Semenjak kecil, Saori tidak pernah mengenal kedamaian. Ia dibesarkan serta dididik layaknya tentara. Tentara yang tugasnya bertarung. Di permukaan semua atas motto 'vanitas vanitatum, omnia vanitas'. Biarpun begitu, demi melindungi hime, Misaki, Hiyori, dan Azusa, ia terus bertahan. Hari-hari bagaikan neraka dan penuh kebencian yang ditanamkan oleh Beatrice, diterimanya agar semua dapat bertahan hidup. Bagi Saori sekarang, itu merupakan masa lalu yang kalau bisa ingin ia hapus. Namun, itu semua sudah terjadi, apa yang sudah lalu tidak dapat diubah lagi. Ia hanya dapat berusaha untuk tidak memikirkannya terlalu dalam. Sekarang, ia berpaling ke arah gadis kecil yang dibawanya. Gadis kecil dengan telinga yang terkulai berusaha menahan tangis. Rasa takut, cemas, dan bingung tampak di wajahnya.

Dalam diam mata birunya menatap sosok kecil itu. Rasa bersalah berkecamuk dalam hatinya semenjak ia menyambar Kokona dan membawanya pergi. Karena panik, ia berpikir untuk menjadikan Kokona sebagai tamengnya. Dalam hati ia tak henti-hentinya mengumpat dirinya yang gegabah.

"Hei."

Panggilannya membuat telinga Kokona itu berdiri, dan ia berpaling ke arah Saori. Saori menghirup napas dalam-dalam dan mulai membuka suara lagi.

"Aku punya rencana agar kita bisa keluar dari sini, hanya saja jika gagal kita berdua habis."

"Beri tahu aku, kak."

Dengan tenang dan seksama, Kokona mendengarkan instruksi Saori soal rencana untuk meloloskan diri. Saori diam-diam memerhatikan ekspresi gadis itu. Alisnya mengernyit, tangan kirinya menopang tangan kanannya yang menopang dagunya. Sesekali ia mengangguk tanda mendengarkan apa yang dijelaskan Saori. Entah apa dia mengerti atau tidak, yang jelas Saori tidak akan mengulanginya.

"Jadi bagaimana, kau setuju rencanaku?"

Saori menunggu jawaban dari Kokona sambil menggenggam erat senapannya. Seandainya gadis ini tidak mau, ia siap untuk mengulur waktu dengan melawan mereka semua dan Kokona bisa kabur. Saori berpikir, bahwa itu sepadan untuk membayar kesalahannya.

"Baik. Aku setuju."

"Eh?"

Saori menatap Kokona dengan pupil yang melebar. Di hadapannya, tubuh mungil itu bergetar, tapi ia menggigit bibir kuat-kuat sambil terus-menerus mengangguk.

"Kau serius? Aku tidak memaksa."

Kokona menggeleng cepat.

"Tidak kok. Aku takut, tapi aku juga mau pulang. Kalau rencana kakak ini bisa membawaku pulang, aku bakal menurut. Karena aku tidak mendengarkan nasihat kakakku, aku jadi terbawa masalah ini."

"Kau punya kakak?"

Kokona mengangguk.

"Kakakku orangnya perhatian, dewasa, cantik, tinggi, dan bertanggung jawab. Hal-hal itulah, yang membuatku ingin jadi seorang instruktur seperti dirinya, tapi karena aku tidak langsung pulang dan malah bermain-main dulu di taman, jadinya malah diculik."

"Soal itu-"

"Tapi kakak dan Sensei juga bilang padaku, orang dewasa tidak boleh cengeng. Karena aku ingin jadi wanita dewasa, maka aku nggak boleh terlihat lemah. Aku bakal mencari jalan keluar dan meminta maaf pada kakakku. Makanya…"

Kokona menggenggam kedua tangan Saori.

"...aku harus percaya kalau kakak bisa membawaku pulang."

Saori menghela napas seraya menggeleng. Menurut Saori, Kokona itu polos, dan hidup dalam kedamaian. Semudah itu ia percaya pada orang yang sebenarnya tadi menculiknya, bahkan mungkin saja berbohong soal jalan keluar. Namun, tatapan Kokona menunjukkan kepercayaan penuh. Saori mengangguk.

"Ok. Baiklah, sekarang kita lakukan persiapan pertama."

Saori mengeluarkan seutas tali dari sakunya. Kokona menegak ludah sebelum Saori mengikat kedua tangannya dan mengambil senapannya.

"Akan kukembalikan nanti, ya?"

Kokona hanya mengangguk.

"Ketika mereka berteriak memancing kita, keluarlah sambil berpura-pura menangis. Akan kuberi tanda saat rencana akan dimulai. Yang jelas, kau jangan jauh-jauh dari pintu dan jaga jarak dengan mereka, mengerti?"

"Ya kak."

"Anak pintar."

Tanpa sadar, Saori menepuk kepala Kokona sebelum pergi melewati pintu darurat. Kokona tersenyum sambil melihat ke arah pintu yang baru saja terbuka sebelum bersiap-siap keluar gedung.

Di luar, para pengejar mulai resah karena Saori tidak kunjung keluar. Awalnya mereka bermaksud menerobos masuk saja, tetapi beberapa orang berpendapat bahwa Saori bisa saja memasang perangkap. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menunggu di luar dulu sebelum bergerak.

"HEI SIALAN! KELUAR KAU! CUKUP SUDAH KUCING-KUCINGANNYA!"

"IYA! SEBENTAR LAGI SHIFT KAMI SELESAI TAHU!"

Mendengar itu, Kokona menghirup napas dalam-dalam, ia bersiap keluar dan membuat dirinya menangis.

"HUAAAAAA KAKAK!"

Teriakan para berandalan berhenti mendengar tangisan Kokona. Mereka mengangkat senjata ketika melihat Kokona yang tangannya diikat berjalan keluar sambil berlinang air mata. Ada yang masih mengacungkan senjata, dan ada yang pelan-pelan menurunkan karena iba.

"AKU MAU PULAAAAAAAAAAAAANG!"

"BERISIK! DI MANA DIA?"

"HUAAAAAAAAAAAAA!"

"Hei hentikan! Kau begitu tidak akan membuatnya bicara!"

Salah seorang pekerja sambilan menahan senapan anggota berandalan. Tidak terima, ia mendorong pekerja sambilan tadi dengan kasar.

"Jangan ganggu! Bocah ini pasti tahu di mana sialan itu! Hei katakan di mana dia!"

"A-AKU TIDAK TAHUUUU! HUAAA!"

"TUTUP MULUTMU ATAU KUTEMBAK!"

"CUKUP! JANGAN BEGITU PADA ANAK KECIL!"

"KAMU DI PIHAK SIAPA HAH!?"

Kedua belah pihak lambat laun mulai berselisih soal tanggapan mereka pada Kokona. Jantung Kokona berdegup kencang di tiap detik berlalu. Dalam hati ia menjerit agar Saori secepatnya menjalankan rencana. Sempat muncul satu pikiran kecil bahwa Saori akan meninggalkannya.

"Tidak. Kakak itu tidak akan meninggalkanku begitu saja! Kalau iya, sudah dari tadi dia pergi."

Ketika itu, sebuah granat jatuh di hadapannya.

"Eh?"

Kemudian, rentetan ledakan bergemuruh di sekitar gedung dan bawah tanah. Semua panik dan berusaha menyelamatkan diri. Di tengah kekacauan itu, sebuah tangan menggenggam tubuhnya dan Kokona merasa dirinya diangkat.

"Ayo."

Saori muncul dari balik asap dan membawa Kokona. Memanfaatkan kepanikan, ia membaur dan menerobos di antara kerumunan dan melempar semua granat asap miliknya yang tersisa.

"Kakak!"

"Maaf lama, aku tidak bisa lari cepat dan persediaanku terbatas. Sebentar lagi kita aman."

Menahan nyeri yang rasa sakitnya tak terlihat berkat topengnya, Saori membawa Kokona sampai ke stasiun. Ketika bangunan stasiun sudah terlihat, Saori melepaskan ikatan Kokona dan mengembalikan senapannya.

"Ini milikmu."

"Terima kasih."

"Kau sudah aman. Naik kereta dan pulanglah ke rumahmu."

Saori menyembunyikan wajahnya dengan menurunkan topi. Namun ketika ia berbalik badan, tangan kanannya digenggam oleh seseorang.

"Terima kasih, kakak. Jaga dirimu."

"Ya."

Tanpa menoleh, Saori menggenggam erat tangan kecil itu. Momen mereka terganggu ketika letusan tembakan mendekati stasiun.

"Orang-orang keras kepala! Hei, cepat pergi!"

"Kakak bagaimana? Ayo ikut denganku!"

"Maaf, tapi tempatku berbeda denganmu. Duniaku sejak awal adalah dunia bertahan hidup dengan bertarung. Selamat tinggal!"

Saori berlari ke arah berandalan yang mengejar hingga mereka menjauh dari area stasiun. Kokona yang cemas berlari menuju stasiun, berdoa agar Saori dapat selamat. Di tengah pelarian, Saori melihat kereta yang berjalan meninggalkan stasiun. Ia tersenyum.

"Syukurlah."

Bersamaan dengan itu. Ia berhenti berlari, sebelum melemparkan satu granat terakhir ke arah berandalan yang masih mengejarnya.