~~~~~Because Of You~~~~~~~~
Chapter 4
Cast :
Park Chanyeol as Park Chanyeol
Byun Baekhyun as Byun Baekhyun
Oh Sehun as Oh Sehun
Wu Yifan as Byun Yifan
Huang Zitao as Huang Zitao
Other Cast :
Park Yoochun
Kim Junmyeon
Zhang Yixing
Kim Jongin
Do kyungsoo
.
.
.
.
.
Chanyeol menatap sang kakek dari pantulan kaca yang ada dihadapan kakeknya, disana yoochun berdiri dengan setelan jas lengkap dan rapi. Malam ini ada sebuah pertemuan para pembisnis terkemuka dari seluruh korea, acara tersebut bukan hanya acara pertemuan biasa biasanya banyak para pengusaha yang membawa serta anak gadisnya atau anak laki-lakinya guna memperkenalkan satu sama lain dengan kata lain perjodohan lewat pertemuan ini. Chanyeol masih memandang kakeknya dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan.
"apa kau sungguh tidak ingin ikut aku?" tanya yoochun sambil membenarkan letak dasi di lehernya.
"apa kakek sekarang berniat menjodohkanku dengan anak rekan bisnis kakek?" jawab chanyeol yang masih menatap yoochun. setelah membenarkan letak dasinya yoochun beranjak dari kaca besarnya lalu mendekati chanyeol, chanyeol pun merubah arah pandangannya kearah cendela kamar sang kakeknya. Yoochun lalu merangkul bahu chanyeol pelan.
"aku hanya ingin memperkenalkan cucuku yang tampan ini kepada yang lain, kau sekarang sudah 18 tahun cepat atau lambat publikpun akan tahu kau siapa. Lagi pula ini acara resmi chanyeol!"
"bahkan sekarang pun publik sudah tahu aku siapa jadi tidak usah berlebihan kek!"
"baiklah terserah kau! tapi yang harus kau ingat adalah kau akan tetap menjadi penerus kakek dimasa depan. Aku sekarang memang membebaskan mu untuk memilih jalan mu sendiri tapi masa depan mu tetap ada di park corp, jangan mengecewakan ayahmu yang sudah berjasa untuk perusahaan chan!"
"baiklah baiklah kek! Jangan menceramahi aku dengan embel embel ayah sebagai alasan" chanyeol melepaskan rangkulan hangat yoochun lalu menghadapkan yoochun ke arah kaca. "lihatlah bagaimana kau bisa datang ke acara yang mewah itu dengan dasi yang tidak seragam dengan setelan kemeja mu ini oh? Seharusnya kau memakai warna yang lebih gelap dengan begitu kau akan terlihat lebih tampan seperti seumuran ku kek!"
"kau sekarang mulai menggurui ku hah?"
"apakah terlihat begitu jelas?"
"apa apaan ini hah? Seorang cucu menggurui sang kakek" yoochun berniat menangkap chanyeol namun hasilnya nihil, chanyeol sudah mengambil seribu langkah dengan suara tawanya yang menggelegar disemua sudut rumah, dan yoochun hanya menggeleng - gelengkan kepala melihat cucu satu – satunya yang mirip dengan sang anaknya yang telah meninggal. Yoochun beranjak ke arah lemari lalu mengambil dasi berwarna navy lalu bersiap memakainya.
.
.
.
Deretan mobil berjalan perlahan menuju karpet merah panjang disebuah restaurant ternama di seoul, mobil-mobil itu nantinya akan berhenti tepat diatas karpet merah yang sudah disediakan oleh pengelola restaurant, lalu dengan gaya yang elegan turunlah seseorang dibalik mobil tersebut dengan diambut kilatan lampu potret dari para wartawan yang memenuhi halaman restaurant tersebut. Pemandangan tersebut sudah biasa terjadi setiap tahunnya disana. Pertemuan para pembisnis besar yang ada dikorea berkumpul disana tak lupa dengan yoochun yag notabenenya pembisnis yang terbesar dari pembinis lainya dengan kata lain yoochun adalah orang yang sangat penting disana, tidak ada perusahaan yang tidak berhasil ketika ia menanamkan sahamnya disana. Yoochun turun dari mobil mewahnya sambil melambaikan tangan kepada para wartawan dengan senyuman yang merekah disana.
"apa anda tidak membawa cucu anda lagi kali ini yoochun~shi" tanya salah satu wartawan disana.
"mau bagaimana lagi dia sibuk dengan sekolahnya, jadi aku tidak memaksanya" ucap yoochun lalu berlalu dari hadapan sang wartawan. Tak berselang lama sebuah mobil yang sam megahnya berhenti lalu dua prai keluar dari mobil tersebut, Oh hyunbin dan Oh sehun. Mereka berjalan berdampingan wajah hyunbin dibuat seramah mungkin kepada para wartawan sedangkan sehun sebaliknya, ia menampilkan wajah tegas dan seolah acuh kepada para wartawan. Memang setiap tahunnya sehun selalu dipaksa oleh sang mengikuti pertemuan ini, walaupun sehun memberontak tidak mau namun hyunbin tahu cara yang tetap agar sehun mau mengikuti pertemuan yang yang mewah ini yaitu dengan mengancam memblokir kartu kredit sehun dan akan mencabut semua fasilitas yang ia berikan kepada sehun, denngan begitu sehun mau mengikuti acar ini namun dengan setengah hati.
"hyunbin~shi, aku rasa tuan sehun semakin tampan setiap tahunnya" uajr seorang wartawan membuat hyunbin berhenti berjalan, namun tidak dengan sehun yang tetap berjalan tanpa menghiraukan para wartawan yang dengan giat mengabil fotonya.
"dia tidak lebih tampan dari ayahnya bukan?" candaan hyunbin membuat wartawan itu tertawa.
"baiklah aku masuk dulu" ucap hyunbin ramah lalu masuk kedalam restaurant tersebut.
Disaat bersamaan baekhyun berlari menuju restaruant yang sama dengan tergesa-gesa berlari melewati lautan wartawan. Bukan! Baekhyun bukan datang untuk mengikuti acara tersebut baekhyun bahkan tidak memakai gaun yang bagus seperti para anak gadis dari pembisnis besar lainya. Baekhyun masuk kegedung tersebut namun bukan dari arah karpet merah seperti lainya, baekhyun masuk gedung dengan lewat pintu yang tergolong kecil ditempat itu. Setelah masuk baekhyun melihat banyak orang berseragam yang tengah sibuk.
"APAKAH PASTANYA SUDAH SIAP?"
"JANGAN LUPAKAN STEAKNYA!" baekhyun hanya terdiam didepan pintu melihat semua orang disana. Disana banyak pegawai yang tengah sibuk menyiapkan sajian makan malam yang sepenuhnya belum siap didapur, baekhyun menghela nafasnya sekian kali, lagi lagi hidupnya kembali berkutat disini, baekhyun sadar bahwa dia hanyalah orang miskin yang tidak punya pilihan lain selain berkutat diarea seperti ini, menata sajian makanan, mencuci piring bekas makanan, atau yang paling menyedihkan adalah membuang sampah.. sebernarnya bagi baekhyun itu bukanlah sampah, kadang sepotong daging steak utuh mereka buang dengan seenaknya. Baekhyun sadar kalu inilah memang jalan hidupnya.
"KAU YANG DIDEPAN PINTU! KENAPA HANYA DIAM SAJA HAH?" baekhyun menegakkan tubuh saat seorang pria dengan baju yang tampak rapi dari yang lain berteriak kepadanya. Setelah tahu siapa yang membentaknya baekhyun membungkukkan diri.
"mian"
"KAU KIRA INI ACARA AMAL YANG BISA KAU DATANGI KAPAN SAJA HAH? KAU PELAYAN BARU BUKAN? DI HARI PERTAMA SAJA SUDAH TELAT EOH? CEPAT GANTI BAJUMU! GAJIMU KU POTONG SATU JAM" setelah pria itu pergi baekhyun masih bisa mendengar gerutuan sang pria yang memaki maki baekhyun, dan lagi lagi baekhyun hanya pasrah memangnya siapa baekhyun yang berani melawan seorang kepala pelayan? Sedangkan dirinya hanyalah seorang pelayang yang baru berkerja disini. Tak lama seorang pegawai lainya membawa seragam yang sama dengan yang lain lalu melempar seragm kearah baekhyun, dengan cekatan seragam itu baekhyun tangkap. Baekhyun merasa benar benar bodoh sekarang, baekhyun memang seperti tidak dianggap disini.
"sebenarnya dimana tolietnya?" Baekhyun mengerutu sambil berjalan menyusuri sebuah lorong yang panjang, mencari bilik toilet digedung seluas ini tak semudah yang dia kira.
"kenapa panjang sekali eoh?" setelah beberapa langkah baekhyun menemukan sebuah persimpangan diujung lorong, baekhyun berharap setelah melewati lorong ini ada toilet tepat dipersimpangan ini.
BUGH
Langkah baekhyun terhenti setelah mendengar suara pukulan, baekhyun bersembunyi tepat dibalik dinding persimpangan tersebut. Diintipnya dua orang lelaki dengan tinggi hampir sama sedang menatap satu sama lain dengan tatap membunuh. Baekhyun terkejut kala dia menyadari ia mengenal dengan salah satu lelaki disana, Oh Sehun.
"kau tahu apa yang kau lakukan pada wartawan tadi? Mungkin saja dia bisa menulis artikel buruk tentang aku" ucap salah satu lelaki yang terlihat lebih tua dari yang didepanya.
"memangnya kenapa hah? Apa peduliku tentangmu? Kau saja tidak memperdulikan anakmu sendiri lalu kenapa aku harus peduli denganmu? AYAH?" baekhyun membelakkan mata, ayah? Jadi pria yang ada dihadapan sehun sekarang adalah ayahnya, namun kenapa seorang ayah tega memukul anaknya sendiri?
"kau pikir kau anak yang bisa diandalkan eoh?"
"lalu kenapa aku yang selalu kau ajak kesini hah? Kenapa tidak anak kesayanganmu?"
"kau suka sekali membuat darahku naik"
"kau saja yang terlalu berlebihan tuan oh!"
BUGH
Sehun tersenyum miris kala satu pukulan lagi mendarat tepat dipipinya. Baekhyun terkejut bukan main saat hyunbin mendaratkan pukulan keduanya tanpa rasa bersalah sedikitpun. setelah memberikan pukulanya hyunbin merapikan kemejanya yang milai lusuh lalu memilih pergi meninggalkan sehun sendiri.
"keluarlah!"
...
"aku bilang keluar! Tontonannya sudah selesai sekarang kau tidak usah bersembunyi lagi!" baekhyun keluar dari persembunyianya dengan wajah yang menunduk. Baekhyun dapat melihat sebuah papan bertuliskan toilet diujung lorong.
"mian" baekhyun membungkuk lalu melewati sehun masih dengan menunduk. Seolah tau apa yang akan baekhyun tuju.
"itu bukan toilet pelayan! Itu toilet tamu, jika kau kesana akan ada seseorang yang melapor keatasanmu lalu kau akan dimarahi habis – habisan" langkah baekhyun terhenti saat mendengarkan suara sehun.
"kau pelayan baru disini?" baekhyun mengangguk cangung, tak berselang lama sehun menggandeng baekhyun sesuatu tempat entah kemana, dan bodohnya baekhyun hanya mengikuti langkah kaki sehun. Setelah melewati sebuah lorong panjang tibalah mereka berdua ditempat yang bertuliskan toilet pegawai.
"apakah sakit sekali?" tanya baekhyun lirih namun masih bisa terdengar oleh sehun, namun sehun tidak menanggapi pertanyaan baekhyun. Baekhyun merogoh tasnya lalu mengeluarkan sebuah plester transparan lalu diberikan kepada sehun, " kau tidak akan kembali kesana dengan wajah seperti itu bukan? Jadi pakailah ini!" sehun menerima plester yang baekhyun berikan lalu berniat meninggalkan baekhyun.
"gomawo" sehun mendengar ucapan baekhyun setelah itu baekhyun masuk kedalam bilik toilet, namun dengan cekatan sehun menarik tangannya lalu mengandeng tangan baekhyun kesuatu tempat dengan berlari, ketika sehun dan baekhyun melewati area dapur semua orang yang ada disana terperangah, tidak ada satupun yang berani menghentikan langkah mereka. Baekhyun dan sehun pun sudah diluar gedung dengan nafas terengah-engah.
"kau gila hah?" teriak baekhyun.
"aku tau kau juga merasa bosankan didalam?" ucap sehun santai.
"kau akan kembali kedalam?" tanpa menghiraukan sehun baekhyun berniat kembali kedalam guna menyelesaikan perkerjaanya.
"kau kira mereka akan membiarkanmu berkerja dengan baik setelah apa yang aku lakukan padamu hah?" lagi lagi langkah baekhyun terhenti akibat ucapan angkuh sehun.
"kenapa kau seperti itu kepadaku?"
"simpel saja! Kau tau aku dengan ayahku bertengkar, dan aku tidak menyukainya" setelah mengakatakan apa yang ingin ia katakan, sehun pergi menjauh dari baekhyun. Sekarang tidak ada pilihan lain untuk baekhyun kecuali pulang dengan tidak membawa uang sepersenpun. Sehun dan baekhyun sekarang berada dihalte bus terdekat, mereka tidak duduk berdekatan melainkan saling menjauh. Tak berselang lama sebuah bus datang, sehun dan baekhyunpun masuk. Saat diatas buss baekhyun mendekatkan kartu bus ke alat sensor dekat pintu lalu pergi menuju baku paling belangkang sendiri, namun sehun yang notabenenya anak orang kaya jadi dia tidak mempunyai kartu berlangganan bus seperti baekhyun jadi dia kebingungan saat masuk bus, baekhyun yang melihatnya langsung berdiri dan mendekatkan kartu berlangganan bus miliknya"aku yang akan membayar untuknya juga" lalu baekhyun kembali menuju kursi paling belakang lagi dan sehun memilih duduk dikursi dekat cendela nomor tiga dari belakang. Dan lagi lagi seseorang telah mengambil potret baekhyun secara diam – diam.
.
.
.
Chanyeol berbaring ditempat tidurnya yang nyaman, setelah yoochun pergi keacara pertemuan yang menurut chanyeol sangat tidak penting itu, chanyeol memutuskan untuk berbaring santai diranjangnya yang cukup besar sambil memikirkan hal yang membuatnya malu dan cukup terkesan pada sosok baekhyun tadi siang.
"aku rasa aku tidak mempunyai utang budi padamu!"
"heol... aku merahasikan tentang kau berkerja dikedai kopi dan kau tidak berterimakasih padaku"
"apa aku yang menyuruhmu untuk merahasiakanya?"
Chanyeol tersenyum sendiri saat dia kembali mengingat kejadian tadi siang. Di satu sisi hatinya sangat malu akan sikap baekhyun padanya namun sisi lain mengatakan ada hal spesial dalam diri gadis itu. Tentu saja itu adalah pengalaman pertamanya dihinggapi perasaan seperti ini, bagaimana tidak tidak ada satupun gadis yang berani memalingkan wajah dihadapannya apalagi sampai meninggalkannya walaupun gadis tersebut sama derajatnya dengan chanyeol, namun baekhyun berbeda, baekhyun satu satunya gadis yang berani bertingkah seperti chanyeol bukanlah siapa-siapa. Entah mengapa perasaannya sekarang menjadi merindukan gadis bermarga byun itu, dirinya memang tidak berkata demikian namun hatinya? Chanyeol mengakhiri acara flashbacknya terhadap baekhyun, chanyeol lalu meraih mantelnya dan meninggalkan kamarnya, jangan tanya kemana chanyeol akan pergi, kekedai tempat baekhyun berkerja pastinya.
Chanyeol melangkahkan kakinya dengan riang sesekali senandungan kecil keluar dari bibir tebalnya, namun chanyeol masih sadar diamana sekarang dirinya berada sehingga walaupun dengan sangat namun tidak meninggalkan kesan dingin, yah berjalan riang namun sedikit dingin keren bukan? Tak lama terlihatlah coffe kim tempat baekhyun berkerja, baru satu langkah mendekati kedai kopi terbesut chanyeol sudah disuguhkan dengan pemandangan bus yang berhenti dihalte tak jauh dari kedai junmyeon. Disana turunlah baekhyun dengan wajah yang sedikit kekelahan lalu memasuki kedai milik junmyeon, padangan chanyeol beralih kedalam bus dilihatnya sehun yang tengah memasang wajah yang dingin sambil mentap keluar cendela bus. Tak lama tatapan sehun dan chanyeol bertemu, mereka saling menatap dengan padangan sulit dijelaskan, tak lama sebuah senyuman licik sehun perlihatkan kepada chanyeol, sehun terus memasang wajah seperti itu hingga bus yang sehun naiki berjalan menjauh. Setelah bus menghilang dari pandangan chanyeol, chanyeol melihat baekhyun yang akan meninggalkan kedai junmyeon, sontak chanyeol cepat cepat menyembunyikan diri dengan memasang penutup kepala yang ada dimantelnya. Setelah baekhyun melaluinya diam diam chanyeol mengikuti baekhyun dari belakang, baekhyun tidak menyadari hal tersebut hingga baekhyun sampai ke rumah chanyeol tetap mengikutinya, chanyeol tersenyum manis.
"jadi ini rumah mu?"
.
.
.
.
.
Suasana sekolah menjadi gempar pagi ini hanya karna sebuah foto yang terpajang di majalah dinding sekolah, disana terpajang foto baekhyun dan sehun yang tengah berada didalam bus saat baekhyun membayar biaya bus sehun kemarin malam.
"apakah ini benar benar si anak excel itu? berani beraninya dia mendekati sehun?"
"bukankah dia sangat tidak tau malu?"
"dia pasti merasa sangat bangga dengan foto ini!"
"bukankah baju ini yang sehun pakai sewaktu pertemuan para kolega kemarin? Jadi dia pergi meninggalkan acara hanya untuk pergi bersama si excel itu?"
Chanyeol yang melihat keramaian didepannya hanya memasang wajah cool dan berencana melewati berita yang terpampang disana. Namun langkahnya terhenti saat mendengar kata "si excel" chanyeol tau yang dimaksud si excel itu baekhyun, entah mengapa telingan sangat sensitive pagi hari ini, chanyeol berjalan mendekati majalah dinding disampingnya, chanyeol masih ingat itu memanglah baekhyun dan sehun kemarin malam, melihat reaksi disekitarnya chanyeol berniat mencopot foto yang terpajang disana. Saat tangan chanyeol akan menggapai foto tersebut...
KREEEKKK...
"YAK KENAPA KAU MEROBEKNYA?"
"kalian senang sekali mempermalukan orang lain yaa?" tao meremas foto yang ada ditangannya, tangan chanyeol yang masih tergantung diudarapun chanyeol tarik kembali.
"AKU MENERTAWAKAN SI EXCEL LALU KENAPA KAU YANG IKUT CAMPUR?"
"lalu kenapa kalian menertawai hal yang tidak ada hubungan dengan kalian hah?" mulut tao yang sudah siap menjawab celotehan dari siswi itupun hanya bisa menganga, pasalnya chanyeol yang menjawabnya dengan sinis.
"ohh! Aku sangat tidak suka dengan orang yang berteriak didepanku" ucap chanyeol dengan melihat siswi itu.
"maaf chanyeol~shi"
"sudahlah aku sudah malas disini" chanyeol meninggalkan tempat itu dengan gaya angkuhnya. Tao pun pergi dari tempat itu sambil tersenyum sinis, siswi tadi pun hanya melirik dengan lirikkan tajamnya.
.
.
.
Sejak memasuki halaman sekolah baekhyun mendapat tatapan sinis dari bebepara murid perempuan, saat memasuki kelas pun sama semua siswa menatapnya dengan tidak enak hanya tao, kyungsoo dan chanyeol yang tidak memasang tatapan seperti itu sedangkan sehun dia sama seperti biasanya tertidur dikelas. Baekhyun sebernarnya tidak ambil pusing dengan tatapan itu namun baekhyun berfikir apa yang salah darinya lagi hingga dia mendapat hal seperti ini lagi dan lagi?
Baekhyun, Kyungsoo, dan Tao memasuki toilet dengan tawa yang keluar dari mulut mereka bertiga, kini mereka bertiga bagaikan karet yang melekat satu sama lain, mereka biasanya menghabiskan waku ditaman belakang sekolah dan bermain bersama angel kucing yang sering baerkeliaran disana, hal itu hanya dilakukan saat jam istirahat saat para siswa bebas berkeliaran kemana saja.
"itu lucu sekali kyung" tao tidak henti hentinya tertawa dengan lelucon kyungsoo, kyungsoo menceritakan tentang masa kecilnya yang sangat lincah hingga dia terlempar dari tempatnya duduk dilama mobil dengan posisi yang membuat siapapun tertawa.
"kau tau? ibuku memotretku saat itu pun ikut tertawa"
"sudah jangan memulainya lagi kau ingin kita menjadi cepat tua?"
"kita tidak akan tua hanya karena tertawa!"
"tapi kita akan cepat keriput kyung!" baekhyu hanya menggeleng gelengkan kepalanya, ini sudah sering terjadi, tao dengan kyungsoo sering berdebat hal kecil walaupun sebelumnya mereka tertawa terbahak bahak bersama, apalagi tentang masalah kecantikan.
"tertawa malah akan memperlambat penuaan dini tao~ah!"
"kau tau dari mana? Tertawa hanya akan memberikan kerutan pada wajah kita"
"kau sangat sok tau!"
"hey tao~ah tapi aku mempunyai krim yang bisa menyamarkan kerutan diwajah"
"benarkah? Ayo kita ambil krimmu! Baekhyun~ah kau tunggu disini yaa aku tidak akan lama' baekhyun mengangguk. Toa dan kyungsoo pun meninggalkan baekhyun ditoilet sendiri. Tak berselang lama masuklah segerombol siswi, salah satu dari siswi tersebut tanpa basa basi menarik rambut baekhyun lalu memojokaknya kesudut ruangan.
"APA YANG KAU LAKUKAN HAH?" teriak baekhyun.
"SEHARUSNYA ITU YANG HARU AKU TANYAKAN PADAMU!"
"LEPASKAN!"
"KAU KEMARIN PERGI BERSAMA SEHUN BUKAN?"
"AKU TIDAK SENGAJA BERTEMU DENGANYA HANYA ITU, LEPASKAN TANGANMU DARI RAMBUTKU!" siswi tersebutpun melepas tangannya dari rambut baekhyun.
"jadi kau tidak sengaja yaa? Tapi kita percaya padamu, gaes lakukan apa yang seharusnya kalian lakukan pada jalang satu ini"
"sudah aku bilang aku hanya sengaja ber.."
PLAK...
Satu tamparan keras mendarat tepat dipipi baekhyun hingga kuku panjang siswi itu menorehkan luka di pipi baekhyun. Baekhyun hanya diam tidak bisa berkata ataupun bergerak.
"aku rasa ini akan menyadarkanmu tentang derajatmu disini! Ini belum seberapa nantikan pelajaranku yang selanjutnya" siswi itupun mendorong baekhyun hingga tanpa segaja kepalanya terbentur tembok, dan baekhyun masih tetap diam tanpa ada perlawanannya.
"kau curang sekali eun hi~ya! Satu lawan empat itu sangat keterlaluan bukan?" ucap seseorang yang langsung menghentikan acara bullying baekhyun.
"chanyeol~ah?" chanyeol bediri disana dengan gaya angkuhnya.
"bukankah ini toilet perempuan?"
"aku hanya lewat sini dan mendengar ada yang salah dari luar, ternyata itu perbuatanmu! Aku cukup paham dengan situasi ini, kau seperti ini karena kau sangat kaya iyakan? Maka dari itu aku akan pastikan dalam hitungan 1 kali 24 jam saham perusahaanmu turun dengan drastis akibat ulah mu sendiri" ucap chanyeol santai.
"apa yang kau maksut?"
"kau tidak pergi? Aku mencoba memperingatkanmu, dan kau tidak paham?" eun hi dan satu geng nya berlomba meninggalkan tempat setelah mendengar perkataan chanyeol.
"kau tak apa?" ucap chanyeol sambil mendekati baekhyun.
"hmm"
"bangunlah ayo kita obati lukamu!" cahnyeol meulurkan tangannya kepada baekhyun namun uluran tangan chanyeol tidak baekhyun terima, baekhyun memilih berdiri sendiri.
"kau seharusnya melawan merka balik!" ucap chanyeol sambil mengoleskan krim keluka baekhyun.
"aku terlalu malas dengan mereka, sebaiknya aku mengoleskan krimnya sendiri!" baekhyun berniat meraih krim dari tangan chanyeol namun chanyeol meninggikan tangannya alhasil baekhyun tidak dapat mencapai krim tersebut.
"kau menolak niat baikku? aku bilang aku akan mengobati lukamu! kau hanya perlu diam oke!" baekhyun menurut dengan perkataan chanyeol.
"jika kau seperti ini terus kau akan dibully oleh siswa lain, kau seharusnya melawan walaupun hanya dengan sedikit perlawanan, jika sudah seperti ini kau juga yang sakit, seharusnya seperti tao yang dari sisi manapun tidak ada ke feminimnya sama sekali, tapi jangan seperti kyungsoo yang sekarang terlalu pendiam, cobalah membuka diri untuk dunia ini baek! jika kau takut bilanglah, jika kau senang tertawalah jika ka..."
"gomawo chanyeol~ah" perkataan chanyeol terhenti begitupun acar mengoleskan krim keluka baekhyun setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut baekhyun, walaupun lirih namun ucapan itu terdengar dari telinga chanyeol.
"hah?"
"terimakasih untuk tetpa merahasiakan tentang perkerjaanku, terimakasih telah menolongku disaat yang seperti ini, terimakasih telah mau mengoleskan krim ini diwajahku" setelah berkata seperti itu baekhyun meninggalkan chanyeol dengan sedikit berlari, chanyeol kaget dengan reaksi baekhyun tentang dirinya.
"bahkan dia tidak tau apa apa!" gumam lirih chanyeol.
"baekhyun~ah tunggu" chanyeol berlari mengejar baekhyun dan meninggalkan ruang UKS. Baekhyun terus berjalan dengan cepat melewati banyak siswa yang menatapnya dengan pandangan jijik.
"baekhyun~ah jika kau tidak berhenti aku akan menciumu saat ini juga!" perkataan chanyeol membuat baekhyun terhenti, itu membuat chanyeol tersenyum, namun itu tak berselang lama, baekhyun kembali menlangkahkan kakinya dengan cepat. namun chanyeol juga bukan tipe orang yang main main dengan omongannya, setelah melihat baekhyun berjalan lagi dengan cepat chanyeol meraih tangan baekhyun dan...
CUUUPPP...
Kini baekhyun tidak dapat berfikir lagi, baekhyun tentunya terkejut pasalnya chanyeol mencium baekhyun didepan banyak siswa. dan satu orang menatap mereka dengan padangan yang sulit diartikan, Oh Sehun.
