Note : ini adalah chap lanjutan untuk chapter 5. Disini akan sedikit di kupas tentang jati diri Naruto yang sebenarnya.
oya perhatian semuanya #plak semua pair di please don't dapat pasangan kok karna moya itu gak suka sad ending, yah walaupun di cerita si naru moya siksa khukhukhu #ketawa_nista tapi tenang naru-chan akan dapat pair kok,udah ketebak kan siapa ? Hinata juga akan dapat pair kok nah di chap ini agak kebongkar siapa pair untuk hinata nanti, yang jelas bukan toneri loh, kagak rela moya hinata sama toneri #teriak_gaje
satu lagi, yang dicetak miring itu isi hati Naru-chan ya, siapa tahu ada yang lupa dan nganggap itu flashback hehe
Chapter 7 : Tanggung jawab
Kriet
Jadi memang hari ini ya.
"Naruto-chan akhirnya kamu datang juga."
Kau akan bertanggung jawab, tanggunglah tanggung jawab itu seumur hidupmu.
"genki desu ka ? Naruto-chan ?"
Wanita itu menyebutku apa, tapi aku bukan –
"apa maksudmu ? kenapa kau memanggilku Naruto ?"
Kenapa wanita itu membawa gunting, apa dia akan membunuhku. Jika memang iya aku akan sangat berterimakasih padanya.
"Naruto-chan kan laki-laki jadi tidak boleh punya rambut panjang."
Kau bercanda bukan, hei apa yang kau lakukan pada rambutku.
"lepaskan !"
Plak
"kau sudah berjanji akan bertanggung jawab ! sekarang tepati janjimu !"
Souka, jadi ini yang dia maksud tanggung jawab itu. Ne, penyesalan itu memang selalu datang terlambat bukan.
Dari pantulan cermin, terpantul gambaran seorang pemuda pirang manis yang sedang menelusuri gambaran dirinya sendiri.
"Boku wa Naruto desu ka ?"
Ucapnya dengan nada bergetar.
"Sayonara…Ruko-chan."
Bisiknya pada udara kosong.
Tok tok tok
Dibalik daun pintu menyembul kepala seorang perempuan bersurai musim semi yang entah kenapa bisa ada disana saat ini, bukankah dia harusnya ada di Kyoto sekarang.
"Tadaima Naruto !"
Gadis musim semi itu langsung memeluk Naruto dengan sangat erat.
"Okaeri Sakura-chan, ne kapan kau datang ?"
Sakura melepaskan pelukannya lalu memandang wajah sahabat kecilnya itu dengan tatapan selidik. Sejak kapan Naruto bodohnya itu tumbuh menjadi pemuda manis seperti ini.
"Kau manis Naruto. Kemana perginya wajah bodohmu itu ?"
Naruto menggerutu kesal, apa dia baru saja dihina oleh sahabat kecilnya itu.
"Aku tidak bodoh tahu !"
Sakura mengangkat bahunya tidak peduli.
"Yah tidak bodoh sih, Cuma kurang pintar aja kok !"
Naruto langsung menjitak surai merah muda sakura dengan kesal.
"Itu sama saja Sakura-chan !"
"Kenapa harus aku ?"
Gerutu Naruto sambil mengerutkan keningnya, ditatapnya barang belanjaan yang ada di kedua sisi tangannya.
"great, dia meninggalkanku sendiri disini dengan barang belanjaannya yang menggunung. Kau akan membayar semuanya Sakura-chan."
Desis Naruto tidak terima, hei siapa jugayang mau waktu istirahatnya terganggu karna seorang gadis musim semi yang terus merengek ingin ditemani belanja, dan gadis itu sama sekali tidak menerima penolakan.
"Na-Naruto-kun sedang apa disini ?"
Si surai pirang menoleh.
Surai indigo, mata lavender, pipi kemerahan, kulit seperti porselen, kyaa dia imut sekali, tapi tunggu sepertinya aku tidak asing dengan ciri-cirinya, jangan bilang dia itu –
"Hinata ?"
Gadis lavender itu menangguk. Jadi dia benar-benar Hinata, dia sangat cantik, pantas saja 'dia' sangat menyukai gadis lavender ini.
"Na-Naruto-kun sedang apa disini ?"
Ulang Hinata sambil memainkan kedua jari tangannya.
"aku sedang menemani gadis cerewet itu belanja."
Hinata mengangguk mengerti.
"Titip salamku untuk Sakura-chan, maaf aku permisi dulu."
Kenapa kau pergi Hinata, dia pasti akan menganggapmu aneh setelah ini. Runtuk Hinata di dalam hati.
Hinata Hyuuga.
Ne apa 'kau' masih menyukainya. Katakan iya dan aku akan mendapatkannya untukmu. Setelah itu kau bisa merebutnya dariku. Kau bisa hidup bahagia dengannya dan aku juga bisa hidup bahagia dengan hidupku yang sebenarnya, 'kau' tahu aku lelah harus selalu bersandiwara untuk melunasi hutang tanggung jawab itu. Bukankah dulu 'kau' selalu bilang kalau 'kau' akan melindungiku, tapi kenapa 'kau' tidak bisa melindungiku dari tanggung jawab ini, kenapa 'kau' tetap saja asik berkelana dengan duniamu sendiri, apa 'kau' tidak lelah terus terbaring seperti mayat hidup di kamar serba putih itu. Cepatlah kembali dan rebut lagi hidupmu dariku. Setelah itu biarkan aku menjemput hidupku yang telah kukubur di jurang masa laluku.
Jepret
Naruto tampak sibuk membidik lalu lalang orang yang melewati taman, sesekali dia tersenyum bangga dengan hasil jepretannya. Saat bisa mengabadikan setiap momen dengan kamera, saat itulah aku seperti menemukan lagi kehidupanku yang hilang.
"Sasuke tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku !"
Are, apa tadi aku mendengar nama Sasuke.
"hn. Apa aku perlu menjawabnya ?"
Sa-Sasuke, dia Sasuke. Kenapa dia bisa berubah menjadi setampan itu.
"Dari mana kau menemukan kamera itu ?"
Sasuke menatap laki-laki yang lebih tua darinya itu dengan tatapan kesal.
"Dari lorong rumah sakit."
Jepret
Naruto tersenyum puas, dia bergegas pergi dari taman untuk langsung mencucikan hasil bidikannya. Akhirnya aku menemukanmu lagi Sasuke. Hah, aku pikir aku akan benar-benar kehilangan jejakmu, kalau dipikir-pikir aku juga tidak begitu ingat lagi dengan wajahmu setelah kameraku hilang. Tapi sekarang aku senang karna bisa mengabadikan wajahmu lagi dengan kameraku.
"Naruto."
Sial, aku lupa kalau sekarang aku adalah Naruto, bagaimana ini.
"Ya sakura-chan ada apa ?"
Sakura memandang aneh kamera milik Naruto.
"sejak kapan kau bisa menggunakan kamera ?"
Astaga kenapa aku bisa lupa.
"I-itu sejak Ruko-chan mengajariku."
Sakura mengangguk paham. Huft untung saja.
"hah….karna kau menyebut Ruko-chan aku jadi kepikiran Kira-kira bagaimana keadaan Ruko-chan sekarang ya ? Kushina-basan bilang kalau Ruko-chan sekarang sedang di rehabilitasi."
Naruto tidak langsung menjawab. Wanita itu memang selalu berlaku seenaknya.
"Dia pasti baik-baik saja."
Naruto menoleh, apa Sakura mengatakan sesuatu.
"kenapa ? aku Cuma bilang kalau dia pasti baik-baik saja kok,walaupun aku tahu dia pasti sangat kesepian, padahal menjadi penderita skizofrenia itu juga bukan keinginannya kan ? tapi kenapa Kushina-basan selalu saja memusuhinya ?"
Dia peduli. Tapi sejak kapan.
"aku ingin sekali berteman dengannya, tapi aku takut dia akan menghindar dan menganggapku sebagai ancaman. Padahal aku benar-benar ingin berteman dengannya."
Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.
"kalau kau bertemu dengannya, katakan kalau aku sangat merindukannya."
Bodoh, kenapa kau baru mengatakannya sekarang.
"uhm, dia pasti senang mendengarnya."
OWARI -?-
.
.
.
.
Hihi becanda #digampar
TBC
Cuap-cuap author :
Jadi ada yang bisa nebak belum siapa Naruto sebenarnya ?
Haha jujur nih moya bingung banget loh untuk menentukan alur yang pas supaya gak bingung dibaca dan tetap dapat feel misterinya #reader : emang gua peduli
Moya tahu semakin lama semakin jelek ceritanya, tapi emang dasar authornya aja yang kagak sadar diri, udah tahu jelek masih aja di publish hehe #ketawa_nista
Gomen kalau pendek.
Gak berani minta review deh, sadar diri kalau cerita saya gak bagus
BTW see you next chap !
