YOU
Original Character belongs to Masashi Kishimoto
This Story Belong to Gererezer
Warn : Typos, AU, OOC (maybe), Dll
.
.
.
.
Tongkat baseball itu sudah berceceran darah segar.
Sasuke memukul pria yang menjadi mata - mata Naruto.
"This is your last question. Who is the one who order you and what is the purpose?!"
Pria asing itu diam sesaat guna mengantur nafasnya.
Sasuke berjalan kearah meja kayu yang sudah usang, mengambil beberapa dokumen dan melemparkannya di hadapan pria asing itu.
Dokumen itu berisi riwayat hidup si pria asing itu dan juga keluarga kecilnya.
"Answer me or your beloved anna will die soon."
Pria asing itu menatap nanar kearah Sasuke.
"K-karin.. Kill Naruto."
Pelan, namun terdengar di telinga Sasuke.
Sasuke menelpon anak buahnya untuk segera membawa pria asing ini pergi dari hadapannya.
Sasuke melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang bawah tanah yang menjadi tempat introgasi dan eksekusi ini. Bagaimana bisa?
Uchiha Fugaku yang menciptakan ruangan ini. Guna untuk berjaga jaga.
"K-Karin Sure will kill Naruto.. a-and she will come to Japan.. when you already 1 week in here. Please release me.."
Pria asing itu momohon sambil memandangi punggung Sasuke yang sudah menjauh itu. Sasuke memang pria yang kejam, Ia mengerti apa yang dilakukan pria itu. Membocorkan rahasia bossnya.
"I'll make sure you are clear from that mission. And your family will be save. Go back to the paris tomorrow. Erase all this memories from your mind. Its non of your buissines again."
Sasuke benar benar meninggalkan ruangan itu dan beralih ke ruangan tengah untuk bersandar di sofa.
Ia sedang mengatur rencana untuk menyingkirkan Karin dari kehidupannya. Baik dari kontrak perusahaannya dan juga segi cintanya.
Ia menghela nafas beratnya sambil menatap langit - langit ruang tengah.
Ponselnya bergetar.
Ia menatap bacaan yang berada di layar itu
"Aku akan berada dirumah sakit untuk sementara. Kau akan mengurusi perusahaan menjelang natal. Naruto akan membuka stand roti disana."
"Tch. Menyebalkan."
Sasuke segera kekamarnya dan melakukan sesuatu disana. Tentu bersiap siap dan mengabari perusahaan dimana Itachi yang memimpinnya.
..
.
.
.
[1 hari menjelang Natal]
Sakura dan Naruto sudah siap dengan beberapa bahan bahan dan juga alat alat yang berhubungan dengan membuat kue.
Hari ini mereka diberitahu untuk membawa peralatan dan memasang stand disana.
Ini adalah pertama kalinya toko roti milik Sakura diundang oleh sebuah perusahaan terkenal.
Uchiha Corps merupakan perusahaan paling berpengaruh di seluruh negara. Dan juga merupakan perusahaan terbaik.
"UAAA!"
Koloborasi suara teriakan dan suara panci terjatuh tercipta pada ruangan memasak – dapur.
"Naruto kau kenapa hmm?"
Sakura mendekati Naruto yang sedang memegangi tangan kirinya yang memerah.
"ASTAGA! KAU KENAPA!"
Sakura mengambil alih tangan Naruto dan memeriksanya.
"A-Aku tidak apa apa, hanya terkena air panas Ttebayo"
"HANYA KATAMU?!"
Sakura dengan refleks menekan tangan Naruto yang memerah.
"I-ITTEEEE!"
10 menit kemudian.
Sebuah perban melingkari tangan kiri Naruto dan ada sebuah tulisan di atas perban putih itu.
"Sentuh akan kubunuh kau"
Itu adalah tulisan Sakura.
Sebuah mobil pick up telah sampai didepan toko. Seorang pria dengan pakaian tebal masuk kedalam, meminta keterangan dan juga mengangkut barang yang akan di pakai saat perayaan hari Natal nanti.
"M-Maaf Sakura-chan aku tidak bisa membantumu.."
Ucap Naruto sambil sedikit membungkuk.
"Humh! Kau sangat ceroboh!"
Sakura menjitak kepala Naruto.
"Janji padaku jika besok kau akan segera sembuh! Nah sebaiknya kau ke cafe, karena aku akan ikut dengan mobil ke perusahaan. Mengerti ?"
Naruto hanya mengangguk seraya melangkah untuk mengambil jaketnya dan tasnya.
"Besok jam 3 sore kau sudah ada disini oke?"
"U-umn, aku akan disini jam 3 sore. Sampai jumpa Sakura-chan"
Naruto Pov
Ku pandangi perban yang dipermukaannya terdapat tulisan tangan Sakura-chan. Hari ini dapat dipastikan diriku sangat ceroboh. Pikiranku dan perasaanku bercampur aduk. Rasa khawatir, senang , sedih , dan masih banyak lagi yang tidak bisa ku deskripsikan.
Kedua tungkai miliku berjalan kearah Cafe milik Kiba, lelah rasanya bekerja seperti ini.
"Ha—ah.."
Ku hembuskan nafas beratku seraya menatap dengan sayu kearah zebra cross. Menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki. Secara aku merasa sesuatu menubruk bahu ku dengan sangat kencang.
"Hey!"
Ucapku seraya menoleh pada seseorang yang lebih tinggi dariku, bersurai silver dan berwajah cukup tampan.
"A-ah, I'm sorry kid."
Huh? Kid dia bilang?
Hei aku bukan anak kecil. Dengan sangat sebal kuabaikan orang itu.
"Excuse me, do you know this address?"
Pria yang tadi memberikanku secarik kertas yang berisi sebuah alamat.
Alamat yang kukenal. Yap, itu adalah alamat Cafe Kiba.
"Can you speak Japanese?"
Aku memang bodoh dan ceroboh, namun setidaknya aku bisa berbahasa Inggris walaupun hanya sepatah kalimat.
"Ah, tentu. Namaku Alan, dan namamu?"
Alan ? mhm... Cocok dengan wajahnya.
"Naruto. Aku tahu alamat ini, dan kebetulan aku ingin kesana."
Dapatku lihat senyuman yang ekhemmanisekhem dari Alan.
Ku dengar irama dari kotak penyebrangan jalan, yang menandakan bahwa lampu hijau untuk orang menyebrang sudah dinyalakan.
Tanpa basa basi kami segera berjalan kearah Cafe Kiba. Kami mengobrol cukup seru tanpa disadari sepertinya pria ini memang manis dan yah— sedikit seru. Namun disayangkan Ia bukan tipeku.
"Ah— tunggu sebentar, aku akan kedalam."
Ucapku setelah sampai didepan Cafe Kiba.
"Kiba?"
Panggilku saat memasuki ruang Manager yang... Terkunci?
"S-Shika.. ma..ruhh.. h-hentikan..nghh"
"... A..apa yang terjadi.."
Gumamku pelan dan mulai menempelkan telingaku pada pintu itu.
Suara basah dan.. entahlah suara apa itu dapat terdengar dengan jelas.
"Anghh..nnhh.. h-hentikanhh..."
"Iie, ini adalah jatahku selama seminggu..ngh"
Suara.. Shikamaru ?
Apa yang dilakukan mereka?
Jangan – jangan..
"Naruto?"
Seketika diriku menjauh dari pintu dan menatap sumber suara yang mengagetkan diriku.
"U-um.. ada apa?"
"Aku diberitahu dari Tenchou jika kita besok libur. Namun hari ini mengambil jatah lembur."
Ku lirikan mataku pada pintu yang.. menjadi saksi bisu dari peristiwa didalam sana.
"Begitukah? Mm, bisa kau buatkan 2 coklat panas untuk meja nomor 9 ?"
"Tentu. Ah iya, tadi ada seseorang dari kepolisian menanyakan kabarmu."
Aku hanya mengangguk tanda mengerti dan tersenyum gugup lalu melenggang pergi menemui Alan yang menungguku.
Sepertinya aku tahu siapa dengan siapa di dalam.. ruangan Kiba itu.
End Pov
"Alpha one, already with Naruto."
"fufufu.. Good job, Alan"
.
.
.
.
.
.
"SAIIIIIIIIIIIIII!"
Suara khas teriakan milik Ino berhasil membuat Sang Adam bangun dari tidurnya dengan sangat tidak elit— yaitu terjatuh dari sofa.
Dengan langkah gontai pria bersurai hitam ini berjalan menuju Ino yang sedang berteriak.
"Ada ap—Pftt!"
Sai terkikik geli melihat Ino naik keatas meja kasir sambil memegang beberapa tangkai bunga.
"Apa yang kau lakukan disana, Ino?"
"A-ada kecoa disana.. d-dibawah meja kasir.. u-uhh."
Sai dapat melihat wajah pucat Ino dan segera mengecek kolong meja kasir yang katanya terdapat kecoa. Ia menemukannya dan segera mengambil semprotan hama.
"Sudah mati, sekarang kau bisa turun dari sana."
Ino tidak mau turun melainkan menatap Sai penuh dengan rasa ketakutan. Yang ditatap hanya bisa menghela nafas beratnya lalu menghampiri Ino.
"Kecoa lebih besar daripada dirimu."
"U-Urusai!"
Sai memberikan bantuan dengan cara mengulurkan tangannya pada Ino. Ketika Ino ingin mencapai uluran tangan itu, kakinya dengan tidak sengaja menginjak lap basah yang membuatnya terpeleset dan hampir terjatuh. Jika saja Sai tidak sigap menangkap tubuh Ino, dapat dipastikan Sang Hawa masuk kerumah sakit.
Dengan pose Ala Bridal Style, Ino yang memegang beberapa tangkai bunga dan sebelah tangannya melingkar pada tengkuk Sai. Mereka berdua saling bertatap – tatapan. Wajah keduanya nampak merona merah dan dalam waktu yang singkat wajah mereka saling mendekat namun..
"Ekhem! Permisi aku ingin mengambil pesananku."
Sai melepaskan kedua tangannya pada tubuh Ino dan saat itu juga Ino terjatuh lalu segera berdiri dan mengambil pesanan Sang Customer. Sai menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berjalan mengampiri beberapa pot bunga dan menatapnya sambil bersiul. Ya, Mereka salah tingkah.
"Terima kasih, Nyonya. Silahkan datang kembali"
Ucap Ino sambil membungkuk sopan pada wanita yang telah memasuki usia lansia itu.
Hening. Setelah kejadian itu mereka berdua hening dan secara tidak sengaja Ino menyenggol pot tanaman lavender dan membuat pot berbahan dasar kaca itu pecah. Lagi – lagi sai dengan sigap menghampiri Ino dan menepis tangan Ino agar tidak menyentuh serpihan tajam pot kaca tersebut.
"Apa yang kau lakukan huh? Kau hampir saja melukai masa depanmu."
Dengan nada yang khawatir Sai langsung membereskan serpihan kaca itu lalu mengambil pengki.
"M-maaf.."
Ino memalingkan wajahnya dari Sai. Malu dan bahagia serta rasa bersalah dapat terukir jelas diwajahnya.
"Lain kali jika ada hal seperti ini panggil aku."
"A-aku bisa membereskannya sendiri, hmph!"
Sai menghela nafas beratnya lalu menatap Ino .
"Aku takkan membiarkan wanita ceroboh sepertimu terluka. Itu akan lebih merepotkan"
Wajah Ino kian memerah dan tidak berani menatap atau sekedar melirik Sai.
Sepertinya benih cinta akan tumbuh diantara mereka dan akan terus tumbuh mekar seperti setangkai bunga yang indah dan harum.
.
.
.
.
.
"Jadi Alan-San, apa keperluanmu datang ke Jepang?"
"Untuk.. membunuh seseorang"
.
.
.
.
.
.
TBC
Gimana gimana? Semakin seru kah? Atau bosen kah?
Well well, maafkan Ge yang seneng bikin kalian gasabaran. Ge mau memperbanyak pahala kalian untuk terus bersabar dan bersabar. Ge bisa bayangin wajah kalian yang kesel gara gara liat tulisan tbc wkwk
