Note : ini adalah FLASHBACK ! Khusus menceritakan cerita dari sudut pandang Fugaku. Dan chapter ini adalah chapter yang mendukung chapter 7. Intinya chapter ini menjelaskan kenapa Fugaku bisa tidak tahu kalau dia membunuh istrinya sendiri.
balesan review :
guest-san : nah kalau udah tahu absurd yaudah kagak suah di baca, ntar kamu mabok loh #plak
namie-san : haha gomen kalau kemaren pendek habis moya sibuk sih di dunia nyata jadi kepotong pas disana ceritanya#alesan. oya tebakan kamu di chapter 8 itu bener kok. tapi maslaahnya sekarang adalah kenapa bisa si naruko itu si naruto #plak haha
Chapter 9 : Ikatan
San, ni, ichi, gumaman itu terdengar jelas dari bibir laki-laki raven yang kini sedang memandang hampa bulan yang tampaknya enggan untuk bersinar. Kelopak matanya terpejam, membayangkan bagaimana cara dia bisa terjebak di tempat ini, membayangkan semua yang sudah dia lakukan. Tidak ada yang menarik, semuanya terasa tidak lagi asing untuknya, tidak peduli seberapa benci dia pada apa yang dia lakukan, semuanya tetap terasa biasa untuknya. Ini adalah pekerjaannya, suka atau tidak dia harus melakukannya, itulah yang selalu dia tanamkan di benaknya, tidak peduli itu adalah pekerjaan kotor atau tidak. Dialah yang memilih untuk bergabung di tempat ini, karna itulah dia tidak berhak untuk meminta jalan pulang, sekali kau terjebak di tempat ini kau tidak akan pernah bisa melarikan diri. Ya, dia akan terus terkurung di tempat ini, selamanya. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba untuk keluar, akhirnya tetaplah sama, dia akan terus terjebak di tempat ini.
"Fugaku, Orochimaru memanggilmu."
Si raven mengangguk lalu berjalan mengikuti Kabuto.
"Fugaku apa kau mengingat kejadian itu ?"
Si raven a.k.a Fugaku mengerutkan keningnya, kejadian yang mana.
"apa kau pikir dia akan memaafkanmu ?"
Fugaku terdiam. Dia ingat sekarang, bagaimana bisa dia melupakan kejadian itu, setelah selama bertahun-tahun kejadian itu selalu saja menghampirinya dalam mimpi buruk.
"tidak, dia tidak akan memaafkanku."
Kabuto tertawa mengejek. Karna itulah kau lemah. Kekanakan. Bodoh.
"aku dengar sekarang putrinya mengalami gangguan jiwa."
Tidak mungkin.
"lalu bagaimana dengan Shina-san ?"
Kabuto mengangkat bahunya tidak peduli.
"Entahlah, dia tidak di Jepang sekarang."
Kabuto membuka pintu ruang kerja Orochimaru dan memandang Fugaku dengan pandangan merendahkan.
"Yang aku tahu, dia menimpakan kesalahanmu pada putrinya sendiri. Pengecut."
Fugaku tidak membalas, dia langsung menerobos masuk kedalam ruang kerja Orochimaru.
"kau benar-benar pengecut fugaku."
…..
Fugaku menenggak bir kalengnya dengan rakus, tidak peduli rasa panas yang membakar tenggorokannya. Dia hanya butuh pelampiasan. Ya, sebuah pelampiasan karna seperti yang Kabuto bilang, dia hanya seorang –
"Pengecut !"
Fugaku tidak menjawab, dia tahu bahwa sahabatnya itu pasti akan membencinya setelah ini.
"kau tahu dia itu manusia ular, kau tidak akan bisa lepas Fugaku. Apa memang tidak ada cara lain ?"
Tetap tidak ada jawaban.
"apa kau mendengarku ! tolong pikirkan lagi keputusanmu !"
Fugaku memegang kedua pundak laki-laki yang selama ini selalu ada untuknya itu.
"aku tidak mau mereka terluka."
Laki-laki itu mengeram kesal, alasan bodoh apa itu.
"kau bisa melindunginya, kau tidak harus ikut terlibat dengannya. Kau bisa menjual rumahku untuk membayar hutangmu padanya !"
Fugaku menggeleng, keputusannya sudah bulat. Juga dia tidak ingin merepotkan sahabatnya tersebut, selama ini dia sudah terlalu banyak merepotkannya, dan biarkan kali ini saja dia menyelesaikan masalahnya sendiri.
"ini keputusanku Minato."
Fugaku mengeratkan pegangannya pada keleng bir, meremasnya sekuat yang dia bisa, mencoba menyalurkan rasa frustasinya yang tidak juga berkurang setelah kejadian itu terjadi. Kejadian yang membuatnya kehilangan arah dan kehilangan kepercayaannya pada dirinya sendiri. Kalau saja saat itu Minato tidak nekat menasehatinya mungkin kejadian itu tidak akan terjadi, dan dia tidak harus merasa bersalah seperti sekarang. Heh dia lagi-lagi menyerahkan kesalahannya pada orang lain. Benar-benar pengecut sejati.
"kau yang menggali kuburanmu sendiri."
Bisik Fugaku pada udara kosong. Dia tahu dialah yang bersalah, tapi dia tetap saja lari dari kesalahan itu, memaksa agar orang lain mau menanggung kesalahannya.
"Bunuh dia !"
Onyx Fugaku membola. Aku harus membunuhnya, tapi kenapa, dia tidak salah apapun.
"aku tidak suka tikus pengganggu. Karna itulah kau harus membasminya."
Apa yang harus aku lakukan. Minato apa yang harus aku lakukan.
"Itachi itu anak yang cerdas ya ? aku jadi penasaran seperti apa isi otaknya."
Kumohon jangan Itachi.
Dia benar-benar ular, kau tahu Minato aku benar-benar terjebak di tempat ini, aku tidak punya jalan pulang. Apa dulu seharusnya aku menuruti nasihatmu, dan semua ini tidak akan terjadi. Tapi aku terlambat, aku terlambat Minato. Semuanya sudah terjadi dan tidak akan ada gunanya aku menyesalinya bukan.
"gomen, Minato."
Fugaku menodongkan moncong pistolnya tepat di hadapan Minato. Minato tersenyum maklum, jadi dia tahu tentangku.
"tidak perlu meminta maaf, dibandingkan denganku kau yang lebih menderita, kau yang harus menanggung rasa bersalahmu seumur hidupmu, sedangkan aku akan langsung pergi ke alam baka dan tidak merasakan sakit lagi."
Tangan Fugaku bergetar, apa dia benar-benar harus melakukan ini.
"I-Itachi, aku tidak mau dia terluka."
Minato berjalan mendekat. Sama sekali tidak takut dengan pistol yang terarah padanya.
"Aku juga akan memilih pilihan yang sama jika aku di posisimu sekarang."
Fugaku hampir saja menurunkan pistolnya namun tiba-tiba Minato menahan tangannya, dia menangguk pasrah, sedangkan Fugaku tampak menggeleng keras. Dia tidak akan melakukan ini. Dia akan memikirkan jalan lain agar dia tidak harus membunuh sahabatnya tersebut.
"Itachi lebih berhak untuk hidup."
Dor
Entah siapa yang menarik pelatuk itu, semuanya terlalu cepat untuk bisa diingat Fugaku. Sekarang dia melihat Minato yang tersenyum kearahnya dengan darah yang menghiasi kemejanya, dia berjalan mendekat kearah Fugaku, sesekali dia terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, tapi dia sama sekali tidak peduli, sampai akhirnya sebuah tangan kecil menahan pergerakannya.
"Tou-chan kemana saja ?"
Minato menoleh, di usapnya pucuk rambut gadis kecil itu dengan tangan bergetar. Dia lupa kalau dia kesini bersama dengan putrinya, harusnya dia pergi sendiri, sekarang apa yang dipikirkan putri kecilnya itu.
"Ruko-chan, ukh Tou-chan sangat menyayangimu, tolong jaga kaa-chan untuk tou-chan. Tou-chan sangat ingin melihatmu tumbuh dewasa, tapi sepertinya tidak akan sempat."
Gadis kecil itu memiringkan kepalanya, kenapa tou-chan berbicara seperti itu.
"apa tou-chan akan pergi ? kemana ? apa Ruko boleh ikut ?"
Minato tersentak, gadis kecilnya itu benar-benar polos. Dengan sisa tenaganya dia memeluk putri kecilnya itu untuk terakhir kalinya. Aku benar-benar ingin melihatmu dewasa Ruko-chan.
"Tou-chan sangat menyayangimu. Sayonara Ruko-chan."
Dan tubuhnyapun ambruk menimpa putri kecilnya yang masih saja tidak mengerti apa yang terjadi.
"Tou-chan, kenapa tou-chan tidur disini ? tou-chan berat tahu !"
Gerutu gadis kecil itu sambil menahan jasad tou-channya.
Fugaku menatap iba pada gadis kecil itu, dengan langkah terseok dia mendekat kearah gadis kecil itu lalu mengusap surai pirangnya. Apa yang dia lakukan, apa dia lupa kalau Minato juga memiliki kehidupannya sendiri, kenapa dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi dia juga tidak akan mampu melihat Itachi meregang nyawa dihadapannya, lalu bukankah gadis kecil ini juga melihat tou-channya meregang nyawa di hadapannya, lalu apa perbedaannya, entahlah.
"ji-chan, kenapa jantung Tou-chan tidak berdetak."
Kau pembunuh Fugaku. Aku tahu. Bagaimana rasanya membunuh. Jangan tanya aku, aku tidak ingin mengingatnya. Lalu apa yang akan kau lakukan,bukankah kau tidak mau membunuh lagi. Andai saja saat itu aku bisa mencari uang yang cukup pasti tidak akan begini jadinya. Tunggu, bagaimana kalau aku menebus diriku sendiri dengan uang. Tapi dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu.
"aku harus segera keluar dari tempat ini."
"tidak akan semudah itu Fugaku."
Fugaku menoleh, Kabuto ka .
"aku tidak mau membunuh lagi."
Kabuto tertawa geli, dia bilang tidak mau membunuh lagi tapi kenyataannya dia baru saja membunuh seseorang beberapa jam yang lalu, huh lucu sekali.
"kalau memang kau ingin keluar dari tempat ini, tebuslah dirimu sendiri."
Fugaku mengangguk. Diapun berlalu meninggalkan Kabuto yang menatap remeh kearahnya. Meninggalkan tempat ini, huh yang benar saja, itu mustahil Fugaku.
…
Tap Tap Tap
Fugaku membelah jalanan komplek perumahan mewah, onyxnya memeriksa tiap rumah disana dengan teliti. Dia harus bisa mendapatkan uang, apapun caranya.
"hn. Aniki yang akan mengurus sisanya."
Fugaku memandang seorang laki-laki pantat ayam yang sibuk berbicara melalui sambungan teleponnya. Fugaku tersenyum penuh arti, korban pertama sudah dia temukan. Dengan tergesa dia memakai penutup kepalanya , dia tidak boleh gagal.
"apa hanya halusinasiku saja ?"
Gumam laki-laki pantat ayam itu saat melihat sekelebat bayangan yang memasuki rumahnya.
….
"luas sekali, mereka pasti orang kaya."
Gumam Fugaku sambil memandang takjub isi rumah tersebut. Hingga kini dia berada di depan sebuah pintu yang menurutnya menarik. Dia bergegas keluar dari jendela untuk kemudian memasuki ruangan itu dari jendela. Dia hanya perlu menguras uang di brangkas rumah ini lalu dia akan bebas ah jangan lupakan bayangan dia akan berkumpul lagi dengan kedua orang yang sangat di cintainya itu, memikirkannya saja membuatnya kembali bersemangat.
Prang
"sial !"
Fugaku meruntuki kecerobohannya, kenapa dia bisa salah masuk ruangan, terlebih lagi dia tertangkap basah sekarang. Dihadapannya terlihat seorang laki-laki raven yang menatap tajam kearahnya, dia tidak bisa melihat keseluruhan wajahnya karna seorang wanita yang memebelakanginya itu menutupi sebagian wajah laki-laki itu.
"siapa kau ?"
Harusnya dia hanya perlu menguras harta benda di rumah ini, lalu pergi melarikan diri. Tapi sepertinya tidak akan semudah itu, terlebih lagi mengingat posisinya yang tertangkap basah seperti ini. Benar-benar tidak ada pilihan lain.
"tidak ada pilihan lain."
Fugaku terpojok, dia hanya ingin mencuri saja disini, memang awalnya begitu. Tapi sepertinya tidak akan semudah itu, dengan berat hati dia menodongkan pistolnya kearah laki-laki itu. Dia benar-benar tidak ingin membunuh lagi, tapi ini mendesak dan dia tidak memiliki pilihan lain. Dia harus melakukan ini. Dia tidak sabar ingin kembali berkumpul dengan Itachi dan Mikoto.
Dor
Hening. Fugaku terdiam, bukankah dia bilang dia tidak ingin membunuh lagi. Sial bagaimana ini, awalnya dia hanya ingin menggertak saja lalu dia akan menyuruh laki-laki itu untuk memeberikannya uang, tapi kenapa tangannya dengan cerobohnya menarik pelatuk pistol nya. Sekarang apa yang harus dia lakukan, dia membunuh orang lagi.
"s-syukurlah kau baik-baik saja."
Wanita itu memeluk tubuh si laki-laki raven. Kau lihat Fugaku, kau membuat kejadian itu terulang lagi. Fugaku melangkah mundur hingga tubuhnya membentur pintu ruangan tersebut, tanpa pikir panjang dia langsung membukanya dan pergi untuk melarikan diri.
'brak'
"kau siapa ?"
Sial, sepertinya hari ini memang hari paling sial di dalam hidupnya, dia harus tertangkap basah sebanyak dua kali.
"n-nande k-kaa-san ?"
Tiba-tiba saja laki-laki raven yang baru saja ditabraknya itu langsung pergi meninggalkannya, dia lalu memeriksa keadaan ruangan yang baru beberapa menit lalu ditinggalkannya.
Aku harus segera pergi.
"kau pengecut !"
Runtuk Fugaku pada dirinya sendiri. Ya, kau benar-benar pengecut Fugaku.
…
"bagaimana ?"
Fugaku menggeleng lemah, dia gagal dan dia membunuh lagi. Menyedihkan, sangat menyedihkan. Hal yang sangat tidak ingin di lakukannya justru sekarang menjadi sebuah kebiasaan untuknya. Dia yang awalnya hanya ingin bebas dan tidak membunuh lagi tapi pada kenyataannya dia kembali membunuh dan itu demi keegoisannya sendiri, dari sekian banyak pilihan kenapa dia harus memilih jalan untuk membunuh. Atau mungkin dia sekarang hanya seorang mesi n pembunuh. Semoga saja tidak.
"sudah kuduga."
Fugaku mendelik tidak suka.
"ne Fugaku, apa kau tidak ingin melihat kondisi gadis kecil itu ?"
Ucap Kabuto tidak peduli dengan delikan tajam Fugaku, dia sudah terbiasa untuk menghadapinya.
"dimana dia sekarang ?"
Fugaku tampak tertarik. Dia penasaran bagaimana kondisi gadis kecil itu sekarang, dia benar-benar bersalah pada gadis kecil itu. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia hanya bisa menanggung rasa bersalah ini seumur hidupnya. Walaupun pada kenyataannya gadis kecil itu juga ikut menanggung kesalahannya.
"sebentar lagi dia akan datang."
Ucap Kabuto sambil memandang kearah jendela. Fugaku mengkerutkan keningnya, apa yang dia lakukan di tempat ini.
"Tou-chaaaaan !"
Fugaku langsung berlari kearah jendela, di bawah sana dia melihat seorang gadis pirang yang sedang berteriak-teriak sendiri.
"apa yang dia lakukan disini ?"
Fugaku lalu berlari menghampiri gadis pirang itu, memastikan apa yang terjadi padanya. Lagipula apa dia bodoh, kenapa dia bisa datang ketempat berbahaya ini seorang dirim apa dia tidak takut jika ada bandit yang tiba-tiba menculiknya.
"Tou-chan hiks Ruko tidak salah kan ? kenapa hiks kaa-chan selalu hiks menyalahkan hiks Ruko ? apa salah hiks Ruko ?"
Fugaku membatu, dia tidak tahu kalau gadis kecil itu sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik seperti ini. Surai pirangnya. Iris safirnya. Dia sangat mirip dengan Minato.
"boleh aku menemanimu disini ?"
Gadis pirang itu menoleh, sebelum akhirnya dia mengangguk pelan.
"kenapa kau datang kesini ? apa kau tidak tahu kalau ini tempat yang berbahaya."
Gadis itu menggeleng. Kondisinya benar-benar menyedihkan, jejak air mata itu terlihat jelas di wajah cantiknya. Berapa lama dia menangis.
"kaa-chan selalu menyalahkanku."
Fugaku memandang iba putri sahabatnya tersebut, maafkan aku Minato aku tidak bisa melindungi putrimu. Aku tidak bisa melakukan apapun untuknya.
"kaa-chan bilang aku penyebab kematian tou-chan."
Ternyata apa yang dikatakan Kabuto benar. Apa yang sudah aku lakukan, aku yang bersalah, kenapa Shina-san menyalahkan putri kecilnya ini. Ah aku lupa, aku melarikan diri setelah kejadian itu, aku benar-benar pengecut yang menimpakan kesalahanku pada orang lain, tapi aku tidak menyangka bahwa gadis kecil ini yang akan menanggung kesalahanku, aku benar-benar telah merebut semua kebahagiaannya.
"padahal aku yakin saat itu Tou-chan hanya ketiduran, tapi Kaa-chan tetap saja marah, dia mengusirku dari rumah dan membiarkanku tidur di gudang."
Itu keterlaluan.
"tapi untung saja nii-chan selalu menemaniku tidur di gudang, walaupun dia hanya akan datang saat kaa-chan sudah tidur. Dia benar-benar nii-chan yang hebat."
Maafkan aku, ini semua salahku. Andai saja aku tidak egois saat itu mungkin kau tidak akan mengalami ini semua. Sekali lagi maafkan aku.
"nii-chan bilang dia akan melindungiku, tapi dia bohong."
Air mata itu menetes dari safir gadis itu.
"nii-chan meninggalkanku dan lebih memilih tidur di kamar serba putih itu dengan peralatan medis yang tidak kumengerti. Dan kaa-chan bilang kalau itu semua adalah salahku."
Fugaku dengan ragu membawa gadis itu kedalam pelukannya, mencoba memahami beban apa saja yang sudah dipikul pundak kecilnya itu.
"kaa-chan juga bilang kalau dia akan memasukkanku kerumah sakit jiwa, dia bilang kejiwaanku terganggu. Aku sudah bilang kalau aku tidak gila, tapi dia tidak percaya."
Gadis itu terus saja meracau, Fugaku tidak menjawab, dia hanya membiarkan gadis kecil itu meluapkan emosinya. Maaf hanya ini yang bisa aku lakukan.
"ji-san apa menurutmu aku gila ?"
Seketika itu juga Fugaku meneteskan air matanya. Tuhan, apa yang sudah aku lakukan.
…..
Tbc
Cuap cuap author :
Untuk penjelasan aja :
- Ruko itu sebenarnya tidak kenal dengan fugaku, dia hanya asal saja menceritakan masalahnya
- Fugaku itu tidak tahu kalau Mikoto hamil saat dia memutuskan untuk pergi dari rumah jadi dia sama sekali tidak kenal dengan si pantat ayam alias Sasuke.
-jadi pekerjaan Fugaku di markas orochimaru itu sebanarnya untuk membunuh orang yang menghalangi jalan orochimaru, karna sudah terlalu lelah dengan pekerjaannya akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari markas itu, tapi dia tahu kalau orochimaru akan menyelakakan istri dan anaknya, karna itulah dia berpikir kalau saja dia bisa melunasi hutangnya maka orochimaru akan membebaskannya.
-Minato itu sudah mengenal Orochimaru jauh sebelum Fugaku mengenal Orochimaru karna memang dulu Orochimaru pernah memintanya bergabung dengan organisasi milik orochimaru, tapi Minato menolak dan orochimaru melihat fugaku yang saat itu sedang kesulitan membayar biaya administrasi karna itulah dia menjebak Fugaku agar mau bergabung dengannya. Tidak mendapat Minato maka orochimaru mulai mengincar Fugaku.
-udah segitu aja penjelasannya, sekian dan terimakasih.
See you next chap !
Pai pai (|O.o)/
