Chapter 7 : Tou-san
Note : Di chap ini masih menceritakan tentang kehidupan Itachi di masa lalu, tapi alur ceritanya bukan flashback loh ya, Cuma alurnya jadi maju mundur, nah di chap ini akan dibongkar alasan kenapa Itachi sangat menyayangi kaa-sannya dan langsung mengidap skizofrenia setelah melihat kaa-sannya meninggal.
...
Peluh itu menghiasi wajah tampannya, kepalanya menggeleng tidak nyaman, bibirnya bergumam tidak jelas, juga jangan lupakan dahinya yang berkerut dan wajahnya yang pucat pasi. Mimpi buruk eh.
"kaa-san."
Kelopak matanya terbuka, menampilkan sepasang onyx yang kini terlihat redup. Tangan porselennya mengusap kasar wajah pucatnya. Mimpi buruk lagi, padahal sudah lama dia melupakan tentang sosok kaa-san yang dulu selalu di pujanya itu, setelah kematian kaa-san dia seperti kehilangan arah untuk hidupnya, dia merasa gagal. Gagal dalam segala hal, ya dia hanya seorang yang gagal, itulah yang slelau dia tanamkan di kepalanya.
"Tou-san gomen, aku tidak bisa menepati janjiku, aku gagal Tou-san, aku gagal."
Gumam Itachi sambil meletakkan tangan kirinya diatas dahi. Mencoba mengingat lagi janji yang pernah dibuatnya jauh sebelum semua kegagalan ini terjadi. Janji yang tidak akan pernah bisa dia tepati lagi karna dia telah gagal, dan tidak ada kesempatan kedua untuk menebus kegagalannya tersebut.
"Itachi dengarkan tou-san."
Bocah berumur tujuh tahun itu mengangguk, menatap laki-laki dewasa di depannya dengan penuh tanda Tanya.
"kau memang anak yang cerdas, tou-san bangga padamu."
Laki-laki dewasa itu mengacak gemas pucuk rambut si bocah, membuat bocah itu memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti apa yang diucapkan oleh laki-laki dewasa itu. Terlalu bertele-tele, dan dia tidak suka itu.
"jadi tou-san mau bicara apa ? sepertinya penting."
Laki-laki dewasa itu mengeluarkan sebuah kertas dari balik jas yang dipakainya dan memeberikannya pada bocah tersebut.
"Tou-san akan pergi."
Bocah itu menatap laki-laki dewasa itu dengan pandangan tidak percaya, kenapa laki-laki itu harus pergi. Apa dia tidak lagi mau menjadi ayahnya dan karna itulah dia memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Apa benar begitu.
"kenapa tou-san pergi ? apa tou-san tidak mau jadi tou-sanku lagi ?"
Laki-laki dewasa itu tertawa mendengar pertanyaan putranya tersebut. Kau memang anak yang cerdas itachi.
"bukan bagitu, justru Itachilah yang pasti tidak akan mau memiliki tou-san seperti tou-san lagi."
Bocah itu mengerutkan keningnya. Kapan dia bicara seperti itu.
"aku tidak pernah berpikir begitu ? apa tou-san ingin membohongiku, maaf aku tidak akan tertipu."
Entah untuk keberapa kalinya laki-laki dewasa itu tertawa melihat tingkah Itachi yang menurutnya kekanakan tapi juga kritis. Benar-benar keturunan Uchiha.
"Tou-san tidak membohongimu kok, jadi begini Tou-san akan menjadi buronan polisidalam waktu dekat, karna itulah tou-san terpaksa harus pergi, tou-san tidak mau kalian ikut terlibat di masalah tou-san. Apa kau mengerti ?"
Bocah itu menggeleng. Apa maksudnya tou-san ingin melarikan diri dari tanggung jawab. Lagi pula sejak kapan tou-san tahu kalau dia akan menjadi buronan polisi. Ini sangat aneh dan tidak masuk akal, begitulah pemikiran Itachi kecil saat itu.
"kenapa tou-san harus menjadi buronan polisi ? apa yang sudah tou-san lakukan ?"
Kadang kecerdasan Itachi itu sedikit berlebihan untuk anak seusianya.
"Tou-san bergabung dengan organisasi bawah tanah, dan kali ini tou-san mendapatkan tugas untuk mencuri sebuah berlian langka yang disimpan di museum konoha, dan jika tou-san tertangkap maka kalian juga pasti akan ikut terlibat bersama tou-san. Tou-san tidak mau hal itu terjadi."
Bocah itu tanpa di duga langsung menampar laki-laki dewasa itu dengan ekspresi datar, tidak ada raut penyesalan setelah kelakuannya yang sangat tidak sopan tersebut, ekspresinya benar-benar datar.
"apa yang kau lakukan Itachi ? kenapa kau menampar tou-san ?"
Laki-laki dewasa itu terlihat emosi.
"apa kau bodoh ? kenapa kau harus bergabung dengan organisasi bawah tanah sialan itu dan meninggalakan kami ? apa menurutmu organisasi sialan itu lebih penting di banding dengan kaa-san dan aku ? kau menyedihkan tou-san."
Laki-laki dewasa itu terdiam, benar dia memang menyedihkan, tapi andai saja Itachi tahu alasannya bergabung dengan organisasi itu demi untuk menyelamatkan dua orang yang sangat berarti untuk hidupnya, apa dia tatap akan mengatakan hal tersebut. Entahlah.
"tou-san tahu, tou-san memang menyedihkan. Karna itulah tou-san harus pergi. Dan tolong bawa kaa-sanmu pergi meninggalkan kota ini, bawa dia sejauh mungkin, sejauh yang kau bisa. Jaga dia baik-baik Itachi, aku mengandalkanmu. Dan satu hal lagi, jangan menghubungiku di waktu dekat ini. Ingat, aku mengandalkanmu Itachi."
Bocah itu tida menjawab, tidak peduli saat laki-laki dewasa itu kini telah berlalu pergi meninggalkannya. Jadi dia benar-benar pergi.
"kau benar-benar bodoh tou-san !"
Runtuk itachi sambil memandang sayu sebuah kertas usang yang kini berada di genggaman tangannya. Dia meremas surat itu hingga kertas itu benar-benar menjadi gumpalan kertas usang yang siap untuk di buang kapan saja. Kertas yang terakhir kali diberikan tou-san padanya, kertas yang membuatnya tahu bahwa semua ini terjadi karena kesalahannya.
"kenapa kau tidak pernah bilang kalau ini semua adalah salahku ?"
Itachi menundukkan kepalanya, dia adalah penyebab semua masalah ini, tapi dia dengan bodohnya menuduh tou-sannya yang melakukan semua ini tanpa alasan yang jelas. Kau benar-benar naïf Itachi. Melemparkan kesalahanmu pada orang lain dan membersikan tanganmu dari kesalahan yang sudah kau perbuat, apa kau sadar tentang itu semua.
"silahkan mengisi biaya administrasi di meja resepsionis."
Ucap seorang suster pada laki-laki dewasa yang tampak panic tersebut.
"itu bisa saya urus nanti suster, sekarang nyawa istri dana anak saya yang lebih penting."
Suster itu menggeleng.
"tapi ini prosedur di rumah sakit ini, pasien tidak akan ditangani sampai keluarga pasien membayar biaya administrasi."
Laki-laki itu menyerah, dengan gontai dia melangkah menuju meja reseosionis. Nyawa istri dan anaknya di pertaruhkan sekarang.
"kenapa bisa semahal ini ?"
Protes laki-laki itu saat melihat banyaknya nominal yang tercetak di kertas tagihannya.
"itu semua termasuk biaya persalinan cesar dan perawatan bayi di dalam incubator."
Laki-laki itu mengacak surai ravennya, dari mana dia bisa mendapat uang sebanyak itu.
"akan kulunasi semuanya."
Suara seorang laki-laki membuat laki-laki dewasa itu menoleh, apa dia tidak salah dengar, orang asing ini akan membantunya melunasi semua tagihannya, yang benar saja, memang sekaya apa dia itu.
"baiklah semua tagihan anda sudah lunas Uchiha-san."
Laki-laki dewasa itu hanya mengangguk kaku. Pasti orang asing ini punya maksud lain. Ya, dia yakin itu, tidak mungkin laki-laki berwajah ular itu tulus membantunya, tapi apapun yang terjadi dia harus menanggung resikonya, ini demi menyelamatkan anak pertamanya yang akan segera lahir sebentar lagi.
"ini tidak gratis loh Uchiha-san."
Laki-laki dewasa itu mengangguk pasrah. See, tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini. Terlebih lagi laki-laki berwajah ular ini.
"apa maumu ?"
Laki-laki asing itu terkekeh pelan.
"kau harus menjadi anak buahku."
Menjadi anak buahnya, yang benar saja, hell no siapa juga yang mau menjadi anak buah laki-laki asing yang wajahnya mirip ular itu. Tapi kalau aku menolak, dia pasti akan menghancurkan hidupku. Oh tuhan, kenapa aku harus berurusan dengan manusia ular ini.
"kalau aku tidak mau !"
laki-laki asing itu menyalakan batang rokoknya, menghisapnya dalam-dalam lalu mengeluarkan asapnya tepat di wajah kepala keluarga uchiha tersebut.
"gampang saja, besok kau akan menerima paketan potongan tubuh perempuan dan bayi yang masih merah. Ingat Uchiha nyawa istri dan anakmu ada ditanganku."
Sial, dia menjadikan istri dan anakku untuk ancaman. Kalau sudah begini tidak ada pilihan lain selain –
"baiklah aku akan menjadi anak buahmu, kau puas ?"
Laki-laki asing itu menepuk pundak si kepala keluarga Uchiha.
"well itu keputusan yang tepat Fugaku."
Dari mana dia tahu namaku.
Kalau saja waktu itu kaa-san tidak melahirkanku secara premature mungkin sekarang kalian tidak akan memiliki anak yang gagal sepertiku. Kalian akan hidup bahagia dan tidak akan terpisahkan. Dan kau tidak akan terlibat dengan organisasi bawah tanah sialan itu. Tapi bukankah penyesalan itu selalu datang terlambat.
Tok tok
Kriet
"Itachi apa kau sibuk ?"
Kepala Sasuke menyembul dari balik pintu kamar itachi.
"tidak, masuklah."
Tidak lama, kini Sasuke sudah duduk di kursi yang berada di samping kasur Itachi. Sorot mata Sasuke menandakan kalau dia ingin membahas masalah yang serius dengannya.
"Aku sudah menerima laporan dari Shikamaru tentang perampok yang menyerangmu saat itu."
Perampok, saat itu. Jangan bilang kalau selama ini Sasuke masih menyelidiki kejadian saat itu. Yang benar saja, kenapa dia tidak tahu masalah ini.
"kupikir kau tidak akan mau menyelidikinya."
Sasuke mengangkat bahunya acuh.
"kau pikir aku akan membiarkan pembunuh kaa-san dan pembunuh Itachi hidup bebas begitu saja ?"
Itachi tertawa geli, sejak kapan Sasuke menjadi emosional seperti sekarang.
"hei aku masih hidup tahu !"
Sasuke mendengus kesal. Jangan bilang baka anikinya itu lupa dengan masa lalunya sendiri.
"untuk saat ini memang iya kau hidup, tapi dulu kau selalu memanggil dirimu sendiri Sasuke. Lalu apa itu tidak bisa kusebut dengan Itachi sudah mati ?"
Apa dia masih kesal dengan kejadian itu, hei aku juga tidak mau punya penyakit aneh itu, tapi aku juga tidak bisa menolak saat suara itu tiba-tiba saja menggema di kepalaku. Itu benar- benar di luar kendaliku.
"baiklah kau menang. Jadi siapa pencuri sialan itu ?"
Sasuke menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Itachi.
"uso ! ini pasti bohongkan ?"
Sasuke menghampiri Itachi dan ikut membaca isi dari amplop tersebut.
'Pelaku utama tanpa alibi : Fugaku'
"siapa Fugaku ? kau mengenalnya ?"
Jadi, tou-san yang telah-
"apa kau yakin kalau Shikamaru tidak salah orang ?"
Sasuke menggeleng. Itu adalah hal yang mustahil, mengingat kecerdasan si laki-laki nanas itu yang diluar batas manusia normal.
"apa Shikamaru tahu nama belakang Fugaku ?"
Lagi-lagi Sasuke menggeleng. Seingatnya tidak ada bukti yang konkrit yang dapat mendukung Shikamaru untuk mengungkap nama belakang Fugaku. Semuanya seperti sudah dimanipulasi oleh seseorang yang dia sendiri tidak tahu siapa.
"oke ! dengarkan aku, lupakan masalah ini, jangan pernah mencari tahu siapa Fugaku itu sebenarnya. Kau mengerti ?"
Sasuke tetap menggeleng. Kenapa dia tidak boleh tahu siapa itu Fugaku, apakah dia orang yang berbahaya, atau mungkin ini ada hubungannya dengan Itachi. Entahlah, diapun tidak yakin dengan hipotesisnya sendiri. Semuanya terlalu ambigu untuknya.
"kau mengenal Fugaku ?"
Setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Sasuke, saat itu jugalah Itachi langsung pergi meninggalkannya dengan ekspresi yang cukup menyeramkan. Bahkan Sasuke sendiri ikut dibuat merinding dengan hawa yang dikeluarkan oleh Itachi.
"siapa Fugaku itu ?"
….
"kita perlu bicara."
Laki-laki dewasa itu mengerutkan keningnya, siapa anak ingusan ini, pikirnya. Tiba-tiba menghadang jalannya lalu memaksanya ikut dengannya, apa anak ini tidak diajari sopan-santun oleh orang tuanya.
"kau siapa ?"
Itachi menghela nafas berat, jangan bilang laki-laki itu lupa dengan anaknya sendiri.
"Itachi."
Onyx laki-laki itu membola, benarkah dia Itachi bocah yang dulu selalu dia banggakan itu. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi laki-laki yang tampan dan gagah, benar-benar Uchiha sejati.
"tou-san merindukanmu nak !"
Laki-laki dewasa itu memeluk Itachi dengan erat, bahkan tubuhnya sangat kokoh, kemana perginya tubuh kecil Itachi saat berusia tujuh tahun itu. Memikirkannya membuat laki-laki dewasa itu tertawa sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan wajah putra kesayangannya itu.
"bagaimana keadaan kaa-san ? apa dia sehat ? tou-san sangat ingin bertemu dengannya."
Itachi mengeram marah saat laki-laki dewasa itu dengan bodohnya bertanya bagaimna keadaan kaa-san sedangkan dia sendiri yang sudah membunuhnya.
"Dia sudah tenang di alamnya."
Laki-laki itu mentap bingung kearah Itachi. Tenang dialamnya, apa maksudnya.
"apa maksudmu ?"
Itachi meninju perut laki-laki dewasa itu. Membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang sambil memegangi perutnya.
"dia sudah mati."
Tidak mungkin, katakan kalau anaknya itu berbohong, dia pasti bercanda kan. Kenapa Mikoto bisa mati secepat ini, dia bahkan belum bisa bertemu lagi dengannya semenjak dia ikut bergabung dengan organisasi bawah tanah ini dan menjadi buronan polisi.
"tidak mungkin. Bagaimana bisa kau membiarkannya mati ? bukankah aku memintamu untuk menjaganya ?"
Itachi menggertakan giginya. Cukup sudah, sampai kapan tou-san akan pura-pura tidak tahu.
"lalu bagaimana jika kau sendiri yang membunuhnya ? apa aku harus membunuhmu juga untuk melunasi janjiku."
Uso, tidak mungkin aku membunuh istriku sendiri, aku sangat mencintainya, tidak mungkin aku yang membunuhnya. Tunggu, jangan bilang kalau wanita yang saat itu adalah-
"sudah ingat eh ?"
Laki-laki itu menggeleng keras. Ini tidak mungkin. Saat itu dia hanya ingin menjalankan rencananya untuk menguras harta sebuah rumah mewah yang dia pilih secara acak untuk melunasi hutangnya pada laki-laki ular itu, lalu dia bisa berkumpul lagi dengan keluarga kecilnya. Hanya itu saja, tapi dia tidak menyangka bahwa dialah yang menghancurkan rencananya sendiri. Dia yang membuat Itachi mengingkari janjinya dan sekarang harus hidup seorang diri, ayah macam apa dia ini.
"darimana kau tahu ?"
Suara laki-laki itu bergetar. Rasanya sesak sekali sampai sulit untuknya bisa bernafas.
"putra bungsumu yang memberitahuku."
Putra bungsu, tunggu bukankah dia dan Mikoto hanya memiliki Itachi atau jangan bilang kalau –
"kau punya adik?"
Itachi melangkah pergi tanpa berniat menjawab pertanyaan laki-laki itu. Tapi akhirnya sebelum dia benar-benar menghilang dari gang sempit itu dia sempat menggumamkan sesuatu.
"namanya Sasuke."
Sasuke memandang Sakura yang sedang asik memakan ramen rasa pedas di meja makan, tidak biasanya istrinya itu suka pada makanan berlemak seperti itu.
"Sasuke-kun aku ingin pizza."
Rengek Sakura sambil memasang puppy eyes andalannya, Sasuke hanya mengangguk lalu mulai memencet beberapa digit nomor di ponselnya.
"aku pesan piz – "
Sret
"apa yang kau lakukan Sakura ?"
Sasuke mendelik tajam kearah Sakura yang entah kenapa langsung merebut ponselnya secara paksa.
"aku gak mau makan pizza delivery, aku mau Sasuke-kun yang membelinya sendiri."
Great. Sejak kapan Sakura menjadi kekanakan seperti ini.
"baiklah, kau tunggu di rumah. Jangan membuka pi –"
Sakura memutar bola matanya bosan.
"Ya ya, jangan membukakan pintu untuk orang asing, jangan lupa mengunci jendela, aku tidak mau kau kenapa-kenapa. Ayolah Sasuke-kun kau sudah mengulang kalimat itu ribuan kali. Apa kau tidak bosan ?"
Sasuke tidak menjawab, apa memang dia terlalu berlebihan pada Sakura.
"baiklah aku pergi."
Sret
Sakura menarik ujung baju Sasuke, membuat si raven menoleh kearahnya. Sekarang apa lagi.
"ada ap –"
Sasuke membatu, tepat saat Sakura menempelkan bibirnya di bibir Sasuke.
"cepatlah pulang 'kami' menunggumu di rumah."
Otak Sasuke masih meloading makna kalimat Sakura yang menurutnya sedikit ganjal, hei kemana perginya otak cerdasnya itu, kenapa dia berubah menjadi bodoh seperti ini saat berhadapan dengan Sakura.
"kami ?"
Benar kata itu yang sedikit aneh menurutku.
"uhm."
Sakura mengelus perut ratanya. Jadi Sakura –
"hamil ? berapa bulan ? apa yang kau rasakan ? apa kau mual setiap pagi ? ah bagaimana ini kenapa aku tidak tahu kalau kau hamil."
Sakura memang selalu bisa membuat Sasuke menjadi Out of character seperti ini.
"baru tiga bulan, aku juga baru tahu kemaren kok. Tenang saja aku tidak mengalami morning sick, Cuma nafsu makanku jadi bertambah, bagaimana ini ? kalau aku gendut gimana ?"
Pletak
Sasuke menjitak kening Sakura gemas.
"jangan pedulikan berat badan, pedulikan kesehatanmu dan bayi kita."
….
Surai kuning jambrik, tiga tanda kumis kucing, badan pendek, wajah manis, tidak salah lagi dia pasti Naruto, teman kecil Sakura.
"Naruto !"
Panggil Sasuke saat melihat si pirang baru saja keluar dari toko bunga. Di tangannya terdapat beberapa ikat bunga lavender.
"Sasuke ?"
Panggil Naruto tidak percaya, kenapa si raven itu ada disini.
"kau kemana saja ? Sakura selalu merengek ingin bertemu denganmu."
Sakura, si gadis musim semi itu. Kalau dipikir-pikir memang aku tidak pernah lagi mengunjunginya.
"gomen, aku sibuk. Oya bagaimana keadaan Sakura-chan ?"
Si raven tersenyum penuh arti.
"dia hamil, sudah tiga bulan."
Naruto ikut tersenyum. Tidak ada lagi rasa yang tersisa untuk laki-laki di hadapannya ini, dia sekarang lebih focus pada perasaannya pada Itachi, walaupun drama ini belum selesai dan dia masih harus bersama dengan Hinata tapi dia sudah membuat keputusan bahwa dia juga butuh kehidupannya, dia tidak mungkin terus hidup di dalam permainan drama ini selamanya bukan. Pretending can hurt you so much. Mungkin karna itulah dia memutuskan untuk menentukan sendiri jalan hidupnya.
"syukurlah, aku senang mendengarnya."
Sasuke memandang bunga lavender yang ada di tangan si pirang.
"oh ini, aku ingin menjenguk seseorang dan kebetulan dia sangat menyukai bunga lavender."
Sasuke mengangguk.
"Mampirlah kerumah, Sakura pasti senang saat kau datang."
Naruto tertawa canggung.
"maaf, mungkin setelah ini aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan kalian ?"
Karna aku sudah membuat keputusan.
"maksudmu ?"
Naruto menggaruk tengkuknya.
"tidak ada maksud apapun, aku hanya ingin berpamitan. "
TBC
Bocoran next chap :
"Naruto-chan akhirnya kamu datang juga."
"kau sudah berjanji akan bertanggung jawab ! sekarang tepati janjimu !"
"Hinata ?"
"Dari mana kau menemukan kamera itu ?"
"sejak kapan kau bisa menggunakan kamera ?"
"kalau kau bertemu dengannya, katakan kalau aku sangat merindukannya."
Cuap cuap author :
Tehee author gaje balik lagi nih *nabur bunga*
Krik krik krik krik
Oke, di chap ini juga termasuk penjelasan tentang identitas si perampok, gimana ? aneh ya ? kesannya kayak dipaksain gitu. Maklum moya baru kepikiran tentang identitas si perampok waktu ada yang nyebutin itu di kolom review, makasih banyak loh udah diingetin. Hehe author udah selesai ngoding loh #gak_nanya *pundung* do'ain ya supaya author kagak revisi. Karna itulah author bisa update kilat untuk chap 7.
Nah buat yang nanya kronologis lengkap pencurian Fugaku di rumahnya sendiri tenang, itu akan moya ceritain di dalam satu chap kok, tapi moya juga bingung di chap berapa #plak hehe maklum authorkan gaje gaje gitu khekhe
oya jangan Tanya end chap berapa ya, soalnya moya juga gak bisa mastiin #dikeroyok
Nah, ada yang bisa nebak gak maksud dari Naruto yang bilang kalau dia udah buat keputusan itu gimana ? atau malah ada yang bisa nebak siapa yang mau dijenguk sama Naruto ? atau nebak siapa si manusia ular itu ? #udah_jelas_kali
Oya satu lagi, reader-san yang Author sayangi #Azeek jangan ditiru ya sikap Itachi ke tou-sannya itu contoh anak yang tidak baik loh, author bikin Itachi kayak gitu juga karna tuntutan cerita, tapi bukan niat untuk ditiru loh. #sok_bijak
Oke, segitu aja see you next chap !
