.

Hoping For More Good Days

(Cause You Never Walk Alone)

.

Chapter VI

-Stigma-

.

.

/ˈstiɡmə/

"It is not our differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences."

.

.

.

Rooftop. Apa yang di lakukan seorang Presdir disini?. Mencari udara segar karena stres akan pekerjaannya atau mencoba meregangkan ototnya karena terlalu lama duduk di singgasana kerajaan yang ia pimpin, bisnisnya. Jin menatap punggung itu dari kegelapan malam yang tenang, tak berani mendekat. Ia penasaran akan apa yang dipikirkan pria itu, hingga ia rela meninggalkan file-file kesukannya, yang selalu menemaninya sepanjang hari. Kepala pria itu selalu tegak dengan percaya dirinya tapi malam ini ia tertunduk lemas sambil sesekali menghela napasnya yang berat, seolah tak cukup oksigen di ruang terbuka ini. Dan Jin memutuskan untuk mendekat, untuk mengetahui apa yang mengganggu pikiran pria ini.

"aku mohon jangan mendekat!"

Suara itu terdengar bergetar, seolah ketakutan dan pasrah. Suara Namjoon yang selalu tegas hilang seketika seolah di hancurkan kegelapan malam, dihancurkan kekhawatirannya sendiri, itu yang ada di pikiran Jin saat ini.

Tapi Jin tak akan membiarkan Namjoon begitu saja. Membiarkannya menghadapi rintangannya sendiri, tapi pria itu selalu terlihat kuat di depan semua orang hingga Jin berpikir bahwa Namjoon benar-benar bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Tetapi di sisi lain Jin berharap Namjoon bisa melihat ketulusannya sebagai sahabat, menjaganya, menemaninya dan membantunya ketika ia membutuhkan. Ia ingin pria itu berbagi dengannya, masalahnya, segala hal yang membuatnya ketakutan.

"apa kau tak bisa melihat semua yang aku lakukan? aku selalu merentangkan tanganku jika kau membutuhkan pelukan ketika kau takut, aku selalu mengikutimu membiarkanmu sadar bahwa ada aku disisimu yang menemanimu apapun yang terjadi, aku mengabaikan hatiku yang kau lukai hanya untuk membuatmu tetap berdiri tegak tanpa mengkhawatirkanku, tapi kau seolah menutup mata, menganggapku tak ada dalam kehidupanmu, aku ingin kau berbagi semuanya denganku"

Namjoon berbalik menatap Jin dengan mata yang meredup. Mata yang bersinar itu tak becahaya seperti biasanya. Mata itu penuh keputus asaan.

"I don't need you, Jin!" tak ada ekspresi di wajah Namjoon atau ia hanya berusaha tak memperlihatkan emosi apa yang tengah dirasakannya

Wajah Jin tampak mengeras, ketika Namjoon mengatakan ia tak membutuhkannya. Tapi Jin mencoba berpikir jernih tak membiarkan kemarahan menguasainya, dan ia tahu apa yang harus ia katakan.

"Taehyung tak akan kemanapun, dia akan disini bersama kita, dia seseorang yang kuat, percayalah"

Namjoon hanya berdiri diam disana, menatap Jin seolah berkata 'apakah yang kau bilang benar? Apa bisa dibuktikan?'. Harusnya Jin tak pernah berpikir bahwa pria dihadapannya benar-benar ingin menyakitinya, permainan kata yang dilakukan Namjoon hanyalah sebagai pertahanan dirinya, sifat dinginnya merupakan topeng untuk menutupi kesedihannya. Ia hanya tak ingin siapapun melihat semuanya. Pria bodoh yang malang ini tampak begitu terpuruk. Bagaimana bisa selama ini ia bertahan dalam kesakitan ini.

Namjoon terperosok kebawah, lulutnya menyentuh lantai, ia membiarkan pakaian mahalnya kotor oleh debu, membiarkan kemejanya sebagai penyeka air mata. Tubuhnya bergetar hebat, ia memegangi dadanya yang terasa sakit, seakan oksigen enggan masuk ke paru-parunya hingga ia merasa sesak, ia mulai terisak, menangis hebat. Jin tak pernah melihat Namjoon seperti ini, seseorang yang kuat ini tampak begitu lemah dimatanya sekarang, nada kesedihan itu seolah ikut membuat Jin tersengat. Tapi Namjoon membutuhkan seseorang untuk membantunya agar tak terpuruk lebih dalam, sebuah pelukan hangat, hanya itu yang bisa Jin lakuakan saat ini.

"aku tak ingin kehilangannya, aku tak ingin ia meninggalkanku, aku ingin tetap bersamanya hingga aku mati, aku ingin ia menjanani harinya dengan baik, aku. . ." Namjoon menarik napasnya dalam, tangisannya membuat ia sulit untuk berbicara

"aku takut Seokjin-ah, aku sangat takut"

Getaran suara Namjoon sama sekali tak berubah, isakan-isakan itu lolos dengan mudahnya, tapi Jin tak bisa melakukan apapun, hanya bisikan penenang yang bisa ia sampaikan.

"setiap hari aku dihantui mimpi buruk, . . . setiap malam aku terbangun, setiap pagi aku takut membuka mata dan melihat tak ada lagi dia didunia ini" isakan Namjoon sama sekali tak berkurang

Malam itu hanya kepedihan yang menemani, bahkan langit seolah mengerti dan ikut bersedih, air mata itu menghilang disapu hujan. Angin malam pun semakin dingin hingga menusuk hati seseorang disana. Awan seakan ingin menerkamnya, membawanya jauh ke alam semesta lain, membiarkannya di telan lubang hitam. Tapi dari semua itu, hanya Jin yang akan menariknya pergi, membawanya untuk menghapus kesakitan itu.

.

.

.

.

.

.

.

'You need help and a friend, Jungkook-ssi'. Jungkook masih teringat dengan perkataan Taehyung di cafe saat dimana ia dan Jimin bertengkar. Ia terus memikirkannya setiap malam, berharap ia bisa memahami untaian kata sebuah kesimpulan yang ia buat sendiri membuatnya sedikit ragu. Apa yang dikatakan Taehyung seolah membuat hatinya terasa hangat sekaligus takut.

"apa kau sudah puas sekarang?"

Jungkook menatap berandal bersurai orange itu yang tiba-tiba saja sudah berdiri disampingnya, tak ada yang berubah dari Taehyung, nada bicaranya yang datar tapi terdengar menyeramkan itu tak pernah hilang.

"maksudmu?"

"bukankah Professor Choi yang membuatmu jadi penggantiku di kompetisi sains itu?"

"aku tak pernah. . ."

"jika kau ingin bersaing denganku, lalukan dengan bersih"

Taehyung tak memberikan Jungkook kesempatan untuk berbicara, wajah pria itu seolah menantangnya dalam sebuah pertandingan antara hidup dan mati, keangkuhan dengan sempurnanya menyelimuti Taehyung dan hanya menyisakan ketakutan dalam diri Jungkook.

Taehyung meninggalkan Jungkook begitu saja di ruang kelas, beberapa mahasiswa menatapnya tak suka. Perasaan tak nyaman itu mulai tumbuh kembali, bisikan halus namun menusuk itu dapat ditangkap oleh indra pendengarannya, asumsi mengenai dirinya akan menjadi bahan gosip mungkin saja akan terjadi, ia sudah terlalu sering melalui hal seperti ini. Seiring bisikan menyakitkan itu mereda suara pantofel yang terdengar menakutkan itu mengisi ruangan kelas yang mulai ditinggalkan mahasiswa satu per satu. Menyisakan dirinya dengan profesor Choi yang tengah mendekat ke mejanya. Pria itu berdiri sejenak menatap Jungkook sebelum dengan elegannya memutar kursi di depannya dan duduk menghadap Jungkook.

"aku tahu kau protes pada professor Lee dan aku sudah mengurusnya" pria itu berbicara dengan nada santai

Jungkook sama sekali tak terkejut, hal ini akan selalu terjadi, kapanpun dan dimanapun ia berada selalu ada kaki tangan ibunya, seolah tak hanya ruangan yang dipasangi cctv tapi juga manusia-manusia yang rela menjadi anjing peliharaan ibunya.

"aku bisa mengatasinya, anda tak harus melakukan hal ini Professor" Jungkook dengan tenang menaggapi

"kau bilang bisa?" professor Choi tertawa mengejek "Kau lihat, kau yang di utus karena aku yang mengurus professor Lee yang sok itu, bukan karena dirimu sendiri"

Jungkook tersenyum pilu mendengar perkataan profesor Choi.

"lakukan apa yang harus kau lakukan, bawa medali emasnya, perlihatkan jika kau lebih baik dari berandal itu" lanjut professor Choi

Pria itu mulai beranjak dari kursinya dan meninggalkan kelas dengan suara sepatu yang menggema di ruangan kosong itu. Jungkook tertunduk lemas dan menghela napasnya dalam. Seiring dengan kepergian pria itu dering ponselnya berbunyi seolah menandakan ada satu hal lagi yang akan merusak suasana hatinya hari ini. Ia meraih benda dengan suara yang mengganggunya itu, menatap layarnya dengan id caller yang membuatnya jengah.

"hm" Jungkook terlalu malas mengeluarkan suaranya

'good job!, aku sudah dengan dari Professor Choi, lakukan yang terbaik, aku ingin kau membawa medali emas, jangan mengecewakanku karena kau tahu konsekuensinya'

"aku . . . " Jungkook ragu dengan apa yang akan ia katakan tetapi ia yakin seseorang butuh jawaban yang diinginkan "aku tak akan mengecewakanmu"

'dan berandal di kelasmu, kelasmu adalah kelas terbaik jadi aku sudah mengurusnya, menyingkirkan. . .'

"eomma! Apa yang salah dengannya, bagaimana bisa melakukan hal ini, dia sama sekali tak mengusikku"

'aku lebih tahu apa yang aku lakukan, sampah seperti itu akan berpengaruh buruk'

"eomma!" Jungkook

'aku melakukan yang terbaik untukmu dan masa depanmu, jadi setidaknya kau berterima kasih'

Jungkook menghela napasnya, seakan lelah dengan pembicarannya di telepon tersebut.

'dan aku harus ingatkanmu sekali lagi, jangan pernah ke ruang musik'

"aku harus tutup teleponnya, aku ada kelas"

Jungkook menutup sepihak panggilan tersebut, dadanya sudah terasa sesak sedari tadi, matanya mulai terasa panas, hingga suara tangisan kecil lolos dari dalam dirinya. Dan si berandal itu hanya bisa berdiri dibalik pintu menemani Jungkook dengan tangisan menyedihkannya.

.

.

.

.

.

.

.

Mapo Bridge, mereka bilang ini adalah jembatan kehidupan, mereka yang mengunjunginya akan mengurungkan niat yang seharusnya tak datang pada diri mereka. Jungkook berjalan menyusuri jembatan tersebut. Disisi-sisi jembatan begitu banyak gambar tertempel disana, gambar orang-orang tersenyum, di sisi lainnya terlihat gambar beberapa orang berkumpul bersama, lalu sebuah gambar keluarga dan tampak bahagia. Jungkook berhenti, memandangi gambar tersebut lebih lama, sebuah senyuman pilu terlukis di wajahnya.

"apa mereka bermaksud mengejekku" lirih Jungkook

Dia kembali berjalan menyusuri jembatan yang sebelumnya merupakan tempat paling populer di Seoul, 'jembatan kematian' orang-orang menyebutnya, tetapi beberapa tahun belakangan jembatan ini mengalami perubahan, bukan jembatan kematian lagi dimana banyak orang mengunjungi ketika putus asa dan tanpa berpikir panjang melompat dari atas, tapi jembatan kehidupan, jembatan yang menurut Jungkook tak ada bedanya sama sekali. Well, beberapa tulisan atau gambar disana sama sekali tidak mempengaruhi Jungkook, perasaannya masih tetap sama.

"apa kabar? Sudah makan?" Jungkook tertawa pilu membaca tulisan di jembatan yang ia lalui "eomma tak pernah berkata seperti ini padaku, aku iri sekali"

Jungkook terus berjalan membiarkan kakinya membawanya hingga ia tepat berada di tengah jembatan. Ia berhenti, memandang sungai yang tampak bersemangat menyambut kedatangannya. Angin pun seolah tak mau kalah, bertiup kencang seakan menyorakinya. Gemuruh di langit bak tertawa lebar melihatnya. Awan kelam itu menari senang atas kedatangannya.

Jungkook tersenyum tipis, ia melepas dan membuka tas ransel favoritnya, sebuah buku dengan tulisan 'Aeroplane Engineering' ditatapnya sesaat sebelum ia lempar ke dalam sungai. Ponsel yang ia pegang sedari tadi juga tak luput dari lemparannya. Ia membuka mantel musim dinginnya melepas dan membuang ke sungai yang tampak bersorak sorai itu. Ia menaiki salah satu kakinya ke jembatan tersebut dan diikuti dengan kaki lainnya. Seolah tak takut ia kembali menaiki jembatan tersebut hingga ia bisa berdiri disana. Ia menatap sungai yang tampak kelam dengan arus yang tak begitu deras itu. Seketika pikirannya kembali pada masa-masa dimana eomma yang begitu menyayanginya yang selalu tersenyum hangat padanya.

"eomma tidak seperti dulu lagi, dan kau meninggalkaku sendirian. . .hyung aku merindukanmu dan aku sangat lelah melalui semua ini sendirian, hyung kau dimana?" Jungkook bermonolog, tak ada air mata hanya tatapan kosong yang memandang jauh kedepan

"semua ini sangat berat bagiku, beban ini membuatku kesakitan, aku tak sanggup menahannya lebih lama, setiap hari aku berpikir ingin mati saja, tapi aku masih ingin bertemu denganmu hyung, tapi menunggu lebih lama hanya membuatku hidup dalam kepedihan, aku benar-benar tidak bisa melakukannya lagi"

Ia menutup matanya perlahan, salah satu kakinya berpindah seakan ia bisa berpijak di udara bebas, ia membiarkan udara dingin itu merasuki paru-parunya sebelum membiarkan tubuhnya melayang ke dalam sungai tersebut. Ia mulai meringankan tubuhnya, membiarkan udara ikut mendorongnya dan membawanya ke dalam sungai hitam kelam itu. Tetapi. . .

BRUKKK!

Suara benturan keras itu menggema di kesunyian malam. Hanya terdengar deru napas yang berpacu hingga membuatnya sadar bahwa seseorang telah menariknya dari atas jembatan. Jungkook perlahan membuka matanya, mendapati seseorang dengan wajah antara marah dan takut menatapnya.

"YA! APA KAU SUDAH GILA?" pria itu mendekat lalu menarik kerah baju Jungkook

"APA YANG KAU PIKIRKAN? KAU KIRA INI SEMUA BENAR? KAU KIRA KAU ORANG PALING SIAL DI DUNIA INI? KAU KIRA KAU YANG PALING MENDERITA?!"

"oh Tuhan, Jungkook-ah"

Suara pria itu terdengar frustasi, ia mengusap kasar wajahnya, mengeratkan kepalan tangannya untuk menahan dirinya agar tak meninju Jungkook.

"Jimin-ah" cicit Jungkook, ia tampak takut dan menahan isakannya

Tanpa ragu pria tampan itu segera memeluk Jungkook, seerat mungkin dan Jungkook mulai menangis dalam dekapannya.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook menyerup teh yang baru saja di berikan padanya. Ia sesekali menatap kamar Jimin, begitu rapi dengan beberapa buku yang terletak di lemari disudut ruangan ini. Jungkook kembali menaruh teh tersebut di atas nakas, memandang beberapa foto yang tertempel disana. Begitu jelas foto-foto dirinya dengan Jimin, ia ingat foto itu diambil 3 tahun lalu. Disana mereka tersenyum lebar, tampak begitu bahagia, dan Jungkook tak dapat menyangkal saat itu memang yang paling membahagiakan, saat dimana ia dan Jimin bersama.

Disisi lain, Jimin juga memajang fotonya yang lain, ada Taehyung dengan penampilan berandal andalannya tengah berpose dengan Jimin, celana belelnya menghiasi kakinya yang panjang dipadu dengan kemeja yang dimasukkan ke dalam sebagian. Di samping foto tersebut terdapat foto lainnya, Taehyung dan Jimin yang saling merangkul dengan pakaian formal; jas mahal dengan dalaman kemeja sutra dan celana bahan yang terlihat lembut, sepatu pantofel dan rambut yang ditata rapi, tapi piercing di telinga mereka tak pernah lepas dari sana, dan aura dominasi Taehyung di foto itu terlihat jelas, pandangannya yang tajam tak beda dengan yang Jungkook lihat setiap kali tak sengaja menatap pria itu di kampus. Tehyung adalah Taehyung, pria itu sama sekali tak berbeda walapun di dandani seperti apapun.

"makanannya baru datang, kau ingin makan di ruang tengah atau disini?"

Jungkook menatap Jimin dengan semangkuk sup ayam yang menggodanya, hingga perutnya seolah bernyanyi meminta makan dan hal itu membuat Jimin tersenyum.

"maaf" ucap Jungkook dengan suara yang tak begitu dapat di dengar Jimin

"baiklah, kau makan di sini saja"

Jimin mendekat dan duduk di sisi ranjang. Lalu perlahan mengambil sup hangat itu dengan sendok dan Jungkook terus menerus memandangnya.

"cobalah, ini sangat enak" Jimin perlahan mencoba mendekatkan sendok itu ke bibir Jungkook

Jungkook membuka mulutnya, membiarkan kepingan ayam itu masuk dan meresap dilidahnya. Jimin kembali menyuapinya, dan Jungkook tak menolak.

"maafkan aku"

"maaf atas segalanya"

"maafkan aku"

"maaf"

Jungkook kembali menangis.

Jimin menaruh mangkok berisi sup itu dan dengan hati-hati ia menangkup wajah Jungkook agar menatapnya, ia mengusap air mata di mata Jungkook yang sudah membengkak itu.

"look at me now!" pinta Jimin

Jungkook membuka matanya, menatap Jimin yang tengah menatapnya lembut.

"aku tak peduli dengan yang sudah terjadi, jika hubungan kita tak bisa seperti dulu, jika kita tak bisa menjadi kekasih lagi, aku tak masalah, tapi jika kau butuh seseorang untuk bercerita aku siap datang kapanpun, dan jika kau juga tak bisa menganggapku teman, kau bisa menganggap aku seseorang yang kau kenal dan butuh seseorang untuk mendengar kisahmu, kau mengeti?" ucap Jimin lembut

Oh God!. Manusia macam apa dia ini, Jimin rela mengorbankan perasannya hanya untuk dirinya, Jungkook merasa menyesal dan kecewa dengan segala hal yang ia putuskan sendirian.

"berjanjilah padaku, kau tak akan melakukan hal bodoh seperti tadi"

Jungkook mengangguk patuh.

"dan jika kau ingin bercerita, kau bisa menelponku untuk bertemu bahkan kau boleh datang kekelasku dan menyeretku keluar"

Jungkook tersenyum dengan perkataan terakhir Jimin.

" kau ingin aku menelpon Taehyung?" tanya Jimin hati-hati

Jungkook menggelengkan kepalanya perlahan.

"manajer Oh?"

"apa aku boleh tinggal di sini untuk hari ini saja"

Jimin mengangguk dan seolah paham apa yang Jungkook inginkan.

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu berlalu sejak keadian di Mapo Bridge, Jungkook berharap tak ada yang mengetahui atau menjadi saksi mata dari aksinya itu. Tapi setidaknya selama ia berada di apartement Jimin ia merasa lebih tenang, pria itu merawatnya dengan baik. Jimin juga meminta bantuan temannya untuk membuat surat keterangan dari dokter karena Jungkook sama sekali tak ingin menghadiri kelas dengan alasan ia masih perlu waktu untuk sendiri. Tapi meliburkan diri selama tujuh hari tentu akan membuat kaki tangan eommanya curiga, tapi setidaknya ia tak mendapatkan panggilan dari diktator itu, sepertinya professor Choi juga tak tahu bahwa ia tak menghadiri kelas.

"aku dengar Professor Choi ikut andil dengan segala hal yang berhubungan dengannya"

Jungkook tahu siapa yang mereka bicarakan tapi ia tak berniat menanggapi, ia mengambil handphone nya dan memasang headset ke telinganya.

"pantas saja nilainya selalu terbaik" seseorang lainnya menanggapi

"ku dengar ia membayarnya dengan tubuhnya"

Suara tawapun menggema di kelas itu, pandangan mengejek menghujani Jungkook tapi bukannya ia tak berani menatap, ia hanya tak ingin mengurusi gosip bodoh itu. Seperti yang selalu Jimin katakan selama ia berada di apartemen 'kau tak usah menanggapi mereka yang mengejekmu, orang-orang itu hanya iri padamu dan kau tahu dirimu yang sebenarnya'.

"berapa kali mereka melakukannya? Apa seminggu, atau mungkin setiap hari"

"ohh a bitch that act innocent" seorang mahasiswi mendekat dan melepas headset Jungkook

"you look in love with professor's dick, dont you?" wanita itu tertawa dan diiringi tawa teman-temannya

BRUKKK

"YA!" wanita itu menoleh ke belakan ketika sebuah buku tebal baru saja mencium kepalanya.

Taehyung yang dari tadi duduk tenang di kursinya, sekarang tengah berdiri menatap wanita di dekat Jungkook. Menatapnya dengan tatapan bosan.

"kau tau suaramu itu sangat mengganggu"

"apa urusannya denganmu? Aku hanya berbicara dengan Jungkook, jika tak suka, kau keluar saja"

Wanita itu terlihat santai, ia sama sekali tak kelihatan takut ketika berhadapan dengan Taehyung, sedangkan teman-temannya hanya memandang dalam diam dengan wajah yang mulai memucat.

"berbicara? Yang aku lihat adalah kau sedang membullinya"

"lalu. . ." wanita itu tersenyum

"bisakah kau berhenti, sebelum aku mematahkan lehermu, mencakar wajah dan memukul hidung hasil operasimu itu" Taehyung masih terlihat santai tetapi suasana disekitarnya terasa panas

Wanita ini kembali tertawa lebih keras dari sebelumnya "kau menyukai pelacur kecil ini?"

Taehyung berjalan mendekat, wanita itu tetap berdiri diam tapi senyuman mengejek itu tak lepas darinya.

PLAKKK

Wanita itu memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Taehyung, dan Jungkook berusaha tenang walaupun ia begitu terkejut dengan tindakan Taehyung barusan.

"pelacur? kau tak sadar kaulah pelacur sebenarnya, kau keluar club malam dengan pria tua berbeda-tiap harinya" Tehyung menatap kesekelilinya, semua diam seolah tak percaya dengan perkataan Taehyung

"aku bisa buktikan, atau jika temanmu penasaran dengan kau yang sebenarnya, aku bisa memberi tahu mereka atau memajangnya di bagian informasi universitas" Taehyung tersenyum seolah menantang wanita berani ini

Wanita itu tampak ketakutan seolah semua kartunya di pegang oleh Taehyung "bukankah pelacur ini tak beda jauh denganku" wanita itu menunjuk Jungkook "aku juga bisa lakukan hal yang sama"

Taehyung menarik lengan Jungkook, membawanya berdiri di samping Taehyung sambil menautkan jari mereka, dan Jungkook tak berani menolak di tengah suasana yang mencekam ini.

"jika kau berani mengatakan kekasihku pelacur lagi, aku benar-benar akan mematahkan lehermu!"

Taehyung menarik Jungkook untuk keluar dari ruang kelas yang mulai terdengar ribut. Ia yakin sebagian bertanya-tanya mengenai wanita yang baru saja ditamparnya dan sebagian ingin mengetahui apakah Taehyung benar-benar memacari Jungkook. Dan dia tak peduli.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook melirik Jimin yang tengah sibuk dengan macbooknya, memainkan keyboardnya dengan jari-jarinya yang lincah, lalu sesekali menatap layarnya dengan ekspresi berpikir dan tampak serius. Jungkook tertawa kecil melihat pemandangan didepannya, melihat Jimin tampak menghayati tugas kampusnya yang sepertinya menguras otak pria tampan itu. Jimin menoleh ketika mendengar suara kekehan Jungkook.

"kenapa?" Jimin tampak bingung

Jungkook tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"kau menginap lagi disini?" Jimin tetap fokus dengan laptopnya

"apa kau keberatan jika aku tidur di sini lagi?"

Jimin tak menjawab, ia terus memainkan keyboard dan memandang layar macbooknya. Jungkook menunggu jawaban Jimin, ia masih ingat kebiasaan Jimin yang akan selalu fokus dengan apa yang ia kerjakan hingga suara di sekitarnya seolah tak terdengar. Jimin menutup benda tipis berbentuk persegi itu, menaruhnya di atas sofa dan berbalik menuju dapur. Jungkook sedikit bingung, pertanyaannya belum di jawab, apa Jimin tak mendengarnya atau Jimin tak peduli, mungkin saja Jimin sedikit keberatan.

"apa kau memiliki kekasih sekarang, sepertinya kehadiranku di apartemenmu membuatmu tak nyaman, jika memang seperti itu kau bisa katakan padaku"

Jimin menutup pintu lemari pendinginnya sambil membawa, potongan buah ke ruang tengah dan duduk di samping Jungkook.

"apa aku boleh bertanya tentang suatu hal padamu?"

"kau boleh bertanya apapun yang kau mau"

"apa kau dan Taehyung benar-benar sepasang kekasih?"

Jungkook terkejut dengan pertanyaan Jimin. God!, tentu saja tidak, ia dan Taehyung bukan sepasang kekasih, tapi Jimin sepertinya tahu yang sebenarnya, lihat saja ia menanyakannya karena ia ragu dan ia ingin memastikannya.

"ternyata benar kau berbohong"

Jungkook tak berusaha menyangkal.

"apa aku boleh tahu alasannya?"

Jimin menatap Jungkook yang berada di sampingnya. Jungkook juga menatap Jimin dalam diam.

"jika ini karena aku bukan. . ."

"bukan begitu" sela Jungkook "satu hal kau harus ingat, semenjak aku ingin mengakhiri hubungan ini itu bukan karena dirimu tapi karena diriku"

"aku tak mengerti"

"percayalah, aku sangat menyesal menyakitimu dan aku harap kau bisa memaafkanku, jika kau tidak bisa melakukannya, maka ketakutan yang ada dalam diriku pantas untukku"

"kau hanya perlu menjelaskan semuanya, jangan membuatku bingung dan berasumsi macam-macam"

"Jimin-ah, berada didekatku bukan hal yang mudah"

"kau jatuh cinta pada Taehyung"

Jungkook membuang napasnya, ia lelah berdebat dengan mantan kekasinya yang keras kepala ini, ia berdiri dari sofa, lalu mengambil ransel yang tergeletak di dekatnya, dan melangkah menuju pintu apartemen. Tapi belum sempat Jungkook membuka pintunya, Jimin menarik Jungkook dan menghemaskannya ke dinding.

"aku hanya butuh jawaban, apa itu sulit?"

"lepaskan aku Jim!"

"aku sudah cukup bersabar, tapi kau tak pernah mengerti perasaanku"

"apa?! kau tahu yang aku lakukan demi kebaikan kita, kebaikanmu"

"aku rasa itu hanya untuk dirimu, jika tidak kenapa kau menyakitiku "

Sampai kapan ia harus berhadapan dengan manusia keras kepala ini, Jungkook benar-benar ingin berteriak sekarang.

"Taehyung bukan kekasihku, aku tak memiliki perasaan apapun padanya, sekarang lepaskan aku!"

Jimin menyeringai, menatap Jungkook sekilas lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Jungkook. Ia menekan bibir itu agar memberi akses untuk menyentuh seluruh isi dalamnya. Jimin terus menekan bibir Jungkook, tapi Jungkook berusaha melawan tetapi ketika tubuh Jimin menekan tubuhnya, memegang tangannya erat mebuatnya tak berdaya seolah jiwanya terbang entah kemana. Tubuhnya terasa lemas seolah tulang yang menyangga tubuhnya meleleh. Hingga Jungkook akhirnya menyerah dan membiarkan Jimin menciumnya selama yang ia inginkan.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Annyeong yeorobun :D

How are you?

I'm pretty good after comeback from the death cuz of Bangtan slay everyone with their songs and choreos, TT , and I hope you all still alive guys XD

Please enjoy this, I dont wanna say anything about this chapter.

Yang gk tau tentang Mapo Bridge, tanya Google yahhhhh

.

Anyway, chapter 5 udah hampir kelar bikinnya, tapi enaknya di post kapan ya ? hahhaha

sedikit preview mungkin aku kasih disini . . . ;) double enjoyyy!

.

.

.

.

Chapter V

-First Love-

.

"kau menciumku" sela Yoongi "dan setelah itu kau membuangku" Yoongi berusaha menahan air matanya "dan hari ini aku melihatmu mencium seseorang"

"maaf, aku menyesal"

"kau menyesal karena telah menciumku?"

.

.

.

Jungkook melepas pelukannya, Taehyung segera memosisikan dirinya disamping Jungkook, ia merangkul Jungkook dengan meletakkan tangannya di lengan atas Jungkook.

"sepertinya kalian saling mengenal"

Mereka hanya diam tak menyahut sama sekali, tak tahu apakah Taehyung sedang bertanya atau tidak.

"baiklah, Jungkook-ah aku sebenarnya mengenal dokter Min, dan dokter Min aku belum memperkenalkan Jungkook padamu, dia adalah kekasihku"

.

.

.

Ia bergerak dan mendekatkan tubuhnya, Yoongi bisa melihat wajah Jimin dari samping dengan jarak beberapa sentimeter darinya.

"aku bisa mendengar detak jantungmu, aku tak bisa percaya ini" bisik Jimin

.

.

.

See You in the next chapter :)