Chapter 16 update!

seperti biasa, hari minggu waktunya Power of White update, aku harap kalian menunggu story ini... okey selamat membaca and happy reading... ^^


Chapter sebelumnya:

"Kalian hanya memandang segi kelebihan mereka dalam melindungi desa, kalian tidak melihat kekurangan mereka dan untuk apa mereka melakukan itu, untuk dasar itulah aku memerintahkan kalian untuk melenyapkan anggota ROOT dan aku…."

"Yang akan membunuh Danzo sendirian…"

Semuanya terhenyak, tidak ada kata-kata yang terucap pada saat itu, mereka masih mendengarkan penjelasan Hokage dengan seksama meskipun barusan terhambat oleh sanggahan yang diberikan oleh salah satu ANBU wanita. Naruto menilai wanita tersebut tidak sopan sama sekali, berbicara ketika dia menjelaskan sesuatu, tapi dia berusaha memakluminya dan mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.

"Operasi akan diadakan malam ini ketika semua warga desa telah tertidur jadi bersiap-siaplah" ujar Naruto sembari berjalan meninggalkan tempat itu ditemani ketua markas ANBU.

"Ha'i!"

Naruto telah keluar dari gedung itu.

"Hokage-sama?"

"Hm?"

"Apakah kau benar-benar ingin membunuh, Danzo?"

"Pertanyaan yang bodoh."

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre –Mystery/Adventure

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 16

Kudeta

Ucapan yang baru saja terucap dari bibir Hokage itu, bagaikan tamparan keras yang menghantam pipi ketua ANBU tersebut, pria berambut hitam yang mengenakan jubah hitam itu menghentikan langkahnya. Membiarkan sang Hokage berjalan sendirian keluar markas rahasia ANBU. Dari belakang ia melihat sosok Hokage yang teramat disegani oleh berbagai kalangan, di usia yang muda ia telah menjadi atasan pria itu, shinobi yang telah mengabdikan diri selama 5 tahun di pasukan ANBU.

Hormat adalah sesuatu yang harus dilakukan bagi siapapun, bahkan untuknya sekalipun yang terpaut umur lebih tua dari Naruto, berpikir sekali lagi mengenai itu… pria itu pun berdiri tegak sambil memberi hormat kepada sang Hokage ke enam yang sudah keluar markas.

"Di usia semuda itu, dia harus mengorbankan waktunya untuk menangani permasalahan Konoha, Uzumaki Naruto-sama, kah?" ujar pria itu seraya menurunkan tangan yang masih menempel di pelipis matanya.

Pukul 18:00, Markas ROOT.

Anggota ROOT telah memakai seragam rapi dengan perut yang terlihat dari luar, seragam itu adalah ciri khas pasukan Danzo, dibawah naungannya, ia mendidik dan mengajarkan cara hidup bagi Shinobi yang ia anggap mempunyai kemampuan spesial, terutama dalam ninjutsu serta memanfaatkan kemampuan itu untuk kepentingan desa, namun kali ini berbeda dengan sebelumnya, dia ingin menggunakan kekuasaannya untuk meneror desa hanya demi gelar Hokage.

Anggota ROOT telah berbaris di markas rahasia ROOT, orang-orang itu hanya diam, menimbulkan suasana senyap dan sepi. Tidak ada kata-kata yang terucap di sana, di depan mereka telah berdiri sang pemimpin ROOT, Danzo. Tatapan dingin dan sinisnya membuat siapapun berpikir ulang untuk menatap matanya.

"Kalian semua… sudah 20 tahun sejak berdirinya pondasi ini, organisasi yang mengumpulkan shinobi dengan bakat spesial dan memiliki karakteristik yang baik dalam segi fisik maupun mental. Dan sebelum kalian kemari, aku yakin bakat itu belum terasah atau berkembang… dan jika aku bertanya, apa kalian berkembang dengan cara pelatihanku? Aku yakin kalian akan menjawab 'Iya' kerja keras dan disiplin tinggi, mengesampingkan perasaan hati serta nurani, mengasihani musuh dan mengkhianati teman. Semuanya telah aku ajarkan kepada kalian… maka dari itu berterima kasihlah kepadaku."

Semuanya masih terdiam, berusaha mendengarkan perkataan Danzo-sama baik-baik. Dalam batin mereka, sesuai dengan pernyataan itu memang benar apa yang telah dikatakan oleh Danzo-sama, selama mereka di sini, mereka telah ditempa dan dilatih secara rutin, diberi makan dan tempat tinggal yang layak serta uang untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

'Benar apa yang dikatakan Danzo-sama.'

'Ya memang benar-'

'Terima kasih, Danzo-sama'

Kata-kata dalam hati itu, tidak ada yang bisa mendengarkannya. Hanya mereka yang bisa mengerti perasaan mereka masing-masing, ketika menyebut rasa terima kasih, maka akan ada rasa balas budi yang ingin diberikan, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menagih hutang tersebut.

"Maka dari itu… aku ingin kalian, menghancurkan Konoha…" perkataan itu membuat orang-orang yang mendengarkannya shock, kaget, terkejut, rasa tidak percaya menyelimuti mereka. dan dalam batin mereka ingin mengatakan 'Dia sudah gila.'

Dan diantara mereka semua, berdiri Sai, sang mata-mata yang dikirim langsung oleh Naruto. dalam perintahnya Naruto menyuruh Sai untuk berpura-pura menjadi bawahan Danzo dengan bukti-bukti yang sudah ia bawa kemarin, ia menyerahkan bukti-bukti itu secara langsung, bahwa dirinya memata-matai gerak-gerik Hokage dan memberikan sample rencana apa yang akan dilakukan oleh Hokage, bukti itu dapat diterima oleh Danzo dan Danzo mengizinkan dia untuk bergabung kembali.

Tenda Hokage, pukul 12:00. (Flashback)

Naruto menyuruh Sai untuk datang ke tempatnya. Dan sekarang dia telah berdiri dihadapan sang Hokage, "Sai? Aku yakin ini adalah misi yang berat untukmu… dengan insiden kemarin malam, aku hanya berharap tidak akan terjadi apa-apa denganmu. Mata-matai lah rencana dan pergerakan Danzo, dengan bekal berkas-berkas ini. aku optimis dia akan mengizinkanmu kembali ke sana." Ujar Naruto sembari menyerahkan surat-surat penting kepada Sai, dengan tangan kosong Sai menerima surat penting itu.

"Apa ini, Naruto?" tanya Sai bingung.

"Bukti-bukti bahwa kau tidak bersalah.. dan disitu terdapat rencanaku yang akan aku gunakan untuk menghancurkan Danzo." Jawab Naruto sambil melihat mata dingin Sai.

"Kenapa kau melakukannya? Bukankah hal semacam ini akan semakin menghambatmu untuk menyelesaikan problem internal ini?"

"Alasan kenapa aku melakukannya adalah… karena aku percaya denganmu..."

(Flashback end)

Saat ini, Sai masih memperhatikan ucapan dari Danzo, ia ingin memberikan info ini kepada Naruto. "Naruto sudah mempercayakan tugas ini kepadaku, aku berjanji tidak akan mengecewakannya." Sai tetap memperhatikan segala informasi dan pengarahan yang diberikan oleh Danzo.

"Nanti malam, kalian akan melakukan pemberontakan besar-besaran di Konoha. Aku harap kalian dapat melakukannya dengan baik." Tutur Danzo melanjutkan permbicaraannya tadi.

Ketika mendengar kata 'pemberontakan', anggota ROOT tidak berani untuk menyangkalnya dikarenakan mereka sudah tau resiko apa yang akan mereka dapat jika mereka membangkang perintah yang diberikan oleh Danzo-sama.

Dibalik mulut mereka, terdapat segel yang tertulis di lidah, sebuah tanda yang berfungsi untuk mengekang anggota ROOT agar tidak bebas membeberkan informasi. Namun… rupa-rupanya, Danzo telah bersiasat lain.

'Hokage muda? Sepertinya rencanamu tidak akan berhasil.' Penuturan Danzo dalam hatinya sembari melirik tajam ke wajah dingin Sai. 'Tanda itulah yang membuat dia tidak akan pernah berkhianat. meskipun begitu, sebagai Hokage kau cukup cerdik karena bisa memanipulasi Sai dengan mudah.' pikirnya.

'Danzo-sama menatapku? Ada apa ini?' keringat kegelisahan mengucur membasahi wajah Sai. Tatapan itu membuat dia bingung, membuat dia berpikir, apa yang akan dia lakukan selanjutnya. kegelisahan itu semakin menjadi-jadi ketika Danzo terus menatapnya dan tidak berpaling sedikit pun dari matanya.

"Sepertinya kita kedatangan penyusup di sini…" ujar Danzo, yang membuat anggota ROOT bertanya-tanya.

Sai semakin dibekap dengan perasaan takut, jika sewaktu-waktu dirinya tertangkap.. 'tapi tidak mungkin, Danzo-sama sudah percaya kepadaku.. bukti-bukti itu telah menutupi kesalahanku di tempo hari.' berharap dirinya tidak akan tertangkap, akhirnya kenyataan yang tidak diduga itu, membuat semua anggota ROOT mengawasinya.

"Kalian semua… bunuh Sai." perintah Danzo.

…..

Perintah yang mutlak, semuanya sedikit ragu. Akan tetapi satu demi satu dari anggota itu mengangguk secara bergantian.

"Saya mengerti!"

"Ha'i!"

"Kami mengerti Danzo-sama!"

"Sai kah? kenapa dengan dia? Apakah dia benar-benar mata-mata?"

Meskipun rasa tidak percaya masih menyelimuti mereka. namun tetap saja, perintah tetap perintah dan mereka harus melakukan apa yang diperintahkan oleh Danzo, Pemuda murah senyum itu pun terkaget, dengan langkah seribu, ia bergegas cepat-cepat untuk keluar dari markas rahasia tersebut. Sai mengeluarkan gulungan serta kuasnya untuk menggambar burung dengan cepat.

"Tangkap dia! Tidak akan kubiarkan kau lolos, pengkhianat!"

Sedikit demi sedikit, Sai terbang dengan burung hasil jutsu lukisnya, burung itu pun terbang ke atas gedung dan menuju ventilasi yang cukup besar untuk dilalui. Danzo hanya melihat perjuangannya yang sia-sia sampai seorang anggota ROOT menerkamnya dari atas.

Burung itu pun hancur dan menghasilkan tinta-tinta yang lebur. Tinta-tinta itu menyebar di udara, sedangkan Sai masih terjun dari atas ke bawah, lantai telah menunggu jatuhnya dirinya. namun dengan sigap ia bertumpu dengan tangan kanannya dan berusaha berlari secepat mungkin.

"Aku tidak akan mengecewakanmu, Naruto. informasi ini sangat penting bagi desa."

Berbondong-bondong pasukan ROOT mulai mengejarnya. Shuriken dengan kertas peledak pun melesat ke arah Sai yang masih berlari. Ledakan itu menghancurkan lantai gedung. Sai pun berhasil memasuki terowongan dan mengecoh satu persatu dari mereka.

"Sai merupakan Shinobi yang cukup hebat di sini. aku tidak terkejut jika dia bisa lolos dari pengejaran anggota ROOT yang lain." Ujar Danzo sembari melihat proses kejar-mengejar yang sudah tidak terlihat lagi, semua pasukan ROOT telah keluar dari areal luas itu, dan masuk ke jalan sempit yang biasa digunakan sebagai akses tercepat menuju aula tersebut.

Di sebuah lorong, mereka semua masih terlibat kejar-kejaran. "Jangan biarkan dia keluar dari gedung ini!" seru salah satu anggota ROOT yang masih mengejar Sai, dan sebagian orang pun memutuskan untuk menggunakan jalan pintas, mereka berbelok kanan dan berbelok kiri menentukan di mana mereka bisa menangkap Sai.

Ketika Sai sudah dihadapkan dengan jalan bercabang dua. Sai bingung harus menentukan arah mana, keringatnya semakin mengucur dengan deras. "Aku harus ke arah mana? belok kanan? atau belok kiri?"

Karena saking lamanya ia berpikir, akhirnya pasukan ROOT telah tiba dari arah kanan dan kiri, begitu pun juga dari belakang.. "Gawat!"

Lalu beberapa kunai melesat cepat dan melukai tangan kanan, punggung, dan tangan kiri. Kini Sai sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, namun ketika dia melihat ke atas, sesuatu yang dilupakan teringat begitu saja.

"Di sini kan?"

Mereka masih berlari dari dalam lorong itu, namun ketika mereka telah sampai di posisi Sai yang tadinya terlihat tidak berdaya. "Tidak mungkin-" ujar salah satu anggota ROOT tidak percaya.

"Bagaimana dia bisa menghilang?"

Mereka seperti tidak percaya akan hal itu. dan ketika mereka melihat sekelilingnya, tidak ada lubang apapun yang terdapat di sana.. bahkan jalan sekecil pun tidak terlihat sama sekali. Sai menghilang begitu saja, akhirnya mereka gagal menangkap Sai.

...

...

...

Di atap markas ROOT, Sai memegangi pundak dan kakinya, sambil meringis kesakitan ia berusaha keluar dari area itu. semilir angin menghembus rambut hitam lurusnya, darah segar keluar begitu banyak dari kulitnya. Ia mengeluarkan gulungan sembari sesekali melepas kunai yang masih tertancap.

Dengan tangan gemetaran, ia menggambar burung di gulungannya. Lalu ia mengaktifkan jutsunya, burung itu pun keluar dari gulungan dan mengepakkan kedua sayapnya di dekat Sai, Sai pun meloncat ke punggungnya dan terbang menjauhi area berbahaya itu.

'Aku tidak akan pernah kembali ke sini.. informasi berharga ini, harus segera aku laporkan kepada Naruto.'

Di dalam markas ROOT, Danzo masih tetap tenang, namun ia juga harap-harap cemas ketika Sai berhasil lolos dari pengejaran tersebut. 'Sudah kuduga dia berhasil lolos.' Pikir pria tua itu sambil tetap bertumpu dengan tongkat yang ia pegang.

Di langit lepas, Sai masih mengudara dengan menaiki burung buatannya, burung berwarna hitam putih itu terbang membentangkan sayapnya. Bayang-bayang burung itu cukup besar sehingga membuat bayangan hitam di darat, sesekali Sai ingin terjatuh karena sudah tidak kuat lagi, darah tidak henti-hentinya mengalir dari bekas lukanya. 'A-aku s-sudah t-tidak k-kuat lagi..' kata-kata itu menjadi kata terakhirnya sebelum ia terjatuh.. Burung itu pun kehilangan keseimbangan, bak pesawat terbang yang gagal mendarat, burung tersebut menghilang dengan tinta yang meleleh dan Sai terseret di tanah sampai beberapa meter jauhnya.

Melihat peristiwa itu, warga Konoha langsung membantunya. "Hei! Cepat panggilkan ninja medis untuk ke sini!"

"Siapa orang itu?"

"Tubuhnya penuh dengan luka?"

Salah satu jonin yang tidak sengaja lewat pun, langsung mendekati pemuda yang tak sadarkan diri itu. "Sai?" ucap Iruka yang kenal dengan pemuda itu. lalu dia menyuruh orang lain untuk melaporkan hal ini kepada Hokage.

"Cepat laporkan kejadian ini kepada Hokage!"

"H-ha'i!"

Tenda Hokage, pukul 19:00.

Naruto kembali melanjutkan pekerjaannya di tenda Hokage, sudah setengah wilayah Konoha yang telah dibangun, menurutnya itu adalah kabar gembira namun Tsunade masih belum sadarkan diri sampai sekarang, ada kabar buruk dan kabar baik… hal yang wajar dan seimbang.

Di tempat itu, Naruto duduk tenang sambil membaca informasi-informasi seputar dunia Shinobi. Sesekali ia menyeruput kopi hangat yang telah dibuatkan oleh Shizune, wanita itu telah berdiri di sampingnya, sambil mendekap kertas-kertas yang harus diberi cap oleh Naruto.

"Kenapa Shizune-san harus repot-repot kemari? Aku sudah bisa mengatasi semua ini sendirian." Ucap Naruto ditengah-tengah kesibukannya membaca informasi dan meminum kopi hangat.

"Aku pikir, aku harus membantumu Naruto, menjadi Hokage itu bukan tugas yang mudah.. lagipula kau baru 4 hari menjabat menjadi Hokage, bisa kubilang kau masih awam." Jawab Shizune dengan nada menceramahi. Naruto menatap wajah Shizune yang bersikap sok dewasa itu, tatapan dinginnya membuat Shizune memalingkan wajahnya, keringat mengucur keluar dari kulitnya.

"Bukan-bukan itu- m-maksudku Naruto, aku ti-tidak bermaksud untuk menasehatimu atau apa.. aku hanya.."

"Sudah sudah, terima kasih telah mau membantuku." Kata Naruto yang menenangkan suasana hati Shizune yang sebelumnya gundah dan gelisah, dia pikir Naruto akan marah terhadapnya.

"O-oke.. hehe." Jawab Shizune yang masih salah tingkah. "Kau itu, lucu sekali ya, kenapa kau bisa setakut itu, ketika aku menatap wajahmu? Apakah wajahku ini menyeramkan?" ujar Naruto dengan nada bercanda dibarengi wajah yang datar dan dingin.

Shizune terdiam sebentar, dirinya nampak terkejut ketika nada bicara Naruto tiba-tiba seperti mengajaknya untuk bercanda, ia tidak tahu harus berbicara apa, tapi secepatnya Shizune ingin merespons kata-kata itu. "Hehehe.. wajahmu tidak menyeramkan kok, Naruto? justru bisa kubilang kau sangat tampan."

"Benarkah itu? Terima kasih." Ujar Naruto sambil menyruput kopinya untuk terakhir kali. Serasa cukup berbincang dan menenangkan pikirannya, dia pun melangkah keluar tenda. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak, Shizune melihatnya dari belakang.

"Sebuah insiden besar akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, tapi tidak akan aku biarkan semua itu terjadi begitu saja… aku akan menghentikan semua kekacauan itu meskipun tanganku berlumur oleh darah manusia yang tidak bersalah…"

Shizune terhenyak, kertas-kertas yang didekapnya lepas dengan sendirinya, kertas-kertas itu berserakan di tanah. "Maaf.." ucapnya wanita itu sambil mengumpulkan berkas-berkas tersebut.

Cara pemikiran dan sikapnya sangat berbeda dengan Hokage-hokage terdahulu, bisa dibilang era baru pemerintahan Konoha telah terbangun di bawah kepemimpinan Uzumaki Naruto, semuanya akan berubah dari sekarang, menuju masa depan yang lebih baik. Naruto mengeraskan tangannya, kepalan tangan itu begitu kuat sampai terdengar oleh telinga Shizune, rambut lurus putihnya menutupi mata sharingan, sambil sedikit menundukan wajahnya. Naruto tersenyum menyeringai.

Tiba-tiba saja, pintu tenda yang berada di depan Naruto terbuka, seseorang dengan muka gelisah dan terengah-engah muncul dari luar pintu tenda tersebut. "Hah ? hah ? lapor Hokage-sama, Sai-" ujar pemuda suruhan Iruka itu terbata-bata. Naruto yang mendengar informasi itu spontan terkejut.

"Sekarang di mana dia?" jawab Naruto dingin, meskipun begitu ia tetap ingin melihat keadaan Sai, yang menurut laporan dia terluka sangat parah.

"Dia sedang dipindahkan ke rumah sakit."

"Aku akan segera ke sana." Ujar sang Hokage berambut putih tersebut. ia mengepal tangannya, semakin kuat daripada sebelumnya.

"Sebenarnya ada apa, Naruto?" tanya Shizune yang tidak tahu apa-apa tentang permasalahan ini, melihat wajah Naruto seperti itu, wanita bermuka polos itu nampak khawatir. Namun Naruto tidak merespons pertanyaannya sama sekali, ia tetap memandang ke pintu tenda dan masih membelakangi Shizune.

"Ada apa Naruto?" tanya Shizune lagi, yang memaksa Naruto untuk menjawabnya. Naruto tetap diam, dirinya seperti memendam amarah dan kebencian, yang terkumpul sedikit demi sedikit di dalam tubuhnya. 'Harus segera aku akhiri.' pikirnya.

"Heh? Apa yang sebenarnya terjadi? ceritakan kepadaku, Naruto!" teriak Shizune tak mau tau, kecemasannya melebihi batas sehingga tata krama dalam berucapnya menjadi kasar.

"Diamlah!"

Shizune terdiam seribu bahasa, senyap, hening, di dalam tenda itu seperti rumah kosong tanpa penghuninya. Begitu sepi untuk beberapa menit… sampai Naruto memutuskan untuk segera bergerak. Ia melihat ke belakang, tapi tidak menoleh sepenuhnya.

"Tunggu di sini… suruh para jonin untuk mengawasi wilayah-wilayah desa dari sudut yang tidak terlihat sampai terlihat, pastikan semua warga desa aman dan jika ada salah satu shinobi dari ROOT yang memasuki pusat desa, bunuh mereka segera.."

"Heh? Tapi-"

"Ini perintah, lakukan!" tegas Naruto.

"Baik!"

Shizune bergegas untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Naruto, ia berlari keluar tenda dengan tergesa-gesa. 'Sebenarnya apa yang terjadi? -aku tidak mengerti.' batinnya yang semakin bingung dan risau, ketidakjelasan itu membuat pikirannya rancau wanita itu masih berlari terburu-buru menjauh dari tenda Hokage.

Sedangkan Naruto sendiri masih berdiri di dalam tenda, ia merenung sesaat. Mengingat kejadian yang akan menimpa desa sekali lagi, keheningan itu berlangsung beberapa menit.

. . . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

Sampai Naruto menghilang begitu saja, burung-burung gagak terbang dari dalam tenda keluar menuju langit biru yang tak terbatas. 'Semua rencanamu akan aku hancurkan, Danzo.'

Di rumah sakit Konoha, waktu itu sekitar pukul 20:00, Sai masih tak sadarkan diri di ruang perawatan. Beberapa teman-temannya telah menjenguk Sai sejak tadi, diantaranya adalah Sakura, Ino, Yamato, Kakashi. Mereka sedang mengelilingi ranjang Sai, pemuda berkulit putih pucat itu masih memejamkan mata rapat-rapat, layaknya orang yang sedang berusaha untuk membuka maniknya, tertidur dalam kelelahan yang luar biasa.

Perban-perban putih terlihat melilit sebagian tubuhnya yang terluka, goresan dan darah yang mengucur tadi sudah tertahan oleh kain-kain perekat, sambil menunggu Sai sadarkan diri. mereka yang menjenguk, tampak masih diselubungi kekhawatiran.

"Sudah 2 jam, Sai belum sadarkan diri." ucap Yamato mengawali pembicaraan.

"Kau benar, ketua Yamato. Aku sudah menutup bagian-bagian yang terluka, namun masih ada luka sobek yang susah untuk disembuhkan secara cepat, jadi harus membutuhkan waktu untuk menutup kembali luka itu." penuturan Sakura sekaligus menambahi apa yang telah dilakukan untuk Sai, membuat Kakashi menoleh ke arahnya.

"Separah itu kah?"

Sakura mengangguk, "Mungkin saja, dia akan sadar sebentar lagi." imbuhnya.

Dan ketika orang penting berjalan di lorong rumah sakit, maka ninja medis atau orang-orang yang berada di sana akan menunduk serta memberi hormat kepada beliau, Naruto berjalan menuju ruang perawatan Sai dengan langkah kaki yang cepat.

Tap tap tap, bunyi langkah kaki mengejutkan mereka, refleck terkejut itu membimbing wajah mereka untuk menoleh dan mengetahui langkah kaki siapa itu? dan di tepi pintu sudah berdiri Naruto dengan wajah datarnya.

"Naruto?" ujar Sakura spontan.

"Sai? Masih belum sadarkah?" tanya Naruto sambil menghampiri tempat tidur Sai, mata sharingannya memandang wajah Sai yang masih tak sadarkan diri.

"Sudah dua jam, dia tak sadarkan diri." jawab Sakura dengan mata yang terfokus ke wajah dingin Naruto. pandangan tak biasa itu terus terpasang di muka sang Hokage tersebut, mengundang berbagai pertanyaan bagi siapapun yang melihatnya.

"Naruto-sama? sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Yamato penasaran, dia menganggap Naruto tau sesuatu mengenai apa yang menimpa Sai.

"Panggil aku Naruto saja, Yamato-san. Tentang Sai…. Ini hanyalah masalah personifikasi, di mana aku dan dia lah yang mengetahuinya, memikirkan dampak dari segala hal yang kemungkinan terjadi. dengan terpaksa aku akan membeberkan rahasia ini kepada kalian…"

Muka yang tercetak di dahi mereka, mendadak berubah, ekspresi yang biasa-biasa saja menjadi penasaran dan semua yang akan dikatakan oleh Naruto, akan menjawab rasa penasaran mereka.

"Kemarin malam, Sai menemuiku….. dia menyampaikan informasi penting yang hanya diketahui oleh anggota ROOT, dengan keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi, dia datang kepadaku, memintaku supaya menghentikan rencana jahat Danzo. Danzo berniat untuk mengkudeta dan mengambil alih kepemimpinan Hokage dari tanganku.."

"Hah?"

"Tidak mungkin…"

Kakashi yang sedari tadi membaca buku pun, telah menutup bukunya rapat-rapat menyimpannya dalam kantung ninja, dan mendengar peristiwa yang sebenarnya terjadi di ruang lingkup Konoha.

"Jadi…. dia ingin menghancurkan Konoha?" tanya Kakashi dengan tatapan bosannya.

"Kurang lebih begitu, dan untuk itu Sai aku kirim kembali ke organisasi ROOT untuk mengorek informasi lebih dalam lagi mengenai rencana mereka, sejujurnya anggota ROOT adalah orang-orang yang baik… akan tetapi Danzo menyalahgunakannya kewenangannya, dan mengkambing hitamkan, ROOT dengan Konoha, dirinya memanipulasi dan memberi efek imajiner bagi anggota ROOT supaya percaya dengan apa yang mereka lakukan, bahwa menyerang Konoha adalah pilihan yang tepat." Tutur Naruto terlalu bersemangat menjelaskannya, walaupun semangat itu tidak terlihat sama sekali (wajah dingin).

Dan mereka yang mendengar berita tersebut hanya terdiam, berusaha memikirkan jalan keluar agar desa Konoha bisa selamat.. 'Padahal baru sebentar kita merasakan kedamaian dan kententraman di desa ini, tapi kenapa? Kenapa harus ada peperangan?' pikir Ino yang menundukkan sedikit wajahnya, pandangan matanya hanya tertuju ke lantai ruangan, terbayang jika sesuatu yang mengerikan itu akan terjadi lagi.

"Tenang saja… aku bisa menjamin keselamatan warga desa, kejadian yang sebelumnya tidak akan terjadi lagi.. dan malam ini, kalian bisa tidur tenang dibalik selimut hangat sambil ditemani secangkir coklat panas."

"Kenapa kau berbicara seperti itu Naruto? kau mungkin memang Hokage, akan tetapi kau tetap Naruto temanku, tidak akan kubiarkan kau melakukannya sendirian…" pungkas Sakura ngebet, ia bersikeras untuk membantu Naruto, dan teman-teman yang lain juga akan ikut membantunya.

'Kalian cukup di sini saja…'

Naruto melihat wajah-wajah mereka dengan tatapan dingin, dari Sakura, Yamato, Ino, dan Kakashi. "Hanya 4 orang yang ada di sini, tidak akan sulit untuk membuat mereka tertidur…" tiba-tiba mata sharingan Naruto berubah menjadi Mangekyou Sharingan. Sharingan itu intens memanipulasi mereka berempat… mereka semua terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri.

Bruukk…

Namun masih ada satu yang masih bisa bangkit, Hatake Kakashi. Dia terlihat berusaha untuk berdiri lagi, meskipun kesadarannya perlahan-lahan terenggut dengan sendirinya.

"Naruto? j-jangan l-lakukan s-semua itu sendirian…" ucap Kakashi terbata-bata, dan setelah itu kesadarannya telah menghilang begitu saja.

"Sharingan sensei memang bisa menangkal sesaat genjutsu ini, tapi itu percuma saja… genjutsu ini lebih hebat daripada genjutsu Uchiha Itachi." Papar Naruto yang berdiri di dekat kepala Kakashi. 4 orang jonin telah dimanipulasi oleh Hokage ke enam, jika diasumsikan lagi, sesuatu seperti itu tidak mustahil untuk dilakukan, mengingat Naruto pernah memanipulasi Rinnengan Nagato yang notabene lebih tinggi tingkatannya daripada Sharingan.

"Tidurlah….. dan bangun ketika esok hari telah tiba, matahari terbit menyinari wajah kalian, sinarnya begitu silau sampai membuat pandangan kalian samar namun di situlah kalian akan mendapatkan ketenangan yang sesungguhnya.." ucap Naruto yang tak bisa didengar oleh siapa-siapa lagi… dan ketika dia akan pergi dari ruangan itu, suara lirih memanggil namanya. "Naruto?" panggil Sai yang telah sadarkan diri..

"Sai?"

"Naruto? aku akan memberimu informasi yang sangat penting… ROOT akan mengkudeta Konoha pukul 20:30…" ucap Sai lirih, suara pelannya mengindikasikan bahwa pemuda itu masih dalam kondisi yang kurang baik.

Naruto pun berjalan ke sebelah Sai. Ia berdiri sebentar di sana… "Kerja bagus.. aku akan menghentikan pergerakan mereka sekarang juga."

Sai mengangguk paham, dan pemuda berambut putih itu menghilang tanpa jejak, seperti angin yang hanya numpang lewat dan menghembus rambut perlahan. Dan ketika itu Sai yakin, bahwa rencana Danzo akan dapat dihentikan oleh Naruto.

Naruto pergi dari rumah sakit dan menuju ke tempat di mana dalang dari semua kudeta ini terjadi. semua rencana yang telah tersusun sedemikan rapi, akan segera ia hancurkan, masa bodoh antara ROOT dan ANBU semuanya memang tidak bersangkutan.. akan tetapi ada yang diyakini oleh Naruto….

...

...

...

Naruto telah menapakkan kakinya di perbukitan Konoha, di situ tampak bangunan tua peninggalan Hokage pertama yang diyakini adalah rumah Danzo, dua patung berbentuk arca terlihat di sana, pemandangan yang cukup asing bagi Naruto.

"Jadi? kau memutuskan untuk melawanku? Uzumaki Naruto?"

"Aku tau ROOT telah bergerak ke seluruh penjuru Konoha, namun pasukan ANBU dan Jonin desa akan saling bahu-membahu untuk menghentikan pasukan ROOT."

"Tidak semudah itu, mereka memiliki kemampuan spesial di setiap individunya dan sebentar lagi, Konoha akan menjadi milikku seutuhnya." Pria tua itu sangat percaya diri akan kemampuannya, dia berpikir dapat mengalahkan sang Hokage dengan mudah.

"Konflik internal yang berkepanjangan akan mengakibatkan perpecahan… dan sebagai Hokage ke enam aku akan menghentikan semua kekacuan ini… tidak pandang bulu, teman, keluarga, atau musuh.. semua yang membahayakan desa, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya…"

"Aku tidak akan semudah itu, kau kalahkan." Tatapan Danzo sinis dengan mata terpejam sedangkan Naruto terlihat tersenyum dingin dengan belaian angin yang menghembus rambut putihnya.

'It's show time…..'

To be continue

Chapter 16 END

Yosh, terima kasih telah membaca POW chapter 16... tuliskan komentarmu di kolom review, karena satu review saja itu sangat berarti bagiku, #ketahuan kalau semangat nulisnya hanya ada di review... hehe

Bonus, Parody Scene:

White: Sial, lagi-lagi pada chapter ini kita tidak keluar, sudah 3 chapter kita tidak keluar, benarkan Kurama?

Kurama: kau benar White, sepertinya aku ingin memainkan cerita lain selain, cerita ini, aku sudah bosan duduk dan melihat Naruto beraksi.

White: Bagaimana kalau kita boikot cerita ini, kau setuju kan?

Kurama: Itu ide yang bagus... tapi jika kita boikot maka cerita ini akan berhenti, dan kita tidak bisa mendapatkan gaji...

White: Tenang saja. pasti banyak kok yang mau menerima kita menjadi hero atau enemy di cerita lain..

Author: Ehemm, oke White, Kurama, besok jadwal kalian sangat padat, ini naskah untuk kalian... pastikan kalian bisa menghafalnya dalam satu hari ya?

White: ini kan?

Kurama: Kita full scene!

White: Full scene gimana? orang kita cuma berdialog beberapa kata saja...

Author: Hehe, gaji kalian terlalu tinggi, jadi aku cuma berikan sedikit peran... tapi... kalian akan mendapat kucuran dana yang sangat besar disaat saat terakhir story Power of White nanti... untuk sekarang peran kalian masih belum terlihat...

Kurama: Kau dengar itu White?

White: kucuran dana kah? *blink blink

*maaf ya kalo bahasanya baku... terkesan kaku hoho..

bersambung besok xD EHH MINGGU DEPAN!

JAAA NAAA!

Yoshino Tada...