UZUMAKI'S GIRL

Disclaimer : My Uncle Masashi Kishimoto.

Story By : Yana Kim

Rate : M

Warning:Semi canon, Abal, Gaje, Typo, OOC dan lain sebagainya.

Hatake Kakashi Uzumaki Karin

SUM:
Hatake Kakashi selalu menjadikan Namikaze Minato sebagai panutannya. Dalam melatih para muridnya pun ia memakai metode sang guru. Namun apakah tidak berlebihan bila dalam hal pendamping hidup, ia juga menjadikan Minato sebagai panutannya? Menikahi wanita Uzumaki?

:

:

:

Chapter 4

:

:

:

Kakashi tak berhenti menyeringai setelah Kho meninggalkan apartemennya. Ia masuk ke dalam dan melihat Karin yang duduk disofa. Senyuman tak lepas dari wajahnya yang kini telah lepas dari penghalang alias maskernya. Jounin tigapuluh satu tahun itu menurunkan maskernya sedetik setelah ia menutup pintu tadi. Karin merasa ada yang aneh dengan pria itu, dengan senyum pria itu lebih tepatnya. Masih dengan gaya bossynya yaitu melipat tangan dan mengangkat dagunya tinggi, wanita itu bertanya pada calon suaminya itu.

"Siapa yang datang?" ketusnya.

"Seseorang yang membawa kabar penting." Masih dengan senyum anehnya, Kakashi mendudukkan dirinya disamping Karin, dan merapatkan tubuhnya pada wanita itu. Karin tentu saja semakin heran.

"Kenapa kau tiba-tiba menjadi gila?"

"Kenapa kau tidak bilang padaku yang sebenarnya?" tanya Kakashi.

"Kau mau kita bertengkar lagi, Kakashi? Sudah kubilangkan."

"Kalau pertengkaran kita berakhir seperti semalam, aku tak keberatan." Kakashi menyeringai , seringai mesum kalau menurut Karin.

"Dasar mesum!" Wanita Uzumaki itu mendorong tubuh Kakashi menjauh darinya. Namun Kakashi malah makin merapatkan tubuhnya.

"Jadi kau belajar memasak dengan Hinata?" Karin membelalakkan kedua mata rubynya memandang horor Kakashi. 'Dari mana dia...'

"Da-darimana kau tahu?!"

"Seseorang yang datang barusan."

"Me-memangnya siapa yang—"

"Itu tidak penting. Jadi memang benar?"

Karin berdiri dari duduknya dengan panik. "I-itu... aku... itu... a-aku hanya..." Karin gelagapan. Kakashi ikut berdiri dan menghadap pada wanita yang tampak gugup itu.

"Hanya...?" tanyanya dengan senyum yang semakin menambah tampan wajahnya.

"Ha-hanya... Aku hanya tidak mau dianggap sebagai istri tidak berguna nanti... Ja-jadi ak—"

Cup!

Sebuah kecupan manis mendarat dikening Karin. Kakashi mengecup kening wanita itu dengan sangat lembut. Karin tertegun dibuatnya.

"Terimakasih." Ucapnya tulus. "Terimakasih sudah mau berusaha untukku."

Akhirnya Karin memperoleh kesadarannya dan wajahnya pun merona.

"Ke-kenapa menciumku tiba-tiba?! Kau ini memang mes—"

"Kenapa? Kau mau lagi?"

"Ya, tentu saja! A-a-a tidak maksudku. Aku tidak mau! Siapa yang mau dicium oleh laki-laki mesum seperti—"

Cup!

Bibir Kakashi kini mendarat tepat dibibir Karin. Melumatnya lembut. Tak ada nafsu, hanya luapan perasaan cinta yang mendalam. Karin hanya terdiam, terlalu syok untuk menyadari yang terjadi. Bahkan hingga Kakashi melepaskan ciumannya, Karin masih terdiam tak bergerak. Ekspresi wanita itu membuat Kakashi terkekeh. Suara tawa Kakashi membuat Karin tersentak dan sadar akan situasi. Wajahnya semakin merona karenanya.

"Me-mesum."Ia membuang muka tak mau memandang Kakashi. Kakashi tersenyum tulus pada Karin. Karin yang melihat senyuman itupun membalas senyuman Kakashi dengan malu-malu dan hal itu membuat Kakashi gemas. Ia menarik calon istrinya itu kedalam pelukan. Mendekap erat tubuh Karin dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher wanitanya.

"Sekarang aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maaf sudah marah-marah dan menyakitimu." Kata Kakashi lembut. Karin tersenyum dan membalas pelukan Kakashi.

"Hmm. Aku juga seharusnya jujur padamu sejak awal. M-maaf." Ujar Karin.

"Sekarang saatnya aku yang memberitahu padamu rahasiaku." Perkataan Kakashi membuat Karin melepaskan pelukannya dan menatap wajah Kakashi dan menyipitkan matanya.

"Kau punya rahasia?"

Kakashi mengangguk. Ada sesuatu yang kurahasiakan padamu. Jadi akan kukatakan sekarang."

Karin melipat tangannya didada dan menatap Kakashi tajam.

"Katakan!"

"Aku mencintaimu." Jantung wanita Uzumaki itu berdegup kencang mendengar ucapan Kakashi.

"K-kau bilang apa?" tanyanya seolah tak peercaya.

"Aku mencintaimu, Karin. Perlu berapa kali lagi harus kukatakan hm? Nyonya Hatake?" Karin kembali merona malu.

"Se-sejak kapan? Sejak kapan kau... kau mencintaiku?"

"Hmm... apa harus kuceritakan?"

"Tentu saja! Cepat ceritakan!"

Kakashi terkekeh. Ia mendudukkan dirinya kembali ke sofa dan menarik Karin ke pangkuannya. Wanita itu hanya bisa merona. Dengan rikuh dan malu, ia melingkarkan lengannya pada leher Kakashi membuat pria itu melingkarkan lengannya dipinggang Karin.

'Nyaman dan hangat' batin keduanya.

"Aku pertama kali melihatmu saat ujian chunin. Itu adalah ujian chunin pertama dengan aku sebagai jounin pembimbing. " Kakashi memulai ceritanya. Karin mendengarkannya dengan seksama.

"Aku masih lima belas tahun waktu itu. Dasar pedofil!" Kakashi hanya terkekeh.

"Aku melihatmu dalam tim Kusagakure. Melihat rambut merah dan chakramu yang khas, aku tahu kau dari klan Uzumaki. Aku jadi teringat dengan Kushina."

"Kushina?" tanya Karin.

Kakashi mengangguk. "Ya, Uzumaki Kushina. Ibu dari Naruto dan istri dari Minato-sensei. Aku yang menjadikan Minato-sensei sebagai panutanku juga menginginkan wanita seperti Kushina untuk menjadi pendamping hidupku. Wanita yang ceroboh dan pemarah. Kurang lebih, sama sepertimu."

Karin memukul dada Kakashi namun tetap diam mendengarkan.

"Walaupun ceroboh dan pemarah, tapi begitu perhatian pada orang-orang yang dikasihinya. Yah.. sama sepertimu. Yang membedakan kalian adalah... dia bisa memasak dengan baik sedangkan kau tidak."

Kakashi harus kembali merasakan sakit didadanya saat Karin memukulnya ditempat yang sama. Pria itu tertawa renyah.

"Jadi, kau jatuh cinta padaku saat itu?" tanya Karin. Kakashi mengangguk dalam diam.

"Namun aku harus menelan kecewa karena tidak lagi melihat mu setelah insiden penyerangan Konoha. Aku pun tidak pernah bertemu denganmu dalam setiap misiku."

"Tentu saja. Aku kan ditempat persembunyia Orochimaru-sama. "

"Ya, kau benar. Apa kau tahu bagaimana perasaanku melihatmu saat insiden kematian Danzou? " Karin menggeleng. " Aku sangat panik melihat kondisimu dan sesegera mungkin menyuruh Sakura memberikan pertolongan pertama. Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Untungnya kau mau kubawa ke Konoha."

"Saat itu aku tak punya pilihan lain."

"Intinya aku senang kita bertemu lagi. Dan akhirnya aku bisa menjadikanmu milikku. Walaupun kita belum melangsungkan pernikahan."

"Terimakasih." Ujar Karin menatap mata Kakashi.

"Karin."

"Hm?"

"Apa kau sudah mulai mencintaiku?" Kakashi membalas tatapan Karin. Wanita itu tidak mengeluarkan sepatah katapun dan itu membuat kekecewaan merundung hatinya. 'Memang tidak akan semudah itu..' batin pria itu.

Karin tetap menatap Kakashi tepat dimatanya. Kekecewaan tergambar dimata Kakashi dan Karin melihatnya. Kekecewaan dimata Kakashi tergantikan dengan wajah syok ketika Karin mengecup kedua pipi Kakashi, lanjut pada keningnya dan terakhir pada bibir kissable pria perak itu. Kemudian ia menyandarkan kepalanya pada dada Kakashi. Tak lupa ia mengeratkan pelukan lengannya pada leher pria itu.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Karin. Kakashi tersenyum dan mengeratkan pelukannya dipinggang Karin. Meskipun Karin tidak mengatakan apa-apa, ia sudah tahu kalau perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Cintanya terbalas. Betapa senangnya Kakashi siang itu.

"Aku sudah tahu jawabannya. Kau mencintaiku juga kan?"

"Hmm." Karin hanya bergumam. Kini gilirannya yang menyembunyikan wajah dileher Kakashi menghirup aroma tubuh pria itu.

"Dasar tsundere."

"Hmm" Karin hanya membalasnya dengan gumaman. Ia sedang menikmati kehangatan yang kini ia rasakan bersama Kakashi. Calon suamninya yang sudah merebut hatinya. Bahkan berhasil menggantikan posisi Uchiha Sasuke dari hati maupun pikiran Karin. Kakashi pun demikian, tangannya yang tadinya melingkar dipinggang Karin terangkat dan mengusap lembut rambut merah wanita itu.

:

:

:

Seminggu lebih tiga hari berlalu sejak kedua insan itu saling mengetahui perasaan masing-masing. Keduanya pun melanjutkan aktivitas mereka dengan tenang dan perasaan bahagia. Tentu saja, keduanya semakin dekat setelah saling terbuka tentang rahasia mereka. Karin masih dengan kegiatannya berkunjung kekediaman Hyuuga untuk belajar memasak setelah Hinata pulang dari perjalanannya. Sedangkan Kakashi kini sudah duduk dikursi Hokage atas perintah Tsunade. Meskipun belum dilantik, namun Godaime Hokage itu sudah mempercayakan Kakashi untuk mengambil alih semua tugasnya. Sesekali Kakashi akan mengunjungi kediaman Tsunade jika ada hal-hal yang masih belum dimengerti olehnya.

Karin yang kemampuan memasaknya bertambah dari hari kehari ini sudah mengambil alih peran yang sebelumnya dilakukan Kakashi. Ia semakin rajin memasak dan meminta sebenarnya memerintah Kakashi untuk mencicipi dan menilainya. Ia pun semakin antusias berbelanja kepasar untuk keperluan dapur dan lainnya. Tanpa sadar ia sudah menjalakan peran seorang istri yang sesungguhnya. Dari mulai memasak, menyiapkan pakaian Kakashi hingga kebutuhan biologis pria itu yang anehnya selau diminta Kakashi saat pria itu sedang benar-benar lelah atau pada saat kondisi calon hokage itu sedang tidak fit. Ia memang bahagia, tapi ada pertanyaan yang terkadang hinggap dibenaknya. Sampai kapan mereka akan terus seperti ini? Apa Kakashi serius saat mengatakan akan menikahinya? Tentusaja sifat tsun miliknya membuatnya enggan bertanya pada Kakashi. Namun banyak prasangka yang terlintas dipikirannya. Apa para tetua memberikan padanya calon lain? Yang lebih pantas mungkin? Namun wanita ituselalu meyakinkan hatinya kalau Kakashi mencintainya. Dan itu berhasil membuatnya tenang dan menghalau semua pikiran negatif yang sempat ada.

Saat ini ia sedang menata makan malam yang baru selesai dimasaknya. Dengan tersenyum puas ia menatap hasil karnyanya. Siang tadi ia belaja rmenu baru dari Hinata dan langsung dipraktekkan olehnya. Hinata juga memberitahunya kalau dua haari lagi akan ada festival besar di Konoha. Karin sangat antusias karena itu. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia mengunjungi sebuah festival dan ia tidak sabar untuk memberitahu Kakashi agar mereka bisa pergi kesana.

"Tadaima..."

Karin tersenyum mendengar suara Kakashi. "Okaeri..." sahut ya sambil berjalan kearah pintu. Ia melihat Kakahi tampak lebih lelah dari biasanya. Pria perak itu membawa bungkusan yang membuatnya penasaran. Kakashi langsung mencium kening Karin saat gadis itu mendekat dan Karin masih saja malu-malu tapi mau dengan semua tindakan Kakashi padanya.

"Apa itu ?" Karin menunjuk apa yang dibawa pria itu.

"Em, tidak ada. Aku mandi dulu. Kau tunggulah dimeja makan." Masih dengan rasa penasarannya, Karin mengangguk.

Setelah selesai mandi, Kakashi langsung mendudukkan dirinya di kursi berhadapan dengan Karin.

"Kau tampak sangat lelah. Makanlah." Kakashi tersenyum dan mulai menyantap makanan didepannya setelah mengucapkan selamat makan.

"Semakin hari masakanmu semakin enak. " pujinya tulus.

"Hinata sangat membantuku. Aku sangat berterimakasih padanya." Mereka pun melanjutkan makannya.

Karin membereskan peralatan makan mereka setelah selesai. Kakashi mengamati Karin dari meja makan. Sepertinya Karin benar-benar berusaha melakukan yang terbaik. Segala usaha yang dilakukan Karin untuknya membuatnya terharu. Kakashi berjalan kekamar dan kembali dengan bungkusan yang tadi dibawanya. Pria itu tersenyum saat Karin selesai dengan kegiatannya. Wanita cantik itu mengeingkan tangannya dengan lap yang ada dimeja pantri.

"Apa kau sudah tahu kalau lusa ada festival?" Karin langsung tersenyuma antusias mendengarnya. Ia mendudukkan dirinya disebelah Kakashi.

"Ya. Hinata sudah memberitahuku. Kita akan pergi kan?"

"Tentu saja." Kakashi mengambil bungkusan yang tadinya dileyakkan dibawah meja.

"Ini untukmu." Karin menaikkan alisnya. Bukankah ini benda yang tadi dibawa pria itu.

"Apa ini?" tanyanya.

"Bukalah." Karin membukanya dan terkejut melihatnya. Ia mengeluarkan benda itu dan menatap Kakashi tak percaya.

"I-ini?"

"Bagaimana? Kau suka?" Karin melihat yukata berwarna ungu muda dengan motif bunga lily yang sangat cantik.

"Kurasa kau akan sangat cantik mengenakannya difestival nanti."

"Terimakasih." Karin menatap Kakashi dengan mata berkaca-kaca. Pria itu tersenyum lagi.

"Bagaimana kalau sebuah pelukan?" Pria Hatake itu membentangkan tangannya. Karin langsung menerjangnya dengan pelukan yang sangat erat.

"Aku mencin— eh? Kau demam?" Karin menyadari saat memeluk leher pria itu. Ia melepaskan pelukannya dan menjamah dahi Kakashi.
"Kau demam, baka!"

"Benarkah?" sahut Kakashi santai.

" Santai sekali, kau. Aku cemas tahu."

"Kenapa aku harus cemas. Kan ada kau."

"Benar juga. Akan kuambilkan air hangat untuk mengompresmu." Kakashi menarik tangan wanita itu saat Karin beranjak.

"Aku tidak perlu itu."

"Maksudmu?"

"Apa kau tahu kenapa aku selalu memintamu bercinta denganku setiap aku lelah dan kurang enak badan?" tanya Kakashi. Karin mengeleng.

"Kau lupa cara kerja tubuhmu sendiri?" Karin akhirnya sadar dan menjadi gugup.

"T-tapi kan kau tidak mengigitku. Tubuhku harus terluka dulu baru baru seseorang bisa menghisap chakraku." Terang wanita itu.

"Aku juga baru sadar saat kita melakukannya yang kedua kali. Ternyata cairan cintamu bisa membuatku kembali sehat. Makanya aku selalu bersemangat meminumnya saat kita bercinta. Jadi bagaiman—"

Duagh!

"Akh! Apa yang kau...?!"

"Kau terlalu vulgar! Sialan kau!"

Karin menendang Kakashi tepat ditulang kering pria itu. Dengan wajah merah karena perpaduan antara malu dan marah. Karin meninggalkan Kakashi yang masih kesakitan.

:

:

:

Hari festival yang ditunggu setiap warga Konoha termasuk Karin pun tiba. Kakashi berjani akan menjemputnya tepat pukul sembilan pagi. Berbeda dengan festival yang biasanya dimulai malam hari. Kali ini Tsunade membuatnya semakin meriah dengan membukanya mulai pagi hari.

Karin sudah siap dengan yukata yang diberikan Kakashi padanya. Ia pun tak lupa berdandan dan sedikit menghias rambutnya dengan ornamen rambut yang dibelimya kemarin. Ia tampak mempesona dengan sapuan makeup tipis diwajah cantiknya.

Tok tok tok.

Apa itu Kakashi? Kenapa harus mengetuk pintu? Batin Karin. Namun ia tetap berjalan kearah pintu dengan senyuman terpatri diwajahnya.

"Kau sudah da—"

Sprashhh Sprashh!

BRUGH!

"Maafkan kami, Karin-san."

:

:

:

Kakashi terlihat membereskan beberapa dokumennya. Ia akan segera menjemput Karin untuk pergi ke festival Konoha. Baru saja akan beranjak dari kursinya, ia mendengar suara ketukan pintu.

"Masuk." Alangkah terkejutnya Kakashi melihat siapa yang datang. Orochimaru kini berdiri dihadapannya. Pria itu memakai pakaian formal. Apa ia juga akan ke festival? Orochimaru ke festival? Sangat mengherankan. Namun ia kembali mencoba mengumpulkan ketenangannya.

"Aku tidak menyangka anda akan datang, Orochimaru-san. Apa anda ingin menemui Tsunade-sama?"

"Tidak. Aku ingin menemuimu, Hatake Kakashi." Suara mengintimadasi khas silegenda sanin terdengar.

"Aa. Kalau begitu bagaimana kalau kita bicara disana." Kakashi mengajak Orochimaru duduk disofa yang ada disudut ruangan. Mereka pun duduk berhadapan.

"Aku hanya ingin lebih mengenal laki-laki yang akan menikahi Karin."

"Ah, ya. Saya memang yang akan menikahi Karin." Sahut Kakashi tenang. Entah kenapa ia merasa seperti sedang berhadapan dengan calon mertua menginterogasi calon menantunya.

"Jangan terlalu formal. Aku tidak menyangka kalau kau sicopy ninja mau menikahi muridku. Apa yang kau lihat darinya?" tanya sanin yang identik dengan ular itu. Ia memandang tajam Kakashi. Kakashi menjadi gugup dibuatnya.

"Entahlah. Yang ku tahu, aku mencintainya. " Jawaban Kakashi membuat Orochimaru tersenyum.

"Baguslah kalau begitu. Aku hanya ingin memastikan kalau Karin mendapatkan yang terbaik."

Kakashi memandang Orochimaru dan dibalas oleh pria itu dengan tampang serius dan mengancam.

"Aku harap kau bisa membahagiakannya. Ia sudah banyak menderita, baik selama di desanya maupun setelah bergabung denganku. Kau sepertinya serius mengatakan kalau kau mencintainya."

"Saya akan berusaha, Orochimaru-san."

"Tentu saja kau harus berusaha. Kalau sampai kau membuatmu menangis akan ada empat orang yang akan mengejarmu."

"Empat orang?" tanya Kakashi bingung.

"Ya, aku, Suigetsu, Jugoo dan juga... Sasuke. Walaupun tidak kelihatan, tapi mereka menyayangi Karin."

"Aku mengerti."

"Ahh.. Aku seperti seorang ayah yang akan melepas putrinya menikah saja."

Kakashi tersenyum simpul.

"Satu lagi. Aku ingin kau tahu kalau kau merupakan orang paling beruntung bisa menikah dengannya."

"Maksud anda?"

Orochimaru berdiri.

"Seluruh tubuhnya tanpa terkecuali mengandung energi kehidupan, hampir sama dengan Hokage pertama. Kurasa kau tahu maksudku."

Kakashi mengangguk seolah mengerti. Orochimaru mendecih dibuatnya.

"Tch! Mendengar bahwa kau suka membaca novel Jiraiya membuatku ragu kalau Karin masih perawan saat ini." Kakashi tersentak dan berdeham sambil membuang muka.

"Aku pergi. Sampai bertemu nanti." Pria tua yang tampak sangat muda itu meninggalkan ruangan Kakashi.

'Sampai bertemu nanti apa maksudnya?'batin Kakashi.

Kakashi segera beranjak untuk keluar. Baru saja ia memegang gagang pintu, namun ia harus jatuh terjerembab dengan tidak elitnya akibat pintu yang tiba-tiba terjeblak dan memunculkan wajah Naruto dan Sai. Untung saja tidak sampai menghantam wajahnya.

"Apa yang kalian lakukan?!" desis Kakashi.

"Loh? Sensei, sedang apa kau disana-datebayo?"

Kakashi langsung berdiri dan memandang heran pada muridnya yang membawa sebuah pakaian. Tunggu, kenapa pakaian itu terlihat seperti hakama? Kakashi memandang heran pada muridnya yang juga memakai pakaian formal. Naruto dengan hakama oranye dan Sai dengan hakama biru gelapnya.

Mereka sepertinya akan pergi ke festival juga.

"Ini. Pakailah sensei."

"Ini kan... montsuki haori hakama?" Kakashi menatap heran dengan baju tradisional untuk pengantin pria pada upacara pernikahan?

"Ini kan hari pernikahanmu,Kakashi-sensei." Kini Sai yang berbicara lengkap dengan senyum palsunya.

"Apa?!"

"Sekarang cepat pakai. Karin-san saja sudah bersiap-siap." Kata Sai lagi.

"Ta-tapi..."

"Lama sekali. Kagebunshin no jutsu!" Naruto membuat beberapa bayangan untuk memaksa Kakashi membuka bajunya dan berganti dengan hakama yang dibawa oleh mereka.

:

:

:

"Pakaiannya sudah selesai. Alas kakinya juga. Tapi bagaimana dengan rambut dan make upnya? Sangat susah melakukannya saat ia terbaring begini." Tiga orang kunoichi memandang pada seorang wanita berambut merah yang terbaring diatas sebuah futon.

"Tenten, apa kau tidak punya alat ninja yang bisa diandalkan?" Kunoichi berambut merah muda menatap rekannya yang berdiri disampingnya.

"Banyak. Tapi kalau kita gunakan malah akan merusak shiromukunya."

"Benar juga. Ahh! Aku tahu. Tunggu disini sebentar." Yamanaka Ino menjentikkan jarinya mendapatkan ide. Putri Yamanaka itu meninggalkan ruangan dan kembali tak lama kemudian dengan membawa Shikamaru.

"Mendokusei. Apa kalian tidak tahu aku juga repot dikuil?"

"Kami butuh bantuanmu." Ino melirik wanita yang berbaring diatas futon. "Kurasa kau tahu maksudku kan, Nara jenius?"

"Haaah. Mendokusei. Baiklah." Shikamaru menggunakan jurus pengendali bayangannya hingga membuat wanita berambut merah yang berbaring itu berdiri dan mendudukkan dirinya sendiri disebuah kursi meja rias. "Tahan sebentar ya, Shikamaru. Kami akan bergerak cepat." Perkataan Sakura hanya dibalas gumaman oleh Shikamaru.

Ketiganya pun langsung bekerja cepat dalam merias wajah dan rambut Karin. Saat akan memasang wataboshi atau tudung kepala untuk pengantin, Karin tersadar dan menatap terkejut apa yang ada dicermin. Ia berusaha menggerakkan badannya untuk berdiri namun tidak bisa.

"Kau sudah sadar, Karin-san?"

"A-apa yang kalian lakukan?! Kenapa tubuhku..."

Shikamarupun melepaskan jurusnya hingga Karin bisa kembali menggerakkan tubuhnya. Ia kembali menatap penampilannya dicermin.

"K-kenapa... Kalian... Pakaianku ini..."

"Tenanglah, Karin-san. Kita harus cepat atau kita akan terlambat." Sakura memperbaiki letak wataboshi dikepala Karin.

"T-tapi.."

"Kakashi-sensei sudah menunggumu. Ayo!" Tenten dan Ino menggandeng kedua tangan Karin dan membawanya keluar ruangan lengkap dengan wajah syoknya.

Meski dengan kebingungan diwajahnya, Karin menuru saja saat dibawa kesebuah kuil. Ia kembali terkejut mendapati mantan gurunya ada didepan kuil lengkap dengan pakaian formalnya. Si Legenda Sanin tersenyum tipis melihat Karin.

"Orochimaru-sama..." Tenten dan Ino melepas pegangan tangan mereka dan membawa Karin mendekat pada Orochimaru. Dan berjalan memasuki kuil.

"Kau akan menikah? Aku tidak menyangka. Rasanya baru kemarin kau mengikutiku." Ujar sipawang ular. Karin terdiam menatap gurunya.

"Berbahagialah. " Orochimaru memeluk Karin dan dibalas oleh wanita itu dengan erat.

Tak lama kemudian Naruto dan Sai datang dengan membawa Kakashi yang sudah lengkap dengan hakama pengantinnya. Ia terkejut bukan main melihat Karin yang tampil begitu cantik dengan shiromuku dengan motif burung bangau. Karin adalah pengantin tercantik yang pernah dilihatnya. Kakashi pun memandang Kakashi dengan wajah merona. Kakashi tampak gagah dengan hakama hitamnya.

"Aku masuk dulu. Kau tahu, saat ini aku menjadi walimu." Ucap Orochimaru kepada Karin.

"Terimakasih, Orochimaru-sama."

Kini tinggal mereka berdua dengan Naruto dan Sai yang memandang mereka dengan tatapan geli.

"A-aku tidak tahu kalau mereka merencanakan ini." Kata Kakashi dengan canggung.

"Y-ya. A-aku juga."

"Kau sangat cantik."

Kemudian Ino dan Sakura kembali.

"Kalian harus segera masuk. Ikuti kami." Ujar Ino. Gadis pirang itu dan Sakura berjalan mendahului kedua pasangan pengantin itu. Keduanya mengikuti langkah Ino dan Sakura yang membawa bunga. Dibelakang mereka Naruto dan Sai mengikuti. Keempat muda-mudi mengambil peran sebagai pengiring.

Sesampainya didalam Kakashi menatap kuil yang kini telah ramai oleh orang-orang penting. Sedangkan Karin yang memakai tudung kepala tidak terlalu memperhatikan. Kakashi dapat melihat Tsunade dan para kage lainnya yang entah kapan tiba di Konoha. Pendeta kuil Shinto menyambut mereka. Acara sakral itu pun dumulai. Kadua pengantin mengucapkan janji dan melakukan ritual minum sake atau sansan kudo. Kemudian pendeta itu memberkati mereka dan dalam sekejap mereka telah sah menjadi suami istri.

Ternyata acara selanjutnya diambil alih oleh Tsunade. Wanita itu memakaikan topi kage beserta jubah Rokudaime pada Kakashi. Dan dengan itu, Kakashi resmi menjadi Hokage keenam. Pengantin baru itu berjalan keluar kuil dan disambut dengan sorak sorai rakyat Konoha yang menyambut pemimpin baru mereka. Acara resepsi dilakukan malamnya diaula gedung Hokage. Karin sudah melepaskan tudung kepalanya malam itu hingga ia bisa melihat para tamu dengan jelas. Keduanya menerima ucapan selamat dari setiap undangan. Maito Guy menyerahkan serangkai bunga pada Kakashi sambil menangis terharu. Kakashi hanya memandangnya sweatdrop namun tetap mengucapkan terimakasih.

Para muridnya juga memberikan selamat pada pasangan baru itu. Naruto tak jauh beda dengan Guy, ia berkali-kali mengusap airmatanya dengan tangan krinya yang masih utuh.

Karin menatap percaya dengan siapa yang datang. Ketiga rekannya saat ditim Taka datang dengan menggunakan pakaian formalnya. Mereka berjalan mendekati kedua mempelai.

"Lihat siapa yang memakai shiromuku ini. Apa dia memang Karin kita?" tanya Suigetsu pada kedua rekannya. Karin hanya membuangmuka, takut makeupnya akan rusak bila membalas ejekan rekan hiunya itu.

"Hahaha. Selamat menempuh hidup baru. Walau kau itu lebih tua dan menyebalkan. Kau seperti adik buat kami." Ujar pemuda Hozuki itu dengan wajah serius.

:"Lihat siapa yang berbicara sok bijak ini. Tapi terimakasih." Suigetsu beralih pada Kakashi.

"Jangan macam-macam." Suigetsu berlalu, kini giliran Juugo.

"Selamat." Hanya itu yang diucapkan pemuda itu. Karin sudah menduganya. Tanpa menghiraukan Kakashi, Juugo berlalu menyusul Suigetsu. Saat Sasuke berdiri didepannya, Karin tidak tahu ekspresi apa yang harus dibuatnya.

"Nyonya Hokage, eh?" Sasuke tersenyum tipis.

"Emm... Ya, aku juga tidak menyangka." Dengan tangan kanannya yang masih utuh, Sasuke memeluk Karin sambil berbisik. "Setelah ini, kau harus bahagia." Karin hanya mengangguk sambil menahan airmata haru. Sasuke beralih pada mantan gurunya.

"Jaga dia baik-baik, Kakashi."

"Sudah pasti."

:

:

:

Acara melelahkan telah berlalu. Kini kedua pengantin baru itu berada dikediaman baru mereka yang merupakan hadiah dari para tetua sebagai kediaman Rokudaime Hokage. Karin baru selesai mandi dan mengenakan kimono tidurnya yang entah kenapa sudah tersedia dirumah baru itu. Bahkan semua pakaiannya dan Kakashi sudah dipindahkan.

Karin tengah mengeringkan rambutnya saat Kakashi keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana panjang hitamnya. Bukan malam pertama, tapi Karin gugup.

"Kemarilah. Kau pasti lelah." Panggil Kakashi yang kini telah membaringkan dirinya diranjang. Rumah besar dengan segala fasilitas yang cukup mewah itu membuat Kakashi dan Karin harus melupakan futon dan beralih pada ranjang empuk.

Karin berjalan mendekat dan membaringkan dirinya disamping Kakashi. Keduanya saling berhadapan dengan jarak sepuluh sentimeter.

"Kita sudah menikah." Kata Kakashi entah maksudnya apa.

"Y-ya." Karin tak berani memandang mata Kakashi.

"Jadi..."

"Ja-jadi apa?"

"Argh! Kenapa aku jadi gugup begini!" Karin terkekeh dibuatnya.

"Entahlah. Aku juga. Padahal ini bukan pertama kalinya kita tidur berdua."

"Kau benar. Kita bahkan sudah bercinta berkali-kali."

"Tak bisakah kau bicara dengan tidak vulgar begitu?!"

"Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya."

"Y-ya! Tapi kan.."

"Oh ya. Tadi apa yang dibisikkan Sasuke padamu?" Kakashi menatap curiga pada istrinya itu.

"Dia bilang, supaya tengah malam nanti saat kau tertidur. Dia akan datang menjemputku dan kami lari dari desa ini."

Kakashi memandang horor pada Karin.

"Hahaha... Hahaha. Kau harus lihat wajah bodohmu itu, Kakashi!" Karin tertawa terbahak bahak.

"Jadi, kau bohong?" Kakashi mengambil posisi menindih Karin. Wanita Uzumaki itu menghentikan tawanya seketika.

"A-apa yang kau lakukan?"

"Kau tidak akan bisa lari dariku, Hatake Karin. Kau milikku, sekarang dan sampai kapanpun." Desis Kakashi. "Jadi sekarang katakan. Apa yang dibisikkan Sasuke padamu. Kita sudah jadi suami istri. Jangan ada rahasia diantara kita."

Karin tersenyum kemudian membelai pipi mulus suaminya.

"Dia bilang, setelah ini, aku harus bahagia." Kakashi mengangguk.

"Dia benar. Aku yang akan menjamin kebahagiaanmu. Karena..." Kakashi melumat lembut bibir Karin kemudian melepasnya.

"... Aku adalah sumber kebahagiaanmu dan kau adalah sumber kebahagiaanku..."

"Aku mencintaimu, Anata."

"Aku juga, istriku sayang. Sekarang kita tidur." Keduanya pun tidur dengan saling berpelukan erat.

:

:

:

"Tidak terdengar apa-apa. Apa mereka sudah tidur?" suara cempreng yang ditahan terdengar dari atas sebuah batang pohon.

"Mungkin saja." Sahut suara berat lainnya.

"Langsung tidur? Yang benar saja-datebayo! Ini malam pertama mereka!"

"Mereka pasti lelah, Naruto. Jadi mungkin langsung tidur."

"Cepat kirim tikus tinta milikmu masuk kesana, Sai. Kita harus memastikannya."

"Tapi, Naruto..."

"Cepat!"

"Baiklah."

:

:

:

END

Kyaaa! Sudah end. Akhirnya utang fic saya bisa berkurang satu...

Makasih sudah mau singgah dan membaca fic gaje saya.

Yana Kim.