Tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya, badanku berguling pelan-pelan sementara mulutku mengerang. Kulihat tanganku terbalut perban. Terasa hangat pada ubun-ubunku: perban. Dan aroma rempah Cina yang kental.

Mataku mengamati sekeliling dalam remangnya senja. Penjara, berjeruji besi karat namun hanya aku di sini. "Sudah bangun, nak?" Napi di seberang muncul oleh bara Sipir. Mara tajamnya mentapku lurus, sebelum tertutup oleh Sipir piket yang datang tadi. "Oh. Bagus, kau kuat." Katanya. Kepalaku menggeleng karena bising dari rantai yang dia buka. "Beruntung juga kau. Kalau Pangeran tidak ada, kau pasti sudah mayat sekarang."

Pangeran. Binggo.

"Ayo jalan." Perintahnya dan menarikku. Entah, aku tak tahu, kakiku pasrah mengikutinya. Para napi di kanan dan kiri menatapku dengan beragam rupa. Sulit kujelaskan, keraguan dan bingungku membelenggu.

Tahu-tahu di atas sana, kilauan emas menyapu ragaku dengan keagungannya. Mulutku membuka. Takjub akan yang kulihat sekarang. "Jaga sikapmu." Kata Sipir itu dan membawaku masukku ke suatu ruangan. Dengan seorang laki-laki memandang jendela sambil memegang gelas dan bertimpa remang perapian.

Seorang pangeran.

Seorang penyelamat.

"Yang Mulia," panggilku dan dia menoleh sigap. Senyum terukir. Dengan kilauan mata penuh kharisma.

"Katsuki." Panggilnya. Dan salju diluar, mengguyur makin lebat.