Kokona tengah bersenandung sambil mengayunkan lengannya yang membawa sebuah bingkisan. Ia baru saja dari kantor Schale menemui Sensei perihal keperluan Shanhaijing serta keinginannya sendiri untuk bertemu Sensei setelah lama tak bertemu. Mau bagaimanapun, Sensei memang selalu menempatkan dirinya di situasi-situasi yang beragam. Kokona kagum, dan kadang gelisah. Dirinya yang ingin cepat-cepat dewasa, karena di bayangannya serasa menyenangkan, menimbulkan tanda tanya di pikirannya apakah kenyataan seindah itu. Ia pun menggeleng untuk membuyarkan pikiran suramnya. Lagipula, seperti yang dikatakan Sensei, orang dewasa pun berbeda-beda, jadi jangan terlalu pusing memikirkan sesuatu yang masih jauh bagi Kokona. Mengingat itu, Kokona menggembungkan pipinya. Sebuah pemandangan yang membuat orang yang melihat ingin mencubitnya karena menggemaskan.

"Stasiun arahnya … ke sini."

Ia berjalan menuju stasiun untuk naik kereta pulang. Matahari masih di atas kepala, dan cukup ramai orang-orang beraktivitas. Kokona tidak terlalu memperhatikan kehidupan di luar distrik Shanhaijing, jadi ia tidak begitu paham situasi Kivotos di tempat lain.

"Kuharap aman-aman saja lewat sini."

Kokona kebetulan melewati jalan yang berbeda dengan jalannya berangkat tadi karena awalnya ia bertemu dengan Sensei di luar sebelum ke kantor. Setelah berjalan beberapa lama, ia melihat ada taman di sisi jalan.

"Wah, ada taman yang luas. Lebih luas dari taman kecil di dekat Plum Blossom Garden."

Kokona hendak memasuki taman itu, tetapi terhenti oleh pesan Shun di ingatannya.

'Selesai urusan dengan Sensei, langsung pulang.'

Matanya lesu melihat taman yang tampak cantik itu. Dengan gontai, ia beranjak pergi. Akan tetapi, telinga mungilnya naik mendengar suara jingle penjual es krim.

"Es krim?"

Kokona cepat memutar tubuhnya dan melihat gerobak es krim berhenti tidak jauh dari pintu masuk taman. Di hari terik seperti ini, rasanya ingin mendinginkan diri apalagi jatah es krim minggu ini sudah dihentikan Shun.

"Y-ya…mumpung ada yang jual, dan aku masih punya uang jajan. Aku beli satu saja, baru pulang. Ya."

Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak melakukan tindakan yang salah, Kokona dengan riang menghampiri penjual es krim. Senyumnya merekah dan telinganya menari-nari melihat es krim coklat, vanila, dan stroberi ditumpuk rapi oleh penjualnya di atas cone.

"Adik manis, ini es krimnya."

"Terima kasih!"

Kokona menjilati es krim itu sambil duduk di bawah pohon rindang. Jarang-jarang ia bisa bersantai sejenak. Melihat awan-awan di langit yang bentuknya seperti hewan, ia jadi teringat buku bergambar yang ia tunjukkan pada anak-anak di Plum Blossom Garden.

"Anak-anak yang berisik, dan tidak mau menurut. Biar begitu, mereka manis sekali saat diam dan tidur. Hehehe."

Ia bicara seperti, tapi sebenarnya ia pun bangga jika mereka dapat nilai bagus dalam mengerjakan tugas. Biasanya setelah itu mereka bermain bersama sampai lelah dan tertidur. Hanya saja, ia justru ikut tertidur setelah menidurkan semuanya.

"Kak Shun juga…bukannya membangunkanku, malah menyelimutiku. Habis itu aku jadi ditertawakan…"

Ia menggembungkan pipinya lagi, sebelum menghela napas dan lanjut menjilati es krimnya. Melihat jam di taman, ia buru-buru berdiri.

"Gawat! Aku bisa terlambat pulang!"

Ia berjanji akan sampai rumah sebelum matahari terbenam, dan perjalanan ke Shanhaijing akan memakan waktu yang lama. Ia bergegas meninggalkan taman, tetapi teriakan seseorang menghentikannya secara spontan.

"BERHENTI!"

Peluru melesat dari arah kiri hingga meruntuhkan menara es krim miliknya. Kokona mematung, syok dan bingung.

"Hei jangan lari! Tembak!"

Deretan peluru beterbangan ke arah Kokona…yang sebenarnya diarahkan kepada orang yang tengah menerjang Kokona.

"KYAA!"

"Maaf!"

Seorang gadis berambut hitam panjang dengan masker menyambar Kokona dan berlari menjauh setelah melemparkan bom asap. Berandalan yang menembakinya tadi berniat menembak lagi, tapi berhenti karena asapnya terlalu tebal dan setelah penglihatan kembali normal, mereka sudah lenyap.

"Dia pasti belum jauh! Temukan!"

"Kita akan buat dia membayar semua ulahnya selama ini! Jangan harap kau bisa selamat kali ini!"