Chapter 13 update!
Power of White ..
Fanfiksi ini hanyalah karangan belaka, saya membuat fanfiksi ini karena saya ingin membagikan imajinasi saya, kepada para reader sekalian.
Selamat membaca ^
Opening Sign by Flow !
Chapter 13
Hokage
Pelukan hangat masih dirasakan oleh Naruto. pemuda yang sudah dianggap oleh masyarakat desa sebagai pahlawan itu, masih merasa semua ini salah. Yah, ini benar-benar salah. Melihat orang-orang bertepuk tangan, menyorakinya dari kejauhan dan tentu saja menyebut-nyebut namanya. Dan ia tahu semua itu, karena ia tidak pantas untuk disebut sebagai seorang pahlawan.
"Sakura? Semua ini salah kan?"
"Huh? Apa maksudmu Naruto?"
"Aku bukan seorang pahlawan. Pada awalnya semua orang tidak pernah menganggapku, berpikir aku adalah sebuah objek penghinaan. Tidak... memang benar begitu adanya, tapi sekarang-"
"Apa kau bodoh Naruto? sekarang semua orang telah menganggapmu bukan sebagai shinobi biasa, melainkan shinobi yang penting bagi desa."
Naruto terdiam, pandangannya hanya tertuju ke arah penduduk desa yang melihatnya dengan wajah-wajah senang.
'Dan pada saat itulah aku berpikir, shinobi yang penting bagi desa? Melindungi semuanya? melindungi semua penduduk desa? Tak ada kehancuran, tak ada keputusasaan, dan tidak ada lagi yang namanya perang. Sepotong pemikiran itu melintas di benakku, membuatku memikirkan tujuan lama, tujuan Uzumaki Naruto yang dulu. iya aku ingin menjadi seorang Hokage, dan sebagai Hokage aku akan melindungi desa ini.'
Konoha mempunyai cerita, Konoha mempunyai sejarah, dan semua jejak-jejak peninggalan dari sang pendahulu itu telah dihancurkan oleh Pain. Kehancuran di mana-mana, rumah-rumah luluh lantah tak berarti, bahkan tak ada satu rumah pun yang masih sanggup berdiri di tengah-tengah invasi dahsyat tersebut. hal ini lah yang menjadi pekerjaan rumah masyarakat Konoha. yang sekarang ini berusaha kembali membangkitkan semangat hidup walaupun dari butiran-butiran harapan kecil, dari sini semuanya berawal dan dari sini semuanya berakhir. Kedamaian tidak akan terwujud jika kita hanya diam saja, menunggu terjadi peperangan hanyalah hal yang dianggap bodoh, maka dari itu semuanya mulai berbenah, dari balok-balok kayu warga desa membangun pondasi-pondasi dasar perumahan, orang-orang terlihat bersemangat melakukan kegiatan tersebut. tidak ada kata 'putus asa' dengan senyuman mereka mengawali kebangkitan Konoha.
Terlihat salah satu warga yang sedang memukul paku dengan palunya di atap, dan beberapa orang terlihat sedang menggergaji kayu.
"Syukurlah ya? ada Naruto, jika tidak ada dia… habislah desa kita."
"Kau benar, oleh karena itu, kita harus bangkit dan membangun desa kembali."
"Ya! ayo lakukan yang terbaik!"
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre –Mystery/Adventure
Power of White © Yoshino Tada
Dan setelah sambutan yang meriah itu, secara tidak sadar Naruto telah pingsan di pelukan Sakura. Sekarang ini dia telah terbaring lemas di tenda pengungsian darurat, Kakashi dan Yamato terlihat duduk di sampingnya. Menjaga pemuda itu yang pingsan karena kelelahan. Pria bermata Sharingan dan bermasker tersebut menoleh ke wajah Yamato, Yamato pun menengok ke arahnya.
"Seiring dengan berjalannya waktu. Naruto bertambah kuat dengan pesat, benar kan Yamato?" ujar Kakashi mengenai tanggapannya terhadap Naruto yang sekarang, bukan hanya kuat namun Naruto terasa sangat asing baginya.
"Kau benar Senpai. Jujur jika aku melawannya, mungkin aku yang akan kalah, kekuatannya melebihi apa yang aku perkirakan sebelumnya. Tapi ketika aku menatapnya, pandangan yang sangat berbeda terlihat dari kedua matanya, kedua mata itu seolah-olah meminta pertolongan." Jawab Yamato sambil memberikan ungkapan mengenai isi hatinya. Kakashi bingung dengan perkataan Yamato, ia mencoba menanyakannya "Apa maksudmu, Yamato?" tanya Kakashi.
"Aku yakin Senpai juga menyadarinya, tatapan mata Naruto berbeda dari yang dulu, tatapan itu sangat gelap, keceriaan yang selalu ia perlihatkan dulu, seakan-akan telah ditelan oleh kegelapan, dan kegelapan itu juga lah yang telah merenggut sorot matanya."
"Aku mengerti, aku juga berpikir sama terhadap pemikiranmu itu. 'meminta pertolongan kah' ?"
"Oh ya Senpai. Aku harus membantu pekerjaan warga desa dulu. untuk membangun rumah, Yah mereka sangat tau cara memanfaatkanku.." ujar Yamato sembari menggosok-gosok bagian belakang kepala yang tidak gatal.
Kakashi tersenyum, "Hehe, kami mengandalkanmu Yamato."
Yamato pun keluar dari tenda tersebut, dan meninggalkan mereka berdua di dalam. "Semua terjadi sangat cepat." Tutur pria berambut semu putih itu. dan setelah beberapa jam ia menjaga Naruto, ia melihat kelopak mata Naruto bergerak-gerak, jari jemarinya juga bergerak perlahan. Naruto pun membuka matanya yang telah terpejam untuk waktu yang cukup lama. Dalam pandangan pemuda itu, ia hanya melihat atap tenda yang hanya terbuat dari kain berwarna hijau, pandangannya yang samar membuatnya tidak bisa melihat dengan jangkauan luas. Namun lama-kelamaan dia mulai terbiasa dengan keadaan itu.
"Kakashi-sensei?" ucap Naruto lirih.
"Akhirnya kau sadar juga Naruto. apakah kau baik-baik saja?"
"Tentu saja." Naruto pun nekat bangkit dari tidurnya, ia pun langsung berdiri dan bersiap untuk keluar tenda tersebut. "Kau mau ke mana Naruto?"
"Ada sesuatu yang harus aku pastikan Kakashi-sensei, tapi sebelumnya aku ingin berkonsultasi denganmu, sebagai seorang guru dan Shinobi Konoha yang kaya akan pengalaman di dunia Shinobi. Aku ingin kau mendengarkan perkataanku…" Kakashi terdiam, ia pun mengangguk pertanda mau mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh sang murid kepadanya.
Mereka berdua mencari tempat untuk berbicara, setidaknya Naruto ingin menghirup udara segar di luar. Kini mereka telah berdiri di bawah pohon, dan Naruto pun menyandarkan tubuhnya ke pohon, menggunakan pohon itu sebagai tumpuan badannya. Kakashi masih berdiri di dekatnya.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku, Naruto?" tanya Kakashi sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya. Naruto terdiam sebentar, ia terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Ini mengenai kursi Hokage, Kakashi-sensei?" jawab Naruto. mendengar kata Hokage, Kakashi agak terkejut dibuatnya, namun ia tetap berusaha tenang dan menyuruh Naruto untuk melanjutkan pembicaraannya.
"Aku tau, Kakashi-sensei dulunya adalah seorang Anbu, di umur 14 tahun, Sensei telah dipercayai oleh Hokage untuk memimpin sebuah team Anbu dimana ada sosok Uchiha Itachi di sana, dan untuk itulah-" belum sempat melengkapi perkataannya. Kakashi menyela pembicaraan tersebut.
"Naruto? kau tau informasi rahasia itu dari mana?" tanya Kakashi terkejut.
"Aku sudah mempersiapkan segalanya, aku membaca buku-buku sejarah Konoha, hanya untuk tujuan 'itu' aku akan melanjutkannya…. Kakashi-sensei mempunyai banyak pengalaman dibanding shinobi lain di Konoha, dan semua orang menganggapmu sebagai shinobi istimewa, shinobi yang digadang-gadang akan menjadi Hokage suatu saat tentu saja menggantikan peran Tsunade-sama, dan untuk itulah aku memohon kepadamu, sebelumnya aku menghormatimu sebagai Sensei dan kau juga menghormatiku sebagai muridmu, tapi sekarang ini Tsunade-sama telah dalam kondisi yang tidak baik, maka dari itu, aku ingin kau merekomendasikanku menjadi Hokage berikutnya."
Kakashi terhenyak. Ia berpikir untuk membalas permintaan yang dilontarkan oleh Naruto kepadanya.
"Kau masih muda Naruto, jadi diumurmu yang sekarang kau tidak pantas untuk merasa dibebankan oleh tugas Negara, kau tau Naruto? sebagai Hokage kau mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat yang mempercayaimu, belum lagi tugas-tugas yang lain. Yang belum sepantasnya diberikan oleh Shinobi muda sepertimu, dan kau masih memiliki jalan yang panjang, banyak pengalaman yang akan kau lalui ke depannya. memang aku percaya akan kekuatanmu, tapi kekuatan saja tidak cukup… kau harus memiliki intelegency dan kecerdasan untuk menggerakan seluruh pondasi yang berada dalam kehidupan masyarakat, tentu saja sebagai Hokage….. aku masih ragu untuk membebankan tugas besar itu kepadamu Naruto, itu juga demi kebaikanmu jadi aku minta maaf karena tidak bisa mengabulkan permintaanmu…"
"Memang benar aku masih terlalu muda untuk mengemban tugas berat tersebut, tapi apakah kau tidak melihat diriku yang sekarang Kakashi-sensei?" Naruto memandang wajah Kakashi dan begitu pun sebaliknya sampai mata tenang Kakashi bereaksi akibat tatapan mata itu, ia pun memikirkan perkataan yang dikatakan oleh Yamato di tenda. 'mata yang meminta pertolongan?'
"Aku berbeda dari yang dulu. Aku bukan lagi anak-anak yang harus diperhatikan, aku kuat, aku memiliki intelegency untuk menjadi seorang Hokage bukan hanya itu, aku memiliki apa yang tidak kau miliki Kakashi-sensei?"
Kakashi masih merasakan tatapan itu, mencoba untuk tenang dan mengendalikan pikirannya. Dan ia bertanya sesuatu yang ia tidak miliki namun dimiliki oleh Naruto. "Apa itu?" tanyanya penasaran.
"…" ujar Naruto. Kakashi pun menatap wajahnya seakan-akan tidak percaya terhadap kata-kata yang baru saja terucap dari bibir Naruto, 'Bukan sepertimu, aku memiliki otoritas yang tinggi untuk menjadi Hokage, karena aku akan melindungi Konoha meskipun dengan cara-cara yang tidak wajar.' Senyum licik Naruto mewarnai ucapan indahnya, menembus dinding-dinding tak terbatas, melampaui batasan-batasan pemikiran Kakashi. Dan kini ia telah menyadari semuanya bahwa orang yang berbicara dengannya sekarang ini….
"Bukanlah Uzumaki Naruto.."
"Itu saja. aku pergi dulu, ada sesuatu yang harus aku lakukan..." bersamaan dengan itu, Naruto telah menghilang dengan cepat. tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, Kakashi hanya memandang ke langit biru tak berawan. "Hokage kah?"
Di tempat Kurama.
Tes tes tes… tetesan air masih jatuh dari tempat yang tidak diketahui, pemuda berambut putih halus berdiri di dekat gerbang penyegelan Kyubi, ia bersandar di salah satu tiangnya sambil melipat kedua tangannya.
"Perlahan-lahan dia mulai tenggelam di lautan kegelapan, keinginannya yang kuat untuk melindungi desa semakin menjerumuskan dirinya untuk melangkah lebih jauh dan melakukan sesuatu yang tidak wajar demi melindungi teman-temannya. Kini tujuannya memburu anggota Akatsuki yang tersisa hanya tinggal beberapa persen saja, dan semua itu akan berjalan seiring dengan berjalannya waktu." Seringai white dibalik tampangnya yang lugu. Tatapan itu masih saja terlihat dari kedua matanya.
"Jhehehe. Kau sangat pintar White, aku tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, tapi yang pasti aku ingin segera keluar dari penjara busuk ini…" ujar Kurama sambil tertawa lebar.
"Tenang saja. Kita akan segera keluar dari sini, cepat atau lambat.."
Konoha.
Seorang gadis berambut merah muda terlihat membawa sebuah ranjang yang di dalamnya berisikan makanan, ia terlihat berjalan di antara tenda-tenda darurat yang didirikan di bagian lain desa, guna memberikan inapan sementara bagi warga desa. Lalu ia memasuki salah satu tenda darurat tersebut.
"Permisi, ini aku Sakura desu."
"Masuklah Sakura.." suruh Shizune dari balik tenda.
"Belum sadarkan diri kah? Shisou?" Sudah beberapa hari berlalu semenjak invasi Pain, dan semua itu telah meninggalkan kehancuran dan menyebabkan banyak warga desa yang terlantar, bukan hanya itu saja. Dan kerugian lain yang dirasakan oleh Konoha sekarang adalah sekaratnya sang Hokage ke 5, Tsunade.
Tidak henti-hentinya orang-orang berdoa untuk kesembuhannya namun tetap saja Tsunade masih terbaring lemah tak berdaya, bahkan kulit kencang dan wajah mudanya, sudah berangsur menjadi keriput kembali memberikan kesan tua jika orang melihatnya, dan mungkin saja mereka tidak akan mengenalinya.
"Aku tinggalkan buah-buah ini di sini ya, Shizune-san?" ucap Sakura sambil meletakkan keranjang buah itu ke meja yang telah tersedia di dalam tenda. "Baiklah aku akan kembali ke rumah sakit darurat, masih banyak pasien yang menunggu.." tambah Sakura ditemani senyuman menawannya.
"Kau gadis yang baik Sakura. aku serahkan semuanya kepadamu ya. maaf aku tidak bisa menemanimu di sana."
"Tidak masalah kok, lagi pula siapa yang akan menjaga Shisou jika Shizune-san ke sana?"
"Benar juga."
"Hehe, aku pergi dulu…" Shizune mengangguk, gadis berparas cantik itu keluar dari tenda, dan Shizune pun melihat wajah Tsunade yang menua. "Cepatlah sadar, Tsunade-sama masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan, dan semuanya menantikan kehadiranmu kembali." Ucapnya. Senyumnya menggambarkan jelas bahwa asisten setia tersebut menginginkan agar Hokage segera sadar dari sekaratnya. Dan untuk itulah ia berdoa di dalam hatinya, berharap semuanya akan kembali seperti sedia kala.
Kumogakure.
Seorang jonin Kumogakure berjalan cepat. Ia terlihat menuju ke ruangan Raikage. Dari caranya berjalan, sepertinya pria itu mempunyai informasi yang sangat penting untuk disampaikan kepada Raikage. Pintu pun ia ketuk dengan pelan, dan dari dalam muncul suara yang memintanya untuk masuk ke dalam.
"Ada apa?" tanya Raikage dengan tampang garangnya.
"Lapor Raikage-sama. saksi hidup penculikan Killer bee-sama akhirnya telah sadar, sekarang dia sudah bisa kita tanyai.."
Drap!
Pria berbadan kekar itu berdiri dari kursinya setelah mendengar berita itu. "Ini yang sudah aku tunggu-tunggu, cepat antar aku ke sana."
"Iya, Raikage-sama!"
Rumah sakit, Kumogakure.
Raikage dan pengawalnya telah tiba di ruangan salah satu pasien yang melihat pertarungan antara salah satu anggota Akatsuki dengan Killer bee yang berakhir diculiknya Killer bee untuk diambil bijuu yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Di kasur sempit itu, beberapa orang telah berdiri di dekatnya, termasuk Darui, Samui, Karui, dan Omoi.
"Raikage-sama?" ucap Omoi dengan nada sambutan. Dan pasien yang baru saja sadar itu menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Raikage. Terlihat tangan Raikage mengepal erat.
"Uchiha? Katamu!?"
"I-iya…"
"Tolong sabar Raikage-sama.." ujar Darui menenangkan emosi Raikage. Dan pria berjanggut putih itu pun berusaha mendinginkan kepalanya. "Klan Uchiha adalah klan yang berdiam di Konoha, namun keberadaanya sekarang ini telah lenyap karena seluruh keluarga tersebut telah tewas, hanya satu yang tersisa.. yaitu Uchiha Sasuke, ninja pelarian dari Konoha. Apa mungkin dia orangnya?"
"Iya, itu memang Uchiha Sasuke desu, dari wajah, gesture tubuh dan detail tubuhnya semua mirip dengan criteria Uchiha Sasuke, aku yakin itu."
Raikage sudah tak bisa memendung amarahnya lagi, dan akhirnya ia membuat keputusan untuk mengirim beberapa shinobinya ke Konoha, untuk meminta izin dan menetapkan bahwa Sasuke adalah ninja kriminal agar bisa diburu oleh 5 negara besar.
"Keputusanku sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, aku akan segera mengakhiri masalah ini."
Konoha.
Di sebuah rumah di atas patung pahatan Konoha, patung yang melambangkan symbol para Hokage terdahulu beserta kekuatannya yang disegani, dari situlah para daimyou Negara api, dua penasihat Konoha dan beberapa jonin Konoha terlihat berkumpul. Tentu saja untuk membahas masa depan Konoha, dan siapa yang akan menjadi Hokage berikutnya?
"Sekarang Konoha sudah diambang kehancuran, invasi Pain telah menghancurkan semua harapan warga desa, dan dampak dari serangan itu tidak hanya meluluh lantahkan wilayah Konoha, tapi juga membuat Hokage ke lima mengalami koma dan belum sadarkan diri sampai sekarang….dan untuk itulah kita sebagai tetua Konoha harus segera mengambil tindakan," ucap penasihat Konoha, Homuro.
"Yah kau benar, jadi siapa yang akan kita pilih sebagai kandidat terkuat untuk menjadi Hokage ke enam?" tanya Daimyou 1. Semuanya terlihat berpikir, di tempat yang tidak begitu luas itu, keheningan terasa beberapa saat, semuanya benar-benar memikirkan masalah tersebut. sampai seorang kakek-kakek dengan penutup mata berupa kain perban, memecah keheningan tersebut.
"Biar aku saja…." Sela Danzo. Semua orang yang hadir dan duduk di tempat itu terlihat melihat ke arahnya, tatapan pria paruh baya itu terlihat sangat sinis, seperti kegelapan menyelimuti dirinya.
"Apakah kau yakin, Danzo?" tanya Homuro.
"Tentu saja, aku siap kapan pun untuk mengemban tugas ini, aku akan melindungi Konoha dengan seluruh kekuatanku."
Semuanya terdiam. Daimyou-daimyou itu terlihat memikirkan sesuatu, mereka sedang memutuskan apakah Danzo pantas mengemban tugas ini atau tidak, sampai seseorang pemuda tiba-tiba memasuki ruangan rahasia tersebut.
Suasana tenang itu berubah seketika, aura mencekam mulai dirasa oleh sebagian orang yang berada di tempat itu. derap langkah kakinya yang pelan, menganggu pendengaran para tetua itu, membuat mereka melihat ke arah bunyi suara kaki itu berasal.
"Uzumaki Naruto?, apa yang kaulakukan di sini?" ujar Nara Shikaku yang mengenal sosok Naruto. Danzo pun hanya menghela nafasnya. Sedangkan Homuro dan Koharu melihatnya dengan ekspresi terkejut.
"Yang pantas menjadi Hokage ke enam hanyalah aku, seorang kakek sepertimu tidak pantas untuk mengemban tugas berat tersebut, kau tau semua itu kenapa? Karena kau lebih lemah dariku, Danzo-sama." ujar Uzumaki Naruto yang sudah jongkok di depan Danzo, hal itu mengejutkan para tetua yang berada di situ.
"Cepat sekali, sejak kapan dia berada di situ?"
Namun Danzo tetap berusaha tenang dan menyembuyikan mimik wajahnya. ia menahan emosinya agar tidak terpancing oleh provokasi Naruto. pemuda bersurai putih itu berdiri dan berjalan menuruni meja tersebut. "Aku tidak ingin mengacau di sini. Tapi hanya satu permintaanku, aku akan senang jika kalian mengangkatku menjadi Hokage, dengan begitu akan kujamin kelangsungan hidup kalian…"
Semua melihatnya, semua mendengarnya, kata-kata itu terlontar dari bibirnya. Masuk ke telinga-telinga yang ada di ruangan itu, dan semuanya berpikir bahwa itu sebuah lelucon yang lucu. Sampai mereka mengingat kejadian yang baru saja terjadi, anak ini telah mengalahkan Pain sendirian, tidak seperti Danzo yang bersembunyi entah ke mana seperti tikus yang takut akan cahaya matahari. Dan kemudian mereka mulai memandangnya, mereka kembali mengingat kejadian luar biasa itu. dia juga yang menyelamatkan seluruh warga desa Konoha. Tidak ada korban jiwa yang terenggut atas tragedy besar itu, sampai semua orang menganggapnya sebuah keajaiban, dan tentu saja semua itu karena keberadaan Uzumaki Naruto. sedangkan Danzo tidak melakukan apa-apa ketika invasi tersebut berlangsung, dan hal itu menimbulkan pendapat yang berbeda dari pada sebelumnya.
Diluar dugaan para tetua memilih Naruto sebagai kandidat terkuat menjadi Hokage ke enam.
"Aku setuju.."
"Aku setuju…"
"Aku juga setuju.."
Para Daimyou juga berpikiran sama, mereka setuju atas diangkatnya Naruto menjadi Hokage ke enam, para Jonin yang melihat kejadian itu seperti tidak berdaya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa mengenai itu. "Kenapa Naruto? dia kan masih muda, dia tidak mempunyai cukup pengalaman untuk menjadi seorang Hokage, bukan kah masih ada Hatake Kakashi?" Batin Shikaku. Ia merasa cemas terhadap anak tersebut, karena diumurnya yang sekarang dia harus mengemban beban berat.
"Kau tidak perlu khawatir, Shikaku-san. Aku baik-baik saja, ini adalah impianku sejak kecil. Jadi aku sangat menantikannya, aku harap anda dapat memberiku masukan dan saran yang bagus untuk ke depannya nanti." ujar Naruto sambil memandang wajah Shikaku. Shikaku seperti mati kutu di sana, kata-kata yang seharusnya hanya ia ketahui, tiba-tiba saja dijawab oleh Naruto yang notabene dapat membaca pikiran, kemampuan khusus tersebut dapat ia gunakan ketika dalam keadaan tertentu saja.
Danzo mengapal tangannya, ia marah namun ia hanya bisa terdiam di tempat duduk sambil memasang tampang tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian ia berjalan keluar dari ruangan itu.
'Aku akan membalasnya nanti, Uzumaki Naruto.'
Langkah pelan pria paruh baya itu sambil tertatih-tatih, dibantu oleh alat penopang berupa tongkat ia berjalan lamban keluar dari ruangan tersebut. semua orang yang berada di dalam ruangan itu hanya melihatnya dari belakang yang melangkah menjauh dan keluar melalui pintu ruangan, pelan tapi pasti.
"Baiklah, Uzumaki Naruto-kun.. kami mohon bantuannya ya.. kami akan umumkan pengangkatan Hokage ini besok pagi, melihat situasi yang kurang mendukung mungkin saja, tidak akan ada pesta meriah.." ujar Daimyou kepada Naruto, ramah.
Naruto mengangguk dan tersenyum.
"Tidak usah ada pesta, karena saya juga memahami situasi yang ada sekarang ini.. dan saya akan selalu siap untuk mengemban seluruh tugas sebagai Hokage ke enam." Bersamaan dengan itu, Uzumaki Naruto telah mendapat gelar barunya, menjadi seorang Hokage yang baru.
'Dari sini lah semuanya berawal, dan dari sini juga semuanya akan berakhir. Aku akan membangun desa ini, dan melindungi seluruh rakyatku mulai dari sekarang, meskipun tangan ini menjadi gelap, meskipun tubuh ini sudah diselimuti oleh kegelapan. tapi tetap saja, keinginanku tidak akan pernah goyah sedikit pun..'
Naruto tengah berjalan di antara rumah-rumah yang masih dalam tahap pembangunan, di sepanjang jalan. Ia mendapat ucapan-ucapan dari penduduk desa, salam hangat beserta pujian terus terucap dari bibir warga Konoha. Senyuman menawan mereka selalu menghiasi di mana pun Naruto berdiri, sampai kapan pun. Naruto menatap balik ke wajah yang berseri itu sambil berusaha tersenyum dan mengangkat tangannya, setidaknya untuk menyahut sapaan mereka.
'Hangat sekali, keramah tamahan ini membuatku nyaman.'
Tap tap tap…
Langkah kaki seorang Hokage baru. Tapi mereka belum mengetahui kebenaran tersebut, sampai esok hari informasi itu akan diumumkan, dan ketika besok tiba, semuanya akan tahu. untuk pertama kalinya, Konoha akan dipimpin oleh Hokage muda berumur 16 tahun. termuda dalam sejarah Konoha.
Ia melewati sebuah jembatan, dan untuk kedua kalinya ia bertemu Kakashi Hatake. "Aku sudah mendengarnya, Naruto? selamat atas pengangkatanmu menjadi Hokage ke enam, sebagai gurumu aku sangat bangga." Naruto memberhentikan langkahnya.
"Bukankah Sensei, menentangnya?"
"Memang awalnya aku menentang keputusanmu, tapi setelah para tetua Konoha menginformasikan ini kepadaku, aku langsung tau, bahwa mereka telah mempercayaimu. Dan sebagai orang yang dekat denganmu, aku juga akan mempercayaimu, Naruto."
Hembusan angin menerpa rambut putih mereka, berhelai-helai rambut itu melayang-layang tertiup angin, dan diwaktu yang sama. Naruto tersenyum, senyuman yang sudah lama tidak ia perlihatkan kepada siapapun, senyuman itu menggambarkan jati dirinya yang sebenarnya. untuk sesaat Kakashi melihat senyuman itu, ia merasa telah bertemu dengan Naruto yang dulu. yang selalu bersikap ceroboh, gegabah dan dianggap bodoh oleh semua orang, dan pada saat itulah ia teringat akan sesuatu.
. . . . . .
Di dalam bayang-bayang Kakashi.
Seorang bocah duduk percaya diri sambil menatapnya, pertanyaan yang baru saja ia tanyakan kepada anak berambut kuning itu langsung dijawab penuh antusias.
"Namaku Uzumaki Naruto! dan suatu saat nanti aku akan menjadi Hokage! Ttebayou! Ingat kata-kataku itu…! hahaha."
Sudah empat tahun sejak perkenalan itu berlangsung dan kata-kata itu telah menjadi kenyataan, ucapan selamat tidak akan cukup. Kakashi tersenyum bangga kepadanya. "Aku bangga menjadi gurumu, Naruto."
"Kakashi-sensei terlalu banyak memujiku, tidak seperti Kakashi-sensei biasanya. memang sekarang aku sudah menjadi Hokage namun aku akan tetap menghormati Sensei sebagai guruku,….. terima kasih."
Di atas sungai itu, terlihat guru dan murid yang berjabat tangan, mereka saling memandang satu sama lain. "Baiklah Kakashi-sensei, aku harus pergi ke tenda Tsunade-sama terlebih dahulu, meskipun aku sudah menjad Hokage, namun tetap saja, aku ingin Tsunade-sama cepat sadar dari komanya, sampai ketemu lagi."
Perkataan itu menutup perbincangan singkat antara guru dan murid, dalam hatinya Kakashi merasa malu terhadap dirinya sendiri, bukannya tidak. dia dapat dilampaui oleh muridnya sendiri hanya selang beberapa tahun saja. "Hah? Ya sudah lah… melihat dia menjadi Hokage saja, sudah membuatku senang." batinnya dalam hati sambil tersenyum. meskipun senyumannya tertutup oleh masker.
Di tenda Tsunade
"Boleh kah aku masuk?"
"Suara itu? Naruto kah?"
"Iya.." Naruto pun diperkenankan masuk oleh Shizune, dan di dalam tenda itu. Naruto terkejut melihat keadaan Tsunade yang sampai seperti itu. "Separah ini kah?" ucapnya sambil meratapi keadaan Tsunade yang mengkhawatirkan.
"Iya. Tapi tenang saja, aku yakin dia akan cepat sadar. Semuanya sudah menunggu kesadarannya." tutur Shizune yang berusaha menenangkan suasana hati Naruto.
"Jangan cemaskan hal itu, yang terpenting Tsunade-sama cepat sadar, itu lah bagian terpentingnya. untuk masalah desa, jangan risau, karena aku akan mengambil alih kepimpinan secara permanen." Ucap Naruto sambil menatap wajah Shizune yang duduk di bawah.
"Apa maksudmu Naruto? apa jangan-jangan kau sudah menjadi-"
Naruto mengangguk.
Shizune masih tidak percaya akan hal itu, lagi-lagi masalah usia yang membuat Shizune merasa ragu atas keputusan para tetua.
"Semunya mempercayaiku, jadi aku akan melalukan yang terbaik. Dan besok pengumuman resminya, aku janji akan melindungi Konoha, Tsunade-sama, kau, Sakura, dan teman-teman lainnya... Tentu saja sebagai Hokage ke enam." Bersamaan dengan itu Naruto tersenyum. Senyuman yang pernah ia perlihatkan sewaktu masih genin. pandangan Shizune tak teralihkan dari senyuman yang selama ini telah menghilang dibenaknya. wajahnya tersipu akibat senyuman manis tersebut tapi...
'Inilah senyuman terakhirku... sebentar lagi aku akan terjerumus ke dalam kegelapan yang sebenarnya, maafkan aku karena tidak bisa memperlihatkannya kepadamu, Haruno Sakura.'
To be continue
Chapter 13 END
Ending Spinning World by Diana garnet..
N/a: Terima kasih telah membaca POW,,, kirimkan komentarmu di kolom review ya, jika ada yang perlu ditanyakan, tanyakan aja di kolol review yang tersedia. saya akan menjawabnya melalui PM.. dan info penting bagi readers yang suka baca Battle 100, mungkin Battle 100 akan kembali update seperti biasanya...
Okey, see you next week!^^
Yoshino Tada
