That December
~~ Sebelumnya …
"Luhan. Itu kau?". Panggilnya ragu, karena melihat kilatan Navy dari ruangan gelap tersebut..
Tak ada jawaban. Beberapa menit kemudian masih sama, Sehun memutuskan untuk pergi. Sempat dia meliat kembali gudang itu, sosk wanita itu keluar perlahan. Merangkak menuju radio yang tereletak dan rusak.
Mata Sehun terbelalak, segera dia berlari menuruni tangga.
Chapter 2. Yo!
Sehun tetap berlari sesekali melihat kearah belakang, memastikan tidak ada seseorang yang mengikutinya. Dia berhenti begitu memasuki pintu keluar, memutuskan untuk pulang saja, karena ia merasa sangat lelah. Dia pasti ber halusinasi.
"argh". Sehun mengerang begitu duduk dijok mobilnya. Dia melihat jaket Chanyeol yang tertinggal dikursi pengemudi. Temannya sudah pulang lebih dahulu dengan beberapa staf karena urusan mendadak.
Dia berusaha menyingkirkan jaket Chanyeol yang ia duduki, tapi begitu dia mengangkatnya, ada selembar foto seorang perempuan yang cukup manis jatuh dari saku jeket tersebut. Sehun mengambilnya , lantas menyirit.
Orang ini , yang dia lihat di rooftop tadi, sedang merangkak dengan sekujur tubuh penuh debu dan sarang laba-laba. Kalau tidak salah dia adalah seorang murid yang dimintai tolong oleh Sehun dan Chanyeol saat di Gangdong-Gu.
Sehun menyalakan mesin mobilnya, memutuskan untuk mampir ke apartemennya sebentar dan kemudian mencari Luhan ditempat di Gangbuk-Gu. "Chanyeol". Panggil Sehun begitu dia berhasil menghubungi Chanyeol.
"apa kau meninggalkan sesuatu di mobilku?".
"ah…benar jaketku tertinggal disana. Apa kau sudah akan pulang?".
"ya. Aku menemukan sesuatu dijaketmu, kau dimana sekarang?". Foto itu digenggam dengan eret lalu dimasukkan kedalam sakunya.
"sesuatu? Apa itu note?".
Sehun berdengung sebentar "bukan. Aku menemukan foto wanita. Milikmu?".
"ah..itu. foto itu kudapatkan dari polisi yang menyelidiki kasus kematian si blogger itu. Aku menyimpannya karena aku merasa pernah melihat orang itu sebelumnya".
"Chanyeol". Sela Sehun. "ini siswi dari Sekolah menengah atas di Gangbuk-Gu , ingat? Dan bagaimana bisa kau mendapatkan ini dari polisi?".
Sehun mendengar pekikan Chanyeol disebrang sana. "Ah! Iya. Aku akan mengirimi informasinya lewat e-mail nanti. Sekarang aku harus rapat dengan dokter lain. Sampai nanti".
.
.
.
.
.
.
Sehun telah tiba di Gangbuk-Gu,setelah kembali ke Apartemennya untuk memeriksa e-mail dari Chanyeol dan mengambil keperluannya. dia kembali memarkirkan mobilnya didepan warung yang beberapa saat lalu dia singgahi. Tapi warung itu sudah tutup. Dan kini tak ada seorangpun diluar rumah, hanya ada beberapa kendaraan melintas.
Sehun mencuatkan kepalanya keluar jendela. Benar saja salju turun semakin deras. Orang-orang di Gangbuk-Gu pasti lebih memilih bergelung dengan selimut tebal ketimbang keluar rumah dan melihat sekeliling. Itu membuat mereka tak menyadari memiliki satu tetangga yang aneh.
Terbesit ingatan saat dia pingsan dan mengalami kejadian aneh disini. Sehun sempat ragu untuk keluar dari mobilnya. Tapi rasa penasarannya membuatnya tak meraskan trauma. Dia melangkahkan kaki jenjangnya keluar dengan tubuh tegap yang terlilit mantel. Disaku kirinya , dia menyimpan sebilah pisau bermata tajam untuk berjaga-jaga.
Kini dengan raut panasnya Sehun sudah berdiri didepan gang tersebut, langkahnya menyusuri setengah mengendap.
Sehun menoleh kesana-kemari memastikan keadaanya aman karena dititik ini adalah saat dimana beberapa waktu lalu dia mengalami kejadian aneh. Di ujung sana adalah rumah Luhan, dia yang mengatakannya sendiri. Satu-satunya rumah yang ada disana.
Alis Sehun bertaut erat, disktrik sekitar Seoul tertata rapih dengan susunan tempat tinggal penduduk yang teratur. Ada satu rumah terpencil, bercat hijau muda dengan gudang tua disampingnya. Disekeliling ruah itu ditumbuhi ilalang dan pohon ek yang Sehun perkirakan masih berusia belasan tahun. Hanya dipagari dengan tumpukan batu alam setinggi batas pinggang orang dewasa saja. Pagar itu memutar mengelilingi rumah, menyisakan pekarangan bersalju tepat dirumah itu, oh.. dan Sehun melihat dia dapat sebuah tempat untuk bersembunyi.
Ketika langkahnya semakin dekat dengan rumah itu, Sehun menarik nafas dalam. Dia memutuskan untuk melewati halaman samping, berbaur diantara semak belukar yang hampir menyamai tingginya. Kadang, Sehun harus menggaruk menepuk-nepuk mantelnya yang dihujani salju. Membuatnya beberapakali hampir terjatuh karena tersandung akar rumput.
Sehun berhenti berjongkok ditempat yang sekiranya aman. Tepat beberapa langkah dari gudang yang mungkin benar milik Luhan. Ia tak mendapatkan sesuatu yang aneh yang tertangkap matanya,semuanya normal dan sepi. Bahkan Sehun bisa melihat gudang tersebut dialiri listrik, terlihat dari sambungan kabel yang menjuntai dengan sebuah lampu kecil yang menggantung didalam.
Sehun bisa melihatnya karena ventilasi gudang itu cukup lebar dan rendah.
Perhatian Sehun teralihkan pada sebuah jendela minimalis. Tak ada kain yang menghalangi jendela tersebut, mungkin Luhan menyibaknya. Namun kaca jendela tersebut cukup buram, tak bisa melihat kedalam. Sehun menghela nafas berat.
Dia pikir, mungkin dia harus mengunjungi Luhan secara terang-terangan. Mengetuk pintu rumah Luhan dan bicara baik-baik. Mungkin dengan begitu akan menurunkan resiko Sehun dalam mengumpulkan Informasi. Masalahnya Sehun tak tahu apakah Luhan orang yang bersahabat atau tidak.
Disamping itu, ia tak bisa menyingkirkan rasa curiga sekaligus takutnya pada Luhan. Mengingat kejadian aneh yang dia alami. Ilusi. Ataukah itu hipnotis? Tapi bagaimana Luhan melakukannya. Apa Luhan memperlihatkan waktu yang akan datang ada Sehun. Atau Luhan sebenarnya mengembalikan Sehun ke waktu sebelumya.
Perut Sehun tergelitik memikirkan hal yang tidak masuk akal , dia berani menghampiri Luhan lagi karena otak rasionalnya mendukunya. Mengenyahkan segala pikiran negative tentang Luhan.
Sementara sosok wanita mulai berjalan keluar dari rumah. Sehun menahan nafasnya sementara, mengamati sosok tersebut.
Well, itu Luhan. Dia keluar dengan mantel berwarna merah bata dan topi besarnya. Luhan berjalan kesamping rumah, refleks , Sehun memundurkan posisinya sedikit. Hatinya bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Luhan.
Luhan memasuki gudang tersebut, yang ternyata tidak dikunci. Dia keluar dengan sepeda gunungnya. Sebelum benar-benar meninggalkan pekarangan, Luhan berhenti. Dan entah berbicara dengan siapa melalui ponselnya. Dari yang Sehun amati, gerak bibir Luhan tidak mengucapkan bahasa Korea maupun inggris. Itu tak lama, hanya sekitar satu menit lebih kemudian Luhan menyimpan kembali ponselnya.
"halo". Usai bicara dengan seseorang(menurut Sehun) melaui ponselnya, kini Luhan menatap lurus kedepan. Memberi ucapan ringan entah untuk siapa, cukup keras samai terdengar oleh Sehun.
"bagi kau yang memiliki telinga dan mendengar suaraku". Lanjutnya.
Sehun membeku. Nafasnya mulai satu-satu, dia menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, mencari sosok lain yang dimaksud Luhan, berharap itu bukan ditujukan padanya.
"hanya kau. Keluarlah". Kata Luhan lagi.
Dengan segenap keberaniannya Sehun mulai bangkit dan berjalan mendekati Sehun. Luhan menolehkan kepalanya , mengamati sosok tegap itu lamat-lamat dengan manik navy misteriusnya. Bibirnya melengkung naik melihat keterdiaman Sehun.
"ah. Kupikir siapa. Aku tak punya banyak waktu untuk meladenimu". Luhan kembali hendak mengayuh pedal sepedanya. Tapi Sehun menahan, menuai kerutan didahi Luhan. Mencoba menangkap maksud Luhan.
Jari lentiknya menunjuk kearah gudang. "tunggulah disana sampai aku kembali, lalu kita dapat bicara". Sehun mendelik, kemudian dia berdeham.
"aku tak peduli apa kepentinganmu setelah ini, aku harap kau bisa meluangkan waktu untuk berbincang sebentar. Mengenai kejadian sebelumnya lebih tepatnya". Tolak Sehun, berharap Luhan akan cukup jengah dan mendengarkannya.
Tapi ternyata Luhan tak menghiraukan, wanita itu mengayuh pedal sepedanya dengan cepat dan meninggalkan Sehun yang membeku tak terima.
Usai ditinggalkan bak keledai bodoh, Sehun mengumpat dan menendang setumpuk salju menggunakan kaki kirinya. Dia terdiam beberapa saat, memandangi rumah Luhan yang diperkirakannya sudah kosong. Kepalanya menoleh keluar halaman, memastikan Luhan sudah benar-benar pergi.
Sehun mencoba memasuki rumah itu dari berbagai arah, seperti pintu depan, samping bahkan gudang. Rupanya Luhan mengunci pintu yang menghubungkan rumahnya dengan gudang. Disana terdapat gembok super besar dan jeruji besi yang melindunginya. Alis Sehun yang runcing bertaut heran.
Sehun teringat pada temannya Yudith, di Inggris . mungkin , setidaknya ada satu dua petunjuk digudang misterius, itu bisa didapatkan disekitar lemari, keset, dan bahkan sekitar saklar. Sehun menggelengkan kepalanya frustasi, dia tak menemukan apapun, kunci apalagi. Sehun rasa saran Yudith tak berlaku di gudang Luhan.
Akhirnya Sehun keluar dari gudang tersebut, dan memandangi rumah Luhan dari samping.
Dia mengeluarkan notenya dan mencatat semua yang ia lihat dari rumah Luhan. Mungkin hari ini harus beristirahat dan menyiapkan untuk besok.
.
.
.
.
.
.
Joonmyeon dan Sehun bercakap-cakap sekitar 2 jam yang lalu ditempat Joonmyeon bekerja di Busan. Sehun telah meraih kesepakatan kerjasama baik dengan juniornya itu dibidang pemasokan furniture , sebenarnya sudah sejak lama Sehun ingin mendirikan sebuah toko yang menjual baeraneka macam perlengkapan rumah.
Namun, mungkin dari Joonmyeon ia akan lebih mudah mendapatkan barang tanpa susah payah menjadi pihak produsen. Keuntungan pula akan mengalir ketangan Joonmyeon yang selama ini kesulitan memasarkan produknya karena dia tinggal didaerah yang cukup terpencil di Busan.
"baiklah. Aku akan berkunjung ke Busan jika ada waktu, haah… kau tau, hari-hariku agak merepotkan akhir-akhir ini". Sehun menghela nafas, sementara dia sudah memasuki mobilnya. Joonmyeon masih ada didepan rumahnya.
"ah, itu. Aku dengar dari televise dan radio, apa itu membuatmu tertekan? Ini pertamakalinya kau dipanggil ketempat itu kan?". Joonmyeon khawatir. "kuharap kasus itu akan segera selesai".
Sehun tersenyum. "ya, kuharap juga begitu. Kalau begitu aku pulang dulu, terimakasih Joonmyeon". Sehun memutar kemudinya dan mengeluarkan kendaraan ya dari pekarangan Joonmyeon.
"ya, aku juga. Hati-hati dijalan".
Kali ini untuk perjalanan pulang ,Sehun mengambil jalan memutar. Bukan tanpa alasan, Sehun ingin mencari sesuatu. Mungkin ini adalah sebuah kelalaian dan kebodohan. Tentang kasus yang dialami Ibu Kim dan anaknya serta Luhan. Jika dipikirkan kembali, mengapa Sehun baru mendapat inisiatif untuk mengunjungi Busan yang notabene-nya tempat awal kejadian aneh keluarga kecil Ibu Kim. Mengapa dia harus terpaku pada Luhan saja? .
Sekitar satu mill dari tempatnya sekarang, ada sebuah ruko besar dan berjajar. Namun sayang, sudah sejak lama tidak ditempati, disebelah kirinya ada sebuah persimpangan. Menurut informasi yang Sehun peroleh. Tempat kejadian itu berbelok kekanan.
Sehun berhenti.
Menimbang-nimbang apakah ia harus melihat sebentar kesana atau tidak. Namun, seluruh perasaanya tak memiliki hal khusus untuk menolak. Jadi, lelaki tampan itu berbelok kekanan. Memasuki jalanan sepi dengan keras aspal yang sedikit terkikis. Dikanan-kirinya banyak terdapat pohon-pohon besar, serta rumah-rumah tua.
Namun, Sehun prediksi masih banyak orang yang tinggal ditempat terpencil ini. Meskipun itu hanya dihuni manula, terlihat dari banyaknya rumah yang dikunjungi beberapa mobil milik kerabat. Well, ini mendekati natal.
Sehun kembali memfokuskan dirinya, semakin masuk, jalanan semakin turun dan berliku. Dia telah melewati satu sekolah dasar. Kini Sehun menurunkan kecepatannya, mengamati dengan cepat apa yang bisa ditangkap mata elangnya.
"ah, memang sial betul. Harusnya aku kemari dengan orang yang mengerti Busan". Rutuknya, dia menghentikan mobilnya tepat dibawah lampu jalan yang masih padam. Disini benar-benar sepi dan dingin. Bahkan kaca samping mobil Sehun memburam parah. Sehun menghela nafas.
Dia keluar dari mobilnya dengan selembar kain. Selanjutnya Sehun sibuk mengelap uap dingin dikacanya. Dia memutuskan untuk berjalan beberapa langkah. Menajamkan semua indra nya. Dan terdiam beberapa saat.
Sebelum terpejam, dia sempat merekam semua yang dia lihat, mengingatnya dan menghayatinya. Didalam hatinya, dan otaknya berkonsentrasi. Jika memang dia beruntung, latihan Psycometry nya sejak kecil tak akan sia-sia. Dia akan mendapat beberapa kilas balik disini.
Menjelang hampir dua menit Sehun terdiam. Akhirnya Sehun menyerah. Dia membuka matanya, dan menutup rapat-rapat mulutnya gusar. Menjadi terlatih dan memiliki kemampuan sejak lahir jelas berbeda. Meski Sehun melakukannya bertahun-tahun, tetap tak akan setajam orang yang memiliki kemampuan itu Sejak lahir.
"kau harusnya membawa orang seperti Jason atau Knight dan barangkali bisa membawa Kyungsoo kemari. Mereka deretan orang dengan konsentrasi tinggi dan bakat sejak lahir". Sehun menoleh mendengar suara yang dihafal betul, dikanannya ada seorang lelaki bertopi lebar yang menutupi separuh wajahnya. Sehun menyirit.
"siapa kau?". Suara Sehun terbang terbawa angin dingin, menimbulkan suara serupa desisan.
Sehun mendekat kala lelaki itu jga melangkah mendekat. Lelaki itu membuka topi lebarnya, rambutnya bergoyang terkena pergerakan kasar itu. Sehun menganga ditempat. Menatap wajah lelaki itu tanpa kedipan. Lalu mengamati dari atas sampai bawah.
Seketika perasaan itu muncul kembali. Sehun merasakan pusing teramat sangat, seperti saat dia bertemu dengan Luhan tempo hari.
"aku?". Lelaki itu medekat. "aku ini Sehun. Aku adalah kau". Katanya.
Sehun segera berpaling dari orang yang gila, namun sial mirip betul dengannya itu. Sehun mencari dan berusaha membuka pintu mobilnya disela kesadarannya. Dunia terus berputar, dan seolah ada monster besar sedang meremas kuat kepala Sehun hingga hampir pecah.
"arg!". Sehun berhasil masuk kedalam mobilnya, tubuhnya langsung ambruk sebelum dia sempat menutup pintu yang masih terbuka lebar.
Brugh..
Alhasil tubuh sehun terjatuh dan ambruk begitu saja ketanah yang diselimuti salju tebal. Sehun mengucapkan deretan do'a semampu yang ia bisa. Menyingkirkan perasaan takut karena melihat sosok yang mirip dengannya itu berubah menjadi sosok burung raksaksa berbulu hitam legam.
Akhirnya mata Sehun terpejam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
'Jason, Knight, K-kyungsoo?'
'Knight?'
Kelopak mata Sehun terbuka lebar. Kedua tangannya refleks meraba tiap jengkal tubuhnya, memastikan ada luka atau tidak. Belum sempat mencerna dan mengingat apa yang terjadi dan dimana ia sekarang,Matanya menyipit drastis karena ditembus cahaya.
"Knight?". Diantara cahaya tersebut, Sehun melihat siluet seseorang yang ia kenali. Namun sehun membatin penuh keheranan. Ia juga tak yakin dengan apa yang dia lihat.
"Knight? Itu kau?". Ulang Sehun. Sosok itu tak menyahut. Mendekati Sehun dengan tenang, sekitar tiga meter dari tempat sehun. Sosok yang Sehun panggil sebagai Knight berhenti.
"Knight?". Ujar orang itu. "kaupikir begitu?".
Sehun menyirit. Mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lelaki asing itu terbahak keras. Sebuah nada mengerikan yang masuk dan seolah merobek gendang telinga Sehun. Sosok misterius itu mendekat dengan cepat.
"Knight?". Lirih Sehun. "tidak mungkin".
"aha". Sosok itu menggeleng pelan. "aku adalah ..". punggungnya melengkung,meringkung dan bersatu dengan kedua lututnya. Sehun pikir sosok itu akan tertawa terbahak-bahak, namun lebih parah dari itu. Sesuatu yang kasar dan lebar membenang dari punggungnya.
Dia memuntahkan sebuah gulungan berlendir menyerupai kepompong raksaksa. Sontak Sehun berteriak histeris melihatnya. Dengan banyaknya darah dari kepompung itu, Sehun melihat sesuatu membelah dan memaksa keluar.
Sehun tak mampu lagi menahannya. Air mata yang deras mengalir begitu saja, hingga matanya terasa sangat sakit. "K-Kinght?".
"aku hidup Sehun. Tetapi kau tidak boleh mengetahuinya". Kata sosok itu. Dia merangkak mendekati Sehun, sementara sosok misterius yang mengeluarkan kepompong itu sudah tergeletak dengan wajah membusuk nyaris hancur.
"Sehun. Biar kuberi tahu kau". Dengan jarak sedekat ini, Sehun yang bergetar hebat bisa mencium bau amis darah dan cairan menjijikkan dari tubuh Knight. Namun Knight masih merangkak mendekatinya.
"b-berhenti sialan!". Maki Sehun.
"aku hanya menghilang. Aku tidak mati, aku terlahir kembali setelah dimakan orang itu, dan sekarang aku merasa lebih baik". Kata Knight.
Sehun perlahan menguatkan kaki-kakinya untuk berdiri. Dia menendang kepala Knight dengan kencang hingga tersungkur kebelakang. "diam kau, kau bukan Knight".
Knight terkekeh mengerikan. Jari telunjuk kanannya teracung dan bergoyang kekanan dan kekiri. "jangan Sehun. Aku ingin kau merasakan terlahir kembali seperti aku. Jadi kemarilah, aku akan memakanmu terlebih dahulu".
Sehun bergidik , sempat terlintas diotaknya untuk menjerit kesetanan, tapi akal sehat dan otaknya memilih tindakan yang rasional. Dia harus pergi.
Sehun berlari menjauh. Dia tak tau harus kemana, semuanya terlihat sama, lorong gelap dan sunyi. Sehun terus berlari tak tentu arah, dia akan berbelok sesuai kata hatinya, yang menjerit meminta bantuan pada siapapun.
"ya tuhan".
Bibirnya terkatup rapat, menemukan sebuah pintu kecil dihadapannya. Sehun memelankan larinya, dan kini menjadi sebuah langkah penuh antisipasi.
Tiba-tiba saja Sehun dilanda kelaparan dan kehausan. Semilir angin misterius entah dari mana membelai tengkuknya, menghantarkan sengatan luarbiasa pada tubuh Sehun. Kini dia hampir ambruk dan hilang kesadaran.
Sehun tak kuasa lagi. Tubuhnya lemah, bercucuran keringat dingin, rasa mual dan takut pun menyelimuti. Tak pernah sedetikpun dia memutus do'a nya.
.
.
.
.
.
tbc
duh, maaf sekali, fic ini super ngaret,/
otak bener-bener buntu ngga ada inspirasi, ditambah kegiatan magang/
chapter lanjut, malah makin gaje deh/
maaf bener/
udah gaje, pendek pula aah/
