.

Hoping For More Good Days

(cause You Never Walk Alone)

.

Chapter I

-Danger-

.

.

/`dānjər/

"the possibility of suffering harm or injury"

.

.

.

Kota kelabu. Jalanan aspal yang basah dipenuhi genangan air disisinya. Memantulkan bayangan awan kelam, menghiasi langit seolah tengah bersedih. Rintik hujan kini sudah tak memenuhi udara, hanya menyisakan hawa dingin menusuk tulang. Dewa angin yang bersenandung di kesunyian sore membelai pepohonan yang kesepian. Menyanyikan lagu indah penenang jiwa yang ketakutan. Mengucap mantra-mantra ajaib kepada yang mendengarnya. Menghembuskan suara-suara penghilang kekhawatiran.

Hujan telah berhenti,

tetapi sepasang mata indah itu masih mengintip dibalik jendela. Memandangi payung-payung yang masih tampak gelisah. Berlalu lalang di jalanan licin. Lelaki berkemeja soft blue itu seolah tengah melihat kehidupannya, masa depannya. Perasaannya pasrah ditemani aroma antiseptik yang membuatnya muak tetapi begitu bersemangat untuk berlari sejauh mungkin, melarikan diri.

"Sudah minum obatnya?"

Mata sayu itu masih setia memandang jauh ke luar jendela, mengabaikan suara lembut lelaki yang lebih tua darinya itu, sama sekali tak tertarik untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya membosankan. Kata-kata yang sama di lontarkan berulangkali, bermakna kasih sayang tulus, begitu manis tetapi menyedihkan, tampak sangat kuat tapi sebenarnya lemah, nada kekhawatiran.

"Dongsaengku yang manis, aku yakin kau tak akan menolak ini"

Suara air yang dituang dalam wadah kaca, sedikit membuat lelaki itu penasaran. Dentingan sendok yang berputar searah jarum jam menambah rasa ingin tahunya. Kepulan uap dari gelas kaca bening menghalau cepat aroma obat di sekitar lelaki yang tengah duduk di ranjang rumah sakit itu. Sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas, tanpa melihat pun ia cukup tahu apa yang ada di balik punggungnya.

Coklat panas,

obat termanjur yang hanya ada di dunianya. Punggungnya mulai bergerak untuk menoleh, memandang lemari kecil disamping ranjangnya, segelas minuman favoritnya, dan potongan buah apel. Lalu manik matanya bergerak menatap lelaki bersweater soft pink yang tengah berberes, melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam sebuah tas berukuran sedang. Melihat hal itu, otaknya segera dipenuhi oleh prasangka-prasangka, berpikir ia akan mendapatkan sebuah hadiah, mengharapkan keinginannya terkabul.

"Hari ini aku sudah boleh pulang?"

Pertanyaan bernada ceria itu menginterupsi sang lelaki tinggi berwajah cantik yang baru saja selesai berbenah, ia berjalan mendekat ke sisi ranjang dan mengambil piring berisi buah apel. Tubuhnya kini duduk dihadapan lelaki berkulit tan itu, tangannya yang berisi potongan buah telah tepat berada di depan bibir pucat dan kering itu "jangan hanya minum coklatnya, kau juga butuh buah agar kulitmu tidak kering dan agar kau selalu sehat"

"Aku akan pulang sekarang?" Lelaki itu kembali bertanya dengan sedikit tidak sabar kali ini, mulutnya yang penuh dengan buah siap meracau kembali jika tak mendapat jawaban lagi

"Habiskan buahnya, aku takut tak ada yang menginginkanmu menjadi pacar karena kulitmu yang kering" tak menjawab pertanyaan yang terlontar, lelaki itu sekarang sibuk membalas pesan di ponselnya

"Aku tak mengharapkan kekasih sama sekali" dengan gerakan sedikit kasar lelaki yang berstatus sebagai pasien rumah sakit terkenal di Seoul itu merebut piring berisi potongan buah dan dengan cepat melahapnya.

"Heyy, pelan pelan Tae-ya"

Namja itu memdengus ketika piring itu di rebut kembali.

"Ayolah Tae, apa yang salah dengan memiliki kekasih"

"Tidak ada yang salah tapi pada akhirnya aku akan meninggalkan bekas luka jika aku benar-benar memiliki seseorang yang begitu mencintaiku" wajahnya terlihat sendu tetapi senyum remeh itu seolah menandakan ia baik-baik saja.

"Dasar berandal" tangannya mengacak rambut si lelaki yang berstatus sebagai pasien itu sebelum berjalan menuju pintu keluar

"Jin hyung. . ." terdapat nada putus asa dalam suara beratnya

"Hyung mu akan tiba 20 menit lagi, kau akan pulang" ucapnya final

.

.

.

.

.

.

.

Berandal.

Yang ia tahu manusia bernama Kim Taehyung itu adalah seorang trouble maker. Gangster kampus, suka berkelahi, tak takut dengan siapapun, dan satu hal lagi jangan pernah menantang ataupun berurusan dengannya jika tak ingin berakhir di rumah sakit dengan keadaan patah tulang, atau yang terparah adalah tidur panjang yang tak menentu, koma. Dari desas desus yang ia dengar, Kim Taehyung seorang penyendiri dan tak ada yang berani mengajaknya berteman. Tapi ada satu hal yang benar-benar ingin ia ketahui, apakah benar Kim Taehyung merupakan mahasiswa—

"Semakin tinggi kecepatan fluida maka tekanannya akan mengecil. Dengan demikian akan terjadi perbedaan tekanan antara udara bagian bawah dan atas sayap, hal ini yang menciptakan gaya angkat"

Penjelasan lelaki yang duduk di bangku paling belakang itu begitu mantap ketika diminta Professor Choi menerangkan Prinsip Bernoulli. Suaranya yang berat terdengar tegas dan percaya diri. Semua hanya bisa mendengar dengan telinga terbuka lebar, tak berani menyanggah. Seolah setiap kalimatnya adalah sesuatu yang benar dan begitu jelas, mutlak. Dan ia tahu hanya ada dua hal di dalam otak para audiens yang mendengarkannya, pertama mereka benar-benar mengerti arti dari untaian kalimat tersebut, kedua mereka sama sekali tak tahu artinya dan datang agar absensi mereka terlihat bersih.

"Jika perbedaan tekanan, lalu bagaimana dengan hukum Newton 3, prinsip perubahan momentum manakala udara dibelokkan oleh bagian bawah sayap pesawat. Dari prinsip aksi reaksi, muncul gaya pada bagian bawah sayap yang besarnya sama dengan gaya yang diberikan sayap untuk membelokkan udara"

Lelaki bersurai orange 'Kim Taehyung' mencebik kesunyian ruang kelas dengan derit kursi yang digeser kebelakang. Ia menegakkan tubuhnya, lalu tatapannya tertuju pada seorang yang baru saja melemparkan pertanyaan. Pandangannya bertemu dengan lelaki bermata bulat itu, si pemilik suara indah yang baru ia dengar hari ini. Matanya mencoba menelisik isi dari kepala lelaki yang duduk di barisan belakang yang sama dengannya tetapi dipisahkan oleh tiga meja. Ia menatap lelaki yang menyanggahnya barusan. Mulutnya mulai terbuka, perlahan lidahnya bergerak membasahi bibir yang tampak kering, dan entah mengapa tatapan tajamnya dengan gerakanan yang terkesan sensual itu membuat seseorang seolah terhipnotis. Mata itu seakan memerangkapnya, pendengarannya ditulikan, otaknya seketika kosong,

he's fucking hot,

hanya kata itu yang ada dipikirkannya saat ini, dan ketika suara lelaki itu terdengar lagi, nyawanya seakan kembali.

"Disinilah kuncinya, bentuk sayap yang sedemikian rupa membuat udara yang mengalir di atas 'diarahkan' sehingga secara umum lebih banyak udara yang dihembuskan ke arah bawah. Dari fakta ini, sesuai hukum Newton 3, dengan adanya udara yang dihembuskan ke bawah oleh sayap, udara di bawah pesawat akan 'balas mendorong' pesawat'"

—jenius. Kim Taehyung adalah berandal jenius. Dibalik semua aura negatif yang mengelilinginya, cerita mengerikan mengenai dirinya, tatapannya yang seperti elang, begitu tajam dan siap memangsa buruannya. Gerakannya terlihat begitu sensual, ia benar-benar bukan berandal biasa, otaknya yang tak sesuai dengan penampilan luarnya, membuat seseorang sadar mengenai fakta bahwa 'Kim Taehyung' adalah si berandal jenius , benar adanya. Mengenai lelaki berambut orange yang tercatat sebagai pemegang indeks prestasi tertinggi di Fakultas Teknik bukan sekedar berita bohong yang di siarkan di telivisi kampus. Detik itu juga mahasiswa pemilik suara indah itu memutuskan secara sepihak , Kim Taehyung resmi menjadi rivalnya.

"Apa anda sudah mengerti?"

Suara serak dan dalam itu membuat seseorang tersentak dari pemikirannya sendiri. Ia mengangguk pelan tetapi matanya masih bisa menangkap seringaian samar dari si berandal itu, dan itu menyebalkan sekali.

Ia menoleh dan menatap lurus ke depan dimana ia menangkap sekilas Profesor Choi memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan sebelum beranjak menuju papan tulis. Tidak, ia tidak melupakan fakta bahwa Profesor Choi seorang kenalan dari si wanita diktator itu, ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus ia sempat melihat wanita itu berbincang dengan sang Profesor.

Kelas begitu tenang semenjak suara seorang Kim Taehyung memenuhi ruang kelas. Entahlah, kenapa semua orang takut padanya, semua cerita mengerikan itu mungkin saja hanya sebuah doktrin yang telah lama tertanam pada otak mereka.

Sementara sang professor menuliskan beberapa kalimat dengan angka yang membingungkan, suara langkah kaki terdengar mendekati bangku yang berada di sampingnya, Kim Taehyung berbisik tapi nadanya terdengar begitu tajam menyuruh pemiliknya bertukar tempat, yang kemudian hanya di tanggapi dengan anggukan dan gerakan cepat dari mahasiswa yang terlihat seperti kutu buku.

"Hei kau"

Lelaki itu tak menoleh, mengabaikan Taehyung dan lebih memilih berkutat dengan tulisan dan angka yang berjejer rapi di papan tulis. Sesekali menunduk untuk menuliskan sesuatu di lembaran kertas dihadapannya.

Taehyung mengerti dengan tak adanya respon dari lawan bicaranya, ia tahu bahwa orang-orang di kampusnya akan memberitahu semua tentangnya, menceritakan cerita mengerikan, menambah sedikit bumbu negatif walaupun terkadang itu hanya bualan belaka, Taehyung tak begitu menghiraukannya sekarang.

"Aku baru melihatmu di kelas ini, anak baru" ada tekanan di kalimat terakhirnya seolah meminta perhatian ketika ia sedang berbicara

Lelaki itu tak pernah menyukai kegaduhan ataupun diganggu di sela-sela kesibukan kecilnya, ia pun menghentikan gerakan pulpen yang telah menggores kertas tebal berwarna putih itu, ia menegakkan kepalanya dan menoleh pada Kim Taehyung.

"Jeon Jungkook, mahasiswa transfer dari Jepang, dan anda Kim . . . stay away from him"

Suara profesor Choi bergema di telinga lelaki bersurai hitam itu, Jeon Jungkook mahasiswa yang menyanggah Kim Taehyung beberapa menit lalu.

Dan Kim Taehyung tersenyum mengolok padanya.

.

.

.

.

Jungkook melangkah sambil menendang kerikil-kerikil yang menghalangi jalannya. Lelaki itu tampak tak bersemangat sejak keluar dari ruangan profesor Choi. Tak ada hal penting mengenai perkuliahan yang di disampaikan padanya. Absensinya bersih. Keaktifan di kelas sangat bagus. Dalam perkuliahan ia begitu fokus, deretan kalimat itulah yang beberapa menit lalu masuk ketelinganya. Professor juga memberikan sambutan, mengucapkan selamat, lalu beberapa kalimat menyemangati yang menurut Jungkook lebih seperti memperingatkan. Jungkook selalu membenci hal tersebut. Dia benci berada disana. Dia benci berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Dia benci sendirian. Dia benci tak bisa berinteraksi dengan banyak orang. Dia benci tak memiliki teman. Dia benci diawasi dari segala hal.

Dia—

"Selamat datang di Seoul National University, Jungkook, bagaimana perasaanmu setelah dua minggu disini"

"Baik"

"Baik? Apa kau merasa tidak senang di kelasmu?"

"Aku senang"

"Good, dan Jungkook aku hanya ingin mengingatkan tetaplah fokus"

"Maksud anda Prof?"

"Abaikan Kim Taehyung, jangan menatapnya, jangan berbicara, bertanya atau menyanggahnya, berusahalah untuk tidak terlibat dengannya"

"Apa ada yang salah dengannya?"

"Dia terlalu jenius dan terlalu buruk hanya untuk menjadi teman bahkan teman sekelasmu, he's not your level, dan Jungkook ingatlah kata-kataku"

—benci wanita yang melahirkannya.

Sebuah kaleng soda membuatnya berhenti melangkah. Menatapnya cukup lama sebelum—

"Ugh. . ."

—menendangnya dengan kaki kiri.

Jungkook menatap seseorang yang tengah mengusap kepala bagian belakangnya,

kaleng soda yang tepat mengenai si berandal, dia tak perlu menebak seseorang disana , dari warna rambutnya saja sudah dapat ia kenali 'the one and only, orange hair'. Jungkook masih bergeming ketika lelaki itu memutar tubuhnya perlahan dan mendapati Jungkook dengan wajah seolah menunjukkan tak terjadi apapun beberapa detik sebelumnya. Jungkook bisa merasakan manik mata itu menatapnya. Tatapan itu, ia tak bisa mengartikannya, tatapannya begitu tajam tapi tak menimbulkan ketakutan dalam dirinya. Namun ketika sebuah mobil tepat berhenti di depan gerbang universitas, matanya beralih dari sang lelaki berandal itu. Seorang berpakaian rapi lengkap dengan jas hitam yang dipadu dengan celana panjang yang senada keluar dari Jaguar F-Pace keluaran terbaru itu.

"Tuan Jeon"

Jungkook tak menjawab, ia kembali menatap lelaki berandal itu.

"Tuan Jeon Jungkook"

Jungkook segera berjalan ke arah lelaki berseragam hitam yang telah membukakannya pintu, seolah menunggu sang pangeran masuk ke dalam kereta kudanya.

"Such a prince— " Taehyung seolah tengah berbisik tetapi suaranya dapat di tangkap jelas oleh Jungkook dan ia tak begitu suka dengan sebutan itu.

"—or princess" lanjut Taehyung ketika pintu mobil itu sudah tertutup sempurna dan meninggalkannya sendiri di gerbang universitas.

Jungkook mencoba memandang kaca spion yang tergantung di depan, dan sosok berandal itu tengah melambaikan tangannya dengan seringaiannya yang terlihat khas, mendapati hal itu Jungkook segera mengalihkan pandangannya pada jalanan.

"Anda baik-baik saja tuan?"

"Ya, aku baik-baik saja"

"Apa pria tadi mengganggu anda?"

Jungkook tak langsung memberi jawaban, ia berpikir sejenak, ada satu hal yang membuatnya sedikit ragu mengatakannya. Ia merasa terganggu dengan Taehyung tetapi ia tahu persis lelaki itu tak melakukan apapun padanya.

"Baiklah mungkin saya akan coba hubungi. . ."

"Jangan, maksudku. . . dia salah satu teman sekelasku"

Teman sekelas yang ia tetapkan sebagai rivalnya, dan tanpa ia ketahui sudah membuat kerja otaknya menurun, sejak kapan ia memuji rivalnya seolah memuja dewa dengan berkata bahwa berandal itu 'hot as fuck'. Tidak, Jungkook tak akan melupakan jika lelaki itu adalah rivalnya, ia akan selalu mengingatnya, jika perlu ia akan mengetiknya di note iphone nya.

"Maaf tuan bukannya saya ingin menasehati tetapi. . ."

"Aku tak peduli style sok gangsternya itu, aku tak takut padanya lagipula dia tak mengusikku sama sekali, kau cukup tau aku Manajer Oh, aku tak punya siapapun selain kau jadi berhentilah bersikap seolah kau anjingnya wanita itu"

"Kalau nyonya besar mendengarnya. . ."

"Dia tidak akan tahu kecuali kau mengatakannya"

.

.

.

.

.

.

.

Taehyung membuka pintu besar tinggi berwarna putih dengan ukiran yang terlihat begitu elegan, seseorang menyebutnya 'gerbang menuju surga' siapa lagi kalau bukan sahabat dari hyungnya. Perlahan ia melangkah agar tak menimbulkan suara gaduh di dalam rumahnya yang sudah tak di terangi cahaya bertanda siapapun sudah masuk dalam alam mimpi. Ia melepas sneaker putih Puma nya sebelum menaiki tangga. Tepat pada anak tangga pertama suara seorang lelaki membuatnya sedikit terkejut.

"Darimana saja kau Kim Taehyung, selarut ini baru berada di rumah?"

Taehyung berbalik untuk menatap lelaki itu dibawah minimnya cahaya "Hyung kita bicara besok saja ya, aku ingin istirahat"

Lelaki itu tak menghiraukan Taehyung, ia berjalan menuju tangga dan menarik pergelangan tangan Taehyung lembut. Ia berjalan hingga tepat berada di depan pintu sebuah kamar, lalu menarik kenopnya hingga memperlihatkan isi dari ruangan tersebut.

"Mulai sekarang ini kamarmu, dekorasinya masih seperti sebelumnya, aku sudah memindahkan semuanya tanpa kecuali, kau bisa mengeceknya jika mau, semua koleksi komikmu masih utuh"

Lelaki itu melepas tangannya dari Taehyung lalu berbalik meninggalkan adik lelakinya itu sendirian.

"Hyung. . . ." ada nada kesal dalam suaranya

"Istirahatlah ini sudah larut"

"Ya! Kim Namjoon" Taehyung berteriak di tengah kesunyian malam

Lelaki itu berhenti tapi enggan untuk menatap Taehyung.

"Apa aku terlihat selemah ini hingga kau melakukannya tanpa memberitahuku terlebih dahulu?"

Namjoon memutuskan untuk tidak menjawab, ia kembali berjalan untuk menaiki anak tangga.

"Aku mohon jawab aku" Taehyung ingin sekali meninju wajah Namjoon yang sama sekali tak menghiraukannya.

"Aku melakukannya untuk kebaikanmu"

"Tapi kau melakukannya tanpa seijinku"

"Kim Taehyung berhentilah bersikap kekanakan, kau sudah dewasa, apa aku harus selalu memberitahukan apa yang terbaik dan tidak untukmu, mengertilah aku melakukannya dengan pertimbangan, bukan tanpa alasan, ini hanya masalah kamar, okay? Jangan membuat seolah ini hal besar"

"Benar, kau selalu benar hyung dan aku tidak"

Namjoon tak pernah menyukai Taehyung berkata seperti itu setiap kali mereka berargumen. Namjoon memijat pelipisnya berusaha meredam emosi tetapi kali ini ia meledak.

"Kau ingin aku menjawab pertanyaanmu tadi?, baik, ingatlah Taehyung kau tidak lemah tapi sekarat"

Taehyung hanya tersenyum pilu ketika Namjoon telah menaiki anak tangga menuju kamarnya.

.

.

.

.

.

.

.

Kelas hari ini berakhir lebih cepat dan Jungkook memutuskan untuk berjalan mengitari area kampus yang belum pernah ia jangkau. Cafe, taman, perpustakaan, tempat gym, kolam renang adalah tempat yang cukup sering ia singgahi di kampus. Satu tempat yang sangat menarik perhatiannya ia coba untuk abaikan walaupun hatinya terus berkata untuk mengunjunginya hanya sekali, satu kali dan itu tak akan masalah.

Jungkook mengangguk lucu di depan sebuah pintu, mencoba memantapkan hatinya sebelum jemarinya meraih kenop pintu dengan tulisan 'Music Room' di atasnya "Okay, hanya sekali Jeon Jungkook, sekali" tekannya pada dirinya yang tengah bergumam

Ia memutar jemarinya di atas ganggang besi itu lalu memberi sedikit dorongan hingga udara di dalamnya berhembus keluar seolah menyambut kedatangan Jungkook. Ia tersenyum kecil ketika hazelnya menangkap beberapa alat musik disana. Sebuah piano berwarna hitam membuat matanya berbinar dan tanpa ia sadari dirinya sudah melangkah mendekat. Ia duduk di depan piano sambil melihat ke sekelilingnya. Sepi, tak ada orang di dalam ruangan tersebut, bahkan mahasiswa disana hanya berlalu lalang mengabaikan ruangan dimana ia berada. Begitu lebih baik menurutnya.

Ia menarik napasnya sekali lalu menghembuskannya, matanya kini memandangi tuts-tuts piano "well, hanya sekali dan aku tidak akan kembali ke sini"

Ia tersenyum ketika jemari panjangnya mulai menyentuh tuts-tuts piano tersebut sehingga menghasilkan suara indah. Tangannya mulai menari dengan lincahnya disana, nada-nada yang tercipta seolah ikut bersemangat menyanyikan sebuah lagu. Jungkook begitu bersemangat hingga ia mengabaikan getaran ponselnya untuk beberapa saat. Ketika menyadari hal yang dilakukannya adalah salah ia segera meraih ponsel di dalam saku mantelnya, nama Manajer Oh terpampang di layar ponselnya, ia mendengus kesal dan memilih tak menjawab panggilan tersebut.

Jungkook merasa enggan meninggalkan ruang musik tapi ia tak ingin membuat masalah untuk manajer Oh yang sudah menunggunya di depan gerbang kampus. Ia meraih ransel yang ia letakkan sembarangan dengan sebuah kotak hitam yang tampak lecet lebih tepatnya rusak karena penyangga untuk mengunci kotak tersebut terlepas.

"Jika saja aku tak menemukanmu, mungkin aku tidak disini sekarang, but thanks" ucap Jungkook sambil menepuk-nepuk kotak tersebut

Sebenarnya Jungkook tidak mengetahui pemilik kotak hitam yang ia temukan tergeletak di samping salah satu gedung di kampusnya. Ketika menemukannya ia melirik ke atas, sepertinya seseorang telah melempar benda tersebut ke bawah, dengan sengaja?. Jungkook merasa penasaran mungkin saja pemiliknya masih berada di ruangan tersebut dan ia akan mengembalikannya. Ketika menuju ruangan yang menurutnya adalah tempat dari benda itu jatuh, detik itu juga ia merasa menyesal menemukan benda tersebut. Bukan, seharusnya ia membiarkannya atau memberikannya pada security kampus dan tak mencari tahu apapun tentang hal yang berhubungan dengan benda tersebut.

Jungkook melangkahkan kakinya menuju pintu, ia masih ingin tinggal dan menyanyikan beberapa lagu. Tetapi ia berpikir jika ia melakukannya bisa-bisa ia akan kembali lagi besok, lusa atau di hari berikutnya ke ruangan yang seharusnya sudah ia jadikan larangan untuk dimasuki.

Jungkook membawa kotak berukuran sedang itu dalam dekapannya, dan hal tersebut membuat manajer Oh geleng-geleng kepala ketika melihatnya. Jungkook hanya bisa tersenyum ketika sekali lagi menemukan dirinya telah membuat manajer Oh pusing.

"Maaf manajer Oh tadi ada sesuatu yang harus aku lakukan"

Jungkook masuk ke dalam mobilnya dan menaruh kotak tersebut disampingnya.

"Manajer Oh, kau tahu kan harus bagaimana?, dan nanti aku ingin kau membantuku memperbaiki kotak ini"

"Menutup mulutku dan tentu saja aku akan membantu anda tuan" ucap manajer Oh lalu tangannya beralih untuk menstarter mobil yang ia kemudikan

"Tunggu, stop!"

Ketika mobil itu sudah siap melaju, Jungkook menghentikannya dan manajer Oh melakukan apa yang Jungkook perintahkan.

"Sepertinya aku meninggalkan buku tugasku di kelas, kau tunggu sebentar aku akan segera kembali"

Jungkook melangkah keluar dari mobilnya dan berlari kembali ke dalam kampus. Ia mempercepat langkahnya memasuki gedung menuju kelasnya. Ia menekan tombol 7 pada lift yang ia naiki. Setelah pintu lift terbuka, ia segera berlari ke ruangan dimana kelas terakhir berada. Langkahnya terhenti di ambang pintu ketika melihat berandal berambut orange itu tengah duduk sendirian di kelas sambil meremas rambutnya frustasi. Bukankah ia bolos di kelas terakhir, kenapa berandal itu ada di sini sekarang. Tak menghiraukan si berandal itu ia berjalan ke kursi dimana ia tempati tadi.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Suara berat Kim Taehyung menghentikan pergerakan Jungkook, tetapi Jungkook lebih memilih diam. Ia sedikit bingung ketika benda yang di cari nya tak ditemukan. Ia bergerak mengitari kelas dan hanya mendapat pandangan aneh dari Taehyung. Ia merunduk dan merangkak di lantai, ia berharap benda yang ia cari tidak hilang atau di ambil seseorang tetapi jatuh di lantai.

Sial, dia tidak menemukannya. Ia segera berjalan keluar mungkin ia meninggalkan benda tersebut di kelas sebelumnya atau ruang terakhir yang ia kunjungi.

"Hei, kau mencari ini?"

Jungkook berhenti dan melirik wajah Taehyung. Sudah pasti berkelahi ucapnya dalam hati ketika melihat noda merah keunguan di pelipis dan ujung bibirnya sedikit berdarah. Kemejanya tampak kusut dan kehilangan kancing hingga mengekspose sedikit bagian tubuhnya.

"Apa yang kau lihat hah?" Ucap Taehyung yang mendapati Jungkook seperti tidak fokus dengan pembicaraannya

Jungkook segera berjalan mendekati Taehyung yang tengah mengibas-ngibaskan sebuah buku bersampul hitam di udara. Tangannya mencoba meraih tetapi Taehyung segera menyimpannya di belakang tubuhnya.

"Itu milikku"

"Lalu?"

"Jangan seenaknya mengambil milik seseorang"

"Mengambil, aku tak mengambilnya"

"Kembalikan"

"Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun?"

Jungkook terdiam dengan ucapan lelaki itu, apa maksudnya ia tak mengerti.

"Aku akan mengingatkanmu, pertama apa kau mengucapkan terima kasih ketika aku menjelaskan pertanyaan yang kau ajukan di kelas waktu itu, kedua apa kau tidak sadar kau telah menendang kaleng soda dan mengenai kepalaku, kau hanya berlalu tanpa meminta maaf seolah tidak terjadi apa-apa, ketiga baru saja kau menuduhku mengambil milikmu, aku kira kau mahasiswa jenius yang seperti mereka bicarakan, ternyata kau sama saja dengan preman-preman di persimpangan jalan"

Jungkook tak menerima dirinya yang disamakan dengan 'preman di persimpangan jalan' seperti Taehyung sebutkan.

"Apa aku harus bersikap sopan pada seseorang seperti dirimu? Seorang berandal kampus"

Taehyung tersenyum remeh "Kau tak mengenalku Jeon Jungkook, jadi berhati-hatilah jika kau berbicara"

Taehyung mengeluarkan tangannya yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya, memandang sekilas pada buku yang sempat ia baca sesaat sebelum Jungkook menghampiri kelas. Matanya kembali menatap Jungkook.

"Club musik sangat cocok denganmu"

Taehyung menyerahkan buku yang berada ditanganinya tersebut pada Jungkook, ia tersenyum, kali ini terlihat berbeda dimata Jungkook, tidak ada seringaian atau senyuman mengolok.

"Bagaimana kau bisa ceroboh pada sesuatu paling berharga seperti ini"

Taehyung mengacak surai Jungkook dan berlalu meninggalkan lelaki itu dalam persepsi yang ambigu.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Annyeong Yeorobun :D

I back with first chapter, anyway thank for your attention and support to this fanfiction 'Hoping For More Good Days (cause You Never Walk Alone)', I will give my best here, the reviews will help me more. Sorry buat para reader karena aku gk bisa update cepet :( .

Whoaa MV Spring Day bikin aku gk bisa berkata kata, dan Not Today MV bakal release next week . . I'm sure it will be great MV like bangtan always did before :D,

dan sayang banget aku cuma bisa beli album YNWA left version doang dan harus nabung dengan segala godaan . . . lagi huaaaaa (maafkan aku yang hanya bisa curhat disini)

I hope you enjoy this new one, see you soon ;D.