Yo
Bertemu lagi dengan saya, terima kasih karena sebelumnya sudah mereview cerita ini, aku hargai review kalian sebesar-besarnya... untuk membalas review kalian, Chapter 15 update, selamat membaca, maaf telat update... xD
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre –Mystery/Adventure
Power of White © Yoshino Tada
Power of White ..
Chapter 15
ANBU
'Suasana pada malam hari itu, semakin senyap ketika tubuh hangatnya memeluk lembut tubuhku, dekapan itu begitu hangat membuatku ingin jatuh semakin dalam ke pelukannya. Tapi pandanganku terhadap gadis ini hanya perasaan biasa, bagiku dia hanyalah gadis…. yang selalu mencintai teman dekatku.'
Suara jangkrik berderik, serangga-serangga yang berkumpul dan mengelilingi lampu-lampu kecil, dan penunggu kedai yang masih berjaga di tengah malam, nuansa tenang yang sukar ditemui di mana pun. Naruto dan Sakura masih terduduk di salah satu lesehan yang terdapat di sana. Gadis yang baru saja mabuk berat itu, masih mendenguskan nafasnya di dada gagah sang Hokage ke enam, sambil tertidur pulas, ia terus memanggil nama Uzumaki Naruto.
Seseorang berjalan mendatangi mereka, "Hokage-sama, mohan maaf desu… saya akan tutup sebentar lagi." ucap penjaga kedai lirih. Ia meminta agar Hokage meninggalkan kedai miliknya tentu saja dengan kata-kata sopan.
"Aku mengerti, baiklah permisi." Jawab Naruto seraya menggendong tubuh Sakura. Lalu pemuda berambut putih itu keluar dari kedai tersebut.
Krik-Krik-Krik
Suara hewan-hewan malam menemani perjalanan Naruto untuk mengantar Sakura ke rumahnya. Langkah kakinya yang tidak begitu terdengar, menghasilkan suasana sepi di malam larut itu tetap terjaga. Bulan purnama yang menyinari Konohagakure, terus menerangi rumah-rumah yang telah terbangun di sepanjang desa. Dini hari, waktu esok hari telah tiba… namun tanda-tandanya belum terlihat.
Gadis berambut merah muda itu, meletakkan wajahnya dengan posisi senyaman mungkin di bahu Naruto, wajah mereka sejajar, lalu hidung Sakura mengendus-ngendus. Bau yang sangat wangi ia cium…
"Bau ini?" batin Sakura dengan mata yang sayu, penglihatannya masih samar-samar. Naruto menyadari bahwa Sakura telah tersadar, namun dia pura-pura tidak tahu dan tetap berjalan sambil menggendong Sakura.
'Rambut putih Naruto, baunya sungguh enak… apakah dia memakai sesuatu?' pikir Sakura dengan wajah penasaran. Namun masa bodoh akan hal itu, digendong oleh Naruto adalah sesuatu yang spesial baginya, dan sekarang ini adalah moment-moment spesial. 'Begitu nyaman, sampai aku ingin di sini selamanya hmmmh'
Naruto berjalan selangkah demi selangkah, tidak jauh lagi mereka akan tiba di rumah Sakura. Hanya beberapa meter saja. lampu teras yang menyala, menyambut kedatangan mereka berdua, kini mereka berdua telah berdiri di depan pintu rumah Sakura.
Tok tok tok
Ayah dan Ibu Sakura adalah orang kaya, sehingga mereka telah membangun rumah terlebih dahulu dengan sisa tabungan mereka. rumah yang besar namun nampak sederhana. Gagang pintu pun terputar dari dalam rumah, kemudian seseorang terlihat di sana.
"Sakura? Dan… Hokage-sama! ayah-ayah!, Sakura diantar oleh Hokage-sama!"
"Apa ibu bilang? Heh benar? Aku masih tidak percaya ini -Sebuah penghormatan anak kami bisa diantar oleh anda, Hokage-sama?"
"Bisakah aku masuk? Di mana kamarnya?"
"Tentu saja… ikuti saya.." jawab Hebuki sambil menuntun Naruto ke kamar Sakura. Lalu Naruto berjalan masuk ke dalam rumah untuk menuju kamar Sakura.
Sesampai di tempat, Naruto menidurkan Sakura di ranjang dengan penuh hati-hati. Terlalu lembut untuk seorang pembunuh berdarah dingin. Setelah dirasa cukup, ia bergegas untuk kembali ke tenda Hokage karena ada urusan yang sangat penting. Belum sempat berbalik badan, tangan Naruto langsung digenggam oleh Sakura.
Naruto menoleh ke arah wajah Sakura, terlihat wajahnya yang memerah. Matanya berkaca-kaca seperti ingin meneteskan air mata.
"Jangan pergi, Naruto." pinta Sakura manja.
"Kau tau Sakura? Jika dua orang yang berbeda jenis kelamin ada di satu kamar, maka satu orang lagi akan terlahir di sana, entah dengan proses seperti apa… kuharap kau mengerti, lagipula ada sesuatu yang harus aku lakukan. Besok aku harus bekerja kembali,"
Sakura terdiam, mata aquamarinenya terus menatap mata sharingan Naruto, mata yang benar-benar memiliki tatapan yang sangat dingin. Tanpa bercuap lagi, Naruto meninggalkan kamar itu. suara pintu kamar tertutup dan Hokage itu telah berjalan pergi meninggalkan Sakura sendirian.
"Baka."
Naruto menuruni tangga dan melewati ruang tengah di sana, ia melihat orang tua Sakura yang sedang asyik mengobrol.
"Hokage-sama? apakah anda mau menyempatkan diri untuk minum teh hangat di sini, saya tahu anda pasti kelelahan bukan? mengurus pekerjaan-pekerjaan sebagai pemimpin desa dengan situasi yang sekarang ini." pinta Ibu Sakura sambil mendekati Naruto yang masih berdiri.
Naruto menggelengkan kepalanya. "Terima kasih atas ajakan kalian, tapi ada tugas penting yang harus aku lakukan.."
"Ohh.. kami minta maaf sekali"
"Baiklah, saya permisi dulu..."
"Iya Hokage-sama, terima kasih sudah mengantarkan anak kami." Pintu rumah Sakura pun tertutup kembali, secuil cerita mengenai penggalan hidup dan riwayat keluarga Haruno, baru pertama kali mereka menerima tamu seorang sepenting ini. Hokage ke enam baru saja berkunjung ke rumah mereka, dan mengantarkan anak tunggal mereka.
"Yang berarti! Mereka akan segera menikah yes!" seru orang tua itu kegirangan, tampaknya mereka salah mengartikan situasi. . . . .
Naruto telah sampai di tenda Hokage, betapa terkejutnya dia ketika seseorang telah singgah di sana untuk sementara. "Sai?" ucap Naruto lirih. Pemuda berambut hitam lurus telah berdiri di sana menunggu kedatangannya.
"Lama sekali, Hokage-sama" Lalu Naruto berjalan melewati Sai dan duduk di kursinya. "Malam-malam seperti ini, ada apa sampai repot-repot ke sini?" tanya Naruto dengan ekspresi dingin, malam itu angin cukup kencang, sehingga kain dari tenda-tenda bergetar.
"Ada yang ingin kuberitahukan kepadamu Naruto, entah mengapa ini benar-benar mengangguku, kakiku tidak henti-hentinya ingin bergerak dan mulutku tidak sabar untuk segera ingin memberikan informasi penting ini kepadamu sebagai rekan dan temanmu." Ucap Sai tenang.
"Informasi apa yang ingin kau beritahukan kepadaku?" tanya Naruto yang ingin tahu pokok permasalahan tersebut.
"Danzo-sama sedang merencanakan pemberontakan besar-besaran.." tambah Sai menunda perkataannya. Wajahnya cukup serius, seperti bukan Sai yang biasanya.
"Sudah kuduga dia akan segera bertindak, kakek tua tidak bermata itu, benar-benar haus akan gelar Hokage…."
"Kau harus hati-hati Naruto. pemberontakan ini melibatkan sejumlah pasukan pondasi, sepertinya mereka akan mengerahkan kekuatan penuh untuk menghancurkan desa." Naruto masih melihat Sai dengan sorot yang dingin, meskipun informasi berbahaya itu keluar dari mulut Sai. Ia tidak takut sama sekali bahkan dirinya tetap tenang menghadapi situasi tersebut.
"Dan-" belum sempat meneruskan perkataannya, sebuah kunai menembus kain tenda dan mengarah langsung ke punggung Sai, tapi dengan cepat sang Hokage telah berdiri di belakang Sai menghalangi kunai itu dan memegangnya dengan erat.
Sai terhenyak, kunai yang melesat kencang itu telah terpatahkan oleh tangan Naruto. 'Cepat sekali..' batin Sai terkagum.
"Sepertinya ada seseorang yang membuntutimu, aku yakin mereka adalah suruhan Danzo, Sai? kau kurang waspada, sebagai rekanku ketika masih di team Kakashi-sensei seharusnya kau tau resiko ini…" ujar Naruto tenang, ia memperingatkan akan bahanya dirinya atas keterlibatan dengan pihak Danzo.
"Maafkan aku."
"Aku yakin, kau pasti diperintahkan untuk memilih antara memihak pondasi atau Konoha, benarkan?"
"Benar.. dan aku belum menjawabnya, ketika aku sudah keluar dari markas pondasi, aku juga merasa diikuti beberapa orang pondasi sampai aku tiba di sini, mungkin saja mereka telah pergi dari sekitar sini, setelah mengetahui bahwa aku adalah temanmu, teman seorang Hokage.."
Naruto tersenyum tipis.
"Jadi kau akan memihak mana? Pondasi atas nama Danzo atau Konoha tempat di mana kedamaian dan ketentraman akan selalu ada di sini."
"Tentu saja, aku akan memihak Konoha." Jawab Sai tegas. Naruto pun menepuk pundak Sai. "Bagus.." ucapnya sambil berjalan menuju kursinya lagi. Naruto pun memilah-milah berkas-berkasnya yang belum terselesaikan semuanya, ia kembali membubuhkan tanda tangannya di kertas-kertas itu.
"Kau tidak pulang, Naruto?" tanya Sai. Ia melihat didiri Naruto bahwa Naruto terlalu memaksakan dirinya, ia bekerja terlalu keras, dari pagi hingga malam.
"Disaat semuanya tertidur pulas, aku akan tetap siaga di sini. melindungi mereka adalah prioritas yang paling utama." Jawab Naruto kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Tapi, bukankah kau terlalu memaksakan diri, Naruto? kau perlu istirahat untuk memulihkan staminamu. Lagi pula, sejauh ini tidak ada bahaya apapun yang mengancam desa kita." Sai mencoba membujuk Naruto agar istirahat dan pulang ke rumahnya, sebagai teman. Ia cukup khawatir mengenai kondisi Naruto.
"Aku tau posisimu sekarang, dan aku pikir orang-orang yang lain pun tidak akan ingin melihatmu bekerja terlalu keras, besok juga bisa kan?" imbuhnya.
Naruto melepas penanya, lalu ia bangkit dari bangku dan berjalan keluar tenda. "Baiklah, sebaiknya kau juga pulang Sai" kata Naruto sambil keluar dari tenda itu.
"Wakarimasta."
Keesokan harinya.
Matahari terbit dari ufuk timur menggantikan peran bulan yang berjaga semalaman, cahaya matahari menembus melalui celah-celah rumah Naruto. sekarang dia sudah bangkit dari ranjangnya, setelah tidur untuk beberapa jam, ketika tertidur ia mengalami mimpi yang sangat buruk, bahkan itu lebih buruk jika dibandingkan dia mati.
"Aku harap itu tidak akan terjadi.." pemuda berambut putih itu melampah dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk kembali ke tenda Hokage, jubah putih dan setelan baju elastis biru tua diselimuti rompi hijau telah ia kenakan. Membuatnya mirip dengan Yondaime Hokage, hanya saja rambutnya berwarna putih dan matanya sharingan yang membedakannya.
Perjalanan menuju tenda Hokage, seperti biasa masyarakat yang beraktivitas pagi hari menyambutnya dengan senyuman ramah.
"Selamat pagi, Hokage-sama."
"Iya."
"Pagi, Naruto-sama"
"Hmm iya."
"Pagi Naruto Hokage-sama"
Naruto membalas sapaan-sapaan itu sambil berjalan tenang di antara bangunan-bangunan rumah yang hampir jadi. angin pagi menghembuskan rambut putihnya, sehingga jubah Hokage yang ia pakai juga ikut melayang-layang tertiup angin, suasana yang indah dan permai. Berharap semuanya ini akan berlangsung untuk selamanya dan bagi Naruto ini adalah harta karun paling berharga yang sekarang ini dia miliki, melupakan semuanya yang telah terjadi pada masa lalu, membuat dirinya semakin tegar dan kuat dari pada sebelumnya.
Langkah kakinya terhenti ketika melihat Ramen Ichiraku yang telah dibangun kembali, sebuah slogan dengan huruf kanji yang mencolok.
Naruto masuk ke kedai kecil itu, saat masuk ia langsung disambut penuh antusias oleh penjaga kedai ramen dan putrinya. "Hokage-sama?"
"Sepertinya , kita kedatangan tamu spesial kali ini, Naruto Hokage-sama." ujar paman Ichiraku menyambut kedatangan pelanggan yang sudah tak biasa baginya, meskipun demikian. Sepertinya paman itu harus bersikap hormat kepadanya mengingat kali ini, pemuda itu datang dengan gelar yang berbeda.
"1 ramen paman," pinta sang Hokage.
"Siap laksanakan." Jawab paman Ichiraku penuh semangat, ia pun membuatkan Naruto ramen dengan cepat dan spesial, disaat itu juga Naruto terlihat menunggu pesanannya datang sambil memasang wajah dingin.
Rupanya wajah tampan dan dinginnya membuat putri paman Ichiraku kepincut dengannya. 'Apa benar dia Naruto? tapi mengapa dia berbeda sekali dengan yang sebelumnya, yang cerewet, ceroboh, kebanyakan tingkah, kenapa dia berbeda sekali? rasanya-' batin putri paman Ichiraku sembari terus memandang wajah dingin Naruto, sampai ia dibuat salah tingkah ketika Naruto memandang ke arahnya.
Fufufufu…
Wanita itu pun tersipu dan kepalanya mengeluarkan asap bagai kereta uap. Setelah itu semangkok mie ramen spesial buatan paman Ichiraku telah siap, makanan lezat itu telah tersaji di meja, tanpa terlalu lama menuggu, Naruto pun melahap mie itu perlahan-lahan.
. . . . . .
"Ini uangnya paman, terima kasih banyak."
"Ohh, tidak perlu membayar Naruto, ini sebagai bentuk apresiasiku karena kau telah menjadi Hokage dan memimpin desa ini."
"Ambil saja.." Naruto meletakkan uang itu di meja dan meninggalkan kedai tersebut. meninggalkan putri paman Ichiraku di lantai di bawah meja. "Kenapa kau pingsan?" ujar paman Ichiraku terkejut.
'Dia benar-benar keren, Hokage-sama.'
Naruto telah sampai di tenda Hokage, dan ia telah kedatangan seorang tamu yang sudah ia undang malam kemarin, pemuda bermata Byakugan, Neji.
"Neji? aku ada permintaan untukmu, enam hari lagi dari sekarang akan diadakan sebuah pertemuan Kage dari lima Negara besar yang bertempat di desa Samurai, letaknya cukup jauh dari sini, aku ingin kau menjadi pengawalku." Pinta Naruto sambil menatap mata lavender Neji. Neji pun cukup tersanjung oleh tawaran tersebut, dia tersenyum tipis.
"Baiklah. Tapi ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, Naruto-sama?"
"Jangan panggil aku –sama, kita adalah teman"
"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu Naruto?" ucap Neji mengulangi perkataannya.
"Katakan saja."
"Atas dasar apa kau memilihku? Kau tau? masih banyak shinobi yang lebih hebat dariku, seperti Guy-sensei, Kakashi-sensei dan lainnya." Tanya Neji penasaran, dirinya sebetulnya tidak terlalu penasaran, tapi ia bertanya seperti itu untuk tujuan yang berbeda, yaitu membuat Naruto mengakui dirinya.
"Kau dan Kakashi-sensei yang akan menjadi pengawalku nanti, mengesampingkan shinobi lain, aku memilihmu berdasarkan rating misi dan hasil yang telah kau capai di catatan Hokage ke 5, kau juga jonin paling berkompeten di desa Konoha, dan yang paling penting adalah… aku tau karakteristikmu bukan sebagai shinobi melainkan teman." Ucapan itu secara tidak sadar membuat pipi Neji memerah, entah kenapa, dia merasa malu menerima pujian-pujian yang terlontar dari mulut Naruto, ia pun hanya terdiam sambil menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.
"Jadi begitu kah? terima kasih Naruto karena kau telah mempercayakan tugas penting itu kepadaku. Aku siap melindungimu"
"Kau ini terlalu formal, bersikaplah biasa saja"
"Ha'i! baiklah aku permisi dulu."
Neji keluar dari tenda tersebut, sedangkan Naruto tetap berada di dalam tenda untuk mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Ia sedang memikirkan siapa yang pantas untuk menjadi penasihatnya. Dan saat itulah dia memikirkan pria berambut nanas.
Waktu begitu cepat sampai Shikamaru telah tiba di tenda Hokage.
"Hmmm.. jadi aku yang akan menjadi penasihatmu Naruto? tapi aku kan belum terlalu berpengalaman mengenai tugas-tugas kenegaraan. Bukankah ayahku yang lebih cocok untuk melakukannya?" tanya Shikamaru ragu, ia meragukan kemampuannya sendiri.
"Tidak, kurasa kaulah yang paling tepat untuk menjadi asistenku, generasi lama telah hilang dan kini waktunya generasi muda yang harus bertindak, sesegera mungkin." Ucap Naruto yang masih dalam keadaan tenang tanpa ekspresi sedikitpun.
"Aku mengerti."
"Tapi sebelum kau melakukan itu semua, aku harap kau membaca buku ini… setidaknya untuk memberimu bekal-bekal bagi seorang pemula, sepertimu." ujar Naruto seraya melemparkan buku ke arahnya.
"Kau mengejekku? Tidak seperti kau yang biasanya, kau kan juga baru beberapa hari menjadi Hokage, apa kau tidak mau membaca petunjuk-petunjuk ini?" tanya Shikamaru yang telah memegang buku panduan itu.
"Aku telah mempelajari semua buku yang ada di perpustakaan Konoha, tidak ada satu buku yang terlewatkan."
Mendengar pernyataan itu, Shikamaru tertegun, ia menelan ludahnya sendiri. sepertinya dia masih menganggap itu hanyalah omong kosong, tapi ketika ia melihat pencapaian Naruto dalam dua hari ini, ia langsung berubah pikiran.
'Dia tidak berbohong.' Batin Shikamaru yang masih dalam tidak kepercayaan.
'Ketika itu aku hanya bisa melihatnya. Melihat penderitaan yang pernah ia alami pada masa lalu, penduduk desa terus mencaci dan menghina dirinya tanpa sebab, menurutku di dalam tubuhnya masih ada perasaan, hati yang menangis meminta pertolongan, aku tidak melihat sisi jahat dari dirinya sewaktu kecil bahkan aku ingin mengajaknya berbicara dan bermain bersamanya.. namun aku tidak bisa karena aku masih ragu, dan pada akhirnya ia tetap sendiri sampai ia masuk ke akademi dan memiliki team sendiri. waktu begitu cepat, dan sekarang dia sudah berada di hadapanku duduk di kursi Hokage dengan pakaian Jonin serta jubah putih, caping kebanggan para Hokage ia letakkan di bagian meja yang kosong, membuat penampilannya….. begitu mengesankan.'
Beribu pujian diberikan oleh Naruto dari benak Shikamaru, semua yang telah Naruto lalui telah membuahkan hasil seperti sekarang. ia tersenyum bangga melihat temannya bisa menjadi Hokage di usia muda, semua tanggung jawab dan beban desa telah terbebankan di bahu Naruto, bersamaan dengan beratnya beban itu, semua teman-temannya bersiap memberi dukungan maupun sokongan kepada Hokage tersebut.
"Kau tidak sendirian, Naruto" ujar Shikamaru sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
Naruto hanya melihat Shikamaru dan menunggu apa yang ingin dia ucapkan. "Kau memiliki kami, semua teman-teman.. jangan kau pikir setelah menjadi Hokage, kau bertanggung jawab penuh terhadap desa ini, kami masih ada untukmu dan kami pasti akan selalu membantumu apapun yang terjadi.. sebagai temanmu aku sangat menghormatimu, Naruto jangan kau pikir jika kau itu sendirian…" tutur Shikamaru memberikan saran kepada sang Hokage tersebut, Naruto nampak terdiam dengan kata-kata itu. sambil menggabungkan jari-jemarinya, ia tersenyum dingin.
"Aku sudah tau itu. Uzumaki Naruto selalu membantu teman-temannya dan untuk itulah mereka akan melakukan segala cara untuk membantu Naruto, bukankah hal seperti itu sangat wajar, Shikamaru?"
Shikamaru terdiam sebentar. ia mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk. Dan kini dia tersadar, bahwa seorang yang telah berbicara dengannya ini, bukan Uzumaki Naruto yang dulu.
"Aku bisa membaca pikiranmu Shikamaru, memang aku bukanlah Naruto yang dulu. Sifatku berubah mengikuti caraku beradaptasi dengan lingkungan, menjadi Hokage dengan sikap ceroboh seperti dulu akan membuat semua orang ragu terhadap kepemimpinanku namun aku merubah sikap bukan untuk alasan itu…. semuanya telah terjadi begitu saja." ucap Naruto yang masih tenang seperti biasa.
Shikamaru sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, kali ini waktunya dia untuk menyerah, tidak ada gunanya melanjutkan perbincangan ini, jika berpikir perbincangan ini membosankan, itu salah.. karena percakapan antara mereka berdua terbilang istimewa bagi Shikamaru karena ia telah mengetahui sebagian kecil rahasia yang terdapat di dalam diri Naruto.
Dan Shikamaru pun pergi dari tempat itu sembari tetap memegang buku yang diberikan oleh Naruto kepadanya. "Terima kasih atas bukunya, Naruto-sama." ucapnya yang sudah keluar dari tenda Hokage.
Setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Shikamaru, Naruto pun teringat akan kejadian-kejadian yang dulu sering menimpanya. "Teman-teman kah?" dalam benaknya tergambar jelas wajah-wajah teman-teman dan warga desa yang tersenyum bahagia. Dan disamping itu, terkenang juga wajah-wajah penuh kebencian terhadapnya ketika dia masih kecil. Antara memilih masa lalu dan masa depan, sambil berjalan perlahan menjauhi masa kelam itu, ia lebih memilih untuk memilih masa depan, masa depan yang cerah untuk semua orang kecuali dirinya sendiri.
Naruto bangkit dari kursinya, ia pun ingin pergi ke markas ANBU Konoha, yang berada di samping perbukitan patung-patung pahatan wajah Hokage, di sana ia ingin memastikan keadaan dan anggota-anggotanya, apa masih lengkap atau kekurangan orang serta membuat suatu planning, setelah dalam perjalanan selama beberapa menit, Naruto telah sampai di depan gerbang markas rahasia militer tersebut. di sana ia langsung disambut oleh penjaga depan pintu dengan penuh sopan santun, terlihat betapa orang-orang itu sangat menyanjungnya sebagai Hokage.
"Silahkan masuk Hokage-sama." ucap salah satu penjaga yang sebelumnya membungkuk hormat, lalu sang Hokage ke enam itu melanjutkan langkah kakinya, setelah masuk ke gedung itu ia melihat orang-orang yang menggunakan pakaian ANBU berjalan ke sana ke sini, tanpa melihatnya dan ketika mereka melihat Hokage-sama ada di tempat itu, mereka pun langsung berkumpul menjadi satu dan berbaris membentuk sebuah jalan di tengahnya, mereka menunduk rendah, penghormatan yang sangat tinggi memang pantas ditunjukkan kepada Hokage.
Naruto berjalan di antara para ANBU itu, setelah itu ia menyuruh salah satu ANBU yang memiliki wewenang mengatur para ANBU, yang bisa dikatakan sebagai pemimpin dalam markas tersebut. lalu ketua ANBU itu memerintah agar semua ANBU berbaris menghadap sang Hokage, sekarang ini mereka telah berbaris dengan rapi dan enak untuk dipandang.
"Kedisiplinan mereka benar-benar luar biasa, tapi yang masih dalam tanda tanya adalah kenapa mereka tidak pernah dikerahkan untuk menjaga wilayah desa. Mereka hanya bertuga memata-matai dan membunuh buronan dunia Shinobi atas kehendak Daimyou. Lebih efektif jika mereka diperuntukkan sebagai Jonin desa yang bertugas untuk melindungi wilayah Konoha." Naruto sedang memandang wajah-wajah ANBU itu dengan seksama, pandangan mereka lurus ke depan, dan terlihat selalu serius di setiap saat. Ia yakin bahwa semua ANBU tersebut pernah membunuh seseorang.
"Kalian mengetahui bukan? bahwa sekarang kendali ANBU sudah berada di tanganku, dan untuk itu aku ingin memanfaatkan organisasi pasukan rahasia ini seefektif mungkin, berbicara tentang hal yang lain aku ingin kalian melakukan sesuatu, sesuatu yang akan menentukan nasib desa ke depannya." ucap Naruto lantang, suara dengan nada tingginya menggelegar ke sudut-sudut gedung, para ANBU masih mendengarkan ucapan Hokage dengan memperhatikan tiap detail kata yang terucap.
'Aku tidak tahu sebesar apa ruangan ini, tapi sepertinya ada yang tidak beres.' Pikir Naruto sambil memutar bola matanya berkeliling gedung, melihat setiap detail gedung yang dinilai bagus untuk bersembunyi, ia mengantisipasi adanya penyusup dari pasukan pondasi yang diam-diam telah mengambil informasi rahasia, sampai Naruto memerintah ANBU yang berdiri di sampingnya untuk memanggil ketua dari setiap regu ANBU, lalu semua ANBU yang tidak berkepentingan diperintahkan untuk meninggalkan tempat.
. . . . . . .
Sekarang sudah ada 10 orang yang berdiri dihadapan Naruto. "Kalian terlalu jauh, mendekatlah.. lebih dekat lagi.. lebih dekat lagi." ke 10 orang telah berdiri hanya satu meter dari posisi Naruto.
"Aku mengantisipasi adanya musuh jika aku berbicara secara terang-terangan di gedung ini. maka dari itu aku mengumpulkan kalian di sini, aku akan memberikan misi penting untuk kalian dan setelah aku memberitahukan misi penting itu segera beritahukan kepada anak buah kalian."
"Ha'i!"
"Langsung pada intinya saja, aku yakin kalian telah mengetahui organisasi 'Pondasi/Root' organisasi gelap yang didirikan oleh Danzo, salah satu penguasa Konoha, organiasasi itu bergerak dalam bidang kemiliteran sama seperti kalian, tapi yang membedakan antara ANBU dan ROOT adalah perasaan, di sana para anggotanya tidak diajarkan untuk memiliki perasaan, di dalam hati mereka hanya ditanamkan perasaan membunuh, membunuh dan membunuh… untuk itulah aku meminta kalian untuk membunuh semua anggota ROOT tanpa terkecuali, dengan kekuatan dan kecerdasan kalian. Aku yakin kalian bisa melakukannya."
"Tapi atas dasar apa Hokage-sama memerintah kami?" tanya ANBU wanita berambut ungu panjang yang telah berbaris di depannya.
"Tidak kuduga, ada ANBU wanita di sini… seharusnya kau menjadi Jonin atau belajar ilmu medis yang lebih berguna untuk masyarakat desa. Aku katakan…. Danzo telah merencanakan kudeta besar-besaran, ia akan mengerahkan seluruh pasukannnya untuk menyerang warga desa yang tidak bersalah dan membunuhku supaya dia bisa mematenkan gelar Hokage."
Mendengar itu para ANBU sangat terkaget. Berbagai macam ekspresi pun timbul seketika itu, dan dari sebagian orang tersebut bertanya-tanya. 'Kenapa Hokage-sama bisa tahu? padahal di antara kami tidak ada yang mengetahuinya.'
"Kalian hanya memandang segi kelebihan mereka dalam melindungi desa, kalian tidak melihat kekurangan mereka dan untuk apa mereka melakukan itu, untuk dasar itulah aku memerintahkan kalian untuk melenyapkan anggota ROOT dan aku…."
Semuanya terhenyak, tidak ada kata-kata yang terucap pada saat itu, mereka masih mendengarkan penjelasan Hokaga dengan seksama meskipun barusan terhambat oleh sanggahan yang diberikan oleh salah satu ANBU wanita. Naruto menilai wanita tersebut tidak sopan sama sekali, berbicara ketika dia menjelaskan sesuatu, tapi dia berusaha memakluminya dan mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Yang akan membunuh Danzo sendirian…" lanjutnya. pernyataan itu membuat semua orang yang ada berdiri di depannya tertegun dan tercengang.
"Operasi akan diadakan malam ini ketika semua warga desa telah tertidur jadi bersiap-siaplah" ujar Naruto sembari berjalan meninggalkan tempat itu di temani ketua markas ANBU.
"Ha'i!"
Naruto telah keluar dari gedung itu.
"Hokage-sama?"
"Hm?"
"Apakah kau benar-benar ingin membunuh, Danzo?"
"Pertanyaan yang bodoh."
To be continue
Chapter 15 END
Penasaran dengan kelanjutannya? ikutin terus ya.
Terima kasih telah membaca, sempatkan 60 detik untuk mereview cerita ini ya... hoho.
Oke,, see you next week
Yoshino Tada.
