Holla Minna,,
Lagi asyik dengan si Sai dan inojin sehingga melupakan story yang lain. hiks sorryy,, Janji deh secepatna dipublish. Kilat pake Hiraishin hhahaha...
Oke Balesin review dulu ya,,,'
Lmlsn :nanggung ya..? Ya iya emang dibikin gitu. heheh
Ichimonji Allennad : adegan Sai n Ino lebih banyak dibahas di chap depan. Tungguin aja yak. Thanks reviewnya.
sunny-ya Haha... ada deh,,, intip chap depan ya
Rhein98 hohoh bener itu
xoxo : hihi iyaaa
SukaInojinKarenaKeren : sudah dilanjut looh
Guest : Ini dilanjut yaa
Stop Cincong thor, langsung lanjut. Enjoy minna...
WARNING : Cerita ini hanya terinspirasi dari anime Naruto. Diluar itu story line milik saya
Father vs Son
Setelah perjalanan selama kurang lebih dua jam, akhirnya keluarga kecil Yamanaka itu sampai di sebuah Villa yang terletak dibagian utara Konoha. Inojin yang berjalan mendahului kedua orang tuanya tampak bersemangat sambil mengeratkan tas ransel hitam miliknya. Sai dan Ino yang berjalan dibelakang Inojin juga tampak menikmat perjalanan mereka.
Kaki mungil inojin melangkah masuk ke dalam villa yang sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu kuno yang kokoh. Setelah membereskan isi ransel mereka,Inojin dan kedua orang tuanya berkumpul diruang keluarga.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Touchan? Kaachan?", Tanya Inojin tak sabar.
Sai hanya mengulum senyum sambil mengedikkan bahunya mengerling kea rah sang istri. Sedangkan Ino yang berperingai riang segera menarik lengan sang putra dan lengan suaminya menuju taman sambil bersenandung.
"Kita mau melakukan apa di taman?", Tanya Inojin menatap Ino dengan pandangan kesal. "Jangan bilang kalau…".
"Tentu saja berkebun, sayang", potong Ino cepat. "Salah sendiri kalian berdua tidak punya ide yang lebih baik".
Inojin dan Sai menatap wanita dihadapannya sweatdrop. Bagaimana tidak, dua jam berjalan menyusuri Konoha hanya untuk berkebun? Bukankah setiap hari mereka juga berkebun di rumah? Apa tidak ada sesuatu yang lebih bagus lagi untuk dikerjakan bersama?
"Kenapa kalian diam?", Tanya Ino berkacak pinggang. "Ayo mulai merapikan taman! Jangan harap kalian bisa bersantai ya".
Akhirnya keluarga Yamanaka itupun menghabiskan waktu sepanjang siang di kebun villa mereka. Meskipun sang putra dan sang suami tidak terlalu bersemangat seperti sang wanita, tapi mereka tetap ikut membantu sambil sesekali bercanda.
"Sai, jangan bully Inojin", bentak Ino yang melihat Sai sedang menyuruh anaknya mengangkat karung besar berisi pupuk. Sai yang sedang berjongkok sambil memegang selang air hanya bisa terkekeh melihat anaknya kesulitan. Dasar orang tua yang aneh.
"Dia lucu, Ino", sahut Sai menanggapi raut marah istrinya.
"Touchan", panggil Inojin. Sai segera memalingkan wajah menanggapi panggilan anaknya yang sedang berbisik.
"Sepertinya aku lebih memilih ikut misi dengan Moegi-sensei daripada harus membantu Kaachan di berkebun. Sudah dibantuin tapi masih disalahkan", ujar Inojin yang sebal karena daritadi Ino hanya berteriak menyalahkan Sai dan Inojin yang beberapa kali salah meletakkan bibit.
"Iya, sepertinya misi tinggkat S lebih mudah daripada membantu kaachanmu", sahut Sai sambil ikut berbisik.
"Aku dibelakang kalian", seru Ino yang kini sudah berdiri dibelakang Sai dan Inojin yang sedang berjongkok.
"Uh, maaf Kaachan. Abis Kaachan galak sekali. Aku merasa lebih di bully Kaachan daripada diisengi Touchan", cicit Inojin.
Sai hanya terkekeh mendengar ucapan polos putranya.
"Kalian ini, benar-benar tidak bisa diharapkan", ujar Ino geram. "Sudahlah bersihkan tangan kalian dan cepat masuklah ke dalam. Aku sudah menyiapkan makan siang. Sesudah itu aku akan melanjutkan berkebun, kalian terserah mau apa. Lakukan kegiatan yang bermanfaat. Oke".
"Baik, Kaachan. Arigatou", seru Inojin sambil memeluk ibunya. Yang dipeluk hanya tersenyum bangga melihat anaknya yang kini sudah beranjak remaja.
"Arigatou, Ino", ujar Sai sambil mengecup bibir Ino singkat. Kecupan itu sontak membuat pipi Ino merona. Asal mereka tau saja, Inojin kini sedang berpikir melakukan hal yang sama pada putri sahabat ayahnya. Hahaha…
Selepas makan siang Ino kembali berkutat dengan kebun luasnya. Sedangkan Inojin dan Sai, mereka berdua mulai mengambil lembaran perkamen dan peralatan melukis mereka ke bagian teras rumah yang mengarah kea rah kebun dimana wanita yang mereka sayangi itu sedang berkebun.
"Apa kau mau berlatih? Ayah bisa melatihmu sekarang", ujar Sai sambil memperhatikan Inojin yang sedang menata peralatannya.
"Ah, tidak. Aku kan sudah menguasai teknik lukisan Touchan", tolak Inojin tanpa mengalihkan perhatiannya pada peralatan yang sedang ditatanya.
"Hm, baiklah kalau kau memang merasa bisa", sambung Sai. "Ayo kita bertarung! Bagaimana?".
Inojin mengernyit. Ayahnya mengajak bertarung? Bertarung lukisan kan? Siapa takut!
"Baik", seru Inojin mantap. "Aku akan tunjukkan pada Touchan bagaimana perkembangan teknikku".
"Ya, kau dulu pernah bilang bahwa teknik Touchan sudah kuno bukan?", timpal Sai kemudian. "Kalahkan teknik kuno yang selalu kau remehkan itu , Nak. Tunjukkan semua kemampuanmu. Karena Touchan tak akan segan-segan dalam bertarung".
Kedua saling bertatap mata. Pandangan mereka sama seriusnya dan sunggingan bibir mereka sama-sama meremehkan.
Said an Inojin telah bersiap. Keduanya kini sedang serius melukis. Sai memberikan serang awal. Dari dalam perkamennya muncul seekor harimau tinta yang menerjang kearah Inojin. Tak lama Harimau itu tumbang oleh tembakan dari makhluk besar yang keluar dari perkamen milik Inojin.
"Hei, apa yang kau lukis?", Tanya Sai heran melihat lukisannya begitu mudah dihancurkan. Bahkan sekarang ia tengah sibuk menghalau makhluk besar yang menyerang kearahnya dengan membuat bushin lukisan elang yang banyak. Namun naas, elang-elang itupun hancur sebelum sempat terbang tinggi dari perkamennya.
"Touchan baru sadarkan kalau teknik Touchan itu sudah kuno?", ejek Inojin sambil tersenyum miring. "Padahal ini masih belum apa-apa. Masih banyak teknik lukisan rahasia yang sanggup kugunakan untuk mengalahkan musuh".
Sai tersenyum bangga ketika akhirnya Inojin melenyapkan lukisannya. Ia merasa menjadi ayah yang hebat karena anaknya kini menjadi luar biasa. Bahkan kemampuan Inojin jauh lebih bagus daripada kemampuannya saat ia berusia seperti putranya saat ini.
"Katakan pada Touchan, binatang apa yang kau lukis tadi?", Tanya Sai sambil membereskan peralatan lukisnya yang tercerai berai karena serangan Inojin barusan.
"Binatang? Aku tak melukis binatang lagi, Touchan", jawab Inojin.
"Lalu?", Sai merengut heran. Jika bukan hewan, lalu apa yang dilukis anaknya?
"Itu namanya robot. Robotnya power rangers. Mereka jagoan yang hebat, Touchan", sahut Inojin enteng. "Jika Touchan sering nonton TV sepertiku, harusnya Touchan tau".
"Hm, Touchan tak suka berkhayal, nak. Apalagi nonton film seperti itu. Lebih baik kau bertanding dengan Touchan sekali lagi. Kali ini kau harus memakai hewan. Itu baru sebanding", tegas Sai merasa dipermainkan Inojin.
"Baik, bersiaplah Touchan. Karena kali inipun aku akan mengalahkanmu"!
GHROOOOAAAARRRR….. GHROOOOAAAARR…
Suara raungan keras mengiringi kemunculan hewan besar berkaki dua berekor panjang an bertangan pendek dari dalam perkamen Inojin. Sai takjub melihat hewan hasil lukisan anaknya. Meskipun terkesan absurd, tetap saja hewan itu termasuk hewan buas yang patut diperhitungkan. Jika salah melangkah, Sai bisa saja terluka karena lukisan anaknya itu.
Sai segera membalas serangan anaknya dengan lukisan ular. Ia membushin lukisan tersebut sehingga hewan yang Inojin kendalikan segera runtuh terbelit oleh ribuan ular yang sudah Sai kirimkan.
Tak tinggal diam, Inojin segera melawan lukisan ayahnya dengan sebuah monster, mirip ular tapi besar dan bersisik. Diatas kepala ular tersebut terdapat dua buah tanduk dan gigi-gigi ular tersebut bertaring tajam. Ular-ular Sai lenyap dalam sekali lahap. Dengan kehebatan meliuknya, Ular Naga Inojin mampu bertahan dari serangan Sai bahkan ketika sai memanggil lukisan beruangnya.
"Sial", umpat Sai geram karena marah. "Kali ini binatang apalagi, nak?".
"Naga Touchan", sahut Inojin pendek. "Karena Touchan sudah mengalahkan T-rex, maka naga ini juga akan mengalahkan monser ular Tochan".
Ino melihat kekacauan yang telah Inojin dan Sai lakukan. Disaat ia susah payah berkebun, dua prianya itu malah bertarung sambil memporak porandakan bagian depan villa mereka. Benar-benar tidak termaafkan.
"INOJIN. SAI! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA VILLAKU?!"
TBC
Jika banyak yang berharap cerita ini dilanjut, mohon reviewnya ya,,, thanks
