YOU
Original Character belongs to Masashi Kishimoto
This Story Belong to Gererezer
Warn : Typos, AU, OOC (maybe), Dll
.
.
.
.
Kyuubi Pov
"Ngg.."
Aroma obat obatan dapatku cium dengan tajam. Sepertinya aku tahu dimana sekarang. Dimana lagi kalau bukan Rumah Sakit ?
Kudengar suara pintu yang digeser dan dapat kurasakan kehadiran seseorang. Kuharap itu Naruto. Gesekan bangku besi dengan lantai dapat ku dengar juga.
Ku buka mataku secara perlahan dan mendapatkan sebuah objek hitam dan putih yang kuyakini adalah sebuah stelan jas mahal...
Ku coba untuk membangkitkan diri namun sebuah tangan dingin menahan lenganku, mencegah untuk berbuat lebih.
"Kau masih dalam pengobatan."
Sepertinya suara ini sangat familiar.. Ah.. suara yang selama ini ingin aku lenyapkan.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Tanyaku dengan nada dingin dan juga sebal.
"Merawatmu."
"Untuk apa kau merawatku? Aku yakin pasti dibalik semua ini ada yang kau inginkan dariku."
"Memori Naruto sudah kembali."
Seketika aku diam membisu dan menatap Itachi dengan sangat serius dan Shock.
"Jangan berbohong padak—"
"Aku tidak berbohong. Tetapi memori dengan keluargaku belum sepenuhnya kembali."
"Bukankah itu bagus? Kau tidak pantas untuk diingat."
"Dan Naruto sudah merestui hubungan kita."
"APA?!"
Dapat kulihat senyuman mengerikan itu yang Ia tunjukan padaku. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan alat perekam suara dan mulai memutar rekaman... Rekaman yang berisi suara Naruto.
"Aku sudah mengabari Minato-San tentang keadaanmu, Beliau berkata bahwa aku harus menjagamu. Ah, satu lagi. Aku sudah mengabari assistenmu jika kau sakit dan tak perlu datang kesini, karena kau sudah dalam pengawasan ketat dariku"
Ku teguk salivaku dengan paksa dan menatap pria brengsek ini dengan tak percaya.
"Besok Naruto akan datang dan mengisi festival Natal di perusahaanku. Kau harus ikut bersamaku."
SIAL SIAL SIAL!
Jika sudah seperti ini aku tidak bisa berkutik. Seakan aku adalah Slave miliknya.
Lihat saja Itachi. Aku akan membalas seluruh perilaku mu terhadap diriku.
End Pov
.
.
.
.
Sasuke yang sibuk berkutat dengan laptopnya mulai memijit pelan dahinya sambil memikirkan sesatu. Tiba – tiba ponselnya berbunyi dan Ia segera mengangkatnya.
"Sir, I've found Naruto with someone there. Its might be one of Karin's spy."
Sasuke mendecih sebal sambil mengepalkan tangannya.
"Keep eye on him. If he do something suspicios. Take him to here. Also connect me with Naruto position right now."
"Roger that sir."
Sebuah link dari laptopnya keluar dan langsung saja Ia meng-klik. Munculah sebuah billing video, ya anak buah Sasuke berhasil menguasai CCTV dimana Naruto berada.
Sasuke tersenyum tipis melihat Naruto yang masih sama dengan hari itu. Hari dimana Naruto selalu tersenyum untuknya.
Namun ketika irisnya menatap wajah orang barat itu membuat perasaan membunuhnya mengebu – gebu. Ia tahu ini bukanlah saatnya untuk membunuh, namun tetap saja bukan ?
"Eh ? membunuh ?"
Suara Naruto sedikit bergetar nan takut. Siapa yang tidak takut jika dirinya bertemu dengan seseorang yang ini membunuh orang ? mungkin ini adalah kesempatan Naruto untuk hidup... terakhir kalinya.
"Pftt- aku bercanda. Lagipula aku kesini tidak benar benar ingin membunuh."
Tawa Alan tetap saja membuatnya bergidik ngeri. Naruto hanya bisa tertawa hambar dan meminum coklat panasnya dengan tangan kanan, ia ingin sekali memakai kedua tangannya. Namun tangan kirinya diperban dan ada tulisan yang seram.
"Aku kesini ingin bertemu denganmu, kau tahu, sudah lama rasanya kita tidak bertemu."
Suara Alan kian melembut dan membuat Naruto sedikit penasaran dan tidak enak.
"M-maksudmu apa ttebayo?"
Alan mencondongkan dirinya kedepan, menangkup pipi kanan Naruto dengan tangan kanannya. Tersenyum tipis namun matanya melotot. Mengisyaratkan kebencian dan juga sebuah keterpaksaan.
"I come here because, i wanna kill you."
Peluh panik dan juga ketakutan terlukis dalam wajah Naruto. Ia meneguk ludahnya pelan. Berdoa dalam hati agar tuhan masih memanjangkan umurnya. Alan kembali pada posisinya lalu memakai topi yang membuat wajahnya tidak terlalu terlihat.
Naruto tidak dapat berbuat apa apa selain menundukan kepalanya, berusaha agar tidak dapat berkontek fisik dengan Alan. Sedangkan yang pembunuh berdarah Eropa itu hanya tersenyum bak psikopat.
Dengan kejadian janggal ini, Sasuke mengerutkan dahinya. Seperti ada yang tidak beres menurutnya.
"Take Naruto away from that shit."
Sebuah perintah mutlak dari Sang Raja. Seluruh anak buahnya memasuki tempat untuk melawan Alan, jika terjadi sesuatu pada Naruto. Salah satu anak buah Sasuke memasuki cafe, dan meminta pada salah satu pelayan disana memanggil Naruto kedalam.
"Naruto-kun. Tadi kau mencari Manager 'kan ? ia mencari dirimu."
Naruto memasang wajah bahagianya, namun tetap berpeluh panik. Ia berdiri dan mengucapkan permisi lalu berlari kecil kedalam cafe. Alan menatap kepergian Naruto bukanlah sebuah hal kebetulan. Ia segera berdiri dan mulai mendekati si pelayan. Mengambil pisau lipat pada saku jaketnya lalu memegangnya tanpa ketahuan.
"Hey there, can we have a lil' chit chat ?"
Alan dengan cekatan menyergap pelayan itu dan menodongkan pisaunya pada leher si pelayan. Lalu menjilat telinga si pelayan yang sudah bercucuran air keringat di pelipisnya, menatap ketakutan dan menahan tangan alan agar menjauhkan todongan pisau lipat yang nampak mengkilap tajam tepat di lehernya.
"Hey Naruto!. Kembali kesini atau salah satu rekan kerjamu mati dengan cantik malam ini."
Degdeg...
Naruto membalikan tubuhnya dan mendapati rekan kerja setianya telah ditodong sebuah pisau lipat yang tajam. Lagi lagi ia meneguk ludahnya. Tidak mengerti apa yang terjadi disini. Apa sebegitunya Alan ingin membunuh dirinya ?
Sedangkan Sang Sandera mengatakan jangan mendekat. Tentu saja rekan kerja Naruto tahu apa yang terjadi.
"A-Alan.. Taruh pisaumu terlebih dahulu lalu kita akan berbicara dengan baik..."
"Apa kau pikir semudah itu ?"
Alan mulai menggoreskan ujung pisau itu pada kulit rahang si pelayan dengan perlahan dan hanya sedikit, namun itu pun sudah mengeluarkan darah.
"H-HENTIKAN!"
Naruto memajukan langkahnya sebanyak 2x, dan itu membuat anak buah Sasuke yang berada didalam cafe keluar dengan posisi tangan kebelakang untuk mengambil pistol. Namun hal itu diketahui oleh Alan.
"Put down your weapon, or i will kill him."
Naruto menoleh kebelakang dan matanya menemukan seseorang memakai sweater turtle neck hitam sedang mengembalikan posisi tangannya. Naruto benar benar panik. Ah, bukan hanya dirinya. Namun seluruh pelanggan mulai berdiri dan meninggalkan cafe karena ketakutan.
Dilema. Naruto benar benar dilema. Jika ia memberikan dirinya maka si pelayan akan selamat namun dirinya akan mati dan sebaliknya. Ia tetap bertahan pada posisinya, sementara Alan terlihat tak cukup sabaran.
Alan meludah pada pijakannya, lalu menatap kesal pada Naruto dan terheran dengan Karin. Mengapa Karin begitu terobsesi untuk membunuh bocah ingusan seperti Naruto.
"Waktumu tak banyak, Naruto!"
Ujar Alan dengan cengiran psikopat.
"A-Alan, aku tidak mengerti kenapa kau ingin membunuh seseo—"
"WAKTUMU TAK BANYAK, BOCAH!"
Sasuke tersenyum tipis. Ada sesuatu yang ingin dilihatnya dalam diri Naruto. Apakah kekasihnya akan mengorbankan dirinya atau justru membuat orang yang disayanginya mati.
"Dobe, what you gonna do now ?"
Naruto bergelut dalam pikirannya. Ia harus mengorbankan dirinya. Lagi pula ia putus asa karena kekasihnya tak kunjung datang atau mengiriminya surat.
'mungkin ini jalan yang terbaik untukku.. '
Langkah demi langkah Naruto lakukan dengan sebuah senyuman pasrah. Dan hal itu memberikan sebuah lengkungan yang tersirat hawa nafsu pada bibir Alan.
'Jika hal ini bisa membawamu pulang ke dekapanku.. Aku rela mati demi dirimu..'
Tetesan air mata berjatuhan dari mata indah bernuansa Shappire itu.
'Sasuke.. Aku mencinta —'
"BANG!"
Suara tembakan mengintrupsi kata kata terakhir Naruto dalam batinnya. Ia segera menyapu linangan air mata guna untuk memfokuskan pengelihatannya.
"A-argh..."
Liquid merah kental membanjiri baju si pelayan dan juga tangan Alan. Dan hal itu membuat Alan menjatuhkan pisau lipatnya. Naruto menutup mulutnya. Tak tahan melihat nasib si pelayan. Ia mengira bahwa si pelayan telah dilahap habis oleh nafsu membunuh dari Alan.
Namun..
"Naruto!"
Si pelayan malah menarik tangan Naruto untuk menjauh dari Alan. Ya, yang berdarah adalah tangan Alan. Dan si pelayan hanya terkena goresan pada rahangnya.
Siapa yang menembak itu ? bahkan salah satu anak buah Sasuke yang hampir mengeluarkan pistolnya sedang terhenyak melihat kejadian itu.
"Tsk. Mendouksai"
Shikamaru pelakunya. Kini ia sedang duduk diatas tulisan cafe milik Kiba. Sedangkan ukenya membukakan pintu cafe dan menyuruh Naruto dan pelayannya untuk masuk kedalam dan mengobati yang terluka. Naruto sempat menoleh kearah Alan yang tengah di kerubungi sekelompok pria berbaju serba hitam. Ia tidak mengetahui bahwa itu adalah bawahan Sasuke.
Salah satu anak buah Sasuke memberi sinyal kearah cctv yang mengisyaratkan bahwa misi selesai dan akan membawa Alan pada markas. Sasuke segera menutup laptopnya lalu menyandarkan dirinya pada tempat tidurnya.
"you've changed that much.. interesting"
Ucap Sasuke sambil menutup kelopak matanya yang menyembunyikan kedua iris onyxnya. Ia menunggu korban ke dua dari stick baseball nya.
Sementara di dalam cafe.
"bertahanlah... "
Ucap Naruto pada rekan kerjanya yang bernama Inari. Sedangkan Kiba sibuk mengobati luka yang akan membekas itu pada permukaan kulit rahang Inari.
"Tenanglah Naruto... aku takkan mati seperti ini."
Inari terkekeh lalu mengacak acak rambut Naruto. Itu sedikit memberi ketenangan pada Naruto.
"Nah selesai. Inari, kerjalah jika kau sudah merasa baikan. Aku tidak mau salah satu pegawaiku bekerja saat sedang terluka."
Inari hanya tersenyum.
"Tak apa, tenchou. Jatah libur yang kau berikan sudah cukup bagiku untuk sembuh. Sekarang lebih baik kau khawatirkan Naruto."
Kiba menatap Naruto yang tengah cemas sambil memandangi jendela. Dapat Kiba lihat ekspresi Naruto yang begitu sulit diartikan.
Inari segera keluar dari ruangan, meninggalkan dua sahabat yang tengah berdiri bersebelahan.
"Kiba, Ak—"
"Aku mengerti.. mulai sekarang tinggalah dirumahku demi keselamatan dirimu."
Kiba menatap kearah Naruto dan segera memberi pelukan hangat yang menenangkan.
"Terima kasih, Kiba..."
Naruto merasa beruntung mendapati sahabat seperti Kiba. Ia membalas pelukan Kiba dengan erat.
Diluar ruangan, Shikamaru mendengarkan percakapan Kiba dan Naruto. Ia merasa bahwa bencana yang menimpa Naruto akan semakin banyak.
"Damn!"
.
.
.
"Itachi."
Panggil Kakashi. Kini ia memanggil bos besar perushaan Uchiha di Jepang itu dengan sebutan namanya. Bukan lagi "black"
"Hmm ?"
"Naruto dipindahkan kerumah Kiba. Karena peristiwa hari ini sangatlah diluar dugaan."
Jelas Kakashi setelah mendapatkan pesan dari Shikamaru.
"Apa yang terjadi dengan Naruto ?"
Kyuubi bertanya dengan suara yang menyembunyikan 1001 kekhawatiran. Nalurinya sebagai kakak dan juga nalurinya sebagai orang yang pernah kehilangan.
"Seseorang hendak membunuh salah satu pelayan dan juga Naruto, tepatnya berada di Cafe milik Kiba."
Kyuubi mengepalkan tangannya lalu nafasnya mulai tak beraturan. Cukup, kehilangan Naruto selama lebih dari 2 tahun saja membuatnya kesal dan khawatir. Dan sekarang seseorang ingin membunuh adik manisnya ?
"Jemput Naruto besok pagi kalau begitu. Biarkan bawahanmu menjemput Sakura dan membantunya merapihkan keperluan standnya."
Kakasih mengangguk tanda ia mengerti dan juga segera meninggalkan ruangan dimana Kyuubi masih berbaring. Menikmati makanan dari selang infusannya.
"Tenanglah. Sasuke tahu caranya melindungi merpatinya."
Itachi mencoba menenangkan Kyuubi. Namun nihil hasilnya. Kyuubi malah menatap nyalang ke wajah Itachi.
"Melindungi ? apa aku pernah melihat Naruto dan Sasuke bertemu ? selama 3 tahun ini aku tidak mendapat kabar manis dari hubungan mereka!. Melainkan sebuah tangisan dari Naruto. Dan kau sebut itu sebuah cara melindungi Naruto ?! Brengsek!"
Itachi hanya terdiam. Kali ini ia memilih mengalah, dan tidak membalas perkataan Kyuubi.
.
.
.
Salju dingin telah menyelimuti Negeri Sakura ini dengan indah. Temperatur musim ini terbilang sangat romantis dan juga menyakitkan bagi beberapa orang yang tak bisa berbagi kehangatan dari pasangannya.
Namun, musim ini bagi Sai dan Ino adalah sebuah keromantisan. Mereka bisa saling dekat dan juga berbagi kehangatan kecil. Mulai dari kejadian tempo hari yang membuat kedua insan ini salah tingkah.
"Ino, tidurlah. Ini sudah tengah malam."
Sai mengambil sebuah majalah yang tengah Ino baca dengan serius.
"kembalikannn!"
Ino berusaha menggapai gapai majalah yang ditarik oleh Sang Adam. Namun tidak bisa, jika ia keluar dari kotetsu maka ia akan kedinginan. Sai membaca tulisan pada halaman yang tengah dibaca Ino.
"Cara menarik perhatian seorang pelukis dengan sebuah rangkaian bunga..."
Wajah Ino bak bunga mawar merah yang merunduk karena malu dengan apa yang dikatakan si lebah jantan. Sai memandang Ino sejenak lalu duduk berseberangan.
"Kau sudah memikat hati pelukis itu dengan sebuah tebaran bunga di setiap harinya. Tebaran bunga yang begitu banyak warna. You made his day beautiful everyday."
Wajah sang lebah jantan sedikit merona sambil memainkan rambut milik Ino.
"Selamat hari natal, gadis bungaku."
Ucap Sai sambil menaruh sebuah lukisan berukuran kecil di atas meja kotetsu.
Kanvas putih itu telah disentuh oleh berbagai warna dan juga berbagai bentuk sehingga menyerupai wajah Ino dengan sebuah bunga mawar putih yang melambangkan kesetiaan dan juga suci.
Sedangkan Ino sendiri masih malu untuk bertatapan atau bersentuhan dengan Sai. Sai yang mengerti langsung mengusap helaian rambut Blonde itu dengan halus dan mendaratkan sebuah ciuman hangat.
.
.
.
.
Naruto menerawang keluar dari jendela kamar tamu milik Kiba. Melihat orang orang yang lewat sambil membawa sebucket bunga yang indah bersama pasangannya. Ia semakin mengeratkan pelukanya pada selimut tebal yang ia kenakan. Menahan sebuah tangisan yang begitu menyakitkan.
Naruto mencoba untuk menjadi seseorang yang sabar dan tenang dari seluruh kejadian yang menimpanya. Namun tidak bisa. Ia hanyalah manusia biasa. Ia hanyalah seseorang yang mudah menyembunyikan tangisannya dalam senyuman manis. Ia hanya seseorang yang sedang dalam masa pemulihan hati dengan menikmati segala hal yang terjadi.
Mencintai Sasuke adalah patah hati yang terdalam. Termenung dalam penantiannya yang mungkin akan berakhir pedih. Terhanyut dalam sebuah kesunyian terlama dalam hati. Tersakiti dengan kenyataan yang begitu pahit mengatakan sebuah kebenaran.
Hatinya sudah luka begitu dalam sampai membuat harapan mendekap kekasihnya membengkak.
Dimana ia harus mencari obat luka yang membengkak itu ? katakan, dimana ? dimana seluruh kegelisahan ini bermuara ? dimana seluruh pertanyaan tentang kekhawatiran ini menemukan sebuah jawaban ?
Dimana ?
Air matanya berjatuhan selayaknya hujan yang jatuh ke bumi. Ia begitu lelah dengan takdir yang tak kunjung membaik. Apa ini sudah waktunya untuk melupakan kekasihnya yang begitu ia dambakan ?
"Selamat hari Natal..."
Di hapusnya air mata yang mengalir dengan jemarinya yang dingin.
"Sasuke."
.
.
.
.
.
"Ciiitttttt...BRAK!"
"Soon New York police will take you to the jail. "
"kaa-chan mencintaimu.."
.
.
.
.
TBC
.
.
How long i've been sleepin' ?
Hey i miss you all of my readers and reviewers.
Sepertinya Ge terlalu lama hibernasi... hai kamu.
Thanks buat reviewnya /kasih lope lope/, sedih Ge liatnya ngeliat kalian waiting dan kepo..
Nah ini dia chapter yang kalian tunggu. Bumbu actionnya seems gagal. Dan kalimat kalimat pemanisnya juga gagal... hehehehehe
Enjoy deh, see you next chapter!
Blood Rose.
