Yo bertemu lagi dengan saya. Maaf karena sebelumnya POW tidak update, karena kemarin saya menempuh UN 2015 tingkat SMK/SMA sederajat, harap dimaklumi ya, bukannya saya hiatus, tapi belajar juga penting.. Xd ahh dan sekarang saya plong, jadi bisa update POW setiap minggu lagi, /BESOK TERAKHIR WOI XD


Chapter 18 update!

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre –Yang sekiranya sesuai

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 18

Kematian Danzo

Di bawah pengawasan bulan purnama, dua manusia berbeda generasi bertarung mempertaruhkan masa depan Konoha, rembulan tetap tidak memudarkan sinarnya, cahayanya yang menyilaukan mata cukup memberi efek cerah pada wajah mereka masing-masing, meskipun tidak bisa dipungkiri di balik wajah cerah yang terselimuti oleh cahaya bulan purnama itu, terdapat sebuah kegelapan yang menakutkan di dalam jiwa mereka membuat suasana di area itu, tidak berubah sedikit pun, mencekam dan mengerikan.

Air tumpahan dari jutsu Danzo masih saja mengalir rendah ke permukaan Konoha, melewati kaki Naruto yang masih berpijak di atas batu persegi yang datar dan tipis. Akan tetapi kondisinya yang sekarang dan sebelumnya sangat berbeda, di kedua lubang mata sang Hokage, telah terpasang dua mata agung, mata yang paling kuat dan mengerikan. Ialah mata Rinnengan, mata yang dahulu kala hanya dimiliki oleh kakek dari semua Ninja. Rikudou Sennin.

Danzo tak tau apa yang harus diucapkannya ketika melihat mata impian itu telah terpasang di wajah Naruto, bagai laut yang mengering, bulan yang jatuh ke permukaan bumi, apa yang dilihatnya benar-benar mustahil. Bibirnya bergertar, keringatnya mengucur dan menetes pertanda kegelisahan, kecemasan, dan pupil pada kedua matanya tidak berhenti gemetaran, bahkan keringat yang ia keluarkan berangsur-angsur menjadi dingin, kehangatan pada malam hari itu telah menghilang dengan sekejap, aura-aura mencekam keluar dari tubuh pemuda berambut putih, tatapan dan seringaiannya membuat Danzo di ambang kehancuran, ketakutannya semakin menjadi-jadi ketika mata Rinnengan menyala, wajah Naruto menjadi gelap, dan sekarang tetua Konoha tersebut telah melihat sosok dari Naruto yang sebenarnya.

"S-sebenarnya s-siapa k-kau?" tanya Danzo terbata-bata. Naruto tidak berhenti memasang wajah licik bercampur nuansa dingin yang bertabur di wajahnya, ketika semua orang melihatnya. Dia yakin, mereka semua akan takut kepadanya dan menjauhinya, oleh karena itulah 'Inilah waktu yang tepat untuk menunjukkan diriku yang sebenarnya.' pikir Naruto yang telah tenggelam di lautan kegelapan yang berada di dalam dirinya sendiri.

Zetsu hitam dan Zetsu putih masih mematung di antara bebatuan yang menyembunyikan penampakan mereka, tapi dari sela-sela batu, mereka masih bisa menyaksikan pertarungan tersebut. ia masih tidak percaya sekaligus tidak terima terhadap apa yang dilihatnya.

"Ini benar-benar gawat, jika dia bisa mengendalikan mata itu dengan sempurna, pasti tidak akan mudah untuk mengalahkannya dan mengambil mata itu kembali," batin Zetsu hitam resah, tapi dia tetap melihat jalannya pertarungan itu sambil memikirkan solusi yang tepat untuk menangani permasalahan tersebut.

'Ini adalah informasi yang penting, bolehkah aku memberitahukannya kepada Uchiha Sasuke?'

'Tunggu dulu, kita lihat siapa yang menang. Terlebih lagi ini menyangkut rencana kita, kita harus berhati-hati dalam mengambil keputusan, salah sedikit saja rencana yang selama ini kita idam-idamkan akan sia-sia'

'Kau benar, tapi apa kau tidak melihat kejanggalan dari kedua mata itu?' tanya Zetsu putih, di dalam alam batin mereka berdua, jiwa mereka terhubung.

'Hanya satu kejanggalan'

'Apa?'

'Dia memiliki dua kepribadian, yang sulit untuk dibedakan.'

Hushhh….

Kata-kata itu menutup perbincangan dua mata-mata Akatsuki, diakhiri hembusan angin malam yang tenang, menyejukkan nuansa pertarungan berlinang darah tersebut. 10 nyawa melawan 1 nyawa, dan dari 10 nyawa telah berkurang menjadi 8 nyawa, Naruto masih terlalu kuat untuk Danzo, apalagi jika ditambah dengan kekuatan Rinnengan Naruto. pertarungan ini akan menjadi berat sebelah.

Danzo masih diselubungi ketakutan yang mendera tubuhnya, dia ingin melangkah tapi kakinya seperti mengatakan 'tidak' dan sesuatu seperti itu menunjukkan bahwa dirinya bukanlah seorang shinobi sejati.

Langsung saja, sebuah batang hitam legam dan cukup panjang menusuk perut Danzo, sampai Danzo terseret beberapa meter ke belakang akibat saking kerasnya hempasan batang hitam itu, tubuhnya tidak bisa menahan kekuatan tersebut, dan menghantam sebuah pohon dengan keras.

Duar!

Batang pohon ambruk dan hancur berkeping-keping, debu-debu hasil hantaman itu masih terbang melayang-layang di udara, menutupi tubuh Danzo yang baru saja menghantam pohon. "Disaat-saat seperti ini, kau masih bisa melamun? Danzo? Batang hitam itu hanya permulaan saja." dan diwaktu yang bersamaan, Danzo telah muncul dari kepulan debu, ia menghembuskan elemen angin yang memiliki daya jelajah tinggi dan kekuatan dahsyat.

Peluru angin berjumlah banyak telah menuju tempat berdirinya Naruto. dan sebuah perisai transparan menyelubungi tubuh Naruto, peluru-peluru angin itu tidak berpengaruh sama sekali baginya.

"Aku sudah tau, kau hanya bisa menguasai jutsu angin dan memvariasikannya, kau tidak lebih seperti seorang bocah Danzo." Naruto tersenyum menyeringai, tangan kanannya ia arahkan ke tubuh Danzo yang masih melayang di udara.

Banshote'in!

Danzo terkejut, karena tiba-tiba saja tubuhnya merasa dikendalikan, "Apa ini? kenapa tubuhku?" tubuh pria tua itu melayang dan tertarik ke tangan Naruto dengan sendirinya, selepasnya leher keriput dan telah menua tersebut telah tersemat di genggaman Naruto.

"Ergggh, Sialan kau! Bocah!" ujar Danzo diselingi kesakitan akibat cengkraman kuat tangan kanan Naruto di lehernya. Danzo tidak bisa berkutik, meskipun ia mencoba untuk meronta-ronta namun tetap saja, Danzo tidak bisa lepas dari cengkraman kuat itu, bak tangan dewa yang kekuatannya melebihi manusia pada umumnya.

"Siapa yang kau panggil bocah? Orang yang pernah kau tindas dan tidak pernah kauperhatikan sama sekali sudah ada di depanmu, anak jelmaan musang berekor 9 yang telah dicaci maki serta dihina habis-habisan oleh warga desa. Yang sekarang ini telah menindasmu dan kau bagaikan pria tua yang tidak berguna, lebih tepatnya sampah."

"Berani-beraninya kau! Ergghh!" ucap Danzo yang berusaha melepas diri, kedua tangannya memegang pergelangan tangan Naruto yang masih konsisten mencekik lehernya kuat-kuat. 'Kuat sekali!'

"Mati kau!"

Leher Danzo hancur, darah merah pekat menyembur dari lehernya, tersemprot ke mana-mana, layaknya hujan darah yang segar dan nikmat. Naruto memandang ke sampingnya, dan ia tidak begitu terkejut ketika melihat Danzo yang sudah berdiri di sana.

"Jutsu ilusi itu benar-benar merepotkan.." gumam Naruto sedikit kesal, mata Rinnengannya tidak berhenti menatap mata tenang Danzo dengan sorot tajam, tenang dalam kebimbangan antara takut dan harap-harap cemas.

Danzo terlihat berpikir, mustahil untuk mengalahkan Naruto. meskipun memiliki izanagi sekalipun. Tapi dirinya tidak mau menyerah semudah itu, karena kesepakatan itu begitu menggiyurkan, niatnya menjadi seorang Hokage tidak akan padam begitu saja.

"Kenapa kau mau membela mereka? walaupun kau tau mereka lah yang telah membuatmu menderita, Naruto?" tanya Danzo dengan tatapan yang masih sama, suara serak basah dengan nada datar.

"Karena melindungi mereka adalah pesan yang diberikan oleh Jiraiya-sensei kepadaku, semua yang dikatakan oleh Sensei akan kulakukan, meskipun harus menempuh jalan kegelapan."

Danzo tersenyum percaya diri, ia pun bertekad untuk mengeluarkan kemampuan taijutsunya, dengan bekal elemen kayu yang ia miliki di salah satu tangannya dari sel Hashirama, Danzo berlari sambil membawa kunai runcing di tangan kanan. Naruto pun juga tak tinggal diam, ia berlari menuju Danzo yang berlari ke arahnya.

Danzo melemparkan lima buah shuriken sekaligus, shuriken itu telah dilapisi elemen api. Menghasilkan 5 bola api yang menyala-nyala di tengah kegelapan malam, Naruto masih tetap maju ke depan. Tatapan dingin masih terpasang di wajah yang berkarisma tersebut.

Setelah shuriken itu mendekatinya, lebih dekat lagi. tiba-tiba saja, shuriken itu terpental dengan sendirinya, terlempar ke sembarang tempat.

"Apa?" ujar Danzo terkejut.

Akan tetapi Danzo tetap tidak gentar, ia masih berlari lurus ke depan. Melihat tatapan dingin Naruto, Danzo menyadari bahwa dirinya akan kalah karena mata itu bisa melihat segalanya. pertarungan jarak dekat pun tak bisa dihindari lagi, Danzo melayangkan tendangan keras di bagian pipi Naruto, Naruto mengelak cepat, ia menundukkan sedikit kepalanya.

Namun dengan pergerakannya, Danzo berusaha menendang kepala Naruto dengan kaki kirinya, Naruto menghindar dan bergerak ke belakang beberapa centimeter. Namun ketika Naruto tetap percaya diri bahwa dia akan memenangkan pertarungan jarak dekat ini, sebuah Kunai telah Danzo sodorkan ke wajahnya.

"Rasakan!" teriaknya dalam semangat membunuh yang meggebu-gebu. Naruto masih diam di tempat, ujung kunai yang tajam itu telah berada dalam bayang-bayang matanya. dan Danzo yakin bahwa serangan tersebut akan mengenai wajah dinginnya yang menyebalkan.

"Terlalu berlebihan jika kau mengira kunai ini akan menembus kepalaku, kau terlalu naïf." Dengan sigap, Naruto mengambil kunai itu dari tangan Danzo, dan mengarahkannya ke kepala tua yang penuh keriput tersebut. Sebaliknya kunai lancip itu malah menancap di wajah Danzo dan menghancurkan kepalanya sendiri. "Argg! Kenapa bisa!" ujar Danzo yang menutup wajahnya akibat terkena serangan barusan.

Darah mengucur dari wajahnya, mengalir dari sela-sela jemari yang berusaha menutupi lukanya. Matanya telah tersodok benda runcing itu dan hasilnya, ia tidak bisa melihat lagi.

Rumah sakit Konoha.

Shizune masih berlari-lari dengan piluh keringat yang membanjir di kulit wajahnya, ia berlari dari koridor ke koridor dari lorong ke lorong dan dari ruangan satu ke ruangan lainnya, berharap menemukan ruangan di mana Sai dirawat, mengingat terjadi insiden yang menimpa desa. Para pasien dan perawat telah diungsikan ke tempat yang aman.

"Di mana Sai?" pikir wanita berambut hitam lurus itu sambil tetap mencari-cari dengan tergesa-gesa, dan ia sampai di lantai paling atas, dan menemukan Kakashi, Sakura, serta Ino yang tergeletak di lantai. "Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" ujar Shizune membuat nuansa hening berubah karena suara kecilnya.

Lalu ia melihat Sai yang masih dalam keadaan tertidur pulas. "Ya ampun, disaat-saat genting seperti ini, mereka malah enak-enakan tidur? Tapi apa benar mereka hanya tidur saja?"

"Sakura-Sakura?" panggil Shizune sambil menggerak-gerakkan tubuh Sakura supaya segera tersadar dari tidur nyeyaknya, itu menurut wanita berpangkat ninja medis tersebut. mata Sakura terbuka perlahan, pandangannya masih sayu-sayu, dilihatnya bayangan Shizune yang samar-samar, sedangkan Kakashi telah duduk sambil memegangi kepalanya.

"Kalian tidak apa-apa Sakura, Kakashi-san?" tanya Shizune cemas.

"Kami baik-baik saja, dan hanya terkena genjutsu Naruto" jawab Kakashi yang telah sadar sepenuhnya. Sakura pun duduk dan membangunkan Ino,

"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Ino yang masih pusing karena pingsannya. Wanita berambut pirang itu memegangi kepala bagian belakang. dan pertanyaan itu dijawab Shizune serius. "Ketika kalian pingsan, pasukan ROOT menyerang Konoha." Papar Shizune sungguh-sungguh, sorot matanya menandakan keseriusan itu.

"Anggota ROOT? Menyerang Konoha? Tidak mungkin?" ujar Kakashi terkaget, ia tidak menyangka bahwa organisasi yang memprioritaskan diri untuk melindungi desa itu, malah berbalik menyerang Konoha, ia pikir petingginya sudah gila.

"ROOT itu apa, Kakashi-sensei?" tanya Sakura bingung dan kurang tau.

"ROOT adalah organisasi berbadan khusus yang dimiliki Konoha, mereka bertugas untuk melindungi Konoha dari dalam maupun luar, system kerjanya hampir mirip dengan ANBU namun cara mereka untuk melindungi ketentraman dan kedamaian desa sangat berbeda daripada ANBU, biasanya mereka lebih memilih dengan cara mudah atau bisa dibilang pertumpahan darah." Tutur Kakashi-sensei.

"Tapi tenang saja, kondisi sekarang sudah dapat dikendalikan, pasukan elite ANBU, Jonin dan Chunin telah bekerja sama untuk mengalahkan mereka" sela Shizune meredakan suasana itu menjadi sedikit tenang dan santai.

"Wah? Apa itu benar, Shizune-san?" tanya Ino yang lega akan informasi itu, sebelumnya ia harap-harap cemas dan khawatir apabila terjadi apa-apa dengan desa. Terlebih lagi ini menyangkut tentang perdamaian Konoha.

"Iya benar. Naruto lah yang telah bergerak terlebih dahulu untuk melindungi desa ini."

"Naruto? sekarang di mana dia?" tanya Sakura mendengar nama itu disebut oleh Shizune. "Aku tidak tau, tapi yang pasti aku yakin dia sekarang baru melawan pemimpin ROOT."

"Danzo, benar kan?" ujar Kakashi.

"Iya. Bagaimana pun juga, dia telah menyelamatkan desa dua kali, ini merupakan prestasi bagi kita semua, terlebih lagi dia adalah Hokage muda." Puji Shizune.

"Tapi kita harus mencarinya," ucap Sakura sambil berniat keluar ruangan, namun tangan Kakashi telah mengagalkan aksinya. "Aku tau perasaanmu Sakura, tapi kali ini kita serahkan kepada dia, dia yang telah mengatur semua ini. aku yakin dia dapat mengalahkan Danzo."

"Lawannya kali ini, tetua Konoha. Tidak mungkin aku bisa tinggal diam di sini sementara dia bertarung habis-habisan."

"Yang dikatakan Kakashi-san benar, Sakura." sela Shizune menengahi pembicaraan. Sakura mengeratkan giginya, matanya terpejam seolah ingin menangis, ia terlihat memikirkan sesuatu perihal Naruto, dan suasana di ruangan itu menjadi sepi, ketika membahas pertarungan yang dilakukan Naruto.

"Tapi aku tidak mungkin diam saja di sini… aku benar-benar mengkhawatirkannya, lagi-lagi kita harus bergantung kepadanya, menjadikan tubuhnya sebagai perisai pelindung kita, melihatnya seperti itu, aku-aku tidak akan tinggal diam!" teriak Sakura dalam ketegasan dan keteguhan hati yang luar biasa, niatnya telah bulat, ia keluar dari ruangan itu melalui jendela untuk mencari-cari di mana Naruto berada.

"Sakura!" teriak Ino cemas.

"Kakashi-san? Bagaimana ini?" tanya Shizune yang telah prihatin, wanita itu telah memahami bagaimana perasaan Sakura terhadap Naruto sekarang, dan ia tahu jika dia ada di posisi Sakura, maka ia akan melakukan hal yang sama.

"Aku akan mengejar Sakura, sebaiknya kalian tunggu di sini."

"Baiklah." Jawab Ino dan Shizune serempak.

Perbukitan Konoha, pertarungan masih berlanjut.

Mata kiri Danzo telah robek akibat kunai yang tertancap di pelipis matanya, Danzo masih memegangi mata itu sambil berteriak-teriak kesakitan, rasa sakit itu benar-benar menganggu aliran chakranya. "Kali ini berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya aku menyerang dengan niatan membunuh, tapi serangan ini hanya kuperuntukkan untuk memberi luka pada wajahmu sehingga kau tidak dapat menggunakan ilusi Izanagi, karena itu hanya sekedar luka bukan kematian."

"Sudah lama aku tidak menggunakan jutsu ini." Naruto menengadahkan tangan kanannya, bulatan dan pusaran berwarna biru muda mulai terkumpul dan berputar sesuai porosnya, semakin cepat dan cepat. "Ini jutsu Sensei, kenapa aku bisa lupa?"

Tiba-tiba saja, Naruto telah ada di depan tubuh Danzo dan menyarangkan rasengan berbobot itu ke bagian perut Danzo. "Uoggh?" Danzo terhempas jauh, dan terseret di tanah. Tubuhnya merasakan serangan itu, membuat dirinya tidak bisa bergerak dan mengelak, untuk berusaha berdiri saja, ia merasakan kesulitan, akibatnya ia harus menggunakan Izanagi lagi.

Danzo telah melayang di atas Naruto, pria tua itu pun terjun ke arah Naruto secepat kilat yang menyambar. Naruto telah menyadari itu, dan Shinra Tensei, jutsu pengendali gravitasi telah aktif secara otomatis, membuat Danzo terhempas untuk kedua lagi, bak dedaunan kering yang tersapu angin ribut. Danzo terpental sejauh 20 meter ke udara dan menghujam keras tanah.

Duarr!

Kerikil-kerikil dari kerasnya tanah berhamburan ke mana-mana, karena kuatnya hempasan gravitasi tersebut, tanah pendaratan Danzo juga telah hancur membuat tanah tersebut sudah tidak ada bentuknya lagi, berpikir ini untuk kedua kalinya, tulang-tulang Danzo sudah retak-retak, ia tidak bisa bergerak lagi, tanah itu menjadi tumpuan dirinya. rasa untuk bangkit itu hilang ketika satu batang hitam karbon telah menghujam tubuhnya.

Crshhh!

Tatapan mata Rinnengan itu masih saja seperti sebelumnya, menakutkan dan mengerikan. Darah keluar dari mulut Danzo, dan saat Naruto memandang wajah penuh keangkuhan itu. Danzo telah menghunuskan sebuah kunai yang dilapisi elemen angin, sehingga kunai itu seperti pedang yang panjang dan telah terasah tajam.

"Izanagi lagi kah?" ucap Naruto seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.

"Menyerahlah, atau aku akan menancapkan pedang ini lebih dalam lagi." suara aneh yang dibuat oleh gesekan antara pedang dan daging terdengar menjijikkan, apalagi diselimuti darah segar yang melengkapi tusukan pedang berbahan angin tersebut.

"Jangan membuatku tertawa Danzo, hal seperti ini-" tidak sempat melanjutkan perkataannya, Danzo memperdalam tusukannya, dan telah menembus tubuh Naruto. "Kakek tua yang licik." Ejek Naruto dengan nada datar dan mengolok-olok tetua Konoha tersebut.

Suara itu tidak berhenti, malah semakin terdengar mengerikan ketika Danzo menusukkan pedangnya lebih dalam lagi, darah menyembur dari tubuh Naruto, mancur seperti aliran air yang tidak ada habisnya.

"Nyawamu telah berada digenggamanku sekarang, sepertinya kesepakatan itu telah berpihak kepadaku, Uzumaki Naruto." ucap Danzo dengan suara pelan, seperti berbisik-bisik menggunakan nada bicara tenang namun berusaha memprovokasi.

"Begitu kah? ini menarik."

Danzo semakin memperdalam tusukannya, kali ini sampai ujung gagangnya, dan pedang berelemen angin itu telah mencapai batas panjang maksimalnya. "Dengan ini berakhir sudah, kau akan segera mati, Naruto."

Rembulan pada malam hari itu memihak penuh Naruto, bulatan cahaya yang hampir mirip dengan mata sharingan terus membayangi tubuhnya, menjadikan dirinya tersenyum dingin. Burung-burung gagak terbang dari tubuh Naruto, menyebar ke udara, ke segala arah. Sekarang tubuh itu hampa, bagaikan kekosongan di ruangan yang tidak berpenghuni.

"Tipuan ini lagi? Tch!"

"Kau terlalu naïf, Danzo." Bisik Naruto yang telah berdiri di belakangnya, dan sesuatu yang ganjal telah menembus punggungnya, tangan yang berusaha mencari-cari di mana letak jantungnya. "Kau? Siapa kau sebenarnya?" tanya Danzo untuk kedua kalinya, namun Naruto enggan berkomentar dan tetap saja mengambil jantung Danzo secara paksa, untuk meremasnya disaat itu juga. Tanpa belas kasih sedikit pun, senyuman pembunuh berdarah dingin terus saja tercetak di bibir manisnya.

Danzo terjatuh di tanah, mata-mata sharingan yang berada di lengan kanannya berangsur-angsur mulai berkurang, sedikit demi sedikit. Dan sampai sekarang ini, Danzo hampir mencapai batasnya. 3 mata sharingan yang masih tersisa, 2 di tangan dan 1 di mata bagian kanannya.

Danzo telah berdiri di depan Naruto kurang lebih 15 meter, tubuhnya masih segar bugar, tidak ada luka sayatan maupun goresan yang melukai tubuhnya. Matanya terpejam satu dan yang satunya lagi masih tertutup perban sedangkan di lengannya masih ada dua mata yang menunggu giliran untuk dikorbankan.

"Sekarang mengalahkannya akan semakin sulit, sial kuat sekali anak itu." gumam Danzo yang berpikir keras menemukan cara untuk mengalahkan Naruto, setidaknya untuk memberikan goresan atau luka kecil terhadap tubuh Naruto.

Hembusan angin terus mengobarkan jubah putih yang dikenakan pemuda berambut putih tersebut, senyuman dingin nan tenangnya masih terpasang di lekuk bibirnya, ketika Danzo sudah kehabisan pikiran, Naruto menyergapnya tanpa ampun.

Kuchiyose no jutsu!

Bunglon yang tak kasat mata telah berjingkat-jingkat di sekitar tubuh Danzo, mata Rinnengan yang menonjol dari kulit matanya berputar-putar tak mau tau, lidah panjang dan lengketnya mulai ia julurkan dan Danzo tidak berdaya dibuatnya, lilitan itu begitu kuat sampai Danzo tidak bergerak sedikit pun. Dan sebuah batang hitam karbon keluar dari lengan pakaian Naruto, melesat kencang bagai roket yang menyala-nyala. Batang itu menghantam keras bagian kepala Danzo,

"Uoghh?"

Sampai Danzo tidak bisa berkutik lagi. darah muncrat ke mana-mana, dan oleh sebab itu mata terakhirnya telah ia gunakan, kali ini tidak akan ia sia-siakan.

Zetsu hitam dan Zetsu putih yang sedari tadi menyaksikan pertarungan itu, mulai diambang kepanikan terutama Zetsu hitam, yang melihat gaya bertarung sang Hokage yang seperti telah menguasai betul mata Rinnengan dan jutsu-jutsu yang ada di mata itu.

"Ini benar-benar tidak baik. Dia membuat Danzo seperti mainan saja."

"Benarkah itu?"

"Apa kau tidak melihatnya, dia itu tidak bersungguh-sungguh sejak tadi."

"Ha? Habis itu seberapa kuatnya dia sebenarnya?" ujar Zetsu putih menganga. Terperanga, terkejut, terkaget menjadi satu. Ketika mendengarkan ungkapan Zetsu hitam bahwa Naruto tidak bersungguh-sungguh dalam pertarungan itu.

"Dan ini adalah bagian akhir dari pertarungan mereka.." tutur Zetsu hitam yang kembali larut dalam menyaksikan pertarungan.

Tiba-tiba saja Danzo menyerang dari depan, ia membuka mata sharingan di kepalanya, dan mengarahkan beberapa kode rahasia yang tertulis di tangannya. "Kau melanggar kesepakatan Danzo, kenapa kau harus bunuh diri?"

"Inilah satu-satunya cara untuk melenyapkanmu, bocah sialan!" teriak Danzo yang berlari tergopoh-gopoh meskipun masih tersisa 1 mata sharingan di lengannya, namun ia menyadari bahwa semuanya telah sia-sia, pertarungan ini seperti telah direncanakan oleh Naruto sebelum pertarungan dimulai.

"Segel segi delapan?"

"Dengan ini kau akan mati!"

Naruto tersenyum sinis. "Pada akhirnya, aku harus mengambil ingatannya secara paksa, susah sekali bernego dengan pria tua ini." Naruto bergerak cepat. Ia telah membelakangi Danzo untuk sesaat ia berhasil memegang kepala Danzo, dan menyerap beberapa ingatannya yang masih jelas.

"Jadi begitu, itulah kenapa Sasuke bergabung menjadi anggota Akatsuki."

"Sialan! Kau!"

Danzo memasang handseal di tangannya, lalu tinta-tinta berwarna hitam menyembur dari tubuhnya. Dan membentuk bulatan yang menjorok keluar semakin besar dan besar, membuat partikel-partikel yang memilki unsur atom lenyap dalam sekejap. Naruto berusaha menghindari serangan itu, dan lari sejauh mungkin.

Namun sebelum itu darah-darah Danzo tersemprot ke arahnya, beberapa bagian dari tubuhnya terkena cairan menjijikkan itu. meskipun begitu ia sangat puas dengan pertarungan yang berlangsung menarik ini.

Sekarang Naruto telah berdiri di tepi lubang hasil jutsu bunuh diri itu, ia tersenyum menyeringai diselimuti oleh darah-darah yang masih menempel di wajahnya, membuatnya semakin menakutkan daripada sebelumnya.

Sedangkan Zetsu hitam dan Zetsu putih telah bersiap untuk bergegas menuju tempat Uchiha Obito dan Uchiha Sasuke, mereka berpencar.

"Sudah kuduga pertarungan ini akan dimenangkan Uzumaki Naruto, kita harus laporkan kejadian ini kepada mereka berdua."

"Aku mengerti."

Dalam kebimbangan jati dirinya, Naruto masih berada di angan-angan yang membingungkan, dia membunuh untuk apa? Ketika ia membunuh perasaannya akan menjadi senang, memicu kegembiraan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Dan sesuatu itu telah menjadikan dirinya sebagai pembunuh berdarah dingin, dia baik ke semua orang tapi jahat ketika menghadapi orang-orang yang ingin menyakiti teman-temannya atau warga desa. Dalam artian Naruto telah melakukan apa yang dinginkan oleh Jiraiya-sensei.

"Sesuai pesan Jiraiya-sensei, aku telah melenyapkan kegelapan yang ada di Konoha."

Sakura mendarat dari pencariannya, dari kejauhan ia melihat Naruto yang berdiri tenang tanpa ada gangguan, wanita itu mencoba mendekatinya, ia berlari sekencang-kencangnya untuk memastikan keadaan orang yang ia cintai. "Naruto!" panggilnya dengan nada cemas.

Naruto menoleh ke arahnya. Dan disaat itu juga Sakura menangisi keadaannya, bukannya tidak wajahnya berlumuran darah Danzo, dan ia tau bahwa Naruto baru saja membunuh seperti dulu yang pernah ia lakukan, kebengisan dan kekejaman itu sulit untuk dipahami Sakura dan untuk itulah, ia menangis dalam dekapan hangat sang Hokage.

"Kenapa kau menangis, Sakura?"

"Kau bodoh apa!? Aku mencemaskanmu, dasar Hokage bodoh!" teriak Sakura yang masih bersembunyi di dada bidang Naruto, semilir lembut angin malam menghanyutkan suasana itu, dan mereka berdua berpelukan di bawah bulan purnama yang indah sampai Kakashi-sensei datang dan menghampiri Naruto.

"Kakashi-sensei?"

Sakura melepas pelukannya, Naruto pun menoleh ke arah Kakashi dengan wajah bingung, karena Kakashi melangkah cepat ke tempatnya berdiri. "Ada apa Kakashi-sensei?"

Dashhh!

Sebuah bogem mentah menghantam pipi kanan Naruto. Sakura terkejut, ia pun berusaha menolong Naruto yang terjatuh akibat pukulan itu. "Naruto? ada yang ingin aku bicarakan denganmu, apa arti Hokage sebenarnya?"

Dan sekarang perhatian tertuju kepada Uchiha Sasuke, bersama team Taka, dia terlihat dalam perjalanan menuju desa. Dan Zetsu putih menghentikan langkah mereka berempat.

"Kau?"

"Sasuke, ada yang ingin aku beritahukan kepadamu.."

"Apa?"

"Naruto telah membunuh Nagato serta Danzo, dan sekarang dia telah menjadi Hokage ke 6." Bersamaan dengan itu Sasuke terkejut.

"Tidak mungkin." mimik yang pantas tepasang di wajah dingin pemuda tampan itu.

To be continue

Chapter 18 END

Maaf jika updatenya terlambat. karena belakangan ini laptop saya disita, xD berhubung besok masih ujian saya minta doanya kepada teman-teman pencinta POW hahaha, dan insyaallah akan saya update POW setiap minggu lagi.

Oh ya jika anda berkeluh kesah di review mending lewat pm aja atau sebelum review login dulu biar saya bisa pm dan memberikan alasannya, kenapa saya tidak update, terima kasih atas pengertiannya

See you xD