Note : kita mamasuki 2 chapter terakhir (/∏.∏\) #nangis_bombay

Chapter 12 : Choice

Manik onyx Itachi memandang jalanan ramai di hadapannya, berharap dia akan menemukan seorang yang sudah ditunggunya dari satu jam yang lalu, dan sampai sekarang belum juga menampakkan batang hidungnya. Ingatkan Itachi untuk memberikan pelajaran pada orang itu saat dia tiba nanti.

"gomen Tou-san terlambat."

Itachi memandang laki-laki dewasa itu dengan pandangan kesal. Dia bukan terlambat, tapi sangat terlambat, kalau dia lupa itu.

"hn."

Fugaku a.k.a laki-laki dewasa itu duduk disamping Itachi.

"jadi ada apa ?"

Itachi memberikan sebuah amplop tebal kepada Fugaku.

"ambillah dan segera keluar dari organisasi itu. Aku tidak mau kau membunuh orang lebih banyak lagi. Setelah keluar dari tempat itu aku tidak memaksamu untuk kembali, pilihlah pilihan tou-san sendiri."

Fugaku tersenyum, dia tahu bahwa Itachi selama ini selalu mengkhawatirkannya, tapi dia tidak mau mengakuinya. Dan Fugaku sama sekali tidak menduga bahwa Itachi akan melakukan ini untuknya.

"Arigatouu Itachi. "

Lalu hening.

"ne Itachi, boleh tou-san meminta sesuatu ? "

Itachi memandang penuh tanya. Sejak kapan tou-sannya ini berubah menjadi melankolis begini.

"Tou-san ingin melihatmu menikah dengan seseorang yang kau cintai."

Kenapa ini seperti de javu.

"Tou-san sangat ingin melihatmu menikah dan bahagia dengan keluarga barumu."

Ini bukan kalimat perpisahan bukan.

"Tapi apa masih sempat ya ?"᷊᷊ʘʘ

Kumohon jangan lagi.

(/ʘ_ʘ\) (/∏.∏\) (/ʘ_ʘ\)

"nii-chan baju ini sangat kekanakan."

Rengek Naruko pada laki-laki pirang yang masih asik memperhatikan penampilan barunya. Dress hitam pendek selutut, cek. Jepit rambut biru, cek. Sepatu high heels, cek. Make up natural, cek. Anting panjang, cek. Wah dia benar-benar sangat menawan dengan tampilan seperti ini.

"kau cantik dengan gaun itu Ruko-chan."

Naruko merengut tidak suka, rasanya benar-benar aneh saat kau harus memakiai dress pendek seperti ini. Padahal selama ini kau hanya menggunakan kaos, kemeja, dan celana. Walaupun dia ingin menjadi Naruko lagi tapi tidak seekstrem ini juga, dia hanya ingin orang mengakuinya sebagai Naruko yang berjenis kelamin perempuan tanpa harus menggubah stylenya seperti ini.

"oh ayolah nii-chan kita tidak sedang kencan jadi biarkan aku memakai kaos kesayanganku."

Pletak

"ittai yo nii-chan, kalau aku amnesia bagaimana ?"

Pletak

"Nii-chan !"

Laki-laki pirang a.k.a Naruto tertawa melihat wajah adiknya yang sedang kesal itu. Sekarang ini dia sudah keluar dari rumah sakit, dan tinggal lagi dirumah keluarganya, awalnya dia ingin tinggal di apartemen Naruko tapi adiknya itu langsung melarangnya. Dia bilang akan repot kalau sampai tetangganya tahu tentang Naruto yang asli. Memangnya siapa tetangga Naruko itu. Kenapa Naruko sangat mengkhawatirkannya.

"Ruko-chan, besok Kaa-chan akan pulang."

Langkah Naruko terhenti. Wanita itu lagi. Kenapa dia tidak tinggal menetap saja disanaa dan tidak usah kembali lagi.

"Kaa-chan bilang kalau dia sangat merindukanmu."

Naruko mengerutkan keningnya, merindukannya. Apa dia tidak salah dengar.

"Kapan dia menghubungimu ?"

Tanya Naruko penuh selidik.

"kemaren malam. Dia sangat senang saat tahu aku sudah sadar. Dan dia juga menanyakan kabarmu. Lalu aku ceritakan saja semuanya, yah awalnya aku benci dengan sikap kaa-chan yang menurutku keterlaluan padamu, tapi aku akhirnya mengerti saat dia menceritakan semuanya."

Apa maksudnya itu.

Naruto membawa Naruko kedalam pelukannya, ah sudah berapa lama dia tidak memeluk adik kecilnya ini, dan sekarang dia sudah menjadi gadis yang sangat cantik. Beruntungnya aku bisa memilik adik secantik Naruko.

"Kaa-chan sangat menyayangimu Ruko-chan."

Naruko tertawa mengejek. Menyayanginya, yang benar saja. Apa kiamat sebentar lagi.

"kau bohong, dia bahkan mungkin tidak pernah menganggap bahwa aku adalah anaknya.

(/ʘ_ʘ\) (/∏.∏\) (/ʘ_ʘ\)

Fugaku menatap amplop yang diberikan Itachi dengan penuh pertimbangan. Apa yang harus dia lakukan. Si manusia ular itu pasti tidak akan membebaskannya begitu saja hanya karna dia menebus dirinya sendiri. Seperti yang dialami oleh Jugo. Sepertinya dia harus mencari cara lain.

"putra bungsumu yang menyelidikinya."

Benar juga kenapa dia tidak pernah berpikir sejauh itu.

Kemana saja dia selama ini.

Dengan tergesa Fugaku mengetik sesuatu di laptopnya.

Gomen Itachi, tou-san sepertinya tidak bisa kembali kepada kalian.

(/ʘ_ʘ\) (/∏.∏\) (/ʘ_ʘ\)

"Shikamaru-san ada apa ?"

Laki-laki nanas itu a.k.a Shikamaru langsung bergegas mengambil jaket polisinya dan menyuruh anak buahnya untuk bersiap-siap.

"Shikamaru-san ada apa ini sebenarnya ?"

Tanya seorang laki-laki bersurai merah bata itu pada Shikamaru.

"bersiaplah untuk penyergapan. Tapi kalian harus hati-hati, lakukan sebersih mungkin. Jangan timbulkan suara apapun saat penyergapan."

Laki-laki bersurai merah itu hanya mengangguk, walaupun dia sama sekali tidak mengerti maksud dari atasannya tersebut.

"ingat kalian harus tetap waspada !"

Seru Shikamaru serius.

Para bawahannya hanya mengerutkan keningnya, melihat sifat atasan mereka yang selama ini terkenal pemalas bisa menjadi serius seperti ini.

(/ʘ_ʘ\) (/∏.∏\) (/ʘ_ʘ\)

Shikamaru menodongkan pistolnya pada seorang laki-laki yang duduk membelakanginya.

"aku tidak menyangka bahwa ada salah satu kaki tanganku yang akan berkhianat."

Tidak ada jawaban yang diterima laki-laki itu.

"kau tidak akan bisa menangkapku semudah itu."

Shikamaru tertawa sinis. Kau tidak akan bisa lari Orochimaru-san.

"kalau kau ingin melarikan diri dari pintu rahasia itu kau hanya akan mati terpanggang."

"Shikamaru-san kenapa aku harus menyalakan api ditempat pengap ini ?"

"lakukan saja, pastikan apinya cukup besar dan tidak akan menyambar ke ruangan lainnya."

"Ha'i."

Orang itu benar-benar memberikan info yang sangat bermanfaat. Ingatkan Shikamaru untuk berterimakasih pada pengirim amplop coklat gading itu.

Orochimaru membulatkan matanya. Dari mana polisi brengsek ini tahu tentang pintu rahasianya.

"kalau kau ingin menyalakan alarm maka itu juga percuma, tidak akan ada yang datang menolongmu."

"tangkap semua anak buahnya terlebih dahulu."

"tapi itu akan membutuhkan waktu yang lama Shikamaru-san."

"lakukan atau kau akan kulaporkan pada nee-sanmu kalau kau membantah perintahku ! lagi pula kita memiliki data mereka. Jadi tidak akan susah untuk menangkapnya. Dan ingat, jangan sampai ada satupun yang tertinggal."

"Ha'i."

Kau tahu butuh waktu dua hari untuk menangkap semua anak buahmu.

Kau pikir aku tidak punya rencana ketiga. Kau tidak akan bisa menangkapku hanya dengan dengan menebak dua rencana awalku polisi sialan. Kau akan mati sekarang juga.

"kalau kau ingin mengeluarkan pistolmu maka pastikan dulu dimana kau meletakkan pistolmu. Apakah mereka masih disana atau tidak."

"Shikamaru-san kita ini polisi kan ?"

"hn."

"lalu kenapa kita terlihat seperti pencuri sekarang."

"diam dan cepat ambil semua pistol ini. Pastikan tidak ada yang tersisa."

Sial. Dia benar-benar menutup jalanku untuk melarikan diri.

"game is over Orochimaru-san."

(/ʘ_ʘ\) (/∏.∏\) (/ʘ_ʘ\)

"kau yang mengirimkan paketan itu kan ?"

Fugaku tertawa, polisi ini benar-benar cerdas.

"itu tidak penting. Tapi apa aku boleh meminta bantuanmu ?"

Shikamaru mengerutkan keningnya. Apa dia ingin aku membalas budi.

"kalau kau ingin memintaku untuk membebaskanmu maka aku menolak."

Fugaku tertawa, ternyata tidak secerdas yang dia kira.

"bukan bukan, aku hanya ingin kau memberikan ini pada Itachi."

Shikamaru mengambil bingkisan itu dan mencoba menebak isi dari bingkisan tersebut.

"itu bukan bom, bukan senjata tajam, bukan narkoba. Itu hanya barangnya yang tertinggal."

Barang yang tertinggal, tapi tunggu dari mana dia mengenal Itachi.

"kau mengenal Itachi-nii ?"

Fugaku mengangkat bahunya acuh.

"Anggap saja begitu, sudahlah aku ngantuk."

Shikamaru memandang aneh kearah Fugaku.

"kau sedang di penjara sekarang, kalau kau lupa."

(/ʘ_ʘ\) (/∏.∏\) (/ʘ_ʘ\)

"Itachi-nii ada bingkisan untukmu. Dari laki-laki bernama Fugaku."

Shikamaru ka. Matte, kenapa tou-san bisa mengenal Shikamaru.

"Sankyu."

Onyx Itachi langsung membola. Apa yang sudah dilakukan tou-sannya.

"katakana dimana dia sekarang ?"

Shikamaru terkejut melihat Itachi yang tiba-tiba menjadi emosional seperti ini. memangnya siapa laki-laki bernama Fugaku itu.

"di penjara."

Kau benar-benar bdoh tou-san.

"sial !"

Itachi langsung pergi meninggalkan Shikamaru. Dia berlari sekencang mungkin agar bisa bertemu dengan orang tua bodoh itu. Apa sebenarnya yang ada dipikirannya. Dia sellau berbuat seenaknya. Mengusirnya dari rumah dan memaksanya pindah, pergi meninggalkan keluarganya dan bergabung dengan organisasi sialan itu, membunuh istrinya sendiri untuk bisa bersama lagi dengan istri dan anaknya, dan sekarang dia menyerahkan diri pada polisi. Dia benar-benar susah ditebak.

'bruk.'

"i-itai."

Itachi terdiam, onyxnya memandang gadis yang terjatuh di hadapannya, surai pirang pendek dengan jepit rambut yang sewarna dengan bola mata sadirnya. Cantik . Ah apa yang dia pikirkan, dia harus segera bertemu dengan tou-sannya. Tapi sepertinya dia mengenal bola mata safir itu, tapi dimana. Entahlah, dia tidak akan memikirnya, sekarang dia memiliki urusan yang lebih penting.

"gomen, aku terburu-buru.".

Lalu Itachi kembali melanjutkan larinya, meninggalkan gaids pirang itu yang kini menatapnya dengan pandangan terluka.

Dia tidak mengenaliku. Dasar laki-laki keriput.

"Ruko-chan genki desu ka ?"

Gadis pirang itu mengangguk lalu menyambut uluran tangan si laki-laki pirang.

"uhm genki yo nii-chan."

(/ʘ_ʘ\) (/∏.∏\) (/ʘ_ʘ\)

Itachi terengah-engah saat dia sampai di kantor polisi. Di tatapnya bingkisan yang ada ditangannya, sekarang dia benar-benar tidak tahu apa yang ada dipikiran tou-sannya tersebut.

'Itachi gomen tou-san tidak bisa kembali pada kalian sekarang, tou-san akan bertanggung jawab atas kematian kaa-sanmu."

Apanya yang tanggung jawab, dia sekarang malah membuatku cemas seperti ini.

"aku ingin menjenguk Fugaku."

Kenapa kau selalu memutuskan hal-hal penting seperti ini dengan seenak hatimu. Kau sama sekali tidak berubah tou-san. Susah ditebak.

"Itachi."

Itachi tidak langsung menjawab. Setelah dia yakin bisa mengendalikan emosinya barulah dia mengeluarkan suaranya.

"kenapa tou-san melakukan ini ?"

Fugaku menepuk pundak Itachi.

"dia tidak akan melepaskanku hanya dengan uang Itachi."

Uso, lalu kenapa dulu kau merampok rumah kami dan membunuh kaa-san. Kau bilang dengan menebus dirimu sendiri kau bisa bebas, tapi kenapa sekarang kau bilang itu adalah hal yang tidak mungkin. Ini sama sekali tidak lucu tou-san.

"seminggu yang lalu ada rekan tou-san yang nekat berhenti dan memberikan uang sebagai tebusan untuk dirinya sendiri. Keesokan harinya dia menemukan mayat keluarganya tercecer dilantai rumahnya. Aku tidak mau hal itu terjadi pada kalian."

Dia benar-benar ular. Ular yang sangat brengsek.

"brengsek."

Fugaku tersenyum, dia membelai wajah Itachi dengan kedua tangannya.

"Tou-san akan tetap disini sampai tou-san bebas,lalu tou-san akan segera menghilang setelah tou-san bebas, kau hiduplah dengan bahagia Itachi."

Itachi mendelik tidak suka. Dia memang selalu bertingkah seenaknya. Tapi kali ini keterlaluan.

"siapa yang akan menghilang ? kau harus kembali lagi kepada kami. Jangan memutuskan sesuatu dengan seenak hatimu !"

Fugaku tidak menanggapi. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.

"lalu bagaiimana dengan Sasuke ? apa dia sehat ?"

Itachi menghela nafas..

"Dia sehat, dia juga sudah punya istri. Mungkin tahun depan kau akan segera menimang cucu."

Fugaku tertawa. Kenapa dia baru tahu sekarang.

"kenapa tou-san tertawa ?"

Tanya Iatchi cemas, tidak mungkin tou-sananya jadi benar-benar gila karna dia menceritakan tentang Sasuke kan.

"hahaha jadi ceritanya kau kalah popular dari adikmu sendiri ya ?"

Sepertinya Itachi terlalu berlebihan untuk mencemaskan tousannya itu.

(/ʘ_ʘ\) (/∏.∏\) (/ʘ_ʘ\)

"ne nii-chan tahu tidak ?"

Naruto menggeleng.

"aku ingin ketoilet."

Pletak

"itai ! kenapa sekarang nii-chan suka sekali menjitak kepalaku ?"

Naruto mengangkat bahunya acuh.

"ish, nii-chan me-nye-bal-kan !"

Stelahnya Naruko langsung berlari menghindari jitakan sayang dari anikinya.

Sudah lima belas menit, dan adik pirangnya itu belum kembali juga. Apa mungkin dia harus menyusulnya.

Baru saja Naruto akan berdiri tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik ujung bajunya.

"e-etto gomen Naruto-kun aku terlambat."

Naruto-kun ?

"kau –"

Naruto memandang gadis itu dari atas kebawah lalu keatas lagi. Tidak mungkin, dia –

"Hinata ? kenapa kau ada disini ?"

Are ?

Hinata memiringkan kepalanya. kenapa Naruto bertanya seperti itu. Bukankah dia yang mengajaknya kencan hari ini.

"bukankah Naruto-kun sendiri yang memintaku datang kesini ?"

Na-ru-ko. Ingatkan Naruto untuk memberikan pelajaran pada adik nakalnya itu.

"ah iya maaf aku lupa. Jadi, bagaimana kabarmu ?"

Hinata menundukkan kepalanya, kenapa detak jantungnya bisa secepat ini. Kenapa rasanya dia sangat merindukan laki-laki pirang ini, bukankah mereka adalah tetangga yang otomatis hampir setiap hari mereka akan bertemu, tapi rasanya Naruto yang ada dihadapannya ini adalah seseorang yang berbeda. Entahlah, mungkin itu hanya perasaannya saja.

"baik."

Apa yang harus aku katakan lagi.

"a-ah bagaimana kalau kita memesan makanan dulu ?"

Hinata mengangguk. Rasanya benar-benar gugup.

"uhm."

Kalau dipikir-pikir mereka memang sangat serasi sih. Berarti rencanaku berhasil. Jagalah Hinata baik-baik, nii-chan.

"Hi-Hinata."

Naruto menggenggam tangan Hinata dengan malu-malu. Lalu bagaimana dengan Hinata, jangan ditanya, wajahnya sudah sebelas dua belas dengan kepiting rebus sekarang.

"uhm ?"

Gluk, apa sekarang waktu yang tepat. Tapi bukankah lebih cepat lebih baik.

"menikahlahdengankuHinata!"

Bodoh ! kenapa kau berbicara secepat itu.

"Naruto-kun bilang apa tadi ?"

Aku ingin menghilang sekarang.

"Me-menikahlah de-denganku Hi-Hinata."

Blush

"n-ne."

Apa ! dia langsung melamarnya , dia benar-benar aniki yang nekat. Tapi tidak apa-apa , bukankah semakin cepat akan semakin baik.

Kalau dipikir-pikir sudah lama sekali aku cuti dan tidak melihat si laki-laki keriput itu. Ah tapi tadi saja dia tidak mengenaliku, apa karna aku berpakaian perempuan ya, kalau memang iya berarti selama ini dia menyukaiku karna aku Naruto-nii dong, Argh bagaimana ini. Tidak mungkin aku kalah dengan Naruto-nii. Itu memalukan, sangat sangat memalukan.

Tbc

Cuap-cuap author : ne minna-san ! kita hampir masuk ke tahap END loh, jadi apa masih ada yang kalian bingungkan dari cerita ini #Reader : Banyak ! hohoho kalau masih bingung tanya aja sama moya ntar gak akan moya jawab kok tenang aja #plak.

Oya sekedar minta saran, di chap terakhir nanti kalian mau gak kalau moya masukin lime sedikit ? kalau kagak mau juga kagak akan gua kasih kok.

Oke segitu aja see you in the END CHAP !