terbuka, perlahan ia mendekat dan mengintip, rupanya disana ada Sungmin beserta anak perempuannya.

.."*Kimi ni aitai."...

Deg!

Jantung Kyuhyun langsung berdegup kecang seketika, mendengar suara lain dari dalam dan itu bukan suara anak kecil perempuan melainkan wanita dewasa yang terdengar lembut dan mendayu, tersirat akan kerinduan di dalamnya.

Terdengar lagi tawa pelan Sungmin di dalam, "Kau merindukanku, hm?"

Kyuhyun menyenderkan tubuhnya di tembok samping pintu, bersembunyi dan mendengar secara seksama pembicaraan Sungmin dengan seseorang di dalam sana.

.."Entahlah, setelah kita bercerai dan Oppa kembali ke Korea rasanya ada yang kurang, tidak seperti biasanya, rumah juga tidak seramai dulu."..

Tangan Kyuhyun terkepal erat dan sedikit terguncang, rupanya mereka sedang menghubungi mantan istri Sungmin di Jepang sana.

"Uuh.. Andaikan Ottosan dan Okkaasan masih bersama, kita bisa ke Jeju bersama-sama! Disini indah lho, Okkaasan."

"Eeyy.. Mii-chan~ Okkaasan punya urusan di sana, jadi tidak bisa." sela Sungmin sambil tertawa lepas diiringi tawa wanita itu.

"Jeju mirip Okinawa lho, pokoknya Okkaasan harus merasakan liburan disini, kita berlibur bersama-sama~" dilanjutkan lagi oleh Misaki begitu ceria.

Kyuhyun menghela napas berat, pemuda tampan itu begitu gusar. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi, berbalik arah menuju kamar kembali, mengambil tablet miliknya dan berjalan menuju ruang tengah. Mendudukkan dirinya di sofa empuk dan menyalakan tabletnya.

Entah kenapa hatinya diliputi berbagai macam rasa antara sedih, marah, bingung, dan apapun itu semenjak kemunculan anak Sungmin. Kyuhyun tidak mungkin meluapkan itu semua kepada seorang anak kecil, seorang anak perempuan yang merupakan anak kandung dari kekasihnya. Ditambah komunikasi Sungmin dengan mantan istrinya, itu membuat hati Kyuhyun semakin rawan, rawan dari kehancuran.

Tetapi ia masih bertekad, tidak boleh menyerah, mencoba memperkuat hatinya untuk menghadapi ini semua, ia tahu Sungmin bukanlah hal yang mudah digapai, banyak sekali yang harus diperjuangkan. Walaupun memang Sungmin percaya dan membalas cintanya, Kyuhyun tidak dapat mengikat Sungmin sepenuhnya sampai saat ini.

"Jangan seperti masa lalumu lagi, Cho... Kau harus berani, kau harus mendapatkannya." monolog Kyuhyun pada dirinya sendiri, meyakinkan dirinya untuk bertahan.

Langkah kaki terdengar jelas disaat Kyuhyun melamun, segera saja pemuda tampan itu mencoba melakukan sesuatu, memainkan tabletnya yang mendapat banyak notifikasi e-mail dari perusahaan.

"Kyunnie?" Sungmin datang dan langsung menghampirinya, pemuda Lee itu mendudukkan dirinya di samping Kyuhyun, memperhatikannya seksama. "Kau sudah bangun?"

Kyuhyun mengangguk pelan, "Menurutmu? Jika aku disini sudah apa?" candanya.

Sungmin mengulum senyum lalu memainkan rambut kecokelatan milik pemuda Cho disampingnya, "Pusing? Biasanya tidur sore bikin kepala pusing." ucap Sungmin menyentuh kening lebar itu lembut. "Sedang mengecek apa?"

Kyuhyun menurunkan posisi tabletnya, menaruhnya diatas paha, "Tidak, sayang. Aku sudah biasa tidur sore." di genggamnya tangan Sungmin dan mengecupnya lembut, "E-mail dari divisi percetakan, katanya novel-novel kita sudah dicetak tinggal diberi cover dan berdiskusi dengan pihak marketing."

"Berarti nanti ada rapat gabungan lagi?"

"Pastinya," timpal Kyuhyun, genggamannya pada Sungmin semakin erat. "Tapi tenang saja, rapat akan dilakukan usai liburan."

Sungmin mengangguk paham.

"Misaki sudah tidur?"

Beberapa kali mata hazel itu mengerjap, "Sudah." jawab Sungmin setelahnya, "Dia sudah tidak sabar pergi ke gunung Hallasan."

"Kita akan melakukannya besok, kan?" Kyuhyun meraih remote dan menyalakan televisi dan mencari channel, pilihannya terhenti pada salah satu channel yang menampilkan acara komedi.

"Kau masih tidak mau berbincang dengannya?" Sungmin memandang Kyuhyun begitu intens, "Memang ini sulit, tapi kau harus melakukannya. Aku tidak mau memberikan kesan buruk diantara kalian berdua. Seorang anak kecil hal yang mudah, Kyu."

Helaan napas berat keluar dari mulut Kyuhyun, "Aku.. aku entah mengapa merasa seperti perusak hubungan rumah tangga orang, menghancurkan harapan seorang bocah ingusan. Setiap aku melihat anakmu, rasa bersalah keluar begitu saja dan aku hanya bisa diam."

Sungmin terdiam kemudian, menghembuskan napas pelan. "Sudahlah.. jangan bahas hubungan rumah tanggaku, semua itu berjalan tidak lancar dan itu hanyalah masa lalu."

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya keras, "Penyebab perceraianmu dengan mantan istrimu itu... apa karenaku?"

Sungmin tidak merespon pertanyaan Kyuhyun, dan itu membuatnya semakin geram. "Ayolah, Sungmin! Jawab per-"

"Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku, Kyu!" potong Sungmin cepat, lelaki manis itu menjerit frustasi. "Tolong, jangan bahas perihal itu. Kita disini bertujuan untuk berlibur, bukan adu cekcok seperti ini..." ucapannya bergetar hebat, segera saja Sungmin beranjak dari tempat duduknya dan berlari masuk kedalam kamar.

"Su-Sungmin!" Kyuhyun berlari mengejarnya namun pintu langsung tertutup dan terkunci rapat dari dalam, lelaki tampan itu menggeram dan memencak keras. Kyuhyun mengacak rambutnya kesal, "Gggahh!"

.

.

.

.

Obsidian itu melotot tak percaya, "Anemia mu kambuh lagi, Ming?!"

Sungmin mengangguk lemah, wajah cantiknya terlihat pucat dan lelah. "Sepertinya begitu, maafkan aku, Kyu."

Didorongnya lembut tubuh Sungmin, menidurkannya di atas ranjang empuk. Kyuhyun meletakkan punggung tangannya di atas kening Sungmin, "Astaga, suhu tubuhmu panas sekali. Kau membawa obatnya?"

Anggukan lagi sebagai balasan, Sungmin menunjuk letak kopernya di pojok ruangan. Kyuhyun segera berlari mengambil obat milik kekasih manisnya didalam dan menyediakan segelas air putih, mengambil obat disetiap bungkusnya dan menyodorkannya lembut kepada Sungmin.

"Sudah beberapa lama kau merasakan gejala ini, Ming?" tanya Kyuhyun saat Sungmin sedang menelan obat-obatnya, wajah lelaki tampan itu terlihat begitu cemas.

Diletakan gelas kaca itu diatas meja disamping ranjang, "Sebenarnya tubuhku mulai merasa tidak fit seusai kerja lembur, aku juga tidak menyangka akan seperti ini." wajah Sungmin terlihat murung, "Maafkan aku. Aku tidak mau mengecewakan liburan yang sudah kau rencanakan."

"Sayang.." tangan Kyuhyun terulur lembut mengusap wajah Sungmin, "Perhatikan juga tubuhmu, kau terlalu memaksa."

Hazel itu menatap sayu obsidian diatasnya, "Tenang saja, besok kondisiku mulai baikkan karena obatnya."

Tangan Kyuhyun mengacak gemas surai hitam milik Sungmin, senyumnya terkembang lembut.

"Kyu.. maafkan aku soal pertengkaran kita kemarin malam, aku sungguh menyesalinya." gumam Sungmin lemah sembari menggenggam lembut jemari Kyuhyun di keningnya.

"Aku juga, seharusnya aku tidak mempertanyakan hal itu kepadamu, Ming. Aku tidak berhak mengetahui rahasiamu." ujar Kyuhyun.

Sungmin menggeleng pelan, "Belum waktunya, Kyu. Aku belum siap untuk menceritakan semuanya."

Kyuhyun mengangguk paham, "Baiklah.."

"Oh ya, tadi sepulang dari gunung Hallasan, Misaki tertarik untuk mengunjungi festival musim panas di sana, sayangnya kita tak punya waktu. Jadi.." tatapan penuh harap Sungmin tertuju pada pemuda yang dua tahun lebih muda darinya, "..aku mohon kepadamu, besok ajak dan jalan bersamanya ke festival itu."

Namun, Kyuhyun hanya terdiam memikirkan sesuatu.

"Jangan memikirkan hal-hal yang memberatkanmu, Kyu. Sekali ini saja, sekaligus ini menjadi cara kalian mengakrabkan diri. Misaki anak yang penurut, tenang saja."

Puppy eyes Sungmin yang imut membuat kebimbangan Kyuhyun seketika runtuh, lelaki februari itu mengangguk sebagai tanda setuju.

"Terimakasih.." senyum lega terukir di bibir shape-m milik Sungmin.

Kecupan lembut Kyuhyun mendarat dipermukaan bibir plum Sungmin, "Tapi sebagai imbalannya, kau harus mengistirahatkan tubuhmu sebaik mungkin sampai sembuh, jangan banyak beraktivitas, besok kau harus bersama Ahjumma Kim dirumah sampai aku dan Misaki tiba."

Sungmin tertawa kecil, memposisikan tangan kanannya diatas kening, posisi hormat. "Siap, kapten!"

Dieratkannya selimut milik Sungmin dan meninggalkan kecupan lembut di dahi cantik sang kekasih, "Tidurlah.." ujar Kyuhyun dan beranjak dari duduknya, namun Sungmin segera menahan pergelangan pemuda februari itu.

"Tidurlah bersamaku.." pinta Sungmin dengan wajah memelas, "Kemarin kita tidak tidur bersama, sekarang harus."

Beberapa kali obsidian itu mengerjap sebelum Kyuhyun tertawa lepas karena tingkah manis sang kekasih, lelaki tampan itu merebahkan tubuhnya di ruang kosong ranjang di samping Sungmin, merengkuh tubuh mungilnya posesif.

"Lagu penghantar tidur?" tawar Kyuhyun berbisik lembut.

"Boleh, sudah lama aku tidak mendengar suara merdumu."

.

.

.

.

Teriknya matahari di musim panas tak menghentikan keramaian festival hari ini, kegembiraan dan tawa menggambari betapa meriahnya festival. Banyak sekali hal-hal yang diperjual belikan disini, dari hasil panen para petani di pulau jeju sampai aneka souvenir khas musim panas. Banyak juga kudapan-kudapan menyegarkan dan manis yang di perdagangkan.

Sudah beberapa kali Kyuhyun dan Misaki berkeliling disekitar festival, membuahkan banyak hasil yang mereka dapatkan. Misaki menikmati eskrim stroberi miliknya sembari memeluk boneka kelinci raksasa yang didapatkannya dari game menembak kaleng, tentu saja itu berkat kelihaian menembak Kyuhyun.

"Paman, lainkali bermain game menembak kaleng lagi ya? Paman hebat sekali langsung meruntuhkan semuanya." puji Misaki tersenyum lebar kearah pria dewasa disampingnya.

Kyuhyun mengangguk mantap, "Pasti, Misaki meminta boneka yang lebih besar Paman akan berikan."

Namun Misaki malah menggerutu, "Paman jangan panggil Misaki seperti itu, panggil saja nama kecil Misaki yaitu Mii-chan seperti Ottosan memanggilku." rajuknya.

"Baik-baik, Mii-chan.. benar bukan?"

Misaki mengangguk cepat, "Benar!"

Manik hitam Kyuhyun tertuju pada suatu kios buah di hadapannya, membeli buah semangka untuk disantap bersama dirumah menjadi hal yang bagus. "Mii-chan, bagaimana kalau kita membeli semangka?" tawarnya terhadap si gadis kecil.

Hazel yang persis mirip Sungmin melebar cerah, "Boleh saja, Paman. Ottosan pasti suka."

Setelah itu mereka berdua menghampiri kios buah yang menjadi tujuan, buah-buahan segar memanjakan mata menyambut mereka.

"Ada yang bisa saya bantu?" tawar seorang wanita tambun yang baru saja keluar dari dalam kios tersebut, matanya melebar melihat siapa yang datang. "Ah... Kyuhyun-ah?!"

Kyuhyun mengalihkan pandagannya dari buah kearah wanita tersebut, ia juga sama terkejutnya. "Youngja? Itu kau?"

"Ya ampun, ternyata benar. Sudah lama kita tidak bertemu!" Youngja segera memeluk Kyuhyun erat dibalas oleh pemuda tampan itu, bertemu teman lama disini memang hal yang tak terduga. "Kau sudah banyak berubah, semakin tampan saja." puji Youngja setelahnya.

"Begitulah.." senyum Kyuhyun terkulum, "Kau sekarang berjualan buah?"

Youngja menangguk pelan, "Yaah.. setelah orangtuaku meninggalkan warisan berupa tanah yang luas, aku menanam banyak bibit buah disana dan memperdagangkannya setiap panen." jelas wanita berkacamata bulat itu, "Kudengar sekarang kau menjadi editor ya? Kok bisa? Bukannya kau tidak menyukai sastra?"

Kyuhyun menggidikkan bahunya, "Masa depan siapa yang tahu," ungkap pemuda februari itu.

"Benar juga... dulu aku bermimpi menikahi pria kaya dan hidup enak, tapi nyatanya malah jadi petani buah. Benar-benar tidak terduga," gumam Youngja bercanda, benar-benar ciri khas wanita ceria itu. "Lho? Siapa ini?"

Diperhatikannya Misaki yang sedang bersembunyi dibalik Kyuhyun, malu-malu seperti biasa saat bertemu orang baru.

"Ooh.. namanya Misaki Ono." Kyuhyun mendorong lembut Misaki kehadapan Youngja, menepuk-nepuk pelan pundak mungil gadis kecil itu. "Misaki, perkenalkan ini Bibi Youngja, teman masa kecil Paman."

Youngja tertawa gemas mengulurkan tangannya dan dibalas jabatan Misaki, "Halo manis~" sapa wanita itu, "Ini anak Ahra atau anakmu?"

"Bukan, ini anak pacarku."

Hampir saja Youngja di buat jantungan, ditatapnya Kyuhyun yang tersenyum miring. "Kau serius?" mulutnya terbuka lebar, "Sekarang kau tertarik dengan seorang janda?!"

Senyum Kyuhyun kian melebar, "Banyak cerita yang kualami selama ini."

Youngja mendesis tak percaya, "Kkhh.. dulu kau melirik wanita saja enggan, tapi nyatanya sekarang kau memacari janda. Dasar lelaki tampan jaman sekarang."

Sedangkan Misaki memandang Kyuhyun kebingungan, "Paman.. pacar itu apa?"

Tawa Kyuhyun hampir saja meledak mendengar pertanyaan polos Misaki, "Kau akan tahu saat besar nanti ya."

"Baiklah.. daripada aku membuat bingung gadis kecil ini, sekarang apa yang ingin kau pesan, Kyuhyun-ah?" tanya Youngja kembali fokus dengan dagangannya.

"Aku ingin semangka, sepertinya semangka daganganmu bibit unggul semua." Kyuhyun memperhatikan buah semangka milik kios Youngja. "Aku beli empat ya, bisa'kan mengantarkannya ke vilaku?"

"Tentu saja," Youngja mengacungkan jempolnya, "Kuantarkan setelah kios tutup ya."

Kyuhyun mengangguk setuju, "Baiklah, sampai jumpa dirumah." pamit lelaki jangkung itu hendak meninggalkan kios bersama Misaki, namun suara Youngja menghentikan mereka.

"Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi," gumam Youngja menatap langit yang mulai memunculkan awan hitam disekitar.

Kyuhyun juga ikut memperhatikan langit yang sedikit gelap, walaupun cahaya matahari masih bersinar cerah.

.

.

.

.

Sungmin melangkahkan kakinya lambat keluar dari kamar, perutnya meronta lapar sehingga ia berjalan menuju dapur. Namun tak disangka ada Ahjumma Kim di sana.

"Ah, Sungmin-ssi. Bagaimana dengan kondisi anda?" tanya Ahjumma Kim langsung.

Sungmin menarik kursi terdekat dan mendudukkan dirinya disana, "Lebih baik dari hari kemarin. Kyuhyun dan Misaki sudah berangkat?"

"Sudah." jawab Ahjumma Kim sambil mengaduk sup didalam wadah, "Dari dua jam yang lalu."

Sungmin mengangguk mengerti, menyadarkan tubuhnya rileks di sandaran kursi. Ahjumma Kim berjalan mendekat dan menaruh secangkir teh hangat di depan Sungmin, "Minumlah." ujar wanita paruh baya itu.

Diambilnya cangkir tersebut lalu menyesap cairan kecokelatan di dalamnya, membuat Sungmin sedikit rileks. "Terimakasih.." ucapnya setelah menikmati teh hangat itu.

Ahjumma Kim tersenyum dan mendudukkan dirinya dihadapan Sungmin, "Sungmin-ssi pasti penasaran mendengar kisah Tuan Muda."

Tertarik dengan tajuk yang diberikan, Sungmin mendorong kursinya mendekat. "Apa ini tidak apa-apa?"

"Melihat kedekatan Sungmin-ssi bersama Tuan Muda yang seintim itu, sepertinya tidak apa-apa." ungkapan Ahjumma Kim sukses membuat Sungmin merona.

"Tuan Muda semasa kecilnya sering datang kesini bersama keluarga setiap liburan musim panas. Dia seorang anak yang cerdas dan penurut, karena anak bungsu Tuan Muda kerap bersikap manja dengan orangtua dan kakak perempuannya, bahkan dengan diriku sendiri, dia seorang anak yang membuat hati siapapun hangat."

Sungmin tak sadar mengangguk, ia sangat setuju dengan pernyataan Ahjumma Kim.

"Tapi walaupun dia anak yang ceria dan manja, masih ada kehampaan yang dirasakannya, memang keluarga Cho itu terkenal keras disiplin, sehingga dia tidak bisa bebas." Ahjumma Kim mengecek sup yang sedang dimasak sebelum melanjutkan lagi, "Sampai dimana Tuan Muda menginjak masa remaja, saat SMA... ada pancaran kebahagiaan di matanya, entah itu karena asmara masa muda atau apa, tetapi saya ikut senang dan lega."

"Saat SMA?" gumam Sungmin sambil berpikir, tiba-tiba senyumnya terukir.

Ahjumma Kim mengangguk, "Terakhir kali Tuan Muda berkunjung kesini sudah lama sekali mungkin sekitar tujuh tahun yang lalu, saya dengar keluarga Cho sedang mengalami masa sulit karena ulahnya, saya tidak tahu pasti karena saya jauh di Jeju dan saya tak berhak tahu. Tapi untung saja semuanya kembali seperti semula, dan Tuan Muda akhirnya berkunjung lagi kesini bersama Sungmin-ssi."

Sungmin menarik napas perlahan, cerita dari Ahjumma Kim cukup membuat rasa penasarannya akan masa lalu Kyuhyun terobati. "Banyak sekali perubahannya ya.."

"Ya.. tak terasa bocah kecil yang sering meminta didongengkan tiap malam sekarang menjadi pria dewasa yang sukses dan mandiri, waktu memang berjalan dengan cepat." Ahjumma Kim tertawa halus.

Mengulum senyum Sungmin memandang keluar jendela, langit sudah mulai gelap karena awan hitam. Bahkan angin kencang menerpa masuk kedalam rumah, membuat suhu menjadi dingin.

"Ya ampun, mendung!" Ahjumma Kim segera beranjak dari duduknya, "Sungmin-ssi masuklah kedalam kamar, kau bisa masuk angin jika disini, nanti kuantarkan sup ke kamar setelah mengangkat jemuran."

Sungmin mengerti dan ikut beranjak dan menuju kamarnya, hujan yang akan datang pasti sangat deras bahkan samar-samar terdengar suara guntur, sesaat tersadar akan keberadaan Kyuhyun dan Misaki yang ada diluar.

Dirasakan saku celananya bergetar, Sungmin mengambil ponselnya di dalam, melihat layar ponsel yang menampilkan nama Kyuhyun disana, dahinya mengkerut setelah itu mengangkat teleponnya. "Yeoboseoyo, Kyuhyun-ah?"

.."Sungmin.".. suara Kyuhyun langsung menyahut, namun ada yang mengganjal, terdengar napas memburu dari pemuda tampan itu.

"Ada apa?" perasaan tak enak mulai menyelimuti Sungmin.

.."Maafkan aku.".. ucapan Kyuhyun membuat Sungmin semakin kebingungan, .."Misaki hilang."..

.

.

.

.

Kyuhyun benar-benar merutuki dirinya, dia tidak tahu bahwa anak perempuan Sungmin itu phobia petir. Lelaki tampan itu terus berlari disekitar kompleks festival tak mempedulikan hujan turun yang amat deras disertai kilatan petir yang menyilaukan, pakaiannya bahkan sudah basah kuyup.

Misaki hilang dari jangkauannya ketika mendengar suara guntur sebelum hujan turun, gadis kecil itu langsung melepas genggamannya dan berlari entah kemana ditengah keramaian festival. Hingga sekarang saat hujan turun deras mengguyur tanah Jeju.

"Misaki!" panggil Kyuhyun sambil menengok-nengok disela-sela kios, sesekali dia bertanya kepada penduduk sekitar yang lewat atau sedang berlindung di bawah kios.

Sampai dimana seorang wanita tua memberitahu Kyuhyun bahwa ada seorang anak kecil perempuan yang berlari kearah dusun di kaki gunung, langsung saja Kyuhyun menuju dusun yang dimaksud wanita itu.

Terus berteriak memanggil nama Misaki, Kyuhyun memandang sekeliling dusun yang begitu sepi dan dipenuhi rumah tua disekitarnya. Manik obsidiannya memperhatikan salah satu rumah tua yang pintunya terbuka, menelesuri lebih dalam dan mendapati jejak kaki basah di dalam rumah itu.

"Misaki?" tengok Kyuhyun kedalam, melangkah hati-hati masuk ke rumah yang termasuk rapuh itu.

Terdengar isakan pelan di balik meja panjang di pojok ruangan, Kyuhyun perlahan mendekat, kilatan petir menjelaskan bayangan dibalik meja itu, Kyuhyun yakin bahwa dibaliknya adalah Misaki.

Benar apa yang didapatkannya, Misaki tengah meringuk dan bergetar ketakutan di dalam. tangisan bahkan terus keluar. Kyuhyun berjongkok dan mendekat hati-hati kearahnya, "Kau tidak apa-apa?"

"Pa-paman.." suara Misaki bergetar hebat, langsung saja ia memeluk tubuh Kyuhyun erat. "Mii-chan takut."

Kyuhyun mendekap Misaki lebih erat dan ikut masuk kebawah meja, melindungi gadis kecil itu dari keganasan suara guntur dan kilat. Terlintas ide di dalam otak Kyuhyun, di tatapnya Misaki yang masih menunduk ketakutan.

"..I jen beo til su eobs da go
Hweng han ust eum eu ro
Nae eokkae ki dae eo
Nun eul kam ass ji man.."

Perlahan ketakutan Misaki mulai menghilang, tubuh gadis delapan tahun itu tidak berguncang lagi. Suara merdu Kyuhyun sangat menenangkan.

"..I jen, mal hal su iss neun geol
Neo uee seul peun neun bich i
Na ui ma eum eul
A peu ge ha neun geol
Na ye ge mal hae bwa.."

Tangan besar Kyuhyun terus bergerak mengelus surai panjang Misaki, tersenyum karena gadis kecil itu sudah tenang dan menikmati nyanyiannya.

"..Neo ui ma eum sok eu ro
Deul eo ga bol su man iss da myeon
Jeol eobs deon na ui mo seub I eol ma kkeum
Ui mi ka dwel su iss neun ji.."

Wajah Kyuhyun begitu tenang dan lembut, bahkan lelaki dewasa itu tak merasakan lagi kecanggungan saat bersama Misaki. Mungkin inilah awal dimana hubungan mereka berdua menjadi akrab.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

DON'T FORGET LEAVE A REVIEW FOR THIS FANFICTION.
WE NEED YOUR PARTICIPATE :)

KEEP CALM AND SUPPORT KYUMIN

.

Artinya:

1. *Kimi ni aitai = aku merindukanmu

(A/N) : Cat13 comeback!

Sekian lama bersembunyi akhirnya bisa publish lagi.

Chapter sebelumnya ada yang nanya, kenapa namanya misaki marganya Ono bukan Lee? karena Sungmin sama mantan istrinya sudah bercerai jadi pake marga istrinya. Terus, Kyuhyun mantan pacarnya Sungmin kan? Iya tapi balikan lagi ohohoho.

Oh ya, kalian yang udah denger lagu 'Ways To Say Goodbye' ciptaan bapake di albumnya ngerasa gak kalo itu curahan hatinya untuk Ming? Ya.. itu sih menurut delusiku aja sih, gatau kalian.

Semangat yah reviewnya readers, kalau kalian semangat author semangat juga nulisnya. Thanks yang sudah meninggalkan review di chap kemarin, dan yang masih sider jangan malu malu atuh kang/teh.

Jangan lupa kunjungi blog kami.