Moment #2; The First Tears
He Shared
Jeon Jungkook x Kim Taehyung
"Kau dengar detak jantungku, Tae? Itu sangat keras karenamu," bisik Jungkook seraya terkekeh. Taehyung ikut tertawa bersamanya.
Moment #2, Started
Sudah dua bulan- hampir tiga bulan, semenjak pengakuan Jungkook kepada Taehyung mengenai perasaannya di malam Valentine itu.
Sudah selama itu pula, Jungkook "menyatakan" Kim Taehyung sebagai kekasihnya, tanpa meminta persetujuan dari sang pemuda berkulit tan itu terlebih dahulu.
Taehyung yang awalnya tidak menyukai Jungkook, bisa apa kalau Jungkook terus-terusan menghujaninya dengan berbagai perhatian dan perlakuan manis? Dia akui Jungkook sangat baik. Walau dirinya belum sepenuhnya bisa menempatkan Jungkook sebagai seseorang yang paling spesial di hatinya, tapi jujur, terselip perasaan hangat dan menggelitik di hatinya tiap kali menerima perlakuan khusus Jungkook yang ditunjukkan hanya kepadanya.
Tapi hubungan mereka tidak bisa dibilang kaku juga, untuk ukuran pasangan yang berawal sebagai rival- kalau menurut Taehyung.
Jungkook masih sering menggodanya, tapi sekarang tidak terasa terlalu menyebalkan lagi seperti dulu. Malah Taehyung merasa terhibur, sepertinya. Seakan ia punya seseorang yang bersedia menemaninya, seperti perasaan memiliki teman, tapi ini lebih dari itu. Ada perasaan asing yang membuat Taehyung merasa tidak sendiri lagi, rasa kesepian di hatinya perlahan berkurang. Hanya jika Jungkook bersamanya.
Sekarang Taehyung tidak terlalu sering mengikuti acara pergaulan sosial semacamnya lagi. Tidak kenapa, tapi ia lebih nyaman jika ditemani dengan Jungkook saja. Lelah menghadapi banyak orang yang bukan benar-benar teman sungguhannya.
Lagipula, Jungkook itu cukup mengasikkan untuk diajak bermain, kok.
Mengenai sejauh mana hubungannya dengan Jungkook, peluk dan cium sudah terbiasa sekarang bagi mereka. Taehyung pun mengakui pelukan Jungkook memang sangat nyaman untuknya, dan ciuman Jungkook mampu membuat kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.
Baru saja Taehyung mendesah sebal saat memikirkan betapa akan terasa nyamannya jika Jungkook datang sekarang juga untuk memeluknya di tengah cuaca dingin ini, ketika sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang. Nah, baru juga dipikirkan, langsung muncul. Dasar panjang umur.
"Halo, babe," Jungkook dengan seenaknya mencuri ciuman singkat di pipi kanan Taehyung setelah menyapanya tiba-tiba, membuat Taehyung sedikit berjengit kaget.
Taehyung mengeluh berlagak kesal, namun tidak bisa menolak kehangatan dan kenyamanan dada bidang Jungkook sebagai tempat bersandarnya. Ia malah berakhir menahan kedua lengan Jungkook di pinggangnya sambil merengek seperti bayi kucing.
Jungkook balas memeluknya lebih erat lagi. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang sekitar halte, yang menatap mereka antara terganggu atau iri.
"Ah, lucunya," bisik Jungkook di telinga Taehyung sambil mengendusi sisi kepala Taehyung yang beraroma seperti vanila itu. Aroma favorit Jungkook. Entah bau vanilanya atau karena Taehyungnya.
"Geli, Jeon. Kau seperti om-om mesum yang sedang mengganggu anak remaja. Padahal kita berdua masih SMA, astaga."
Di bibir saja Taehyung mengatakan begitu. Siapa ya tadi yang meruntuk kesal ingin cepat-cepat ketemu Jungkook untuk minta dipeluk?
"Mana ada om-om yang berani menggoda anak bengal sepertimu. Mereka lebih suka sugar baby yang imut, manja, polos, dan bertingkah manis. Sedangkan kau, titisan singa betina yang sedang masa ka- AWW IYA MAAF MAAF!" Jungkook mengaduh sakit ketika Taehyung menarik telinganya yang terpasang piercing hitam dengan kencang. Itu sakit sekali, hei!
Salahnya sendiri, sudah tahu Taehyung kalau kesal bisa sangat kasar. Masih berani meledeknya juga. Tapi benar juga sih soal yang singa betina itu, Taehyung memang galak seperti singa betina yang sedang masa kawin. Ganas, man.
"Ucapanmu menjijikkan! Aku tidak mau dibandingkan dengan sugar baby - sugar baby seperti itu! Dan ini lagi, apa ini?! Berani-beraninya pakai piercing! Kalau ketahuan guru bagaimana? Kau membuatku malu!"
"Aku yang kena masalah kenapa kau yang malu?"
"Ya karena.. ka- karena, kau itu 'kan.." ucapan Taehyung terhenti sejenak. Jungkook menatapnya sambil menyeringai samar, membuat Taehyung merasa ingin tenggelam ke kubangan air di depan halte saja. "Ka- karena kau itu pacarku!"
Taehyung merasa amat sangat malu setelah mengucapkan kata terakhirnya. Ia sedikit menyesal karena Jungkook pasti akan merasa menang banyak. Jadi ia buru-buru menambahkan, "Masa anak teladan dan pandai sepertiku punya pacar yang tidak disiplin sepertimu, aku malu lah! Apa kata guru-guru yang selalu membanggakan aku nanti? Makanya, jangan cari-cari masalah! Aku mau kau lepaskan itu dari telingamu saat pulang secepatnya!"
Jungkook mencubit kedua pipi gembil kekanakkan Taehyung main-main. "Iya, bawel. Kau ini seperti ibu-ibu cerewet saja."
"Berisik! Ayo pulang!"
"Iya, Taehyungie. Tidak sabaran sekali sih, sugar babynya Gukkie."
"Bedebah cap Kardus!"
"Loh, Eomma?"
Jungkook dibuat terkejut dengan keberadaan ibunya, yang secara mengejutkan bisa berada di dalam apartemen Jungkook. Sudah lama sekali sang ibu tidak mengunjunginya, makanya Jungkook lumayan kaget melihat ibunya duduk di ruang tengah apartemennya, sambil membaca majalah dan minum teh dengan santai.
"Ah, Kookie! Baru pulang? Dan OH! Siapa yang mungil di belakangmu itu?" Nyonya Jeon langsung mengalihkan seluruh atensinya kepada Taehyung, yang diam-diam bersembunyi di balik tubuh Jungkook saat mengetahui ada ibunya Jungkook di apartemen kekasihnya. Bagaimana tidak, ia 'kan malu sekali! Sekaligus takut juga, bagaimana kalau Nyonya Jeon tidak menyukainya? Wanita itu terlihat sangat modern dan berkelas. Tipikal ibu-ibu sosialita. Taehyung dengar ibu-ibu seperti itu banyak yang kejam dan menuntut kesempurnaan.
Jungkook menarik pergelangan Taehyung, sedikit paksaan karena Taehyung menolak maju. Jungkook sampai harus memberikan tatapan memohon dan berbisik "tidak apa" supaya Taehyung berani menampakkan dirinya.
"Kenalkan, Ma. Ini Taehyung, pacarku."
Dengan wajah memelas bak anak kucing, Taehyung membungkuk sopan menyapa Nyonya Jeon. Lalu memperkenalkan diri dengan suara lirih takut-takut. "A -Annyeonghaseyo Kim Taehyung imnida."
"Jungkook!" Nyonya Jeon memekik. Taehyung kaget setengah mati sampai-sampai ia hampir saja ingin lari kabur dari sana.
"Jungkook! Kenapa baru bilang kalau sudah punya pacar? ADUH- Mana manis benar! Ya Tuhan, lucu sekali. Kookie pintar sekali cari pacar. Sini, sini, Taehyungie. Berapa umurmu? Kau kelihatan seperti anak-anak. Apa Jungkook itu pedofil?" Nyonya Jeon melirik menggoda putranya yang kelihatan malu dengan perkataan sang ibu. Sementara Taehyung hanya bisa melongo karena kaget dengan sifat Nyonya Jeon yang sebenarnya.
"Tapi Taehyungie kurus sekali. Apa Jungkook kurang memperhatikanmu? Kau ini bagaimana Jungkook? Punya pacar semanis ini kenapa tidak dijaga baik-baik? Kalau tidak bisa menjaganya lebih baik untuk Eomma saja, akan Eomma jadikan anak kesayangan yang paling cantik."
"Tidak boleh begitu dong, Ma. Taehyung kan sudah punyaku, masa mau eomma ambil?"
"Ya habisnya Jungkook tidak menjaganya dengan baik, jadi lebih baik buat eomma saja."
Taehyung yang menjadi bahan perebutan ibu dan anak itu hanya bisa terdiam pasrah. Tapi ia sedikit geli melihat tingkah Jungkook yang berubah sedikit kekanakkan jika dengan ibunya. Taehyung heran kemana sifat narsis dan sok keren anak itu menguap?
"Taehyung, kampung halamanmu dimana?" Nyonya Jeon bertanya kepada Taehyung selagi mengupasi buah pir dan memotongnya kecil-kecil, lalu disusun di atas piring.
"Daegu, bibi."
"Orang-orang bilang pemuda Daegu sangat menawan, ternyata memang benar," ujar Nyonya Jeon terkikik. "Kami dari Busan, kau pasti sudah tahu."
Taehyung mengangguk kecil.
"Dan oh, jangan panggil aku dengan sebutan "bibi", panggil eomma saja ya, Taehyungie?" pinta Nyonya Jeon, yang membuat Taehyung mematung setelah mendengarnya.
Eomma. Panggilan itu.
Panggilan yang sudah sangat lama sekali tidak Taehyung dengar dari bibirnya sendiri. Panggilan yang entah kapan terakhir kali ia ucapkan. Mungkin lebih dari satu dekade yang lalu. Panggilan yang selama ini ia rindukan, tapi terlalu sulit memenuhinya.
Eomma. Bolehkah?
"Taehyung?"
Suara lembut Nyonya Jeon membuyarkan lamunannya. Taehyung mendapati wanita itu sedang tersenyum lembut kepadanya. Senyum yang sangat keibuan, membuat Taehyung terbuai akan kerinduan yang tiba-tiba melesak memenuhi dadanya.
"Ya.. eomma."
•••
Nyonya Jeon pulang pada sore hari, setelah memberikan petuah panjang kepada putranya agar menjaga Taehyung dengan baik, juga mengancam akan merebut Taehyung dari Jungkook jika ia berani macam-macam. Membuat Jungkook heran, sebenarnya yang anak ibunya itu dia atau Taehyung?
Setelah membereskan apartemen dan mencuci semua peralatan makan yang tadi ia gunakan bersama Jungkook dan ibunya, Taehyung beranjak ke ruang tengah untuk bergabung dengan Jungkook yang sedang bermain Overwatch. Belakangan pemuda itu sering sekali memainkannya, sampai Taehyung juga sedikit terseret untuk bermain. Tapi hanya kadang-kadang, kalau ia sedang bosan saja. Taehyung tidak sampai jadi maniak seperti Jeon Jungkook.
Jungkook dengan kacamata bulatnya terlihat serius saat memainkan permainan. Lihat, sampai matanya bisa minus begitu. Benar-benar sudah gila.
Taehyung mendudukkan diri di atas karpet di sebelah Jungkook, menatapi wajah serius Jungkook yang berusaha konsentrasi dengan permainannya. Kalau sedang serius seperti ini biasanya Jungkook lupa dengan Taehyung. Menyebalkan.
Oh, ada yang cemburu sepertinya. Cemburu dengan game.
"Jeon?"
"Hm."
"Jeon Jungkook."
"Hm."
"Masih lama mainnya?"
"Hm."
"Aku mau pulang."
"Hm."
"Serius boleh?"
"Hm."
"Aku pergi ya."
"Hm."
Tuh, lihat. Taehyung mau pergi saja tidak dipedulikan. Padahal biasanya juga memaksa-maksa Taehyung untuk menginap, tinggal bersama kalau bisa. Gara-gara Overwatch Taehyung ditinggalkan. Lelaki Kardus!
Taehyung pura-pura ngambek. Biasanya sih cara ini berhasil untuk mengalihkan perhatian Jungkook.
Taehyung merengek tertahan seperti menahan tangis. Ini hanya pura-pura, agar Jungkook melupakan Overwatch dan beralih kepadanya.
Sekarang siapa yang tidak yakin kalau Taehyung juga sebenarnya menyukai Jungkook?!
Benar kan, Jungkook langsung menoleh panik dan seketika melempar stik PS4nya ke sembarang arah tidak peduli. Sudah ngeri duluan Taehyung benar-benar menangis, yang alasannya tidak ia ketahui karena sejujurnya ia tidak menyimak apa yang pemuda itu katakan kepadanya tadi. Apapun sebabnya, kalau Taehyung menangis Jungkook tidak akan tinggal diam.
"Hei, kenapa babe?" Jungkook bertanya sambil menarik lembut pergelangan Taehyung yang sangat kecil itu. Sangat kecil sampai-sampai Jungkook nyaris tidak percaya.
"Sayang, kenapaaa? Marah? Kenapa marah?" tanya Jungkook mendayu.
"Mainkan saja terus game nya! Aku mau pulang, percuma di sini tidak dipedulikan."
"Sayaaaang, jangan! Maafkan aku, aku butuh kamu!"
"Dasar norak!"
"Iya aku norak, tapi cintaku cuma buat kamu."
"Iiiiih!" Taehyung berseru geli. Jungkook cheesy nya keterlaluan!
Jungkook terkekeh. Pacarnya sangat lucu.
"Sudahlah. Aku serius deh, tidak main game lagi. Kenapa dear? Ada yang ingin dibicarakan?"
"Umm.. Ya, sebenarnya."
"Dan apa itu?"
Taehyung menggigit bibir bawahnya ragu. Haruskah ia menumpahkan semua kegalauannya kepada Jungkook? Dia akan membuat Jungkook kesal tidak ya, kalau merengek habis-habisan seperti wanita mabuk?
Masalahnya Taehyung merasa resah sekali. Ingin rasanya menumpahkan luapan perasaannya yang campur aduk kepada seseorang. Dan orang itu adalah Jungkook, karena tidak ada siapapun lagi yang bisa ia curahi keluh kesah selain kekasih berototnya itu.
"Taehyung, kenapa? Katakan, aku siap mendengarkan."
Taehyung menatap Jungkook ragu-ragu dengan bibir terkatup lucu yang tertarik ke bawah, dan mata sayu yang memelas bak anak kucing. Jungkook tak tahan untuk tidak memeluk kekasihnya dan mengusak lembut surai cokelat madu sang tersayang yang beraroma kukis.
"Aku kangen eomma," keluh Taehyung. "Tapi aku tidak ingat eomma. Aku lupa bagaimana sosoknya. Fotonya pun aku tidak ada. Kenapa aku harus lupa, Jeon? Bukan, kenapa aku tidak punya eomma lagi?"
Jungkook terdiam ketika mendengar suara Taehyung yang mulai bergetar. Ia tidak mengira Taehyung bakal benar-benar sedih seperti ini.
"Bahkan satu kenangan pun aku tidak ingat. Sebenarnya itu kenapa? Aku tidak masalah tidak ada appa. Tapi aku ingin eomma. Juga, kenapa halmeoni harus pergi? Padahal aku masih ingin punya keluarga," Taehyung berujar sedih. Jungkook membawa Taehyung lebih erat ke dalam pelukannya.
"Setidaknya aku ingin satu orang keluarga. Kakak, adik, atau siapapun. Kenapa aku ditinggal sendiri? Kenapa juga aku tidak punya teman? Kenapa aku selalu merasa sendiri di sekolah, padahal banyak orang di sekelilingku? Kenapa, aku capek Jungkookie. Lama-lama sepi membuatku takut."
Taehyung berhenti berbicara karena ia mulai menangis, membuatnya sulit untuk bicara. Pembicaraannya sudah mulai kemana-mana.
Jungkook mengangkat tubuh kurus Taehyung ke dalam gendongannya dengan mudah, lalu membawanya ke dalam kamar, meninggalkan game yang tadi ia mainkan begitu saja. Di kamar ia membaringkan Taehyung sambil terus memeluknya, lalu menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut tebal yang hangat.
Jungkook mengecup bibir Taehyung lembut untuk menenangkan kekasihnya. Air mata yang mengalir di pipi Taehyung mengenai wajah Jungkook juga, membuat hati Jungkook entah kenapa terasa nyeri.
"Apa yang menyebabkanmu bersedih hari ini, sayang?"
"Ibumu memintaku memanggilnya "eomma". Bolehkah?"
"Tentu saja. Sangat boleh. Dengan begitu kau merasa punya keluarga, 'kan? Anggaplah ibuku sebagai ibumu, keluargaku juga keluargamu. Aku tidak ingin kau merasa sendiri."
Tapi Taehyung malah menangis lebih keras lagi, membuat Jungkook panik setengah mati. Dikiranya dia handal menghadapi orang yang menangis? Apalagi yang menangis adalah Taehyung, orang tersayangnya. Jungkook merasa mati kutu.
Jungkook mendekap erat Taehyung di dadanya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain memberikan pelukan dan elusan menenangkan di punggung Taehyung saat ini.
"Tapi aku-" huks, "merasa bersalah kepada-" huks, "ibuku jika aku memanggil orang lain dengan-" huks, "sebutan eomma."
"Ibumu pasti mengerti, sayang. Percaya padaku, hm?" Jungkook kembali mengecup bibir Taehyung sekilas. Tangannya tidak berhenti memberikan usapan-usapan menenangkan untuk Taehyung.
Setelah dirasa Taehyung cukup tenang, Jungkook mengangkat tubuh Taehyung ke atas tubuhnya yang lebih besar dibandingkan sang kekasih, hingga Taehyung berbaring telungkup di atasnya. Salah satu sisi wajah Taehyung menempel di dada Jungkook, tepat di atas detak jantungnya yang sedang berdentum tidak normal. Jungkook tahu posisi seperti ini adalah kesukaan Taehyung. Maka itu ia mencoba membuat kekasihnya nyaman dengan memberi apa yang ia inginkan.
"Kau dengar detak jantungku, Tae? Itu sangat keras karenamu," bisik Jungkook seraya terkekeh. Taehyung ikut tertawa bersamanya.
"Benarkah?"
"Ya. Tidak percaya?"
"Ani. Aku percaya, karena sudah seharusnya 'kan aku mempercayaimu?"
"Iya, percaya padaku. Kau bisa mempercayaiku."
"Jeon," gumam Taehyung lirih. "Kenapa kau memilih aku?"
Jungkook terkekeh.
"Well, kenapa ya? Soalnya aku sudah tergila-gila padamu sejak lama, sih. Kau saja yang tidak sadar."
"Ya tapi kenapa aku? Bukan orang lain?"
"Karena kau Kim Taehyung," jawab Jimin. "Kim Taetae yang aku suka."
Taehyung merengek karena tidak puas dengan jawaban yang diterimanya. Jungkook tidak henti-hentinya mengecup Taehyung sedari tadi, mau itu di kepala, kening, pipi, maupun bibir. Juga hidung dan kedua mata Taehyung. Kekasihnya terlalu indah untuk dilewatkan.
Tiba-tiba Jungkook berbisik serius di telinga Taehyung.
"Aku sayang kamu, Tae."
"Mm hmm."
Taehyung mendusal nyaman di dada bidang sang kekasih. Rasa lelah dan kantuk perlahan-lahan semakin menyeretnya ke alam mimpi.
Sayup-sayup Taehyung dapat mendengar gumaman rendah Jungkook sebelum ia terbuai sepenuhnya oleh mimpi.
"Jangan lupa kau selalu punya aku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku mencintaimu, Taehyung."
Dan Taehyung jatuh tertidur dengan hati menghangat serta perasaan ringan setelah mengeluarkan seluruh emosinya kepada Jungkook, seseorang yang diam-diam ia cintai. Dia akan membalas ucapan Jungkook nanti, ketika hatinya sudah sepenuhnya siap.
Moment #2, End.
