POW kembali! Maaf kalau menunggu lama, dan saya berterima kasih jika ada reader yang masih setia menunggu cerita ini. baiklah selamat membaca ^^

Chapter 8 update!

-Naruto is the White!-

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre -Mystery/Adventure

Power of White © Yoshino

Power of White ..

Chapter 8

Kembali

Di hutan yang sangat lebat, banyak pepohonan tinggi yang menjulang ke atas langit, dari dahan ke dahan pohon lain terlihat kelompok yang dipimpin oleh Kakashi Hatake. mereka berlima pun melihat secercah cahaya dan terjun dari tebing menuju ke perairan.

"Itukan? Team Darui?" pikir Kakashi, kemudian ia tetap berlari untuk mendekati Naruto dan lainnya.

"Kakashi-san?" melihat beberapa orang mendekati mereka, Naruto langsung tahu bahwa itu adalah kelompok Kakashi.

"Kenapa kau lama sekali? Kakashi-sensei? Tidak seperti biasanya?" tanya Naruto dengan lirikan satu mata. Sebelum menjawab pertanyaan itu, laki laki berambut putih itu berjalan untuk memastikan sesuatu, ia menenggelamkan tangan kanannya di air tersebut.

"Jadi begitu ya?" batinnya, dan setelah itu ia mulai menjawab pertanyaan Naruto. sambil melihat mata Naruto, ia mulai mengatakan sesuatu.

"Kami bertemu dengan anggota Akatsuki di perjalanan" sorot mata Kakashi tidak berubah sedikit pun, dingin dan selalu tenang membuat suasana disitu tidak berubah sama sekali.

"Kau juga bertemu mereka? Kakashi sensei?" sela Sakura terkejut, gadis berambut merah jambu itu tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, karena team nya juga mengalami hal yang sama.

"Benar, tapi hanya 1 anggota"

"Siapa dia?" tanya Yamato.

"Salah satu dari 7 pendekar, Kisame Hoshigaki" jawab Kakashi singkat sambil membayangkan wajah, rambut dan pedang milik Kisame. Naruto hanya terdiam, di dalam hatinya dia tersenyum, ingin menanyakan sesuatu, tapi melihat situasinya dia sudah tahu apa yang sudah terjadi.

"Lalu, apa kalian? Berhasil mengalahkannya?" Naruto bertanya seperti itu karena ia ingin memastikan bahwa Kisame benar-benar telah tewas atau kabur? namun laki laki berambut putih itu berpikir bahwa lebih baik Kakashi sensei dan lainnya berhasil mengalahkannya, karena dengan itu bebannya akan berkurang.

"Dia sangat kuat, kami berlima dibuat kewalahan tapi pada akhirnya kami bekerja sama dengan solid sehingga dapat mengalahkannya" balas Kakashi singkat. 10 orang terlihat berdiri di atas permukaan air, Sai yang sedari tadi diam saja mulai mengutarakan pendapatnya.

"Jadi? Kita akan kemana?"

"Kau sudah tau apa yang terjadi, Sai?" tanya Sakura.

"Iya, dari peta yang aku miliki disitulah markas Akatsuki, tapi sepertinya markas itu telah rubuh, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sai sambil menunjuk tempat yang ia maksud dengan jari telunjuknya.

"Kau benar" Shii yang melihatnya juga cukup terkejut.

"Mereka berhasil lolos dan merubuhkan tempat tersebut." jawab Darui sembari turut melihat reruntuhan markas Akatsuki yang hancur berantakan. Lalu Motoi melihat sesuatu yang aneh, jubah Akatsuki yang kini dipegang oleh Naruto.

"Itukan, jubah Akatsuki? darimana kau mendapatkannya?" merasa aneh Motoi menanyakan pertanyaan yang seharusnya ditanyakan sedari tadi, semua pandangan tertuju kepada kain hitam bercorak awan merah yang digenggam oleh Naruto.

"Aku mendapatkannya dari markas itu" balas Naruto singkat.

"Jadi hanya sampai disini saja kah?" semua perhatian tertuju pada apa yang ingin dibicarakan oleh Naruto. layaknya pemimpin di kelompok itu, ia pun memerintah semua rekannya untuk segera pergi dari tempat tersebut.

"Sebaiknya kita pergi dari sini, dan mencari tempat yang aman"

Semuanya mengangguk pertanda mengerti. Lalu mereka semua pergi mencari tempat yang nyaman untuk membicarakan dan mengumpulkan informasi yang telah didapat untuk dilaporkan kepada Raikage dan Hokage.

Shinobi berjumlah 10 orang telah berhasil membunuh 3 anggota Akatsuki dan menemukan persembunyian Akatsuki namun mereka berhasil kabur dan meledakkan markasnya sendiri untuk menyembunyikan jejak yang tersisa dari organisasi gelap itu. Naruto dan Sembilan orang lainnya dalam perjanan kembali. Melalui bukit yang terjal, pepohonan lebat dan cuaca tak mendukung. Membuat stamina mereka berkurang sedikit demi sedikit, beberapa kali mereka singgah dan berhenti sebentar untuk memulihkan tenaga, dan melanjutkan perjalanan lagi. Sampai sore harinya, mereka akhirnya telah sampai ke Kumogakure.

Gerbang besar telah menanti di depan mereka, mereka berjalan layaknya prajurit yang berhasil pulang dengan selamat setelah maju ke medan perang. Beberapa orang utusan Raikage pun telah berjaga untuk menyambut kedatangan mereka. Dipimpin oleh Naruto dan Kakashi 2 team itu pun memasuki kawasan Kumogakure.

"Darui-san? Aku yang akan menemui Raikage"

"Baiklah."

Kakashi dan Naruto pun bergegas untuk pergi ke pusat dimana Raikage telah menunggu di ruangannya. Mereka berdua berjalan melalui lorong dan hendak mengetuk pintu ruangan Raikage. Tok tok tok suara ketukan itu terdengar dari balik pintu tersebut, membuat Raikage merespons dengan cepat.

"Masuk!" serunya dari balik pintu.

Seperti biasa dia tengah menandatangani seluruh berkas berkas Negara, ia terlihat sangat sibuk dengan rutinitas harian tersebut, membuat tangannya kadang terasa pegal-pegal. Walaupun sebenarnya tangannya sangat besar dan kokoh. Ia pun memandang ke depan dimana Kakashi Hatake dan Uzumaki Naruto sudah berdiri di hadapannya. Namun ia merasa ada yang berbeda diantara mereka berdua, ia terlihat memikirkan sesuatu, pena yang ia pegang untuk menandatangani berkas berkas telah ia lepas meluncur di kertas tersebut, tangan besarnya bergerak ke dagu berpikir apa ya perbedaannya?. Ia pun mengerang sebelum mengucapkan sepatah dua patah kata.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Tapi dimana Darui?" tanya Raikage curiga. Ia pun memandang ke wajah Naruto karena dialah orang yang menggantikan posisi Darui, shinobi kepercayaannya. Naruto diam sebentar berusaha menjelaskan sesuatu kepada sang kepala Negara terhormat itu. ia menatap muka Raikage dengan mata sharingan dan rambut putihnya yang halus di kepalanya, hampanya ruangan itu membuat rambut Naruto tidak bisa bergerak secara leluasa mengikuti ritme angin. ia mulai menjawab tanpa mengekspresikan mimic wajahnya.

"Dia mengundurkan diri, karena merasa tidak mampu. Tapi sebentar aku akan menjelaskannya kepada anda, Raikage-sama-" otot-otot urat kepala Raikage bergerak gerak, emosi telah mendidihkan kepala, bersiap mengutarakan sesuatu kepada Naruto. tapi Naruto mengelak dan melanjutkan apa yang ingin ia bicarakan kepada Raikage. Kakashi hanya memperhatikan mereka berdua terutama Naruto yang terlihat tenang dan biasa-biasa saja. Seperti Kakashi, Mabui hanya berdiri di samping Raikage sambil mengawasi perbincangan antara Naruto dan Raikage.

"Sebelum itu aku akan melaporkan kejadian yang kita temui di perjalanan sampai menemukan markas Akatsuki"

"Kalian berhasil menemukan markas mereka?" tanya Raikage terkaget. Naruto mengangguk dan meneruskan pembicaraannya. "Tapi diawalnya team 1 yang dipimpin oleh Darui-san mengalami penurunan efektivitas setelah kami bertemu dengan Kakuzu dan Hidan di perjalanan. –mereka adalah lawan yang sangat kuat untuk Darui-san dan lainnya, namun bagiku mereka hanyalah seonggok sampah-" rasa tidak percaya menyelimuti wajah Raikage, setetes keringat mengucur dari kulit kepala, mencoba mendengarkan laporan Naruto lebih jauh lagi.

"Dan setelah mereka mengeluarkan seluruh kekuatan mereka aku menghancurkan mereka dengan tangan kosong, membuat darah bersimbah dimana-mana sensasi yang-"

"Hentikan Naruto!" teriak Kakashi menghentikan perkataan Naruto. Naruto terdiam dan memandang wajah Kakashi sesaat, ia pun tersenyum.

"Maaf-maaf, aku terbawa suasana. Dan kejadian itulah yang membuat Darui-san mengundurkan diri untuk menempatkanku ke posisi baru, memimpin team 1. Tapi menurutku itu adalah keputusan yang sangat baik, dilihat dari segimanapun aku sangat unggul dari Darui-san, dia menyadari semua hal itu, dan itu adalah keputusan yang bijak. Aku menerimanya" Raikage terdiam sesaat, dalam batinnya ia seperti memikirkan sesuatu hal. Aku ingin bukti.

"Naruto? jika perkataanmu itu benar maka buktikanlah kepadaku" tanya Raikage ragu.

"Baiklah" Naruto pun mengambil sample gulungan di kantung ninjanya, ia pertunjukkan ke Raikage. "Ini adalah mayat anggota Akatsuki yang telah aku bunuh, ini adalah bukti kuat, anda bisa memeriksanya nanti" papar Naruto.

"Tidak mungkin? Anak itu bisa mengalahkan 2 anggota Akatsuki sendirian, bahkan jika dinilai dari kekuatan dia melebihi Bee-sama yang telah kalah dan diculik oleh anggota Akatsuki." Pikir Mabui sambil memeluk berkas yang tersisa di dadanya, melihat ke arah wajah laki-laki berambut putih tanpa ekspresi.

"Jika begitu aku mungkin bisa percaya kepadamu" Raikage mempercayai laporan yang diucapkan Naruto kepadanya. 'Anak ini? –tidak bisa dipercaya, seberapa kuatnya dia?' batin Raikage cemas, wajah yang sebelumnya sangar mendadak hilang, dan seperti ia telah kehilangan kepercayaan dirinya sebagai Raikage, pemimpin Negara Kumogakure. Itu bisa dilihat dari ekspresinya, mendengar itu semua, ia merasa was-was dengan kekuatan besar yang dimiliki Naruto karena itu juga akan menjadi ancaman Kumogakure suatu saat nanti.

"Lalu dimana kau menemukan markas Akatsuki?" tanya Raikage kembali. Ia mengerutkan dahi bersiap mendengar laporan yang keluar dari mulut Naruto, informasi yang sangat berharga. Kakashi terdiam ia memikirkan sesuatu tentang ini. 'Ini seperti kami menjual informasi penting ke Negara lain, apakah aku harus diam saja atau segera bertindak, namun sebelum memutuskan itu aku harus memikirkan ke depannya, dimana akibat yang akan terjadi. Konflik, perpecahan, perang?' pria bermasker itu akhirnya memilih diam, dan membiarkan Naruto memberikan seluruh informasi yang dimilikinya. Kakashi mulai berpikir positif 'ini adalah kepentingan dunia shinobi, setidaknya sampai perang yang sebenarnya berakhir'

Lalu perlahan lahan Naruto menjelaskannya, sekarang penjelasannya telah sampai di tengah jalan. "-Sebelum melihat wajah mereka seperti apa, mereka akhirnya meledakkan markas itu beserta isi-isinya. Mengahancurkan jejaknya, membuat kami panik dan bergerak ke luar gua dalam nan sunyi itu. mungkin seperti itulah peristiwa yang telah team 1 alami sejauh ini." Raikage masih duduk di kursi panasnya, dengan pandangan mata tajam tertuju ke wajah Naruto. dengan senyuman misterius Naruto menatap balik Raikage, ia pun mengalihkan pandangannya ke Kakashi.

"Jadi bagaimana dengan team mu, Kakashi Hatake?" tanya Raikage penuh keseriusan. Wajah malas dan tenang adalah ciri khas Kakashi. Ia pun mulai mengutarakan laporan team 2. "Layaknya team 1, kami bertemu dengan anggota Akatsuki, namun yang kita temui hanyalah 1 anggota Akatsuki. Dan dari situlah banyak perbedaan antara team 1 dan team 2, seperti halnya yang diceritakan oleh Naruto tadi, dia bertarung dengan kekuatan yang luar biasa, mengatasi 2 musuh sekaligus, dan melakukannya sendiri. dan itu berbanding terbalik dengan cara bertarung team 2, kami mengutamakan kerja sama team, kekompakkan dan ketepatan waktu, meskipun begitu salah satu anggota akatsuki tersebut sangat sukar dikalahkan membuat kami kewalahan, dan hampir kalah. Namun semangat pantang menyerah dari rekan-rekan lain akhirnya membuat kami dapat mengalahkannya. Lalu setelah beristirahat sejenak kami langsung bertolak dan melanjutkan perjalanan sampai bertemu dengan Team 1 yang di perairan dekat markas Akatsuki." Tutur Kakashi menutup penjelasannya. Orang-orang yang berada di dalam ruangan itu nampaknya hanyut oleh laporan Kakashi yang panjang tanpa jeda dan waktu berpikir. Raikage menyangga dagu dengan kedua tangannya.

"Nice job! Kakashi Hatake!" puji Raikage sambil tersenyum sedikit, giginya tidak kelihatan sama sekali hanya saja bibirnya melengkung tipis. Dan semua pembicaraan itu telah dicatat oleh Mabui di buku kecil, ingatan Raikage tidak begitu baik jadi untuk berjaga-jaga ia melakukan semua itu, namun bukan untuk maksud yang lain. Dan disaat pandangan tertuju kepada Kakashi, Naruto merasakan sesuatu yang menyakitkan di matanya, untuk beberapa saat ia memegangi mata sebelah kanan dan mengeraskan gigi.

"Apakah sudah waktunya? Disaat saat seperti ini!, jika begini kerapuhanku akan kelihatan oleh Raikage" Naruto pun melepas tangan yang ia pergunakan untuk menutupi mata sebelah kanannya dan bersikap biasa saja. Raikage, Mabui, dan Kakashi tidak mempedulikan hal itu karena kejadian tersebut berlangsung beberapa detik saja.

"Tidak kusangka, kerja sama antara Konoha dan Kumogakure berjalan dengan baik dan lancar, aku harap kerja sama ini bisa berlangsung secara terus menerus, aku ucapkan banyak terima kasih kepada kalian, karena informasi ini akan sangat membantu untuk masa depan kita sebagai shinobi, dan tentu saja juga untuk menemukan adikku yang telah diculik oleh anggota Akatsuki. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih" pria tegap dan macho itu berdiri serta menundukkan kepala kepada Naruto dan Kakashi. Mabui sangat terkejut atas kejadian itu.

"Raikage-sama?" namun dibalik kejadian itu, ia tersenyum bangga memuji pemimpin Kumogakure tersebut. 'Tidak kusangka, anda akan menunduk seperti ini, Raikage-sama'

"Sama-sama, kami pun juga demikan, bekerja sama dengan shinobi-shinobi Kumogakure membuat misi dapat berjalan lebih mudah" ucap Kakashi. dan perkataan itu mengakhiri jumpa mereka pada sore hari itu. matahari telah tenggelam tertelan langit, bersamaan dengan itu bulan purnama mulai muncul menerangi semua yang berada di daratan. Malam hari itu menjadi malam terakhir team Kakashi berada di Kumogakure. Membuat beberapa orang hendak menghabiskan waktunya di dataran tanah liat tersebut. Jam malam masih bertentang nampak berhuyun huyun orang berlalu lalang di sebuah jalan pusat kota, beberapa pedagang terlihat menjajakan dagangannya di pinggiran, melayani orang-orang yang datang dan pergi silih berganti. Sai dan Sakura berjalan bersama di antara keramaian itu.

"Aku ingin menikmati malam terakhir disini, terima kasih sudah mau menemaniku Sai" ucap Sakura tersenyum. Sai pun membalas senyuman gadis berambut merah muda itu. Sakura memakai blouse tidak berlengan, bando lucu telah terpasang di rambut pinknya, membuat orang-orang berpikiran dia manis sekali. Namun itu hanyalah pemikiran orang belaka, yang sebenarnya mereka tidak tahu bentuk dan perilaku gadis tersebut jika berhadapan dengan musuh ataupun teman dekatnya (Naruto). shoes yang ia pakai memiliki high beberapa centimeter sehingga tingginya bertambah sedikit meskipun begitu dia masih lebih pendek daripada Sai yang masih berjalan bersamanya. Sebelumnya ia sudah mengajak Naruto pergi untuk menemaninya keluar tapi katanya "Maaf aku sangat lelah"

Dari kata-kata Naruto itu mungkin ada benarnya juga, dan gadis itu mulai berpikir kembali apakah aku aneh? Namun ia tidak ambil pusing dan kembali menikmati waktunya bersama Sai. Tapi ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya, membuatnya gelisah dan tidak bisa menikmati waktu malam terakhirnya dengan tenang. Mereka berdua pun tidak sengaja bertemu dengan Kakashi-sensei dan Yamato-sensei yang sedang asik makan dango di kedai kecil.

"Itukan?"

"Kakashi-sensei dan Yamato-sensei kah? sepertinya mereka sedang mengakrabkan diri sebaiknya kita tidak mengganggu"

"Apakah begitu? Baiklah." Sai dan Sakura melanjutkan jalannya mengamati langit penuh bintang di tengah keramaian, menyambangi toko-toko yang menyediakan barang-barang murah dan jarang ada di Konoha, membuat gadis berparas cantik itu merasa senang dan ketagihan. Di samping keceriaan itu….

Berhelai helai rambut bertebangan mengikuti arah angin, rambut halus dan putih itu tertiup angin malam yang semakin larut semakin dingin. Ia menyangga dirinya di pagar pembatas sambil menyaksikan lampu-lampu malam berwarna warni yang menghiasi kota dari jauh, mata sharingannya berkaca kaca memantulkan semua pandangan yang ia lihat. dari perbukitan itu ia melihat hamparan luas pusat Kumogakure. Ia pun tersenyum di dalam hati. "Pemandangan yang indah sekali ya? Naruto" perkataan itu membuat pandangan Naruto beralih, kini ia memfokuskan penglihatannya ke samping kanannya, namun tidakdi temui siapapun disana. Ia berbalik dan menoleh ke berbagai arah, tapi tidak ada siapapun di tempat tersebut, sejauh mata memandang hanya dialah orang yang berada di sekitar situ. Namun ia menyadari sesuatu, suara yang sangat ia kenali.

"Tidak mungkin, Jiraiya-sensei?" wajah yang santai berubah menjadi bingung, dengan cepat kekacauan melanda dirinya, ia pun berlari-lari mencari suara itu berasal, tapi usahanya sia-sia ia tidak menemukan jejak sumber suara itu berasal. Ia menghela napas panjang. Naruto pun memandang ke depan dimana jalanan sepi dan beberapa lampu menyala di pinggirnya. Kesepian tempat itu membuat dirinya berhalusinasi, membayangkan imeji dirinya dengan Jiraiya-sensei. Mereka berdua berlari-lari mengejar satu sama lain, Naruto kecil nampaknya sangat menikmati waktunya bersama Jiraiya-sensei, keakraban itu membuat Naruto yang berhalusinasi bergerak dan membuyarkan imejinya. Ia pun berusaha mengejar Jiraiya bayangan itu dan memeluknya erat-erat.

"Sensei? Aku-" ia berhasil memeluk Jiraiya. namun ia tahu, hanya kehampaan udara yang ia peluk, membuatnya semakin jatuh ke dalam. Kegelapan semakin gelap dari sebelumnya. "Sial!" tetesan air mata kembali jatuh dari matanya, berlinang menjadi satu tangisannya semakin tersedu. Guru yang sangat ia cintai menghilang begitu saja dari hadapannya. Laki-laki tanpa ekspresi itu hanya bisa menunduk bersedih, mengingat memory indah yang terulang kembali dalam pikirannya.

Saat hendak tidur malam Naruto kecil melihat sesuatu yang samar-samar di atasnya, matanya terpejam namun tidak sepenuhnya tertutup. Ia melihat Jiraiya-sensei tersenyum kepadanya. Dan duduk di sampingnya, menjaga dirinya tetap hangat dengan tidak membiarkan api unggun di dekatnya padam. Ia juga menaruh selimut di tubuhnya, membuat Naruto kecil semakin nyenyak untuk tidur.

Ingatan itu kembali, membuat Naruto sangat rapuh dibuatnya. Kebengisaannya saat membunuh anggota Akatsuki beberapa waktu lalu tiba-tiba saja menghilang, menyisakan tanda tanya bagi pemilik mata sharingan dan rinnengan itu. dan ia sangat mengetahui, bahwa luka di dalam hatinya masih belum tersembuhkan. Lalu Naruto mulai membangkitkan tubuhnya berdiri dalam kesadaran sepenuhnya, memandang ke atas dimana terbentang langit luas berwarna biru tua, di angkasa bertabur bintang bersinar terang yang memperindah suasana pada malam hari itu. dan ia pun tersenyum sambil mengepal erat tangan kanannya, menggenggam sesuatu yang tidak jarang dilihat. Ikat kepala salah satu anggota Akatsuki.

"Hmmm- dengan begini kita mulai. awal dari semuanya, untuk semua anggota Akatsuki yang tersisa" Naruto pun berbalik dan berjalan menjauh dari tempat itu kemudian menghilang begitu saja ditelan oleh kegelapan.

Sedangkan Sakura dan Sai masih menikmati waktu malam mereka, jalanan mulai sepi dan itu pantas saja. Sakura menengok jam di tangan kanannya, jam menunjukkan pukul 23:00. Malam mulai larut membawa suasana dingin yang tak biasa, Sai pun mengajak Sakura untuk kembali ke penginapan. Sakura tersenyum mengiyakan permintaan Sai. Mereka pun kembali bersama-sama. dipikir-pikir mereka berdua seperti sepasang kekasih, berjalan berduaan di tengah malam, langit berbintang menjadi saksi bisu dua orang berbeda jenis yang berjalan di jalanan sepi. Namun semua itu hanyalah omong kosong karena Sakura tidak menganggap demikan, ia berpikir bahwa suasana yang sekarang dialaminya cuma untuk mengakrabkan dirinya dengan Sai karena gadis berambut pendek itu tidak begitu paham tentang sifat asli laki-laki aneh itu. setelah sampai mereka masuk ke kamarnya masing-masing, Sakura langsung menerjunkan ke landasan putih empuk di kamarnya, selimut putih yang terlihat lembut melilit dirinya. membuat dia nampak nyaman dengan keadaan itu, gadis itu tersenyum. Entah mengapa dia sepertinya sangat senang dengan malam hari itu.

"Aku akan melupakannya untuk sementara, dia itu sangat aneh akhir-akhir ini. aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, 'hapus kenangan'? yang benar saja. Mana mungkin aku bisa melakukannya, dasar bodoh! Naruto bodoh!" ujar Sakura di tengah kamar sembari menatap langit-langit berwarna putih di atasnya, ia melentangkan seluruh tubuh putihnya. '"Huhhh!" ia menghela napas panjang namun hembusan napas itu terdengar 'menyebalkan!' tapi diantara perkataan-perkataan Naruto yang masih teriang dipikirannya, ia masih tidak berhenti memikirkan hal itu. sesuatu yang membuat Naruto bisa sekuat itu? bersikeras untuk membalaskan dendamnya kepada semua anggota Akatsuki. Sakura masih memikirkan semua itu. "Naruto? aku harap kau akan berubah menjadi dirimu yang seperti dulu, ketika esok hari telah tiba, aku sangat mengharapkan itu" batin Sakura dalam hatinya, matanya sayu tertutup dan perlahan terpejam dengan sendirinya. Sekarang gadis cantik itu telah tertidur dengan terbalut oleh selimut yang berantakan di atas tubuhnya, hanyut dalam suasana malam yang dingin nan sunyi. 'Selamat tidur.' Ucapnya sebelum memejamkan mata sepenuhnya.

Dan ketika esok hari telah tiba, akhirnya takdir akan berubah sesuai arahnya, segalanya yang sudah berjalan sesuai harapan akan lenyap dalam hitungan hari. para prajurit Akatsuki telah bersiap dari markas rahasia mereka. Obito melihat mereka dari belakang, enam orang berambut oranye salah satunya mempunyai bentuk kepala yang plontos. Nagato dan Konan juga berdiri di belakang sejajar dengan Obito. "Sesuai rencana kita, Nagato" dibalik topeng spiral itu terlihat sosok wajah yang misterius, bahkan Nagato dan Konan yang menjadi rekannya pun tidak mengetahui siapa dia yang sebenarnya, namun mereka berusaha percaya dan bekerja sama dengannya.

"Iya. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku" jawab Nagato dibantu oleh robot berkaki empat miliknya untuk berdiri. Konan masih setia di sampingnya.

"Nagato? Apakah ini satu-satunya jalan?" tanya Konan ragu.

"Semuanya akan baik-baik saja, Konan. Aku akan menjadi pemimpin mereka yang tersesat." Balas Nagato menutup percakapan singkat itu. mata biru Konan pun menatap jubah Akatsuki milik Yahiko yang sudah berdiri di depannya, air hujan tidak henti-hentinya turun dari langit, kota mati itu masih menangis seperti biasanya.

"Aku bisa merasakan penderitaan kalian? Konan? Aku akan membalaskan kepedihan pada hari itu, dengan meringkus bijuu terakhir, musang berekor Sembilan" tidak disadari Yahiko bergerak dan mengatakan sesuatu namun gadis berambut biru muda itu juga tahu bahwa ia dikendalikan oleh seseorang yang berada di sampingnya. Uzumaki Nagato. Meskipun demikian, dia terlihat seperti Yahiko asli.

Obito terkesan dengan kemampuan luar biasa Nagato. Ia tersenyum licik di dalam topeng spiralnya. 'Dengan begini kita akan menciptakan dunia yang penuh kedamaian'

Lalu Yahiko atau Pein meluncur terjun ke bawah, ditemani oleh tetesan air hujan mereka berenam berangkat dari desa menangis menuju desa daun membawa seluruh amunisi, menghancurkan desa Konoha.

"Perjalanan kita mungkin akan memakan waktu kurang lebih lima hari, aku yakin ini sesuai dengan rencana kita"

"Jika kau seyakin itu? maka aku akan percaya kepadamu, karena kau lah yang menunjukkanku jalan kebenaran"

Obito dan Nagato, dua sosok yang berbeda personality. Saling menatap satu sama lain, mata Rinnengan dengan mata sharingan yang disembunyikan di balik topeng, kilat menyambar-nyambar cahaya putih keluar dari langit secara terus menerus, dan dari tatapan kedua orang itu. Konan hanya bisa terdiam, raut wajahnya cemas, seperti tidak terima atas keputusan yang telah dibuat oleh sahabat terbaiknya. Namun ia masih percaya, akan ada jalan yang terbaik dari semua pilihan itu.

"Nagato? Tidak sedikitpun ada keraguan dihatiku, aku akan selalu percyaa kepadamu."

Berbeda dengan kota mati yang masih menangis, langit cerah nampaknya sudah menyapa semua orang yang tinggal di Kumogakure untuk bangun dari tidurnya, matahari terbit dari ufuk timur. Dan team Kakashi pun akhinya bersiap untuk pulang ke Konoha. Kini mereka berlima telah berada di gerbang Kumogakure untuk mengucapkan salam perpisahan, disitu juga terdapat Raikage, Mabui serta Darui.

"Kami-sangat berterima kasih sekali, sudah diizinkan tinggal di Kumogakure, disini sangat nyaman" tutur Kakashi memuji seluruh pelayanan yang dilakukan oleh orang-orang di penginapan. Sakura dan Sai juga berpikiran sama dengan Kakashi-sensei, mereka pun membungkuk member hormat dan salam perpisahan, terkecuali Naruto yang hanya diam dan berdiri saja. Melihat itu Sakura tidak ambil pusing.

"Cepatlah membungkuk!" ujarnya sambil menarik kepala Naruto supaya menunduk.

"Seharusnya kami yang harus berterima kasih, aku harap kalian bisa kembali pulang dengan selamat sampai tujuan dan tentu saja jika ada waktu mampirlah kesini, kami akan menyambutnya dengan antusias" balas Raikage dengan suara besar dan menggelegarnya.

"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu"

Raikage dan lainnya pun melambaikan tangannya, bersamaan dengan itu Kakashi dan lainnya telah meninggalkan Kumogakure untuk segera pulang ke Konoha. Setelah berjalan cukup jauh dari Kumogakure, Naruto dan lainnya pun singgah di sebuah kedai untuk beristirahat sampai akhirnya laki-laki berambut putih itu merasakan sesuatu yang sebelumnya ia sembunyikan. Sambil memegangi matanya, Ia berlari keluar menuju hutan.

"Kau kemana Naruto!" seru Sakura yang sebelumnya duduk di sampingnya.

"Ada apa dengan Naruto?"

"Tidak tahu."

Dengan mengerang kesakitan ia pun menggegeruskan giginya. Sakit yang ia derita lebih dari yang ia perkirakan sebelumnya. "Sial! Mata ini sudah beraksi dengan tubuhku" ia pun bersandar ke pohon, darah keluar dari matanya dan dengan pelan-pelan ia membuka matanya. Darah Rinnengan telah mengalir membasahi pipinya.

To be continue

Chapter 8 END

Setelah POW hiatus cukup lama, akhirnya bisa update kembali. Semoga kalian terhibur dengan cerita ini. hehe dan berikan komentarmu di kolom review, terima kasih sebelumnya, baiklah sampai jumpa di Chapter selanjutnya! ^^

©Yoshino Tada