Satu jam kemudian, kereta telah sampai di Shanhaijing. Kokona dengan cemas dan lemas berjalan pulang menuju Plum Blossom Garden. Langit yang berwarna jingga sudah mulai berubah kelabu. Seolah menggambarkan isi hatinya, pikiran Kokona bercampur aduk antara membayangkan amarah Shun dan bola mata biru Saori yang menatapnya sebelum pergi meninggalkan Kokona. Kokona tidak sempat menanyakan namanya, dan mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.

"Maaf, tapi tempatku berbeda denganmu. Duniaku sejak awal adalah dunia bertahan hidup dengan bertarung. Selamat tinggal!"

'Kenapa kayak itu bicara seolah-olah kita berasal dari dunia yang berbeda?'

Kata-kata Saori masih mengganjal di kepala instruktur kecil ini. Kemudian, lampu jalan menyala dan membuyarkan lamunan Kokona. Pupil kecilnya melebar melihat jalanan yang sunyi, hanya terdengar sayup-sayup suara jangkrik.

"Kakak itu, hidup setiap hari dalam kekacauan. Tidak jelas apakah ia masih bisa hidup esok hari dan yang lainnya. Berbeda denganku, yang hidup dilindungi Shun nee-san dan yang lainnya. Aku pikir aku sudah bisa dewasa dan bertanggung jawab, tapi…aku masih belum apa-apa dibanding kakak itu."

Kokona memijit lengannya sambil menggigit bibir. Tidak pernah ia merasakan ketakutan dan ketegangan seperti tadi, tetapi ia sekarang jadi mengerti apa yang selama ini dilalui orang-orang yang lebih tua darinya. Meskipun berat, mereka selalu menampakkan diri dengan wajah penuh senyum dan tawa. Mereka selalu berusaha membuat Kokona nyaman dan tenang.

"Jadi orang dewasa itu...berat ya..."

Tanpa sadar, ia sudah sampai di depan gerbang Plum Blossom Garden. Ia refleks saja membuka pagar sebelum ia membentur sesuatu yang empuk.

"Hmm?"

"KOKONA!"

"HYAAA! NEE-SAN!"

Kokona sadar dari lamunannya dan di hadapannya berdiri Shun dengan kedua tangannya di pinggang sambil melotot.

"Anu...Shun nee-san...aku..."

Belum sempat Kokona menjelaskan alasannya, kepalanya mendarat ke bantalan empuk milik Shun yang mendekapnya erat.

"Kamu dari tadi ke mana saja? Sensei bilang kamu sudah pulang dari siang tadi, tapi sampai jam segini kamu belum pulang. Kakak khawatir sekali!"

Kokona terdiam. Ia mengira Shun pasti akan marah besar karena ia tidak mendengarkan pesan Shun. Ia sudah membuatnya cemas.

"Maafkan aku, nee-san. Tadi sebenarnya aku..."

"Sudah. Jelaskannya nanti dulu saja ya. Kamu pasti lelah sekali. Makan malam sudah siap, yang lain juga menunggu dari tadi."

"Yang lain?"

Begitu masuk ke dalam, anak-anak Plum Blossom Garden semuanya menghampiri Kokona. Mereka sampai berjanji tidak akan nakal lagi asalkan Kokona kembali, bahkan mereka akan memanggilnya instruktur Kokona mulai sekarang. Tiba-tiba, air mata membasahi pipi Kokona.

"Kokona-ch- Bukan ... instruktur, kenapa menangis?"

Kokona menggeleng sambil tertawa di tengah tangisnya. Ia senang bahwa ia bisa kembali, kembali ke tengah hangatnya suasana kekeluargaan. Biarpun mereka berselisih, bertengkar, mengejek, tetapi keluarga tetaplah keluarga. Tidak mungkin tidak ada perasaan peduli akan keadaan serta keselamatan anggota keluarga mereka. Itu merupakan sesuatu yang berharga yang mungkin bisa hilang dari Kokona hari ini.

Sambil ditarik oleh anak-anak untuk makan atau mandi, dengan sabar ia meladeni mereka. Ketika melewati jendela yang menunjukkan bulan, ia memikirkan kembali keadaan Saori. Dalam hati, ia hanya bisa berharap Saori selamat dan mereka bisa bertemu lagi. Agar Kokona bisa berterima kasih padanya secara pantas, dan mengenalkannya pada keluarganya. Dunianya.

Sementara itu, di atas sebuah gedung kosong di pasar gelap, Saori tengah menatap layar ponselnya. Muncul pesan yang memberitahukan upah kerjanya hari ini. Ketika ia melihat nominalnya, ia hanya menghela napas dan mematikan ponselnya. Perlahan ia berdiri dan membuka topengnya. Menatap bulan dalam sunyi sambil membiarkan angin malam yang dingin membelai wajahnya yang bersimbah darah dan lumpur.

"Entah sampai kapan, tapi untuk menebus dosaku dan bertahan hidup demi mereka yang percaya padaku, aku akan terus bertarung."

Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia tidak biasa menerima telepon, sehingga ia sedikit terkejut.

"Halo? Ah...halo. Tidak kusangka akan menerima telepon malam-malam begini."

Suaranya melembut ketika mendengar suara orang yang dikaguminya. Di saat ia tidak lagi menjaga Squad, masih ada satu sosok yang tidak akan membiarkannya sendirian. Sesuatu yang patut disyukurinya di balik beratnya ujian kehidupan. Sosok orang dewasa yang akan membimbingnya keluar dari kegelapan setiap kali jatuh kembali.

"Sensei…apa kau keberatan bicara lebih lama sebentar?"