Please Don't
Akari Moya Chan
NARUTO MASASHI KISHIMOTO
RATE : T (semi M)
PAIR : NaruHina (In this Part )
WARNING : GAJE,ANEH,EYD BUBAR,MENYEBABKAN JIWA NGENES SENDIRI JIKA GEJALA BERLANJUT HUBUNGI AUTHOR *PLAK*
DON'T LIKE ? DON'T READ !
THERE IS KEY 'BACK' RIGHT ?
RnR Please
Happy Reading
Note : cerita ini terinspirasi dari mv PLEASE DON'T tapi untuk chap 2 dan seterusnya itu murni imaginasi saya sendiri kok
Balasan Review chapter 1
Dahlia lyana Pahlevi : hehe iya ini udah saya publish chapter 2
kiki kim : haha kamu gak ngerti ya ? jadi gini #sok_ngejelasin sebenarnya Seo in guk itu sukanya sama jaehyun bukan sama dasom,tapi di awal awal mv dibuat seolah olah dia suka sama dasom,nah pas bagian akhirnya itulah baru ketahuan kalau sebenarnya dia itu sukanya sama si Jaehyun tapi bertepuk sebelah tangan huhu ngenes banget ya In guk oppa,padahal aku mau mau aja loh kalau dia berpaling ke aku #plak hehe kepanjangan yak ?
cococorn : haha masalah final pair itu masih rahasia loh #ketawa_nista
yukiko senju : khekhe tenang nanti di chapter 5 baru kita siksa di teme pantat ayam itu, enak aja dia bikin Naru sampai kayak gitu kan ? (Sasuke : kan yang bikin gua kayak gitu itu elo thor) #Author_kabur
kuma Ryuu : HUAHAHAHAHA yang nyiksa Naru itu si Sasuke loh bukan moya #ngeles hehe tenang nanti Naru akan saya siksa sampai chapter terakhir kok, moya baik kan ? #Plak habis senang aja ngelihat uke imut itu tersiksa lahir batin #digolok
Terakhir Moya ucapin makasih banyak atas reviewnya hehe
(/^o^)/
Chapter 2 : Hinata
Kriet
"Tadaima."
Tidak ada balasan, tentu saja dia sekarang tinggal sendiri di rumah besarnya, orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, dan melupakannya begitu saja. Miris.
"Percuma."
Tangan tan itu mencengkram erat engsel pintu rumahnya. Tidak lama dia pergi meninggalkan rumah besarnya itu, sepertinya dia akan bermalam di apartemen pribadinya lagi. Entah sudah berapa kali dia melarikan diri ke apartemen itu, jika dulu alasan utamanya adalah orang tuanya yang tidak pernah mengunjunginya, kini alasannya berbeda, walaupun kali ini dia sama-sama melarikan diri dari kenyataan, namun sepertinya alasan kali ini berhasil membuatnya putus asa sampai ketitik terendahnya. Alasan yang klise, ya sangat klise. Hanya karna patah hati dia melarikan diri, padahal dia sudah tahu bahwa dia akan patah hati jika berani menyukai Uchiha Sasuke, tapi kenapa tetap saja rasanya sakit sekali melihat Uchiha Sasuke yang kini hidup bersama dengan Sakura, sahabat terdekatnya. Kau tahu Naruto, kau sangat menyedihkan.
Sesampainya di apartemen, Naruto berpapasan dengan Hinata yang tinggal di sebelahnya.
"Menginap disini lagi Naruto-kun ?"
Sapa Hinata ramah.
"Hn."
Hinata terkejut mendengar dua konsonan aneh yang diucapkan Naruto dengan nada dingin. Kemana perginya Naruto ceria yang dikenalnya.
"apa kau sakit ?"
Tanya Hinata cemas. Naruto menggeleng lemah.
"Tinggalkan aku sendiri."
Setelah itu Naruto menghilang dari balik pintu apartemennya, menyisakan Hinata yang memandang nanar kearah pintu apartemen itu.
"ARGH ! BR*NGSEK !"
prang
Iris lavender Hinata membola, apa yang dilakukan Naruto didalam.
"Na-Naruto-kun."
Bisiknya memanggil Naruto dengan suara bergetar.
"Dasar Teme brengs*k ! Aku membencimu !"
Hinata mengeratkan pegangannya pada kenop pintu apartemen Naruto.
"Hiks... apa aku salah ? Hiks apa mencintaimu itu adalah sebuah kesalahan hiks JAWAB ! CEPAT JAWAB BRENGS*K !"
Naruto menangis, hal yang aneh bagi Hinata, setahunya Naruto adalah sosok yang periang dan tidak pernah menangis, bahkan saat orang tuanya tidak datang di pesta ulang tahunnya, dia tetap bisa tertawa lepas bersama dengan teman-temannya. Tapi kenapa dia menangis sekarang, beban berat apa yang dipikul pundak kecilnya.
kriet
Tanpa permisi Hinata masuk kedalam apartemen Naruto. Berantakan, kesan pertama itulah yang melekat pada kondisi apartemen Naruto sekarang. Perabotan yang berserakan, pecahan kaca dimana-mana, juga jangan lupakan sosok Naruto yang duduk meringkuk di pojok apartemen.
"Na-Naruto-kun."
nyut
Sakit melihat sosok yang kau cintai terlihat lemah seperti ini.
Tap tap tap
Hinata berjalan mendekat, dengan ragu dia duduk di hadapan Naruto yang menatapnya dengan tatapan kosong. Tangan porselen Hinata mengelus lembut pucuk rambut Naruto, membuat Naruto memandang heran kearahnya.
"Hi-Hinata ?"
Panggilnya dengan suara serak. Ne Naruto-kun wajahmu terlihat aneh saat kau menangis seperti ini.
"Tenanglah, aku disini."
Deg
Safir Naruto membola, dia merasa ini seperti sebuah de javu. Dia yakin ini bukan pertama kalinya dia mendengar kalimat Hinata itu, dia pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, tapi kapan dan dari siapa dia mendengarnya. Entahlah.
"Tenanglah Naru-chan, Aku disini. Aku akan melindungimu."
Naruto menunduk dalam-dalam, mencoba mengingat dimana dia pernah mendengar kalimat itu. Tapi gagal, tidaka da satupun yang diingatnya. Hanya suara anak kecil yang bergema di kepalanya.
"Naruto-kun ?"
Panggil Hinata cemas.
Naruto mendongak, ditatapnya Hinata dengan pandangan meneliti.
"Bantu aku. Kumohon."
Hinata bisa melihat tatapan putus asa yang terpancar jelas dari kedua safir Naruto.
"Aku akan membantumu sebisaku Naruto-kun."
Naruto tertawa hambar, sebelum akhirnya Naruto menyentuh tengkuk Hinata dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.
chuu~
Iris lavender Hinata membulat saat bibir Naruto bertemu dengan bibirnya, perasaan hangat itu kini menyelimuti dada Hinata, dia tidak pernah menyangka Naruto akan merebut ciuman pertamanya, haruskah dia senang, tentu saja dia senang. Tapi mengingat kelainan seksual Naruto membuat Hinata ragu, dia takut untuk mengakui bahwa dia hanyalah pelampiasan untuk Naruto, rasanya terlalu menyakitkan. Hinata tahu Naruto menyukai Sasuke yang merupakan sepupunya, tapi dia tetap saja nekat menyukai Naruto, berharap suatu saat Naruto akan memandangnya, namun saat Naruto benar-benar memandangnya seperti sekarang entah kenapa perasaan ragu itu kembali menyelimuti dadanya. Dia takut, sangat takut jika suatu saat kesempatan yang di dapatnya hari ini menghilang begitu saja, dan dia hanya akan menyandang kata 'pelampiasan' yang jelas-jelas menyakiti hatinya. Tapi biarlah dia bertindak egois untuk kali ini saja, ya untuk sekali ini saja.
Naruto menangis di sela-sela ciuman mereka. Perasaan bersalah menghantamnya tanpa ampun. Maafkan aku Hinata. Kumohon, Kumohon bantu aku Hinata, bantu aku untuk menjadi straight. Naruto meringis mengingat betapa jahatnya dia yang mengorbankan Hinata untuk kepentingannya sendiri, kau menyedihkan Naruto.
TBC
