Note : di chapter ini masih bermain di flashback ! di chap ini juga menceritakan dari sudut pandang kushina *di baris-baris terakhir*

Chapter 11 : Mistake

Hidup dengan menanggung kesalahan yang tidak kau perbuat, apa yang akan kau rasakan. Sakitkah. Menyesakkankah. Atau mungkin tidak ada rasa apapun yang menyerangmu tapi kau ingin sekali mengakhiri hidupmu. Jika kau bertanya padaku aku akan menjawab semuanya, karna memang semua itu yang aku rasakan selama ini. Sakit, menyesakkan, dan perasaan ingin membunuh diriku sendiri, semua itu selalu memaksaku untuk mengingat kenyatan bahwa aku yang disalahkan, aku yang menanggung kesalahan yang tidak pernah aku perbuat. Entah ini salah siapa, tapi kumohon ambil kembali kesalahanmu dan lepaskan aku dari status yang bersalah ini, akan kuberikan apapun asalkan kau mau mengambilnya kembali.

"Ruko-chan sedang apa ?"

Naruko atau biasa dipanggil Ruko itu menoleh saat mendengar suara yang selama ini selalu menyelamatkannya, dia yang selalu ada saat Ruko teringat dengan kenyataannya, dia yang meyakinkan Ruko bahwa Ruko tidaklah salah dan itu hanya kecelakaan. Meskipun sepele tapi baginya kepercayaan itu mahal sangat mahal, mengetahui ada orang yang mempercayai bahwa dirimu tidak bersalah, walaupun dia tahu semua orang menyalahkanmu, tapi dia tetap yakin bahwa kau tidaklah salah, selalu ada saat kau terpuruk, mau jatuh bersama denganmu, mengulurkan tangannya saat kau tidak memiliki pegangan, dia benar-benar seorang aniki yang hebat.

"nii-chan kenapa kaa-chan selalu saja menyalahkanku ?"

Dia tidak langsung menjawab, dengan gemas dia mencubit kedua pipi Naruko lalu tertawa lepas setelah melihat wajah cemberut Naruko.

"entahlah, mungkin kaa-chan butuh pelampiasan."

Naruko menundukkan kepalanya. Jadi dia hanya pelampiasan.

"hei, bagaimana kalau hari ini kita ke taman bermain ? ada yang ingin nii-chan kenalkan pada adik kecil nii-chan yang imut ini."

Mata Naruko berbinar penuh minat. Mudah sekali dia mengganti moodnya. Kekehan kecil itu berasal dari laki-laki pirang tersebut.

"sa ! ayo kita berangkat !"

Seru laki-laki itu semangat sambil mengepalkan tangannya meninju udara kosong.

"Uhm !"

…..

"nii-chan apa aku boleh bertanya sesuatu ?"

Laki-laki pirang itu menghentikan langkahnya, memandang adik kecilnya itu dengan pandangan penuh tanya.

"kata kaa-chan aku gila. Apa menurutmu itu benar ?"

Laki-laki itu terdiam.

"Naruto dengarkan kaa-chan."

"hn."

"apa yang harus kita lakukan ?"

"tidak ada."

"kaa-chan serius Naruto ! tadi siang kaa-chan membawa Ruko ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya."

"Ruko itu sehat kaa-chan, berhentilah memperlakukan dia seperti dia mengidap penyakit menular !"

"tapi kenyataannya dia memang sedang sakit Naruto !"

"dia tidak terlihat seperti itu."

"bacalah sendiri."

"uso ! tidak mungkin ! sejak kapan dia mengidap penyakit ini ?"

"entahlah, kata dokter kondisinya akan semakin tidak stabil."

"Ruko-chan."

Jadi kaa-chan juga mengatakan hal itu kepada Ruko-chan.

"itu tidak benar kok ! Ruko itu tidak gila atau apapun itu namanya, Ruko-chan wa Ruko-chan desu !"

Aku tidak peduli walaupun dokter yang mengatakannya, kau tetaplah Ruko-chan adikku.

"uhm ! Ruko juga yakin kok kalau Ruko tidak gila !"

Naruko tertawa seperti anak kecil, tawa yang tanpa beban. Laki-laki pirang itu ikut tersenyum karenanya. Skizofrenia ka, tapi dia tidak terlihat seperti itu. Dia tetaplah Naruko adik kecilku.

"ne nii-chan Ruko mau ice cream !"

Laki-laki pirang itu mengacak pucuk rambut Naruko gemas, selalu saja seperti ini. Dia memang sangat mudah mengganti moodnya. Tapi itu bukan gejala skizofrenia kan. Kuharap tidak.

"baiklah, Ruko-chan tunggu disini dulu ya ?"

Naruko mengangguk semangat.

….

"kore !"

Naruko menerima ice cream rasa duren yang diberikan oleh anikinya tersebut.

"nii-chan bilang nii-chan ingin mengenalkan seseorang padaku, jadi dimana dia sekarang ?"

Laki-laki pirang itu tiba-tiba menundukkan kepalanya, kedua pipi tannya tampak bersemu kemerahan. Malu eh.

"u-uhm sebenarnya d-dia i-itu bagaimana aku menjelaskannya ya hahaha."

Naruko memandang aneh pada anikinya yang tiba-tiba salah tingkah itu. Apa dia sedang jatuh cinta.

"nii-chan menyukainya ?"

Laki-laki pirang itu tersedak salivanya sendiri, bagaimana mungkin adiknya itu bisa menebak semudah itu.

"hehe ketahuan ya ?"

Naruko mengangguk semangat.

"yah, jadi aku bertemu dengannya saat aku akan membelikan hadiah untuk ulang tahunmu dan ulang tahunku tentunya. Saat itu aku meninggalkan dompetku, dan tiba-tiba saja dia menyerahkan uangnya padaku, lalu dia bilang 'a-ano pakai saja uangku dulu, aku tidak membutuhkannya sekarang.' Kyaa dia benar-benar menggemaskan saat dia menundukkan kepalanya dan memainkan kedua tangannya."

Naruko berkedip beberapa kali. Anikinya memang benar-benar jatuh cinta ternyata.

"lalu kalian pacaran ?"

Blush

"ti-tidak kok, a-aku tidak berani bilang padanya. Dia pasti menolakku."

Naruko menjitak surai pirang aniki bodohnya itu.

"itai yo Ruko-chan ! aku ini anikimu loh yang sopan dikit dong !"

Naruko mengerucutkan bibirnya.

"nii-chan hanya kebetulan lahir dua menit lebih cepat dariku, jadi sebenarnya kita seumuran. Kalau nii-chan lupa."

Laki-laki itu tertawa garing, benar juga dia selama ini memang selalu menganggap Ruko itu masih kecil dan butuh perlindungan, padahal umur mereka sama.

"lalu dimana dia sekarang ?"

Laki-laki pirang itu menggaruk tengkuknya.

"entahlah aku tidak tahu."

Naruko mengerutkan keningnya, bukankah dia mengajaknya kesini untuk bertemu dengan perempuan itu, lalu kenapa dia sendiri tidak tahu dimana dia sekarang.

"aku sudah mengajaknya, tapi dia tidak membalas pesanku."

Ditolak eh.

"siapa namanya ? bagaimana ciri-cirinya ?"

Naruko mulai tertarik.

"eto namanya Hinata Hyuuga, rambutnya berwarna ungu kehitaman, berponi selamat datang, kulitnya putih, matanya seperti lavender, pipinya kemerahan, dia itu pemalu dan dia juga sangat imut. Dia suka memainkan tangannya di depan dada seperti ini."

Kau terlalu berlebihan aniki.

'drt drt'

"woah dia bilang dia akan kesini, aku akan menjemputnya di gerbang, Ruko-chan mau ikut ?"

Naruko menggeleng.

"baiklah aku pergi dulu, tunggu aku disini ya ! jaa ne !"

Rasanya aneh melihat sifat aniki berubah karna jatuh cinta. Cinta ka. Apa itu cinta.

"ittai !"

Naruko mengerang kesakitan saat beberapa orang berlari kearahnya dan menabrak tubuh kecilnya. Mereka seperti sedang terburu-buru.

"permisi ada apa ya ? kenapa semua orang berlari ?"

Tanya Naruko pada seorang pengunjung yang kebetulan lewat disampingnya.

"oh itu, ada kecelakaan didepan gerbang."

Nii-chan. Tapi tidak mungkin.

"bagaimana cirri-cirinya ?"

Kuharap bukan –

"entahlah, tapi aku dengar rambutnya berwarna kuning."

Tidak mungkin. Nii-chan.

Naruko langsung berlari kearah gerbang, memastikan bahwa itu bukanlah anikinya, orang tadi pasti hanya bercanda, ya dia pasti hanya bercanda. Tapi apa untungnya dia bercanda denganku, dia sama sekali tidak mengenalku.

"uso !"

Bisik Naruko saat melihat tubuh anikinya yang tergeletak di aspal dengan darah yang mengalir deras dari tubuhnya.

"NII-CHAN !"

Apa yang sudah kau lakukan ?

Kau siapa ?

Aku adalah sisi lain dirimu, aku adalah dirimu sendiri.

Apa maksudmu ?

Aku adalah isi hatimu yang selama ini kau pendam, aku tahu semua tentangmu melebihi siapapun.

Nii-chan, aku harus menyelamatkannya.

Percuma, dia tidak akan selamat.

"Urusai !"

Pekik Naruko sambil memeluk tubuh anikinya yang sudah tidak sadarkan diri.

"cepat panggil ambulance !"

Harusnya kau ikut bersama dengannya, dan dia tidak akan seperti ini.

"Urusai hiks urusai !"

Racau Naruko sambil terus memeluk tubuh anikinya yang semakin dingin.

Setelah ini kaa-chan akan semakin membencimu.

"hiks urusai !"

Tidak lama ambulance datang dan membawa anikinya.

Kau benar-benar akan sendiri sekarang.

Kau benar, aku akan sendiri sekarang.

Ne, kau tahu untuk apa kau hidup ?

Entahlah, untuk –

Tidak bisa menjawab ? selama ini kaa-chan selalu membencimu, dia selalu menyalahkanmu.

Tapi selama ini nii-chan selalu ada untukku.

Tapi sekarang dia sudah pergi, kau tidak aka nada pegangan lagi. Kau sudah kehilangan tujuan hidupmu Naruko. Jadi tidak ada gunanya lagi kau hidup.

Memangnya apa tujuan hidupku yang hilang itu.

Naruto, kau tetap hidup seperti sekarang karna Naruto ada disisimu bukan. Lalu setelah ini bagaimana kau bisa hidup.

Lalu apa yang harus aku lakukan.

Akhiri hidupmu, kau tidak berguna lagi sekarang, aku sudah kehilangan tujuan hidupmu sekarang. Game is over Naruko.

"apa yang kau lakukan !"

Seorang laki-laki raven memegang tangan Naruko yang mencoba mencekik lehernya sendiri.

"hanase !"

Laki-laki raven itu tidak menyerah, dia terus mencoba melepaskan tangan Naruko dari lehernya. Sial kuat sekali dia.

"apa kau gila ? kau bisa mengakhiri hidupmu sendiri."

Naruko tertawa mengejek, lalu dilepaskannya tangannya sendiri dari lehernya.

"ya, kaa-chan bilang aku gila, aku gila kau puas ! aku gila dan sekarang aku kehilangan tujuan hidupku !"

Safir Naruko membola. Hangat. Dia tahu perbuatan laki-laki raven itu sangat tidak sopan dengan memeluknya secara mendadak seperti ini, tapi tetap saja rasanya hangat, dan dia suka itu.

"maaf aku tidak bermaksud. Aku juga memiliki aniki yang bernasib sama denganmu. Dia juga bilang kalau dia sudah kehilangan tujuan hidupnya setelah kaa-chan meninggal, dan dia tidak pernah menganggapku lagi setelah itu, padahal dia bisa menjadikanku sebagai tujuan hidupnya jika dia mau."

Naruko menggigit bibirnya, jadi tidak hanya dia yang mengalami semua ini.

"jadi kumohon jangan sakiti dirimu sendiri lagi. Aku tidak akan membiarkan orang lain melakukan apa yang dilakukan oleh anikiku."

Padahal aku tidak pernah peduli dengan masalah orang lain, tapi melihat gadis pirang ini aku seperti melihat aniki. Mereka sangat mirip. Benar-benar sangat mirip sampai aku sendiri bingung untuk membedakannya. Mungkin gender tidak termasuk hitungan disini.

….

'plak'

Kaa-chan.

"kau sudah membunuh tou-san dan sekarang kau mau membunuh anikimu sendiri ! kau benar-benar anak yang tidak berguna !"

Kau anak yang tidak berguna.

Diamlah, aku tidak ingin berbicara denganmu sekarang.

Tapi kau tidak akan bisa mengusirku, karna aku adalah dirimu sendiri Naruko.

"AKU BILANG AKU TIDAK MAU BERBICARA DENGANMU ! BERHENTILAH BERBICARA DENGANKU !"

Teriak Naruko frustasi, dia mengacak surai pirangnya asal. Kenapa semuanya menjadi serumit ini.

"R-Ruko kau kenapa ?"

Naruko memandang wanita yang menyandang gelar ibunya itu dengan pandangan tajam.

"aku gila ! kau benar ! aku gila ! sekarang di kepalaku ada suara-suara yang terus menyuruhku untuk bunuh diri ! kau puas sekarang."

Kushina tersentak. Naruko tidak pernah mengeluarkan isi hatinya selama ini. Dia hanya diam saat dia menyalahkannya atas kematian suaminya, karna itulah dia menimpakan kesalahan itu pada putrinya sendiri. Tapi sekarang dia mengeluarkan isi hatinya yang selama ini dia pendam sendiri. Rasa bersalah itu membuat Kushina sempat berpikir untuk memeluknya dan mengatakan bahwa semua akan baikk-baik saja, tapi tetap saja melihat wajahnya membuat Kushina teringat dengan almarhum suaminya, dan tiba-tiba saja rasa benci itu muncul.

"aku membunuh tou-chan dan sekarang aku hampir membunuh nii-chan. Apa menurutmu aku pantas hidup ?"

Tidak, aku tidak pantas untuk hidup.

"aku bilang diam ! aku tidak sedang berbicara denganmu."

Kushina memandang prihatin pada putrinya tersebut, apa dia memang sudah keterlaluan.

"tou-chan meninggal karena aku !"

Benar juga, dia adalah menyebab kematian Minato, kalau saja Minato tidak menerima rengekannya untuk pergi jalan-jalan mungkin sekarang Minato masih ada disini, dialah yang bersalah.

"apa yang harus aku lakukan ?"

Naruko memeluk lututnya sendiri.

Kau tidak berguna Naruko.

"aku memang tidak berguna. Karna itulah apa yang harus aku lakukan ?"

Kushina memegang kedua bahu Naruko, membuat si empunya mendongak.

"aku tahu apa yang harus kau lakukan."

"tapi aku tidak gila kaa-chan, kenapa kau membawaku kesini ?"

Kushina tidak menjawab, dia harus membuat sisi lain Naruko itu menghilang. Dan ini adalah satu-satunya cara.

"ini Ruko, mohon jaga dia baik-baik Iruka-san."

Laki-laki manis dengan luka melintang itu mengangguk, lalu dia membawa Ruko ikut bersamanya.

"Ingat, jangan menggunakan nama lengkapmu di tempat ini. cukup Ruko saja."

Kau dibuang Naruko. Dia membuangmu.

"lepaskan aku ! aku tidak gila."

Teriak Naruko sambil mencoba melepaskan tangan Iruka dari tangannya.

"maafkan aku Ruko-san."

Kushina memandang Shizune dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.

"jadi, apa kau yakin kalau dia akan sembuh."

Shizune menggangguk.

"setelah ini dia tidak boleh hidup sebagai dirinya sendiri, paksa dia untuk melepaskan kehidupannya. Kita akan mengusir sisi lainnya secara paksa dengan cara ini."

Kushina mengangguk. Kau pasti akan semakin membenciku setelah ini. Tapi tak apa, karna memang hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku. Dan aku tidak berharap kau akan mengerti. Naruko.

"benarkah kau tahu apa yang harus aku lakukan ?"

"kau harus direhabilitasi, dan setelah itu kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Naruto."

"kau benar-benar kejam kaa-chan ! aku tidak gila dan aku tidak bersalah."

"aku tahu, tapi hanya itu satu-satunya cara. Atau kau ma uterus hidup dengan sisi lainmu itu ?"

"baiklah aku setuju."

Aku tidak pantas meminta maaf padamu. Kau pasti juga berpikir begitu bukan, Naruko. Ya. Aku tidak akan memintamu memaafkanku. Karna akupun tidak akan memafkan diriku sendiri.

Tbc

Cuap-cuap author :

Azek udah chap 11 nih !

Jadi gimana udah kebongkar semua kan ?

Oya ada yang tahu gak siapa laki-laki raven yang memeluk Naruko itu ?

Krik krik krik

#plak

Hehe

See you next chap !

Salam please don't -?- #emang_ada?