Note : kemungkinan ini adalah chapter terakhir. Oke sekedar curhat yak, suka duka bikin ff ini itu buanyak banget loh ! jujur awalnya moya Cuma mau bikin 2 chapter, dan final pairnya itu Naruhina. Nah pas baca flame di kolom review moya jadi mikir, gimana caranya agar si flamer itu ketipu dengan cerita moya. Awalnya dia ngflame kan gara-gara naruto yang laki-laki suka sama Sasuke yang juga laki-laki padahal Sasuke suka sama Sakura. Dan juga ada yang protes karna moya salah masukkan chara sakura makanya penggemar sakura jadi kesasar di cerita aneh ini,kalau untuk itu moya bener-bener minta maaf (/-.-\). Padahal moya gak ada niat buat ngebashing Sakura loh beneran.
Chapter 13 : END
"Nii-chan kenapa kau mengajakku ? aku ada urusan yang lebih penting tahu !"
Pletak
Kenapa sekarang anikinya itu suka sekali memukul kepalanya, memang dia pikir kepalanya ini benda yang bisa dia pukul-pukul seenaknya apa.
"diamlah, kita harus menyambut kepulangan kaa-chan !"
Aku tidak mau.
"kaeru !"
Sret
Naruto langsung menarik kerah kaos Naruko dari belakang, membuat gadis pirang itu merintih kesakitan sambil memegangi lehernya yang tercekik kerah bajunya sendiri.
"gah kau mau membunuhku ya ?"
Naruto memutar bola matanya. Dia terlalu berlebihan. Dia tidak akan mati hanya karna itu bukan.
"diam dan duduklah."
Naruko tidak menjawab, hanya menuruti perintah anikinya sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Ruko-chan bisa kau jelaskan apa maksudmu mengundang Hinata tanpa mengatakan apapun padaku ? kau membuatku seperti orang idiot kemaren."
Naruko nyengir rubah sambil menggaruk lehernya. Bukankah anikinya itu memang sudah idiot dari lahir ya.
"tehee ketahuan ya ? padahal aku Cuma mau kasih surprise loh !"
Pletak
"Nii-chan kalau kepalaku benjol bagaimana ?"
Itu salahmu sendiri.
"dakara 'tehee' janai yo !"
Suara kekehan yang asing bagi mereka berdua membuat keduanya kompak menoleh. Dan seketika itu juga kedua pasang safir itu membola. Sejak kapan dia berdiri disana.
"kaa-san ? kapan kaa-san datang ?"
Naruto langsung memeluk wanita bersurai merah itu dengan erat.
Cih. Naruko mendecih tidak suka.
"senang melihat kalian akur seperti tadi."
Bukankah kami memang sudah akur sejak awal. Kemana saja kau selama ini.
"berpura-pura baik !"
Naruto menatap Naruko dengan tatapan tajam. Adiknya ini memang sangat keras kepala. Ah dia lupa kalau adiknya ini juga punya sifat pendendam yang entah dia dapat dari mana.
"Ruko-chan dia itu kaa-sanmu ! sopanlah sedikit !"
Wanita bersurai merah itu menepuk pundak Naruto, seakan mengatakan bahwa dia tidak keberatan dengan sikap Naruko padanya. Walau bagaimanapun ini juga karna kesalahannya. Dia pantas menerima kebencian Naruko.
"apakah sisi lainmu sudah hilang ?"
Naruko terdiam. Jadi selama ini dia tahu tentang sisi lainku.
"hn. Dia sudah tidak pernah muncul lagi di kepalaku."
Kalau dipikir-pikir memang dia tidak pernah lagi mendengar suara aneh itu dikepalanya. Sejak kapan tepatnya dia juga tidak ingat.
"Yokatta berarti rencanaku berhasil."
Naruko menoleh, apa wanita itu barusan mengatakan bahwa rencanaya berhasil. Rencana apa yang dia rencanakan. Entahlah.
˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ
"Yo ! akhirnya kau datang juga !"
Sapa Kakashi pada Naruto *read : Naruko* saat dia masuk kedalam bar.
"gomen Kakashi-san aku mengambil cuti terlalu lama."
Kakashi mengangguk. Dia mengerti bagaimana rasanya menjadi Naruto. Pasti menyakitkan saat kau dipaksa mengubur dirimu sendiri. Karna itulah dia membiarkan rekannya itu cuti untuk beberapa hari, lalu menyelesaikan masalahnya.
"Dia datang ke bar saat kau mengambil cuti hari pertamamu."
Naruto hanya bergumam tidak jelas.
"Dia menanyakan perasaanmu padaku."
Kakashi tertawa saat mengingat wajah kekanakan itachi yang menurutnya sangat out of character. Dia seperti seorang remaja yang sedang terkena demam galau. Padahal umurnya tidak bisa dikatakan remaja lagi. Bahkan bisa dikatakan dia sudah memasuki masa dewasa sekarang.
"lalu kau jawab apa ?"
Kakashi menyandarkan badannya di dinding, mengambil pose berpikir. Mengingat apa yang sudah dia katakan pada Itachi.
"aku bilang kalau kau menyukainya. Aku juga memberikannya alamatmu."
Safir itu seketika membola. Gawat kalau Itachi sampai melihat Naruto-nii, dia pasti akan langsung menganggap Naruto-nii adalah dirinya. Dia tidak mau itu terjadi.
"aku memberikan alamat apartemenmu bukan rumahmu."
Syukurlah.
"lalu bagaimana dengan urusan keluargamu, apa sudah selesai ?"
Naruko mengangguk semangat.
"dia sudah kembali. "
Kakashi menepuk pucuk rambut Naruto. Dia ikut senang mendengarnya.
"syukurlah, kau tidak harus berpura-pura lagi."
˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ
"moshi-moshi itachi-san. Ini aku Naruto."
Terdengar suara Itachi yang bergumam tidak jelas, apa dia baru bangun tidur. Tentu saja ini sudah hampir tengah malam kalau kau lupa, Naruko.
"datanglah ke apartemenku. Aku ingin mengadakan pesta perpisahan denganmu."
Sekarang kuapan Itachi yang di dengarnya.
"baiklah baiklah aku akan datang ke pesta perpi – EH ? APA MAKSUDMU NARUTO-CHAN ! KAU BILANG AKU HARUS MENUNGGUMU, KENAPA SEKARANG KAU MENGADAKAN PESTA PERPISAHAN DENGANKU !"
Naruko menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Mengantisipasi gendang telinganya pecah karna suara Itachi yang tiba-tiba melengking. Dia sangat kekanakan.
"sudahlah datang saja dan kau akan tahu apa maksudku."
Itachi mengeram tidak suka.
"ayolah Naruto-chan jangan tingg –"
Bip
aku memintamu menunggu Naruko bukan menunggu Naruto, Itachi-san.
˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ
Ting tong
Cepat sekali dia datang.
"Naruto-chan kumohon jangan tinggalkan aku !"
Itachi tampak memelas di depan pintu apartemennya, Naruko tertawa geli karenanya. Dia benar-benar kekanakan, apa dia tidak ingat bahwa umurnya sudah tidak muda lagi.
Kriet
"Naruto-chan !"
Itachi langsung memeluk Naruko tanpa permisi. Kekanakan. Naruko dengan suka rela membalas pelukan Itachi. Hangat, dia suka tubuh Itachi yang entah kenapa terasa sangat hangat saat mereka berdekatan.
"masuklah, aku akan menyiapkan makan malam untuk kita."
Itachi menurut, dia mengekori Naruko dari belakang.
"Duduklah."
Itachi mengangguk lalu duduk di kursi yang disediakan oleh Naruko.
"ne Itachi-san apa kau masih menyukai cinta pertamamu itu ?"
Itachi mengerutkan keningnya, kenapa sekarang Naruto membahas tentang Ruko, jangan bilang dia cemburu.
"entahlah, aku tidak tahu."
Naruko tersenyum penuh arti. Kuharap kau masih menyukainya.
"lalu kenapa kau menyukaiku ?"
Itachi diam, kenapa dia bisa menyukai Naruto. Dia tidak pernah memikirkan itu. Dia menyukai Naruto karna Naruto itu adalah Naruto. Apa itu bisa disebut dengan alasan.
"aku tidak tahu. Yang aku tahu aku tertarik padamu sejak pertama kali aku melihatmu."
Apa itu artinya kau menyukaiku karna aku. Kau tidak menyukaiku karna aku dulu Naruto kan. Kuharap tidak.
"bagaimana kalau ternyata yang kau suka itu bukan aku."
Itachi menaikkan sebelah alisnya. Terlebih saat Naruto dengan polosnya duduk dipangkuannya. Sekarang posisi mereka terlihat sedikit lebih ehem intim ehem.
"apa maksudmu ?"
Chuu~
Naruko langsung mencium bibir Itachi dengan tergesa. Itachi terkejut, tentu saja dia terkejut. Apa Naruto deman, makanya dia bisa seagresif ini padanya.
"eungh."
Desahan itu keluar dari bibir Naruto saat Itachi dengan jahilnya mencengkram pinggangnya dengan cukup erat.
"hosh….hosh..hosh… a-aku –"
Naruko dengan gerakan perlahan membuka kancing kemejanya satu persatu. Membuat Itachi menengguk ludahnya susah payah. Sepertinya Naruto benar-benar deman, pikirnya.
Sret
"apa yang kau lakukan ?"
Tanya Itachi sambil menahan tangan Naruko yang hampir melepaskan kancing terakhir kemejanya.
"sst diamlah, aku belum selesai."
Ucap Naruko dengan nada rendah tepat di telinga Itachi, membuat degup jantung Itachi berpacu dengan cepat. Apa yang dipikirkan Naruto sebernarnya, kenapa dia bertindak sejauh ini.
"bagaimana kalau aku –"
Naruko menggantungkan ucapannya, dia melepaskan kemejanya dan membiarkannya tergeletak di lantai apartemennya.
Itachi memandang aneh lilitan kain putih yang menutupi bagian dada Naruko. Apa dia terluka, karna itulah dia di perban seperti itu. Oh ayolah Itachi dimana otak cerdas yang selalu dibanggakan tou-sanmu itu.
"Aku bukan Naruto."
Naruko menunduk dalam-dalam. Setelah ini Itachi akan bernar-benar membencinya. Naruko harus siap dengan itu.
"apa maksudmu bukan Naruto ? lalu dimana Naruto yang kukenal ? kau apakan dia ?"
"Aku Naruto yang kau kenal ! ta-tapi aku bukan Naruto yang asli."
Naruko membuka lilitan kain yang menutupi payudaranya selama ini. Ingatkan naruko untuk menggali kuburannya sendiri setelah ini semua selesai.
Kenapa Naruto bisa memilikinya, bukankah dia laki-laki.
"k-kau me-memiliki'nya' ? ta-tapi bagaimana bisa ?"
Otak Itachi tidak bisa berpikir jernih sekarang. Naruto itu laki-laki kan, lalu kenapa dia memiliki payudara seperti perempuan.
"Aku bukan Narutoyang asli karna aku adalah Naruko !"
Jerit Naruko frutasi, kenapa harus serumit ini. Harusnya dia tidak melakukan hal sejauh ini. Tapi kalau tidak begini dia takut kalau Itachi tidak akan mempercayai ucapannya. Lalu pergi meninggalkannya. Tidak, dia tidak mau hal itu terjadi.
"Naruko itu siapa ? lalu dimana Naruto yang ku kenal ?"
Naruko mengacak surai pirangnya geram, grr kenapa susah sekali bicara dengan laki-laki keriput ini. Bukankah dia sudah bertanya tadi dan aku sudah menjawabnya, lalu kenapa dia bertanya lagi sekarang dengan pertanyaan yang sama pula. Kau menguras kesabaranku Itachi-san.
"aku Naruto yang kau kenal ! aku berpura-pura sebagai Naruto karna Naruto sedang koma di rumah sakit !"
Hening.
Tidak ada satupun dari mereka yang berani membuka suara.
"lalu kalau aku bilang aku Ruko cinta pertamamu apa kau akan percaya ?"
Sampai suara Naruko yang memecahkan keheningan itu.
"entahlah, aku tidak tahu. Kau bilang kau bukan Naruto dank au Naruko, sekarang kau bilang kalau kau itu adalah Ruko-chan, jadi mana yang harus aku percayai ?"
Naruko tertawa garing. Benar juga, mana yang harus dia percayai. Dirinya sebagai Naruko atau dirinya sebagai Ruko. Walaupun dua orang itu adalah orang yang sama tapi bagi Itachi keduanya adalah dua orang yang berbeda. Naruko tahu itu.
"Naruko dan Ruko itu adalah satu orang yang sama. Mereka sama-sama mengidap Skizofrenia, mereka sama-sama dibuang ibunya di rumah sakit jiwa, mereka sama-sama jatuh cinta pada 'Sasuke', laki-laki raven yang tiba-tiba memeluknya saat dia bilang bahwa ibunya yang memasukkannya kedalam rumah sakit jiwa, mereka sama-sama tertipu dengan identitas 'Sasuke', mereka sama-sama tertipu dengan sosok 'Sasuke' asli yang ternyata bukanlah 'Sasuke' yang dikenalnya, mereka juga sama sama mencintai Itachi Uchiha, sosok 'Sasuke' yang mereka kenal. Mereka adalah orang yang sama Itachi-san."
Naruko terengah, dia tidak percaya bahwa meyakinkan Itachi akan sesusah ini. dia pikir semuanya akan mudah karna kecerdasan Itachi, dan ini benar-benar diluar dugaannya.
Uso, jadi dia benar-benar Ruko-chan.
"aku tahu kau tidak akan percaya padaku, aku memang penipu dan kau pasti membenci penipu sepertiku bukan ?"
Naruko hendak turun dari pangkuan Itachi, namun tiba-tiba Itachi menahannya.
"lalu kenapa kau menghilang ?"
Naruko tersenyum bahagia. Akhirnya Itachi mengerti.
"Karna kaa-san menyuruhku untuk menggantikan posisi Naruto-nii yang sedang koma dan sengaja menghapus semua jejak tentang Ruko di rumah sakit itu. Kau tahu aku sangat membencinya, dia terus saja berbuat seenaknya padaku. Tapi baru kemarin aku tahu alasannya sebenarnya. Dan aku tahu bahwa dia tidak seburuk yang kupikirkan. Dia kaa-san yang hebat."
Naruko mengalungkan kedua tangannya di leher Itachi. Dari jarak sedekat ini Itachi benar-benar terlihat tampan.
"Dia memaksaku untuk menjadi Naruto-nii agar penyakit Skizofreniaku sembuh, dan aku bisa hidup normal lagi seperti sekarang. Jujur aku tidak pernah tahu tentang itu sebelumnya, dan aku sangat terkejut mengetahu bahwa dia juga peduli padaku."
Itachi menipiskan jarak diantara mereka. Dia Ruko-chan, dia yang merebut gelar cinta pertamanya, dia yang membuatnya menjadi gay, dia yang kucintai saat aku melihat sosok laki-lakinya, da juga yang membuatku menjadi straight saat aku tahu bahwa dia adalah Ruko-chan. Apakah ini yang dinamakan jodoh. Mungkin saja.
"kau tahu Ruko-chan, aku sangat merindukanmu."
Chuu~
Ciuman itu berlangsung lama. Keduanya tampak sangat menikmati kebersamaan mereka saat ini. Kebersamaan yang tidak dilandasi kebohongan seperti saat Naruko harus memerankan Naruto.
"jadi ini yang kau maksud pesta perpisahan ?"
Naruko mengangguk.
Pletak
"itai !"
"Ruko-chan no baka ! kau membangunkanku di tengah malam dan mengatakan bahwa kau akan mengadakan pesta perpisahan, kau benar-benar membuatku frustasi mendadak. Apa kau mau aku memberikanmu pelajaran ?"
Sepertinya Naruko mendengar alarm bahaya di otaknya.
"aku akan menginap disini, tentunya kau tahu apa maksudnya kan ?"
Seringai mesum apa itu.
"eungh I-itachi-san y-yamet-tte."
Setidaknya kau mengerti bahwa yang harus kau tunggu itu Naruko dan bukan Naruto.
˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ
"berarti rencanaku berhasil."
Rencana apa.
"Saat aku tahu kau menderita Skizofrenia aku langsung merasa bersalah. Karna itulah aku meminta pendapat Shizune-san untuk bisa menyembuhkanmu. Dia bilang kalau sisi lainmu mungkin akan pergi saat kau memerankan peran orang lain."
Naruko menggeleng tidak percaya. Dia sama sekali tidak tahu tentang itu.
"awalnya aku menolak. Tapi saat Naruto kecelakaan aku mulai berpikir untuk menjalankan apa yang disarankan oleh Shizune-san. "
Naruko berjalan mendekat kearah kaa-sannya.
"aku tahu kau sangat memebenciku, aku memang bukan kaa-san yang ba –"
Tes
Naruko langsung memeluk kaa-sannya dan menangis tersedu –sedu.
"aku pikir hiks kau benar-benar membenciku hiks kenapa hiks kau tidak hiks pernah bilang hiks tentang rencanamu itu hiks. Gomenasai. Hontou ni gomenasai."
Kushina membalas pelukan putrinya tersebut.
"kaa-san yang harusnya minta maaf, tidak seharusnya kaa-san menyalahkanmu atas kematian Tou-san."
Naruto tersenyum bahagia melihat kedua orang itu bisa akur kembali.
Yokatta na Tou-chan.
˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ
Sasuke menatap pesan di ponselnya dengan dahi berkerut.
"bukankah Tou-san sudah tidak ada."
Sakura yang kebetulan sedang di dapur tampaknya tertarik dengan apa yang dilihat oleh suaminya tersebut.
"ada apa Sasuke-kun ?"
Sasuke menoleh, menatap istrinya yang sedang memasak makan malam untuk mereka.
"apa kau mau menemaniku ?"
Sakura menuangkan sup tomat kedalam mangkuk, lalu berjalan menghampiri Sasuke sambil memberikan sup tomat itu pada Sasuke.
"kemana ?"
Tanya Sakura dengan nada penasaran.
"penjara."
˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ
"jadi kau Sasuke ? wah ternyata kau lebih tampan dari Itachi, pantas kau bisa mendahuluinya."
Sasuke menatap aneh pria dewasa itu. Jadi selama ini yang membunuh kaa-san adalah tou-sannya sendiri. Kenyataan aneh apa ini.
"kenapa kau membunuh kaa-san ?"
Sakura menyikut pinggang Sasuke, membuat si raven mengerang kesakitan.
"ah maafkan Sasuke ya tou-san, dia memang suka berbicara seenaknya."
Pandangan Fugaku teralih pada Sakura. Jadi ini menantunya. Dia sangat cantik. Sasuke benar-benar pandai memilih pasangan.
"tidak apa-apa kok. Tapi kalau boleh aku tahu kenapa kau mau menikah dengan anak ini ?"
Sakura menundukkan kepalanya, rasanya seluruh darahnya mengumpul di kedua pipinya. Malu sekali, kenapa ayah mertuanya menanyainya seperti itu.
"karna dia Sasuke. Aku menyukai Sasuke karna dia adalah Sasuke."
Fugaku menepuk pundak menantunya. Apa Tuhan tidak terlalu baik untuk hamba berdosa sepertinya. Hey no body perfect, right.
"oya kata Itachi kalian akan segara memiliki momongan ya ?"
Sasuke mengangguk. Tidak berniat menjawab, entahlah dia masih kesal dengan laki-laki yang menyebut dirinya sendiri tou-san itu.
"Aku penasaran apa dia laki-laki atau perempuan. Lalu apa kalian sudah menentukan nama untuknya ?"
Sakura menggeleng.
"bagaimana dengan Sachira untuk perempuan dan Sousuke untuk laki-laki."
"itu terdengar bagus."
Fugaku tersenyum mendengar jawaban Sasuke.
˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ
"ugh."
Gumam seorang laki-laki raven sambil mengubah posisi tidurnya.
Puk puk puk
Tangannya mencoba mencari guling, dan saat mendapatkan sebuah benda yang dirasanya 'mirip guling', akhirnya dia langsung memeluknya dengan erat. Huh dia baru tahu kalau guling di kamarnya bisa sehangat ini, dan sejak kapan guling punya detak jantung. Eh apa dia bilangdetak jantung tadi.
Kelopak mata Itachi terbuka, menampilkan sepasang onyx yang segelap malam.
Sejak kapan kamarnya berganti warna menjadi warna orange mencolok seperti ini.
Nyut
Apa ini.
"KYAA ! APA YANG KAU LAKUKAN !"
Teriakan Naruko menggema di kamar itu, Itachi yang masih setengah sadar hanya mengerjabkan matanya tanda dia bingung.
Kenapa suhunya dingin sekali, dengan malas Itachi mengeratkan selimutnya, tapi tunggu dulu sepertinya ada yang salah disini.
Kemana bajunya. Dengan gerakan patah-patah dia menoleh kesamping, dimana seorang gadis ah bukan seorang wanita yang meringkuk sambil menutupi tubuhnya yang juga sama polosnya dengan dirinya.
"Go-Gomen a-aku tidak sengaja."
Naruko menggeleng.
"ini bukan salahmu Itachi-san."
Lalu isakan itu terdengar dari bibir Naruko. Dengan ragu Itachi langsung membawa tubuh polos Naruko kedalam pelukannya. Apa yang sudah aku lakukan.
"aku akan bertanggung jawab."
Lagi, Naruko menggeleng di pelukan Itachi.
"aku tidak mau memaksamu. Bukankah kau menyukai Naruto? Sedangkan aku adalah Naruko, kami adalah dua orang yang berbeda. Walaupun dulu aku pernah berperan sebagai Naruto."
Itachi tersenyum lalu mencium surai pirang wanitanya tersebut. Dia tidak pernah bilang kalau dia menyukai Naruto, dia hanya menyukai ah bukan mencintai lebih tepatnya, yah dia mencintai sosok yang kini ada pelukannya ini, tidak peduli siapapun dia, karna dia hanya tertarik pada sosoknya dan bukan dari siapa dia atau apa gendernya.
"aku menyukaimu, dan aku tidak peduli kau itu Naruto, Naruko, atau bahkan Ruko sekalipun, aku tidak peduli. Yang aku tahu aku menyukaimu."
Naruko tersenyum bahagia, dia lalu mengeratkan pelukan Itachi. Nyaman sekali rasanya.
"Itachi, koto ga suki."
Zutto . . . Zutto. . .
TBC or OWARI ?
