UZUMAKI'S GIRL
Disclaimer : My Uncle Masashi Kishimoto.
Story By : Yana Kim
Length : Bingung...
Rate : M
Warning:Semi canon, Abal, Gaje, Typo, OOC dan lain sebagainya.
Hatake Kakashi Uzumaki Karin
SUM:
Hatake Kakashi selalu menjadikan Namikaze Minato sebagai panutannya. Dalam melatih para muridnya pun ia memakai metode sang guru. Namun apakah tidak berlebihan bila dalam hal pendamping hidup, ia juga menjadikan Minato sebagai panutannya? Menikahi wanita Uzumaki?
:
:
:
Chapter 3
"Enghh..." Karin mengernyit mencoba mengumpulkan semua kesadarannya. Ia menoleh kekanan dan kekiri melihat sekitarnya. Ini adalah kamar Kakashi dan iapun menyadari bahwa saat ini ia berbaring diatas futon dengan selimut menutupi tubuh polosnya. Melihat keadaannya, ia akhirnya mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Pasti Kakashi yang memindahkan kekamar ini. Karin mencoba bangkit dan melingkarkan selimut putih itu ditubuh polosnya. Namun saat akan melangkah , Ia merasakan perihyang amat sangat diselangkangannya. Menguatkan diri, Karin memaksa kakinya untuk melangkah menuju kamar mandi sambil berpegangan pada dinding. Ringisan terdengar tiap kali gadis yang sudah menjadi wanita itu melangkahkan kaki jenjangnya hingga ia sampai dikamar mandi.
Karin memandang pantulan dirinya dicermin kamar mansi yang hanya bisa menampilkan setengah badannya. Bibir pucat dan begitu banyak bercak kebiruan dileher bahkan dadanya. Berbeda dengan bekas gigitan ditangannya yang samar-samar, bercak yang ada dileher dan dadanya tampak dengan sangat jelas. Karin menghela nafasnya, Ia bingung harus berbuat apa.
Sejujurnya ia kesal dengan apa yang telah pria itu lakukan padanya. Pria itu memilih memenangkan emosi daripada logikanya. Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi, setidaknya belum. Mereka belum menikah, padahal Karin membayangkan malam pertama yang romantis dengan taburan mawar merah kesukaannya dan juga lilin aromaterapi. Bukan malah diruang tamu dan penih dengan luapan emosi alih-alih cinta. Kepalanya berdenyut karena memikirkan semuanya. Ia pun mulaimembersihkan diri.
Tak lama setelahnya, Karin berjalan keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk putih dan rambut basah yang tergerai. Wanita itu tersentak melihat Kakashi berdiri bersandar didinding. Pria itu hanya mengenakan celana panjang hitamnya, tanpa baju dan tanpa masker kebanggaannya. Karin memerah memandang wajah tampan itu. Wajah yang untuk melihatnya, Karin harus mengorbankan harta berharganya. Mengingat hal itu membuat Karin kembali kesal.
Menghiraukan pria itu, Karin berjalan menuju lemari dengan perlahan karena rasa perih yang kembali dirasakannya. Ia mengambil pakaian dalam dan kimono tidurnya. Kenapa kimono tidur? Ya, Karin berencana untuk tidur seharian karena nyeri disekujur tubuhnya. Ia ingin melangkah kembali kekamar mandi untuk memakai pakaiannya. Namun ia kembali teringat rasa perihyang datang tiap ia melangkah. Kemudian ia melirik Kakashi yang memandangnya dalam diam. Bukannya, Kakashi telah melihat tubuhnya semalam? Begitu juga dirinya yang sudah melihat tubuh pria itu. Jadi tak masalah kan? Wanita Uzumaki itu tanpa ragu menurunkan handuknnya hingga tubuhnya terekspos sempurna. Kemudian wanita bersurai merah itu mulai memakai pakaiannya.
Kakashi hanya bisa tercengang melihat kelakuan wanita didepannya. Ok, semalam ia memang telah melihat bahkan merasakannya. Tapi kalau harus melihatnya sekali lagi, bukannya itu mengundang kejadian semalam akan terulang lagi? Takut tak bisa menahan gairahnya, pria Hatake itu mengalihkan pandangannya kebawah. Namun ia harus merutuki dirinya karena kini ia malah melihatbra dan celana dalam hitam Karin yang bertumpuk bersama dengan pakaian mereka yang baru saja diambil Kakashi dari ruang tamu.
Ya, Ia baru saja selesai membereskan kekacauan yang mereka lakukan atau lebih tepatnya ia lakukan semalam. Bukan kekacauan yang parah memang, hanya baju mereka yang berserakan dan noda darah serta bekas percintaan mereka disofa. Berharap Karin sudah selesai, ia melihat kearah Karin yang untungnya memang sudah selesai dengan kegiatannya.
"Maafkan aku." Karin hanya diam sambil mengambil selimut baru dari dalam lemari. Melihat gelagat Karin yang menganggapnya seolah tak ada membuat Kakashi menghela nafas. Ia kemudian mengambil pakaian yang ada didekat kakinya itu untuk meletakkannya dikeranjang pakaian kotor. Ketika keluar dari kamar mandi, ia melihat Karin berbaring difuton dengan selimut yang menutupinya sampai sepinggang. Wanita itu berbaring membelakangi menyamping sehingga membelakangi pintukamar mandi tempat Kakashi berdiri saat ini. Pria Hatake itu berjalan keluar kamar dan kembali tak lama kemudian dengan semangkuk bubur dan segelas susu. Ia mendekati Karin yang sudah memejamkan matanya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi namun wanita itu belum sarapan. Sebenarnya ia sendiri juga belum menyentuh makanan apapun sejak tadi. Rasa bersalah yang menyelimuti hatinya membuatnya terus memikirkan Karin hingga makanan yang sudah dimasaknyapagi tadi tak tersentuh.
Setelah meletakkan nampan itu dilantai, Kakashi mencoba membangunkan Karin.
"Aku tahu kau belum tidur. Makanlah." Ujarnya sambil mengguncang lembut bahu wanita merah itu.
Karin membuka matanya. Menatap malas pria tampan didepannya kemudian menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
"Aku tidak lapar." Jawab wanita itu datar.
Kakashi yang mulai kesal menarik paksa selimut itu hingga kembali kepinggang ramping siwanita.
"Jangan seperti anak kecil, Karin. Aku tahu aku salah. Maafkan aku, ok?" Kakashi menarik tangan Karin dan menggenggamnya lembut. Namun hanya sedetik karena wanita itu menariknya lagi.
"Karin!" panggil Kakashi dengan nada gusar. Wanita itu mendudukkan dirinya. Ketika ingin melipat kakinya, ia kembali meringis karena rasa perih yang datang. Akhirnya ia duduk sambil memankangkan kakinya kedepan. Kakashi yang melihatnya tambah merasa bersalah. Karin kemudian menatap tajam pria dihadapannya.
"Kau.. baru minta maaf sekarang? Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan padaku semalam?"
"Aku sudah minta maaf dari tadi. Kau tidak mendengarnya ya? Apa kau tuli?"
"Apa? Kau bilang aku tuli? Tidak bisakah kau meminta maaf dengan tulus? Gara-gara perbuatanmu semalam aku sampai susah berjalan tahu! Bahkan untuk melipat kakiku saja selangkang— " Karin menutup mulutnya dengan tangannya menyadari kata-kata yang mempermalukan dirinya itu keluar dari mulutnya. Kakashi yang melihat tingkah calon istrinya itu pun mau tak mau menarik ujung bibirnya. Wajah wanita cantik itu sudah memerah sempurna karena malu.
"Ja-jangan ganggu aku! Aku mau tidur, baka!"
Karin kembali membaringkan dirinya dan membelakangi Kakashi. Pria itu hanya tersenyum eh tunggu, Kakashi menyeringai?
Pria itu mengambil nampan disampingnya dan meletakkannya diatas nakas. Karin yang mengira Kakashi akan segera beranjak meninggalkan ruangan menghjela nafas lega. Namun sedetik kemudian ia merasakan selimutnya tersingkap dan sesuatu masuk kedalam. Alangkah terkejutnya ia merasakan Kakashi kini berbaring dan memeluknya. Tangan kanan pria itu melingkari perut Karin dari belakang sedangkan tangan kirinya menyingkap rambut merah Karin dan menyembunyikan wajahnya ditengkuk wanita itu.
"A-Apa yang...?"
"Kau mau tidurkan? Kalau begitu aku ikut. Kau tahu, aku juga lelah karena semalam." Hembusan nafas pria itu ditengkuknya membuat wanita itu merinding.
"Ka-kau..."
"Kita bisa tidur seharian kalau kau mau. Tapi katakan padaku kalau kau lapar. Akan kuambilkan. Lau mengerti?" Kakashi semakin merapatkan rubuhnya kepunggung wanita cantik yang dicintainya itu.
"Terserah. Tapi ingat, aku belum memaafkanmu!" Kakashi tersenyum mendengar nada ketus wanitanya itu. Malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang sang wanita.
:
:
:
Karin terbangun dari tidur pagi jelang siangnya. Setelah kedua manik Ruby itu terbuka sempurna, ia mendapati wajah tidur Kakashi dihadapannya. Entah sejak kapan dan bagaimana mereka bias berhadapan begini. Bahkan tangan pria itu masih erat memeluknya. Mata karin menyusuri wajah tampan Kakashi. Wajah tidur itu terlihat damai. Pandangannya tertuju pada bekas luka dimata kiri pria itu. Bekas luka itu malah menambah kesan kuat dan tangguh serta berani dari pria yang entah sejak kapan mencuri hatinya. Seminggu yang lalu kah? Atau sejak kejadian ia hampir mati karena Sasuke kah? Mengingat Sasuke, Karin pun bertanya-tanya kenapa akhir-akhir ini ia tidak pernah memikirkan siUchiha itu. Apakah Kakashi sudah menyita hati dan pikirannya? Entahlah.
Ia mengangkat tangannya dan melertakkannya dipipi mulus Kakashi. Ia sendiri bingung kenapa ia tidak bisa marah pada pria ini atas apa yang telah dilakukannya pada Karin semalam. Kesal memang, tapi tidak sampai menimbulkan kebencian dihatinya. Ia merasa cepat atau lambat ia pun akan menjadi milik pria ini seutuhnya. Apakah ia mencintai Kakashi? Secepat itu? Apakah ia pantas? Apakah ia yang ninja pelarian pantas bersanding dengan seorang calon hokage? Sicopy ninja kebanggaan Konoha yang terkenal? Banyak pertanyaan bermunculan dibenaknya.
Sepasang mata kelam didepannya membuka. Seketika Karin menurunkan tanganya dari wajah Kakashi.
"Kau sudah bangun?" tanya pria itu lembut. Karin mengalihkan pandangannya agar tidak menatap mata kelam Kakashi. Ia melepaskan dengan paksa tangan Kakashi yang memeluk pinggangnya dan berbalik memunggungi sicopy ninja.
"Aku lapar!" serunya ketus. Wanita itu memang lapar. Entah jam berapa sekarang dan ia sama sekali belum makan sejak pagi, ah bukan, sejak malam.
Kakashi terkekeh. "Baiklah Hime-sama, akan kuambilkan."
Mendengar panggilan yang diberikan Kakashi padanya membuat wajah Karin merona. Kakashi bangkit dan mengambil nampan yang tadi dibawanya kemudian berjalan keluar. Karin mencoba berdiri untuk kekamar mandi. Ia bernafas lega karena tidak lagi sakit dipangkal pahanya sudah berkurang hingga ia bisa berjalan tanpa meringis. Setelah selesai dengan urusannya dikamar mandi, Karin kembali menidurkan dirinya diatas futon. Lima belas menit kemudian, pintu terbuka dan Kakashi masuk dengan nampan ditangannya. Pria itu duduk disamping futon dan meletakkan nampan yang dibawanya dilantai. Semangkuk nasi hangat dan beberapa lauk dan sayuran yang tadipagi dimasaknya. Tak lupa segelas air putih. Karin mendudukkan dirinya.
"Kau menunggu lama? Aku tadi memanaskan lauk dan sayurnya. Makanlah." Ujar Kakashi sambil meletakkan nampan itu dipangkuan Karin setelah sebelumnya mengambil air putih untuk diletakkan dilantai.
"Hmm." Karin hanya bergumam. Namun mulai mengambul sumpit dan memakan nasi beserta lauk yang disediakan oleh Kakashi. Kakashi sendiri duduk melipat kakinya sambil melihat Karin memakan makanannya. Melihat Karin makan membuat pria itu menjadi—
"Kruuuyuk..." – lapar. Pria itu berdeham untuk menghilangkan rasa malunya sambil melihat kearah lain. Karin sendiri yang mendengar suara perut Kakashi menghentikan kegiatannya yang memang sudah hampir selesai dan menatap pria itu. Seketika rasa bersalah menghinggapi hatinya. Apa pria ini juga belum makan? Karin merasa dirinya sudah keterlaluan. Pasti Kakashi tidak makan karena sibuk membujuk dan meminta maaf padanya. Wanita itu melihat makanannya yang hampir habis. Kemudian ia meletakkan sumpitnya dan mengambil air putih untuk diminum.
"Aku sudah selesai." Ucap wanita itu. Kakashi kemudian berniat untuk mengambil nampan itu untuk dibawa kedapur. Namun suara Karin menginterupsinya.
"Letakkan saja disitu."
"Apa?"
"Gendong aku kedapur sekarang."
"Kepa—"
"Cepat!"
"Mau tak mau Kakashi menggendong wanita itu a la bridal style menuju dapur dan mendudukannya dikursi meja makan. Kakashi yang bingung hanya menatap Karin dengan pandangan bertanya smbil melipat tangannya didada.
Karin tba-tiba berdiri dan berjalan pelan menuju lemari makanandan mengambil lauk dan sayuran yang sama yang diberikan Kakashi padanya dan meletakkannya dimeja makan. Kemudian wanita itu mengambil mangkuk dan mengisinya dengan nasi hangat dari ricecooker. Tak lupa ia mengambil sepasang sumpit dan meletakkannya disamping mangkuk asi.
"Duduklah dan makan." Kakashi hanya terbengong melihat apa yang dilakukan wanita itu.
"Hei! Bukannya kau lapar!?" kini Karin kembali mendudukkan dirinya dikursi. Kakashi mengikutinya.
"Y-ya." Pria itu mulai makan. Karin menatap pria yang sedang mengunyah itu. 'Tampan' batinnya. Namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya dan beranjak untuk mengambil segelas air putih. Lima belas kemudian Kakashi sudah selesai dengan kegiatan makannya. Karin kembali membereskan bekas makanan pria itu.
"Jadi... Kau sudah bisa berjalan?" tanya Kakashi hati-hati.
"Hmm." gumam Karin sambil kembali duduk.
"Lalu kenapa memintaku menggendongmu kemari?"
"Kau keberatan?" tanya Karin balik.
"Tidak." Jawab Kakashi cepat. Karin mengangkat sudut bibirnya.
"Kalau begitu gendong aku lagi keruang tamu. Kemudian bereskan futon, bereskan bekas makanku tadi dan cuci piring." Titah Karin.
"Hei..."
"Aku mau mandi. Hinata pasti sudah menungguku."
"Apa? Hinata? Kau..."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Kakashi menghentikan pertanyaannya.
"Buka pintu." Karin kembali memerintah. Kakashi menggelengkan kepalanya. Kakashi kemudian kembali kekamar dan secepat kilat kembali dengan masker bodohnya.
Ia membuka pintu dan terkejut melihat Kho berdiri disana. Pria klan Hyuuga itu membungkukkan badannya.
"Selamat siang, Kakashi-sama. Apa Karin-san ada?" Seketika emosi Kakashi naik mendengar pertanyaan Kho.
"Tidak ada." Sahutnya dingin.
"Benarkah?" Kho tampak berfikir sejenak.
"Ada apa kau mencari calon istriku?" tanya Kakashi lengkap dengan tatapan tajamnya dan penekanan pada dua kata terakhir.
"Saya hanya ingin menyampaikan pesan Hinata-sama. Kalau pelajaran memasaknya ditunda dulu untuk seminggu kedepan karena Hinata-sama harus keluar desa untuk memenuhi undangan." Terang pria pemilik byakugan itu.
Kakashi mengernyit heran dengan penuturan panjang lebar dari Kho.
"Pelajaran... memasak?"
"Ya, Kakashi-sama. Kalau begitu saya permisi, saya harap anda bisa menyampaikan pesan tersebut." Kho membungkukkan badannya sekali lagi dan beranjak meninggalkan Kakashi yang masih terdiam ditempat.
"Pelajaran... memasak?" sekali lagi Kakashi mengulang pertanyaannya sebelumnya. Seketika sebuah pemahaman muncul dibenaknya. Jadi seminggu belakangan ini, Karin ketempat Hyuuga untuk bertemu Hinata dan belajar... memasak?
Belajar memasak?
:
:
:
"APAAA...?!" Tsunade dan Sizune harus menutup kedua telinganya mendengar teriakan dari berbagai macam suara didepannya. Saat ini ia memanggil rookie 9 keruangannya. Dan ia baru saja memberitahukan perihal...
"Kami tim 7 baru pulang misi dan malam mendengar kabar kalau guru kami akan menikah?! Dengan siapa tadi? Uzumaki Karin?! Kenapa kami baru tahu-tebbayo?!" suara cempreng Naruto menggema diruangan itu. Sementara Sakura masih sedikit syok.
"Mendokusei. Diamlah Naruto. Kami juga baru tahu. "
"Akhirnya, kukira dia akan sendiri selamanya. Aku senang sekali walaupun cukup terkejut."
"Anda tidak mungkin memanggil kami hanya untuk mengatakan itu kan?" ujar Shikamaru lagi.
"Ya, aku ingin memberikan misi untuk kalian semua. Yaitu... mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pernikahan sekaligus pelantikan Kakashi sebagai hokage."
"APAAA? HOKAGEE?!" untuk kedua kalinya Tsunade harus menutup telinganya.
"Kalau yang ini aku sudah tahu. Haah mendokusei..."
TBC
Hai hai hai...!
Saya kembali dengan chapter 3 yang dikit ini. Selain dikit chap ini alurnya lambat pake banget. Karena ada yang bilang buat multichap jadi saya sedang memikirkannya kembali.
Makasih banyak udah ripiu fic gaje ini. Ternyata banyak juga yang suka pairing ini. Hehe.
RIPIU YA...
Yana kim ^_^
