Chapter 9 update!

-Naruto is the Hokage 6!-

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre -Mystery/Adventure

Power of White © Yoshino

Power of White ..

Chapter 9

Batasan

Siang hari, di sebuah pohon yang rindang. Sosok laki-laki berambut putih terlihat menyandarkan tubuh disana, darah merah pekat tidak henti-hentinya mengucur dari matanya dan ia membiarkan darah itu terus mengalir membasahi wajahnya. Naruto memikirkan sesuatu, matanya pun melihat ke bawah dimana tanah coklat yang tandus terdapat di hadapannya. Lalu ia mengambil seonggok kayu dan menuliskan beberapa kata di tanah tandus itu.

"Sial." Ucapnya seraya tetap menggoreskan tongkat itu ke tanah yang cukup keras tersebut, dan sebuah kalimat tertulis di muka tanah gersang itu. sambil menahan rasa sakitnya, Naruto tersenyum jahat.

B-A-T-A-S-A-N.

Apa yang dituliskan dirinya masih menjadi sebuah tanda tanya, kata-kata itu seperti mempunyai aura yang tidak biasa, terpancar jelas dari pandangan Naruto, kesempurnaan yang tak terbatas hanyalah angan-angan. Namun ia berusaha mencari kesempurnaan itu sendiri, yakni dengan mengorbankan segalanya. Ia berjalan menjauh dari tulisan itu dan meninggalkan dua mata rinnengan yang sudah tidak berfungsi lagi. di atas tulisan itu dua bola mata tergeletak disana, mencair dan kemudian menghilang tanpa bekas.

'Sudah kuduga, mata rinnengan itu tidak mungkin mata rinnengan asli. Mata itu hanya bisa digunakan beberapa hari saja, tapi setidaknya aku sudah memanfaatkan mata itu untuk membunuh dua anggota Akatsuki, dan yang ingin aku lakukan sekarang adalah mencari kekuatan lain.'

Sesampainya di kedai, ia disambut oleh pertanyaan Sakura. "Darimana saja kau? Naruto?" tanya gadis berambut merah jambu itu dengan wajah cemas.

"Hanya mencari udara segar." Jawabnya sambil kembali duduk di samping Sakura.

Kakashi dan lainnya pun hanya memandang ke arah Naruto tanpa menanyakan sesuatu kepadanya. Dan setelah beristirahat cukup lama, mereka memulai kembali perjalanan untuk pulang ke Konoha.

2 HARI KEMUDIAN.

.

.

Pagi hari telah tiba. Bersamaan dengan itu secercah cahaya mulai masuk melalui sela-sela ventilasi dan jendela rumah Naruto, wajahnya terkena sinar matahari dan itu membuat dirinya bangun dengan sekejap, matanya terbuka sedikit demi sedikit, ia memandang ke jendela.

"Sudah 12 jam aku tertidur, hari ini aku akan kembali beraktivitas seperti biasanya." laki-laki berambut jabrik itu bangkit dari tempat tidurnya dan mendapati seorang pria bermasker yang menghampiri dari jendela rumah.

"Naruto? Hokage ingin bicara denganmu." Ujar Kakashi dari luar jendela rumah Naruto.

"Aku akan segera kesana" jawab Naruto tanpa memperdulikan keberadaan Kakashi dan menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

"Baiklah aku sudah menyampaikan pesanku. Aku tunggu disana ya. Bugh" setelah meninggalkan pesannya kepada Naruto, pria bermasker itu pun menghilang ditemani asap putih yang menyelubungi tempat dimana ia duduk sebelumnya.

Kini Naruto telah selesai bersiap-siap, ia memakai sepatu ninja dan membuka pintu rumahnya. Menuruni tangga sambil berjalan dengan santai, ia menyulusuri jalanan Konoha. Setibanya di gedung pemerintahan. Ia menjumpai Gamabunta yang tengah jongkok di halaman luar gedung. Naruto meliriknya dengan tatapan kosong, lalu Katak raksasa itu melihatnya.

"Apakah itu sambutanmu kepada gurumu, Naruto?" tanya katak itu sambil menghempaskan uap rokok raksasa miliknya.

"Ada perlu apa sampai Gamabunta-san kesini?"

Gamabunta terdiam. Lalu Gamakichi yang dari tadi berada di atas kepala ayahnya mulai berbicara. "Kau akan-"

"Gamakichi! Biar Sensei saja yang memberitahukannya. Kau tidak punya hak untuk melakukannya"

"Okey Tou-chan"

Merasa aneh, Naruto pun masuk ke gedung itu tanpa memperdulikan mereka berdua untuk menemukan jawabannya sendiri.

Tok-tok-tok

"Masuklah!"

Lalu Naruto membuka pintu itu dan didapati disana Fukasaku-sama, Tsunade dan Kakashi. Ia pun memberi hormat kepada sang Hokage tersebut. "Jadi ada apa? Tsunade-sama?" tanya Naruto yang terlihat begitu formal. Tsunade terkejut atas salam hormat Naruto. tapi menurutnya itu sudah tidak penting lagi, karena ia tahu Naruto sudah berubah. "Fukasaku-sama ingin membicarakan sesuatu kepadamu." Ujar Tsunade sambil mempersilahkan tuan katak kecil hijau itu untuk mengambil alih pembicaraan.

"Ne? Naruto-chan. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu? -Apakah kau ingin berlatih jutsu seperti yang digunakan oleh Jiraiya-chan?" tanya tuan Fukasaku.

Naruto terkejut, timing yang tepat untuk mencari kekuatan lain. Sepertinya ini akan cocok dengannya. "Jutsu sensei?"

"Iya, jika kau mau. Kita akan berlatih selama kurang lebih satu minggu di lembah gunung Myoboku, letaknya di desa katak."

Naruto terlihat memikirkan sesuatu. Semua memperhatikan laki-laki berambut putih halus itu. "Baiklah, aku akan melakukannya." Jawabnya sambil tersenyum sinis.

Di waktu yang sama. sesuatu yang mengerikan itu terus berlari menuju tempat tujuan. Enam orang dengan jubah Akatsuki terlihat bergerak sangat cepat, tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang mereka punya. Monster-monster itu juga tidak merasakan letih dan lelah sama sekali setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua hari tanpa berhenti.

"3 hari lagi, kita akan sampai."

'Kehancuran Konoha, akan dimulai dari sekarang' batin Pein yang memimpin boneka-boneka berambut oranye lainnya. Tatapan kosongnya menunjukkan besarnya kekuatan yang mereka miliki.

Sedangkan di Konoha, tepatnya di gerbang besar. Naruto dan Fukasaku-sama telah bersiap-siap untuk pergi ke gunung Myoboku. Disana telah berdiri Sakura dan Tsunade untuk melepas kepergian Naruto yang akan berlatih di tempat tuan Fukasaku.

Gadis berambut pinky itu terus menatap wajah Naruto dari samping, laki-laki yang bertinggi 165 senti, berambut putih yang terurai karena hembusan angin dan berdiri tidak jauh darinya, hanya dua langkah saja. Gadis itu dapat menyentuhnya, memikirkan hal itu membuat Sakura merasakan kesepian padahal dia hanya akan ditinggal oleh Naruto satu minggu saja tapi-

'Perasaan apa ini- kenapa aku tidak ingin melepasnya.' Berharap semuanya akan baik-baik saja, tapi dia merasakan cemas. Penderitaan yang diderita oleh Naruto selama ini, membuat Sakura menyalahkan dirinya sendiri. sambil berjalan mendekatinya, ia terus melangkah maju.

Tap-tap-tap. 'Kau itu sebenarnya bodoh, kenapa kau harus merubah sikap bodohmu itu, kau tahu? sikapmu yang sekarang ini sangat keren, aku bisa bilang bahwa kau sudah melebihi kekerenan yang dimiliki oleh Sasuke-kun, bisa-bisa saja aku akan tergila-gila kepadamu, wajah dingin, tatapan kosong dan sikap acuh tak acuhmu itu membuatku terus mencemaskanmu berpikir untuk sekali lagi, kemana perginya Naruto yang kukenal dan tapi- kenapa kau menyuruhku untuk menghapus kenanganku bersamamu, ya ampun kau itu. benar-benar bodoh ya Naruto." bersamaan dengan itu ciuman lembut mendarat di kening Naruto. tidak ada pilihan lain, hanya inilah yang bisa Sakura berikan kepada Naruto. Tentu saja untuk membuat kenangan baru bersamanya. Gadis itu tersenyum manja. Namun Naruto hanya bisa terdiam, ciuman tidak terduga itu membuat dia tersipu. Dan tidak berani memandang wajah Sakura.

"A-aku berangkat, sampai jumpa-"

"Ya hati-hati ya? Jaga diri baik-baik Naruto,"

"Oh ya Tsunade-chan, aku sudah menyuruh anak buahku agar tetap disini, jika sewaktu-waktu ada masalah kau bisa beritahukan kepadanya, dia akan segera memberitahuku dengan cepat-"

"Ha i!"

"Kau siap Naruto?" tanya Fukasaku-sama.

"Iya." Naruto mengangguk dan Fukasaku-sama melakukan ritual berupa kebalikan dari memanggil hewan Kuchiyose, begitu pun juga Naruto. darah mengalir dari jempol mereka dan bugh! Mereka menghilang dengan cepat, meninggalkan asap putih yang membumbung ke atas.

Lalu Tsunade yang tadi melihat ciuman itu mulai membicarakannya. "Jadi kau sudah menyerah kepada Sasuke?" Tanya wanita bersurai pirang itu sambil menggoda Sakura. Namun Sakura nampak diam saja, tak mau ambil pusing dengan kejadian barusan.

"Mungkin i-iya-" balasnya dengan pipi merah merona.

"Langkah yang bagus Sakura. Aku bangga kepadamu" ujar Tsunade sambil merangkul Sakura.

'Untuk sesaat aku melihat wajah Naruto memerah tadi, apa itu berarti Naruto masih mempunyai perasaan terhadap Sakura? Jika benar maka- ah itu tidak penting. –syukurlah dia masih baik-baik saja- sejujurnya aku sangat khawatir terhadap anak itu, dia sangat dekat denganku tapi aku merasa dia sangat jauh, jauh sekali sampai aku tidak bisa mengenalnya- huh? Dengan ini aku pikir Sakura akan bisa menjaganya agar tidak melewati batas karena dari laporan Kakashi kemarin, dia baru saja menghabisi dua anggota Akatsuki sekaligus.' Batin wanita tua itu yang masih dalam keadaan merangkul muridnya sambil berjalan kembali ke desa.

Bugh!

Naruto, Fukasaku-sama, beserta pengawalnya telah tiba di gunung Myoboku. Rerumputan hijau nan tipis telah menyambut kedatangan mereka. Suara-suara katak-katak terus berdendang di seluruh penjuru lembah, menarik perhatian telinga Naruto. ia pun melihat-lihat sekeliling dimana sebuah tanaman aneh dan beberapa pohon langka dapat ditemui disana, sampai Fukasaku-sama mengajak pemuda itu untuk pulang ke rumahnya.

"Ikuti aku, Naruto-chan"

Setelah tiba di rumah Fukasaku-sama, Naruto langsung disambut dengan hangat oleh istri Fukasaku-sama, "Tou-chan, sudah pulang kah? –oh jadi ini murid Jiraiya-chan itu?" seekor kata betina terlihat sangat sibuk dengan aktivitasnya yaitu menyiapkan beberapa makanan kesukaan suaminya yang baru saja datang, sesekali ia melihat wajah Naruto yang terlihat tidak sopan.

"Oy-oy anak muda! Kenapa kau tidak membalas pertanyaanku?" tanya istri Fukasaku dengan nada meninggi, ia nampak marah dengan sikap acuh Naruto.

"Bukankah anda bertanya kepada Fukasaku-sensei?" katak betina itu pun menggaruk kepala tak berambutnya. "Benar juga ya! Maafkan kaa-chan ya! Hehe" ia pun menyuruh Naruto untuk duduk di sebuah alas yang terbuat dari kulit hewan itu, meja berbentuk bundar telah tersedia di depannya, beberapa menu makanan pun juga sudah tersaji di muka meja, menunggu untuk disantap oleh mereka bertiga.

"Hey, Naruto-chan! perkenalkan dirimu, kepada kaa-chan."

"Baiklah, Namaku Uzumaki Naruto, aku dari konoha dan tujuanku ingin-" Naruto tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi, karena itu akan membuat suasana dalam ruangan kecil dan sederhana itu akan pecah.

"Kau ingin apa Naruto? jika bicara yang benar dan jelas, aku ingin mendengarnya?" ujar istri Fukasaku yang ngotot.

"Tidak jadi-"

Melihat percekcokan itu, Fukasaku langsung mengalihkan perhatian. Ia mengambil makanan super lezat, walaupun itu hanyalah menurutnya saja dan mungkin manusia berpikiran lain. "Oh ya Naruto-chan, kau baru saja datang kesini, ini makanan terlezat yang hanya ada di kawasan desa katak ini, aku jamin kau akan menyukainya, nah!" ujar Fukasaku-sama sambil memberikan semangok berbahan batok kelapa besar dengan isi makanan yang beragam, mulai dari ulat, serangga dan kuah berwarna putih kental. Naruto tampaknya biasa saja, tidak terlintas di benaknya untuk membuang makanan itu.

"Ini tidak bahaya kan?" tanya Naruto dengan nada bercanda. Baru kali ini dia bertanya seperti itu, membuat seseorang dan monster berekor 9 nampak cemas dengan perilakunya yang semakin diluar kendali mereka, terutama White. Jauh di dalam keheningan yang tak terbatas, White mulai mencemaskan perkara ini.

"Bagaimana bisa? Seharusnya, dia tidak berekspresi sama sekali, dia juga tidak mungkin mempunyai perasaan terhadap wanita, bagaimana ini bisa terjadi?"

"Jangan terlalu khawatir, semuanya akan baik-baik saja White, aku yakin rencanamu akan berhasil suatu saat nanti"

"Apa mungkin ada sesuatu yang salah? Ketika aku mentransfer sisi kepribadianku yang lain? –iya bisa saja itu terjadi, sekarang ini yang hanya bisa kita lakukan adalah mengamatinya terus menerus."

Kembali ke tempat kecil dan sederhana, hanya melihat makanan itu saja membuat perut Naruto merasa mual, lendir-lendir itu mengait di sendok kayu Naruto, dengan pelan ia pun membuka mulutnya dan menelan makanan itu lahap-lahap. kunyahan berasa sekali ketika Naruto memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.

"Enak kan?" tanya Fukasaku-sama dengan percaya dirinya. 'Pasti enak, tidak mungkin masakan kaa-chan tidak enak' pikirnya sambil mengangguk dan melipat kedua tangan mungilnya. Naruto memberikan jempolnya kepada Fukasaku-sama, tebakan yang tepat tuan Fukasaku.

Meskipun tidak terlihat seperti demikian, Naruto menahan rasa mualnya dengan tidak memuntahkan makanan tersebut, wajahnya keungu-unguan dirasa seperti baru keracunan oleh sesuatu.

"Tentu saja enak hehe." Lalu Fukasaku-sama melanjutkan makannya dengan lahap. tidak meninggalkan secuil makanan pun yang tersisa di mangkuknya, sampai tiba giliran mereka serius. kini mereka berdua telah berada di tempat latihan.

Beberapa patung kodok terlihat disana, tersusun dengan rapi membentuk dinding besar yang menjulang. dan disitu terdapat sebuah kolam berdiameter kurang lebih 10 meter, dengan air mancur yang terbuat dari patung kodok. Patung itu terlihat di dalam air mancur dan di sekitarnya. Mereka saling berhadapan satu sama lain, Naruto mulai serius dan menunjukkan mata sharingannya.

Melihat itu, Fukasaku terkejut. 'Sharingan?' pikirnya. Namun Fukasaku tidak mau ambil pusing dengan perihal mata Naruto. ia pun memulai berkonsentrasi untuk mengajari jutsu yang akan ia ajarkan kepada Naruto.

"Kau pasti sudah tahu tentang jutsu-jutsu dari Jiraiya-chan, bukan? jika kau pikir lebih dalam lagi. siapa yang mengajari semua jutsu-jutsu itu?" tanya Fukasaku-sama menguji kepekaan Naruto.

"Anda bukan?"

"Kau benar. Hahaha. Tidak sungka kau pintar juga."

"Bukankah pertanyaan itu sangat mudah"

"Baiklah, kita akan memulai latihan tahap pertama, disini kau hanya memperhatikan saja. Apa yang aku lakukan dan jangan lupa analisalah gerakanku"

"Baik!"

Lalu Fukasaku mendemonstrasikan jutsu yang akan diajarkan olehnya kepada Naruto, katak kecil itu menghampiri sebuah batu besar berbobot 1 ton, dari kejauhan ia seperti seekor semut yang tersesat, betapa besarnya batu besar itu yang membuat siapa saja yang melihatnya akan geleng-geleng kepala, tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi. Fukasaku berusaha mengangkat batu itu dengan tangan kosong, tidak ada bantuan apapun.

Naruto memperhatikannya. Dari awal hingga akhir, seluruh gerakannya ia hafal betul, begitu juga dengan pernapasan dan sebagainya, konsentasi juga tidak luput dari perhatian laki-laki bermata sharingan itu. dan batu itu terangkat.

"Yahh!" teriak Fukasaku mengerahkan seluruh kekuatannya sambil melempar batu itu ke arah samping. Akibatnya tanah bergetar karena beratnya benda tersebut. Jujur Naruto tidak tahu apa jutsu yang baru saja Fukasaku lakukan tapi, dia melihat ada yang berbeda dari mata Fukasaku.

Fukasaku kembali mendekati Naruto. "Jaa, apa yang sudah aku lakukan barusan? Apakah kau mempunyai gambara dari jutsu yang aku lakukan Naruto-chan?"

"Sepertinya aku pernah menemui kejadian itu, Hokage-sama juga melakukannya, dia mempunyai pukulan dahsyat dari kedua tangannya, bahkan ia mampu menghancurkan apapun yang berada di hadapannya. tapi. Ada sedikit yang berbeda dari apa yang Fukasaku-sama lakukan, aku tidak merasakan chakra yang mengalir di tubuh anda. Namun aku mempunyai petunjuk mengenai jutsu yang baru saja anda lakukan, -mata anda berubah, benarkan? Dan mungkin itu mempunyai petunjuk lain."

"Kau benar, kau tidak sebodoh apa yang aku pikir, berbeda dari Jiraiya-chan kau terlalu cepat memahami itu semua, oke aku akan mengatakan apa yang baru saja aku lakukan tadi. –itu adalah energy alam-"

"Energi alam?"

"Benar. Energy yang berada di sekitar kita, hanya orang-orang tertentulah yang bisa merasakan energy itu, jika kau sudah tahu mengenai energy itu. mungkin kau langsung bisa memulainya dengan mengumpulkan energy alam ke tubuhmu dan mengalirkannya layaknya chakra yang berada di dalam tubuhmu, menyebarkan melalui aliran darah ke seluruh organ dalam dan berusaha mengontrolnya."

"Jadi bagaimana caranya agar aku bisa mengumpulkan energy alam?"

"Mudah saja, kau hanya perlu berkonsentrasi, namun ada resiko jika kau ingin menggunakan jutsu ini."

"Apa itu?"

"Lihat itu, sebenarnya patung katak itu adalah katak asli, namun mereka tidak bisa mengontrol energy alam dengan benar sehingga, energy alam itu merusak sel-sel darah dan merubah komponen-kompnen di dalam tubuh menjadi batu."

Naruto cukup terkejut atas fakta itu, jutsu yang hebat memang ada resiko yang harus ditanggung si pengguna, dan menurutnya itu wajar-wajar saja. Kini yang hanya bisa ia lakukan ialah meneruskan jejak Jiraiya sensei dengan menguasai mode sennin.

"Itu terlalu mudah untukku"

"Heh? Kau percaya diri sekali."

Naruto pun duduk di tepi kolam, ia menyilangkan kakinya. Masuk ke dalam konsentrasi tingkat tinggi, tidak ada gerak-gerik sedikit pun di tubuhnya, dari kelopak mata hingga rambut putihnya. Lalu burung-burung kecil mulai hinggap di tubuhnya, melihat itu Fukasaku-sama terkaget.

"Tidak mungkin, dia dalam mode konsentrasi yang sangat sempurna. Padahal hanya beberapa jam saja, ini mustahil, seberapa besar bakatnya menjadi ninja?" entah sebuah pujian atau ketidakpercayaan, Fukasaku sendiri tidak tahu. hanya saja menguasai mode sennin dalam beberapa jam saja membuat dirinya mulai berguming. Beranggapan bahwa anak itu adalah titisan dewa, kesempurnaan dalam segala hal, semua yang ia lakukan, termasuk tatapan matanya yang menunjukkan semua itu. dari awal Fukasaku telah berpikiran bahwa Naruto adalah shinobi yang berbakat tapi tidak seberbakat apa yang ia lihat sekarang.

Kulit mata Naruto mulai berubah warna menjadi oranye, perlahan-lahan ia membuka matanya. dan kini mata Naruto telah menjadi mata pertapa katak, jutsu dengan memanfaatkan energy alam. Mode sennin.

"Mustahil!" ujar Fukasaku mendapati murid barunya telah menguasai mode sennin. Naruto pun berjalan mendekati patung katak itu, lalu ia berusaha mengangkatnya. Grkk. Patung itu terangkat sedikit demi sedikit, dan dengan sentuhan akhir Naruto melemparkannya. Setelah melakukan hal itu mode sennin itu menghilang dengan sendirinya.

"Aku sudah menguasai mode sennin, akan tetapi masih ada yang harus aku sempurnakan."

Fukasaku bengong melihatinya. "WTF?!"

"Hm ada apa Fukasaku-sama?"

"Kenapa kau bisa secepat itu menguasai mode sennin, kau tahu Jiraiya-chan saja butuh 1 bulan lebih untuk menguasainya sedangkan Yondaime hokage memerlukan satu bulan untuk menyempurnakannya, tapi kenapa kau hanya dua jam? Kenapa!?" Tidak diketahui, yang pasti katak kecil itu sangat terkejut dengan latihan yang sangat singkat ini. yang benar saja, batinnya. Ini sangat konyol, batinnya lagi.

"Apakah ada yang salah? Fukasaku-sama?"

"Tidak-tidak, ayo kita pulang untuk beristirahat. Kita lanjutkan besok lagi…" dengan tampang lesu, Fukasaku-sama hanya bisa mendengus jengah. 'Huh? Dia terlalu jenius-'

Naruto mengangguk. mereka berdua pun pulang ke rumah untuk beristirahat dan latihan akan dilanjutkan esok hari.

Keesokan harinya.

Sarapan pagi telah dihidangkan oleh istri Fukasaku-sama, seperti biasa Naruto menyantapnya dengan penuh hati-hati, tanpa mengunyah dan langsung menelannya. Glegg. Terdengar suara makanan yang masuk ke dalam perut melewati tenggorakannya. Glegg. Sekali lagi dia menelannya, nampak wajah pucat keungu-unguan. Glegg. Dan untuk kesekian kalinya ia langsung pingsan di tempat.

"Naruto chan~!?"

Dan beberapa waktu kemudian, Naruto kembali bugar. meskipun ekspresi dinginnya masih terpasang di mukanya. Kini mereka berdua berjalan di pinggiran sungai, sungai itu berair jernih, beberapa katak terlihat meloncat kesana kemari, menikmati waktu bersantainya.

"Oh-Fukasaku-sama!?"

"Fukasaku-sama!?

"Fukasaku-sama?"

Naruto mendengarkan teriakan-teriakan itu, sedangkan Fukasaku-sama hanya melambai-lambaikan tangan sambil membalas sapaan mereka. "Ternyata kau popular juga ya" gumam Naruto menyindir Fukasaku-sama, tanpa melihat ke wajah Fukasaku-sama.

"Apa yang kau katakan!? Sudah selayaknya aku terkenal. Aku kan katak yang menjaga wilayah ini"

"Iya-iya, jadi? kita akan kemana?"

"Ikuti aku!" lalu katak hijau itu meloncat-loncat ke sungai, Naruto pun mengikutinya dengan berjalan di atas permukaan air, memanfaatkan chakra yang dialirkan di bawah kakinya. Sungai itu memiliki lebar kurang lebih 20 meter, jadi butuh beberapa detik untuk menyeberanginya. Namun.. bukan itu yang ingin Fukasaku-sama lakukan, ia berhenti di tengah-tengah sungai.

"Jika kau pikir kau sudah menguasainya, mungkin kau salah besar Naruto. setidaknya kau buktikan mode sennin itu berhasil kau kuasai dengan sempurna atau tidak, dan mungkin ini adalah waktu yang sangat tepat untuk menguji kekuatanmu, semuanya!"

Teriakan itu memanggil kata-katak yang lain untuk berkumpul di depan Fukasaku-sama, lima katak telah berdiri sejajar disana, tentu saja mode sennin telah menyelimuti mereka berlima.

"Katak-katak itu bisa menguasai mode sennin?"

"Ini bukan waktunya untuk terkejut. Bersiaplah bertarung, Naruto-chan, aku akan melatihmu secara habis-habisan!" bersamaan dengan itu, semua katak pun meloncat ke depan dimana Naruto berdiri. Namun ekspresi Naruto tetap sama, tenang dan dingin. Berusaha untuk mengumpulkan energy alam ke dalam tubuhnya.

Di tengah arus yang cukup deras itu, mereka bertarung. Lima katak melawan Naruto, untuk sejenak Naruto berpikir, "Aku ingin mencoba sesuatu-" lalu perlahan-lahan ia membuka matanya yang sebelumnya terpejam. Tidak disangka-sangka ia mengombinasikan mata sharingan dan mata mode sennin bersamaan, dan didapati dua mata berbeda di kedua mata Naruto.

"Dia memadukan antara mode sennin dan sharingan? Apakah itu benar-benar bisa dilakukan?" pikir Fukasaku-sama terkejut. dan mereka bertarung dengan sengit. Pertempuran di atas permukaan air tidak bisa dihindarkan lagi.

Battle Training.

Ketika katak-katak itu menyerangnya, gerakan katak-katak itu dapat dibaca dengan mudah oleh Naruto. semua katak pun terhempas menjauh dari tempat Naruto berdiri, sharingan merahnya hanya menatap mereka yang berjatuhan tenggelam di dalam air sungai itu, Fukasaku hanya terdiam setelah melihat itu.

"Hanya beberapa detik saja, dia dapat menghajar lima katak dalam keadaan mode sennin?" ucap Fukasaku sambil melihat senyuman mengerikan yang dipertunjukkan oleh Naruto.

Perbatasan desa Konoha.

Dari atas dahan pohon bertinggi 20 meter, terlihat beberapa orang yang berpijak disana. Memasang senyuman khas yang menakutkan. "Sepertinya kita tiba terlalu cepat-" ujar Yahiko yang sudah melihat desa Konoha dari tempat ia berdiri, hanya dalam hitungan menit, mereka akan segera tiba di konoha.

Sedangkan di Konoha sendiri, nampak suasana yang nyaman dan tentram. para penduduk masih beraktivitas seperti biasanya. tidak ada tanda-tanda keanehan disana. Sampai salah satu orang berambut oranye terjun dari atas langit di gerbang bagian samping Konoha. Whuush.

Jubah hitam bercorak awan merah menjadi ciri-ciri orang itu, rambut oranyenya ia untai ke belakang, badannya terlihat gemuk, dengan pipi yang menggembung. Sorot mata bunglonnya langsung tertuju kepada dua jonin yang telah terkaget atas kedatangannya.

"Kisama, siapa kau!?" seru salah satu jonin itu. lalu dalam hitungan detik, mereka dihabisi seketika oleh pria itu, batang karbon hitam telah tertancap di badan mereka berdua, menghasilkan darah yang tercecer di tanah hijau tipis. Lalu orang itu berjalan menuju kota untuk membuat keributan dan tentu saja mencari target mereka, Uzumaki Naruto.

Satu orang anggota akatsuki, berada di tengah keramaian kota bersiap memberikan kejutan kepada masyarakat setempat, dan- dari lengan yang tertutup sebilah kain hitam, keluar rocket mini launcher yang menyebar ke segala arah menghancurkan rumah-rumah serta toko-toko yang berdiri di sekitar situ.

Duarrr! Duarr! Duarr!

Ledakan itu mengundang kepanikan banyak warga, mereka semua berteriak-teriak sambil berlari ke segala arah untuk menghindari rocket-rocket kecil itu beserta ledakannya. Sampai di bagian lain desa.

"Kuchiyose no Jutsu!"

Seorang wanita berjubah sama, dengan gaya rambut anehnya. Mengeluarkan beberapa makhluk aneh, diantaranya. Burung berkaki empat, Banteng dan hewan-hewan aneh lainnya. Monster-monster yang telah dipanggil itu pun secara membabi buta menghancurkan pedesaan yang tertata rapi, meronta-ronta dengan bringas dan membuat kekacauan yang semakin sulit untuk dikendalikan.

Salah seorang jonin pun melapor kejadian mengerikan itu ke tempat Hokage, tapi Hokage telah menyadari semua hal itu dari balik kaca kantornya, asap-asap hitam terlihat membumbung ke atas langit biru, membuat angkasa menjadi gelap. Kecemasan Hokage semakin menjadi-jadi setelah ledakan itu berangsur secara terus menerus di pusat kota. Melihat semua itu, ia tidak mungkin diam saja. Dan menyuruh sebagian jonin untuk mengungsikan para warga dan jonin petarung untuk melawan pemberontak-pemberontak tersebut. Termasuk Kakashi Hatake.

Pein Yahiko hanya memandang kekacauan itu, sambil memeriksa beberapa tempat untuk mencari Uzumaki Naruto, langkahnya terhenti di sebuah rumah kecil sederhana, ia menaiki tangga menuju pintu masuk dan membuka pintu rumah itu. pintu hijau berlogo keluarga Uzumaki, ia masuk ke dalam rumah itu, dan dilihatnya sebuah rumah kecil yang berantakan, piring-piring yang berkumpul menjadi satu di wastafel dan tidak pernah di cuci, mie cup di muka meja yang masih bersisa.

"Beginikah kehidupan Uzumaki Naruto?" Ekspresi dinginnya berubah menjadi kemarahan, karena Naruto tidak berada di rumahnya. dan kemarahan itu ia perlihatkan dengan…

"Shinrai Tensei!"

Crshhhh!

Hanya dalam hitungan detik rumah yang telah dihuni oleh Naruto selama bertahun-tahun itu hancur rata dengan tanah, disapu oleh hempasan gravitasi milik Uzumaki Nagato, pengguna mata Rinnengan yang sebenarnya.

"Kedamaian akan segera terwujud, Uchiha Madara." ucap Nagato yang bersembunyi di suatu tempat, dengan tatapan mata mengerikan.

TBC

Chapter 9 END

Terima kasih telah membaca, berikan komentarmu di kolom review ya! Sampai jumpa di next chapter!

©Yoshino Tada