Kemarin saya hiatus sebentar, dan mulai aktif kembali sekarang, maaf telah membuat kalian menunggu.
Chapter 7 update!
Naruto Shippuden © Masashi Kishimoto
Genre -Mystery/Adventure
Power of White © Yoshino
Power of White ..
Chapter 7
Menghapus kenangan
Di tempat Kyubi
Tempat keheningan yang tak terbatas, seseorang berambut putih berjalan mendekati monster berekor 9, "Yo" sapa White.
"Oh, kau White?"
"Hey? apakah kau ingin keluar dari tempat ini?" tanya White, wajahnya tidak menunjukan ekspresi apapun. Kyubi terdiam sesaat dan bangkit di waktu yang bersamaan. Kini posisinya beralih berdiri sebelumnya ia hanya bermalas malasan dan tidak berbuat apa-apa.
"Tawaran yang bagus, aku sangat menginginkannya"
"Tapi ada satu syarat, bisakah kau mengeluarkanku dari tempat ini?" jawab White, dan ia pun meminta tolong kepada Kyubi untuk mengeluarkannya dari tempat hening dan sepi ini.
"Itu sangat mustahil, karena kau hanya bentuk kloningan dari Naruto dan tidak nyata"
"Hee? Apakah itu benar? Aku ragu mengenai itu dan sebaiknya aku memikirkan cara lain untuk ini"
Di tempat Naruto.
"Sensei? Aku sudah membunuh 2 diantara mereka? Apakah kau senang heheh, aku harap juga begitu" Naruto masih memandang langit biru yang berawan, dia berpikir bahwa semua ini baru saja dimulai, dan ini adalah bagian awalnya saja.
"Aku akan segera menemukan mereka dan membunuh mereka semua" pikir Naruto, dan di saat itulah bayangan bayangan Naruto yang membuat segel merah mulai menghilang dengan sendirinya dan segel merah telah lenyap dengan seketika. Semua orang yang berada di dalam segel itu sudah merasa terbebas atas belenggu yang membuat mereka terjebak untuk beberapa saat. Dan tidak disadari Sakura langsung berlari menuju Naruto dengan tatapan sangat marah.
"Apa yang kau lakukan! Dasar bodoh!" teriak Sakura yang masih berlari. Yamato dan lainnya pun mengira Sakura akan memukul Naruto, namun mereka salah. "Kau sangat bodoh?" ucapnya pelan, kini gadis berambut merah jambu itu mendekap erat Naruto dari belakang.
Pelukan dapat dirasakan oleh Naruto, laki laki berambut putih itu hanya terdiam membisu tanpa sanggup mengatakan sepatah dua patah kata, karena memang dia tidak ingin menanggapi perlakuan Sakura terhadapnya kali ini. beberapa menit berlangsung suasana senyap dan tenang dapat dirasakan Naruto dan lainnya, hanya hembusan angin serta daun daun yang bertebangan yang terlihat di tanah lapang yang di kelilingi oleh pepohonan lebat.
"Kenapa kau berubah sampai seperti ini? .. Kenapa bisa? Tolong jelaskan kepadaku, Naruto?" Sakura mulai mengatakan isi hatinya, dia sangat ingin mengetahui alasan Naruto menjadi seperti ini, di lain hal dia juga mencemaskan Naruto. namun ungkapan itu tidak ditanggapi oleh Naruto sedikit pun, dia hanya terdiam dan memandang langit biru yang berawan.
"Kenapa diam? Jawablah pertanyaanku"
"…." Naruto masih mengunci mulut kuat kuat, dia hanya berbicara ketika dia ingin bicara. Melihat reaksi Naruto yang acuh kepadanya, Sakura semakin mendekap Naruto dengan eratnya.
"Tolong jawab pertanyaanku" minta Sakura dengan suara lembut, tetesan air mata mulai keluar dari kedua matanya, mengalir membasahi pipi halusnya.
"Berhentilah menangis"
"He?"
"Aku tidak pernah melihatmu menangisiku sampai seperti ini?"
"Tentu saja, aku sangat mencemaskanmu, kau masih bodoh seperti biasanya"
"Hapus?"
"Ha? Apa?"
"Hapus?"
Sakura tidak mengerti apa maksud perkataan Naruto barusan, dia hanya membalasnya dengan 1 patah kata yang menunjukkan reaksi bingung dan menunggu penjelasan dari Naruto.
"Hapuslah kenanganmu tentang aku?" ucap Naruto tanpa menatap Sakura, perkataannya lebih dingin dari biasanya.
"Apa maksudmu? Aku tidak bisa!" Sakura mulai bingung dengan semua perkataan Naruto, "Menghapus kenangan? Bukankah itu sesuatu yang mustahil?" batin Sakura dalam hatinya namun dia berusaha menepis permintaan Naruto dengan bersikeras.
"Bukankah kau yang mengatakannya sendiri? Naruto yang kau kenal sudah tidak ada, dia sudah lenyap, dan sekarang akulah Naruto yang sebenarnya, Naruto yang dipenuhi rasa kebencian dan haus akan balas dendam, aku tidak tahu, diriku yang sebenarnya telah menunggu di dalam jiwaku bertahun tahun lamanya, dan setelah lama menunggu akhirnya Naruto asli telah bangkit…"
"Apa yang kau katakan…?" reaksi yang pantas, Sakura melepas pelukannya terhadap Naruto dan berjalan untuk menghadap Naruto agar dapat melihat wajahnya. Dan dilihatnya…
Melihat tatapan Naruto, Sakura tercengang, air mata kembali menetes dari kedua matanya tapi kali ini lebih deras daripada sebelumnya.
"Naruto? apakah ini kau?" Sakura mencoba menyentuh pipi Naruto.
Kini di depannya telah berdiri Naruto dengan wajah yang mengerikan, mata rinnengan dan sharingan masih terlihat di kedua matanya, senyumannya sudah lenyap tak berbekas hanya senyuman penuh kebencian yang sekarang dapat dilihat dari wajah Naruto.
Dan inilah yang terjadi, senyuman riang Naruto kecil yang biasanya dapat dilihat dengan jelas oleh semua orang termasuk warga konoha, anggota team 7 dan teman temannya kini telah hilang ditelan bumi, hangus tak berbekas sampai menimbulkan tanda tanya yang tiada henti hentinya mengundang penasaran semua orang khususnya, orang orang yang sekarang berada di dekatnya termasuk Sakura.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kehilangan teman yang sangat aku sayangi lagi" batin Sakura yang masih menyentuh pipi Naruto. tangan Naruto mulai bergerak dan menyingkirkan tangan Sakura yang mengelus elus pipi bagian kirinya. "Sakura? Hapuslah kenangan itu" setelah mengatakan beberapa kata, Naruto pun langsung berjalan melewati Sakura begitu saja.
Sakura hanya terdiam sambil meratapi tangisannya, dia tidak tahu harus berbuat apa dan seperti biasa, dia hanya bisa menangis dan menangis tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu kepada Naruto. Darui, Yamato, dan Samui pun bergegas mendekati Sakura
"Tunggu Naruto! kau mau kemana!" teriak Yamato lantang.
"Aku akan menjalankan misi ini sendirian, karena akulah yang hanya bisa membunuh mereka" ucap Naruto menyampingkan wajahnya sambil tersenyum. Senyuman jahat. ia pun melanjutkan langkah kakinya.
Melihat itu, Darui pun mulai bergerak dan angkat bicara, tiba tiba saja ia berdiri di hadapan Naruto.
"Apa?" ujar Naruto dengan tatapan dingin.
"Aku tidak akan membiarkanmu berbuat seeanaknya, apa kau belum mengerti? Kita adalah satu team, kerja sama adalah hal yang paling diutamakan disini, dan aku sebagai ketua kelompok ini memegang tanggung jawab yang besar atas kelancaran dalam misi ini" Darui mulai mengambil langkah tegas untuk memperingati Naruto agar tidak melakukan hal hal yang tidak masuk akal dan mau bekerja sama sebagai team bukan individu, namun ungkapan itu membuat Naruto tersenyum.
"Team? Kerja sama? Bukankah itu hal yang lucu? Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu? Apakah kau bisa mengalahkanku?" mendengar ucapan itu membuat Darui tidak bisa berkata kata lagi, dia pun memikirkan sesuatu mengenai perkataan tersebut.
"Aku tau kau adalah shinobi yang disegani di desamu, dan menjadi shinobi yang sangat dipercaya oleh Raikage dan petinggi petinggi Kumogakure, namun apakah kepercayaan itu bisa kau jawab?"
"Apa maksudmu?" tanya Darui bingung.
"Jawabannya hanya 1, yang pantas memimpin team ini adalah aku" balas Naruto sambil menatap Darui dengan senyum licik.
"Sialan, dia berusaha memancingku agar mau bertarung dengannya dan membuktikan kepada yang lain bahwa aku lebih rendah darinya" pikir Darui yang mulai termakan ocehan Naruto.
"Kenapa diam? Apa memang kau sudah menyadarinya? Bahwa kekuatanku lebih besar dari pada kekuatanmu" Samui yang sedari tadi mendengar perbincangan itu mulai terpancing dengan perkataan Naruto karena menjelek jelekan Darui.
"Hey! Kenapa kau mengatakan hal seperti itu! Darui lah yang pantas memimpin team ini, dia hanya mencegahmu agar tidak menjalankan misi ini sendiri dan mau bekerja sama, itu juga demi keselamatanmu" sela Samui yang kini berada di samping Darui.
"Apa kau bercanda? Kalianlah yang aku selamatkan, seharusnya kalian yang harus berterima kasih kepadaku, menyelamatkanku? bodoh sekali" mendengar perkataan kasar itu membuat Samui hanya bisa menahan emosinya.
"Cih… Sialan kau! Jika saja…" tiba tiba saja Darui berjalan satu langkah ke depan dan mengatakan sesuatu kepada Naruto. Samui pun tidak jadi melanjutkan ucapannya. Naruto terdiam dan berusaha memahami apa yang akan Darui katakan.
"Jika begini, inilah pilihan yang paling tepat, mau bagaimana lagi…" batin Darui sebelum mengatakan apa yang ia pikirkan.
"Kau benar, tidak ada gunanya kita bertarung hanya untuk menentukan siapa yang akan memimpin team ini, kalau begitu aku mengakuimu dan aku ingin kau menggantikanku sebagai ketua kelompok di team ini"
"Apa yang kau katakan, Darui!" sela Samui merasa tidak terima. Naruto pun tersenyum licik.
"Pilihan yang tepat…" jawab Naruto singkat.
"Maafkan aku Samui, tapi hanya inilah satu satunya cara yang bisa kita ambil" jawab Darui atas perkataan Samui baru saja. "Ini adalah satu satunya pilihan yang paling tepat, karena aku lebih mementingkan keselamatan dengan adanya Naruto disini, aku yakin misi ini akan berjalan dengan lancar" pikir Darui.
"Tapi, dia masih terlalu muda untuk melakukannya mustahil"
"Tentang itu kau tidak perlu merisaukannya, karena aku bisa mengatasi masalah itu" sahut Naruto sambil berjalan menjauhi mereka, dan mereka pun melanjutkan perjalanan.
"Setidaknya sampai kita menemukan markas Akatsuki" senyum Naruto menyeringai.
Darui menyerahkan kepimpinan misi itu begitu saja, Yamato dan Sakura hanya bisa terdiam menerima semua itu. "Jadi? Naruto akan memimpin team ini? apakah dia bisa? Melihat dia sangat ceroboh…. Tidak, dia bukan orang seperti itu lagi, menurutku sekarang dia adalah perpaduan antara Sasuke dan Kakashi" pikir Yamato yang kini telah berkumpul bersama yang lainnya, sekarang mereka berlima meloncat dari dahan pohon yang tinggi ke dahan pohon lain untuk mencapai tempat tujuan.
Dalam perjalanan mereka menemukan berbagai rintangan dan hambatan, melewati air terjun, sungai, tebing yang curam dan setelah melewati itu akhirnya mereka menemukannya.
"Apakah itu markas Akatsuki?" ucap Yamato.
"Akhirnya kita menemukannya" Naruto merasa senang, ia pun sudah tidak sabar untuk membantai seluruh anggota Akatsuki. Tempat tersebut ialah gua yang berada di tengah tengah danau, gua itu cukup besar dan memiliki lubang yang lebar.
"Dari sini aku yang akan memberikan kalian arahan" semuanya terdiam dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Naruto, mereka pun berusaha mendengarkan arahan Naruto. setelah itu semuanya jongkok/duduk dan diwaktu yang bersamaan Naruto mengeluarkan peta.
"Baiklah, aku akan mengeluarkan kemampuanku yang sebenarnya" batin Naruto dalam hati.
"Sebelumnya aku tidak tahu akan memulai ini darimana, karena kita belum mengetahui secara pasti, apakah itu markas Akatsuki atau bukan, sekarang kita berada disini"Naruto pun menunjuk salah satu tempat yang berada di peta sebuah tebing curam yang disampingnya terdapat danau dan gua tersebut. Yang lainnya pun mendengarkan perkataan-perkataan yang keluar dari mulut Naruto dengan baik.
"Dan oleh karena itulah, kita tidak boleh sembarangan memasuki gua tersebut, ada dua pilihan terbaik yang bisa kita ambil yaitu mencari ruang dan celah yang bisa kita susupi di bagian gua dan pilihan keduanya ialah menerobos gua itu secara bersamaan, dan saling melindungi satu sama lain" tutur Naruto mengenai pemikirannya. Dan Darui pun langsung merespons cepat pemikiran Naruto tersebut.
"Bagaimana jika gua itu tidak mempunyai celah atau ruang, yang berarti hanya 1 pintu masuk yang terdapat di gua tersebut yaitu di rongga gua?" sela Darui sambil memandang wajah Naruto.
"Sudah kuduga kau akan mengatakan hal itu, apa kau pikir aku belum mempersiapkan gagasanku itu? Sekarang 1 bayanganku telah memeriksa keadaan gua dan bagian bagiannya serta mengidentifikasi isi gua tersebut, apakah ada penghuninya atau tidak?" ujar Naruto, namun ucapannya lagi lagi mendapat tanggapan cepat, kini giliran Samui yang merasa ada yang salah dengan gagasan Naruto.
"Bukankah itu berbahaya? Jika bayanganmu diketahui oleh musuh bagaimana? Itu juga akan berimbas kepada kita semua, dan pada akhirnya musuh akan tau keberadaan kita" tutur Samui mengenai tanggapannya.
"Kau meragukan kemampuanku? Kita lihat saja nanti" semuanya terdiam, Yamato dan Sakura pun juga ikut terdiam. "Naruto, kau?" batin Sakura cemas dan terkagum. Perasaan yang tercampur secara bersamaan.
"Jadi apa yang akan kau pilih, Naruto?" tanya Yamato penasaran.
"Sebentar, ketua Yamato, bayanganku baru memeriksa hal hal yang berada di sekitar gua itu" jawab Naruto.
Di luar gua
"Sepertinya, ada yang aneh dengan gua ini? firasatku buruk" pikir bayangan Naruto sambil memegangi batu besar yang berada di sampingnya sambil melihat mulut gua yang terlihat seperti menyuruhnya untuk masuk.
"Apakah kita…?"
Di dalam gua
"Jadi apa rencanamu selanjutnya, Hidan dan Kakuzu telah tewas dalam pertempuran" ucap Zetsu yang muncul dari dalam tanah dan muncul di permukaan, dan seseoarang berjubah hitam mengenakan topeng oranye spiral telah duduk santai di ruangan yang berada di dalam gua tersebut.
"Memang cukup merugikan, kehilangan 2 alat yang tangguh, siapa yang mengalahkannya?" tanya Obito.
"Aku tidak begitumengetahuinya, namun ia memiliki rambut putih" jawab Zetsu.
"Rambut putih? Jiraiya kah?" dengan cepat, Obito langsung menanyakan siapa orang itu. Lalu Zetsu hitam menjawab.
"Tidak mungkin Jiraiya, Jiraiya telah tewas saat melawan pain" sela Zetsu hitam dengan suara beratnya. "Dan lagi, dia memiliki sharingan" lanjut Zetsu hitam, hal itu pun langsung membuat Obito terkejut, namun ekspresinya tidak terlihat karena tertutup oleh topeng spiral miliknya.
"Sharingan?" Zetsu hanya menganggukan kepala.
"Itachi kah? Bukan dia telah mati, Shisui? Itu terlalu mustahil, Apakah Sasuke? Bukan dia, dia tidak mungkin berkhianat? Jadi siapa orang itu?" Obito mencoba berpikir keras dan menemukan jawabannya sendiri. Tapi Zetsu mulai berkata kata lagi.
"Gawat, ada yang ingin menyusup"
"Aku sudah tau, aku akan segera pergi dari sini dan menuju ke tempat pain" ujar Obito sambil bersiap siap menuju ke tempat pain untuk membahas rencana selanjutnya.
"Kau tidak ingin melihatnya? Aku yakin ini akan menarik?" ujar Zetsu putih.
"Aku belum ingin menampakkan diriku, karena akulah ketua Akatsuki yang sebenarnya dan aku telah menyiapkan sesuatu yang menarik untuk mereka" Obito pun menghilang dengan memanfaatkan mata sharingannya. Angin berputar di satu titik dan bersamaan dengan itu Obito telah pergi dari tempat tersebut.
"Sebaiknya, kita juga pergi" disusul oleh Zetsu yang tenggelam di tanah dengan sendirinya.
Di tempat team Naruto.
"Bayanganku telah selesai memverifikasi semua bagian gua bagian luar, tidak ada celah sama sekali hanya ada satu jalur yang bisa kita lalui dan terlalu berbahaya jika bayanganku masuk ke dalam gua sendirian" ujar Naruto yang menerima pesan dari bayangannya.
"Jadi kita hanya bisa melalui mulut gua?" tanya Sakura penasaran.
"Benar, hanya itulah satu satunya cara untuk menerobos masuk ke dalam gua, ini seperti bertaruh, kita akan bergerak sekarang" Naruto pun langsung menginstrusikan rekan rekannya untuk menjalankan rencana yang sudah ia pikirkan matang-matang dan ingin segera mengakhiri misi ini.
Semuanya langsung terjun dari tebing untuk menuju danau, lalu mereka berlari di atas air dengan cepat untuk menuju ke gua tersebut.
"Kita sudah dekat"
"Apakah ini akan berhasil?"
"Kita tidak akan tahu, sebelum mencobanya" mereka berlima pun langsung masuk ke gua yang disebut sebut sebagai markas Akatsuki. Suara langkah kaki terdengar memantul di dinding gua, gemercik air dan tetesan air gua menetes dari bebatuan gua yang berada di langit langit.
"Aku pikir gua ini hanya terfokus pada satu ruangan?" pikir Naruto yang melihat 2 jalur yang berlawanan. Mereka berlima berhenti secara kompak.
"Bagaimana? Naruto?" tanya Samui bingung sambil menunggu jawaban Naruto. Sakura dan lainnya pun terlihat berpikir, kemudian Naruto langsung bertindak cepat.
"Ketua Yamato, Darui-san, dan Samui-san, ke kanan sedangkan Aku dengan Sakura akan ke kiri" ucap Naruto mengenai pemikirannya. Dan pemikiran itu pun langsung ditanggapi oleh Yamato.
"Kau dengan Sakura? Apa kau bercanda? Kalian masih muda dan tidak begitu berpengalaman?" ujar Yamato ngotot, ia terlihat mencemaskan keduanya.
"Apa ketua Yamato lupa? Aku sekarang kuat dan aku yakin mampu melindungi Sakura, jadi jangan cemaskan kami, fokuslah kepada musuh nanti" jawab Naruto yang masih memasang wajah dinginnya. Mendengar itu Yamato seperti tidak berkutik dan ia pun mengiyakan permintaan Naruto.
"Baiklah, aku mengerti" dan mereka pun menyebar menjadi 2 kelompok.
"Apa kau yakin Naruto?" tanya Sakura yang kini berlari di samping Naruto.
"Kau akan baik baik saja, percayalah kepadaku" jawab Naruto sambil tetap focus ke depan. Ia tidak menatap mata Sakura sedikit pun yang melihat dirinya dari samping.
"Untuk sesaat aku merasakan hal yang belum pernah aku rasakan, ini aneh" pikir Sakura yang merasa Naruto berubah derastis dari sebelum pertarungan dengan Kakuzu dan Hidan sampai sekarang. Dalam artian sifat kebrutalan Naruto hanya timbul ketika melihat anggota Akatsuki.
"Apa kau yakin mereka akan baik baik saja, Yamato-san?" tanya Samui kepada Yamato, sekarang mereka telah berlari menelusuri jalur lain yang berbeda dengan jalur Naruto.
"Aku tidak tahu, namun aku hanya bisa percaya kepada mereka" mereka bertiga pun terus menelusuri sudut sudut gua untuk menemukan ruangan ataupun persembunyian dari Akatsuki. Namun mereka menemukan beberapa kejanggalan. Langkah mereka pun semakin pelan dan pelan, sampai mereka memberhentikan langkah.
"Aku merasakan sesuatu yang tidak enak"
"Firasatku buruk mengenai ini"
Dan tidak disadari… mereka melihat sesuatu yang familiar yang menempel di dinding-dinding gua. "Itukan?"
Di samping itu Naruto dan Sakura telah menemukan titik temu yaitu tempat singgasana yang terlihat sangat mencurigakan. "Itu kan?" ucap Sakura sesaat telah keluar dari lorong gua dan menemukan ruangan tersembunyi di salah satu bagian gua. Naruto dan Sakura pun langsung mendekati singgsana tersebut dan memeriksa sudut sudut ruangan.
Kemudian Naruto menyentuhkan tangannya ke bagian tempat duduk singgasana tersebut. "Sebelumnya ada orang disini"
"Apa yang kau maksud Naruto?"
"Aku pikir, sebelum kita memasuki gua ini, ada orang disini. Mungkin Akatsuki"
"Akatsuki?"
"Iya, kita terlambat" Naruto memastikan bahwa sebelum ia tiba di gua itu, ada orang yang sempat berada disitu, namun ia belum mengetahui, apakah itu Akatsuki atau bukan? dan tiba tiba saja.
Duarr! Duarr! Duarr!
Ledakan menggelegar di dalam gua, ledakan itu silih berganti berbunyi dengan keras sampai menggetarkan gua itu sendiri. Kertas peledak yang menempel di dinding dinding gua dan berjumlah sangat banyak meledak dengan lantang dan keras. Dan di waktu yang sama, mereka pun segera berlari untuk keluar dari gua itu.
"Ada apa ini?" Sakura pun merasakan getaran getaran yang menganggu keseimbangannya.
"Ini jebakan"
"Jebakan?"
"Iya, sebaiknya kita keluar dari sini, atau gua ini akan mengubur kita hidup hidup" Naruto pun menuntun Sakura untuk mengikutinya, mereka berdua berlari dan mencari jalan untuk keluar dari gua tersebut.
Sedangkan Yamato dan lainnya telah terlebih dahulu menyadari kertas peledak tersebut. "Sial, kita dijebak, aku yakin mereka sudah pergi dari tempat ini" ujar Yamato sambil masih berlari dan mencari jalan untuk keluar, reruntuhan bebatuan tiada henti hentinya berjatuhan getaran seperti gempa bumi kecil pun bergoncang terus menerus. Dan akhirnya bebatuan besar runtuh dan jatuh dengan tiba-tiba yang mengakibatkan mereka terhenti di tempat.
"Apakah tidak ada jalan lain?" tanya Samui yang mulai panik.
"Tenanglah, kita pasti bisa keluar dari tempat ini" ucap Darui yang berusaha mengubah suasana kepanikan tersebut untuk menjadi suasana yang lebih santai.
Kini Naruto dan Sakura juga masih berlari lari untuk menemukan jalan keluar gua.
Duarr!
Sakura memukul bebatuan yang akan terjatuh di depan dirinya dan Naruto, Naruto pun sontak terkejut dengan reflect Sakura yang sangat cepat melebihi dirinya. Lalu mereka berdua melanjutkan berlarinya.
"Terima kasih" ujar Naruto tanpa menatap Sakura.
"Naruto?" pikir Sakura dengan mata yang berkaca kaca.
Gemuruh gua semakin menjadi jadi, di luar gua pun juga terlihat ledakan ledakan yang keras sampai menimbulkan gemercak cahaya dan asap hitam secara bergantian di bagian luar gua.
Bebatuan masih menghambat Darui dan lainnya untuk keluar dari gua tersebut, dan ia pun mengambil keputusan cepat. Pria berambut putih dan berkulit hitam itu langsung mengeluarkan petir hitamnya untuk menghancurkan bebatuan yang menghalanginya.
Lancer Circus!
Duarr!
Bebatuan itu pun hancur dan jalan kembali terbuka, mereka bertiga pun langsung melanjutkan langkahnya. Dan disaat yang bersamaan secercah cahaya mulai terlihat.
"Jalan keluar sudah terlihat?" ujar Yamato.
"Itu jalan keluarnya" ucap Sakura.
Akhirnya mereka berlima pun keluar secara bersamaan dan menjauh dari tempat yang akan hancur tersebut.
"Huh huh huh?" kini mereka berlima telah berada di permukaan air sambil melihat runtuhnya gua itu.
"Akhirnya kita bisa keluar dengan selamat" Yamato terlihat menghela nafasnya beberapa kali sambil memegang kedua lututnya karena kelelahan.
"Aku tidak memikirkan hal itu sama sekali? Apakah aku gagal?" Naruto merasa dirinya gagal, padahal sebelumnya dia sudah memperkirakan semuanya dan akan berhasil jika melakukan pemikirannya tersebut, namun dia kalah telak, karena pemikirannya telah diketahui oleh orang lain.
"SIAL, Akatsuki!" Naruto mengepal tangannya, pertanda dirinya mulai marah. Bagaimana pun juga dia hampir menemukan titik temu keberadaan Akatsuki dengan jelas, namun semuanya telah lenyap begitu saja, dan pada akhirnya langkahnya terhenti hanya sampai disini saja.
"Ada yang ingin aku bicarakan kepada kalian" ujar Naruto kepada yang lainnya, rekan rekannya pun menoleh ke arah Naruto, dan mendengarkan apa yang ingin Naruto sampaikan kepada mereka. Setelah berbicara beberapa saat..
"Jadi Akatsuki telah mengetahui keberadaan kita, sebelum kita menyusup ke gua itu?" tanya Yamato penasaran.
"Benar" jawab Naruto singkat.
"Naruto, kenapa kau bisa tahu itu?" merasa kurang yakin, Darui pun menanyakan pertanyaan itu kepada Naruto.
"Karena aku menemukan ruangan yang baru saja di tempati oleh seseorang yang aku pikir itu adalah anggota Akatsuki, di ruangan itu terdapat sebuah singgasana yang mengartikan bahwa hanya ada satu orang yang berada disana" Naruto pun mengatakan semua yang ia iihat di salah satu ruangan di gua itu.
"Aku menemukan beberapa kejanggalan yang ada di ruangan itu, dari senjata aneh, lambang aneh, sampai baju Akatsuki yang tergantung disana" lanjut Naruto.
"Dan apa kau meninggalkan jubah itu?" tanya Darui singkat.
"Tidak aku membawanya" Jubah hitam dengan awan merah itu dikeluarkan oleh Naruto dari gulungan kecilnya. Semuanya pun terkejut. "Haa?"
"Bukankan kau tadi meninggalkannya?" Sakura pun merasa bingung, ketika melihat Naruto membawa jubah yang seharus tidak ia bawa.
"Bukan, aku membawanya untuk berjaga jaga, aku harap ini menjadi sebuah awal yang bagus untuk mencari jejak Akatsuki" Naruto masih membawa jubah itu dan mengenggamnya dengan erat, dan hembusan angin membuat jubah itu melayang layang.
Semuanya masih terdiam, tenggelam dalam suasana hembusan angin yang sejuk.
Apakah misi ini berhasil? Atau misi ini gagal? Itu tidak penting, membunuh anggota Akatsuki adalah bagian pokoknya, dengan membunuh aku dapat merasakan kesenangan yang luar biasa, aku sedang membicarakan masalah balas dendam, dan betapa nikmatnya itu. Sensasi yang luar biasa.
Markas Akatsuki
Suara langkah kaki terdengar memantul dinding, laki laki berambut oranye pun tiba di ruangan yang terdapat 3 kursi dan meja berbentuk lingkaran di dalamnya.
"Kau lama sekali? Pain?" Pain hanya terdiam mendengar keluhan Obito yang wajahnya masih tertutupi oleh topeng spiral, dan disamping itu seorang perempuan berambut biru muda juga terlihat duduk di kursi yang satunya, kemudian Pain terduduk. Dan mulai berbicara.
"Baiklah kita mulai pertemuan ini"
"Inlahi yang aku tunggu-tunggu sedari tadi" pikir Obito tersenyum di balik topeng spiralnya.
To be continue
Chapter 7 END
N/A: White adalah sekumpulan kebencian Naruto yang membentuk jiwa manusia dan sangat disukai oleh Kyubi. Ia memiliki banyak kelebihan diantaranya kecerdasan, kekuatan dan tidak mempunyai emosi dengan ciri khas rambut putih.
Sempatkan beberapa menit untuk mereview.
Jaaa!
