A SECOND CHANCE FOR LOVE
(Indo Transfic)
by super_501
Link ff asli: www asianfanfics com/story/view/321377
(ganti spasi dengan tanda titik)
Disclaimer: Fanfict ini adalah karya murni author tersebut di atas, saya hanya menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia atas ijin author aslinya
WARNING
YAOI, MPreg, NC, Bahasa Kasar
_
Sungmin duduk lemas di tepi ranjangnya setelah sepanjang hari bekerja. Dia memandang ke jendela dan menyadari jika butiran salju mulai turun. Ini awal musim dingin. Sungmin memeluk kedua lututnya saat ia merasakan dingin mencengkeramnya. Seminggu sudah berlalu sejak ia mengetahui dirinya hamil dan hingga sekarang, dia masih tidak bisa percaya jika hal seperti ini akan terjadi padanya. Heechul terus memberondongnya dengan pertanyaan tentang hasil check up kesehatannya dan dia menjelaskan pada hyungnya bahwa dia hanya keracunan makanan untuk membuat Heechul diam.
Sungmin merasa sangat kedinginan dan kesepian saat terus memandangi salju turun dari langit. Bagaimana ia akan menghadapi perjalanan sembilan bulan ini sendirian? Tak ada seorangpun tahu apa yang akan ia lalui, orang tuanya sekalipun. Memikirkan tentang mereka tiba-tiba membawa air mata mengalir dari matanya. Ia ingat saat bertanya pada ibunya bagaimana perasaannya saat tahu ia hamil, dan ibunya menjawab bahwa hari itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya dan Sungmin adalah keajaibannya. Tetapi sejak mereka sangat sibuk dengan bisnis mereka, orang tuanya tak pernah menghabiskan waktu dengannya lagi. Sungmin menghapus air matanya dan menghela nafas sebelum melihat perutnya yang masih rata. Dia mengandung anak sahabatnya dan dia tidak tahu apakah ia harus memberi tahunya atau tidak. Eunhyuk mungkin sudah melupakan dia dan persahabatan mereka. Mungkin dia masih merasa jijik padanya. Sungmin juga berpikir untuk berkonsultasi ke dokter lain, tapi ia takut jika media akan mengetahuinya. Dia sudah kehilangan banyak berat badan dan Kibum mengatakan jika itu tidak baik bagi bayinya. Terkadang ia berpikir bahwa bayi yang ia kandung adalah sebuah kutukan. Namun sekarang, ia sadar jika bayi ini adalah keajaiban untuknya. Bagaimana bisa seorang pria hamil? Itu masih menjadi pertanyaan besar baginya. Kibum juga berkata padanya jika dia bukan satu-satunya pria yang bisa hamil.
Setelah semua yang terjadi di hidupnya, Sungmin memutuskan untuk menjaga bayi ini dan akan melimpahkan cinta dan kasih sayang yang orang tuanya gagal berikan. Bayinya adalah sebuah keajaiban dan Sungmin akan melakukan apapun untuk menjaganya. Sungmin mengelus perutnya dan senyum tulus muncul di bibirnya. "Aku akan melindungimu dan akan menjagamu dengan baik. Jangan tinggalkan aku juga."
Sungmin berpikir jika perutnya akan menjadi aneh, dia akan menyembunyikan diri jauh dari media dan masyarakat. Dia berjalan ke arah lemari dan mencari jaket yang ia pakai seminggu lalu saat ia mengunjungi rumah sakit dengan Heechul. Saat ia menemukannya, ia mulai mencari sesuatu dari dalam saku jaketnya. Dia tersenyum sendiri saat akhirnya menemukan apa yang ia cari. Dia mengambil ponselnya dan mulai menelepon nomor yang tertulis di selembar kartu yang diberikan Kibum. Jika ia ingin memastikan jika bayinya baik dan kesehatannya terjaga selama kehamilan, ia pasti membutuhkan bantuan dari ahlinya. Saat panggilan dari seberang menjawab, Sungmin mendesah kecil.
"Saya Lee Sungmin. Alamat Dokter Cho ada?"
"Ya, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" Suara seorang wanita menjawab di seberang telepon.
"Saya hanya ingin bertanya padanya tentang sesuatu yang penting. Salah satu teman saya memberitahu jika dia adalah salah satu dokter kandungan terbaik di rumah sakit Anda." balas Sungmin.
"Baiklah, Tuan. Harap tunggu sebentar. Saya akan menghubungkan Anda dengan beliau." wanita itu menjawab lalu diikuti bunyi beep.
"Selamat malam. Ini Dokter Cho. Apa yang bisa saya bantu?" Sebuah suara bernada rendah tiba-tiba terdengar dari ujung panggilan dan Sungmin merasakan kedamaian. Suara itu terdengar tidak asing tapi Sungmin segera menghapus pikiran itu jauh-jauh. Dia membutuhkan bantuan dokter ini.
"Selamat malam, Dokter. Saya hanya ingin bertanya apakah male pregnancy itu mungkin." tanya Sungmin langsung. Dia tak punya keberanian untuk menyebutkan nama aslinya kepada dokter.
"Maaf, Tuan?" tanya suara itu dan Sungmin bisa membayangkan ekspresi sang dokter. Orang di seberang telepon mungkin mengira dia gila, dan pertanyaannya adalah pertanyaan paling aneh yang diajukan pasien. Sungmin menutup mata frustasi. Dia merasakan kesendirian mengelilinginya. Tak ada seorang pun yang benar-benar bisa menolongnya, bahkan seorang yang ia panggil sahabat pun telah mengabaikannya.
"Lupakan saja. Itu hanya pertanyaan tanpa tujuan. Saya minta maaf telah mengganggu waktu Anda." kata Sungmin mencoba menyembunyikan getar di suaranya.
Sungmin hampir saja memutuskan panggilan saat orang itu menghentikannya. " Tunggu! Tuan, jangan tutup teleponnya. Maaf karena tidak memperhatikan pertanyaan Anda beberapa saat yang lalu karena saya sedang menuliskan resep obat untuk pasien. Bisakah Anda mengulanginya, Tuan? Dan bolehkah saya tahu nama Anda?"
Sungmin meneguk ludahnya. Dia tak ingin menanyakan pertanyaan itu lagi dan bahkan menyebutkan namanya. Bagaimana jika dokter itu hanya membuat alasan? Bagaimana jika dia merasa jijik dengan pertanyaan Sungmin? Bagaimana jika dokter itu menghakiminya?
"Tuan, Anda masih di sana? Saya sungguh meminta maaf." Sungmin dapat mendengar ketulusan di nada suara dokter itu, membuatnya berubah pikiran.
"Apakah male pregnancy itu mungkin?"
"Ya, tentu. Sebenarnya saya mempunyai tiga pasien male pregnancy sebelumnya."
Sungmin entah mengapa merasa lega mengetahui bahwa dia bukan satu-satunya pria yang bisa hamil.
"A-apakah mereka bertahan?" tanyanya. Sungmin membayangkan apa yang akan terjadi setelah ia melahirkan bayinya. Ia punya banyak ketakutan dan tak punya seorangpun yang bisa diajak berbagi.
" Ya, mereka baik-baik saja. Begitu juga dengan bayinya."
"Bagaimana cara mereka melahirkan bayinya?" Sungmin bertanya lagi dan perlahan ia merasa berbincang nyaman dengan dokter itu. Terdengar suara kikikan dari seberang dan membuat jantung Sungmin bergetar sesaat saat mendengarnya. Suara dokter itu menenangkan dan tawanya memberi efek besar pada Sungmin. Dia tidak pernah seperti ini pada siapapun sebelumnya. Mungkinkah ini karena ia merasa pernah mengenal dokter ini sebelumnya? Apakah pernah bertemu di masa lalu? Bahkan namanya tak terdengar asing di telinganya.
"Karena pria dan wanita memiliki struktur reproduksi yang berbeda, kami akan melakukan prosedur operasi Caesar untuk mengeluarkan bayinya." Sungmin bergidik saat membayangkan jika perutnya akan dibelah. Ada jeda sejenak sebelum suara itu bertanya, "Ada hal lain yang ingin Anda tahu, Tuan?"
"Tidak." jawab Sungmin singkat.
"Bolehkah saya bertanya sesuatu?"
"Ten-tentu". jawab Sungmin ragu.
"Berapa bulan usia kehamilan Anda?" Sungmin membelalakkan matanya dalam keterkejutan. Sejauh yang ia ingat, dia tidak pernah berkata pada dokter jika ia sedang hamil. Bagaimana ia bisa tahu?
"Saya bisa merasakan jika Anda mengkhawatirkan sesuatu, dan saya yakin itu tentang yang Anda alami sekarang. Anda tak perlu merasa malu dan takut. Meskipun Anda tidak mengatakannya pada saya, saya bisa tahu jika Anda sedang hamil." Suara itu melanjutkan seolah bisa membaca pikiran Sungmin. "Apa kekasih atau suami Anda tahu hal ini?"
"Saya tidak punya kekasih ataupun suami." balas Sungmin sambil mengerat dadanya saat mengingat wajah Eunhyuk.
"Oh." hanya itu yang diucapkan lawan bicaranya.
"Anda benar. Saya hamil dan mengkhawatirkan banyak hal. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan dan saya merasa sangat kesepian. Bayi ini, saya tidak pernah merencanakan hal ini akan terjadi, atau berpikir saya bisa hamil suatu saat nanti. Saat itu saya mabuk dan orang yang harusnya bertanggung jawab telah mengabaikan saya." Sungmin tidak sadar jika ia menceritakan apa yang ia rasakan kepada dokter itu, dan air mata mulai terbentuk di sudut matanya lagi. "Tak ada seorangpun yang tahu apa yang saya alami sekarang, baik teman ataupun orang tua saya. Orang tua saya telah berhenti mencintai dan mempedulikan saya. Saya tidak bisa mengatakan kepada teman saya karena takut mereka akan menghakimi saya. Saya ingin bersembunyi dari masyarakat."
"Teman sesungguhnya tidak akan menghakimi Anda. Saya bisa menjadi teman Anda jika Anda mau. Saya akan menjaga Anda mulai sekarang hingga Anda melahirkan nanti dan setelahnya terserah Anda jika ingin tetap menganggap saya teman. Jangan anggap saya dokter Anda dan saya tidak akan memperlakukan Anda layaknya pasien jika Anda menyetujui tawaran pertemanan ini. Bagaimana menurut Anda?"
Kata-kata itu perlahan membawa senyuman di wajah Sungmin. Akhirnya ada seseorang yang bisa menjadi tempat bersandarnya dan tempat dimintai pertolongan. "Aku akan sangat senang."
"Teman?" tanya suara itu lagi mengkonfirmasi.
"Hmm. Kita teman." balas Sungmin.
"Bolehkah aku tahu nama temanku?"
Sungmin semula ragu, namun sejak merasa nyaman berbincang dengan dokter itu, memutuskan untuk memberi tahu nama aslinya. "Aku Sungmin. Lee Sungmin."
Sungmin mendengar lawan bicaranya tersentak.
~~~~~
Kyuhyun tersentak kaget saat mendengar jawaban lawan bicaranya. Lee Sungmin. Dia tidak akan pernah melupakan nama itu. Nama seorang pemuda yang sering ia ganggu saat SMA. Kyuhyun sangat suka menggodanya karena ia terlihat lebih cantik daripada gadis-gadis di sekolah. Ia bahkan terkenal dengan panggilan pretty boy, namun Kyuhyun lebih suka memanggilnya Bunny. Dia sangat suka warna merah muda dan Kyuhyun selalu merusak benda merah muda miliknya. Dia akan menangis tersedu-sedu dan itu akan membuat hati Kyuhyun merasa bersalah.
Namun dibalik tindakan pembullyan itu, Kyuhyun hanya ingin menarik perhatian Sungmin. Kyuhyun sangat tertarik padanya tetapi tidak tau bagaimana cara mengungkapkannya. Dia menulis begitu banyak surat namun tak satupun yang sampai di tangan Sungmin. Dia akhirnya tahu suatu hari bahwa itu disebabkan orang tua Sungmin. Merekalah yang membaca surat-surat Kyuhyun dan mengembalikan padanya dengan peringatan untuk menjauhi putranya. Mereka berkata bahwa ia tidak pantas untuk Sungmin karena ia berasal dari keluarga yang miskin. Kalimat itu membuat Kyuhyun berjuang lebih keras hingga mencapai posisinya sekarang. Namun ia tak bisa melupakan Sungmin, dan perasaan untuknya tak pernah berubah meski sekian tahun berlalu. Dia ingin menemuinya dan mengungkapkan perasaan sesungguhnya.
Kyuhyun tak pernah berpikir jika takdir mempermainkannya, dan menjadikan Sungmin sebagai pasiennya. Sungmin, seorang yang ia cinta, sekarang hamil dan memerlukan bantuan. Mengapa hal itu bisa terjadi padanya? Dia mengerat dadanya saat perasaan tak terjelaskan mencengkeram hatinya. Dia tidak tahu harus marah pada dirinya karena datang terlambat, atau marah pada Sungmin karena tak pernah tahu jika dia bisa hamil. Kyuhyun tak tahu apakah berhak merasa cemburu dan posesif. Dia ingin tahu siapa ayah bayi Sungmin dan ingin menghajar wajahnya atau memberinya pelajaran karena sudah meninggalkan Sungmin sendiri.
"Halo? Dokter, kau masih di sana?" tanya Sungmin terdengar dan Kyuhyun menutup matanya, mencoba menenangkan diri.
"Ya, Sungmin-ssi."
"Tolong jangan terlalu formal. Bagaimana caraku memanggilmu mulai sekarang?"
Suara manis itu. Kyuhyun ingin menarik kembali apa yang ia ucapkan pada Sungmin sebelumnya setelah dia tahu kebenarannya. Ia merasa hatinya sakit dan ia kehilangan harapan untuk menjadikan Sungmin miliknya. Tapi Sungmin akan sendirian dan dia juga berkata ingin menjadi teman Sungmin mulai sekarang. Tapi bagaimana cara menemuinya? Kyuhyun butuh waktu untuk berpikir.
"Aku mendapat pasien sekarang, Sungmin. Aku akan menghubungimu nanti." bohong Kyuhyun dan mengakhiri panggilan. Dia memandangi telepon itu sesaat sebelum melemparkannya ke dinding.
~~~~~
Sungmin merentangkan lengannya setelah selesai mengarang beberapa lirik di studionya. Dia keluar dari ruangannya untuk mencari udara segar. Langkahnya menuju lantai teratas gedung dan menghempaskan dirinya di bangku kosong sambil memandang bayangan matahari. Dia suka melihatnya karena itu membuat pikirannya tentang setelah seharian bekerja keras.
"Kau tak seharusnya meletihkan dirimu."
Sungmin terlonjak kaget mendengar suara di sampingnya. Dia memutar kepalanya ke samping untuk melihat darimana suara itu berasal. Sosok tinggi berdiri di sebelahnya, dengan kedua tangannya tenggelam di saku jins. "Siapa kau?" tanya Sungmin. Laki-laki itu menatapnya dan Sungmin mengingat-ingat apa ia pernah melihatnya sebelumnya.
"Aku temanmu." Pria itu menjawab, masih mengunci tatapannya ke arah Sungmin.
"Maaf. Aku punya ingatan yang buruk akhir-akhir ini. Aku tidak ingat pernah berteman denganmu." kata Sungmin sambil berdiri dari bangku.
"Bukan masalah. Kita pasti akan bertemu lagi nanti dan aku akan membantumu mengingatmu." kata pria itu sebelum pergi meninggalkan Sungmin.
Sungmin mengerutkan alisnya kebingungan. Apa maksud laki-laki itu? Apa dia stalker? Sungmin menghapus dugaan itu jauh-jauh sambil kembali ke studio untuk mengambil barangnya. Dia berencana untuk menelepon Dokter Cho lagi malam ini. Dia belum tahu nama panjang dokter itu. Salahkan Kibum yang hanya menuliskan nama marganya.
Setelah setengah jam mengemudi, Sungmin tiba di apartemen dan melangkah malas ke arah dapur untuk mengambil air minum. Dia muntah-muntah lagi pagi tadi dan kehilangan nafsu makan sepanjang hari. Sungmin memutuskan ingin memanggang kue. Mungkin saja itu tak akan membuatnya mual lagi. Sungmin sedang menyiapkan peralatan yang ia perlukan, saat suara bel berdering. Dia tidak melepas apron pink-nya, berpikir jika itu salah satu temannya. Sungmin membuka pintu dan terkejut melihat pria yang ia lihat di lantai atas gedung, berdiri di depannya. Pria itu menatap Sungmin sebentar, lalu menarik tengkuknya dan mempertemukan bibir mereka. Sungmin masih dalam mode terkejut dan pikirannya masih tak mampu memproses apa yang sedang terjadi. Pria itu melepaskan Sungmin dan tersenyum miring saat tahu Sungmin masih tak bergerak dan membisu.
"Aku adalah orang yang menciummu di luar kelas setelah melihat kau dan Eunhyuk memanggang bersama di jam pelajaran Ekonomi. Kau juga memakai apron pinkmu saat itu. Kau terlalu memukai sampai aku tak bisa menahan diri untuk menciummu. Tak disangka aku yang mencuri ciuman pertamamu." lanjutnya sambil menatap mata foxy Sungmin.
Sungmin mendengar kata-kata pria itu dan semua yang ia katakan membawa kenangan masa lalu di ingatan Sungmin. Ia melihat dirinya sendiri menangis di tangga sekolah setelah ciuman pertamanya dicuri seseorang yang selalu mengganggu harinya. Dia ingat Eunhyuk menenangkannya dan mendengarkan ratapannya hari itu.
"Bisa mengingat aku sekarang, Sungmin?" tanya pria itu. "Aku yang sangat suka mengganggu dulu."
"Kyuhyun?!" seru Sungmin tak percaya. Benar ini si pembullyan Kyuhyun? Tapi dia terlihat berbeda sekarang. Dia terlihat lebih... tampan dan menarik? Sungmin menggelengkan kepalanya keras.
"Semalam kau menghubungiku dan meminta pertolongan. Aku disini sebagai temanmu." Kyuhyun mengingatkannya dan Sungmin tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Apa Kyuhyun berkata jika ia adalah Dokter Cho yang menawarkan pertemanan padanya?
"Apa kau berubah pikiran sekarang?" tanya Kyuhyun lagi sambil melangkah masuk ke apartemen Sungmin dan menutup pintunya. Dia masih menatap mata Sungmin.
"Bagaimana kau tahu alamatku? Dan juga studio tempatku bekerja?" tanya Sungmin gugup dengan kehadiran Kyuhyun. Dia masih ingat bagaimana Kyuhyun akan selalu membuatnya menangis dan selalu menggodanya. Apa dia akan melakukannya lagi sekarang? Apa dia kembali untuk mengerjainya lagi? Apa yang ia pernah perbuat ke Kyuhyun? Apakah ciuman ini adalah bagian dari rencana jahatnya?
"Aku menemukannya dengan caraku, Sungmin." kata Kyuhyun perlahan mendekati Sungmin dan lawannya mulai melangkah mundur. "Aku merindukanmu, kau tahu?" Aku selalu membayangkanmu. Aku ingin menemukanmu, namun kau berada di luar jangkauanku."
Sungmin mulai berasa takut saat ia tersadar jika dia terjebak karena punggungnya menabrak dinding Kyuhyun merendahkan wajahnya ke arah Sungmin perlahan, tanpa memutuskan tatapan mereka.
"A-apa yang kau mau?" Sungmin tergagap ketakutan.
"Aku rindu mengerjaiku. Tapi kita bukan anak kecil lagi. Jadi aku merubah rencanaku. " bisik Kyuhyun saat dahi mereka bersentuhan. Sungmin masih berefek besar padanya. Kyuhyun semakin mengagumi sosok itu sekarang setelah melihatnya lagi.
"Ren-rencana apa?"
"Kau akan tau nanti, Bunny. Tapi untuk sekarang, aku harus memberimu pelajaran karena membuatku merindukanmu sekian lama." Dan dengan itu Kyuhyun menempelkan kembali bibirnya dengan bibir Sungmin, membuat Sungmin melebarkan matanya
TBC
_
Yosh. Ini lanjutannya.
Seneng juga nemu reader yang senasib.
Setuju banget kalau ff Kyumin udah langka.
Entah authornya maupun readernya.
Mungkin pindah OTP atau alasan lainnya.
FF ini aja dibikin author aslinya sekitaran tahun 2012-2013. Lama banget kan?
Harus nungguin kira-kira setahun buat dapetin ijin ngetrans, dianya Hiatus lama, jarang online.
Yang nanya Eunhyuk seme atau uke? Kayaknya di cerita ini dia semenya. Secara dua makhluk beda spesies itu bisa fleksibel. Hehehehe.
Makasih udah ngefav, follow, dan ninggalin komentar. Kalau nganggur tengokin ff saya satunya, itu ORI bikinan saya. hehehehe.
Oke, sampai ketemu di chapter berikutnya. Anyeong ~~
