Hai minna…
Sorry lama banget baru update. Saat ada waktu update mohon didukung dengan membaca dan mereview ya. Terimakasih…
Warning
Don't Like DON'T Read
Naruto is not Mine but the story line is Mine
OOC, alur cepat lambat tak beraturan, Typo (s)
Chapter ini sama sekali tidak melibatkan interaksi dengan Inojin dan merupakan flashback tentang Ino dan Sai ketika pertama menjalin hubungan. Aneh/ Tolong dimaklumi ya…
Sudah baca? Tinggalkan Review please J
.
.
Back to story of SaIno
.
Review:
Butiran debu : gomen… Ini Author lagi terserang WB :D sudah mulai mencoba melanjutkan.. Tapi semoga ceritanya tidak terkesan dipaksakan yaa..
Ajeng dwi sarada : terimakasih,,, ini saya lanjut kok… maaf menunggu lama
Guest : Hidup SaIno :D
Miyamaretha : sabar minna… J ini dilanjut kok :D
Isnanrjnh : Gak terkesan aneh ya ceritanya? Makasihh… ini saya lanjut
Genie luiciana, rossaria, gevannysepta, hanna julmhifa, hui, guest, santi revinty, trias504, rhein58, nyonya besar gaara, himawarii nara and all readers…. Thanks for being my supporter.. J
.
Pagi ini Inojin berangkat ke Akademi bersama kedua parnernya di Tim 10. Sedangkan Sai yang sedang bebas misi berada di ruang tamu keluarga Yamanaka. Mukanya datar seperti biasanya tapi otaknya saat ini sedang berpikir keras merencanakan sesuatu.
Ya, sesuatu yang harus Ino setujui. Sesuatu berkelebat di dalam otaknya. Sakura Haruno ah bukan. Sakura Uchiha. Rekan satu timnya dalam tim tujuh. Mantan cinta pertama Sai.
Dulu, jauh sebelum mnegenal Ino, Sai selalu merasa penasaran dengan Sakura. Dan sikap Sakura yang selalu mempertahankan cintanya pada lelaki bersurai pantat ayam. Padahal, jika harus dibandingkan, apa sih kelebihan si bungsu Uchiha itu dibanding dirinya? Banyak, mungkin. Tapi lelaki itu juga tidak lebih baik daripada Sai kan?
Sai mulai berdiri dan beranjak dari ruangan yang tadi ia diami. Matanya menyisir ruangan depan hingga samping rumahnya, mencari keberadaan isstrinya yang menggemaskan.
Lagi-lagi kenangannya kembali. Saat ia dan Ino bertemu. Bukan pertemuan mereka yang pertama, tapi pertama kalinya mereka bertemu hanya berdua saja. Ia dan Ino.
Sai masih ingat jelas ketika matahari senja Konoha sudah mulai tenggelam. Cahaya jingga sudah memenuhi angkasa. Dari arah gerbang Konoha Sai melihat Ino berlari didepan kedua rekan setimnya. Matanya terlihat sembab. Dan alih-alih berlari menuju gedung hokage untuk melapor, gadis itu malah menuju kearahnya. Kearah bukit tepatnya. Kedua rekannya Nampak menengadah menatap kepergian Ino. Tapi tidak melakukan apa-apa dan terus berlari menjauhi gadis yang saat itu sudah mendekat kearahnya.
Bukit adalah salah satu tempat favorit Sai untuk melukis sambil mengawasi keadaan desa. Kebiasaan dulu tidak begitu saja mudah diubah kan? Ya, saat Sai masih tergabung dalam pasukan Roof, ia biasanya mengawasi keadaan desa dari atas bukit ini. Apalagi posisinya yang menghadap langsung kearah pintu gerbang dan keadaan desa juga terlihat jelas dari atas sana. Jadilah Sai sangat menyukai tempat pilihannya itu.
Lain Sai, lain juga Ino. Ia tidak begitu mengenal gadis dari klan Yamanaka itu. Ia hanya bisa mendeskripsikan kecantikan fisik Ino saja. Tubuhnya yang lebih sintal daripada Sakura, sikapnya yang selain anggun juga bisa berubah semengerikan Sakura. Atau mungkin Konoha memang diisi oleh makhluk-makhluk cantik nan buas? Entahlah, Sai tak mengerti. Terlalu banyak hal yang ia tidak mengerti tentang manusia, emosi mereka, apalagi wanita.
Gadis itu sudah sangat dekat dengannya. Ia berhenti tepat dibawah pohon tempat Sai bertengger (?)
Setelah beberapa menit hening, tiba-tiba gadis itu menangis. Cukup keras, hampir meraung-raung. Hei, apa gadis ini kerasukan?
Setelah mengamati selama 15menit dan tak melihat tanda-tanda gadis itu akan berhenti menangis maka Sai pun memutuskan untuk turun dan menemani gadis malang itu.
"Butuh bahu?", tanya Sai dengan tatapan datar.
Ino tersentak mendapati Sai yang sedang berdiri disebelahnya. Ia segera mengusap mata dan pipinya dengan kilat. Namun sisa-sisa tangis itu masih belum hilang. Ino terlihat malu, tapi gadis itu tetap mendongak dan membalas tatapan Sai tajam.
"Aku sedang tidak berniat meremukkan bahu siapapun", balas Ino tajam. Wajar gadis itu tak menyukai kehadirannya. Selama ini kapan sih Sai pernah bertegur sapa dengan gadis itu meskipun sedang bersama rekan setimnya.
"Aku pernah melihat Kakashi menawarkan bahunya ketika melihat Sakura menangis", jawab Sai mengabaikan tatapan ganggu Ino.
"Jadi kau tetap saja mencontoh tingkah laku orang lain?", tanya Ino penuh sarkas.
Sai mengedikkan bahu. "Aku tidak punya pengalaman menghadapi orang menangis. Biasanya sebelum musuhku menangis aku sudah membunuhnya".
Jawaban Sai sontak membuat Ino terkejut dan mendongak. "Kalau aku menolak bahumu kau akan membunuhku?".
Bisa saja Sai langsung tertawa melihat ekspresi gadis dihadapannya. Namun suasananya sedang tidak mendukung. Lagipula, hey sejak kapan Sai ingin tertawa?
"ehm, bisa jadi? Jadi? Masih mau menangis dibahuku?", tawar sai yang kini mengembangkan senyumannya.
Entah karena terbawa suasana atau Ino benar-benar takut padanya, gadis itu mulai mendekat pada Sai yang duduk tak jauh dari tempatnya dan bersandar pada bahunya. Baru beberapa detik tangisannya kembali membuncah. Aliran deras dari mata dan hidungnya kini menetes ke baju hitam yang Sai kenakan. Namun tak sedikitpun membuat lelaki itu risih. Ia malah merasa kasihan melihat gadis secantik Ino menangis hingga meraung. Sejak mengamati Sakura, ia jadi mengerti sebab para perempuan bisa menagis sekeras itu. Apalagi jika bukan karena lelaki? Sasuke cukup menjadi alasan sebab tangisan Sakura tiap malam.
Setelah beberapa waktu terlewat suara tangis Ino mulai mengecil. Kini gadis itu hanya terisak sesekali masih tersengguk. Tapi ia sudah melewati masa dramatisnya.
"Jadi, siapa lelaki beruntung yang kau tangisi itu?", tanya Sai frontal. Membuat Ino sedikit berjenggit.
"Kurasa aku tau darimana kau belajar menyimpulkan sebab tangisanku", gumam Ino sambil tersenyum disela-sela isakannya.
Ino menegakkan tubuhnya dan seketika itu ia melayangkan tatapan minta maaf ketika melihat bahu Sai yang sangat basah oleh air mata dan ingusnya.
"Ma-maaf", kata Ino dengan gugup. "Aku tidak bermaksud, eh, kau sendirikan yang menawarkan bahumu? Jadi resikonya…".
"Aku tau. Tak masalah", potong Sai. "Jadi ceritakan padaku siapa lelaki beruntung itu?".
"Apa kau bisa menebaknya?", tanya Ino sambil tersenyum kea rah Sai.
"Yang bisa membuat wajah Sakura seberantakan ini hanya lelaki bermarga Uchiha yang sering disebut-sebut oleh Naruto", gumam Sai. "Tapi kau… entahlah".
"Sasuke Uchiha", jawab Ino. "Ia juga pernah menghancurkan hatiku. Aku dan Sakura pernah bertengkar hebat karena memperebutkannya. Itu konyol. Tapi itulah yang terjadi. Namun kali ini bukan Sasuke yang membuatku menangis. Tapi sahabatku".
Ino menghela nafasnya sejenak. Sai tetap bergeming dan menatap kea rah Ino. Sejujurnya ia merasa sedikit terkejut ketika mendengar Ino juga mengejar Sasuke. Apa gadis Konoha tidak memiliki pilihan lain selain Sasuke? Tidakkah cukup seorang Sakura saja yang tegila-gila pada cowok itu? Sai tidak mengerti. Namun ia tetap ingin mendengarkan.
"Shikamaru pernah menembakku saat remaja. Empat tahun yang lalu sebelum ia bertemu dengan gadis dari Negara angin. Aku mengabaikannya karena saat itu aku masih menyukai Sasuke dan bertahan seperti Sakura hingga Sasuke kembali. Begitulah harapan kami", Ino kembali menghembuskan nafasnya. "Tapi sejak saat itu kedekatanku dengan Shikamaru mulai berubah. Ia memang jenius, tapi ia selalu menunggu kami. Tapi, setelah kejadian itu, ia memutuskan untuk mengikuti ujian chunin. Ia lulus lebih dulu daripada kami. Sejak itu sepertinya kemampuannya lebih diatas kami. Hingga akhirnya ia menjadi seorang Jounin, bahkan saat itu aku dan Chouji belum melalui ujian chunin. Waktu berlalu akhirnya aku, Chouji dan Sakura mengikuti ujian chunin dalam satu tim dan kau bisa tebak selanjutnya bagaimana takdir membalasku. Shikamarulah yang menjadi petugas yang menguji kami bersama sinona dari Negara angin itu. Aku tidak tau jika mereka dekat. Yang aku tau mereka dekat karena pekerjaan".
"Dan kau cemburu?", tanya Sai memotong cerita Ino.
"Tidak, tidak seperti itu", elak Ino sambil sesekali mengusap hidung merahnya. "Aku tidak mengetahui kedekatan mereka hingga beberapa waktu yang lalu ketika kami berkumpul lagi dalam satu tim untuk misi di Suna. Disanalah aku melihat kedekatan mereka. Aku tak bisa menjelaskan selanjutnya, yang pasti aku merasa bodoh. Telah menolak lelaki sebaik Shikamaru. Melihat lelaki itu memperlakukan putri Suna dengan penuh kasih sayang, aku iri. Harusnya hal itu ia lakukan untukku. Tapi..".
Tangis mulai mengalir lagi dikedua pipinya. Ino kembali terisak dan mendekatkan wajahnya kali ini ke dada Sai.
Sai tak pernah merasakan kedekatan yang seperti ini. Tidak pernah saat bersama Sakura juga. Ia sangat sulit memahami emosi manusia. Sampai sekarang pun ia masih heran dengan perasaan seperti itu. Hubungan dua orang yang berbeda jenis. Ia hanya pernah merasakan cinta dari Shin, orang sudah ia anggap sebagai kakak. Dan kematian Shin yang pernah membuat Sai terguncang seperti yang Ino alami saat ini.
"Dia kan belum mati, kenapa kalian menangis untuk orang yang belum mati?", tanya Sai yang membuat Ino mendongakkan wajahnya.
"Apa kau tak pernah merasakan sakit hati karena seseorang? Seorang wanita maksudku?", tanya Ino kembali menenggelamkan wajahnya.
"Entahlah, aku sangat suka melihat Sakura dan mempelajari emosinya. Aku sebal melihatnya menangis gara-gara Sasuke dan sama sebalnya ketika melihat Naruto berusaha mati-matian agar bisa mendapatkan Sasuke kembali untuk Sakura. Apa itu bisa disebut sakit hati?", tanya Sai dengan suara yang masih sedater papan setrikaan.
"Kau suka melihat Sakura yang berganti-ganti emosi? Apa kau menyayangi Sakura? Apa kau menyayangi Naruto?", tanya Ino melupakan kesedihannya. Tubuhnya mulai menegak dan pipinya sudah mongering.
Sai mengambil sebuah buku note kecil yang tersimpan dibalik bajunya.
"Deskripsi sayang yang pernah kutulis adalah selalu memikirkan apa yang terbaik bagi orang yang kita pedulikan", sahut Sai. "Dan aku memang memikirkan hal itu untuk Naruto dan Sakura".
"Siapa yang mendiktekannya untukmu?", tanya Ino penasaran.
"Guru Kakashi", jawab Sai pendek.
"Baiklah, kalau begitu apa deskripsi cinta dalam buku catatanmu?", tanya Ino memulai mode keponya.
"Rumit", bacanya sambil mengernyit. "Aku sendiri yang menuliskannya. Terlalu membingungkan menurutku. Jadi, rumit adalah kata yang tepat".
Ino tersenyum sambil mengangguk-angguk. "Ya, cinta itu adalah hal yang sulit untuk dimengerti. Entahlah, aku juga bukan ahlinya".
"Mau mempelajarinya bersamaku?", tawar Sai sambil menyunggingkan senyum lebar dan mengulurkan tangan kirinya.
"Eum.. apa?", sepertinya Ino lupa bahwa hari ini dia patah hati. Buktinya pipinya merona ketika menjabat uluran tangan Sai.
~Ein-Mikara~
"Sai, Sai, SAI", teriak Ino dihadapannya. Tangannya menenteng sebuah keranjang yang penuh cucian basah.
"I-Ino?", tanya Sai sambil memandang kearah ino setelah fokusnya kembali.
"Kau kenapa? Kau sudah sarapan? Apa Inojin sudah berangkat?", tanya Ino bertubi-tubi.
Dasar Mak-mak cerewet, gumam Sai dalam hati dengan perasaan geli.
"Aku sudah sarapan, Inojin sudah berangkat bersama Chouchou dan Shikadai", jawab Sai sambil mengangkat keranjang cucian yang dibawa oleh Ino.
"Kau mau membantuku menjemur pakaian?", tanya Ino sambil menyipit curiga.
"Aku sedang bebas tugas, Ino. Apa aku tidak boleh membantumu?", tanya Sai sambil menyunggingkan senyum hangat.
"Tidak biasanya. Kau kan malas sekali melakukan hal seperti ini", Ino masih memicing curiga. Suaminya itu pasti ada apa-apa. Tidak mungkin Sai berubah begitu cepat kan?
"Jika kau berpikir setelah membantuku kau akan merubah pendapatku tentang anak kedua, maaf saja, jawabannya tetap sama. Aku tidak mau hamil lagi", cerocos Ino sambil melenggang kearah dapur membiarkan Sai yang sedang berusaha berkutat dengan pakaian basah dan jepit pakaian.
Dasar Ino, tidak taukah kau bahwa Sai sedang dalam kondisi menye-menye.. Andai perempuan itu tau…
Well, Sai, kini bagaimana rencanamu selanjutnya?
.
.
.
TBC
.
.
Review
