THE BOY BESIDE ME
(Chapter 20)
KYUMIN FANFICTION
Rated : T
Main Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin (KyuMin)
Author : Cat13 (LeeJunRa1001/past)
Genre : Romance / Drama
Warn! : YAOI Fanfiction. OOC. AU. Typo(s). Bad EYD
.
.
.
.
.
enJOY reading!
"Sekarang anda boleh pulang, Lee Sungmin-ssi." ujar seorang suster kepada Sungmin, suster tersebut merapihkan alat-alatnya sebelum meninggalkan ruangan.
"Tu-tunggu dulu, Suster." Sungmin mencegah sang suster pergi. Suster cantik itu menoleh dan memberikan reaksi yang bersahabat.
"Ada apa Tuan?"
"Di-dimana Kyuhyun.. em-maksudku di ruang manakah temanku dirujuk?" tanya Sungmin kemudian, tangannya mengepal kuat, tak peduli luka gores yang sudah terobati ditangannya.
"Teman anda masih di unit gawat darurat, Tuan Lee." jawab Suster tersebut lalu mengecek papan miliknya, "Ah, sebelum anda pulang anda harus bertemu dengan Dokter Lee Donghae disana, beliau juga lah yang mengurusi teman anda." setelahnya ia pamit dan keluar dari ruangan.
Sungmin yang sudah tak sabar segera keluar dan berlari di sekitar lorong panjang rumah sakit, mencari letak ruangan unit gawat darurat, letaknya yang tak jauh mudah ditemukan. Sungmin langsung mendorong pintu besar di depannya, tergesa sehingga membuat sedikit kegaduhan, staff kesehatan di dalam memberi tatapan mematikan kearahnya.
"Ma-maaf... bisakah saya bertemu dengan Dokter Lee Donghae?" tanya Sungmin terbata.
"Saya sendiri," sebuah teguran dari belakang membuat Sungmin berbalik, terdapat seorang dokter tampan dengan senyum yang manis, kacamata berbingkai hitam bertenger indah di hidung bangirnya. "Apakah anda Tuan Lee Sungmin?
"Ya." Sungmin mengepal tangannya erat, "Kyuhyun dimana, Dok?"
Donghae mengangguk, "Mari." ajaknya lalu berbalik arah, memasuki ruangan unit gawat darurat lebih dalam. Donghae membuka salah satu tirai yang tertutup rapat, mendapati Kyuhyun yang terbujur diatas tempat tidur.
Sungmin menutup mulutnya kaget, Kyuhyun kini tepat dihadapannya dengan tali infus dan alat bantu pernapasan, kepalanya diperban penuh tidak sepertinya yang hanya terluka kecil, kelopak matanya terpejam erat wajahnya menyimpan banyak ketakutan di dalam. Sungmin tak bisa menahan lagi, bulir airmata perlahan jatuh dari mata hazel indah itu.
"Maafkan saya, Sungmin-ssi. Tapi saya ingin menanyakan sesuatu hal kepada anda." Donghae melirik Kyuhyun sambil meringis, di cek papan miliknya, membaca hasil pemeriksaannya, "Apakah Kyuhyun-ssi pernah mengalami kecelakaan di masa lalu?"
Sungmin menggeleng lemah, perasaan bersalah semakin membuncah di hatinya.
"Baiklah.." menghela napas perlahan, Donghae membaca papannya lagi. "Menurut hasil yang saya peroleh, Kyuhyun-ssi mempunyai luka permanen di dadanya karena kecelakaan. Karena kecelakaan di masa lalu, Kyuhyun-ssi mengalami shock berat sehingga membuatnya tak sadarkan diri."
Luka di dada... Sungmin ingat tentang luka itu, luka yang selama ini Kyuhyun tutupi darinya.
"Lalu.. ia mendapati cedera di bagian belakang kepala karena benturan dan pecahan kaca. Tapi tenang saja, sudah saya tangani dengan sepuluh jahitan." Donghae menutup hasil pemeriksaannya lalu menatap Sungmin yang sedang melamun, "Sungmin-ssi?"
"Ya, Dok?" jawab Sungmin spontan, matanya menatap pilu.
Donghae tersenyum maklum lalu menepuk pundak Sungmin lembut, "Saya mengerti perasaan anda, Sungmin-ssi. Kyuhyun-ssi hanya mengalami shock, kesadarannya akan cepat pulih."
"Terimakasih.. Donghae-ssi." ucap Sungmin parau, pikirannya dipenuhi oleh Kyuhyun.
"Oh ya, pihak rumah sakit sudah menghubungi keluarga kalian dan pihak kepolisian akan mengurusi perihal kecelakaan. Jadi tak perlu khawatir." jelas Donghae kemudian, lalu meninggalkan Sungmin di dalam bersama Kyuhyun.
Langkahnya perlahan mendekat, Sungmin mendudukkan dirinya di samping Kyuhyun. Perlahan ditariknya tangan besar pucat yang saat ini terasa dingin, mengelusnya lembut dan menggenggamnya erat. "Kyuhyunnie.." panggil Sungmin parau, air matanya semakin membasahi pipi cantik itu. "Kau sudah banyak berjuang selama ini.."
Dengan lembut tangan Sungmin terjulur menyentuh wajah Kyuhyun dari hidung bangirnya hingga bibir tebalnya yang ahli dalam berciuman, bibir tebal yang sering melontarkan kalimat pedas ke orang lain dan kalimat mesra kepadanya kini tertutup rapat. "Tapi Kyu.. kau tak peduli dengan dirimu, kau menyakiti dirimu sendiri... kita sudah berjanji akan berjuang bersama.. tapi nyatanya kau menyembunyikan banyak hal, kau menyimpan rasa sakit itu sendiri."
Pengeliatannya memburam, buram karena air mata, "Aku sungguh menyesal karena meninggalkanmu di masa lalu, aku bersyukur kita bertemu kembali, takdir memihak kita, kita memang ditakdirkan bersama."
"Kau dengar aku, Sayang?" Sungmin menempatkan tangan pucat itu ke pipinya yang basah, "Maka dari itu, jangan takut untuk membagi rasa sakitmu kepadaku. Aku bukanlah Sungmin yang pengecut dan terus bersembunyi lagi, akan kubuktikan cinta dan hubungan kita kepada dunia tanpa terkecuali."
Sungmin menidurkan kepalanya diatas permukaan kasur, bibir pinkishnya bertepatan dengan telinga milik pemuda bermarga Cho dihadapannya.
"Aku mencintaimu Kyuhyun-ah, selamanya."
.
.
.
.
"Jaga diri Ibu selama di Jepang ya." ucap Sungmin lembut, membalas seseorang di sebrang sana.
.."Kau juga, Nak. Maafkan Ibu sekali lagi tidak bisa menemanimu disaat kau ada musibah. Kami sungguh minta maaf, Sungminnie.. Ibu juga doakan untuk kesehatan temanmu.".. balas Nyonya Lee dengan nada penuh sesal.
Napas Sungmin mendengus pelan, lelaki manis itu memindahkan letak ponselnya. "Tak apa. Terimakasih, Bu." akhiri Sungmin lalu memutus sambungan teleponnya. Lelaki manis itu menundukkan kepalanya sejenak, menatap layar ponselnya yang masih menyala.
Ia sudah biasa ditinggal seperti ini oleh keluarganya, seharusnya ia tak boleh sedih karena itu.
"Sungmin.." sebuah sapaan halus menyadarkan Sungmin, lelaki januari itu menoleh melihat Siwon berdiri tegap disamping, menampilkan senyum sejuta hangatnya. "Seharusnya kau dianjurkan pulang oleh dokter, tetapi kenapa masih disini?"
"Ah.." Sungmin mengusap pipinya yang terasa dingin, "Aku tidak bisa.. aku harus menjaga Kyuhyun."
Perlahan Siwon mendekat, menyenderkan tubuh besarnya ditembok. "Kyuhyun masih belum sadar, kau bisa pulang dulu untuk istirahat sejenak dan mengganti pakaian."
"Mungkin nanti.." gumam Sungmin, "Kecemasanku terhadap Kyuhyun besar sekali, Siwon-ah."
Siwon mengangguk mengerti, lengan besarnya merangkul pundak mungil Sungmin. "Kau sudah bertemu dengan keluarga Cho?" tanyanya kemudian, matanya sedikit melirik ruang UGD yang tertutup rapat.
"Sudah.." Sungmin memainkan jemarinya, "Aku sungguh bersalah kepada mereka, karenaku Kyuhyun mendapat masalah."
"Hey" celetuk Siwon tak terima, "Kau tak boleh begitu, mereka sudah mengenalmu betul Sungmin. Salahkan pacarmu itu yang bawel sekali menceritakan tentang dirimu kepada mereka."
Mata Sungmin mengerjab beberapa kali, "Bercerita?"
"Yeah.. kau tahu'kan? alasan Kyuhyun coming out itu karenamu, si bocah itu sungguh mencintaimu. Maka dari itu keluarganya juga tahu tentangmu, jadi jangan merasa bersalah dan mereka sudah menerima keputusan itu."
Digigitnya keras bibir Sungmin hingga memutih, "Bukankah mereka harusnya membenciku?"
"Sudah kubilang mereka menerimamu, mereka sungguh penasaran dengan dirimu yang sekarang. Sayang sekali, kalian bertemu disaat yang tidak tepat." hibur Siwon.
Pintu ruang UGD terbuka kemudian, keluar beberapa orang dari dalam. Sungmin langsung membungkukkan badannya hormat kepada tiga orang dihadapannya.
"Ah.. Jadi ini Lee Sungmin-ssi?"
"Ne, bangeupsumnida." Sungmin perlahan bangkit namun wajahnya masih menunduk.
Seorang wanita paruh baya menghampirinya, wajah keibuan yang terlihat mirip Kyuhyun itu menggenggam tangan Sungmin lembut. "Jangan khawatir.. Kyuhyun kuat jika ada dirimu."
"Ya, itu benar." sahut seorang wanita muda diantaranya, "Sungmin-ssi memang manis, pantas Kyuhyun begitu menyukaimu."
Mendadak wajah Sungmin merona malu, membuatnya salah tingkah.
"Terimakasih sudah menjaga Kyuhyun selama ini, Sungmin-ssi." ucap seorang pria paruh baya yang diyakini Ayah Kyuhyun, "Pasti kalian mengalami masa sulit selama ini."
Sungmin mengangguk pelan, "Ya.." jawabnya pelan senyumnya terkembang lembut.
"Bagaimana kondisi Kyuhyun, Paman?" sahut Siwon bertanya.
Tuan Cho menghela napas pelan pelan, "Anak itu mendapati cedera dan mengalami shock berat karena trauma kecelakaan waktu itu, Siwon-ah."
"Anu.. kalau boleh saya tahu, kecelakaan apa yang menimpa Kyuhyun dimasa lalu?"
Tuan Cho menatap Sungmin tepat dimatanya, obsidian itu terlihat ragu-ragu namun akhirnya luluh. "Jadi begini.."
.
.
.
Kyuhyun memainkan sedotannya bosan, mata hitamnya menyipit kearah Sungmin. "Masih sibuk dengan tugasmu itu?"
Sungmin mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang dibacanya, "Sedikit lagi, kok. Kau sudah selesai dengan PR matematikamu?"
Kyuhyun menyeruput iced chocolatenya gusar, "Dari tadi, Ming.. dari tadi. Itu mudah sekali."
Sungmin mengulum senyumnya lembut, mencolek dagu Kyuhyun menggoda remaja tampan itu. "Jangan marah begitu.. Baiklah aku minta maaf. Oh ya, Kyu.."
"Kenapa?" Kyuhyun menjauhkan letak gelasnya, tangannya merapat dekat Sungmin.
"Kau ini sebentar lagi menuju semester akhir. Kau sudah memikirkan akan melanjutkan kuliah kemana?" tanya Sungmin, matanya mengerjab lucu.
Kyuhyun tampak berpikir sejenak tetapi kemudian mendesah berat, "Aku belum berpikir sejauh itu."
Mata hazel itu melotot tajam, "Kau harus memikirkannya dari sekarang, Kyu. Kau punya otak cerdas dan prestasi yang terus meningkat, kau mau menyia-nyiakan itu semua?"
"Aish, cerewetmu kambuh lagi. Minta dicium saja." goda Kyuhyun tersenyum miring, membuat tingkah Sungmin semakin menggemaskan. "Mungkin aku akan mengambil Hukum, Ayahku sangat menginginkanku menjadi pengacara. Tapi entahlah.. aku merasa tak pasti."
"Hukum? Itu bagus lho, kau pasti mampu. Kenapa ragu?" tanya Sungmin tak sabaran.
Kyuhyun mengusap wajahnya kasar, ditidurkan kepalanya diatas meja. "Aku tidak memiliki niat disana.." gumamnya, obsidian itu melirik buku tebal milik Sungmin yang membuatnya cemburu. "Mungkin.. aku bisa mengambil jurusan yang lain."
.
.
.
"Kyuhyun mengalami perubahan drastis waktu dirinya memasuki perguruan tinggi," jelas Tuan Cho sambil membekap kedua tangannya, "Aku tidak tahu apa yang dialaminya waktu itu, dulu kami tidak memiliki hubungan hangat layaknya seorang ayah dan anak."
Lorong rumah sakit begitu senyap, memang waktu sudah menunjukkan waktu tengah malam. Hanya ada Sungmin, Siwon bersama anggota keluarga Kyuhyun, mereka duduk di kursi tunggu depan ruang UGD.
"Anak itu memilih jalan yang tak terduga. Aku bahkan terkejut Kyuhyun malah memilih jurusan sastra, padahal aku ingat sekali bahwa anak itu tidak suka dengan hal tersebut."
"Pihak kami menentang keputusannya, kami sangat memikirkan masa depannya. Tapi dia keras kepala untuk memilih itu, dia yakin bahwa dia bisa untuk menjalaninya."
Sungmin mengerti pasti, keluarga Cho memang terkenal keras soal pendidikan anak-anaknya, ia sangat ingat itu.
"Akhirnya kami menyerah, kami mempersilahkannya tetapi yang terjadi malah semakin parah."
"Pergaulannya menjadi tak menentu, dia merokok, kebut-kebutan, dia selalu pulang larut. Semakin membantah."
Perkataan Tuan Cho terhenti, sosok Ayah itu sepertinya tak mampu melanjutkan cerita. Siwon yang mengerti mulai meneruskan. "Sampai suatu hari.. kami ingat malam itu, Kyuhyun terlibat kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Mobilnya terbalik, tubuhnya terjepit. Kyuhyun mengalami luka di dalam, tulang rusuknya rusak." Siwon melirik Sungmin yang terlihat bergetar, "Luka yang terdapat di dadanya itulah buktinya."
"Tapi akhirnya keajaiban itu datang, Kyuhyun tersadar dari komanya. Terbangun, ia langsung menangis kencang. Ia begitu menyesal apa yang dia perbuat selama ini, dia bahkan mengakui semuanya kepada kami." dilanjutkan oleh Ahra, kakak perempuan Kyuhyun.
"Termasuk soal coming out itu?" tanya Sungmin setengah berbisik.
"Dia sudah cerita ya?" senyum Nyonya Cho terkulum lembut, "Anak itu melewati banyak rintangan.."
Seorang suster datang menghampiri, percakapan mereka terhenti, "Permisi, dengan keluarga Cho Kyuhyun-ssi?" tanyanya sambil memastikan di dalam papan.
Tuan Cho sigap berdiri, "Ya. Ada apa?"
"Dokter Lee Donghae meminta pihak keluarganya untuk membicarakan sesuatu," jawab Suster itu dan langsung ditanggapi oleh Tuan dan Nyonya Cho juga Ahra, setelah itu mereka pergi mengikuti sang suster menemui Donghae di ruang pribadinya, meninggalkan Sungmin dan Siwon.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Siwon kemudian, Sungmin menoleh kearah pemuda tampan itu. "Maksudnya?"
"Tentang kisah Kyuhyun, jadi.. begitulah nyatanya yang terjadi. Kyuhyun mengambil banyak risiko, dia melakukannya demi dirimu."
Sungmin terdiam, bibirnya kelu untuk bergerak. Perasaannya campur aduk sekarang.
"Oh ya, satu lagi." Siwon mengeratkan jaket kulit yang dikenakannya, "Ada alasan lain mengapa dirimu bisa bekerja di perusahaanku, itu semua karena Kyuhyun juga. Kau tahu? Kyuhyun terus memantau mu di Jepang, menunggu kapan kesempatan untuknya datang."
"Dia bekerja keras dan melakukan apapun demi dirimu. Walaupun Kyuhyun mendapatkan jabatan di perusahaanku karena nepotisme, dia tidak mempermainkan pekerjaannya. Dan pada akhirnya, dia bisa menarikmu kembali ke Korea, mencoba untuk mendapatkanmu kembali."
.
.
.
"Kau tahu, Ming?" Kyuhyun menendang kaleng kosong didepannya keras, sehingga kaleng itu terpental jauh mengenai pembatas jalan. "Aku tidak suka jika sesuatu yang harusnya menjadi milikku tidak bisa tercapai."
Sungmin tersenyum, melirik Kyuhyun disampingnya, wajah tampan itu tertekuk kesal karena Kyuhyun baru saja kehabisan stok game favoritnya. "Kau masih memikirkan game itu?" dengan lembut Sungmin menggenggam tangan Kyuhyun erat, mencoba menenangkannya. "Masih ada yang lain, Kyu."
"Tapi itu edisi terbatas, Ming!" geram Kyuhyun melepas genggamannya kasar, alisnya menyatu menatap Sungmin tajam. "Aku harus mendapatkannya, harus!"
Tawa Sungmin terlepas, Kyuhyun sedang ngambek membuat wajahnya terlihat lucu, biasa emosi anak muda. "Baiklah.. baiklah.. terserahmu, Tuan Gaemers."
"Jangan tertawa!" bentak Kyuhyun lagi, menyilangkan tangannya di dada. "Aku serius soal ini.. bahkan tak hanya game saja yang harus kudapatkan, aku juga harus mendapatkan dirimu bagaimanapun caranya jika kau berani-beraninya meninggalkanku, Ming!"
.
.
.
"Kantor sepi sekali karena tidak ada kalian berdua." ungkap Ryeowook menghela napas, "Benar-benar sepi, sampai bingung ingin melakukan apa."
"Hhh.. biasanya anak ini akan marah-marah kepada kami, tapi dengan seenak jidadnya sekarang ia masih tertidur." Kangin yang mengambil posisi disamping ranjang mencolek pipi pucat Kyuhyun, "Hei Setan Kecil, cepatlah sadar! Banyak pekerjaan yang menunggu tau."
Senyum Sungmin terkembang tipis, hari ini semua rekan kerjanya datang menjenguk Kyuhyun. Sungmin tahu dibalik wajah ceria mereka tersimpan kesedihan di dalamnya.
"Kondisimu tidak apa-apa, Sungmin-ah?" tanya Shindong menepuk-nepuk pipi gembul Sungmin, "Tidak ada goresan sedikitpun di kulit cantikmu, kan?"
Sungmin menyingkirkan tangan Shindong dari pipinya, "Hanya luka kecil di tangan dan pergelangan kaki." hazel itu melirik Kyuhyun yang masih terbaring kaku di ranjang, "Percuma Hyung melakukan hal yang membuat Kyuhyun cemburu."
Tawa memecah diruang rawat pasien nomor 137 ini. Kyuhyun sudah dipindahkan ke ruang rawat atas izin keluarganya, agar kerabat terdekat bisa membesuknya tanpa mengganggu aktivitas di dalam UGD.
"Kami terkejut begitu mendengar kabar duka tentang kalian." kini Leeteuk yang buka suara, mengamati Kyuhyun dari sofa. "Aktivitas di kantor benar-benar berantakan tanpa kehadiran kalian berdua."
"Padahal kita baru saja bersenang-senang di pesta waktu itu," yang berbicara adalah Heechul, rupanya tak hanya anggota saphirre team saja yang datang. "Aku merasa bersalah karena kalian mengalami kecelakaan sepulang dari pestaku."
"Ini bukan salahmu, Heechul-ah." ujar Sungmin lembut, "Maaf karena sudah memberi kesan buruk di hari spesialmu."
"Oh ya, sudah ada tanggapan dari pihak kepolisian, Chengmin?" tanya Zhoumi "Aku merasa.. kecelakaan ini begitu ganjil."
"Ya, aku setuju!" seru Heechul yakin, "Aku jadi teringat pria seram waktu itu, siapa ya? Kalau tidak salah namanya.."
"Heechul, cukup." tegas Sungmin menghentikan mulut ember pemuda flamboyan itu, "Kurasa tak ada hubungannya dengan-"
Pintu ruangan terbuka, ternyata Donghae yang datang, seluruh perhatian kini tertuju kepada Dokter muda itu. "Ah, ternyata ramai sekali disini."
"Jam besuknya sudah berakhir ya, Dok?" tanya Leeteuk memastikan, bahkan lelaki berlesung pipi itu bersiap berkemas untuk pergi.
"Bukan, Tuan Park." jawab Donghae langsung, "Sungmin-ssi?" arah pandang mata puppy itu tertuju pada Sungmin yang duduk di tengah sofa.
"Ya?" Sungmin sigap berdiri.
"Mari ikut saya." ajak Donghae lalu diikuti pemuda manis bermarga Lee itu, mereka meninggalkan yang lain di ruangan menemani Kyuhyun. Mata rubah Sungmin menyipit begitu melihat seorang pria berpakaian serba hitam di kursi tunggu. "Pihak kepolisan datang dan ingin membicarakan sesuatu dengan anda." lanjut Donghae menjelaskan pria tersebut.
Pria berbadan atletis itu berdiri dan mendekati mereka, tangannya terjulur memperlihatkan lencana kepolisian miliknya, "Jung Yunho, imnida. Inspektur polisi."
.
.
.
.
Sungmin dan Yunho kini berada di dalam ruangan khusus di rumah sakit yang sudah di sediakan Donghae. Ruangan itu benar-benar terjaga keamanannya agar tak ada orang yang mengamati mereka.
"Ini hasil pemeriksaan data kecelakaan anda yang kami peroleh," Yunho mengeluarkan map dari dalam jaket kulitnya, menaruhnya di atas meja berwarna putih itu. "Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan." dahi Yunho mengkerut lelaki bermata elang itu membuka map tersebut.
"Setelah kami memeriksa mobil milik Kyuhyun-ssi, ada kejanggalan di dalamnya. Tidak mungkin mobil sebagus miliknya yang masih berumur muda memiliki rem yang tidak layak."
Sungmin ingat saat kejadian tersebut berlangsung, Kyuhyun berteriak tentang remnya.
"Lalu kami mengamati rekaman cctv yang merekam laju kendaraan Kyuhyun-ssi. Kejadian terjadi di daerah Songpa-gu, kalian diikuti oleh van hitam dari pintu tol." jelas Yunho kemudian, melirik Sungmin yang ikut mengamati. "Kalau boleh saya tahu, apa itu benar kalian diikuti oleh mobil van itu?"
"Ya.." balas Sungmin setelah itu Yunho kembali melanjutkan. "Kami mendeteksi van hitam itu lewat platnya, tapi platnya sangatlah tidak lazim, maksud saya.. mobil itu adalah illegal."
"Biasanya kejadian diikuti oleh mobil misterius merupakan aksi percobaan pembunuhan."
Sungmin menekan pelipisnya, kepalanya begitu pening, berbagai macam hal memenuhi pikirannya.
"Anda tidak apa-apa, Sungmin-ssi?" Yunho menutup mapnya kemudian, menatap Sungmin bingung.
"Ya.. tapi ada beberapa hal yang ingin saya jelaskan kepada anda." Sungmin mengatur napasnya mencoba tenang, badannya bergerak condong kearah Yunho. "Tapi saya mohon untuk tidak membawa persoalan ini ke meja hijau."
"Tunggu.." mata Yunho menyipit tajam, "Maksudnya?"
"Jika pihak kepolisian membawa masalah ini lebih jauh, harga diri keluarga saya akan hancur. Jadi... saya mohon, serahkan masalah ini kepada saya."
.
.
.
.
"Hyung kau akan pergi?"
Changmin mengamati Sungmin yang memasangkan gelang cruciani biru muda di pergelangan tangan kiri Kyuhyun.
"Ya." jawab Sungmin setelah merasa simpulnya sudah pas, "Aku harus menyelesaikan urusanku."
Changmin mengangguk pelan, ditatap wajah sahabatnya yang matanya masih terpejam erat itu.
"Tolong jaga Kyuhyun, Changmin-ah.." Sungmin kini meremas tangan pucat milik Kyuhyun, sebenarnya pemuda manis itu tidak rela meninggalkan orang yang dicintainya ini. "Jika dia sudah sadar, bilang padanya untuk tidak khawatir, dan aku pasti akan kembali untuknya."
"Baik, Hyung." Changmin paham, mata bambinya kini tertuju kepada Sungmin yang sedang meninggalkan ciuman mesra di bibir tebal milik sahabatnya sejak SMA.
Tak beberapa lama Sungmin melepas ciumannya, pria manis itu kini memeluk Changmin sesaat sebelum tubuh mungilnya melangkah menjauh keluar dari ruang rawat Kyuhyun.
.
.
.
.
.
To Be Continued
DON'T WORRY! ADA SPECIAL SHORTFIC BUAT READERS YANG SETIA MENANTI!
.
.
Special ShortFic
"Wookie-ah, password dorm masih sama seperti dulu kan?"
.."Huh? Masih kok. Jadi, Hyung benar-benar datang ke dorm?"..
Sungmin menghela napas kecil, "Ya. Aku baru menyadari, masih ada sebagian barangku yang tertinggal."
Terdengar suara 'oh' panjang dari Ryeowook. Terjadi jeda beberapa saat.
"Anu.. Wookie-ah."
.."Ya?"..
"Um.. Apa 'dia'.." ucapan Sungmin terhenti, wajahnya bermimik ragu. "Ada di dorm?" lanjutnya.
.."Maksud hyung K-"..
"Ya! Itu maksudnya, apakah dia tinggal di dorm atau sedang pergi?" cegah Sungmin cepat, entah mengapa jantungnya berdegup kencang.
.."Ah.. tadi pagi dia bilang kepadaku dia punya jadwal pemotretan siang ini, mungkin sekarang ini dia sedang tidak tinggal di dorm."..
"Benarkah?" tanya Sungmin sambil menggigit bibirnya gusar.
.."Untuk apa aku berbohong?".. aku Ryeowook dari seberang.
Sekali lagi Sungmin menghela nafas, ia merasa lega. "Baiklah kalau begitu. Terimakasih sudah sempat menerima teleponku." Akhiri Sungmin lalu memutus sambungannya dengan Ryeowook.
.
.
Pintu berwarna cokelat itu perlahan terbuka, Sungmin menengok ke dalam, keadaan dorm yang kini hanya ditinggali dua anggota Super Junior terlihat sepi dan lenggang. Barang-barang tidak sebanyak dulu, bahkan Sungmin dapat menangkap ada beberapa kardus kosong yang dibiarkan tergeletak di ruang tengah.
Alis Sungmin mengernyit 'Apa mereka akan pindah?'
Dalam hati, Sungmin sangat menyayangkan keadaan saat ini. Dorm yang dulu ramai bahkan terasa sesak karena banyak anggota yang tinggal kini tidak lagi, memang saat ini para anggota lebih memilih tinggal sendiri termasuk dirinya. Padahal jika diingat-ingat ada banyak sekali kenangan yang mereka buat, termasuk kenangan Sungmin bersama 'Orang Itu'.
Hazel jernih itu menatap sekeliling sudut ruangan, Sungmin lalu melepas topi lorengnya sehingga tampak rambutnya yang kini terpangkas habis. Pria manis itu memutar ulang kembali memori-memori tentang dorm di dalam pikirannya. Senyumnya perlahan masam ketika ia memikirkan senyum seseorang yang kini ia campakkan.
'Bagaimana nanti jika aku keluar dari kamp? Bagaimana jika aku kembali ke dalam grup? Apa anggota masih menerimaku? Apa para penggemar juga begitu? Bagaimana nanti kehidupanku bersama anggota kedepannya?'
'Aku sudah membuat kesalahan besar yang membuat mereka kecewa. Aku tahu, aku salah. Tapi apa mereka bisa menerimaku kembali? Kalau iya, apakah bisa seperti dulu lagi? Melihat kondisi sekarang, mereka tidak sering menghubungiku. Di kamp hanya Shindong saja yang masih dekat, Eunhyuk walaupun kita satu kamp rasanya entah mengapa canggung sekali. Aku takut jika itu terus terjadi.'
Perhatian Sungmin tertuju pada botol wine kosong yang tergeletak diatas meja makan, Sungmin meraih lalu membereskannya. Disamping itu ada satu gelas Kristal yang berisi setengah cairan wine berawarna merah pekat, seperti baru ditinggalkan oleh pemiliknya.
Melihat wine, Sungmin kembali teringat seseorang. Seseorang yang selalu membuat jantungnya berdebar, pipinya merona, dan hatinya berdesir. Bahkan jika Sungmin tak malu mengakui, rasa itu masih sama sampai sekarang, orang itu sukses membuatnya sulit berpindah hati, walau sekarang statusnya menikahi orang lain.
'Aku sungguh penasaran bagaimana keadaannya sekarang, apakah dia masih terpuruk atau sudah melupakanku?'
Sungmin tidak ingin orang itu terpuruk karena ulahnya tetapi Sungmin juga tak mau orang itu melupakannya. Egois? Bisa dibilang begitu.
Seseorang yang harus bangkit dari keterpurukan memang harus melupakan hal yang membuatnya terpuruk, tetapi Sungmin tak ingin dilupakan, ia masih ingin berbagi kasih dengannya tetapi mana mungkin bisa?
Dalam lubuk hati kecilnya, Sungmin ingin berteriak sekencang-kencangnya bahwa ia sangat merindukannya.
"Oh, kupikir siapa yang diam-diam menyusup kedalam."
Sebuah suara sukses mengagetkan Sungmin dari aksi melamunnya. Mata hazel itu melebar menatap seseorang yang kini berdiri tepat di sebrangnya.
"K-Kyuhyun?"
Kyuhyun dengan santai melepas masker dan topi fedoranya, wajahnya terlihat lelah walau masih menggunakan riasan. "Apa yang kau lakukan disini, hyung?" tanyanya datar sambil mengibas rambut cokelatnya yang mulai memanjang.
"A-aku.." Sungmin merunduk gugup sambil memainkan jari-jarinya, "Ti-tidak melakukan apa-apa."
"Huh?" Kyuhyun bergerak mendekat, "Tidak melakukan apa-apa? Apa kau bercanda?" ejeknya sambil berdecak.
Berjalan melalui Sungmin, Kyuhyun membuka lemari pendingin lalu mengambil dua kaleng soda. "Diluar panas sekali, aku benci musim panas." gumamnya lalu meneguk cairan soda di salah satu kaleng yang ia ambil.
Tangan pucat itu menyodorkan satu kaleng lagi kepada Sungmin, "Ini untukmu." tawar Kyuhyun, namun tak digubris oleh Sungmin. "Aish! Aku tahu kau juga haus, terimalah." Kyuhyun lancang menarik pergelangan tangan Sungmin lalu menaruh kaleng soda di telapak tangannya. Entah mengapa sentuhan cepat itu membuat pipi Sungmin merona hebat.
Seringai kecil menghiasi bibir tebal Kyuhyun, "Walaupun rambutmu terpangkas habis, kau masih saja bertingkah manis seperti ini."
Sungmin mendongakkan kepalanya, terkejut ketika matanya terperangkap dalam pesona obisidian Kyuhyun yang memikat. Semakin merahlah kedua pipinya saat ini.
"Kyu.. Kyuhyun-ah.. kau tidak membenciku?" ucap Sungmin terbata.
"Untuk apa membencimu?"
Sungmin mengerjap pelan, heran dengan ucapan Kyuhyun. "Kenapa?"
Dengan lembut tangan pucat itu menyentuh dan menyusuri pipi halus Sungmin, Sungmin sangat menyukai sentuhan ini dan merindukannya sejak lama. "Karena rasa ku kepadamu masih sama seperti dulu My BunnyMin. Aku tetap mencintaimu meski kau terus menyakitiku." ucap Kyuhyun berbisik, menyunggingkan senyum tulusnya.
.
.
END of ShortFic
.
DON'T FORGET LEAVE A REVIEW FOR THIS FANFICTION.
WE NEED YOUR PARTICIPATE :)
KEEP CALM AND SUPPORT KYUMIN
.
(A/N) : GILA! Udah berapa abad/? aku telantarin nih dunia?
Setelah mengalami banyak ujian disana sini, akhirnya aku bisa lulus dari dunia putih abu-abu dan alhamdulillah keterima di kampus negeri yang selama ini di dambakan hehehe.
Teringat masih punya hutang di fanfiction jadinya aku kembali bergelut lagi disini, masih ada KyuMin shipper gak sih? haduh jadi cemas kalo misalkan udah gaada lagi mungkin lain waktu kalau udah terpaksa aku bakal leave jadi author ehehe
Plus special shortfic buat para readers yang setia menunggu! Maaf pake banget yah hiatus sampe bulukan.
Pokoknya jangan lupa tinggalkan review dan maaf sekali lagi ya kalian sampe nunggu selama ini
See ya~ Cat13
