.
Hoping For More Good Days
(cause You Never Walk Alone)
.
Chapter II
-Begin-
.
.
/bi'gin/
"why don't you start with a single step?"
.
.
.
"Merindukanku Tae?"
Sebuah kecupan menyadarkan Taehyung dari lamunannya. Ia mengusap pipinya kasar, sambil melirik pemilik bibir itu berjalan mengitari meja, ia tak lupa memperlihatkan wajah jijiknya pada seseorang yang telah duduk dihadapannya. Rasanya ingin berteriak, menyerapah sesuka hati. Kapan sahabatnya ini akan berhenti mengecupnya, mereka bukan bocah berumur tujuh tahun lagi yang bisa seenaknya melakukan hal tersebut di tempat umum.
Park Jimin tidak pernah berubah, sejak awal hingga sekarang. Tetapi jika berbicara mengenai fisiknya, anak lelaki dengan 'chubby cheeks' ini sekarang telah menjadi seorang 'hot man'. Pipinya terlihat tirus, rahangnya tegas, tak ada lagi kacamata bertengger di hidungnya hanya softlense berwarna hijau menghiasi matanya. Sedangkan tubuhnya dipenuhi otot-otot, lengannya dibalut bisep dan trisep, dan perutnya membentuk 'six pack' sempurna hasil dari workout tiap minggunya, benar-benar membuat Taehyung iri. Tiap kali berjalan bersamanya, Taehyung menyadari setiap wanita yang melewatinya seakan kehabisan napas bahkan lupa untuk berkedip.
"Berhentilah melakukan hal tadi, Jim"
Jimin berhenti mengunyah croissant yang di pesannya tadi dan menatap Taehyung yang terlihat serius.
"Berhenti mengecup pipiku, itu memalukan"
Jimin tersenyum "kenapa? bukankah dulu kau tak masalah dengan hal itu"
"Sekarang beda, kita sudah dewasa, bagaimana jika seseorang yang kau suka atau seseorang yang menyukaimu melihatnya? Kemungkinan kau akan dijauhi"
"Sejak kapan kau mau membahas hal seperti ini? Apa sudah sebaiknya kita mulai membicarakannya" Jimin mencoba menggoda Taehyung
"aku tidak sedang memulai pembicaraan dengan topik 'percintaan', aku hanya mengingatkanmu Jim"
"Kau sedang menyukai seseorang?" Jimin memain-mainkan alisnya
"Jim! Aku serius, aku . . ."
"Ah, benar, kau tidak mungkin menyukai seseorang karena kau sudah jatuh cinta padaku dan . . ."
Sebuah pukulan dari Taehyung tepat mengenai kepala Jimin, ia hanya bisa mengaduh kesakitan sambil tersenyum jahil.
"Uhmm, halo"
Taehyung menoleh ketika mendengar suara seseorang lalu menjauhi tubuhnya dari Jimin, ia menampakkan wajah geramnya ketika sadar Jimin mengatakan hal tersebut di saat yang tidak tepat, di saat seorang lelaki menghampiri meja mereka, dan ia masih ingat lelaki ini beberapa kali pernah terlihat jalan bersama dengan sahabatnya ini. Ketika suatu hari Taehyung bertanya apakah Jimin sedang menjalani hubungan serius dengan seseorang, ia hanya tertawa dan berkata 'aku masih menunggu cinta pertamaku'.
Jimin pernah berbagi kisah cintanya dengan seseorang sewaktu dia masih di Jepang. Tapi ia tak mau menceritakan segalanya, intinya dia harus putus karena orang tua dari kekasihnya tak menyukai hubungan mereka.
Jimin menoleh "hyung, duduklah" tangannya menggeser kebelakang kursi disampingnya
"Kau ingin pesan apa hyung?"
"Aku sudah pesan tadi Jim, jadi terima kasih"
"Tidak bisa begitu aku akan memesankanmu yang lainnya, jadi tunggulah dan mengobrollah dulu dengannya"
Taehyung menoleh ke arah Jimin, ia tak mengerti dan meminta penjelasan dalam diam. Jimin hanya tersenyum dan meninggalkan mereka berdua disana.
"Aku, Min Yoongi"
Pria bertubuh mungil itu tampak tersenyum, hanya sekilas dan Taehyung dapat melihatnya.
"Aku Kim Taehyung"
"Jimin bercerita banyak tentangmu"
"Benarkah?" Taehyung tersenyum ketika mengetahui sahabatnya itu menceritakan dirinya pada seseorang
Lelaki itu mengangguk, ia tampak elegan di mata Taehyung, dari mana Jimin bisa menemukan lelaki semacam ini.
"Aku spesialis Leukemia, aku harap kita bisa bekerja sama"
"Mwo?" Taehyung terkejut
Lelaki itu mendengus kesal "God! I really really know him so well now" Yoongi menggerutu "Pasti Jimin belum membicarakan hal ini padamu"
"Membicarakan mengenai apa?"
"Jimin memintaku untuk memantau kesehatanmu, maksudnya kau bisa berkonsultasi denganku, walaupun belum mempunyai banyak pengalaman, aku sudah beberapa kali menangani kasus Leukemia, aku harap aku bisa memberi sedikit bantuan untukmu"
.
.
.
.
.
.
.
Hening.
Udara di luar begitu dingin, membuat Jimin ingin segera berada di dalam apartemennya sambil menikmati ramen, membayangkan kepulan asap dengan aroma mengundang itu membuatnya tak sadar, nyanyian dari perutnya memecahkan kesunyian. Lelaki yang duduk di jok penumpang itu berusaha menahan tawanya, ketika secara tidak sengaja Jimin menoleh ke sampingnya, ia menjadi penasaran. Apa yang membuat seorang Min Yoongi tiba-tiba tersenyum?.
"Kau kenapa hyung?"
Yoongi menarik kembali bibirnya, senyumannya menghilang seolah tertiup udara di jalanan.
"Aku? Apa ada yang salah denganku?"
"Min Yoongi-ssi" Jimin masih fokus pada jalanan di depannya "kau terlihat manis ketika tersenyum" ia menoleh pada Yoongi dan tersenyum.
Wajah Yoongi terasa panas, pipinya mulai bersemu merah, ia terus menatap jalanan di kaca jendela tak sanggup memperlihatkan wajahnya yang sudah semerah tomat.
Min Yoongi, seorang senior yang Jimin kenal ketika ia masih menjadi mahasiswa baru di universitas. Mahasiswa jurusan kedokteran yang lulus dengan indeks prestasi yang memuaskan. Beberapa kali membawa nama universitasnya dalam kompetisi bidang sains. Dia sangat membanggakan sehingga mulai dari dosen hingga mahasiswa dari fakultas berbeda tak ada yang tak mengenalnya. Tak hanya itu ia juga sempat menjabat sebagai wakil ketua club musik, 'rapper machine' anggota club menyebutnya. Dan Jimin sangat mengaguminya.
Pertemuan mereka terjadi ketika Jimin mendaftar sebagai anggota club, dan otomatis membuat mereka juga sering bertatap muka. Kedekatan senior dan junior ini bukanlah hal asing di club, anggota lama dan baru selalu terlihat kompak dan saling mendukung. Setiap kali acara Performance Art diadakan, club musik selalu terlihat antusias dalam kegiatan dan akan mengerahkan semua ide mereka untuk penampilan yang sempurna. Kerja sama itulah inti dari kedekatan diantara anggota.
Min Yoongi tetaplah Min Yoongi, lelaki yang jarang tersenyum, jarang sekali memperlihatkan emosinya, sehingga tak ada yang pernah bisa menebak apakah Yoongi sedang bahagia atau bersedih. Wajahnya selalu tak menampakkan ekspresi, semasa kuliah hingga menjadi dokter tak ada perubahan besar pada sikapnya itu. Terkadang Jimin penasaran, bagaimana Yoongi menghadapi pasien yang ia tangani?, apakah ia menjadi seseorang yang berbeda dan murah senyum ketika ia telah mengenakan jas putih kebanggan itu ?.
"Aku. . ."
"Sudah sampai" potong Jimin ketika ia dengan sempurna memarkir mobil yang dikemudikannya
Tangannya terulur untuk memberikan kunci mobil milik Yoongi. Lelaki itu menerimanya dan keluar tanpa mengucapkan apapun. Jimin pun mengikutinya.
"Dia pergi begitu saja ketika aku memperkenalkan diriku" ucap Yoongi pada Jimin yang tengah berjalan di sampingnya
"Maaf hyung, hari ini aku sudah merepotkanmu, seharusnya kau pulang lebih awal dan bisa beristirahat"
Yoongi menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Jimin "itu bukan hal yang membuatku kesal, tapi kau Jim"
"Kalau begitu maafkan aku" ucap Jimin dengan wajah yang tampak menyesal
"Kau itu kenapa tidak peka sama sekali dengan hal seperti ini? Aku tahu kau berniat membantu Taehyung, tetapi kau harus membicarakannya dulu dengannya, jangan secara tiba-tiba menyeretku ke hadapannya"
Wajah Jimin terlihat serius kali ini.
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya, aku tak peduli sudah berapa kali ia menolak bantuanku, sudah berapa kali aku membicarakan hal ini dengannya dan ia tak mau tahu, kali ini aku akan memaksa"
Yoongi mengusap wajahnya kasar "Damn!, ini tentang hidup dan mati seseorang, kau tidak bisa menyepelekannya"
"Aku tak menyepelekan hal ini hyung!" suara Jimin meninggi
"Taehyung seperti mayat hidup yang sedang bersembunyi, ia sudah tak memiliki apapun, bahkan harapan untuk dirinya sendiri, dia hanya menunggu waktu ketika ia harus pergi, bagaimana bisa aku membiarkannya begitu saja" mata Jimin mulai memerah menahan air matanya
Yoongi tak pernah tahu bahwa ia akan melihat Jimin yang sebenernya, lelaki yang tak pernah lupa tersenyum ini tampak begitu ketakutan, menyedihkan dan suaranya bergetar, dibalik semua sikap acuhnya ia seseorang yang menyayangi dengan tulus, dengan segenap hatinya.
Yoongi maju selangkah untuk mendekat, lalu mengusap lembut puncak kepala Jimin, suaranya terdengar lembut "tenanglah, aku mengerti, aku mendukung apa yang kau lakukan, tapi sebaiknya kau temui dia dan menjelaskannya"
Jimin menatap Yoongi, baru kali ini ia bisa mengeluarkan beban yang ada di hatinya, baru kali ini ia memperlihatkan sisi lemahnya, baru kali ini ia terbuka mengenai apa yang ia rasakan, mengekspose dirinya . Jimin mendekat, lengannya mulai melingkar di pinggang Yoongi, ia merebahkan kepalanya di bahu sempit itu, Yoongi terkejut ketika Jimin mulai memeluknya erat.
"aku tak ingin kehilangannya, aku tak pernah siap jika hal itu terjadi" ucap Jimin.
Yoongi tak menjawab, ia masih masih mencerna dengan perlakuan Jimin padanya. Jimin segera melepas pelukannya ketika ia menyadari apa yang telah ia lakukan pada senior yang sangat ia hormati itu.
"maaf . . ."
"pulanglah, sudah terlalu larut" potong Yoongi dan berlalu meninggalkan Jimin
Tetapi ia kembali berbalik untuk menatap Jimin "terimakasih karena telah mengantarku"
"Aku yang meminta bertemu, jadi ini sudah tugasku mengantarmu pulang"
.
.
.
.
.
.
.
Angin musim dingin bertiup ribut. Memecahkan keheningan malam tanpa bintang. Menertawai rembulan yang kesepian, hingga ia bersembunyi di balik awan kelabu. Sinar indahnya meredup, seolah takut menghadapi dunia sendirian. Semakin gelap, tenggelam dalam awan hitam. Dentingan air langit pun mulai terdengar beradu di jalanan sepi. Seolah menceritakan kesedihan bulan pada penduduk dunia.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, menyentuh tetesan air yang terasa dingin begitu menyiksa. Mengabaikan tangannya yang terasa terbakar. Membiarkan orang memandangnya aneh. Menatap ngeri dan berbisik yang tanpa sengaja menggores hatinya. Ia menutup matanya, menikmati alunan musik yang tercipta secara alami itu sambil mendengar suara halus menusuk hati.
Hujan telah berhenti, pikirnya.
Ia membuka matanya dan menemukan seorang yang tak asing dihadapannya. Yang tanpa ia sadari telah membawa tangannya ke tempat teduh.
"Kau frustasi bocah? hingga melakukan hal ini dan itu terlihat sangat bodoh"
Sebuah kain lembut bermotif abstrak tengah menyapu tangannya yang basah. Menyeka air sialan itu hingga kering. Matanya terpaku pada apa yang tengah terjadi di hadapannya, sedetik kemudian ia menyadari tangannya diusap lembut, hingga ia dapat merasakan kehangatan kembali menjalar. Ia segera menarik tangannya dari kedua genggaman tangan itu, rasanya masih sama, tidak berubah, hangat.
"Apa yang kau lakukan disini ? Dan kenapa kau sendirian?"
Tak ada jawaban.
"Ini sudah larut Jungkook-ah dan. . ."
"Aku menunggu kekasihku, dia di dalam sedang membeli minuman" Lelaki itu berusaha menelan kegugupannya dalam suara nyaringnya
"Tadi kau melakukan hal bodoh dan sekarang berbohong" lelaki itu melipat kedua tangannya di dadanya
"Berhentilah bicara omong kosong"
Lelaki itu balas berteriak berteriak dan ia berbalik tepat saat pintu minimarket terbuka dan menampakkan sosok yang baru beberapa hari ini ia kenal. Ia tak berpikir banyak dan mengambil kesempatan ini, ia segera menarik lengan lelaki bermantel hitam tebal itu.
"Kenalkan kekasihku, Kim Taehyung"
Lelaki bersurai orange itu terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya begitupun dengan seseorang di hadapannya. Kim Taehyung tak bisa berkata kata.
"Kalau begitu kenalkan aku Park Jimin, Jeon Jungkook's ex boyfriend"
Lelaki itu adalah Jimin yang menemukan Jungkook sedang melakukan hal yang tak biasa di depan minimarket. Jimin tersenyum menahan tawa tetapi setelah ia memperkenalkan diri sebagai mantan kekasih Jungkook, seketika ia meledak dan suara tawanya begitu menggelitik. Jungkook bingung dengan apa yang terjadi dengan Jimin, apa Jimin kehilangan kewarasannya karena ia memperkenalkan padanya seorang kekasih?. Tidak mungkin.
Jimin sadar tak ada yang tertawa selain dirinya sendiri, hingga ia memutuskan untuk berhenti. Tatapan Jungkook padanya terlihat aneh, dan Taehyung sahabatnya tampak tak suka. Ia seketika ingat hari ini telah membuat kesal Taehyung, dia hapal sekali wajah itu.
"Tae,maafkan aku hari ini. . ."
"Ayo pulang" potong Taehyung
Ia menarik lengan Jungkook dan membawanya ke mobilnya. Jungkook tak tahu harus melakukan apa ketika Taehyung sudah membukakan pintu mobil untuknya dan menyuruhnya masuk.
Jimin menatap kepergian mereka dengan penuh pertanyaan di kepalanya.
.
.
Kesal. Itulah yang dapat Jungkook katakan ketika melihat garis-garis yang menegang di wajah Taehyung. Alisnya terlihat seperti samurai, matanya lebih tajam dari sebelumnya, bibirnya semakin merah akibat gigitannya, seperti menahan umpatan di hatinya pikir Jungkook.
Mobil yang di kendarai Taehyung melaju di atas 80 kilometer perjam, melesat seperti kilat di jalanan kota yang mulai sepi. Tak peduli jika mobilnya tergores dan melukai seseorang. Beginikah jika Taehyung dalam suasana hati yang buruk?, tapi apa yang membuatnya terlihat begitu marah saat ini?, apa karena perkataannya tadi yang seenaknya mengklaim Taehyung adalah kekasihnya? Atau karena perbuatan sebelumnya?, dan Jimin , apa yang salah dengannya?. Jungkook tak mengerti. Tunggu, apa mereka berdua saling mengenal?, pikir Jungkook. Jika memang begitu, tamat sudah, ia harus memikirkan cara lain untuk menghindari Jimin, mantan kekasihnya.
"Ya!, berhenti!"
Jungkook berteriak tetapi suarannya terdengar bergetar.
"Hey, kita bisa celaka, hentikan sekarang!"
"Taehyung-ssi, hentikan!"
"Jika kau ingin mati, matilah sendiri"
Taehyung menambah kecepatan mobilnya. Menulikan telinganya, mengabaikan Jungkook yang ketakutan.
"Taehyung-ssi, aku mohon hentikan" ucap Jungkook yang mulai terisak
Kewaraasan Taehyung seolah kembali ketika mendengar isakan Jungkook. Ia melirik lelaki yang duduk di jok penumpang itu, Jungkook menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan menundukkan tubuhnya yang bergetar hebat. Melihat hal tersebut Taehyung perlahan mengurangi kecepatan mobilnya dan mencari tempat untuk menepi.
Taehyung memberhentikan mobilnya di tepi taman yang sudah tampak begitu gelap. Ia tampak ragu mengeluarkan suaranya.
"Ya! Kau mau kemana" teriak Taehyung ketika Jungkook lari keluar dari mobilnya
Jungkook terus menjauh, ia tak peduli ke arah mana ia berlari, yang ada di otaknya adalah menghindari Taehyung sesegera mungkin. Ternyata si berandal ini benar-benar mengerikan seperti cerita yang ia dengar di kampus.
Taehyung mempercepat langkahnya hingga ia bisa menangkap dan menarik salah satu lengan Jungkook. Jungkook mencoba melepas tangan itu dari mantelnya.
" lepaskan aku" Jungkook terus mencoba memberontak dalam ketakutannya
Taehyung menarik lengan Jungkook satunya lagi hingga mereka saling berhadapan tetapi Jungkook masih tidak bisa tenang. Ia terus melawan, mencoba terlepas dari Taehyung.
"Aku mohon lepaskan aku" wajah Jungkook mengeras, ia berusaha mengeluarkan keberaniannya yang hanya tersisa nol koma sekian persen
"Berhenti menangis" ucap Taehyung datar tapi terdengar seperti perintah yang menakutkan bagi Jungkook
"Jangan menyakitiku, aku. . . aku minta maaf atas kejadian waktu itu, aku . . ." mendengar suara tegas milik Taehyung, Jungkook kembali menciut
Taehyung menghembuskan napasnya kasar lalu membawa Jungkook dalam dekapannya "aku tak akan menyakitimu, tenanglah" ucapnya datar
Nyaman.
Tangan lelaki itu membelai kepalanya lembut, suara beratnya berubah menjadi hangat, bibirnya mengucapkan mantara pengusir ketakutan yang kemudian hilang secara perlahan. Ia menutup matanya, merasakan setiap sentuhan menenangkan itu, membiarkan lagu penenang itu merasuki jiwanya dan ia kembali tenggelam dalam kebimbangan, Taehyung begitu mengerikan tetapi begitu nyaman di detik selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
.
Riuh.
Pagi yang dingin dan beku. Tetapi tidak dengan dua makhluk yang tengah panas ini. Kepala seolah terbakar dan telinganya mengeluarkan asap. Suara mereka mencapai oktaf tertinggi, seolah siap memecahkan jendela-jendela kaca. Beradu argumen, bukan untuk merebut kemenangan karena tidak ada kekalahan. Hanya butuh penjelasan, tetapi kekhawatiran mengubahnya menjadi teriakan tak terkendali.
Jungkook hanya bisa bersembunyi di balik ruang musik yang hendak ia masuki. Tetapi suara mereka seolah menghalanginya.
"Dimana? Katakan padaku dimana kau simpan? TAEHYUNG"
Namjoon berteriak tak peduli dengan siapapun yang akan melewati ruang musik. Dadanya naik turun, gagal bernapas secara normal akibat amarah yang menguasai dirinya.
"Kapan kau akan percaya, aku tidak menyimpannya hyung"
"Baik kalau kau tak mau mengatakannya. . ."
"Bukankah kau telah melempar saxophoneku dari jendala, kau kira itu masih akan berfungsi, aku yakin petugas kebersihan kampus telah membuangnya, melihat barang berharga itu hancur, jadi berhenti mencurigaiku"
"Aku tak bisa percaya padamu Tae" Namjoon berusaha meredam amarahnya
"apa salahku padamu, hingga kau tak percaya lagi? Katakan, KATAKANNN!" Taehyung balas berteriak
"KARENA KAU PERNAH BERBOHONG SEBELUMNYA" Namjoon balas berteriak
"Hey, berhenti sekarang juga!, selesaikan masalah kalian di luar, dan kau Namjoon kembalilah ke kantor" ucap Jin yang tiba-tiba sudah berada di ruang musik
"Diam kau Jin"
"Taehyung, kembali ke kelas" Jin memerintah dan mengabaikan Namjoon
"Kau kira kau siapa, berhenti memerintah, aku atau pun Taehyung tak memiliki hubungan atau ikatan apapun denganmu"
"Hyung!" Taehyung tak terima ketika Namjoon seolah berkata Jin adalah pengganggu
"Berhentilah ikut campur, karena kau bukan siapa-siapa"
Sebuah pukulan melayang di pipi kiri Namjoon, hingga sudut bibirnya berdarah. Taehyung kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi dan Jin melangkah ke pintu dengan wajah yang tampak kecewa. Hatinya di remas begitu kuat, menyakitkan.
Taehyung menarik kerah kemeja Namjoon yang sudah tampak kusut itu "Apa kau tak ingat siapa yang selalu membantumu ketika kau tak punya waktu, siapa yang mengurusiku di rumah sakit ketika kau sibuk dengan pekerjaan sialan itu, siapa yang selalu berada di belakangmu ketika kau tak sanggup berjalan sendiri, siapa yang memasak untukmu ketika kau melupakan waktu makanmu dan bosan dengan makanan di luar, siapa yang selalu mengingatkanmu ketika kau melupakan sesuatu, siapa? ? !"
"Kau tau apa yang kau lakukan, kau seolah menganggapnya pengganggu" Taehyung tampak begitu marah
"Aku tak menyangka seseorang yang aku kagumi ternyata tak lebih dari sekedar sampah"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Annyeong Yeoreobun TT
Huaaaaa ga yakin bisa ikut konser BTS April nanti, gegara gak ada duit dan nabung belum tentu bisa kekumpul. Huaaaaa kenapa harus April ? kenapa gk akhir tahun aja, huaaaaaa. Kenapa dadakan, wae? waeeee? #nangisdilantai
Kalian gimana adakah yang bisa nonton konser ? TT , plis jangan bikin aku iri huaaaaa, tapi klo kalian nonton konser mereka plis sampein ke Taehyung kenapa sekarang bales chat aku lama, aku ngerti kalo dia sibuk #abaikan wkwkwk,
Ada yang liat video konser Wings di Seoul? bikin iri, ada photobooth nya juga, berasa foto beneran ama bangtan huaaaaa pengennn, stage nya juga keren bangett, so PERFECT! !
.
oh iya jangan lupa tar malem Mv Not Today release :D
.
Hansung died, sedih nonton Hwarang, aktingnya Tae bagus banget lagi, sampe nangis nontonnya huaaaa.
.
and J-Hope happy birthday, always be our Hope and bright like the sunshine :D We love you :)
.
.
.
Akhirnya update juga, tapi maafkan aku sepertinya chapter ini gk ada feel nya, ga tau kenapa aku ngerasanya gitu, really sorry :(
.
trus ada yang kasih 'teori' tentang Jin di chapter sebelumnya, Namjoon dan Jin udah keliatan mereka bukan kekasih, so tunggu cerita mereka selanjutnya, dan aku juga sengaja bikin cerita dengan genre hurt, gak tau . . . aku cuma pengen aja hahahha.
Btw ada curhat disini yang gk bisa beli album dan ada juga yang cuma bisa beli 1 versi, jangan sedih tar ada waktunya kita bisa beli semuanya hahahahah.
Thanks so much buat support nya ya
See ya :D
