Chapter 14 update!

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre –Mystery/Adventure

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 14

Dialah orang yang diakui

Suasana dan kondisi di Konoha belum berubah, tapi keadaan yang sekarang ini sudah jauh lebih baik dari pada kondisi yang kemarin-kemarin. Waktu berlalu hingga kini. Dan sekarang waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba.

Di sebuah halaman dengan balok kayu yang tertata rapi, beberapa orang telah duduk dan berdiri santai di sana, menunggu informasi yang akan Shikamaru sampaikan kepada mereka, seperti Chouji, Ino, Hinata, Sai, Sakura, Kiba, Lee, Tenten, Neji, Shino.

…..

"Apa!? Naruto menjadi Hokage ke enam!" ujar Kiba terkejut. "Dia itu! kenapa bisa mendahuluiku secepat ini! tch." Kiba merasa sudah kalah dengan Naruto, persaingan yang sia-sia menurutnya. Informasi itu tersebar secara meluas melalui jonin-jonin Konoha, termasuk Shikamaru yang memberitahukannya kepada semua teman-temannya.

Shikamaru mengangguk. ia melipat tangannya sambil bersandar di kayu-kayu tersebut. dengan wajah kalem dia melihat ekspresi teman-temannya. 'Sudah kuduga, mereka pasti akan terkejut'

"Apa itu benar Shikamaru? Kenapa dia bisa langsung menjadi Hokage, bukankah masih ada shinobi yang berpengalaman dari Naruto?" tanya Neji. Sebelumnya ia juga terkejut atas informasi yang disampaikan oleh Shikamaru.

"Aku tidak tahu. tapi yang pasti, dia akan segera dilantik menjadi Hokage yang baru menggantikan Tsunade-sama. sejujurnya aku juga cukup terkejut atas keputusan para tetua Konoha, tapi yang sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah mempercayainya." Tutur Shikamaru masih melipat tangannya.

"Dia selangkah lebih jauh dari kita, kita semua telah dilampauinya." Sela Shino tenang.

"Kurang ajar kau Shino! Kenapa kau malah memanas-manasiku! Aku masih tidak terima dengan keputusan ini, aku harus memastikannya sendiri!" seru Kiba bersikeras. Ia belum terima jika Naruto menjadi Hokage, karena dia yakin, dirinya masih lebih kuat dari Naruto.

Neji tersenyum meremehkan, mendengar ucapan Kiba. "Kiba? Seorang sepertimu, tidak akan bisa mengalahkan Naruto. kau harus camkan itu dalam hatimu." Tegas Neji mempersulit argument Kiba.

"Tchh! Kenapa kau ikut-ikutan Neji! bahkan kau juga kalahkan dengannya! Waktu itu-!"

Urat-urat kemarahan mulai tercetak di kening Neji, "Diamlah! Atau akan kubunuh kau!"

"Haha, wajahmu terlalu jelas. Bahwa kau masih ingat kejadian itu…"

"Kau juga, kalah dengannya! Apa kau pikir hanya aku saja!"

"He? Jadi kau ingat ya?" Kiba pun menggaruk-nggaruk rambutnya yang tidak gatal. Beberapa orang tertawa mendengar percecokan mereka. "Hahaha… sudahlah kalian berdua sama-sama kalah dengan Naruto, akuilah bahwa Naruto itu memang diatas kalian.." sela Ino menengahi.

"Diamlah!" ujar Kiba dan Neji serempak.

Sakura dari tadi terdiam, rasa-rasanya semua ini hanya ilusi saja. Kenapa bisa secepat ini? Naruto menjadi Hokage? Menurutnya ini terlalu cepat. Dia melamunkan hal itu semenjak pertama kali Shikamaru memberitahukannya.

"Ada apa Sakura?" tanya Sai.

"Hmm… tidak ada apa-apa kok, hanya saja bukankah ini terlalu cepat untuknya." Ucap Sakura yang terlihat berpikir akan pengangkatan Naruto menjadi Hokage. Semua nampak mendengar pendapat Sakura.

"Kenapa bisa begitu?" tanya Sai sambil memandang wajah Sakura.

"Kalian tau kan? sebelumnya Naruto hanyalah seorang genin, bodoh, yang bersemangat. tapi dia menunjukkan grafik yang sangat fantastis bagi shinobi-shinobi seperti kita. Dalam waktu dua bulan dia dapat rekomendasi dari Hokage secara langsung, dan dia dijadikan Jonin tingkat SS setingkat dengan Hatake Kakashi-sensei, namun itu hanyalah awalnya saja, sebelum Pain menghancurkan Konoha dan Naruto menjadi pahlawan, yang berarti. Dia belum cukup pengalaman untuk menjadi Hokage."

Semua orang yang berada di situ terlihat berpikir.

"Jika dipikir-pikir lagi, ada benarnya juga. Naruto belum cukup mempunyai pengalaman mentereng sebagai Shinobi Konoha." Ucap Lee sambil memegangi dagunya. Ia menatap alas tanah yang dijadikan pijakan kaki.

"Bukan masalah itu Sakura." Sanggah Shikamaru mengenai pendapat Sakura baru saja. Sakura menoleh ke arahnya. "Terus? Kenapa dia bisa menjadi Hokage walaupun tanpa pengalaman?"

"Karena Naruto itu adalah…"

Semua orang menunggu perkataan yang akan terlontar dari mulut Shikamaru.

"Shinobi terkuat di Konohagakure, bukan hanya itu saja, dia mempunyai visi dan misi yang tinggi. Semangatnya dalam melindungi teman-temannya sangat cocok dengan criteria yang dicari oleh para tetua Konoha untuk dijadikan Hokage, bakat dan kemampuannya sekarang juga menonjol daripada Shinobi lainnya. Jadi bukan masalah permasalahan atau lainnya, tapi memang dialah satu-satunya orang yang pantas menduduki kursi Hokage." Ujar Shikamaru tersenyum.

Semua orang di situ takjub dan tersenyum kecuali Shino.

'Naruto kau? luar biasa…' batin Hinata yang turut hadir dalam perkumpulan kecil-kecilan tersebut.

"Jadi begitu ya?" ucap Sai.

"Mungkin kau benar Shikamaru, Yosh. Aku jadi paham sekarang." Ucap Sakura.

"Memang Naruto sudah melampaui kita, sekarang sulit untuk mengejarnya lagi.." nampaknya si gendut Chouji mulai pasrah dengan keadaannya sekarang. Ia pikir dia tidak mungkin bisa melebihi kekuatan Naruto yang telah menjadi Hokage dan pastinya sangat kuat.

"Hee? Kenapa kau ini Chouji!? Di mana semangatmu itu. anggap saja ini baru awalnya, jadi kau harus meningkatkan kekuatanmu agar dapat membantu Naruto dalam melindungi desa." Ujar Ino menyemangati Chouji.

"Ino?"

"Yang dikatakan Ino benar. Kita harus membantunya untuk melindungi desa dengan cara meningkatkan kekuatan kita masing-masing anggap saja, ini adalah sebuah kompetisi agar dapat melecutkan semangat kita." Pungkas Shikamaru.

"Shikamaru? -Jadi kita harus begitu ya? oke. Aku jadi bersemangat, habis ini aku akan latihan untuk meningkatkan kekuatanku."

"Aku juga akan latihan! Aku tidak terima jika kalah dengan Naruto!" seru Kiba yang juga terpengaruh oleh semangat Chouji.

"Yosh, aku juga tidak mau kalah.." ucap Tenten.

"Aku juga akan berusaha dengan baik.." ujar Hinata dengan wajah memerahnya.

"Sudah cukup aku dikalahkan oleh Naruto. kali ini tidak akan kubiarkan siapapun untuk melampauiku.." provokasi Neji supaya semakin melecutkan semangat teman-temannya.

"Tch, sombong sekali kau. Lihat saja, dalam waktu dekat, aku akan melampuimu.." balas Kiba terprovokasi.

"Lakukan saja, jika kau bisa." Ucap Neji dengan nada meremehkan. Tatapannya dingin seperti biasanya.

"Jadi, semuanya mulai bersemangat ya…. baiklah aku juga akan menambah kekuatanku lagi." Sakura tidak mau kalah, begitu juga dengan Sai. Dan akhirnya semuanya pun sepakat untuk melatih kekuatan mereka masing-masing agar dapat berguna bagi desa dan membantu Naruto sebagai Hokage yang baru.

Dari tempat lain, di atas gedung pemeritahan Konoha. Naruto tersenyum, jubah putih polos yang ia kenakan melayang-mayang terkena hembusan angin, dan dibalik topi caping yang ia pakai, tersembuyi sebuah makna yang tersirat. Di dalam penampilan yang baru itu, semua orang berharap kepadanya. Bahwa mereka percaya, Hokage yang ke enam akan melindungi mereka semua tanpa terkecuali.

Senyuman itu masih menyelimuti wajah dinginnya.

Selang beberapa jam. Akhirnya pelantikan Hokage baru pun dimulai. Tidak ada pesta meriah dan pesta rakyat, pelantikan itu dalam suasana sederhana. Naruto menyuarakan idealisme yang ia miliki, berjanji seutuhnya akan melindungi Konoha. Orang-orang yang sudah menantinya pun bersoray-sorey menyambut Hokage baru itu, semua tersenyum dalam ketenangan yang luar biasa. Sekarang mereka merasa aman dan nyaman karena Hokage yang baru itu adalah Uzumaki Naruto, shinobi terkuat di Konohagakure.

Dilantiknya Naruto secara langsung menjadikan dirinya resmi menjadi Hokage dan ia pun berjalan pergi dari atap gedung pemerintahan, untuk memulai tugas pertamanya. Membangun desa kembali.

Gedung pemerintahan yang sekarang menjadi tempat bernaungnya Naruto, masih dalam tahap renovasi sehingga terpaksa ia harus bekerja di tengah-tengah tenda darurat masyrakat Konoha. Dan kini, ia telah duduk di sebuah kursi dengan meja serta dokumen-dokumen penting yang harus ditanda tangani. Dokumen-dokumen itu berisi, perjanjian bantuan, kesepakatan dan tenaga pembantu dari luar Konoha, stock makanan dan lain-lain yang berkaitan dengan bantuan kemanusiaan.

"Untuk mengerjakan semua ini. aku butuh asisten, akan tetapi. Aku masih belum memikirkan siapa yang pantas untuk menjadi asistenku."

Goresan tinta-tinta terus tercetak di kertas, selembar demi selembar. Hal itu berlangsung sangat lama, sampai tamu dari daerah jauh mendatangi Naruto, membuat Hokage ke enam itu cukup terkejut, meskipun hanya dengan tatapan dingin. Setelah dipersilahkan masuk, ketiga orang yang diutus oleh Raikage pun masuk ke dalam tenda darurat tersebut, Karui, Omoi, dan Samui, mereka bertiga tercengang ketika melihat Hokage baru yang duduk di depan mereka.

'Dia kan?'

'Anak yang waktu itu?'

'Cepat sekali, dia sudah menjadi Kage!'

Batin mereka bertiga bergantian. Dan wanita cantik berambut kuning, Samui pun langsung memberitahukan informasi yang sangat penting kepada Naruto. mereka menyerahkan gulungan yang berisi surat perjanjian dan teguran untuk desa Konoha.

Naruto pun membaca isi dari gulungan tersebut, dengan seksama ia membaca kata-kata yang tertera dalam gulungan dari awal hingga akhir.

"Jadi begitu permasalahannya. Orang yang telah menculik Killer bee adalah Uchiha Sasuke? dan kalian ingin membunuh Sasuke serta menjadikan dia sebagai criminal dunia Shinobi?"

"Iya…" jawab Samui penuh sopan santun, sedangkan Karui dan Omoi hanya bisa diam saja, karena mereka tau, siapa yang duduk di hadapan mereka. kekuatan yang mencekam dan menakutkan, nuansa dalam tenda itu sangat mengerikan, bahkan mereka bertiga pun seperti mati langkah dan tidak bisa menggerakan kakinya.

"Sampaikan kepada Raikage, aku yang akan menangani Sasuke, aku tau bahwa Sasuke telah menjadi anggota Akatsuki dan kalian tau kan? aku sangat terobsesi dengan Akatsuki? Guruku, Jiraiya, telah dibantai mereka habis-habisan, dan aku telah membunuh 4 diantara mereka, jadi jangan risau. Aku yang akan membereskan Sasuke. karena semua anggota Akatsuki adalah musuhku, musuh Konoha."

Samui terhenyak, begitu juga Omoi dan Karui. Rasa ketidakpercayaan menghantui mereka bertiga, mereka terus melihat Naruto dengan tatapan takut. Namun mata sharingan Naruto hanya menatap mereka dengan tatapan dingin.

"Kenapa kalian diam saja? Urusan kita sudah selesai. Silahkan meninggalkan ruangan ini."

"I-iya, Naruto-sama!" ujar Samui tergagap. "Permisi!" mereka bertiga pun keluar dari tenda mengerikan tersebut. di luar tenda, mereka sedang menggunjing Naruto.

"Hah? Hah? Hah? Kenapa dengan ruangan itu. suasana di dalam sangat mencekam, bahkan aku sulit untuk bernafas, chakranya sangat kental dan gelap, tubuhku bergetar dengan sendirinya…" ujar Omoi sambil mendengah nafas berulang kali, permen lolipop masih ia hisap.

"Sama. kakiku tidak bisa digerakkan ketika menatapnya, sorot matanya sangat tajam walaupun ekspresinya sangat dingin." Papar Karui mendengus takut.

"Baru kali ini, aku merasakan hal seperti ini. yang terpenting misi utama kita sudah terpenuhi, waktunya kembali dan menyampaiakan laporan kepada Raikage." Ucap Samui.

"Baiklah.."

Naruto masih duduk tenang di dalam tenda, di tenda tersebut tidak ada siapa-siapa selain dirinya. ia masih membaca surat itu, meratapinya, memikirkannya. Terbesut di pikirannya tentang teman terdekatnya Sasuke. sebenarnya ia tidak percaya bahwa Sasuke bergabung dengan Akatsuki namun semua keraguan itu telah sirna ketika berita itu tersampaikan dari Raikage langsung.

"Memikirkan ini tidak ada gunanya. Aku tau apa yang harus aku lakukan, semua masalah ini pasti ada akarnya.. mencabut akarnya akan meredakan masalah ini. meskipun aku tidak tahu ke depannya nanti akan seperti apa.." lalu tiba-tiba saja seseorang masuk ke tenda itu, tanpa permisi terlebih dahulu. Seorang gadis berparas cantik datang dengan membawakan makanan untuk Hokage.

Naruto melihat lurus ke depan, di mana Sakura telah berdiri di hadapannya.

"Aku datang untuk membawakanmu ini, Naruto." ucap Sakura dengan wajah merona sambil meletakkan keranjang yang dipenuhi makanan yang dibuatkan khusus untuk Hokage.

"Terima kasih."

"Ngomong-ngomong, selamat ya! akhirnya impianmu menjadi seorang Hokage terwujud hehe.." puji Sakura dengan senyum menawannya. Naruto melihat ke arahnya tanpa mengatakan sepatah kata. Sorot matanya yang dingin membuat Sakura mengerutkan dahinya, senyuman menawan itu telah hilang ia buang entah ke mana.

"Oh ya. Naruto, kau nanti malam sibuk tidak?"

"Kenapa?"

"Teman-teman ingin mengadakan pesta kecil untuk merayakan keberhasilanmu menjadi Hokage.." ujar Sakura dengan wajah sumringah. Ia kembali tersenyum, berharap Naruto tidak sibuk nanti malam, agar dapat hadir di acara yang dikhususkan untuknya tersebut.

"Aku tidak tahu. akan tetapi, beritahukan aku tempatnya, jika aku ada waktu. Aku akan segera ke sana." Jawab Naruto lirih, ia masih duduk dengan tatapan dingin.

"Benarkah!? Syukurlah.."

Kemudian Sakura memberitahukan tempat perayaan sederhana itu kepada Naruto, lalu gadis bersurai pink itu bergegas keluar tenda untuk melakukan kegiatan selanjutnya.

"Kenapa dengannya? Tatapannya, masih terlihat dingin seperti biasa…. –hah? Tapi yang penting dia mau datang.." ucap Sakura tersenyum-senyum sendiri.

Di dalam tenda Naruto masih sibuk akan perihal berkas-berkas yang menumpuk, namun dengan cepat ia segera membereskan pekerjaannya. Karena ia ingin datang ke acara itu, chakra gelap dan dingin yang sekarang menyelimuti tubuhnya tidak mempengaruhi dirinya untuk berinteraksi dengan teman-temannya, justru ia ingin berkumpul dengan mereka walaupun dengan kepribadian yang berbeda.

Di samping itu sebuah surat dari desa Samurai telah sampai di Konoha, pesan itu tersampaikan oleh burung pengantar surat, shinobi yang menjaga pos surat itu langsung bergegas untuk melaporkannya kepada Hokage.

"Lapor Hokage-sama.. ada pesan dari Desa Samurai."

"Desa Samurai?"

"Iya desu," Naruto pun membaca surat tersebut. wajahnya sedikit menunjukkan mimik yang berbeda dari sebelumnya. "Akhirnya mereka mulai serius, akan aku tanggapi ini dengan penuh antusias."

"Baiklah saya permisi dulu." Ucap Shinobi itu santun, ia pun keluar dari tenda tersebut.

'Pertemuan para kage, akan diadakan satu minggu dari sekarang, namun sebelum itu. aku akan membereskan masalah yang ada di sini, menyingkir pondasi root akan menjadi sebuah gebrakan pertamaku. Lihat Danzo? Aku akan bertindak sebelum kau bertindak.'

Dan setelah selesai melalukan pekerjaannya. Naruto keluar dari dalam tenda untuk memeriksa sejauh mana perbaikan desa yang telah dilakukan oleh penduduk setempat dan pekerja dari luar desa. Hokage itu berjalan santai di antara tenda-tenda darurat, sambutan hangat tidak henti-hentinya terdengar oleh telinganya. Dari kakek, nenek, ayah, ibu, paman, anak-anak, semuanya meneriaki namanya.

"Hokage-sama!"

"Naruto-sama!"

"Tolong lindungi kami sekali lagi ya.."

Sebutir kalimat itu menarik perhatian Naruto, 'Sekali lagi kah?' ia pun berjalan mendekati gadis kecil yang berteriak mengumbar kalimatnya tadi. Naruto mengelus-elus rambut gadis kecil itu sembari tersenyum. "Tenang saja. Aku akan melindungi kalian selamanya." Sebuah janji yang membuat siapapun akan senang mendengarnya termasuk gadis kecil sekali pun.

Wajah gadis itu menimbulkan rona merah di pipinya, ia pun mengangguk "Iya!"

Lalu Naruto kembali berjalan meneruskan langkahnya. Pemuda berambut putih dan bermata sharingan itu tetap membalas sapaan-sapaan para warganya meskipun tidak dengan sepenuh hati. "Senyuman mereka lebih indah daripada senyumanku, jadi aku akan menjaga senyuman indah itu."

Pemuda itu berkeliling desa guna melihat-lihat perkembangan, dari sudut ke sudut sampai daerah yang sangat parah pun ia datangi. Seorang pekerja bangunan menemaninya untuk berkeliling di sebuah tempat yang paling parah terkena dampak kehancuran invasi Pain.

"Di sini Hokage-sama."

Tampak rongsokan rumah-rumah hancur, berupa genting, dinding, kayu-kayu masih belum dibersihkan, banyak bahan-bahan berat di sana sehingga masyarakat kesusahan untuk memindahkannya. "Jadi begitu ya, baiklah aku akan segera mengirim beberapa jonin ke sini untuk memindahkan puing-puing ini."

"Terima kasih banyak, Naruto-sama."

"Aku akan pergi ke tempat lain."

"Iya..." jawab paman itu sambil menundukkan kepalanya. 'Meskipun masih muda, dia bisa menjalankan tugasnya dengan sangat baik, aku berharap kepadamu, Hokage-sama'

Selanjutnya. Naruto pergi ke tengah-tengah atau pusat Konoha yang masih dalam tahap pembangunan. Beberapa rumah sudah berdiri di sana dan itu membuat Naruto mengapresiasi pekerjaan mereka.

"Baru tiga hari yang lalu, kalian sudah bisa membangun rumah secepat ini. kerja bagus." Ujar Naruto dari bawah, pekerja-pekerja itu tersenyum sopan.

"Tidak Hokage-sama, sebenarnya semua ini adalah pekerjaan dari Yamato-san."

"Ketua Yamato?"

Naruto pun menoleh ke samping di mana Yamato sudah tergeletak lemas tanpa semangat, kelelahan mendera seluruh tubuhnya, ia menggunakan banyak chakra untuk membangun rumah-rumah itu. 'Sudah kuduga, pasti ini kerjaannya.' Batin Naruto tersenyum.

"Baiklah selagi dia pingsan, tolong lanjutkan pekerjaan dengan baik."

"Iya! Hokage-sama!"

"Kami mengerti!"

Naruto meninggalkan tempat itu, dan menuju ke tempat selanjutnya. di mana semuanya akan terlihat dari tempat yang akan segera ia singgahi, sebuah patung Kage mulai dipahat oleh pemahat patung Konoha, yaitu patung Hokage ke enam, Uzumaki Naruto.

Naruto telah sampai ke tempat itu, dan menemui pemahat patung tersebut.

"Sebuah penghormatan bisa dikunjungi oleh Hokage, ada perlu apa anda ke sini, Hokage-sama?" tanya paman pemahat sambil menunduk sopan.

"Tidak, aku hanya memastikan saja, apa benar hanya kau yang membuat patung-patung wajah raksasa ini?"

"Tentu saja. Apakah anda meragukan kemampuan saya?"

"Bukan seperti itu… jika benar begitu, maka aku percayakan patung wajahku kepadamu, paman."

"Yokai…" jawab paman itu penuh semangat, ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah itu Naruto berjalan di sisih lain tempat paman itu memahat patungnya. Hembusan angin sejuk langsung mendarat mulus menerpa rambut putihnya, jubah berwarna putihnya pun juga ikut menari-nari tertiup angin yang cukup kencang. Ia memakai setelan shinobi seperti jonin biasa namun dengan jubah putih yang dikhususkan untuk para Hokage.

Entah kenapa ia berhenti di salah satu patung Kage dan menduduki patung Kage tersebut, patung yang diduduki oleh Naruto sekarang adalah patung dari Hokage ke empat, Yondaime Hokage. Rambutnya terus melayang-layang terkena angin lembut yang melewatinya, sebuah pemandangan indah telah tersaji di depan matanya, Konoha yang berusaha bangkit dari keterpurukan.

'Masyarakat Konoha bekerja keras untuk membangun desa kembali. Semangat mereka sangat besar, aku pun terkagum-kagum melihat semangat mereka, desa yang dibangun susah payah ini pasti akan aku lindungi, apapun yang terjadi.' dari sinilah dirinya dapat melihat semuanya, menyaksikan awal dari semua ini, dan akhir yang akan terjadi ke depannya. tapi jika berbicara akhir, Naruto belum mempunyai gambaran akan hal itu, ia hanya focus dengan hari berikutnya, hari berikutnya dan seterusnya..

'Jiraiya-sensei? Apakah aku sudah melakukan hal yang benar? Bukankah menjadi Hokage adalah impianku dan kau sangat mendukungku untuk menjadi Hokage? Sekarang aku sudah menjadi Hokage, apakah kau melihatku? Jiraiya-sensei? Aku harap kita bisa bertemu di suatu tempat meskipun bukan di kehidupan nyata, banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu, aku . . . . benar-benar . . . . . ingin bertemu denganmu lagi . .. . .'

'Aku berkembang dengan caraku sendiri, aku memilih jalan yang kupilih, meskipun aku mengorbankankan sesuatu yang berharga di sini, aku tidak akan pernah menyesal akan keputusanku ini, yang terpenting sekarang hanyalah melindungi orang yang mencintaiku dan orang yang aku cintai.'

'Aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan Sasuke, memang benar aku sangat terobsesi oleh Akatsuki dan berkeinginan kuat untuk membunuh mereka, tapi sekarang anggota Akatsuki satu persatu telah aku lenyapkan, hanya tersisa satu orang yang masih belum aku ketahui… berpikir untuk membunuh Sasuke adalah pilihan yang terbaik, tentu saja aku akan memikirkan itu.'

Naruto pun bangkit dari tempatnya dan tidak terasa, matahari telah terbenam di ufuk barat memberikan efek gelap di sebagian wilayah Konoha. Naruto turun dari perbukitan itu, dan ia bertemu seseorang di perjalanan ke acara yang diadakan oleh teman-temannya.

Seorang pemuda dengan rambut hitam dan garis merah di kedua pipinya menghadang laju Naruto, Naruto pun memberhentikan langkah kakinya.

"Kenapa kau ini! padahal kau dulu hanyalah seorang pecundang yang sangat mudah untuk aku kalahkan, tapi sekarang kau menjadi Hokage, kenapa bisa!" seru Kiba ditemani anjingnya Akamaru, yang berdiri gagah di sampingnya.

Dengan wajah dingin, Naruto melanjutkan berjalannya, ia menepuk pundak Kiba dan melewatinya begitu saja. "Jika kau menganggapku seorang rival, maka berlatihlah dengan giat dan temui aku jika kau ingin melawanku. Aku akan selalu siap melayanimu." Senyum Naruto tanpa melihat Kiba, Naruto bersikap seperti itu hanya untuk meningkatkan tekad berlatih Kiba dan memberikan dia motivasi.

"Tch, merepotkan, suatu saat aku akan mengalahkanmu. Ingat itu baik-baik, Naruto!"

"Hey? kita berbeda pangkat sekarang, jadi bisakah kau tambahi namaku dengan –sama?" ujar Naruto dengan nada bercanda namun tetap saja wajahnya dingin.

"Jangan bercanda!" teriak Kiba kesal sendiri. ia hanya melihat punggung Naruto dari belakang. 'Yosh sekarang aku jadi tambah bersemangat.'

"Baiklah ayo Akamaru, kita ke sana."

"Gukk!"

Di tempat kedai perayaan sederhana, Sakura dan lainnya sudah berkumpul di sana, mereka juga memesan beberapa makanan untuk dinikmati bersama, nampak Sakura yang berdiri tidak sabar menanti kedatangan Naruto.

"Ke mana dia? Lama sekali.." gumam Sakura kesal sendiri.

"Hey Sakura? Duduklah di sini. Sebentar lagi dia juga akan datang."

"Hmm. Semoga saja."

"Tapi ngomong-ngomong di mana Kiba?" tanya Shino dengan suara datar.

"Aku juga tidak tahu, katanya dia keluar sebentar tadi."

"Huh? Dia itu paling-paling masih tidak terima karena Naruto menjadi Hokage." Sela Tenten menengahi pembicaraan. Dan orang yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Bersama Kiba ia memasuki kedai tersebut.

"Maaf membuat kalian menunggu lama, teman-teman." Ucap Naruto dengan nada rendah, sepertinya dia sangat kelelahan dengan aktivitas barunya menjadi seorang Hokage.

"Akhirnya, orang yang ditunggu datang juga. Duduklah di sini Naruto!"

Naruto pun langsung duduk di sebelah Shikamaru dan Chouji, dan dengan 4 meja yang masing-masing di isi oleh 3-4 orang. Mereka pun mulai memberikan selamat kepada Naruto atas pencapaiannya. Termasuk Neji yang memberinya salam penghormatan.

"Selamat Naruto, kau telah unggul jauh dariku." Ucap Neji sambil menyalami tangan Naruto. Naruto pun menjabat balik tangannya.

"Jangan merendah. Kau masih bisa lebih kuat dariku." Balas Naruto singkat.

"Baiklah, bersulang untuk keberhasilan Naruto!" seru Ino lantang. Semua orang yang berada di situ pun mengangkat gelasnya dan "Bersulang!"

Glek-glek-glek… ahhh!

Semuanya larut dalam kebahagiaan itu, mereka sampai lupa waktu dan bersenda gurau di sana. Tapi kesenangan itu adalah bukti bahwa mereka sangat menghormati akan keberadaan Naruto bukan sebagai Hokage melainkan teman yang dulunya selalu bersama mereka. senyuman dan candaan itu terhias di suatu kedai yang melarutkan malam, semuanya nampak menikmati suasana malam itu. meskipun begitu Naruto tetap dengan wajah dinginnya dan sekali-kali ia membalas sulang jika diajak bersulang.

Sampai seseorang akhirnya mabuk di tempat, gadis berambut pinky terlihat mabuk berat. Dia minum alcohol berlebihan, dia pun langsung mendekati Naruto dan memeluk Naruto dengan tatapan mesum. Semuanya nampak terkejut akan hal itu. dan sepertinya Sakura meminum sake itu karena merasa depresi oleh sikap Naruto.

Naruto terdiam, tangan Sakura melingkari lehernya. "Kenapa kau ini? ha? Kenapa kau tidak peka sedikit saja? di mana sikapmu yang ceria dulu, di mana sikapmu yang selalu memperhatikanku, di saat aku susah dan kesulitan! Ha?! Sekarang Naruto yang dulu kukenal telah hilang, digantikan olehmu!" sambil menujuk dada Naruto dengan jari telunjuk.

Semua orang yang berada di situ hanya menyaksikan kejadian itu dengan bengong.

"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi sikap dinginmu itu, bagaimana bisa aku! Huh? Dasar bodoh! Aku benar-benar telah jatuh cinta kepadamu, sekarang kau telah menjadi Hokage, dan pastinya para wanita banyak yang suka denganmu, dan lagi kau pemuda yang tampan dengan gelar Hokage pasti kau bangga bukan? karena banyak yang suka denganmu? Hahh?"

Tanpa tersadar, Sakura telah tertidur di pelukan Naruto. semua orang yang menyaksikan itu hanya terdiam seribu bahasa, sekarang ini hanya suara jangkrik lah yang terdengar di situ.

"Baiklah sepertinya ini sudah malam, kalian bisa kembali pulang, akan aku antar Sakura pulang." ucap Naruto lirih.

Semuanya mengangguk. dan berjalan satu persatu keluar dari kedai.

"Neji?" panggil Naruto. Neji yang berada diurutan paling belakang pun menoleh ke arah Naruto.

"Ada apa?"

"Besok temui aku di tenda Hokage, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu."

"Aku mengerti." Dan akhirnya semuanya telah pergi dari tempat itu, meninggalkan Naruto dan Sakura berdua.

Dipelukan itu, Sakura tidak henti-hentinya mengigaukan nama Naruto. Naruto mengelus-elus rambut pinky Sakura. "Mencintaiku kah?"

To be continue

Chapter 14 END

Sempatkan beberapa detik untuk mereview ya. biar saya semangat dalam mengerjakan fict ini. insyaallah fict ini bisa saya tamatkan, terima kasih sudah membaca .. ^^

see you next week!

Yoshino Tada