Moment#1; My Valentine.

Jeon Jungkook x Kim Taehyung

"Hei, Kim. Apa kau tidak pernah sadar kalau aku, well, jatuh cinta kepadamu?"

"MATI SAJA KAU JEON!"

Moment #1, Started.

Taehyung POV

Aku mendesah berat.

Jalanan hari ini dipenuhi dengan balon-balon pink atau merah dengan banner besar-besar bertuliskan Happy Valentine Day dan semacamnya. Para pasangan pun memenuhi seluruh sudut kota sambil bergandengan, berangkulan, berpelukan, maupun berciuman.

Aku bisa dibilang menjalani hari yang berat hari ini. Karena hari ini Hari Valentine.

Bukannya aku iri karena aku tidak punya kekasih seperti orang lain. Bukan juga kecewa karena tidak mendapatkan hadiah romantis seperti bunga atau coklat dari orang yang disayangi. Sungguh bukan.

Aku bukanlah orang yang tidak punya teman. Aku termasuk golongan orang yang pandai bergaul dan memiliki relasi disana-sini. Aku dikenali dan disukai oleh banyak temanku. Kontak di ponselku bahkan jumlahnya mungkin hampir seribu.

Aku tidak pernah merasa canggung ketika berada di tengah-tengah orang lain, karena mereka akan cepat menangkap sifat easy going yang kumiliki dan langsung menyukaiku.

Tapi aku baru menyadari satu hal hari ini.

Di samping itu semua, aku tidak memiliki satupun di antara mereka yang benar-benar menyayangi dan memikirkanku.

Aku boleh saja mendapatkan teman dengan mudah di lingkungan baru, selalu diundang tiap ada acara sosial manapun, memiliki teman-teman yang berbeda saat di kelas dengan ketika duduk di kantin. Aku dijuluki School's Darling dan disukai banyak orang, dan hal itu membuatku seakan mendapat banyak cinta.

Nyatanya? Tidak.

Di hari kasih sayang seperti sekarang, barulah terlihat bahwa aku bukanlah orang yang paling penting dalam hidup seseorang.

Hari ini, semua orang kembali kepada orang yang benar-benar dikasihinya. Seseorang atau orang-orang yang sungguh-sungguh mereka cintailah yang mereka perhatikan hari ini, bukannya seseorang yang populer yang mereka puja di sekolah. Seharusnya aku juga punya. Tetapi ironisnya, orang yang banyak disukai seperti aku malah tidak memilikinya.

Ah, tapi memangnya aku siapa? Hanya Kim Taehyung yang Ramah dan Menyenangkan.

Dengan siapa Taehyung si Populer akan menghabiskan Valentine kali ini? Tidak ada yang peduli. Semua orang memiliki urusannya dengan yang dikasihi masing-masing, dimana aku tidak memiliki seseorang seperti itu dalam hidupku.

Orang tua?

Aku dibesarkan oleh nenekku yang sekarang sudah meninggal. Jadi, yah.

Teman?

Aku punya teman. Tapi hanya sekedar "teman" dalam artian umum, bukan "teman" dalam artian khusus. Mengerti? Tidak.

Yah, intinya aku tidak memiliki teman sungguhan, hanya orang-orang yang peduli padaku karena kepopuleranku saja. Soal kehidupanku? Mereka tidak mau repot-repot untuk mencari tahu.

Sekali lagi aku mendesah berat dan mulai melangkahkan kakiku di atas tumpukan salju yang tebal dan dingin. Bagus sekali, udara sangat dingin sekarang dan aku tidak punya siapa-siapa untuk dipeluk. Sungguh hari yang menyenangkan.

Aku ingin pulang, tapi tidak ada siapapun di rumah yang akan menyambutku selain dinding dan lantai yang dingin. Jadi aku hanya berjalan tanpa arah di Jalan Myeongdong yang ramai oleh para pasangan dan keluarga yang sedang merayakan hari cinta bersama.

Langit sudah mulai gelap. Sekelilingku terlihat mulai temaram, lampu-lampu jalan mulai menyala. Namun hal itu sepertinya tidak menyurutkan antusiasme para pejalan kaki yang sedang bahagia itu.

BRUK!

Ah, menyebalkan. Kenapa aku harus terpeleset sih? Kan hidupku jadi tambah menyedihkan kalau seperti ini. Sudah sendirian, tidak punya keluarga dan teman, terpeleset salju lagi.

Parahnya, tidak ada tangan-tangan yang membantuku berdiri.

Sana, tinggalkan saja aku sendiri. Bahagialah kalian bersama orang-orang di samping kalian saat ini. Jangan sampai terjatuh seperti aku. Aku hanya seseorang yang terlihat sempurna dengan hidup yang hampa.

Aku benci menangis. Apalagi di depan orang banyak, dijadikan bahan tontonan pula. Memangnya manusia zaman sekarang tidak ada yang punya hati ya untuk sekedar membantuku berdiri?

"Ah, siapa ini? Kim Taehyung si primadona sekolah menangis di tengah salju pada hari kasih sayang?"

Siapa? Aku mendongak. Sepertinya aku mengenal suaranya.

Jeon Jungkook?! Sudah, habislah aku. Kenapa dia orang ini muncul di saat yang menyebalkan sih? Orang ini sepertinya benar-benar ditakdirkan untuk menghancurkan harga diriku.

Oh, nasibku. Kenapa aku dilahirkan dengan nasib yang buruk sekali. Pertama, aku tidak punya keluarga. Kedua, aku tidak punya teman. Ketiga, aku terjatuh di tengah salju. Keempat, tidak ada yang peduli padaku. Lalu sekarang, Jungkook musuh abadiku muncul dan menertawakan hidupku.

Aku benar-benar tidak peduli lagi. Masa bodoh jika Jungkook akan benar-benar menghancurkan hidupku, aku tidak peduli lagi.

Jadi aku menangis sekeras yang aku bisa. Menahannya pun tidak ada gunanya, hidupku sudah berantakan semenjak lelaki menyebalkan itu muncul dalam hidupku.

"H- hei! Kenapa menangi- YA! Berhenti menangis kau kecil sialan, apa masalahmu bodoh?" Jungkook tiba-tiba kerepotan saat aku menangis kencang. Cih, memang apa pedulimu, Jungkook? Bukankah seharusnya kau senang melihatku jatuh seperti ini?

Masa bodoh dengan Jungkook, aku hanya butuh menangis dengan keras saat ini. Saat emosiku sudah tidak terbendung lagi, dan aku lelah dengan semuanya. Tidak peduli dengan wajahku yang mungkin sangat jelek ketika aku menangis.

Aku tidak peduli, kukatakan sekali lagi, aku tidak peduli.

"Memang makhluk paling sialan kau Kim. Tsk, merepotkan saja," dengus Jungkook kasar.

Tanpa kuduga, bukannya pergi meninggalkanku, Jungkook malah meraih tubuhku, lalu mengangkatku tinggi-tinggi ke atas gendongannya.

Apa-apaan ini, Jungkook menggendongku dengan gaya seperti pengantin alih-alih meninggalkanku sendiri dan menertawai nasibku, apa dunia sudah terbalik?!

"Setidaknya kalau hidupmu tidak beruntung jangan menyusahkan orang lain," gumam Jungkook.

Bagaimana aku tidak emosi mendengar kata-kata kurang ajar seperti itu? Jeon Jungkook memang brengsek sejati.

Emosiku meluap begitu besar sampai-sampai aku merasa lelah. Berbicara pun tidak ada gunanya, hanya membuang energiku yang saat ini seakan tersedot habis.

Aku memilih diam. Terserahlah. Aku lelah.

Aku terbangun entah dimana dan pukul berapa dengan keadaan linglung.

Awalnya kukira aku berada di rumah sakit karena ruangan ini bernuansa putih seperti kamar rumah sakit.

Kukira begitu, sebelum wajah menyebalkan Jungkook tiba-tiba tertangkap oleh penglihatanku, sedang menatapku dalam-dalam di ambang pintu tempatnya berdiri saat ini.

"Mau apa kau?" tanyaku malas.

"Harusnya kau berterima kasih padaku karena telah menggendongmu ke apartemenku dan membiarkanmu tidur seharian di ranjangku daripada meninggalkanmu terkilir dan terkubur salju."

Aku mengangkat bahu dengan malas.

"Masa bodoh. Masalahmu," tanggapku acuh.

"Kau seperti orang yang kehilangan tujuan hidup," ledek Jungkook.

"Terserah. Hidupku memang tidak memiliki arah."

Jungkook melangkahkan kaki ke arah tempat tidur yang kududuki, untuk mendudukkan dirinya juga di hadapanku. Matanya menatapku lekat-lekat. Sudut bibirnya sedikit tertarik mengejek.

"Kau seksi kalau dilihat seperti ini," bisik Jungkook menggodaku.

Apa-apaan? Seksi katanya? Hell, kurang ajar!

Tapi tunggu. Kenapa dia mengataiku seksi? Ada sesuatu yang berbeda kah pada diriku?

Aku menunduk melihat tubuhku, memeriksanya kalau terjadi apa-apa. Aman, pakaianku masih lengkap semuanya.

Jungkook terkekeh geli. Aku mendongak menatapnya dengan bersungut-sungut.

"Apa-apaan sih?!"

"Tenang saja, aku tidak melakukan apapun kepadamu, babe. Maksudku kau terlihat seksi sehabis bangun tidur. Membuatku jadi ingin menidurimu."

"BAJINGAN MESUM!" teriakku kencang sambil menendang-nendang tubuh Jungkook kesal.

Jungkook tertawa keras sekali. Dasar orang gila. Sudah mesum, tidak waras pula.

"Kau imut seperti gadis," Jungkook berkata dengan kurang ajarnya mengataiku seperti gadis. Aku ini laki-laki tulen!

"Aku laki-laki!"

"Mm hmm. Aku tidak yakin."

"Ish!"

Jungkook terkekeh pelan. Dia semakin mendekatkan diri ke arahku, membuatku merasa risih. Ada sesuatu di matanya yang mambuatku merasa sulit mengangkat wajah dan membalas tatapannya.

"Jadi Kim, kenapa hidupmu tragis sekali?"

"Kau memang kurang ajar!"

"Hanya padamu."

"Sial!"

Aku bisa gila jika lama-lama berhadapan dengan orang tidak waras ini. Sudah jahat, lancang pula. Ugh, rasanya ingin kupukul dengan gagang sapu!

Jungkook menghentikan tatapan menyebalkannya secara tiba-tiba. Sekarang ia menatapku lembut dengan senyuman yang tulus.

Aku baru sadar aku baru saja tertegun cukup lama. Ish, kok jadinya memalukan sih? Buat apa juga aku menatap Jungkook seperti barusan?

"Kau kenapa sih? Aku merasa aneh karena kau membawaku ke sini. Kenapa kau peduli padaku, padahal kita jelas-jelas musuh," aku berbicara dengan nada seketus mungkin karena aku merasa canggung dengan situasi saat ini.

Jungkook tertawa geli. Ih tuh kan menyebalkan menyebalkan menyebalkaaa-

CUP

Aku terpaku.

Jeon. Jungkook. Musuh. Terbesarku. Baru. Saja. Menempelkan. Bibirnya. Di. Bibirku. Yeah. Itu. Sungguhan. Sebuah. Ciuman.

Aku terbengong seperti orang bodoh lama setelah Jungkook melepaskan ciumannya dan memandangiku dengan senyuman yang, aku tidak tahu apakah itu mengejek atau menghina ataukah benar-benar tulus. Aku sangat benci mengakuinya tapi ia terlihat sangat tampan sampai rasanya aku ingin menenggelamkan diri di Sungai Han yang mungkin airnya hampir beku sekarang.

"Apa yang kau lakukan?" cicitku parau. Oh, sial. Aku jadi merasa kecil sekali di hadapannya, dan ini memalukan!

Si Kurang Ajar Jeon itu malah terkekeh menyebalkan, lalu berbaring seenak jidatnya di sebelahku. Matanya menatapku seolah ia penggoda ulung yang menjadikan aku sasarannya. Dasar bedebah!

"Hei, Kim. Apa kau tidak pernah sadar kalau aku, well, jatuh cinta kepadamu?"

Lagi-lagi aku dibuat mematung. Kali ini dengan perkataannya. Hell, orang ini berniat mempermainkanku ya? Sialan, aku benar-benar benci dengannya yang mencoba mempermalukanku dengan mempercayai kata-katanya barusan.

Aku dan dia jelas-jelas musuh!

"Cukup dengan lelucon hambarmu Jeon! Berhenti mempermainkanku dan pergi saja ke neraka! Aku tidak akan pernah, sekalipun, terbuai dengan kebohonganmu yang ingin mempermalukanku! Kau selalu menatapku seolah aku adalah mangsa, kau memperlakukan aku seakan aku saingan terberatmu, kau selalu mengatakan kekuranganku secara terang-terangan di depanku, kau dan teman-teman sialanmu selalu membicarakan aku dengan tatapan menyebalkan kalian yang bagiku terlihat sangat bodoh! Dan," aku menghirup nafas dalam-dalam sebelum mengatakan apa yang paling kubenci darinya. "DAN KAU MEMBUATKU MEMBENCI PELAJARAN SASTRA KARENA AKU SEKELAS DENGANMU DI PELAJARAN ITU!"

Yeah, itu benar. Aku pecinta sastra, tapi keberadaan Jungkook di kelas sastra membuatku jadi berbalik membencinya. Kau tidak akan tahan bila setiap mengeluarkan pendapat selalu ditampik dengan orang yang sama, orang yang paling kau tidak suka seantero sekolah.

Secara tidak terduga, Jungkook menghamburkan tawa sekencang-kencangnya. Ia sampai memegangi perutnya, menahan sakit akibat tertawa terlalu besar.

Apa yang sedang ia tertawakan?!

Setelah ia sanggup mengendalikan dirinya kembali, ia menatapku. Aku tidak bisa menafsirkan arti tatapannya kali ini.

"Kim Taehyung, kau benar-benar mengagumkan."

Secara mengejutkan ia menarikku dengan cepat, membawa tubuhku berbaring dalam pelukan eratnya. Terdiam cukup lama sebelum ia mulai mengatakan sesuatu.

"Kim Taehyung. Biar kutegaskan. Aku tertarik kepadamu dan aku sungguhan jatuh cinta kepadamu. Semua yang kulakukan selama ini adalah usahaku untuk menarik perhatianmu. Dan ya, aku sering membicarakanmu dengan teman-temanku. Aku membicarakan betapa cantiknya kau, atau betapa mengagumkannya kau. Apapun yang kau lakukan selalu baik. Mungkin caraku salah, selama ini kau hanya membenciku," ujarnya. "Dan soal pelajaran sastra itu, yah, aku melakukannya sebagai bagian dari usaha menarik perhatianmu juga."

"Jangan main-main! Aku tahu kau hanya sedang mengolokku!"

"Duh, aku tidak sedang bercanda, sayang. Aku serius," bisik Jungkook, berubah serius.

Taehyung POV End

Taehyung mengerjapkan kedua matanya perlahan. Perasaan asing merambat dari perutnya yang tidak ia tahu perasaan apakah itu, dan apa sebabnya. Mungkin karena dirinya yang gugup atau karena tatapan Jungkook yang mengamatinya lamat-lamat dengan ekspresi serius.

"Astaga, apa kau ingin kucium lagi? Berhenti menunjukkan wajah seperti itu."

Baru juga mulai serius, Jungkook menghentikannya lagi karena tidak tahan melihat wajah raut Taehyung saat sedang ia seriusi. Taehyung mulai gusar saat Jungkook terkekeh sambil mencubit ujung hidungnya.

"Jeon Jungkook jeleeeeek!" Taehyung berteriak sebal. Spontan. Ia tidak merencanakan hal itu sebenarnya, memalukan sekali, berteriak seperti anak gadis. Duh.

Tidak tahu saja Taehyung, tindakannya barusan membuat otak mesum Jungkook sedikit bekerja, akibat teriakan melengking Taehyung membuat pikiriannya melayang kemana-mana membayangkan desahan saat sedang.. tahulah.

Tapi Jungkook langsung membuangnya jauh-jauh. Bahaya, nanti Taehyung bisa-bisa diapa-apakan olehnya.

Jungkook tertawa ringan. "Habis kau manis sih. Jadi kekasihku ya?"

"MATI SAJA KAU!"

Oh, wajah Kim Taehyung merona, tuh.

"Tidak boleh menolak ya. Aku sudah mengejarmu sejak dua tahun lalu, lho. Biarkan aku mengisi ruang kosong di hatimu itu. Aku tahu kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu setiap saat. Izinkan aku menjadi orang itu ya, Tae-ah?"

Sial, darimana sih Jungkook belajar berkata semanis itu? Taehyung jadi tidak bisa berkutik, 'kan.

"Diam kuanggap iya. Kim Taehyung sekarang kekasih Jeon Jungkook. Mau merayakan valentine bersama? Masih jam sebelas lewat sebelas, valentine belum berakhir."

Jungkook mengerling, lalu mencuri kecupan singkat di dahi Taehyung yang tertutup rambut cokelat tebal yang sehalus rambut bayi.

Hmm. Jeon Jungkook, boleh juga. Setidaknya begitu pikir Taehyung.

Moment 1, END.